Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Variasi Arus Listrik Wire Straighness Terhadap Penyimpangan Ukuran Dan Kekasaran Alur Pemotongan Profil Roda Gigi Baja Karbon Sedang Dari Hasil Wire (EDM) Subardi, Anang; Purkuncoro, Aladin Eko
JURNAL FLYWHEEL Vol 11 No 1 (2020): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v11i1.2512

Abstract

Wire Electrik Discharge Machine (EDM) adalah salah satu mesin pemotongan logam non convensional. Mesin ini biasa digunakan untuk membentuk komponen mesin yang memiliki bentuk komplek dan membutuhkan kepresisian tinggi. Tidak banyak mesin konvensional maupun non konvensional yang mampu memproduksi roda gigi modul kecil. Alur pemotongan terjadi dari hasil erosi percikan listrik oleh kawat elektroda yang bergerak dari gulungan kawat dan membentuk atau memotong benda kerja. Salah satu parameter pemesinan yang menentukan kualitas hasil produk pada wire EDM adalah Arus Listrik (Current). Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyimpangan alur pemotongan profile roda gigi dan kekasaran yang terjadi pada alur pemotongan profil roda gigi lurus dari hasil proses Wire EDM. Pada penelitian skripsi ini parameter yang divariasikan adalah arus listrik. Arus yang digunakan yaitu 6 A, 7 A, 8 A, 9 A 10 A. Hasil dari peneitian ini didapat bahwa pada arus 6 A memiliki nilai penyimpangan rata – rata 0,0228 mm. Pada arus 7 A memiliki nilai penyimpangan rata – rata 0,0255 mm. Pada arus 8 A memiliki nilai penyimpangan rata – rata 0,0275 mm. Pada arus 9 A memiliki nilai penyimpangan rata – rata 0,0313 mm. Dan pada arus 10 A memiliki nilai penyimpangan rata – rata 0,0362 mm. Pada arus 6 A memiliki nilai kekasaran rata – rata . Pada arus 7 A memiliki nilai kekasaran rata – rata . Pada arus 8 A memiliki nilai kekasaran rata – rata . Pada arus 9 A memiliki nilai kekasaran rata – rata . D an pada arus 10 A memiliki nilai kekasaran rata – rata . Hal tersebut diakibatkan karena penggunaan arus listrik yang semakin besar pada tegangan listrik akan menyebabkan percikan bunga api (Sparking) semakin besar pula, hal ini menyebabkan pergerakan aliran electron untuk menumbuk bagian permukaan benda kerja semakin cepat, sehingga terjadi peningkatan temperature yang mengakibatkan pengerosian permukaan benda kerja, hal ini akan merubah hasil pemotongan yang berdampak kepada kepresisian ukuran dan kekasaran dari hasil Wire EDM.
Penggunaan Fraksi Volume Komposit Serat Batang Pisang Kepok (Musa Paradisiaca) Orientasi Sudut Acak Dengan Matrik Polyester Terhadap Sifat Mekanik Purkuncoro, Aladin Eko; Widodo, Basuki; Subardi, Anang
JURNAL FLYWHEEL Vol 9 No 1 (2018): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v9i1.2554

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fraksi volume (10%, 20%, 30%, 40%, 50%) komposit serat batang pisang kepok dengan matrik polyester terhadap kekuatan tarik serta kekuatan impak.Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata – rata kekuatan tarik paling optimal terdapat pada fraksi volume serat 10% dan matrik 90% yaitu 51.863 N/mm2 dan nilai regangan 5.754 N/mm2. Sedangkan untuk kekuatan tarik paling rendah pada fraksi volume serat 20% dan matriks 80% yaitu 36.356 N/mm2 dan nilai regangan 7.796%. Komposit yang memiliki energy dan harga impak rata-rata yang tertinggi adalah fraksi volume 50% matrik 50% memiliki tingkat penyerapan dengan nilai rata–rata energi yang diserap 0.8093 Joule dan Harga Impak rata–rata sebesar 0,0101 Joule/mm2, sedangkan yang terendah adalah fraksi volume 20% matrik 80% dengan nilai energi rata–rata 0.4129 Joule dan Harga Impact rata–rata 0,0052 joule/mm2. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penambahan fraksi volume serat berpengaruh pada kekuatan tarik dan kekuatan impak.
Analisa Pengaruh Variasi Kecepatan Potong (Vc) Dan Gerak Pemakanan (F) Terhadap Rasio Pemampatan Tebal Geram (λh) Tembaga Pada Proses Sekrap (Shaper Machine) Sudjatmiko Sudjatmiko; Aladin Eko Purkuncoro
TRANSMISI Vol 17, No 2 (2021): September 2021
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jtmt.v17i2.6706

