Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

JEJAK DISKUSI AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT KAMPUNG JAWA TOMOHON Winoto, Darmawan Edi; Khoeriyah, Ngismatul; Dasfordate, Aksilas; Burdam, Yohanes
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2023): Volume 4 Nomor 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i6.20129

Abstract

Dokumentasi tertulis sejarah dan akulturasi budaya masyarakat Kampung Jawa Tomohon yang masih minim perlu mendapat perhatian yang serius terutama bagi generasi mudanya. Informasi mengenai akulturasi budaya banyak didapatkan dari lapangan ketika kegiatan sosialisasi. Dari kegiatan tersebut banyak diperoleh informasi baru dari hasil tradisi lisan masyarakat. Sosialisasi menggunakan metode caramah, diskusi dan tanya jawab. Sosialisasi dilaksanakan di Kelurahan Kampung Jawa Tomohon, kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Penelitian ini dimulai dari survei lokasi. Materi dijelaskan mengenai terjadinya akulturasi budaya yang terjadi di Kampung Jawa Tomohon. Materi tersebut pada dasarnya sebagai pemicu untuk dapat lebih menggali informasi dari masyarakat. Hasil sosialisasi menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Jawa Tomohon merupakan masyarakat hasil interaksi budaya Jawa dan Minahasa yang terlihat dari bahasa yang dipakai sehari-hari. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa perpaduan beberapa kata memakai kata yang asalnya dari bahasa Jawa, Sebagian kata yang lain berasal dari bahasa Totemboan. Budaya asli yang dibawa nenek moyang yang berasal dari Banten, seiring waktu berakulturasi dalam budaya Minahasa yang menjadi identitas budaya baru masyarakat Kampung Jawa Tomohon.
Analisis Peran dan Makna Tarian Pa’Gellu dalam Upacara Rambu Tuka’ di Toraja Mersi Tandi Padang; Aksilas Dasfordate; Max Laurens Tamon
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 3 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i3.2558

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan makna tarian Pa'gellu dalam konteks upacara Rambu Tuka' yang merupakan tradisi penting dalam masyarakat Toraja. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian sejarah, menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam dengan para pelaku budaya serta masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Pa'gellu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, identitas, dan spiritualitas masyarakat Toraja. Tarian ini melibatkan gerakan yang simbolis dan diiringi oleh musik tradisional, yang menciptakan suasana sakral selama upacara Rambu Tuka'. Selain itu, tarian ini juga mencerminkan hubungan sosial antar anggota masyarakat, memperkuat ikatan komunitas, dan menghormati leluhur. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa tarian Pa'gellu memiliki makna yang mendalam dalam konteks Rambu Tuka', berfungsi sebagai medium untuk melestarikan budaya dan tradisi Toraja. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman lebih lanjut mengenai seni pertunjukan tradisional di Indonesia, serta mendorong upaya pelestarian budaya lokal.
Rekonstruksi Makna Sejarah pada Tugu Perang Dunia II di Manado Wayne Yuniarta Silaban; Anggreni Purba; Jeiny Sinjal; Gracia Crismas Br Sitepu; Jelinda Tumbel; Ingriet Mumekh; Sania Robot; Aksilas Dasfordate
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 3 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i3.2639

Abstract

Tugu Perang Dunia II Manado merupakan salah satu monumen bersejarah yang memiliki peran penting dalam merekam memori kolektif masyarakat atas peristiwa Perang Dunia II, khususnya invasi Jepang dan serangan balik Sekutu di wilayah Manado. Penelitian ini bertujuan mengungkap kembali sejarah pembangunan tugu, memaknai simbolisme arsitekturnya, serta menilai kontribusinya sebagai sumber sejarah yang dapat memperkuat kesadaran masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dengan juru pelihara tugu, analisis dokumen sejarah, serta observasi langsung pada struktur fisik monumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tugu ini dibangun pada 1946 oleh Sekutu sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban perang, dan dirancang oleh arsitek Ir. Van den Bosch dengan gaya kolonial yang sarat nilai simbolis. Elemen-elemen seperti kubus persembahan, lubang-lubang tembakan, dan struktur bertingkat mencerminkan pengorbanan, kekerasan perang, dan ketabahan masyarakat Manado pada masa pendudukan. Meski memiliki nilai historis dan edukatif yang tinggi, tugu ini belum diresmikan secara resmi oleh pemerintah dan kini mengalami penurunan perhatian, baik dari sisi perawatan maupun pemanfaatan sebagai media pembelajaran sejarah. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian dan revitalisasi tugu sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman publik, memperkuat identitas sejarah Kota Manado, serta mendorong pengembangan wisata sejarah yang berkelanjutan
Mengenang Perang Tondano melalui Benteng Moraya dari Situs Sejarah menjadi Warisan Budaya Pinamangun, Anggelina Kepadamu; Nurafiani Barumbu, Desi; Imanuel, Herpi; Kawet , Injilia Klarisa; Waruwu, Marni Lestari; Padang, Mersi Tandi; Sari, Ni Made Tiara; Halusa, Nurul Triyarti; Eurine, Sevlyn Cintya; Dasfordate, Aksilas
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1887

