Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pemberian ASI eksklusif tidak berhubungan dengan stunting pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia Bunga Astria Paramashanti; Hamam Hadi; I Made Alit Gunawan
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.557 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(3).162-174

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting in children is one of public health problem in Indonesia. Stunting is a serious problem because it is linked with the quality of human capital in future. Objectives: To determine the association between exclusive breastfeeding practice and stunting in young children 6 – 23 months in Indonesia.Methods: This study used a cross-sectional design. Data was obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2013. Riskesdas 2013 used multistage cluster sampling. Subject in this study was 6.956 young children 6 – 23 months in Indonesia which was selected purposively. Data was analyzed by using descriptive analysis, chi-square, and multiple logistic regression by adjusting the sampling weight for survey analysis.Results: Exclusive breastfeeding was protective against stunting, but the result was not significant both for exclusive breastfeeding >6 months (OR=0,99, 95% CI: 0,63–1,59) and exclusive breastfeeding 4-<6 bulan (OR=0,93, 95% CI: 0,63–1,39). Young children with low birth weight history had higher risk to become stunting (OR=1,77, 95% CI: 1,33–2,37). Household economic status which were very poor (OR=1,96, CI: 1,53–2,52), poor (OR=1,62, 95% CI:1,30–2,03) and middle (OR=1,32, 95% CI: 1,06–1,64) were also associated with the risk of stunting.Conclusions: Exclusive breastfeeding is not the only factor contributing to stunting in children. Optimal complementary feeding practice should also be the focus of intervention. Improvement in nutritional status since the preconception and during the pregnancy, and household economy status may reduce stunting problem in children.KEYWORDS: stunting, exclusive breastfeeding, feeding practice, growth ABSTRAKLatar belakang: Stunting pada anak-anak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Stunting menjadi masalah yang serius karena dikaitkan dengan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara praktik pemberian ASI eksklusif dan stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Data didapatkan dari hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. Teknik pengambilan sampel pada Riskesdas 2013 adalah multistage cluster sampling. Subjek pada penelitian ini berjumlah 6.956 anak usia 6 – 23 bulan di Indonesia yang dipilih secara purposive. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, chi-square dan regresi logistik berganda dengan mempertimbangkan sampling weight untuk analisis survei.Hasil: ASI eksklusif bersifat protektif terhadap kejadian stunting pada anak, namun hasilnya tidak signifikan, baik untuk ASI eksklusif >6 bulan (OR=0,99, 95% CI 0,63–1,59) maupun ASI eksklusif 4-<6 bulan OR=0,93, 95% CI: 0,63–1,39). Anak yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menjadi anak yang stunting (OR=1,77, 95% CI: 1,33–2,37). Status ekonomi rumah tangga sangat miskin (OR=1,96, 95% CI: 1,53–2,52), miskin (OR=1,62, 95% CI: 1,30–2,03) danmenengah (OR=1,32, 95% CI: 1,06–1,64) masing-masing berkontribusi terhadap peningkatan risiko stunting pada anak.Kesimpulan: ASI eksklusif bukanlah satu-satunya faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada anak. Pemberian MPASI yang optimal juga harus diperhatikan. Perbaikan status gizi sejak masa prekonsepsi dan selama kehamilan, serta status ekonomi rumah tangga diharapkan mampu menurunkan kejadian stunting pada anak.KATA KUNCI: stunting, ASI eksklusif, praktik makan, pertumbuhan
Suplementasi obat cacing, sirup Fe, dan vitamin C meningkatkankadar hemoglobin dan status gizi balita di Kupang Siti Romlah; Hamam Hadi; M. Juffrie
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 1, JANUARI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.778 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(1).1-6