Abstract

Rasio pemampatan tebal geram (lh) dapat dipergunakan sebagai salah satu tolok ukur pada proses pemesinan,khususnya pada tembaga yang dapat menghasilkan permukaan benda kerja.Kondisi pemotongan pada material benda kerja tergantung dari  jenis mesin perkakas dan parameter pemesinan kecepatan potong (Vc)  dan gerak pemakanan (f) berpengaruh terhadap nilai rasio pemampatan tebal geram (lh), hal ini ditentukan dari perbandingan tebal geram setelah proses pemotongan (hc) secara empirik dengan tebal geram sebelum pemotongan (h) secara teoritis. Permasalahan bagaimana pengaruh dari kecepatan pemotongan (Vc) dan gerak pemakanan (f) terhadap rasio pemampatan tebal geram pada material tembaga dengan proses sekrap konvensional.Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kecepatan potong (Vc), gerak pemakanan (f)  terhadap rasio pemampatan tebal geram (lh), sehingga akan berpegaruh terhadap koefisien gesek (μ) antara geram dengan pahat potong. Pengambilan data penelitian dilakukan pada kondisi pemotongan dengan variasi kecepatan potong (Vc); gerak pemakanan (f) ; kedalaman potong (a); geometri pahat sekrap (konstan) dengan sudut potong utama (Kro ): 60o ,sudut bebas (αo) = 8o, sudut penampang (βo) = 72o  sudut geram (go) = 10 o.  Hasil yang dicapai dengan naiknya kecepatan makan (vf) dipengaruhi oleh besarnya gerak pemakanan (f), dapat menurunkan koefisien gesek (μ) sebagai akibat naiknya sudut geser (Φ) yang besar (260o)’akan menghasilkan nilai rasio pemampatan tebal geram (lh),(2.12). Proses pemesinan sekrap nilai rasio pemampatan tebal geram (lh), yang berbanding terbalik dengan sudut geser (φ), memberikan indikasi efisiensi proses pemesinan itu sendiri dapat menghasilkan permukaan yang bagus (halus) serta gaya dan daya pemotongan yang relatif kecil. Semakin tinggi kecepatan potong dan tinggi gerak pemakanan akan diperoleh  nilai rasio pemampatan tebal geram semakin kecil.
The Effect of Wire Straighness Electric Current Variation on Size Diversion and Rude of The Cutting Current Profile of Medium Carbon Steel Dental from Wire (EDM) Anang Subardi; Aladin Eko Purkuncoro; Achmad Taufik
JEMMME (Journal of Energy, Mechanical, Material, and Manufacturing Engineering) Vol. 6 No. 3 (2021)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jemmme.v6i3.16403

Abstract

Wire Electric Discharge Machine (EDM) is a non-conventional metal cutting machine. This machine is commonly used to form machine components that have complex shapes and require high precision. Not many conventional and non-conventional machines are capable of producing small module gears. The cutting groove occurs from the erosion of the electric spark by the electrode wire moving from the coil of wire and forming or cutting the workpiece. One of the machining parameters that determine the quality of the product on an EDM wire is Current. So this study aims to determine the deviation of the gear profile cutting groove and the roughness that occurs in the straight gear profile cutting groove from the results of the Wire EDM process. In this thesis research, the varied parameters are electric current. The current used is 6 A, 7 A, 8 A, 9 A 10 A. The results of this research show that the current 6 A has an average deviation value of 0.0228 mm. At current 7 A has an average deviation value of 0.0255 mm. At current 8 A has an average deviation value of 0.0275 mm. At current 9 A has an average deviation value of 0.0313 mm. And at a current of 10 A has an average deviation value of 0.0362 mm. At current 6 A has an average roughness value. At current 7 A has an average roughness value. At current 8 A has an average roughness value. At current 9 A has an average roughness value. And at current 10 A has an average roughness value. This is due to the greater use of an electric current at the electric voltage, which will cause the sparking to get bigger too, this causes the movement of the electron flow to hit the surface of the workpiece faster, resulting in an increase in temperature which results in erosion of the workpiece surface. , this will change the result of the cut which affects the size precision and roughness of the wire EDM.
PENGARUH BENTUK SALURAN PADA PROSES PENGECORAN DENGAN MODEL DARI STYROFOAM TERHADAP SIFAT MEKANIS ALUMINIUM PADUAN Al-Si-Cu aladin eko purkuncoro; Achmad Taufik
Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri) Vol 13, No 2 (2019): Jurnal PASTI
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.993 KB) | DOI: 10.22441/pasti.2019.v13i2.007

