Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Pendahuluan Perbandingan Terapi Salin Hipertonik 3% dengan Manitol 20% Intravena terhadap Luaran Anak Sindrom Ensefalitis Akut Dyah Kanya Wati; I Gusti Ngurah Made Suwarba; Anlidya Permatasari Gunawijaya
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.209-14

Abstract

Latar belakang. Terapi osmotik merupakan pilihan terapi penting dalam sindrom ensefalitis akut. Manitol adalah salah satu jenis terapi osmotik yang telah banyak digunakan, namun penggunaanya dapat menyebabkan ketidaknormalan elektrolit, seperti hiponatremia dan hipokloremia.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan salin hipertonik dan manitol pada anak-anak dengan sindrom ensefalitis akut.Metode. Penelitian ini menggunakan desain studi klinis pendahuluan untuk mengevaluasi perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran, mortalitas, kadar natrium serum, dan osmolaritas darah pada pasien sindrom ensefalitis akutyang diberikan salin hipertonik dan manitol. Pendekatan acak digunakan untuk mengelompokan setiap sampel. Analisis univariat dan bivariat dilakukan menggunakan perangkat lunak analisis statistik. Hasil. Sembilan pasien secara acak dikelompokan pada salin hipertonik, dan sembilan pasien dikelompokan pada manitol dari total 18 subjek dengan usia median 49,5 (5-194) bulan. Kelompok manitol memiliki kadar natrium awal signifikan lebih tinggi (p=0,009). Antara kedua kelompok perlakukan, tidak terdapat perbedaan dalam durasi penurunan kesadaran maupun mortalitas. Perubahan kadar natrium dan osmolaritas menunjukan perbedaan signifikan. Antara sebelum dan setelah perlakuan, penurunan natrium pada kelompok salin hipertonik lebih besar daripada kelompok manitol [median (rentang); -6 (-47 to -4) mmol/L vs 1 (-6 to 17) mmol/L], dan perubahan osmolaritas secara signifikan lebih tinggi [Mean SD; -32,6 ± 26,9 mOsm/kg vs 4,7 ± 13,5 mOsm/kg].Kesimpulan. Salin hipertonik dapat dianggap efektif dan aman seperti manitol dalam pengobatan non-traumatik sindrom ensefalitis akut pada anak.
KARAKTERISTIK RUJUKAN PASIEN ANAK PADA ERA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI PUSKESMAS DENPASAR TIMUR TAHUN 2021 Putri, Ni Kadek Dwi Pramana; Wati, Dyah Kanya; Mahalini, Dewi Sutriani
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i9.P09

Abstract

Latar belakang: Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab mengenai masalah kesehatan dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik. Di era JKN, untuk meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu karena adanya tindakan rujukan yang ditunjukkan pada kasus-kasus yang tergolong berisiko tinggi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik rujukan Puskesmas pada pasien anak di era jaminan kesehatan nasional di Puskesmas Denpasar Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pengambilan data dari rekam medis pasien dan dilakukan wawancara serta observasi singkat. Sampel pada penelitian ini adalah peserta rujukan pasien anak dari jaminan kesehatan nasional di Puskesmas Denpasar Timur periode 2021. Hasil: Hasil penelitian menunjukan sumber daya manusia Puskesmas Denpasar Timur sudah memenuhi standar ketenaga kesehatan. Fasilitas yang tersedia di puskesmas cukup memenuhi standar. Ketersediaan obat sudah sesuai dengan standar Formularium Nasional. Mayoritas pasien rujukan anak merupakan peserta BPJS Kesehatan dan penyakit yang paling banyak dirujuk yaitu gangguan tic. Simpulan: Pelaksanaan rujukan tingkat pertama peserta jaminan kesehatan nasional di Puskesmas Denpasar Timur dilakukan secara berjenjang dan dilakukan sesuai prosedur rujukan yang telah ditetapkan. Kata Kunci: Karakteristik, Rujukan, Puskesmas, JKN
KARAKTERISTIK PENDERITA DIARE AKUT PADA ANAK USIA 6 - 35 BULAN DI RS BALI MANDARA TAHUN 2020-2021 Harsika Sari, Ni Wayan Diah Intan; Budi Hartawan, I Nyoman; Kanya Wati, Dyah; Sutriani Mahalini, Dewi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i05.P02

