Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT Paspalum atratum YANG DIBERIKAN BEBERAPA DOSIS PUPUK N, P, DAN K PADA BERBAGAI TINGGI DEFOLIASI Sugita I W.; M.A.P. Duarsa; N. G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 1 (2019): Vol. 7 Isssues 1 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.732 KB)

Abstract

The study aimed to obtain information about the growth and production of Paspalum atratum grass given several doses of N, P, and K fertilizers at various high of defoliations. The research was carried out in the greenhouse of the Faculty of Animal science, Udayana University, Highway Sesetan Merkisa, up to 11 weeks. The grass used was Paspalum atratum grass which was obtained at the research station from the Faculty of Animal science, Udayana University, Pangotan, Bangli. The design used was a completely randomized design (CRD) of spit plot patterns consisting of main plots, namely defoliation height 5 cm (D1), 10 cm (D2), 15 cm (D3) and 20 cm (D4), and subplot namely fertilizer dose (P0); without fertilizer, P1: 50 kg N ha-1 + 50 kg P205 ha-1 + 50 kg K2O ha-1 (P2); 100 kg N ha-1 + 100 kg P205 ha-1 + 100 kg K2O ha-1(P3); 200 kg N ha-1 + 100 kg P205 ha-1 + 100 kg K2O ha-1. There were 16 combinations of treatments and repeated 3 times so that there were 48 experimental units. The variables observed were plant height, number of leaves, number of branches, chlorophyll content, root volume, leaf dry weight, root dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, leaf stem dry weight ratio, total forage / root ratio (top root ratio), and leaf area per pot. The results showed that high defoliation treatment had a significant effect (P <0.05) on shoot number, leaf dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, leaf / stem dry weight ratio, total forage dry weight ratio, and leaf area per pot, while the treatment of N, P and K fertilizer dosages was significant (P <0.05) in all observed variables. The interaction between N, P and K fertilizer doses with high defoliation significantly affected root volume and dry / leaf weight ratio. Based on the results of the study it can be concluded that the highest growth and production of Paspalum atratum grass was produced on the treatment of P3 fertilizer dose (200 kg N ha-1 + 100 kg P205 ha-1 + 100 kg K2O ha-1), high Defoliation D4 (20 cm) and interaction between dose fertilizer with high defoliation at root volume and leaf / stem dry weight ratio. Keywords: Paspalum atratum, defoliation, N, P and K fertilizers
APLIKASI BERBAGAI JENIS SLURRY DAN TINGKAT KADAR AIR TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL HIJAUAN Stylosanthes guianensis Suwartama I K.; A. A. A. S. Trisnadewi; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.166 KB)

Abstract

The researchhas been to know the effect of various types of slurry and different soil water content and interaction to the growth and yield of Stylosanthes guianensis for 10 weeks at glass house research station of Animal Husbandry Faculty, Udayana University. Randomize block design was used in this experiment with split plot pattern. The main plot was type of slurry (cattle slurry, pig slurry and cattle bio-slurry) and the sub plot was soil water content {100% field capacity (FC) 85% FC, 70% FC, and 55%FC)}, therefore were 12 treatment combinations Per each unit of treatment repeated 3 times. Variables observed were plant height increase, number of leave increase, number of stern increase, dry weight of leaves, stem, root and total of forage, dry weight of leaves and stem ratio, dry weight of total forage and root, and leaves area. Results of the experiment showed that does not significantly interaction between type of slurry with high moisture content of the soil. To factors that type of slurry was not significantly different except on number of stern increase. Soil water content was not significantly different except on the increase of plant height, stem and total forage dry weight and dry weight of leaves and stem ratio. Based on the variables of the experiment, it could be concluded does not interaction between type of slurry and soil water content at all variables. That types of slurry was not significantly different, however cattle bio-slurry tend to give the highest result. Soil water content until 55% FC gave no affect both in growth and yield of Stylosanthes guianensis. Keywords: type of slurry, soil wter content, growth, Stylosanthes guianensis
PERTUMBUHAN DAN HASIL RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum cv.Trichoglume) YANG DITANAM BERSAMA LEGUM Alysicarpus vaginalis PADA DOSIS PUPUK N, P DAN K BERBEDA Rahmatullah F. A.; N. M. Witariadi; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 3 (2019): Issue 7 No. 3 - 2019
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ejpt.2019.v07.i03.p04