Abstract

ABSTRACTBackground: The prevalence of having intestinal worms among malnourished children under fi ve as the cause of anemia at the Province of Nusa Tenggara Timur is still relatively high. Efforts to minimize intestinal worm infection and anemia and to increase nutrition status of malnourished children under fi ve who get recovery complementary foods are made through supply of intestinal worm drugs, Fe syrup and vitamin C.Objective: To identify the effect of the supply of intestinal worm drugs, Fe syrup, and vitamin C supplementation to the increase of haemoglobin (Hb) level and nutritional status of malnourished children under fi ve who got recovery complementary foods.Method: This was an experimental study with factorial design. Subject of the study were malnourished children under fi ve of 1–3 years of age at Kupang Municipality. There were as many as 128 samples divided into 4 experiment groups. The group got pyrantel pamoat intestinal worm drugs 125 mg (n=32), Fe syrup + vitamin C (n=32), and placebo (n=32). Hb level was measured using “Hemocue-B Hemoglobin photometer”, intestinal worm infection was observed through facces of the subject to identify the presence of worm eggs. Statistical analysis used t-test to identify the relationship before and after the supply and ANOVA to fi nd out the difference in the effect of the supply among the groups. Result: After 3 months, the supply of the intestinal worm drugs before intervention had signifi cant effect to intestinal worm infection status among the group with intestinal worm drugs and the group with intestinal worm drugs, Fe syrup + vitamin C. The highest increase of Hb level was found in the group with intestinal worm drugs, Fe syrup + Vitamin C with average increase as much as 1.2 g/dL. Average increase of weight among the groups was 0.3 kg. Increase ofZ-score signifi cantly affected index of weight/age and weight/height.Conclusion: The increase of Hb level signifi cantly affected changes of nutritional status increase among the experiment groups.KEYWORDS: intestinal worm drugs, Fe syrup, vitamin C, Hb level, nutritional status, malnourishmentABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi kecacingan pada balita gizi buruk sebagai penyebab anemia di Provinsi NTT masih tinggi. Upaya menurunkan infeksi kecacingan dan anemia serta meningkatkan status gizi pada balita gizi buruk yang mendapat PMT-P antara lain dengan pemberian obat cacing dan suplementasi sirup Fe + vitamin C.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian obat cacing, suplemen sirup Fe, dan vitamin C terhadap peningkatan kadar Hb dan status gizi balita gizi buruk penerima PMT-P.Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental dengan rancangan faktorial. Sasaran penelitian adalah balita gizi buruk usia 1–3 tahun di Kota Kupang. Jumlah sampel sebanyak 128 anak dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Perlakuan obat cacing pirantel pamoat 125 mg (n=32), sirup Fe + vitamin C (n=32), obat cacing, sirup Fe+ vitamin C (n=32) dan plasebo (n=32). Pengukuran kadar hemoglobin dengan ”HemoCue”, infeksi cacing diperiksa melalui tinja subjek untuk melihat adanya telur cacing. Analisis menggunakan uji T-test untuk mengetahui hubungan sebelum dan sesudah suplementasi dan uji ANOVA untuk melihat perbedaan efek suplementasi antar kelompok. Hasil: Setelah 3 bulan, pemberian obat cacing sebelum intervensi berpengaruh signifi kan terhadap status infeksi kecacingan pada kelompok obat cacing dan kelompok obat cacing, sirup Fe + vitamin C. Peningkatan kadar hemoglobin antarkelompok yang tertinggi adalah pada kelompok obat cacing, sirup Fe dan vitamin C dengan ratarata kenaikan sebesar 1,2 g/dL. Rata-rata kenaikan berat badan antar kelompok sebesar 0,3 kg. Peningkatan nilai Z-score berpengaruh signifi kan terhadap indek BB/U dan BB/TB.Kesimpulan:Peningkatkan kadar hemoglobin berpengaruh signifikan terhadap perubahan peningkatan status gizi antar kelompok suplementasi.KATA KUNCI: obat cacing, sirup Fe +vitamin C, kadar hemoglobin, Z-score, status gizi
Waktu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) berhubungan dengan kejadian stunting anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu Dwi Puji Khasanah; Hamam Hadi; Bunga Astria Paramashanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 2, MEI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.379 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(2).105-111

