Siswanto Agus Wilopo
Departemen Biostatistik, Epidemiologi, Dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kontribusi agen dan faktor penyebab kejadian luar biasa keracunan pangan di Indonesia: kajian sistematis Risalia Reni Arisanti; Citra Indriani; Siswanto Agus Wilopo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.197 KB) | DOI: 10.22146/bkm.33852

Abstract

Contribution of agents and factors causing foodborne outbreak in Indonesia: a systematic review PurposeThe purpose of this study is to understand burden of foodborne outbreak in Indonesia during 2000 -2015. MethodSystematic review conducted based on publish and unpublished (grey literature) data during 2000 -2015. Publish data from search engine such as Google scholar, open access, repository online university in Indonesia. Grey literature collected from investigation report from selected university (UGM, UI and UNAIR), Ministry of Health, Food and Drug Administration (BPOM) Indonesia. 2 reviewer will select and extract relevant data. ResultsDuring 2000 – 2015 there was 1.176 foodborne outbreak with West Java Province as the highest event with 61.119 foodborne cases (AR: 8.5%) and 291 deaths (CFR: 0.4%). Women have more risk on foodborne with proportion 58.3%. Daily meal (36.6%) and special celebration (29.7%) as more risk activities with house (48.9%) and school (13.7%) as highest risk area for foodborne outbreak. Homemade food (46.9%) and catering food (18.9%) as highest causes of cases with pathogen bacterial as frequent agent (74.9%) such as E.coli. The most contributing factor was inadequate cooking and storage at inappropriate temperature.ConclusionHigh risk population of foodborne outbreak was women with pathogen bacterial as the highest agent. The most contributing factor was pathogen resistance and growth. It need to increase monitoring and food-handler as food safety standard.
KARAKTERISTIK AKSEPTOR DAN POLA DISKONTINUITAS KONTRASEPSI MODERN: ANALISIS DATA SDKI 2012 Izzatul Arifah; Sukamdi Sukamdi; Siswanto Agus Wilopo
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.857 KB)

Abstract

Memahami karakteristik akseptor berdasarkan jenis kontrasepsi dan pola diskontinuitasnya membantu provider meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan kontinuitas penggunaan kontrasepsi. Penelitian bertujuan mengkaji karakteristik akseptor dan pola diskontinuitas kontrasepsi modern. Penelitian merupakan studi observasional dengan rancangan kohort-retrospektif. Peneliti menganalisis data longitudinal menggunakan data kalender SDKI 2012. Sampel yaitu 8.656 WUS pernah kawin yang pernah menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implan. Analisis diskontinuitas berdasarkan prediktornya dilakukan dengan cox proportional hazard model dengan Confidence Interval (CI) 95% dan tingkat kemaknaan p 0,05. Kelompok responden dengan tingkat ekonomi sangat kaya, tinggal di kota dan tingkat pendidikan tinggi persentase terbesar merupakan akseptor IUD. Berkebalikan dengan akseptor implan yang mayoritas tingkat ekonomi sangat miskin, tinggal di desa, tingkat pendidikan rendah serta pengguna sumber pelayanan KB sektor pemerintah. Pil dan suntik merupakan pilihan mayoritas responden yang berusia 20-35 tahun, tingkat ekonomi menengah, pendidikan menengah dan pengguna sumber pelayanan KB sektor pemerintah. Tingkat diskontinuitas lebih tinggi pada metode kontrasepsi jangka pendek seperti suntik dan pil. Risiko diskontinuitas berdasarkan sumber pelayanan paling tinggi terdapat pada akseptor implan sumber pelayanan sektor swasta HR 1,63(1,14-2,36) Terdapat perbedaan yang signifikan karakteristik akseptor masing-masing metode kontrasepsi modern. Perbedaan ini menentukan pendekatan provider dalam menyelenggarakan pelayanan KB berkualitas demi meningkatkan kontinuitas penggunaannya.
PREVALENCE AND PATTERN OF UTERINE BLEEDING AMONG BREASTFEEDING WOMEN USING PROGESTERONE-ONLY PILLS Ratrikaningtyas, Prima Dhewi; Rosdiana, Dian; Wilopo, Siswanto Agus
Public Health of Indonesia Vol. 4 No. 3 (2018): July - September
Publisher : YCAB Publisher & IAKMI SULTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.471 KB) | DOI: 10.36685/phi.v4i3.203