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapat informasi tentang pertumbuhan dan produksi rumput Benggala (Panicum maximum cv. Trichoglume) yang ditanam bersama legum Alysicarpus vaginalis pada dosis pupukN, P dan K berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca stasiun penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana selama 8 minggu, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split splot terdiri atas mainplot/petak utama yaitu jumlah legum Alysicarpus vaginalis: tanpa legum Alysicarpus vaginalis (PA0), 1 legum Alysicarpus vaginalis (PA1), 2 legum Alysicarpus vaginalis (PA2) dan 3 legum Alysicarpus vaginalis (PA3), dan subplot/anak petak yaitu dosis pupuk: tanpa pupuk (D0), 50 kg/ha N + 25 kg/ha P2O5 + 25 kg/ha K2O (D1), 100 kg/ha N + 50 kg/ha P2O5 + 50 kg/ha K2O (D2). Terdapat 12 kombinasi dan diulang 3 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara pertanaman campuran dan dosis pupuk N, P dan K pada semua variabel pertumbuhan, hasil dan karakteristik tumbuh. Pertumbuhan rumput Panicum maximum yang ditanam bersama legum Alysicarpus vaginalis secara statistik memberikan hasil berpengaruh tidak nyata pada semua variabel pertumbuhan, hasil dan karakteristik tumbuh. Perlakuan dosis pupuk NPK secara statistik memberikan hasil berpengaruh tidak nyata pada semua variabel pertumbuhan, hasil dan karakteristik tumbuh. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan hasil rumput Panicum maximum cenderung menurun dengan peningkatan jumlah legum Alysicarpus vaginalis. Pertumbuhan dan hasil rumput Panicum maximum cenderung menurun dengan meningkatnya dosis pupuk. Tidak terjadi interaksi antara jumlah legum dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi rumput Panicum maximum. Kata kunci: asosiasi rumput-legum, Panicum maximum, Alsycarpus vaginalis, pupuk NPK
Pertumbuhan dan Produksi Rumput Axonopus Compressus, Stenotaphrum Secundatum, dan Paspalum Conjugatum pada Berbagai Level Biourin Mertaningsih N. P. L.; N. N. Suryani; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi rumput Axonopus compressus, Stenotaphrum secundatum, dan Paspalum conjugatum pada berbagai level biourin. Penelitian dilaksanakan selama 12 minggu di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola split plot. Faktor pertama (main plot/petak utama) adalah jenis rumput yaitu Axonopus compressus (R1), Stenotaphrum secundatum (R2) dan Paspalum conjugatum (R3). Faktor kedua (sub plot/anak petak) adalah perlakuan level biourin yaitu: tanpa biourin (B0), biourin 2000 l/ha (4 ml/4 kg) (B1), biourin 4000 l/ha (8 ml/4 kg) (B2), biourin 6000 l/ha (12 ml/4 kg) (B3). Dari faktor tersebut terdapat 12 unit perlakuan yang diulang sebanyak empat (4) kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, produksi dan karakterstik tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jenis rumput berbeda nyata (P<0,05) pada variabel panjang tanaman, berat kering batang dan luas daun, tetapi berbeda tidak nyata (P>0,05) pada variabel jumlah daun, jumlah anakan, berat kering daun, berat kering akar, berat kering total hijauan, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, dan toop root ratio. Perlakuan pemberian level biourin berbeda nyata (P<0,05) pada semua variabel kecuali berat kering batang, berat kering akar, berat kering total hijuan dan toop root ratio. Dapat disimpulkan bahwa rumput Stenotaphrum secundatum memberikan respon pertumbuhan dan produksi tertinggi dibandingkan dengan rumput Axonopus compressus dan Paspalum conjugatum. Level biourin 6000 l/ha (12 ml/4 kg) cenderung lebih tinggi dalam memberikan pertumbuhan dan produksi rumput lokal. Tidak terjadi interaksi antara jenis rumput lokal dengan bebagai level biourin. Kata kunci: jenis rumput, level biourin, pertumbuhan, produksi
DAYA DUKUNG HIJAUAN PAKAN DALAM KONSERVASI SAPI PUTIH TARO I W. Suarna; M. A.P. Duarsa; N. P. Mariani; L. G. Sumardani; S. A. Lindawati
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/blje.2016.v16.i01.p06

