Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

JUMLAH SEL LEYDIG DAN SEL SERTOLI TIKUS GALUR SPARAGUE-DAWLEY TERPAPAR SOPI PASCA DITERAPI EKSTRAK ETANOL SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) Unitly, Adrien Jems Akiles; Killay, Amos; Moniharapon, Mechiavel; Eddy, La; Silahooy, Veince B; Huwae, Laury Marcia Ch; Moniharapon, Debby Dijola; Lakesubun, Bella Frida
Biofaal Journal Vol 5 No 1 (2024): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v5i1pp010-018

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah sel Leydig dan sel Sertoli tikus terpapar sopi pasca diterapi ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida. L). Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini, dengan membagi 15 ekor tikus ke dalam 5 kelompok perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, yaitu kelompok 5.4 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari selama 14 hari (kontrol negatif), kelompok Vit. C 6.3 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari kemudian diberi Vitamin C 6.3 mg/ekor/hari selama 14 hari (kontrol positif), kelompok 0.71, 1.43 dan 2.86 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4ml/ekor/hari selama 14 hari kemudian kemudian masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol sirih cina 0.71g/ekor/hari selama 14 hari, 1.43g/ekor/hari selama 14 hari dan 2.86g/ekor/hari selama 14 hari. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi dan Mikroteknik Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura Ambon mencakup persiapan hewan model, pemberian minuman sopi, ekstraksi sirih cina, pembuatan preparat histologis dan pengamatan. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji duncan pada taraf nyata a = 0.05 menggunakan perangkat lunak SAS dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil untuk mengetahui perbedaan perlakuan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sopi 5.4 ml dapat menyebabkan penurunan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli dan setelah diberi ekstrak etanol sirih cina, jumlah sel Leydig dan sel Sertoli mengalami peningkatan, dimana dosis ekstrak etanol sirih cina yang baik untuk sel Leydig adalah 2.86g dan untuk sel Sertoli adalah dosis 1.43g.
Efek Antikolesterol Sirup Sirih Cina Pada Tikus Rattus norvegicus Model Hiperkolesterolemia Tjodi, Angel; Killay, Amos; Unitly, Adrien Jems Akiles
Kalwedo Sains (KASA) Vol 2 No 2 (2021): Kalwedo Sains (KASA), September 2021
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav2i2p61-67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek terapi sirup sirih cina, dan dosis mana yang lebih efektif dalam menurunkan kadar kolesterol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan Uji Duncan pada taraf nyata α = 0,05 menggunakan perangkat lunak SAS. Sampel berjumlah 15 ekor tikus, yang dibagi menjadi 5 kelompok.Kelompok tikus K (-), K (+), P1, P2, dibuat hiperkolesterolemia dengan diberi lemak babi 3gr/ekor/hari.Tikus K (+) diberikan simvastatin sebagai pembanding. Kelompok P1, dan P2 diberikan sirup sirih cina dengan dosis berturut-turut 1,8, 3,6, ml/ekor/ hari. Tikus diaklimatisasikan selama 7 hari kemudian diberi perlakuan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kadar kolesterol akibat dari pemberian sirup sirih cina, dimana dosis yang efektif yaitu 3,6 ml/ekor/hari sehingga dapat disimpulkan bahwa sirup sirih cina memiliki potensi dalam menurunkan kadar kolesterol pada tikus Rattus norvegicus hiperkolesterolemia yang mana hasil ini sama dengan yang ditunjukan obat simvastatin.
Efek Antihiperurisemia Sirup Sirih Cina Pada Tikus Rattus norvegicus Model Asam Urat Hulkiawar, Welhel Y.; Killay, Amos; Unitly, Adrien Jems Akiles
Kalwedo Sains (KASA) Vol 3 No 1 (2022): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2022
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav3i1p20-26