Abstract

Proses pengecoran masih banyak menjadi pilihan utama pada proses produksi di industri. Pilihan pada pengecoran ini disebabkan karena proses pengerjaan lain sangat tidak mungkin dilakukan, misalnya pada pembuatan komponen-komponen otomotif, seperti bottom, dudukan shock dll. Metode pengecoran dengan menggunakan polystyrene foam sebagai pola cetakan yang ditimbun dalam pasir cetak merupakan metode pengecoran evaporative. Metode ini akan menghasilkan coran yang sesuai dengan pola cetakan yang dibentuk. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji struktur mikro, kekerasan, dan kekuatan tarik paduan Al-16.4Si-5.59Cu hasil coran yang dilakukan dengan metode evaporative / lost foam casting. Bahan utama penelitian ini adalah paduan Al-16.4Si- 5.59Cu, polystyrene foam sebagai pola cetakan dan pasir cetak. Pengecoran paduan Al- 16.4Si-5.59Cu dilakukan dengan cara proses peleburan pada temperatur tuang 800°C serta menggunakan 5 variabel saluran dengan beberapa perubahan bentuk variasi saluran turun dan masuk serta beberapa penambahan riser. Pengujian hasil coran meliputi pengujian foto struktur mikro, uji kekerasan dan uji tarik (tensile strength).Hasil pengujian kekerasan adalah variasi saluran yang mempunyai saluran penambah lebih banyak dan saluran penuangan tinggi mempunyai nilai kekerasan yang tertinggi dengan 77.83 HRF dan berbanding terbalik dengan nilai kekuatan tarik yang rendah 62.95 M.Pa (tensile strenght) pada Variasi E. Serta variasi saluran C yang mempunyai sistem saluran yang mengakibtkan perlambatan pembekuan dan laju aliran lebih lama mempunyai kekuatan tarik bahan tinggi 98.75M.Pa (tensile strenght) tetapi lunak 69.17 HRF. Beberapa variasi mengalami penurunan kekerasan dan kekuatan tarik oleh cacat porositas seperti saluran langsung pada saluran turun variasi saluran A 73.05 HRF, 66.02 M.Pa. Hasil beberapa variasi saluran B 69.95 HRF, 73.58 M.Pa mendekati nilai variasi saluran C dan variasi saluran D 76.45 HRF, 7.76 M.Pa mendekati nilai saluran Variasi E dengan masing-masing sistem saluran yang berbeda.
PENGARUH PERLAKUAN ALKALI (NaOH) SERAT IJUK (ARENGA PINATA) TERHADAP KEKUATAN TARIK Aladin Eko Purkuncoro
TRANSMISI Vol 13, No 2 (2017): Edisi September 2017
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.593 KB) | DOI: 10.26905/jtmt.v13i2.2006

Abstract

Pohon Aren (Arenga Pinata) tumbuh hampir disetiap daerah pesisir di Indonesia. Jumlahnya yang melimpah dan tidak mengenal musim serta memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan tanaman lain. Serat ijuk yang dihasilkan pohon Aren merupakan salah satu serat alam yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan komposit. Serat ijuk memiliki kekuatan tarik dan bending yang tinggi serta ketersediaannya cukup melimpah. Kondisi serat ijuk diambil dari pangkal pelepah pohon Aren yang sudah teranyam dan diambil seratnya yang banyak kotoran serta debu, hal ini dapat mempengaruhi sifat mekanis serat dan belum dapat digunakan sebagai serat pada pembuatan komposit serat. Dalam penelitian ini bertujan untuk meningkatkan sifat mekanik dari serat ijuk sebagai penguat komposit dengan melakukan perlakuan permukaan serat dengan perendaman menggunakan larutan NaOH, serat larutan NaOH Arenga Pinata diberikan oleh variasi 0%, 2%, 5%, dan 10%. Hasil larutan NaOH 5% untuk meningkatkan pengaruh dari uji tarik di 138,71 Mpa dan Arenga Pinata permukaan serat terlihat jauh lebih bersih, sehingga siap untuk digunakan dalam pembuatan komposit serat.
ANALISIS PENGARUH VARIASI ELEKTRODA TERHADAP SIFAT MEKANIK PADA HASIL PENGELASAN BESI TUANG KELABU FC-15 Aladin Eko Purkuncoro; Erni Junita
TRANSMISI Vol 11, No 2 (2015): Edisi September 2015
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jtmt.v11i2.4556