Abstract

ABSTRAK Suatu sebab meningginya angka kesakitan dan kematian pada anak dalam seluruh dunia termasuk Indonesia ialah diare. Prevalensi insiden diare sebesar 6,7% dan prevalensi episode 20,3% paling sering terjadi pada kelompok usia 6 sampai 35 bulan. Tujuan dari penyelenggaraan riset unuk memahami karakteristik diare pada anak usia 6 sampai 35 bulan di RSUD Bali Mandara tahun 2020-2021. Penelitian ini menggunakan metode obeservasional deskriptif potong lintang (cross-sectional) pada penderita diare akut usia 6-35 bulan di RSUD Bali Mandara Tahun 2020-2021. Hasil dari penelitian ini adalah dari 82 sampel yang didapatkan, mayoritas penderita diare akut pada anak di RSUD Bali Mandara berjenis kelamin laki – laki (61%) dengan distribusi terbanyak pada kelompok usia 6-12 bulan (51,2%). Dengan lama rawat selama ? 7 hari (100%). Sebanyak 96,3 % penderita tidak mengalami diare berdarah dan cenderung penderita memiliki status gizi yang baik (89%), disertai dengan riwayat dehidrasi ringan-sedang (59,8%), tidak memiliki penyakit komorid (100%) dan belum mendapatkan vaksin rotavirus (86,8%). Tingkat pendidikan terakhir orang tua penderita diare akut paling banyak menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi (36,6%). Masih banyak penderita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (82,9%) dan terdapat sumber air bersih dirumahnya (90,2%). Kata kunci :diare, karakteristik, anak
HUBUNGAN POLA KONSUMSI ANAK DI KANTIN SEKOLAH DENGAN OBESITAS DI SD NEGERI 17 DANGIN PURIi Jumantini, Ni Komang Pasek Nurhyang; Wati, Dyah Kanya; Subanada, Ida Bagus; Suparyatha, Ida Bagus Gede
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i04.P06

Abstract

ABSTRAK Obesitas kini telah menjadi tantangan kesehatan. Kasus obesitas pada anak menjadi salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan. Pada tahun 2016, obesitas terjadi pada lebih dari 650 juta orang dengan melampaui angka 340 juta anak dan remaja usia 5-19 tahun mengalami obesitas. Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara intake energi dan energi yang digunakan tubuh. Obesitas merupakan penyakit multifakatorial. Pada anak usia sekolah dasar, pola konsumsi di kantin sekolah berkontribusi besar terhadap kasus obesitas. Anak usia sekolah dasar cenderung memiliki kebiasaan jajan di kantin sekolah. Makanan tinggi karbohidrat dan lemak mendominasi jajanan di kantin sekolah, seperti gorengan, makanan ringan (snack), sosis, aneka kue, cokelat, dan makanan cepat saji lainnya serta berbagai jenis minuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan pola konsumsi anak di kantin sekolah dengan kejadian obesitas anak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode pengambilan data cross-sectional dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran antropometri. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 17 Dangin Puri, dengan besar sampel sebanyak 66 responden. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya hubungan bermakna antara pola konsumsi tidak seimbang di kantin sekolah anak dengan status gizi obesitas (OR=5,400; IK 95% 1,185-24,597; p=0,029), dan adanya hubungan bermakna antara aktifitas fisis dengan status gizi anak (OR=0,165; IK 95% 0,036-0,749; p=0,020). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan pola konsumsi anak di kantin sekolah dengan kejadian obesitas. Kata kunci : obesitas, anak sekolah dasar, pola konsumsi di kantin sekolah
PREVALENS DAN KARAKTERISTIK BAYI DENGAN SINDROM GAWAT NAPAS DI UNIT PERAWATAN INTENSIF NEONATUS RSUP SANGLAH TAHUN 2020 Sukarta, Ni Kadek Yusthiani; Wati, Dyah Kanya; Cempaka, Putu Mas Vina Paramitha; Witarini, Komang Ayu; Mayangsari, Ayu Setyorini Mestika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P10