Abstract

White cattle Taro is a Bali native germplasm that must be preserved in accordancewith the mandate of the Millennium Development Goals to reduce the rate of loss ofbiodiversity as a valuable genetic resources.  At this time, the population of White cattleTaro is 34 heads, which the conditions still cause for concern because of the increasingpressure of various factors. When the white cattle graze in their natural habitat (forestTaro) White cattle Taro to reach a population of 150 animals (2001). Pressure againstwhite cow increasingly widespread because the land is narrow and increasing the amountof forage that should be provided in rotation by traditional society village of Taro. Tarovillage located in District Tegallalang, close to Districts Payangan Gianyar regency. Twodistricts are developing leading commodity Bali cattle. While White cattle Taro also requiresthe availability of forage species are the same as Bali cattle. The results showed that carryingcapacity of forage for White cattle Taro started to decline so that the necessary strategicapproach to the conservation of taro white cattle in order to accelerate the achievement ofthe millennium development. Such efforts are: 1) improving the efficiency of forageproduction 2) optimizing the utilization of forage 3) optimization of land use and cultivationof superior feed and 4) technological capacity building of local feed plant.
Adaptive Feed Plant Association Model For Improved Post-mining Land In Karangasem Regency W. Suarna; N.N. Candraasih K; M.A.P. Duarsa
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study has been carried out to obtain the model legume association with superior grassplants that are adaptive to repair post-mining land on dry land. In the early stages, theresearch carried out on non-mining land to observe potential association models thatpredicted very suitable to recover the post-mining land. Experiment using a randomizedblock design with 12 combinations between grasses, legumes, and mycorrhizal and repeatedthree times. Grass used is Panicum maximum cvTrichoglumeand BrachiariaBrizanta, whilelegumes are used Centrocemapubescens and Clitoriaternatea. The results showed thatbased on analysis of growth and forage yield variables, almost all association models canbe developed in dry land, and models the association between panikum, Brachiaria andcentrocema can provide the highest results as much as 11.42 tons per ha of forage fresh or1,37 tons of dry forage per ha .
THE EFFECT OF DECOMPOSITION TIME AND DOSAGES OF CATTLE MANURE FERTILIZERS ON THE GROWTH AND YIELD OF Asystasia gangetica (L.) subsp. MICRANTHA I Gede Angga Bayu Pratama; M. Anuraga Putra Duarsa; I Wayan Wirawan
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 11 No 2 (2022): Pastura Vol. 11 No. 2 Tahun 2022
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2022.v11.i02.p10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu dekomposisi, dosis pupuk terbaik dan interaksi antara waktu dekomposisi dengan dosis pupuk kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca, Stasiun PenelitianSesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan Gang Markisa Denpasar. Penelitian berlangsung selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah waktu dekomposisi yaitu 4 minggu (W4), 2 minggu (W2), tanpa dekomposisi (W0)dan faktor kedua adalah pemberian pupuk kotoran sapi dengan dosis 0 ton ha -1 (D0), 10 ton ha-1 (D10), 20 ton ha D20), 30 ton ha-1 (D30). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dan dosis pada variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang tetapi tidak menunjukkan adanya interaksi pada variabel lainnya. Waktu dekomposisi 4 dan 2 minggu nyata memberikan respon lebih baik dibandingkan tanpa dekomposisi. Peningkatan dosis pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dengan dosis pupuk terhadap variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, dan perlakuan dekomposisi 4 minggu (W4) dan dosis 30 ton ha-1 memberikan respon terbaik pada pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Kata kunci: Asystasia gangetica, dekomposisi, kotoran sapi, pertumbuhan, hasil
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH) TERFERMENTASI EM4 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN Asystasia gangetica PADA KADAR AIR TANAH YANG BERBEDA Bachtiar M. W.; N. N. Suryani; M. A. P. Duarsa
Jurnal Peternakan Tropika Vol 10 No 3 (2022): Vol. 10 No. 3 Tahun 2022
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan (RPH) terfermentasi EM4 dan kadar air tanah yang berbeda serta pengaruh masing – masing faktor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca, Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan Gang Markisa. Penelitian ini berlansung selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk : dosis 0 ton/ha (D0), dosis 10 ton/ha (D10), dosis 20 ton/ha (D20) dan dosis 30 ton/ha (D30). Faktor kedua terdiri kadar air tanah yaitu: kapasitas lapang 50% (KL50%), kapasitas lapang 75% (KL75%) dan kapasitas lapang 100% (KL100%). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan memiliki tiga kali ulangan, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan terfermentasi EM4 dan kadar air tanah pada semua variabel. Pada faktor dosis pupuk limbah rumah potong hewan (RPH) terfermentasi EM4 cenderung menunjukkan hasil tertinggi pada pemberian dosis 10 ton/ha (D10) dan tidak ada perbedaan nyata pada semua variabel kecuali nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Kadar air tanah menunjukkan hasil tertinggi pada pemberian kapasitas lapang 100% (KL100%) dan terdapat perbedaan nyata pada semua variabel kecuali nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi perlakuan antara dosis pupuk limbah rumah potong hewan terfermentasi EM4 dengan kadar air tanah berbeda terhadap variabel (pertumbubuhan tanaman, hasil dan karakteristik tumbuh), perlakuan dosis pupuk limbah RPH terfermentasi EM4 belum mampu mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica, tetapi dosis 10 ton/ha cenderung menunjukkan hasil tertinggi dan perlakuan kadar air KL100% memberikan respon terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Kata kunci : Asystasia gangetica, kadar air, pupuk, pertumbuhan
PENGARUH PEMBERIAN SILASE RUMPUT GAJAH ODOT (Pennisetum purpureum cv. Mott) TERHADAP KONSUMSI PAKAN KAMBING BOERKA DI DESA SANDA KABUPATEN TABANAN BALI KETAREN M. B.; L. DOLOKSARIBU; M. A. P. DUARSA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIP.2022.V25.i03.p07