Abstract

Background: Progesterone-Only Pill (POPs) is one of the ideal oral contraceptive methods for breastfeeding women. Discontinuation of POPs was mostly due to bleeding pattern disorders.Objective: The purpose of this study is to identify the prevalence and pattern of uterine bleeding on breastfeeding women using contraceptive pills containing progesterone derivatives.Methods: This study is a double blind block randomized controlled trial for the treatment group (levonorgestrel or lynestrenol pills) and non-randomized controlled trial for the control group, 6-8 weeks' postpartum women, 20 to 35-year-old, and breastfeeding. Monthly follow up was done for 6 months. Analysis was done using survival analysis, X2,and Cox's Proportional Hazard.Results: A hundred and seven women were involved with a drop-out rate of 17.8%. Subjects characteristics were ≤ 32-year-old, multiparous, ever used contraception with birth spacing of >60 months. Spotting and amenorrhea was the most common pattern. Levonorgestrel causes bleeding/menstrual resumption sooner in breastfeeding women than Lynestrenol.Conclusion: The most common uterine bleeding on women using Progesterone-only Pills were spotting and amenorrhea. By recognizing such effects, for Indonesian women, POPs was expected to be produced in the country and can be included in the national family planning programs.
Starting Life with Hidden Wound: Bullying and Self-Reported Depression Symptoms among Early Adolescent in 3 Cities of Indonesia Iwan Abdi Suandana; Anggriyani Wahyu Pinandari; Siswanto Agus Wilopo
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 12 No. SI1 (2024): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V12.ISI1.2024.86-96

Abstract

Background: Previous research revealed that bullying cause depression symptoms such as lack enthusiasm, anxious, being sensitive, and easily offended. Aims: This study aims to determine the relationship between bullying and self-reported depression in early adolescents using cross-sectional approach for Indonesia Global Early Adolescent Study data. Method: Depression symptom was collected using self-registered questionnaire about sadness, sleep disturbance, anxiety, and self-injury ideation from 4,684 students (2,207 boys and 2,477 girls). Logistic regressions were used to examine how bullying, and multilevel factors predict depression. Most adolescent aged 12-13 years old, living with complete parents, middle-up economic background, having hand-phone and using social media. Results: Adolescent reported experience at least 3 depression symptoms (60%), bullying (45%) and Adverse Childhood Experiences (ACEs; 70%). Result shows that boys (OR[CI];1.73[1.45,2.06]), having ≥5 ACEs (OR[CI];1.35[1.20,1.51]), living with relative (OR[CI];4.52[3.67,5.56]), spent more time with peers (OR[CI];1.52[1.33,1.73]), feeling unsafe (OR[CI];1.79[1.59,2.02]), having negative social-cohesion (OR[CI];1.50[1.34,1.67]) and high social-control (OR[CI];1.40[1.24,1.58]) are more likely to report depression. Conclusion: Multivariable analysis reveals significant association only on ACEs, time spent with peers, unsafe feeling, negative social-cohesion and high social-control. Bullying strongly predicts depression when adjusted by family and community variables only. Bullying prevention program should address other socialization agents such as peers, parents, teacher and community leader.
HAMBATAN PSIKOSOSIAL DAN NIAT KELUARGA BERENCANA PADA WANITA UNMETNEED KONTRASEPSI DI INDONESIA (ANALISIS DATA SDKI 2007) Vivi Triana; Siswanto Agus Wilopo; Sumarni Sumarni
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 6 No 1 (2011): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.v6i1.85