Abstract

Respiratory distress syndrome (RDS) is a cause of respiratory distress in baby that occurs several hours after newborns and can cause respiratory arrest and even death. This study aims to provide an overview of the prevalence and characteristics of infants with RDS in neonatal intensive care unit of Sanglah Hospital in 2020. This study used a cross-sectional descriptive approach with retrospective data. The study sample was infants aged 0-28 days with RDS in the neonatal intensive care unit of Sanglah Hospital who were recorded in complete medical records from January 1, 2020 to December 31, 2020. The prevalence of infants with RDS in the neonatal intensive care unit of Sanglah Hospital in 2020 was 10.9%. All of them were singleton pregnancies with a magnitude of 0 days (63.9%), female (52.8%), and second children (50%). Most of the mothers had done prenatal care (91.7%), without a history of disease (75%), primipara (50%), and ruptured membranes <24 hours (75%). Babies born with very premature gestational age (61.1%), by cesarean section (55.6%), low birth weight (30.6%), and APGAR score 7-10 (75%). A total of 36.1% of infants used a breathing apparatus in CPAP and received first-line antibiotics (94.4%). Infants with RDS have a high variability of characteristics including the general characteristics of the history of pregnancy and childbirth. The recommendation for other researchers are expect to conduct further analytical studies in the future.
Occurence and risk factors of tuberculosis infection in orphanage children in Bali Clearesta, Kartika Eda; Mayangsari, Ayu Setyorini Mestika; Wati, Dyah Kanya; Purniti, Ni Putu Siadi; Suwarba, I Gusti Ngurah Made; Artana, I Wayan Dharma
Paediatrica Indonesiana Vol. 64 No. 2 (2024): March 2024
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi64.2.2024.152-9

Abstract

Background Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a common threat worldwide, especially in pediatric populations. TB transmission occurs particularly when the transmitter has no obvious manifestation of the disease. There is a higher incidence of TB infection in children than in the general population, especially in high risk populations such as children in orphanages. However, the incidence of TB infection in orphaned children in Indonesia, including Bali, is unknown. Objective To describe the incidence and risk factors for TB infection in children in orphanages in Bali. Methods This case-control study was conducted in 12 orphanages in Bali. Subjects were divided into a case group comprised of children with TB infection, and a control group comprised of those without TB infection. TB infection was diagnosed by positive tuberculin test without clinically confirmed TB. Results A total of 175 children were recruited as subjects. There were 49 (28.0%) children with TB infection. Bivariate analysis revealed significant associations between density, humidity, ventilation/room area ratio, and area of ??origin with TB infection. Multivariate analysis showed that ventilation/room area ratio and room humidity of ?73% were independently positive correlated with TB infection. Natural lighting and BCG scar were not significantly different between groups. Conclusion The occurence of TB infection in children residing in orphanages in Bali is high (28%). The risk factors identified independently are lower ventilation and higher room humidity.
Neurological manifestations in patients with multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) in the post-COVID-19 era Wati, Dyah Kanya; Suparyatha, Ida Bagus Gede; Hartawan, I Nyoman Budi; Manggala, Arya Krisna; Artini, Ni Wayan Noni; Aurelya, Anira Rema
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 3 (2025): May 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi65.3.2025.239-44

Abstract

Background Multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) is an emerging condition associated with the COVID-19 pandemic. It occurs in approximately 2-8% cases of COVID-19, sometimes leading to shock, multiorgan failure, and the need for intensive care. Neurological manifestations are uncommon and sometimes overlap with previous comorbidities. Objective To explore the neurological manifestations in critically ill children with MIS-C. Methods This cross-sectional study included children aged <18 years, diagnosed with MIS-C according to World Health Organization (WHO) criteria and admitted to the pediatric intensive care unit (PICU) at a tertiary hospital in Bali, Indonesia. Retrospective data were extracted from electronic medical records covering January 2022 to December 2023. Demographic characteristics, clinical manifestations, treatments, and outcomes were collected and analyzed using SPSS. Patient were grouped based on the presence or absence of neurological symptoms for comparison. Results There were 47 children diagnosed with MIS-C; 78.7% of them were critically ill and treated in our intensive care unit. Thirty-seven subjects were included in the study. The most common symptom was fever (83.8%). Neurological manifestations were found in 12 children (32.4%), most commonly decreased consciousness (58.3%), followed by seizures (25.0%), hemiparesis (8.3%), and behavioral changes (8.3%). When comparing subjects with vs. without neurological symptoms, those with neurological manifestations had higher proportions of invasive mechanical ventilation (58.3% vs. 36.0%, respectively), combined use of intravenous immunoglobulin and methylprednisolone (83.3% vs. 64.0%, respectively), and mortality (58.3% vs. 28.0%, respectively). Conclusion Neurological  manifestations, particularly decreased consciousness, were common in critically ill MIS-C patients. These patients exhibited higher rates of invasive ventilation and mortality, emphasizing the need for early recognition and targeted management.
Slow 0.9% NaCl Bolus Administration Reduces ANP, MMP-2, and Syndecan-1 Shedding in Septic Shock Rabbit Models Hartawan, I Nyoman Budi; Wiryana, Made; Jawi, I Made; Astawa, I Nyoman Mantik; Bakta, I Made; Subanada, Ida Bagus; Suparyatha, Ida Bagus; Wati, Dyah Kanya
Molecular and Cellular Biomedical Sciences Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Cell and BioPharmaceutical Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21705/mcbs.v9i2.590