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting in children 6-23 months old was not directly realized and can be looked after they are 2 years old. Almost 18.08% in District Bantul suffered from stunting. Stunting in children 6-23 months, may be correlated with the first time of complementary feeding introduction and inadequate intake of nutrients (energy and protein).Objectives: To know the association between time of complementary feeding introduction, energy and protein intake with stunting in children 6-23 months old in Sedayu.Methods: This was an observational study with cross sectional design. Research locations was in District of Sedayu, Bantul, Yogyakarta.The subject of study was children 6-23 months old in Sedayu. Samples were 190 children aged 6-23 months selected by using technique probability proportional to size (pps). The status of stunting in children was measured based on body length/age and used to analyze the risk of complementary feeding with stunting.Results: The results of the analysis bivariat showed that early complementary feeding was significantly associated with stunting (OR=2.867, 95% CI:1.453-5.656). Intake of energy and proteins had no association with stunting (p=0.005).Conclusions: There were association between time of complementary feeding introduction with stunting. Intake of energy and protein were not risk factors of stunting in children aged 6-23 months in Sedayu Subdistrict, Bantul, Yogyakarta.KEYWORDS: complementary feeding, intake of energy, intake of protein, stuntingABSTRACTLatar belakang: Terjadinya stunting pada baduta seringkali tidak disadari, dan setelah dua tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek. Sebesar 18,08% balita di Kabupaten Bantul menderita stunting. Penyebab terjadinya stunting pada anak usia 6-23 bulan erat kaitannya dengan waktu pertama pemberianmakanan pendamping ASI (MP-ASI) serta asupan zat gizi (energi dan protein) pada makanan yang kurang memadai.Tujuan: Mengetahui hubungan antara waktu memulai pemberian serta jumlah asupan energi dan protein dari MP-ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu.Metode: Jenis penelitian adalah observasional dengan desain studi cross sectional. Lokasi penelitian di Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul Yogyakarta. Subjek penelitian adalah anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu. Besar sampel yang dibutuhkan adalah 190 anak usia 6-23 bulan. Pemilihan subjekpenelitian menggunakan teknik probability proportional to size (PPS). Untuk mengetahui status stunting pada anak dilakukan pengukuran panjang badan menurut umur (PB/U) dan digunakan analisis besarnya risiko pemberian MP-ASI terhadap kejadian stunting.Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukan waktu pertama kali pemberian MP-ASI berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (OR=2,867, 95%CI:1,453-5,656). Asupan energi dan protein tidak berhubungan dengan kejadian stunting (p>0,005).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu pertama pemberian MP-ASI yang terlalu dini terhadap kejadian stunting. Asupan energi dan protein yang kurang tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.KATA KUNCI: pemberian MP-ASI, asupan energi, asupan protein, stunting
Perbedaan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar yang obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul Irma Nuraeni; Hamam Hadi; Yhona Paratmanitya
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 2, MEI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.813 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(2).81-92

