Claim Missing Document
Check
Articles

Repeatability and Phenotypic Correlation Among Semen Quality Traits in Holstein Bulls Argi Argiris; Siswanto Imam Santoso; Yon Supri Ondho; Edy Kurnianto
Buletin Peternakan Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v42i4.36423

Abstract

The purpose of this research was to analysis the value of repeatability and correlation among the traits affecting the production of frozen semen from Holstein’s bull in Indonesia. Repeatability and correlation were calculated based on the data of frozen semen production of 15.699 records from 44 Holstein bulls at Singosari Artificial Insemination Center (SAIC) and 8.935 records from 39 Holstein bulls at Lembang Artificial Insemination Center (LAIC). Repeatability for volume, motility, fresh semen concentration and frozen semen production was evaluated by intraclass correlation method. The repeatability values of LAIC for volume, motility, fresh semen concentration and frozen semen production were 0.60; 0.54; 0.37 and 0.47. The repeatability values of SAIC for volume, motility, fresh semen concentration and frozen semen production were 0.54; 0.30; 0.43 and 0.29. The linear correlation value between volume, motility and fresh semen concentration with the amount of semen produced per collections were 0.41, 0.36, and 0.58. Concentration was the most factors influencing the number of frozen semen produced. The effectiveness of the selection of Holstein's frozen semen producing could be determined by the value of repeatability and the phenotypic correlation among semen quality traits such as volume, motility, concentration and frozen semen production.
Toxicity Effect by Binahong (Anredera cordifolia) Leaf Extract in Histopathology and Liver Weight of Guinea Pigs (Cavia cobaya) Dwi Wijayanti; Edy Kurnianto; Enny Tantini Setiatin
Buletin Peternakan Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v43i2.39487

Abstract

The aim of this research was to determine the toxic effect of Anredera cordifolia leaf extract on the Cavia cobaya liver which was evaluated by the histopathological examination of liver tissue. The materials used were 8 female guinea pigs 2.5 months old that were divided into 4 groups by simple random sampling, each treatment was given to 2 female C. cobaya. Treatments given were 0, 10, 50 and 90 mg of A. cordifolia leaf extract/head, designated as T0, T1, T2 and T3, respectively. Materials were given treatment daily as long as 10 days prepartum. All of the guinea pigs were slaughtered at day 11, and the liver were taken to examined their histopathological changes. Each of the liver tissues were processed by paraffin block-embedded and hematoxylin eosin (HE) staining method. The results of this study indicate the presence of albuminosa degeneration or mild degeneration (DH +) from group control and hydropic degeneration or moderate degeneration (DH ++) in all treatment groups and the weight of C. cobaya liver which was given an extract of A. cordifolia 50 mg/head was not significantly different from the control but was significantly different from 10 and 90 mg/head. The conclusion was Binahong's (A. cordifolia) leaves extract up to the dosage 90 mg/head had no significantly toxicity effect on the liver of guinea pigs (C. cobaya).
Morfometrik tubuh kambing Peranakan Ettawa pada berbagai paritas di balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Terpadu Kabupaten Kendal Dwi Purwanti; Enny T. Setiatin; Edy Kurnianto
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 29, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2019.029.01.03

Abstract

The objective of this study was to determine the relation between morphometric of different parity and litter size in Ettawa Grade goat. The material of this study was 47 heads of Ettawa Grade goat. Purposive sampling was applied to determine sample based on population and breeding policy. The Ettawa Grade used were does from1-4 parities and having litter size records from first kidding. Morphometric characteristics measured were chest depth, chest width, hip width, hip height, heart girth, body length, and withers height. The data obtained were analyzed using General Linear Model (GLM) and Principal Component Analysis (PCA) of Statistycal Analysis System (SAS) Ver 6.12. The results showed that morphometric of Ettawa Grade goat was vary and different in various parity. The PC1 of body length and heart girth were 0.685 and 0.530 respectively, indicating the most discriminant variabel to determine the differences among parity. Body index of Ettawa Grade goat does did not affect the litter size. In conclusion, body length and heart girth can be used as the differentiation parameter among parity. Litter size will increase with increasing parity.
Analysis of Growth Parameters of First Generation Red Comb and Black Comb Kedu Chicken in BPBTNR Satker Ayam Maron Kabupaten Temanggung Siti Zamhariroh; Edy Kurnianto; H. I. Wahyuni
Bulletin of Applied Animal Research Vol 1 No 2 (2019): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v1i2.265