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian silase rumput gajah odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) dengan aras yang berbeda terhadap berat badan konsumsi pakan hijauan dan variasi me- tabolik glukosa darah dari kambing boerka yang dipelihara di Desa Sanda, Kabupaten Tabanan, Bali. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2021. Total 12 kambing dalam studi ini diberi pakan hijauan sebanyak 10% dari berat tubuhnya. Rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu: pakan hijauan tanpa diberikan silase rumput gajah odot (P0), pakan hijauan + 250 g silase rumput gajah odot (P1), pakan hijauan +750 g silase rumput gajah odot (P2) digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing perlakuan memiliki 4 ulangan. Peubah yang diamati: konsumsi silase rumput gajah odot harian, total konsumsi pakan hijauan, total konsumsi pakan hijauan harian, kadar glukosa darah dan berat badan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan (P0, P1, P2) secara urut memiliki berat badan awal 32,58 ± 6,37 kg, 21,95 ± 6,37 kg dan 35,10 ± 6,37 kg dan berat badan akhir 33,69 ± 6,67 kg, 23,15 ± 6,67 kg, 39,45 ± 6,67 kg, total konsumsi pakan hijauan 994 ± 940 kg, 1.000 ± 940 kg, 995 ± 940 kg konsumsi pakan hijauan harian adalah 4.439 ± 3386 g/ekor/hari, 4.465 ± 3386 g/ekor/hari, dan 4.444 ± 3386 g/ekor/hari secara berurutan dan kadar glukosa darah 91,25 ± 4,89 mg/dl, 96,83 ± 4,89 mg/dl, 94,83 ± 4,89 mg/dl. Analisis data membuktikan bahwa pemberian pakan tambahan silase rumput gajah odot berbeda terhadap semua parameter antara perlakuan (P>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian pakan tambahan silase rumput gajah odot memiliki hasil yang lebih tinggi terhadap pertambahan konsumsi pakan hijau- an, berat badan dan kadar glukosa darah pada tiap perlakuan.
The Effect of Decomposition Time and Dosages of Organic Fertilizers from the Solid Waste of Virgin Coconut Oil (VCO) on the Growth and Yield of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha Gede Adhitya Candra; M. Anuraga Putra Duarsa; Ni Made Witariadi
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 12 No 1 (2022): Pastura Vol. 12 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2022.v12.i01.p02

Abstract

Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha sangat berpotensi menjadi tanaman pakan ternak unggul dengan beberapa kelebihan yang belum banyak diketahui oleh peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh serta interaksi antara waktu dekomposisi dan dosis pupuk organik limbah padat virgin coconut oil (VCO) terhadap pertumbuhan dan hasil A. gangetica. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca, Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Penelitian berlangsung selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, sehingga terdapat 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dan dosis terhadap semua variabel kecuali variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang. Waktu dekomposisi 2 dan 4 minggu memberikan respon lebih baik dibanding 0 minggu. Meningkatkan dosis pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman A. gangetica. Disimpulkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dan dosis serta perlakuan waktu dekomposisi 2 minggu dan dosis 30 ton ha-1 memberikan respon terbaik. Kata kunci: Asystasia gangetica, dekomposisi, hasil, limbah VCO, pertumbuhan