Abstract

Hasil SDKI tahun 2002 dan 2007 menunjukkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan, yang seharusnya diikuti dengan penurunan unmet need kontrasepsi (kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi), tetapi unmet need kontrasepsi malah terjadi peningkatan. Peningkatan unmet need ini perlu mendapat perhatian, karena perilaku tersebut akan memberikan konsekuensi yang serius terhadap kesehatan reproduksi dan kelangsungan hidup perempuan. Mengkajihubungan hambatan psikososial yang dialami oleh wanita unmet need kontrasepsi dengan niat untuk ikut keluarga berencana (KB), dalam upaya menurunkan kejadian unmet need kontrasepsi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan cross-sectional study. Wanita kawin kelompok unmet need kontrasepsi merupakan unit analisis. Kemudian kelompok ini dianalisis hambatan faktor psikososial yang dialami. Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariabel (deskriptif), bivariabel (chi-square), dan multivariabel (regresi logistik). Sepertiga (35,1%) dari 2.934 wanita unmet need kontrasepsi mempunyai alasan tidak menggunakan kontrasepsi akibat adanya hambatan psikososial. Hambatan psikososial tersebut di antaranya sikap tidak setuju terhadap program KB, persepsi sikap suami yang menentang KB, menentang menggunakan kontrasepsi, takut efek samping, dan penolakan budaya atau agama. Lebih dari setengah dari wanita tersebut (58,8%), tidak niat ber-KB di waktu yang akan datang. Prevalensi wanita unmet need kontrasepsi yang tidak niat ber-KB 1,8 kali lebih tinggi pada wanita yang mengalami hambatan psikososial daripada wanita yang tidak mengalami hambatan psikososial. Hambatan psikososial pada wanita unmet need kontrasepsi berhubungan dengan niat untuk ber-KB di waktu yang akan datang. Faktor lain yang berhubungan dengan niat ber-KB adalah faktor pengetahuan tentang KB, pilihan fertilitas dan jumlah anak ideal yang diinginkan pasangan. Faktor hambatan akses ke pelayanan KB (jarak dan biaya) tidak berhubungan dengan niat ber-KB.
Determinan Abortus di Indonesia Kuntari, Titik; Wilopo, Siswanto Agus; Emilia, Ova
Kesmas Vol. 4, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abortus menjadi masalah yang penting dalam kesehatan masyarakat karena berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Di Indonesia, belum ada data yang komprehensif tentang kejadian abortus, berbagai data yang ada sebelumnya berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas. Abortus yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasional menggunakan disain studi cross sectional. Data penelitian diperoleh dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Analisis data dilakukan secara bertahap yaitu: analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa risiko abortus meningkat seiring dengan peningkatan usia ibu. Wanita dengan paritas 0-2 berisiko lebih tinggi untuk mengalami abortus dibandingkan wanita dengan paritas 3 atau lebih (OR=5,2, IK 95%=3,49-7,89). Wanita yang bekerja berisiko 2,7 kali lebih tinggi untuk mengalami aborsi daripada wanita yang tidak bekerja (OR= 2,7 , IK 95%= 2,10-3,58). Selain itu, risiko abortus meningkat pada wanita yang menikah pada usia 30 tahun atau lebih (OR=1,8, IK95%= 1,30-2,48). Risiko abortus tidak berhubungan bermakna dengan riwayat abortus sebelumnya, tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi. Abortion has become a main problem in public health because of its impact on maternal morbidity and mortality. There is no comprehensive data on abortion in Indonesia. So far, data were based on survey with limited coverage. Unsafe abortion is responsible to 11 percent of maternal mortality in Indonesia. This research objective is to determine factors related to abortion in Indonesia. The study was an observational method with cross sectional design. These data are gathered from Indonesian Demography and Health Survey 2002–2003. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis with logistic regression. The risk of an abortion increased in line with the increasing of maternal age. Women with 0-2 parity have higher risk than multiparity (OR=5.2, IK95%=3.49-7.89). Employed women have higher risk than unemployed (OR=2.7, IK95%=2.10-3.58). The risk of abortion increased among women married at 30 years old or over (OR=1.8, IK95%=1.30-2.48). There is no significant association between history of abortion, education, socioeconomic and risk of abortion.
Perilaku Seks Pranikah Remaja Rahyani, Komang Yuni; Utarini, Adi; Wilopo, Siswanto Agus; Hakimi, Mohammad