Abstract

Pada proses pengelasan plat Besi Tuang Kelabu FC-15, bagian yang dilas menerima panas pengelasan setempat dan selama proses pengelasan, suhu pada bagian yang dilas mengalami perubahan akibat distribusi panas yang tidak merata sehingga terjadi pengembangan thermal dan pada bagian yang dingin mengalami peregangan. Hasil pengujian kekerasan pengelasan besi tuang kelabu FC-15 menggunakan variasi elektroda yaitu E 7016, G 4107 dan E 7018, diperoleh rata-rata dari tiga spesimen yang diuji bahwa penyambungan besi tuang kelabu dengan elektroda E 7018 lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena panas yang dihasilkan pada saat pengelasan merubah struktur besi tuang kelabu ini, yaitu kandungan silicon yang rendah dan laju pendinginan yang sangat cepat tidak akan muncul grafit pada struktur dan sebagai gantinya akan terbentu sementit, maka dari itu spesimen ini bersifat keras dan sangat getas. Sedangkan pada pengujian tarik menunjukkan spesimen yang menggunakan elektroda G 4107 membutuhkan tegangan yang tinggi untuk kekuatan tariknya yaitu 11.78 kgf/mm2 karena pada saat pengelasan terjadi panas dan mengakibatkan sebagian karbonnya akan menjadi grafit, sehingga menghasilkan sifat yang lebih kuat dan ulet. Pada pengujian struktur mikro terdapat perbedaan grafit, pearlit dan ferit antara spesimen yang menggunakan elektroda las E 7106, G 4107 dan E 4108 baik dari daerah Las, HAZ dan logam induknya.
ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN NaOH 5% PADA SERAT PELEPAH PISANG DENGAN FRAKSI VOLUME 40%, 50% DAN 60% TERHADAP KEKUATAN MEKANIS Aladin Eko Purkuncoro
AL-JAZARI JOURNAL SCIENTIFIC OF MECHANICAL ENGINEERING Volume 3, Nomor 2, Nopember 2018
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.784 KB) | DOI: 10.31602/al-jazari.v3i2.1616