Abstract

Artikel ini menyelidiki Benteng Moraya, salah satu situs bersejarah penting di Sulawesi Utara, yang menunjukkan perjuangan orang Minahasa dalam Perang Tondano melawan penjajahan Belanda pada abad 17-awal abad ke-19. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dari Louis Gottschalk. Penelitian ini bertujuan untuk mencatat nilai budaya, sejarah Benteng Moraya dan mempelajari peranannya dalam pelestarian warisan budaya dan pertumbuhan pariwisata di wilayah Tondano. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Benteng Moraya tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan budaya yang membantu memperkuat identitas lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada pariwisata. Revitalisasi situs sejarah sebagai media pembelajaran sejarah publik dan pendekatan pelestarian budaya yang terpadu sangat penting.
Gerakan Mahasiswa Indonesia: Peran Soe Hok Gie Tahun 1960-1969 Silaban, Wayne; Dasfordate, Aksilas; Pelealu, Aldegonda E.
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13171

Abstract

Pelnellitian ini melnganalisis pelran Soel Hok Giel dalam gelrakan mahasiswa Indonelsia yang belrdampak pada kondisi politik Indonelsia tahun 1960-1969 dan rellelvansinya delngan dunia kampus kontelmporelr. Melnggunakan meltodel seljarah Marc Bloch pelrtama, melrumuskan masalah pelnellitian keldua, mellakukan kritik seljarah untuk melmastikan kelaslian sumbelr keltiga, melngidelntifikasi pola data selsuai pelrmasalahan pelnellitian, kelelmpat, melnganalisis selbab-akibat dari masalah yang ditelliti. Belrdasarkan hasil analisis, gelrakan mahasiswa Indonelsia tahun 1960-1969 telrjadi karelna krisis elkonomi yang parah dan sikap Soelkarno yang dianggap otoritelr dan tidak relsponsif telrhadap kelbutuhan rakyat selrta pelristiwa G30S yang dimana PKI dituding selbagai dalangnya. Selhingga Soel Hok Giel melmainkan pelran pelnting yang belrani melngkritik Soelkarno dan melmpelrjuangkan pelrubahan mellalui tulisannya. Kelbelrhasilan Soel Hok Giel dan mahasiswa lain dalam melmbuat gelrelkan belrupa delmonstrasi belrhasil melnyuarakan Tritura, melningkatkan kelsadaran politik di masyarakat dan melnguatkan pelran mahasiswa selbagai ageln moral dalam politik nasional.
Aktualisasi Habonaron Do Bona Dalam Kepemimpinan Di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Di Panribuan Purba, Anggreni; Ramaino, Almen; Winoto, Darmawan Ddi; Dasfordate, Aksilas
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13200

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motto Habonaron Do Bona muncul dan bagaimana nilai-nilai budayanya diterapkan dalam kepemimpinan di Gereja Kristen Protestan Simalungun Panribuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis,yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, obsevasi, dan wawancara. Lokasi penelitian difokuskan pada GKPS Panribuan, yang merupakan bagian dari komunitas Simalungun, di mana nilai-nilai habonaron do bona diimplementasikan dalam setiap aspek kepemimpinan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai habonaron do bona dalam kepemimpinan di GKPS Panribuan terlihat melalui sikap dan perilaku para pemimpin gereja, termasuk Sintua, Syamas, Pendeta, dan Penginjil. Mereka menunjukkan sikap-sikap seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab, yang semuanya berakar dari filisofi Habonaron Bo Bona. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan di GKPS Panribuan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya Simalungun, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai di antara jemaat. Penerapan nilai-nilai ini dalam konteks gereja menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat erjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang sejahtera dan adil.
PAKAIAN UIS NIPES DAN BEKA BULUH DALAM TRADISI MASYARAKAT BATAK KARO Br Sembiring, Ymelia Andani; Ramaino, Almen Sulpedi; Dasfordate, Aksilas
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 10, No 2 (2025): Desember (In Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v10i2.36745

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran orang tua dan generasi muda dalam pelestarian pakaian adat Uis Nipes dan Beka Buluh terhadap keberadaan pakaian tradisional dalam Masyarakat Batak Karo. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah secara genealogis, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan di Desa Barusjahe, kecamatan Barusjahe, Sumatera Utara. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam melestarikan pakaian adat Uis Nipes dan Beka Buluh melalui keteladanan, pembiasaan, serta penjelasan tentang makna simbolik warna dan motif pada kain adat. Generasi muda menilai bahwa pakaian adat ini merupakan warisan leluhur yang harus dijaga juga terbuka terhadap modifikasi agar tetap relevan dengan tren masa kini. Pelestarian budaya ini tidak hanya menjaga identitas dan solidaritas sosial juga memerlukan kerja sama antara keluarga, Lembaga Pendidikan, komunitas adat dan pemerintah yang dilakukan secara adaptif dan kreatif agar budaya lokal tetap hidup di tengah globalisasi, memperkuat rasa bangga terhadap identitas suku Karo, dan memperkuat rasa bangga terhadap identitas suku Karo, dan memperkaya keragaman budaya nasional.
AKULTURASI BUDAYA DAN STRATEGI PEKABARAN INJIL TAHUN 1913 DI MAKALE Imanuel, Herpi; Dasfordate, Aksilas; Ramaino, Almen Sulpedi
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 5 No. 2 (2025): Sejarah Indonesia dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jejak.v5i2.50252