Abstract

ABSTRACTBackground: Curently, Indonesia has double burden problems nutrition, such as malnutrition and over nutrition. Overnutrition or obesity are not just happening in adults only, but also can occur in childhood. If the problem of obesity in children and adolescents cannot be resolved, it can be infl uenced obese in adulthood then potentially to have noncommunicable diseases, such as cardiovascular disease, hypertension and diabetes mellitus. Prevalence of obesity inchildren at Yogyakarta Province increases year by year (1;2). Obesity was caused by an imbalance in energy intake andenergy expenditure. Children tend to consume high energy-dense, sweet  taste meal, high fat foods and less dietary fiber from fruits and vegetables. Several studies showed that there was increasing in risk of obesity from someone who have less consumption of fruits and vegetables.Objective:To determine differences in frequency and amount of fruit and vegetable consumption in elementary school children obese and non-obese at Yogyakarta Municipality and  District of Bantul and to find out the risk of obesity in children who have less consumption of fruits and vegetables. Methods:The study design was a case-control, 244 samples as cases (obese children) and 244 controls (non-obesechildren). The subject of this study was children aged 6-12 years who were seated in class 1 to class 5 elementary schools at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. Identity data obtained from a structured questionnaire respondent, frequency and amount of fruit and vegetable consumption were taken from Semi Quantitative Food Frequency Questioner(SQFFQ).Then the results analyzed using statistical test.Results: Statistical test showed that there were significant differences (p<0,05) in the frequency and number of fruit and vegetable consumption in obese and non-obese elementary school children at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. Multivariate analysis after controlled by gender and energy intake, showed that obese  children who rarely consuming fruits (<7 times/week) (OR=2,24, 95%CI: 1.53-3.28), rarely consuming vegetables (<7 times/week) (OR=2,52, 95%CI: 1,70-3,73), and consuming fruits and vegetables less than 5 servings/day (equivalent to 400 g/day) (OR= 4,59, 95%CI:2,11-10,00) were greater risk for being obesity.Conclusion:Obese children had rarely and less consume of fruits and vegetables than that did in non-obese children at Yogyakarta Municipality and District of Bantul. The children rarely and less consuming fruits and vegetables increased the risk of obesity.KEYWORDS: children obesity, vegetable, fruitABSTRAKLatar Belakang: Indonesia saat ini mengalami masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih. Kelebihan  gizi atau obesitas pada anak dan remaja apabila tidak diatasi maka berdampak menjadi obesitas pada masa dewasa yang berpotensi mengalami penyakit tidak menular, seperti jantung, hipertensi dan diabetes mellitus. Prevalensi obesitas pada anak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (1; 2). Obesitas disebabkan ketidakseimbangan antara masukan dengan keluaran energi. Anak cenderung mengkonsumsi padat energi yang berasa manis dan berlemak tinggi serta makanan kurang serat dari buah dan sayur. Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko obesitas pada orang yang kurang konsumsi buah dan sayur.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur pada anak SD obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul serta peran konsumsi buah dan sayur terhadap kejadian obesitas. Metode: Rancangan penelitian ini adalah case-control, 244 kasus (anak obes) dan 244 kontrol (anak tidak obes). Subjek penelitian adalah anak usia 6-12 tahun yang duduk di kelas 1 hingga kelas 5 sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan di Kabupaten Bantul. Data identitas diperoleh dari kuesioner terstruktur, sedangkan data frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur diperoleh dari semikuantitatif FFQ. Hasilnya kemudian dianalisis menggunakan uji statistik.Hasil: Pada anak SD obes dan tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul terdapat perbedaan yang signifikan(p<0,05) dalam frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur. Hasil analisis multivariat setelah dikontrol dengan jenis kelamin dan asupan energi menunjukkan bahwa anak SD obes yang mengkonsumsi buah jarang (< 7 kali/minggu) (OR=2,24, 95%CI:1,53-3,28), frekuensi konsumsi sayur jarang (<7 kali/minggu) (OR=2,52, 95%CI: 1,70-3,73), jumlah konsumsi buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari atau setara dengan 400 gr/hari (OR=4,59, 95%CI: 2,11-10,00) berisiko lebih besar untuk terjadinya obesitas. Kesimpulan: Anak SD yang obes lebih jarang dan lebih sedikit mengkonsumsi buah dan sayur dibandingkan dengan anak SD yang tidak obes di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Anak yang jarang dan sedikit mengkonsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas.KATA KUNCI: obesitas anak, sayur, buah
Kebiasaan sarapan tidak berhubungan dengan status gizi anak sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur Irma Yunawati; Hamam Hadi; Madarina Julia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.783 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).77-86