Abstract

Background: The optimal rate for fluid bolus administration in septic shock remains a critical and unresolved question. Rapid bolus administration is commonly practiced but has been linked to elevated levels of atrial natriuretic peptide (ANP), matrix metalloproteinase-2 (MMP-2), and syndecan-1 shedding, potentially exacerbating endothelial glycocalyx damage and increasing vascular permeability. However, the physiological and clinical implications of slower bolus rates have not been thoroughly investigated. This study was conducted to identify safer fluid management practices and improve patient outcomes in septic shock.Materials and methods: A randomized post-test-only control group design was employed, involving 36 male New Zealand rabbits with lipopolysaccharide-induced septic shock. The treatment group received 0.9% NaCl boluses (20 mL/kg body weight) over 20 minutes per bolus (slow bolus), while the control group received the same volume over 5 minutes per bolus (rapid bolus). ANP, MMP-2, and syndecan-1 levels were measured using ELISA 10-15 minutes post-intervention.Results: The median ANP levels in the treatment group (92.86 ng/mL) were significantly lower (p<0.05) than those in the control group (367.32 ng/mL). The mean MMP-2 levels in the treatment group (10.26 ng/dL) were lower than those in the control group (11.43 ng/dL). The median levels of syndecan-1 were also lower in the treatment group (4.31 ng/mL) compared to the control group (5.94 ng/mL).Conclusion: Slow fluid boluses appear to mitigate endothelial damage by reducing ANP, MMP-2, and syndecan-1 shedding. These findings suggest that slower infusion rates may offer a protective advantage in fluid resuscitation, paving the way for updated clinical guidelines.Keywords: fluid bolus, ANP, MMP-2, syndecan-1
Efficacy and Safety of Cannabidiol for Anxiety: A Bibliometric Analysis and Systematic Review Fajaryani, Putu Ayu Putri; I Made Agus Gelgel Wirasuta; Pande Made Nova Armita Sari; Dyah Kanya Wati; Putu Indah Budi Apsari; Made Ary Sarasmita
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 5 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v5i3.6807

Abstract

Introduction: A non-psychoactive substance present in the cannabis plant, cannabidiol (CBD), seems to have potential as an anxiolytic agent. This study systematically reviews the efficacy, safety, dosage, mechanisms, and adverse effects of CBD in treating anxiety. Methods: The PRISMA guideline was used to conduct the review. Results: A total of 64 articles were included in the study. It showed that CBD works at the endocannabinoid receptors CB1 and 5-HT1A, which regulate mood and reduce anxiety. In animal models, a range dosage of 5 – 10 mg/kg showed a significant anxiolytic effect in behavioral tests, while in humans, 300 mg/day was proven to be effective in treating various types of anxiety disorders. However, individual responses to CBD showed varying results, and demographic characteristics affect the efficacy of animal and human studies. CBD was also considered safer to be used in the short term compared to diazepam, although the long-term effect remains lacking evidence Conclusion: This study concludes that CBD has potential as an alternative choice for anxiety. Further research is needed in larger populations with rigorous study design and longer study durations to evaluate its effectiveness and ensure its safety. Recommendations for Future Research: It is hoped that future research can examine the effects of fly resistance and killing on non-target organisms and control environmental conditions.
Faktor Risiko Mortalitas pada Pasien Anak dengan Sepsis di Rumah Sakit Ngoerah Denpasar Tahun 2023 Berdasarkan Skor PELOD-2 dan Skor Vasoaktif Inotropik Haning, Joy Aprianis; Hartawan, I Nyoman Budi; Witarini, Komang Ayu; Suwarba, I Gusti Ngurah Made; Putra, I Gusti Ngurah Sanjaya; Wati, Dyah Kanya
Sari Pediatri Vol 27, No 3 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.3.2025.166-72