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihiperurisemia sirup sirih cina. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan Uji Duncan pada taraf nyata α=0,05 menggunakan perangkat lunak SAS. Sampel berjumlah 15 ekor tikus,yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok tikus K (-), K (+), P1, P2, dibuat asam urat dnegan injeksi kalium bromat 29 mg/kg BB. Tikus K (+) diberikan allopurinol sebagai pembanding. Kelompok P1 dan P2 diberikan sirup sirih cina dengan dosis berturut-turut 1.8, dan 3.6 ml/ekor/hari. Tikus diaklimatisasikan selama7 hari kemudian diberi perlakuan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kadar asam urat dalam darah akibat dari pemberian sirup sirih cina dimana dosis yang efektif yaitu 1.8 ml/ekor/hari sehingga dapat disimpulkan bahwa sirup sirih cina memiliki potensi dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah tikus Rattus norvegicus.
Peningkatan Jumlah Anak Tikus Dari Induk Yang Terpapar Asap Rokok Pasca Diterapi Ekstrak Etanol Sirih Cina (Peperomia pellucida L.) Tetelepta, Nelma; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La; Killay, Amos; Silahooy, Veince B.
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 1 (2023): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i1p36-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) terhadap peningkatan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok. 15 ekor tikus yang digunakan dalam penelitian ini dengan 5 (lima) kelompok perlakuan dan 3 (tiga) kali ulangan. Tikus kelompok kontrol negatif dikawinkan pada awal penelitian dan dipaparkan asap rokok selama 14 hari, tikus kelompok kontrol positif dikawinkan kemudian diberi paparan asap rokok selama 14 hari dan dilanjutkan dengan pemberian vitamin C dengan dosis 3.2 gram selama 14 hari, sedangkan tikus kelompok dosis ekstrak etanol sirih cina dikawinkan, kemudian setelah bunting diberi paparan asap rokok selama 14 hari. Pengamatan embrio dilakukan pada saat masa kebuntingan ke 15 hari kemudian dibedah. Sedangkan pengamatan jumlah anak dilakukan pada saat anak tikus dilahirkan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam Analysis Of Variance (ANOVA), selanjutnya dilakukan uji duncan dengan selang kepercayaan 95 % (α = 0,05) dengan menggunakan perangkat lunak SAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol Sirih cina (Peperomia pellucida L.) dengan dosis 0.72 gram/ekor/hari mampu menjaga keberhasilan implantasi embrio kedinding uterus sehingga rata-rata jumlah anak tikus meningkat. Disimpulkan bahwa Pemberian ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) dapat meningkatkan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok, dimana dosis yang baik yaitu 0.72g/ekor/hari.
Efek Antioksidan Sirup Cengkeh Dalam Mencegah Kerusakan Paru-Paru Tikus Terpapar Asap Rokok Unitly, Adrien Jems Akiles; Killay, Amos; Nindatu, Maria; Silahooy, Veince Benjamin; Watuguly, Theopilus Wilhelmus; Lesirolo, Medlin
Kalwedo Sains (KASA) Vol 5 No 1 (2024): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2024
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav5i1p15-23

Abstract

Sirup cengkeh mengandung senyawa fitokimia flavonoid, alkaloid, terpenoid, fenol, saponin, tannin dan vitamin C. Kandungan fitokimia ini diyakini dapat berperan sebagai antioksidan eksogen yang mampu mencegah dan menetralisir radikal bebas akibat asap rokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek antioksidan sirup cengkeh dalam mencegah kerusakan paru-paru tikus terpapar asap rokok. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah perbedaan dosis sirup cengkeh yang diberikan pada tikus model, terdiri dari: K(-) yaitu kelompok tikus yang terpapar asap rokok 10 batang/ekor/hari selama 14 hari, K(+) yaitu kelompok tikus yang diberi vitamin C 3,21 mg kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari, P1 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 1,28 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari, P2 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 2,56 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari dan P3 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 3,84 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari. Setelah perlakuan tikus dibedah untuk dilakukan histologi organ paru-paru. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode desktiptif kualitatif dengan mengamati histopatologi pada fotomikrograf paru-paru tikus dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukan bahwa Efek antioksidan sirup cengkeh dalam mencegah kerusakan paru-paru tikus terpapar asap rokok yang terbaik pada dosis 3.84 ml.
Potensial Antimalaria dan Antioxidan Ekstrak Metanol Daun kayu titi (Alstonia sp) Nindatu, Maria; Kaihena, Matha; Hieriej, Adriana; Killay, Amos; Jotlely, Hery
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 10 (2023): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i10.4865