Abstract

ABSTRACTBackground: School age children are the future generation. Improvement the quality of human resources should be done early. One of factors affecting the quality of human resources is the nutritional status. Breakfast contributes in nutritional intake (15-25% RDA). Skipping of breakfast makes the body decreasing of glucose. It makes body to unload supplies of energy from fat tissue and cause of weight reduction.Objectives: To determine the relationship between breakfast habits with the nutritional status of elementary school children in Nusa Tenggara Timur Province.Methods: This was an observational study with cross-sectional design. This study used the secondary data of Alma Ata Centre for Healthy Life and Food (ACHEAF) 2013. The subjects were children from elementary school of classes between II-VI in Amanuban Barat and Kie Subdistrict, Timor Tengah SelatanDistrict with total sample of 313 students. Sample were selected by cluster random sampling technique using computer generated random number software. Data analysis used chi-square test with a confidence interval (CI) of 95% to the level of significance of p<0.05. Analysis by logistic regression was done if itshowed significance result.Results: The proportion of breakfast habits of school children was 82.11%. Most widely consumed breakfast type (78,32%) was rice (rice porridge and rice) and the other (21.68%) were non-rice eating breakfast (bose corn, yam/cassava, boiled bananas, instant noodles, corn porridge, bread/cooky). The contribution of breakfast energy intake is 13.94% RDA and protein intake was 14.4% RDA. There was no relationship between breakfast habits and nutritional status of elementary school children.Conclusions: Breakfast habits was not related with the nutritional status of school children in Amanuban Barat and Kie Sub-district.KEYWORDS: breakfast habits, nutritional status, school childrenABSTRAKLatar belakang: Anak usia sekolah merupakan generasi penerus bangsa. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus dilakukan sejak dini. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas SDM yaitu status gizi. Sarapan memiliki kontribusi dalam memenuhi asupan gizi, menyumbangkan 15-25% AKG. Melewatkan sarapan membuat tubuh kekurangan glukosa sehingga tubuh membongkar persediaan tenaga dari jaringan lemak tubuh dan menyebabkan penurunan berat badan.Tujuan: Mengetahui hubungan kebiasaan sarapan terhadap status gizi anak sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder Alma Ata Centre for Healthy Life and Food (ACHEAF ) 2013. Subjek penelitian adalah anak sekolah dasar kelas II-VI di Kecamatan Amanuban Barat dan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan total sampel sebanyak 313 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling menggunakan software computer generated random number. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan confi dence interval (CI) 95% pada tingkat kemaknaan p<0,05 dan hasil analisis data yang bemakna dilanjutkan dengan uji regresi logistik.Hasil: Proporsi kebiasaan sarapan anak sekolah adalah 82,11%. Jenis sarapan yang paling banyak dikonsumsi adalah sarapan beras (bubur nasi dan nasi) sebesar 78,32% dan sebanyak 21,68% mengonsumsi sarapan non-beras (jagung bose, ubi/singkong, pisang rebus, mie instan, bubur jagung, roti/kue). Kontribusi asupan energi sarapan sebesar 13,94% AKG dan asupan protein sarapan sebesar 14,4% AKG. Tidak ada hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi pada anak sekolah.Kesimpulan: Kebiasaan sarapan tidak berhubungan dengan status gizi anak sekolah di Kecamatan Amanuban Barat dan Kie.KATA KUNCI: kebiasaan sarapan, anak sekolah, status gizi
Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Posyandu Lansia di Imogiri Kabupaten Bantul Hendri Purwadi; Hamam Hadi; M.Nur Hasan
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 1, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.869 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2013.1(3).76-81

Abstract

Posyandu lansia adalah salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan degeneratif yang terjadi pada lansia. Jumlah kunjungan ke posyandu lansia di Dusun Karangkulon 2010, rata-rata 60 lansia dari 160 lansia yang terdaftar. Penelitian observasional dengan disain cross sectional ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia. Sampel diambil dengan teknik total sampling pada 160 populasi lansia di Dusun Karangkulon. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil uji chi square menujukkan variabel jenis kelamin (0,000), status perkawinan (p=0,018), persepsi sehat sakit (p=0,000), persepsi kualitas pelayanan (p=0,000) ada pengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia. Sedangkan variabel umur (0,774), pendidikan (p=0,059), pekerjaan (p=1), dukungan refrence group (0,865) tidak ada pengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia. Hasil uji Regresi logistik menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan (p=0,025) berpengaruh terhadap pemanfaatan posyandu lansia adalah persepsi kualitas pelayanan posyandu. Kesimpulan: Ada pengaruh signifikan jenis kelamin, status perkawinan, persepsi sehat sakit dan persepsi kualitas pelayanan terhadap pemanfaatan posyandu lansia. Disarankan kader dan petugas kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan penyuluhan posyandu lansia.
Kepatuhan Mengonsumsi Tablet Fe Selama Hamil Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Kabupaten Bantul Fatimatasari Fatimatasari; Hamam Hadi; Nur Indah Rahmawati
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 1, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.072 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2013.1(3).87-89

