Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PANJALIN TRADITIONAL HOUSE SITE AS A MEANS OF LOCAL HISTORY EDUCATION FOR THE YOUNG GENERATION Imas Siti Masitoh; Aksilas Dasfordate; Rufer Firma Harianja; Rahmanul
Kalyanamitra: Journal of Archaeological Resource Management Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : Kalyanamitra: Journal of Archaeological Resource Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the Panjalin traditional house site and its potential as a means of local history education for the younger generation. The purpose of this research is to examine how the Panjalin traditional house site is a means of historical education for the community, especially in the Majalengka area. This research approach uses qualitative-descriptive methods and the researcher comprehensively collects and processes information using literature study, observations, and interviews. The results of this study show that the Panjalin traditional house site helps provide an overview of the history of Majalengka in the 15th century when the development of Islamic kingdoms in Indonesia and Dutch colonialism in the Cirebon sultanate area. The Panjalin traditional house site can be an alternative to learning local history for the younger generation, both at the school level or in general level in the Majalengka and surrounding areas. The Panjalin traditional house site has the potential to be an effective, more interesting, relaxed, and relevant historical education tool for the understanding of the history of the younger generation in Majalengka regarding the history of their community which is closer to their daily lives.
Posisi Daerah-Daerah Hinteland Dalam Aktivitas Perdagangan di Pelabuhan Ternate Abad XV-XIX Marian, Boni; Dasfordate, Aksilas; Urlialy, Gesia Mira
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 6 No. 1 (2026): Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jejak.v6i1.49265

Abstract

Pengetahuan dan keterampilan berlayar merupakan modal berharga masayarakat Kepulauan Maluku dari zaman kuno, klasik hingga zaman kolonial, menjadikan Kepulauan ini sangat ramai dalam perputarab perdagangan dunia saat itu. Pendekatan sejarah maritim yang disandingkan dengan metode sejarah dilakukan dalam penelian ini untuk mengungkapkan fenomena yang terjadi berkaitan dengan posisi darah-daerah hinterland dalam aktvitas perdagangan di Pelabuhan Ternate Abad XV-XIX. Pelabuhan dari Kesultanan Tidore, Jailolo dan Bacan merupakan Pelabuhan yang memgang peranan penting sebagai daerah pemasok utama komoditi dagang bagi Kesultanan Ternate dalam perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Karema dan Kepemimpinannya di Minahasa (Sebuah Tinjauan Historisisme) Sania Robot; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2204

Abstract

Tradisi lisan orang Minahasa yang sampai saat masih dituturkan adalah Karema. Karema merupakan leluhur orang Minahasa yang peran dan eksistensinya sangatlah menentukan garis peradaban bagi generasi mereka. Mitologi orang Minahasa memposisikan Karema sebagai orang pertama didunia, dia juga memiliki tugas sebagai imam perempuan atau walian. Ketokohan Karema berkaitan dengan peran dan fungsinya pada awal peradaban Minahasa menjadi objek penelitian yang diangkat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu berupa gagasan atau ide yang dituangkan dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang dihasilkan dari objek penelitian serta berkaitan dengan kejadian yang melingkupi sebuah objek penelitian. Penelitian ini mendeskripsikan hasil analisis yang diperoleh dari informan dan dari dokumen-dokumen yang relevan dan menunjang penelitian ini. Selanjutnya hasil penelitian dikaji berdasarkan pendekatan historisisme. Hasil analisis dari penelitian ini mengungkapkan unsur kesejarahan dari peran Karema sebagai seorang pemimpin perempuan dalam kepercayaan Minahasa dan menjadikannya sebagai prototipe bagi generasi setelahnya. Karema dalam dunia kontemporer telah menjadi representasi perempuan Minahasa dalam karakter pemimpin-pemimpin yang tampil dengan gaya kepemimpinan yang mumpuni. Karema dijadikan sebagai tokoh sejarah dan budaya yang menginspirasi tidak hanya dalam konteks kesejarahan orang Minahasa tetapi juga dalam konteks budaya dan pendidikan.
Human Trafficking : Lingkar Kemiskinan pada Perempuan dan Anak di Manado Anggelina Kepadamu Pinamangun; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2220