Abstract

Alstonia sp leaves extract has previously been reported as a potential antimalarial drug as traditional. This study aims to analyze the antimalarial activity and determine the antioxidant potential of titi tree leaves (Alstonia sp). The method used in this research is a modified method of "4 Days Suppressive Test" which was originally described by Peter with different doses (0.55 g/kg, 0.65 g/kg and 0.75 g/kg body weight) of methanol extract of leaves of Titi tree (Alstonia sp) was administered orally to albino mice. Antioxidants were analyzed using a spectrophotometer. The Leaves of Alstonia sp has antimalarial activity and contains potential antioxidant activity with an IC50 value of 70.12 ppm for leaves (strong category). The dose of 0.75 g has a better effect compared to the other effects because it lowers the level of parasitemia more strongly. So that the leaves of Alstonia sp. pressured to be developed as a nutraceutical.
The Immunomodulatory Activity of Cinnamomum burmanni Bark Extract on Leucocyte Differentiation of Mice (Mus musculus) In Diabetes Mellitus Model Kaihena, Martha; Ukratalo, Abdul Mahid; Killay, Amos; Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari Banun
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 1 (2024): January
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i1.5947

Abstract

Diabetes mellitus frequently coexists with infection, leading to an immunological response characterised by an elevation in leukocyte levels. This research aimed to assess the immunomodulatory activity of an extract derived from the bark of Cinnamomum burmanni on the differentiation of leukocytes in a diabetes mellitus model using mice (Mus musculus). Prior to the administration of therapy, the glucose levels of all mice were assessed. Subsequently, groups K (+), P1, P2, and P3 were administered STZ at 0.2 ml per individual. The blood glucose levels (post-STZ blood glucose) were checked once more on the seventh day. In the event of a rise in blood glucose levels over (>200 mg/dL), subjects belonging to groups P1, P2, and P3 were administered Cinnamomum burmanii extract under the prescribed dosage. The intervention was administered for 14 days, and blood glucose levels were assessed on the final day of experimentation. On the final day of the experiment, blood samples were collected from the mice's tails in order to prepare blood preparations. The findings indicate that the methanol extract derived from cinnamon bark possesses immunomodulatory properties, as evidenced by its ability to decrease the population of eosinophils, lymphocytes, and monocytes while concurrently increasing the amount of neutrophils.
Uji Efek Toksik Ekstrak Akar Putri Malu (Mimosa pudica L.) terhadap Diameter dan Kerusakan Pulau Langerhans Pankreas pada Mencit (Mus musculus) La Eddy; Febriyanti Y. Kdise; Amos Killay; Abdul M Ukratalo; Pieter Kakisina
Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/quwell.v2i4.2524

Abstract

The root of Mimosa pudica L. contains mimosine, a toxic alkaloid, as well as tannins that exhibit toxic properties, potentially disrupting pancreatic function. Exposure to sufficiently high concentrations of toxic compounds can impair cellular metabolism, leading to irreversible damage. One of the cellular changes induced by cytotoxic compounds is the reduction in the size of pancreatic Langerhans islets. This study aimed to investigate the effects of ethanol extract of Mimosa pudica roots on the diameter of Langerhans islets and β-cell damage in the pancreas of mice. Twelve mice were randomly divided into four groups, each consisting of three animals. Group I served as a control and did not receive the extract, whereas Groups II, III, and IV were administered root extract at doses of 10 mg/g BW, 100 mg/g BW, and 1000 mg/g BW, respectively, for 14 consecutive days. The results demonstrated that administration of ethanol extract of Mimosa pudica roots reduced the diameter of pancreatic Langerhans islets in a dose-dependent manner, with higher doses causing more severe β-cell damage. These findings highlight the need for caution in the use of Mimosa pudica roots as traditional medicine or dietary supplements.