Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Habitat

Evaluasi Program FMA (Farmer Managed Activity) di Kabupaten Malang Handono, Setiyo Yuli
Habitat Vol 25, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FMA (Farmer Managed Activity) atau kegiatan yag dikelola oleh petani merupakan salah satu bagian dari program pemberdayaan petani melalui tekhnologi dan informasi atau dalam istilah lainnya disebut program FEATI (Farmer Empowerment through Agricultural Technology and Information). Program ini bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan petani melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian dengan bantuan pinjaman dari Bank Dunia. Program ini disetujui pada November 2007 kemudian dimulai pada tahun 2008 dengan jangka waktu selama lima tahun. Tujuan studi ini adalah untuk menjawab beberapa pertanyaan antara lain bagaimana implementasi program FMA di Kabupaten Malang dan bagaimana hubungan antara partisipasi petani dan pendapatan petani dalam program FMA tersebut. Hasil evaluasi pencapaian pelaksanaan Program FMA sejak tahun 2007 hingga 2012 ditinjau dari tiap komponen kegiatannya antara lain sebagai berikut. Penguatan Kemampuan Penyuluh, Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Penyuluh, Pengkajian Teknologi dan Diseminasi serta Ketersediaan Informasi dan Teknologi cukup berjalan dengan baik. Sedangkan, capaian yang terjadi di lapangan hingga tahun 2012 hanya 5,65%. Hal ini menunjukkan bahwsanya petani ataupun pengurus tani masih rendah dalam pemanfaatan teknologi informasi. Dampak implementasi program FMA jika dikaitkan antara hubungan tingkat partisipasi petani dalam program FMA dengan pendapatan petani dengan menggunakan analisis korelasi rank spearmans maka dapat diketahui bahwasanya pembelajaran FMA membawa dampak terhadap pendapatan terbukti dari hasil analisis korelasi rank spearman yang mengindikasikan adanya tingkat hubungan yang cukup nyata dan sangat nyata pada tingkat kepercayaan 5%.   Kata kunci: Program FMA, implementasi FMA, partisipasi petani dan pendapatan petani
HAMBATAN DAN TANTANGAN PENERAPAN PADI METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) Setiyo Yuli Handono
HABITAT Vol. 24 No. 1 (2013)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.829 KB)

Abstract

Beras adalah makanan pokok bagi masyarakat Indonesia yang merupakan sumber energi dan karbohidrat. Pemerintah Indonesia memerlukan sistem yang mampu menghasilkan padi yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Salah satu sistem teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan adalah System of Rice Intensification (SRI), yang dikemas dalam bentuk proyek atau program SRI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana net profit (keuntungan) petani dalam budidaya padi serta menganalisis hambatan dan tantangan penerapan padi metode SRI. Analisis data digunakan statistik deskriptif mulai dari rata-rata, frekuensi dan persentase untuk mengetahui total biaya, dan hasil usaha tani serta untuk mengetahui hambatan dan tantangan petani dalam menerapkan padi dengan metode SRI. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa petani SRI mendapatkan keuntungan per hektar sekitar Rp. 16.045.593,- sedangkan petani Q-SRI (berhenti menerapkan SRI) mendapatkan keuntungan perhektar sekitar Rp 9.321.610,-. Dengan demikian laba bersih budidaya padi SRI lebih tinggi sekitar 42 persen per hektar. Hasil penelitian juga menemukan bahwa masalah dan kendala petani dalam menerapkan SRI antara lain petani kesulitan menanam bibit muda, petani kesulitan menemukan buruh tanam atau tenaga kerja, sebagian besar petani masih minded kimia, dan petani kesulitan dalam pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Kata kunci: Proyek SRI, keuntungan, masalah dan kendala
The Community's Dynamics Towards Clean Water Adequacy and Membrane Technology in Bojonegoro, Indonesia Setiyo Yuli Handono; Yusuf Wibisono; Wahyunanto Agung Nugroho; Chusnul Arif
HABITAT Vol. 34 No. 2 (2023): August
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.habitat.2023.034.2.20

Abstract

Fresh and clean water is an essential source of life. It can be supplied from the oceans, rivers, lakes, streams, and marshes. Nowadays, clean water availability has become a problem in several areas. Several problems usually occur, including the local ecosystem and air conditions, so they cannot be used properly. It is one area vulnerable to clean water availability. Meanwhile, UNESCO declares the community's right to clean water is 60 liters per person daily. This situation is the basis of research problems with the aim of (1) analyzing the problems and obstacles of the Nganti community towards water needs, (2) community responses to these problems and technology, and (3) the Nganti community strategies for now and future. The method used in this research was qualitative and descriptive. The key informants are the head of village, the head of the Clean Water Association, the head of Ngraho sub-district, the leader of community, and a survey of 40 Nganti-Ngraho residents. The data analysis used statistics descriptive and qualitative by using SMART method. The results show that the currently developed strategy was membrane technology, but the ultra-filtrated water was still turbid, requiring a more sophisticated membrane technology. The expected strategy is that local government institutions need to be directly involved to improve water quality.