Abstract

Penurunan angka kematian bayi di Indonesia belum belum mencapai target 8 tujuan emas MDG’S. Pada tahun 2010 penyebab kasus kematian neonatal terbanyak disebabkan karena bayi berat lahir rendah (BBLR) dan kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Bantul. Ibu hamil dengan anemia merupakan faktor resiko kejadian BBLR, sedangkan kasus anemia yang paling sering dijumpai pada ibu hamil adalah akibat kekurangan zat besi.Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet dapat mengatasi anemia kekuarangan zat besi pada ibu hamil. Penelitian case control ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan Ibu hamil mengkonsumsi tablet Fe dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR). Sampel penelitian adalah 132 ibu melahirkan di RSUD Panembahan Senopati Bantul  terdiri dari 66 Ibu yang melahirkan bayi BBLR sebagai kelompok kasus dan 66 Ibu yang melahirkan bayi tidak BBLR sebagai kelompok kontrol. Hasil pengumpulan data didapatkan 53% sampel masih mengkonsumsi tablet Fe kurang dari 90 tablet. Hasil analisa data dengan uji statistik didapatkan hasil OR= 2,09 (95%CI [1,040–4,194]) dan x=4,38 dengan p-value=0,036. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet Fe dengan kejadian Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan resiko ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe kurang dari 90 tablet mempunyai resiko 2,1 kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu yang mengkonsumsi tablet Fe 90 tablet atau lebih.
Korelasi Positif Perubahan Berat Badan Interdialisis dengan Perubahan Tekanan Darah Pasien Post Hemodialisa Purnomo Widiyanto; Hamam Hadi; Teguh Wibowo
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 2, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.617 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2014.2(1).1-8

Abstract

Interdialysis body weight is used to determine ultra fi ltration speed on hemodialisa patients. The overload ultra fi ltration can infl uence patients hemodynamic. According to Renal Registry Indonesia, it was 11 percent in 2012 dialysis patients experienced hypotension. This observational analytic study used cohort survey aims to analyse changing of interdialysis body weight and of blood pressure among dialysis patients in RSUD Saras Husada Purworejo. In this research, 40 respondents divided into two groups by purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data was analysed using Paired T-Test, Spearman Rank Test and Chi Square and was obtained characteristics subject sexes p= 0.736, p= 0.744 age, history of diabetes p=0.311 and p= 0.185 HT history means that there were no signifi cant correlation with the increase interdialisis BB. (p>0.05). Correlation interdialisis BB with changing in BP, RR=2,750 x²= 3.84 and p= 0.050 (p= 0.050) was signifi cantly in positive direction. Conclusion, there was correlation between interdialysis body weight changing with blood pressure elevation. 8% of those who exposed the rise interdialysis body weight was hypotension.
Kemandirian Keluarga Berencana (KB) pada Pasangan Usia Subur di Kota Yogyakarta Susiana Sariyati; Sundari Mulyaningsih; Hamam Hadi
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 2, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.658 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2014.2(2).62-66

Abstract

Family planning is part of the needs of the community, todays, by the government has given to the community. This condition was used by BKKBN as a trigger to improve toward independence. Yogyakarta Province (DIY) as the one province in Indonesia which has high number of active acceptors. In 2012, active acceptors has reached 34.373 (73.29%) of 47 339 couples of productive age (BKKBN 2012). This research aimed to know representation of KB independence in couples of childbearing age (EFA) in Yogyakarta 2013. This is a descriptive research with descriptive survey approach. The population of study was an active family planning participants with a sample size of 521. Sampling techniques was done by Probability Proportional to Size (PPS), while respondents were determined with random sampling technique. Data was analyzed using univariate analysis. In this study, contraception was widely obtained by couple of childbearing age with fully paying and health insurance total of 143 (52.2%) with the reason of having KB independence was because of economic factors at 128 respondents (46.7%). In conclusion, Independence KB in Yogyakarta can be represented that mostly KB is provided through paying full as the majority have a health insurance.