Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Musica: Journal of Music

Deteritorialisasi Khaos Melalui Permainan Musik Calempong di Nagari Unggan Fahmi Marh; Selvi Kasman
MUSICA : Journal of Music Vol 1, No 1 (2021): MUSICA: JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.439 KB) | DOI: 10.26887/musica.v1i1.1715

Abstract

This article reveals the element of deterritorialization in the sub-culture of the Minangkabau community with the Deleuze concept. The concept of deterritorialization to reveal what the Minangkabau man with the title Datuak Paduko Alam did to the chaos he faced with the loss of a woman is called Mande. The female figure behind the birth of the traditional Minangkabau calempong music game in Nagari Uggan. The musical detritorialization that occurs in Minangkabau society is particularly a part of the life experiences of female calempong players in Nagari Uggan. The purpose of this research using the Deleuze concept is to reveal the past problems of calempong which have deterritorialization elements. However, this is expressed through the experiences of calempong players and stories or stories of life in society. The method used in this research is qualitative data analysis from five players who are really experienced in playing the composition of calempong in Nagari Uggan. The approach used to reveal the experiences and stories of the community is life history ethnography. The results of this study are about how the experiences of female calempong players are able to express their deterritorialization musically, as well as a new form of reading about Minangkabau traditional music problems through women.Keywords: Deterritorialization; calempong; man and woman; Minangkabau.ABSTRAKArtikel ini mengungkapkan unsur deteritorialisasi dalam sub-budaya masyarakat Minangkabau dengan konsep Deleuze. Konsep deteritorialisasi untuk mengungkapkan apa yang dilakukan laki-laki Minangkabau yang bergelar Datuak Paduko Alam terhadap khaos yang dihadapinya terhadap kehilangan perempuan yang disebut Mande. Sosok perempuan yang melatarbelakangi lahirnya permainan musik tradisional Minangkabau calempong di Nagari Unggan. Detritorialisasi yang secara musikal terjadi dalam masyakat Minangkabau secara khusus menjadi bagian dari pengalaman hidup perempuan pemain calempong di Nagari Unggan. Tujuan penelitian dengan menggunakan konsep Deleuze ini adalah untuk mengungkapkan masalah masa lalu calempong yang memiliki unsur deteritorialisasi. Namun hal itu diungkap melalui pengalaman pemain calempong dan cerita atau kisah yang hidup dalam mayarakat. Metode yang digunakan dalam penelitin ini yaitu data analisis kualitatif dari lima orang pemain yang benar-benar berpengalaman dalam memainkan komposisi calempong di Nagari Unggan. Pendekatan yang digunakan untuk mengungkapkan pengalaman dan cerita masyarakat tersebut adalah etnografi life history. Hasil dari penelitian ini adalah tentang bagaimana pengalaman perempuan pemain calempong mampu mengungkapkan deteritorialisai secara musikal, sekaligus sebagai bentuk pembacaan baru masalah musik tradisional sub-budaya Minangkabau melalui perempuan.Kata Kunci: Deteritorialisasi; calempong; laki-laki dan perempuan; Minangkabau.
Rekonstruksi Kreatif dalam Pertunjukan Solis Trumpet Lintas Genre Sinulingga, M.Yunus Prayogi; Kasman, Selvi; Rahmadinata, Melisa Fitri; Tindaon, Rosmegawaty
Musica: Journal of Music Vol 5, No 2 (2025): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v5i2.6005

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan rekonstruksi kreatif dalam pertunjukan solis trumpet lintas genre sebagai strategi interpretasi musikal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pertunjukan, di mana data diperoleh melalui observasi proses latihan, dokumentasi pertunjukan, serta refleksi kritis penyaji. Repertoar yang dibawakan meliputi karya musik klasik Barat, tradisi Melayu, dan musik populer Latin, yang masing-masing memiliki karakter teknis dan ekspresif berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan rekonstruksi kreatif memungkinkan penyaji mengembangkan interpretasi musikal secara fleksibel tanpa menghilangkan karakter dasar setiap repertoar. Penguasaan teknik dasar trumpet, seperti artikulasi, kontrol pernapasan, dan pengelolaan dinamika, berperan penting dalam mendukung keberhasilan interpretasi lintas genre. Pertunjukan ini menghasilkan pengalaman musikal yang variatif serta memperlihatkan integrasi antara aspek teknis, ekspresif, dan kontekstual dalam praktik pertunjukan solis trumpet. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian pertunjukan musik, khususnya dalam praktik interpretasi dan penciptaan makna musikal melalui pertunjukan solis instrumen tiup