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak yang dirawat di ruang intensif. Identifikasi faktor risiko kematian pada pasien anak dengan sepsis penting untuk menunjang deteksi dini dan pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat guna menurunkan angka kematian. Namun, penelitian mengenai faktor risiko mortalitas anak dengan sepsis di Indonesia, khususnya yang memanfaatkan skor prognostik seperti PELOD-2 dan Vasoactive-Inotropic Score (VIS), masih sangat terbatas sehingga diperlukan data lokal untuk memperkuat bukti klinis.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitas pada pasien anak dengan sepsis yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar. Metode. Penelitian ini menggunakan desain case-control retrospektif dengan data diambil dari rekam medis pasien anak usia satu bulan hingga 18 tahun yang dirawat karena sepsis selama periode Januari hingga Desember 2023. Subjek dibagi menjadi kelompok kasus (meninggal) dan kontrol (hidup). Variabel yang diteliti meliputi usia, status gizi, penggunaan ventilator, skor PELOD-2, skor vasoaktif-inotropik, mikroorganisme penyebab, dan lama rawat. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik multivariat. Hasil. Sebanyak 62 pasien sepsis memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 31 pasien meninggal dan 31 pasien hidup. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penggunaan ventilator, skor PELOD-2 ?7, skor vasoaktif-inotropik ?20, dan lama rawat ?12 hari berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko mortalitas. Kesimpulan. Penggunaan ventilator, skor PELOD-2 tinggi, skor vasoaktif-inotropik tinggi, dan lama rawat yang singkat merupakan faktor risiko utama mortalitas pada pasien anak dengan sepsis. Penilaian dini terhadap faktor-faktor ini dapat meningkatkan efektivitas intervensi dan perbaikan luaran klinis.     
Co-Authors Abdul Latief Abdul Latief Adnyana, I Gusti Agung Ngurah Sugitha Anak Agung Ngurah Ketut Putra Widnyana Andreliano Yosua Rompis Andy Halim Anlidya Permatasari Gunawijaya Antonius Pudjiadi Antonius Pudjiadi Artini, Ni Wayan Noni Arya Krisna Manggala Aurelya, Anira Rema Ayu Setyorini Mestika Mayangsari Bagus Ngurah Putu Arhana BNP Arhana Cempaka, Putu Mas Vina Paramitha Clearesta, Kartika Eda Defranky Theodorus Derryl Komala Putra Desak Made Widiastiti Arga Dewi Sutriani Mahalini Djoko, Sri Wahyuni Eka Gunawijaya Estina, Vania Catleya Fajaryani, Putu Ayu Putri Felicia Anita Wijaya Gusti Ayu Nyoman Yulia Sitta Dewi Haning, Joy Aprianis Harsika Sari, Ni Wayan Diah Intan I Gde Doddy Kurnia Indrawan I Gede Deden Susma Sugara I Gede Wikania Wira Wiguna I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi I Gusti Ayu Sri Darmayani I Gusti Lanang Sidiartha I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Sanjaya Putra I Made Bakta I Made Jawi I Made Kardana I Made Karma Setiyawan I Nengah Gandi Karyadi I Nyoman Budi Hartawan I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Wayan Darma Artana I Wayan Dharma Artana I Wayan Dharma Artana, I Wayan Dharma I Wayan Gustawan Ida Bagus Gede Suparyatha Ida Bagus Subanada Jumantini, Ni Komang Pasek Nurhyang Ketut Dewi Kumara Wati Ketut Suarta Ketut Suarta Suarta Ketut Tuti Parwati Merati Ketut Wulan Ari Kartika Ardhaputri Khema Metta Wijaya Komang Ayu Witarini Komang Diah Kurnia Kesumaputri Komang Diah Kurnia Kesumaputri Luh Putu Diah Virayanti Luh Putu Putri Sanjiwani Made Gede Dwi Lingga Utama Made Gede Dwi Lingga Utama Made Michel Kresnayasa Made Pande Lilik Lestari Made Sukmawati Made Wiryana Manggala, Arya Krisna Maria Elisabeth Sylvinna Wasi Elannor Maria Pricilla Siboe Nelvina Ginting Ni Luh Sri Apsari Ni Made Ary Sarasmita Ni Putu Siadi Purniti Novita Purnamasari Assa Nyoman Gina Henny Kristianti Pande Made Nova Armita Sari, Pande Made Nova Putri, Ni Kadek Dwi Pramana Putu Andrie Setiawan Putu Aryani Putu Diah Pratiwi Putu Diah Pratiwi Putu Indah Budi Apsari Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Putu Nandika Tungga Yudanti Mahardani Retayasa Retayasa Ryan Tan Silvia Sudarmadji Siska Permanasari Sinardja Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Sukarta, Ni Kadek Yusthiani Suparyatha, Ida Bagus Gede Susanto, Yohanes Sutriani Mahalini, Dewi Visakha Karuna Wijaya Wayan Sulaksmana Sandhi Parwata