Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Dinamika Pelabuhan Tradisional dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Nelayan Tangkap di Belang (Minahasa Tenggara) Triyarti Halusa, Nurul; Dasfordate, Aksilas; winoto, Darmawan Edi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan Pelabuhan di Belang Minahasa Tenggara,  sebagai tempat mata pencaharian khususnya Masyarakat pesisir, dan bagaimana melihat dampak dari Pelabuhan atau dermaga Belang dari segi sosial dan budaya dengan menggunakan Metode Sejarah. Menurut Marc Bloch.  Empat tahap yang dilakukan dalam metode ini yakni: pertama: perumusan masalah penelitian, kedua: melakukan observasi historis melalui sumber sejarah, ketiga: melakukan analisis atau pengkajian data -dan keempat: melakukan pencarian (analisis) sebab-akibat dari masalah. Hasil penelitian mengambarkan keberadaan Pelabuhan Belang memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, terutama dalam peningkatan aktivitas ekonomi, perubahan pola mata pencaharian, serta terbentuknya interaksi sosial yang lebih intens dengan masyarakat luar daerah. Di sisi lain, perkembangan pelabuhan juga membawa perubahan sosial dan budaya, seperti pergeseran nilai-nilai tradisional, pola kerja, serta dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Dengan demikian, Pelabuhan Belang tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi dan distribusi hasil laut, tetapi juga sebagai faktor penting dalam proses perubahan sosial dan budaya masyarakat pesisir di Minahasa Tenggara.
The Education System in West Sumatra from the 14th to the 19th Century as a Breeding Ground for National Movement Figures Yusuf Budi Prasetya Santosa; Aksilas Dasfordate; Ponco Setiyonugroho
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Sriwijaya University in collaboration with  Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v14i1.57

Abstract

Every society in Indonesia has its own education pattern. The people of West Sumatra are no exception. Education in West Sumatra has been going on for a long time, since pre-Islamic times in the 14th century, until the influence of the Dutch in education in the 19th century. This research uses historical research methodology using primary sources from colonial archives in the form of besluit (decision letters), and secondary sources in the form of books and scientific journals. This research aims to see how the pattern of education in West Sumatra from the 14th Century to the 19th Century produced national movement figures. The results of this research found that the education pattern in West Sumatra society is divided into two, namely traditional education which has existed since pre-Islamic times and post-modern Islamization. Both modern education has existed since the arrival of colonial influence, which was marked by the establishment of volkschools in West Sumatra in the mid-19th century. All educational processes have their respective roles. Traditional education aims to prepare members of West Sumatra society to live based on existing customs. Meanwhile, post-Islamization education with the influence of Western nations aims to produce government employees.
MUSEUM TANAH DAN PERTANIAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LINGKUNGAN DAN MEDIA MENUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN Santosa, Yusuf Budi Prasetya; Dasfordate, Aksilas; Setiyonugroho, Ponco
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v8i1p185-200

Abstract

The Museum Tanah dan Pertanian is one of the museums located in the city of Bogor. The Museum of land and agriculture can be used as a learning resource for environmental history because it has a variety of collections related to land and agriculture in Indonesia, which includes the dimensions of history, environment, politics, technology, and the future of Indonesian Agriculture. This study uses qualitative research methods with library research approach. The result of this study is the Museum Tanah dan Pertanian can be used as a source of learning history, because the various collections owned by the museum can be associated with the scope of environmental history, among others 1) the natural environment in the past, 2) modes of production, 3) the perception of ideology and cultural values and 4) public responses that arise in the form of debates, laws and political regulations related to the environment. Various information obtained from the museum is converted into knowledge, which will foster environmental awareness
Nilai – Nilai Mapalus Sebagai Kearifan Lokal Dalam Pembangunan Sosial Ekonomi Masyarakat Tumaluntung Minahasa Selatan Sinjal, Jeiny Cintia; Ramaino, Almen S.; Pelealu, Aldegonda E.; Dasfordate, Aksilas
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.16254