Abstract

Pemanfaatan material komposit pada saat ini semakin berkembang, seiring dengan meningkatnya penggunaan bahan tersebut. Pemanfaatan material  komposit tersebut juga meluas mulai dari yang sederhana seperti alat-alat rumah tangga sampai sektor industri. Serat pelepah pisang yang dikombinasikan dengan polypropylene sebagai matriks akan dapat menghasilkan komposit alternatif.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan NaOH serat pelepah pisang terhadap sifat kekuatan bending dan kekuatan impak komposit serat pelepah pisang. Komposit serat pelepah pisang dibuat dengan model anyaman acak (random) menggunakan metode hand lay up dengan variasi fraksi volume serat (40%, 50%, 60%). Dari hasil penelitian diperoleh komposit tanpa perlakuan NaOH yang memiliki kekuatan bending tertinggi pada fraksi volume serat 60% dan matriks 40% sebesar 87,9243 kgf sedangkan kekuatan bending yang terendah pada fraksi volum serat 40% dan matrik 60% sebesar 61,27173333 kgf. Pada komposit dengan perlakuan NaOH memiliki kekuatan bending tertinggi pada fraksi volum serat 60% dan matrik 40% sebesar 118,4081333 kgf sedangkan yang terendah pada fraksi volum serat 40% dan matrik 60% sebesar 68,17976667 kgf. Komposit tanpa perlakuan NaOH yang memiliki energi dan harga impak rata- rata tertinggi adalah fraksi volum serat 60% dan matrik 40% yang memiliki energi rata-rata sebesar 1,2702 joule dan harga impak 0,01268 J/mm² sedangkan yang terendah pada fraksi volum serat 40% dan matrik 60% dengan energi rata-rata sebesar 0,5835 joule dan harga impak 0,00581 J/mm². Pada komposit dengan perlakuan NaOH memiliki energi dan harga impak tertinggi pada fraksi volum serat 60% dan matrik 40% yang memiliki energi sebesar 1,7998 joule dan harga impak 0,01798 J/mm² sedangkan yang terendah pada fraksi volum serat 40% dan matrik 60% memiliki energi sebesar 0,5835 joule dan harga impak sebesar 0,00581 J/mm². Hal ini dapat disimpulkan, bahwa serat dengan perlakuan NaOH akan meningkatkan kekuatan mekanisnnya, karena serat semakin ulet dan kaku. Karena bertambahnya diameter pada serat pelepah pisang setelah perendaman NaOH dibandingkan serat tanpa perlakuan NaOH.Kata Kunci           : Serat pelepah pisang, resin polypropylene, kekuatan bending dan kekuatan impak
ANALISIS PENGARUH VARIASI ARUS LISTRIK 90 A, 10 A,130 A TERHADAP SIFATMEKANIS DAN STRUKTURMIKROHASIL PENGELASAN GASMETAL ARCWELDING (GMAW) PADA BAJA KARBON JISS50C Aladin Eko Purkuncoro
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 9 No 1 (2019): Inovatif Vol. 9 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/industri.v9i1.372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus pengelasan terhadap kekuatan tarik, kekerasan,dan struktur mikro las GMAW dengan elektroda AWS 18ER70S- 6 dengan Ø 0.8 mm. Penelitian ini menggunakanbahan baja karbon JIS S50C. Bahan diberi perlakuan pengelasan dengan variasi arus 90 A, 110 A, 130 A denganmenggunaka las GMAW. Jenis kampuh yang digunakan adalah kampuh V dengan sudut 70°. Spesimen dilakukanpengujian Tarik, kekerasan dan foto mikro. Dari pengelasan tersebut didapat beban maksimum yang dibutuhkanuntuk memutuskan dari masing-masing jenis Variasi arus pada pengelasan GMAW, bahwa specimen yang palingbesar menerima beban yaitu pada Arus 130 A sebesar 74773,3 Newton sedangkan yang paling rendah menerimabeban adalah pada Arus 90 A yaitu 71003 Newton. Kekuatan luluh terjadi pada variasi arus 130 A yaitu 337,36Mpa, urutan kedua yaitu pada Arus 110 A dengan nilai 279 Mpa, sedangkan yang paling rendah yield strengthnyaadalah pada Arus 90 A yaitu 299,65 Mpa. Tingkat kekerasan tertinggi terjadi pada daerah HAZ sebesar 254,1 HVdari variasi 130 A, hal ini terlihat pada struktur mikronya yang mengalami perubahan bentuk butir lebih lembutdari arus pengelasan yang lainya.
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL CACAT CORAN PADA BAHAN BESI COR DAN ALUMINIUM DENGAN VARIASI TEMPERATUR TUANG SISTEM CETAKAN PASIR Aladin Eko Purkuncoro; Achmad Taufik
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses pembuatan spesimen uji ini, bahan yang digunakan adalah aluminium dan besi cor dengan metode pengecoran. Cetakan yang digunakan adalah cetakan pasir basah untuk aluminium dan cetakan coran untuk besi cor. Proses peleburan untuk aluminium digunakan dapur crusible dan untuk peleburan besi cor digunakan dapur kupola. Temperatur penuangan untuk aluminium 700°C, 800°C, 900°C dan Temperature penuangan untuk besi cor 1200°C, 1300°C, 1400°C. Langkah selanjutnya adalah finishing yaitu dengan merapian hasil coran menggunakan mesin gerinda. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan merusak spesimen dengan membelah dan memotong spesimen uji hasil pengecoran aluminium dan besi cor. Pengujian yang dilakukan pengujian kekerasan Rockwell, struktur makro. Nilai kekerasan pada temperatur penuangan untuk aluminium 700°C = 72 Hrb , 800°C = 59,65 Hrb, 900°C= 43,1 Hrb dan Temperature penuangan untuk besi cor 1200°C =72,45 Hrb, 1300°C= 60,95 Hrb, 1400°C= 55,3 Hrb. Hasil dari pengujian dapat disimpulkan yaitu perbedaan bentuk dan ukuran butir – butir pasir cetak dapat mempengaruhi ruangan porus untuk mengeluarkan gas yang ada dalam logam cair maupun cetakan pada waktu proses penuangan agar gas tidak terperangkap di dalam hasil coran yang menyebabkan cacat coran. Perbedaan temperature penuangan pada proses pengecoran aluminium dan besi coran mempengaruhi laju pembekuan yang menyebabkan meningkatnya cacat coran yang terjadi. Semakin meningkatnya temperature penuangan akan menghasilkan bentuk struktur dan sifat mekanis yang berbeda. Sebab semakin tinggi temperature penuangan menyebabkan terjebaknya gas hydrogen semakin banyak sehingga nilai kekerasan mengalami penurunan.