Kesmas Vol. 7, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan seksual sebelum nikah pada remaja merupakan masalah yang serius, berhubungan dengan peningkatan penularan penyakit menular seksual, mempunyai pasangan lebih dari satu, dan kehamilan dini. Suatu kerangka kerja model perilaku terintegrasi (Integrated Behavioral Model, IBM) digunakan untuk menilai berbagai faktor prediktor hubungan seksual prematur pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi inisiasi hubungan seksual sebelum nikah pada remaja level 10 dan 11 berdasarkan kerangka kerja IBM, meliputi komunikasi tentang seks kelompok peers, orang tua, paparan perilaku pornografi, kepercayaan normatif, agen personal, dan keinginan hubungan seksual. Metode yang digunakan adalah menyertakan 626 responden dalam survei awal. Responden adalah siswa sekolah menengah atas level 10 – 11 di kota Denpasar. Data dikumpulkan dengan kuesioner laporan sendiri khususnya prediktor inisiasi hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian ini menemukan bahwa pajanan pornografi, perilaku langsung dan tidak langsung berhubungan secara signifikan dengan inisiasi hubungan seksual sebelum nikah (nilai p < 0,05). Remaja laki-laki tampaknya melakukan lebih banyak aktivitas seksual daripada remaja perempuan. Penelitian ini berimplikasi terhadap pemahaman perilaku langsung dan pajanan pornografi mungkin digunakan dalam meningkatkan program kesehatan dan kesehatan remaja. Premarital sexual inisiation on adolescence is a serious problem, associated with increased transmition sexually transmitted disease/STD, had having more partners, and early pregnancy. An Integrated Behavioral Model (IBM) framework used to assess predictors of premarital sexual on adolescents. The purpose of this research is to explore predictors of premarital sexual inisiation in adolescents grade 10 and 11 based on IBM framework, includes: communication about sex with peers, parents, pornography exposure, attitude, normative belief, personal agency, and intention to have sex. Method that used is 626 respondent included in earlier survey, and respondent were students of senior high school grade 10 – 11 in Denpasar City. Data collected with self reported questionaire particularly predictor of premarital sexual initiation. The result found that pornography exposure, indirectly attitude, and directly attitude were significantly associated with premarital sexual initiation (p < 0,05). Male adolescents engage in more sexual activity like premarital sexual inisiation than female adolescents. This study has implications for understanding how directly attitude and pornography exposure may be used in intervention to promoting adolescents health program and adolescents ressiliency.
Are We Passing on Violence to the Next Generation?: Gender Norms and Gender-based Violence Attitudes among Early Adolescents in Indonesia Mahendra, I Gusti A A; Pinandari, Anggriyani Wahyu; Choiriyah, Ifta; Wilopo, Siswanto Agus
Kesmas Vol. 16, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensification of gender norms during puberty affects adolescents’ perceptions and behavior related to violence. This study examined the association between gender norms and gender-based violence (GBV) among early adolescents considering socio-ecological variables using cross-sectional data from 3,618 Indonesian Global Early Adolescent Study pupils. Chi square tests with simple and multiple logistic regression analyses examined how different factors' levels predict GBV. Among boys, GBV attitudes were found high (53%). Furthermore, they also had high heteronormative expectations, threatened feelings, experiences of violence, porn access, and 5+ adverse childhood experiences (ACEs). Logistic regression results revealed that adolescent boys having one or two scores of gender norms at the above-median are 1.3 times more likely to commit GBV and even 2.2 times higher if all were above median [AOR (CI) = 1.3(1.1-1.6); 2.2 (1.7 2.8)], respectively. Boys, having 5+ ACEs, and stronger endorsement on heteronormative relationships were also more likely to commit GBV [AOR (CI) = 1.5 (1.3-1.7); 1.5 (1.2-1.9); 1.5 (1.3-1.7)], respectively. This research concluded that unequal gender norms intensified during puberty strongly correlate to attitudes towards GBV among early adolescents. Strengthening the individual aspects by providing a more conducive environment, such as comprehensive sexual education at school, is essential to prevent GBV.
Pendidikan Kesehatan Reproduksi Formal dan Hubungan Seksual Pranikah Remaja Indonesia Pinandari, Anggriyani Wahyu; Wilopo, Siswanto Agus; Ismail, Djauhar
Kesmas Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transisi demografi kedua akan terjadi di Indonesia dan ditandai dengan revolusi seksual dan reproduksi. Masalah potensial di masa ini adalah peningkatan perilaku seksual pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual dan penyalahgunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan hubungan seksual pranikah pada remaja dan dewasa muda Indonesia. Penelitian potong lintang yang dianalisis sebagai kohort retrospektif menggunakan data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2012 (10.980 laki-laki dan 8.902 perempuan). Efek pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan perilaku hubungan seksual dianalisis menggunakan kurva kaplan meier, uji log-rank, dan uji chi square, sedangkan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Semua