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengapa perempuan dan anak menjadi sasaran utama human trafficking di Manado serta faktor penyebab dan dampaknya, akibat lingkar kemiskinan struktural. Tujuan utamanya adalah menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang menyebabkan kerentanan mereka terhadap eksploitasi. Sasaran penelitian mencakup tinjauan historis-multidisipliner untuk memahami dinamika sejak era kolonial hingga modern, guna merekomendasikan strategi pencegahan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian menerapkan metode historis berdasarkan langkah Gottschalk, meliputi heuristik untuk pencarian sumber, kritik sejarah internal-eksternal guna verifikasi keaslian, interpretasi multidisipliner dari perspektif sosiologi, ekonomi, dan gender, serta historiografi untuk menyusun narasi koheren. Data dikumpul melalui library research dari literatur, laporan pemerintah, dan dokumen relevan, dianalisis secara sistematis untuk menghubungkan konteks historis dengan isu kontemporer.Analisis mengungkap bahwa human trafficking di Manado berakar dari praktik kolonial seperti kerja rodi dan jugun ianfu kemudian menjadi bentuk modern melalui perekrutan digital, didorong kemiskinan struktural, posisi geografis strategis (Bandara Sam Ratulangi dan Pelabuhan Bitung),serta budaya merantau Minahasa yang dieksploitasi pelaku. Perempuan dan anak paling rentan, mengalami dampak berupa trauma fisik-psikologis, hilang hak pendidikan, stigma sosial,dan siklus kemiskinan yang berkelanjutan.Temuan ini menegaskan bahwa human trafficking di Manado adalah fenomena interdisipliner yang memperburuk ketidakadilan gender dan ekonomi, memerlukan pendekatan holistik untuk pemutusan siklus. Dengan mengintegrasikan pelajaran historis, penelitian merekomendasikan penguatan pengawasan perbatasan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan edukasi anti-trafficking berbasis komunitas, guna melindungi hak asasi manusia dan membangun masyarakat Manado yang lebih adil serta berkelanjutan.
Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat di Teluk Amurang Injilia Klarisa Kawet; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan sumber daya pesisir terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di Teluk Amurang, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dinamika perekonomian masyarakat pesisir. Wilayah pesisir Teluk Amurang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti perikanan tangkap, budidaya laut, serta sumber daya non-hayati yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data yang meliputi wawancara mendalam dengan nelayan, pelaku usaha pengolahan hasil laut, dan tokoh masyarakat, serta observasi langsung di lapangan dan studi dokumentasi terhadap data instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya pesisir, khususnya melalui kegiatan perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, dan perdagangan hasil perikanan, memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut menjadi sumber utama pendapatan dan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk pesisir. Namun demikian, keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan teknologi penangkapan dan pengolahan, akses yang minim terhadap modal usaha, kurangnya infrastruktur pendukung, serta menurunnya kualitas lingkungan akibat eksploitasi berlebihan dan pencemaran. Selain faktor-faktor ekonomi, aspek sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap pola pemanfaatan sumber daya pesisir. Nilai-nilai tradisional, sistem gotong royong, serta pola kepemimpinan lokal memainkan peran penting dalam mengatur distribusi hasil dan menjaga keseimbangan sosial di masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Teluk Amurang memerlukan strategi pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dukungan kebijakan pemerintah, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengoptimalkan potensi pesisir secara berkeadilan dan ramah lingkungan.
Dinamika Pelabuhan Tradisional dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Nelayan Tangkap di Belang (Minahasa Tenggara) Nurul Triyarti Halusa; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan Pelabuhan di Belang Minahasa Tenggara,  sebagai tempat mata pencaharian khususnya Masyarakat pesisir, dan bagaimana melihat dampak dari Pelabuhan atau dermaga Belang dari segi sosial dan budaya dengan menggunakan Metode Sejarah. Menurut Marc Bloch.  Empat tahap yang dilakukan dalam metode ini yakni: pertama: perumusan masalah penelitian, kedua: melakukan observasi historis melalui sumber sejarah, ketiga: melakukan analisis atau pengkajian data -dan keempat: melakukan pencarian (analisis) sebab-akibat dari masalah. Hasil penelitian mengambarkan keberadaan Pelabuhan Belang memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, terutama dalam peningkatan aktivitas ekonomi, perubahan pola mata pencaharian, serta terbentuknya interaksi sosial yang lebih intens dengan masyarakat luar daerah. Di sisi lain, perkembangan pelabuhan juga membawa perubahan sosial dan budaya, seperti pergeseran nilai-nilai tradisional, pola kerja, serta dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Dengan demikian, Pelabuhan Belang tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi dan distribusi hasil laut, tetapi juga sebagai faktor penting dalam proses perubahan sosial dan budaya masyarakat pesisir di Minahasa Tenggara.
Tradisi Mengket Rumah Mbaru Suku Karo di Desa Barus Jahe Roy Martin Franata Barus; Aksilas Dasfordate; Almen S. Ramaino
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2315