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membandingkan pola pertumbuhan pada generasi ke-satu (G1) ayam kedu jengger merah (AKJM) dan jengger hitam (AKJH)jenis kelamin jantan dan betina selama 60 hari. Materi yang digunakan adalah G1 AKJM jantan 80 ekor, betina 96 ekor dan AKJH jantan 31 ekor, betina 30 ekor. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang bobot ayam setiap 3 hari sekali dari umur 0 sampai 60 hari. Data dianalisis dengan menggunakan model Gompertz pada program komputer Statistical Analysis System v6.12.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil persamaan regresi model Gompertz pada AKJM jantan dan betina masing-masing adalah Y= 1.691,07 exp (-4,19 exp(0,02)t) dan Y= 1.013,04 exp (-3,70 exp(0,02)t), sedangkan pada AKJH jenis kelamin jantan dan betina masing-masing adalah Y= 1.939,27 exp (-4,18 exp(0,01)t) dan Y= 1.273,44 exp (-3,90 exp(0,02)t). Titik infleksi AKJM jantan terjadi pada bobot 622,11 g dan ti=69,23 hari, sedangkan pada betina adalah 372,68 g dan ti=54,57 hari, untuk AKJH jantan adalah 713,42 g dan ti=77,26 hari, sedangkan pada betina adalah 468,47 g dan ti=63,86 hari. Simpulan dari penelitian ini adalah model Gompertz lebih akurat digunakan pada AKJH betina berdasarkan nilai simpangan baku dan AIC yang dihasilkan.Kata Kunci: ayam kedu, jengger merah, jengger hitam, model Gompertz, titik infleksi.
Pengaruh Bentuk Scrotal Bipartition Terhadap Kadar Follicle Stimulating Hormone dan Testosteron Kambing Kejobong Yuni Widiarti; Enny Tantini Setiatin; Edy Kurnianto
Bulletin of Applied Animal Research Vol 1 No 2 (2019): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v1i2.268

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk skrotum terhadap kadar follicle stimulating hormone (FSH) dan testosteron pada kambing Kejobong. Materi yang digunakan adalah kambing Kejobong jantan sebanyak 22 ekor, pita ukur, jangka sorong, spuit, tabung vacutainer no additive, centrifuge, effendorf, kulkas, dan coolbox.  Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah observasional, yaitu mengamati secara langsung bentuk skrotum ternak, mengukur skrotum dan testis, dan mengambil sampel darah. Sampel darah dianalisis untuk mengetahui kadar hormon menggunakan metode ELISA. Parameter yang diukur yaitu bentuk scrotal bipartition, kadar follicle stimulating hormone dan testosteron. Perbedaaan respon dari bentuk skrotum terhadap kadar hormon FSH dan testosteron dianalisis menggunakan uji-t pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk skrotum pada kambing Kejobong, yaitu bentuk A (no bipartition) dan bentuk B (bipartition ≤50%). Kadar FSH kambing Kejobong pada bentuk skrotum A (no bipartition) adalah 6,4787±2,0534 ng/mL dan pada bentuk skrotum B (bipartition ≤50%) adalah 6,0134±2,5628 ng/mL, sementara kadar testosteron bentuk skrotum A adalah 6,1617±5,9590 ng/mL dan pada bentuk skrotum B adalah 5,9512±5,6204 ng/mL. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak ada perbedaan respon kadar FSH maupun testosteron berdasarkan bentuk skrotum.Kata Kunci: kambing Kejobong, bentuk skrotum, kadar follicle stimulating hormone (FSH), dan testosteron.
Pengaruh bentuk scrotal bipartition terhadap kadar follicle stimulating hormone Yuni Widiarti; Enny Tantini Setiatin; Edy Kurnianto
Bulletin of Applied Animal Research Vol 2 No 1 (2020): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v2i1.373

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk skrotum terhadap kadar Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan testosteron pada kambing Kejobong. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kambing Kejobong jantan sebanyak 18 ekor (11 ekor bentuk skrotum A dan 7 ekor bentuk skrotum B), alat yang digunakan adalah pita ukur, jangka sorong, spuit, tabung vacutainer no additive, tabung Effendorf, kulkas, dan cool box. Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah observasional, yaitu mengamati secara langsung bentuk skrotum ternak, mengukur panjang, lebar dan lingkar skrotum, mengukur lebar dan lingkar testis, dan mengambil sampel darah pada vena jugularis. Sampel darah dianalisis untuk diukur kadar hormon menggunakan metode Enzym Immunoassay (EIA), EIA Test Kit dengan Catalog Number : 4S00055 digunakan untuk analisa FSH dan EIA Test Kit dengan Catalog Number : 4S00072 dari General Biologicals Corp (GBC) digunakan untuk analisa testosteron. Parameter yang diukur yaitu bentuk scrotal bipartition, kadar follicle stimulating hormone dan testosteron. Perbedaaan respon dari bentuk skrotum terhadap kadar hormon FSH dan testosteron dianalisis menggunakan uji-t pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua bentuk skrotum pada kambing Kejobong, yaitu bentuk skrotum A (no bipartition) dan bentuk skrotum B (bipartition <50%).  Pada bentuk skrotum A, nilai rata-rata lingkar skrotum bagian kanan adalah 14,1 ± 2,8 cm dan bagian kiri 13,9 ± 2,3 cm. Nilai rata-rata lebar testis bagian kanan adalah 3,5 ± 0,3 cm dan bagian kiri memiliki lebar 3,5 ± 0,4 cm. Pada bentuk skrotum B, nilai rata-rata lingkar skrotum bagian kanan adalah 13,3 ± 1,2 cm dan bagian kiri 13,7 ± 1,9 cm. Nilai rata-rata lebar testis kanan adalah 3,2 ± 0,3 cm dan bagian kiri 3,4 ± 0,2 cm. Nilai kadar FSH pada skrotum A yaitu 1,8113 ± 0,4115 mIU/ml dan kadar pada skrotum B yaitu 1,6490 ± 0,6756 mIU/ml. Kadar testosteron pada skrotum A 0,9841 ± 0,6212 ng/ml dan pada skrotum B yaitu 0,6925 ± 1,5537 ng/ml. Hasil uji-t menunjukkan bahwa bentuk skrotum tidak berpengaruh (P>5%) terhadap kadar FSH maupun testosteron.Simpulan dari hasil penelitian ini adalah bentuk skrotum pada kambing Kejobong tidak mempengaruhi kadar FSH maupun testosteron.Kata kunci: kambing Kejobong, bentuk skrotum, follicle stimulating hormone, testosteron.  
Studi Apoptosis Pada Daging Itik dan Ayam melalui Perubahan pH Julia Ester Lumbantoruan; Bhakti Etza Setiani; Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri; Sutopo Sutopo; Edy Kurnianto
Jurnal Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.857 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2021.20268