tes menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan nilai p = 0,05. Hasil analisis keberlangsungan berpantang melakukan hubungan seksual pranikah menunjukkan bahwa remaja yang tidak menerima atau hanya menerima salah satu dari materi pendidikan kesehatan reproduksi memiliki hazard ratio yang lebih besar (berturut-turut 1,55 ( CI= 1,32 – 1,82); 0,99 (CI=0,86 – 1,15) dan 2,26 (CI=1,43 – 3,56). Menerima informasi secara lengkap memberikan waktu berpantang yang lebih lama. Penyalahgunaan obat, merokok, minum alkohol, laki-laki, berusia 20 - 24 tahun dan miskin berpeluang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Penerimaan informasi kesehatan reproduksi pada jenjang pendidikan formal dapat menunda terjadinya hubungan seksual pranikah. The second demographic transition will occur in Indonesia and be marked by sexual and reproductive revolution. Potential problems in this era are the increase of premarital sexual behavior, unwanted pregnancy, sexual transmitted infection and drug abuse. This study aimed to examine the influence of formal reproductive health education to delay premarital sexual intercourse among Indonesian teenagers and young adults. Cross sectional study analyzed as retrospective cohort used data of Indonesian Teenage Reproductive Health Survey in 2012 (10,980 men and 8,902 women). Effects of formal reproductive health education to delay sexual intercourse behavior was analyzed using kaplan meier curve, log-rank test, and chi square test, meanwhile multivariat analysis used logistic regression. All tests used confidence interval 95% and p value = 0.05. Results of survival analysis of abstinence committing sexual intercourse showed that teenagers who didn’t receive or only receive one of reproductive health education materials had bigger hazard ratio (respectively 1.55 (CI=1.32 – 1.82); 0.99 (CI=0.86 – 1.15) and 2.26 (CI=1.43 – 3.56)). Receiving complete information gave longer abstinence time. Drug abuse, smoking, alcohol, men, aged between 20 – 24 years old and poor were more likely to commit premarital sexual intercourse. Receipt of reproductive health information at formal education level may delay the occurrence of premarital sexual intercourse.
Asupan Vitamin D Rendah dan Keparahan Demam Berdarah Dengue pada Anak Usia 1-14 Tahun Siyam, Nur; Wilopo, Siswanto Agus; Hakimi, Mohammad
Kesmas Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) menimbulkan syok dan kematian. Penderita DBD di Yogyakarta sebagian besar usia 1 - 12 tahun dengan DBD parah. Asupan vitamin D rendah diasumsikan penyebab DBD parah. Asumsi ini perlu dibuktikan dengan menganalisis pengaruh asupan Vitamin D dan keparahan DBD. Rancangan penelitian adalah studi kasus kontrol. Penelitian di bangsal rawat inap anak dan instalasi catatan medik RS Jogja dan RSUP Dr. Sardjito. Kasus adalah anak usia 1 - 14 tahun dengan DBD grade III & IV, kontrolnya DBD grade I & II. Data asupan vitamin D diambil dengan food frequency questionnaire (FFQ). Variabel luar adalah indeks massa tubuh (IMT), usia, status penyakit kronis dan intensitas terpapar matahari pagi. Analisis dengan uji-t dan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan 60 kasus dan 60 kontrol tanpa matching. Cut-off point asupan vitamin D berdasarkan ROC curve adalah 2,7 µg/hari. Penderita DBD parah rata-rata asupan vitamin D 1,10 kali lebih sedikit dibandingkan DBD tidak parah. Rata-rata asupan vitamin D lebih rendah 1 µg/day bersama IMT ≥18,75 kg/m2, penyakit kronis, dan kurang terpapar matahari pagi berpengaruh pada DBD parah (OR=0,47; 95% CI: 0,32-0,71). Cukup Asupan vitamin D disarankan untuk menghindari keparahan DBD. Penyakit kronis dan berat badan lebih perlu menjadi perhatian tenaga medis sebagai kewaspadaan dini terjadinya shock. Dengue hemorrhagic fever (DHF) lead to shock and death. Patient in Yogyakarta mostly aged 1 - 12 years old with severe dengue. A low vitamin D intake is assumed to be the cause of severe dengue. This assumption needs to be proved by analyzing the effect of vitamin D intake and severity of DHF. Study design was a case control study. Research on children’s wards and medical record installation in hospital. Cases were children with DHF grade III and IV, the control of DHF grade I & II. Data vitamin D intake was obtained by FFQ. Outer variables: BMI, age, chronic diseases and intensity morning sun exposure. Analysis by t-test and logistic regression. The results showed 60 cases and 60 controls without matching. Cut-off point vitamin D intake based ROC curve was 2.7 µg/day. Patients with severe dengue average vitamin D intake of 1.10 times less than not severe dengue. The average vitamin D intake lower 1 µg/day with a BMI ³ 18.75 kg/m2, chronic disease, and less exposed to the morning sun effect on severe dengue (OR = 0.47, 95% CI: 0.32 to 0.71). Sufficient vitamin D intake is recommended to avoid the dengue severity. Chronic diseases and more weight should be a concern of medical personnel as early warning shock occurrence.