Abstract

Fokus kajian ini adalah interaksi antara budaya Toraja yang menganut Aluk Todolo dengan strategi pekabaran Injil pada awal abad ke-20. Sebelum hadirnya Injil, Aluk Todolo berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengatur pola pikir, perilaku, dan tata kehidupan sosial masyarakat Toraja. Kehadiran Injil mulai diperkenalkan setelah Belanda menaklukkan Toraja pada 1906 melalui lembaga zending Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan strategi zendeling dalam pekabaran Injil tahun 1913 di Makale serta mendeskripsikan faktor penerimaan Kristen di tengah budaya masyarakat Toraja. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan strukturalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi zendeling dilakukan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pendekatan terhadap kepala suku. Melalui pendidikan diperkenalkan pengetahuan modern, pelayanan kesehatan menghadirkan kepedulian nyata, sedangkan dukungan kepala suku memperluas penerimaan Injil. Faktor sosial dan akulturasi budaya turut mempercepat proses penerimaan, sebab Injil tidak meniadakan adat, tetapi memberi makna baru pada tradisi seperti Rambu Solo’, Rambu Tuka’. Kesimpulannya, keberhasilan pekabaran Injil di Makale tahun 1913 terwujud karena strategi zendeling yang holistik dan mampu berdialog dengan budaya lokal. Proses ini menghasilkan transformasi sosial-religius yang mengintegrasikan nilai budaya Toraja dengan ajaran Kristen.
Gerakan Mahasiswa Indonesia: Peran Soe Hok Gie Tahun 1960-1969 Silaban, Wayne; Dasfordate, Aksilas; Pelealu, Aldegonda E.
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13171

Abstract

Pelnellitian ini melnganalisis pelran Soel Hok Giel dalam gelrakan mahasiswa Indonelsia yang belrdampak pada kondisi politik Indonelsia tahun 1960-1969 dan rellelvansinya delngan dunia kampus kontelmporelr. Melnggunakan meltodel seljarah Marc Bloch pelrtama, melrumuskan masalah pelnellitian keldua, mellakukan kritik seljarah untuk melmastikan kelaslian sumbelr keltiga, melngidelntifikasi pola data selsuai pelrmasalahan pelnellitian, kelelmpat, melnganalisis selbab-akibat dari masalah yang ditelliti. Belrdasarkan hasil analisis, gelrakan mahasiswa Indonelsia tahun 1960-1969 telrjadi karelna krisis elkonomi yang parah dan sikap Soelkarno yang dianggap otoritelr dan tidak relsponsif telrhadap kelbutuhan rakyat selrta pelristiwa G30S yang dimana PKI dituding selbagai dalangnya. Selhingga Soel Hok Giel melmainkan pelran pelnting yang belrani melngkritik Soelkarno dan melmpelrjuangkan pelrubahan mellalui tulisannya. Kelbelrhasilan Soel Hok Giel dan mahasiswa lain dalam melmbuat gelrelkan belrupa delmonstrasi belrhasil melnyuarakan Tritura, melningkatkan kelsadaran politik di masyarakat dan melnguatkan pelran mahasiswa selbagai ageln moral dalam politik nasional.
Aktualisasi Habonaron Do Bona Dalam Kepemimpinan Di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Di Panribuan Purba, Anggreni; Ramaino, Almen; Winoto, Darmawan Ddi; Dasfordate, Aksilas
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13200

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motto Habonaron Do Bona muncul dan bagaimana nilai-nilai budayanya diterapkan dalam kepemimpinan di Gereja Kristen Protestan Simalungun Panribuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis,yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, obsevasi, dan wawancara. Lokasi penelitian difokuskan pada GKPS Panribuan, yang merupakan bagian dari komunitas Simalungun, di mana nilai-nilai habonaron do bona diimplementasikan dalam setiap aspek kepemimpinan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai habonaron do bona dalam kepemimpinan di GKPS Panribuan terlihat melalui sikap dan perilaku para pemimpin gereja, termasuk Sintua, Syamas, Pendeta, dan Penginjil. Mereka menunjukkan sikap-sikap seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab, yang semuanya berakar dari filisofi Habonaron Bo Bona. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan di GKPS Panribuan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya Simalungun, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai di antara jemaat. Penerapan nilai-nilai ini dalam konteks gereja menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat erjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang sejahtera dan adil.