Abstract

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tahapan-tahapan pelaksanaan Tradisi Mengket Rumah Mbaru. Adapun metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi Budaya, dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian di Desa Barus Jahe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mengket Rumah Mbaru adalah bagian dari kebudayaan suku Batak Karo yang merupakan warisan dari masa lampau yang diwariskan kepada masa kini. Mengeket Rumah Mbaru (memasuki rumah baru), Mengket (dalam bahasa karo) dapat diartikan sebagai awal, dan Mbaru berarti Baru, sehingga Mengket Rumah Mbaru secara harfiah berarti memasuki Rumah Mbaru. Tradisi ini merupakan upacara sukacita karena sebagai ekspresi sukses untuk seseorang yang dapat mendirikan Rumah Baru. Pesta biasanya dilakukan pada Nggara Sepuluh Aditia Naik, Beras Pati Sepuluh atau Cukura Dua Puluh Sada (Nama hari dalam Bahasa Karo). Tradisi ini juga menekankan makna kesopan santunan, gotoroyong, kesetiakawanan sosial, kerukunan, komitmen, pemikiran posotif, rasa syukur, kerjakeras, disiplin, pelestarian budaya, dan peduli lingkungan.  
Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA N 1 Tomohon Defano Lumantouw; Meike Imbar; Aksilas Dasfordate
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10121

Abstract

At SMA Negeri 1 Tomohon, students are studying history through the lens of differentiated learning, which is the purpose of this study. Students' needs, interests, and learning profiles are taken into account in differentiated learning, which involves adapting the method, content, and learning products. A qualitative technique is used in the study's descriptive methodology. Students are mostly surveyed through the distribution of questionnaires in order to gather data. The study's findings demonstrate that educators are making use of differentiated learning tactics by adapting their pedagogical approaches, modifying student assignments, and incorporating student-specific media into the classroom. Most students respond positively to this approach because they feel more involved and motivated in the learning process. With this study, it is hoped that the differentiated learning process can run well.
Gerakan Mahasiswa Indonesia: Peran Soe Hok Gie Tahun 1960-1969 Wayne Silaban; Aksilas Dasfordate; Aldegonda E. Pelealu
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13171

Abstract

Pelnellitian ini melnganalisis pelran Soel Hok Giel dalam gelrakan mahasiswa Indonelsia yang belrdampak pada kondisi politik Indonelsia tahun 1960-1969 dan rellelvansinya delngan dunia kampus kontelmporelr. Melnggunakan meltodel seljarah Marc Bloch pelrtama, melrumuskan masalah pelnellitian keldua, mellakukan kritik seljarah untuk melmastikan kelaslian sumbelr keltiga, melngidelntifikasi pola data selsuai pelrmasalahan pelnellitian, kelelmpat, melnganalisis selbab-akibat dari masalah yang ditelliti. Belrdasarkan hasil analisis, gelrakan mahasiswa Indonelsia tahun 1960-1969 telrjadi karelna krisis elkonomi yang parah dan sikap Soelkarno yang dianggap otoritelr dan tidak relsponsif telrhadap kelbutuhan rakyat selrta pelristiwa G30S yang dimana PKI dituding selbagai dalangnya. Selhingga Soel Hok Giel melmainkan pelran pelnting yang belrani melngkritik Soelkarno dan melmpelrjuangkan pelrubahan mellalui tulisannya. Kelbelrhasilan Soel Hok Giel dan mahasiswa lain dalam melmbuat gelrelkan belrupa delmonstrasi belrhasil melnyuarakan Tritura, melningkatkan kelsadaran politik di masyarakat dan melnguatkan pelran mahasiswa selbagai ageln moral dalam politik nasional.
Aktualisasi Habonaron Do Bona Dalam Kepemimpinan Di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Di Panribuan Anggreni Purba; Almen Ramaino; Darmawan Ddi Winoto; Aksilas Dasfordate
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13200

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motto Habonaron Do Bona muncul dan bagaimana nilai-nilai budayanya diterapkan dalam kepemimpinan di Gereja Kristen Protestan Simalungun Panribuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis,yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, obsevasi, dan wawancara. Lokasi penelitian difokuskan pada GKPS Panribuan, yang merupakan bagian dari komunitas Simalungun, di mana nilai-nilai habonaron do bona diimplementasikan dalam setiap aspek kepemimpinan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai habonaron do bona dalam kepemimpinan di GKPS Panribuan terlihat melalui sikap dan perilaku para pemimpin gereja, termasuk Sintua, Syamas, Pendeta, dan Penginjil. Mereka menunjukkan sikap-sikap seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab, yang semuanya berakar dari filisofi Habonaron Bo Bona. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan di GKPS Panribuan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya Simalungun, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai di antara jemaat. Penerapan nilai-nilai ini dalam konteks gereja menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat erjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang sejahtera dan adil.