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah pelaksanaan Mapalus, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta perannya dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Selatan. Mapalus merupakan tradisi gotong royong masyarakat Minahasa yang berakar pada budaya agraris dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan historis dan sosiokultural. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat, aparat desa, dan masyarakat pelaku Mapalus. Analisis data dilakukan secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mapalus pada awalnya berkembang sebagai sistem kerja kolektif dalam bidang pertanian tanpa imbalan material yang berfungsi memperkuat relasi sosial, kekerabatan, dan pembentukan karakter moral masyarakat. Seiring masuknya pengaruh agama Kristen, Mapalus mengalami perluasan makna sebagai bentuk solidaritas dan pengabdian spiritual. Nilai-nilai Mapalus, seperti solidaritas, tanggung jawab, kesetaraan, keadilan, dan kebersamaan, berperan sebagai modal sosial yang mendukung pembangunan sosial ekonomi, memperkuat kohesi sosial, serta meningkatkan ketahanan masyarakat Desa Tumaluntung hingga masa kini.
Gabungan Politik Indonesia Masa Pergerakan Nasional 1939-1942 (Dinamika, Strategi, dan Pengaruhnya terhadap Perjuangan Kemerdekaan) Mumekh, Ingriet Mahgrita Olfia; Dasfordate, Aksilas; Winoto, Darmawan Edi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5156

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dinamika politik pada akhir masa kolonial Hindia Belanda yang ditandai dengan meningkatnya tuntutan nasionalisme dan stagnasi kebijakan kolonial. Gabungan Politik Indonesia (GAPI) muncul sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika GAPI pada periode 1939–1942 dalam konteks perubahan politik menjelang pendudukan Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan menelaah perkembangan masa lampau secara sistematis, serta menerapkan metode sejarah melalui tahapan pengumpulan sumber, kritik ekstern dan intern, kategorisasi data, dan analisis sebab-akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GAPI berperan penting dalam mengonsolidasikan kekuatan politik nasional melalui kampanye “Indonesia Berparlemen” yang mendorong reformasi politik kolonial. Organisasi ini juga berhasil memperkuat persatuan antarpartai nasionalis dan menciptakan strategi perjuangan yang lebih terkoordinasi. Namun, gerakan GAPI menghadapi berbagai hambatan, termasuk kebijakan represif pemerintah kolonial dan dampak Perang Dunia II. Pembubaran GAPI pada tahun 1942 tidak hanya disebabkan oleh pendudukan Jepang, tetapi juga oleh terbatasnya ruang politik yang telah lama dibentuk oleh pemerintah kolonial. Kesimpulannya, GAPI memiliki peran signifikan dalam memperkuat kesadaran politik nasional dan menjadi fondasi penting bagi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
PANJALIN TRADITIONAL HOUSE SITE AS A MEANS OF LOCAL HISTORY EDUCATION FOR THE YOUNG GENERATION Imas Siti Masitoh; Aksilas Dasfordate; Rufer Firma Harianja; Rahmanul
Kalyanamitra: Journal of Archaeological Resource Management Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : Kalyanamitra: Journal of Archaeological Resource Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the Panjalin traditional house site and its potential as a means of local history education for the younger generation. The purpose of this research is to examine how the Panjalin traditional house site is a means of historical education for the community, especially in the Majalengka area. This research approach uses qualitative-descriptive methods and the researcher comprehensively collects and processes information using literature study, observations, and interviews. The results of this study show that the Panjalin traditional house site helps provide an overview of the history of Majalengka in the 15th century when the development of Islamic kingdoms in Indonesia and Dutch colonialism in the Cirebon sultanate area. The Panjalin traditional house site can be an alternative to learning local history for the younger generation, both at the school level or in general level in the Majalengka and surrounding areas. The Panjalin traditional house site has the potential to be an effective, more interesting, relaxed, and relevant historical education tool for the understanding of the history of the younger generation in Majalengka regarding the history of their community which is closer to their daily lives.