Abstract

             Apoptosis merupakan kematian sel yang terjadi saat pengkonversian daging yang berkaitan erat dengan kualitas daging. Salah satu parameter studi apoptosis adalah perubahan pH. Analisis pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pH pada daging itik dan ayam yang disimpan selama 8 jam pada suhu ruang. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai pH pada daging itik secara berturut-turut sebesar 6,70±0,21; 6,66±0,13; 6,64±0,31; 6,51±0,25 dan 6,50±0,19 sedangkan pada daging ayam sebesar 5,66±0,16; 5,59±0,11; 5,56±0,25; 5,52±0,16 dan 5,45±0,16. Penyimpanan daging pada suhu ruang menyebabkan penurunan nilai pH daging itik sebesar 0,20% dan daging ayam sebesar 0,21%.         Apoptosis is a death cell that occurs when meat conversion is closely related to meat quality. One of the parameters of study apoptosis is pH change. pH analysis was performed using pH meter. This study aims to analyze the pH value of duck and chicken meat stored for 8 hours at room temperature. Based on this research it can be seen that the pH value in duck meat in a row is 6.70 ± 0.21; 6.66 ± 0.13; 6.64 ± 0.31; 6.51 ± 0.25 and 6.50 ± 0.19 whereas chicken meat was 5.66 ± 0.16; 5.59 ± 0.11; 5.56 ± 0.25; 5.52 ± 0.16 and 5.45 ± 0.16. Storage of meat at room temperature caused a decrease in the value of pH of duck meat by 0.20% and chicken meat by 0.21%. 
Perbedaan Morfometri Kelinci New Zealand White Pada Jenis Kelamin dan Ketinggian Tempat yang Berbeda Nur Wakhid Salamudin; Edy Kurnianto; Sutopo Sutopo; Asep Setiaji
Bulletin of Applied Animal Research Vol 4 No 2 (2022): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v4i2.956

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman morfomtrik kelinci New Zealand White berdasarkan se dan ketinggian tempat. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor kelinci dengan umur bulan lebih. Penelitian ini dilakukan di lokasi dengan ketinggian yang berbeda yaitu pada dataran rendah di wilayah Pleret Bantul Yogyakarta dengan ketinggian 0-250 meter di atas permukaan laut, pada dataran sedang di kabupaten magelang, Kendal dan Semarang dengan ketinggian 250-750. meter di atas permukaan laut dan pada ketinggian yang terletak di daerah temanggung dengan ketinggian lebih dari 750 meter di atas permukaan laut. Parameter yang digunakan adalah panjang kepala, lebar kepala, panjang telinga, lebar telinga, lingkar dada, dada bagian dalam, lebar dada, panjang tulang femur, panjang ulna-radius, panjang tulang tibia, dan panjang badan. Data dianalisis dengan desain klasifikasi two way dan uji rata-rata Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ukuran tubuh yang signifikan (P<0,05) antara jantan dan betina, yaitu pada lebar kepala, panjang telinga, lebar telinga, radius ulna panjang, dan panjang tulang skapula. Terdapat perbedaan (P<0,05) ukuran tubuh kelinci di dataran rendah, dataran sedang, dan dataran tinggi, tose terdapat pada lebar kepala, lebar telinga, lingkar dada, lebar dada, tampilan radius ulna, tulang skapula panjang, dan lebar pinggul sedangkan pada variabel panjang kepala, panjang tulang femur, panjang tulang tibia, dan panjang badan tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan ukuran tubuh yang signifikan antara jarak pandang dan ketinggian tempat. Kata kunci : New Zealand White, kelinci, keanekaragaman morfometrik
Studi Apoptosis pada Daging Itik dan Ayam melalui Perubahan pH Lumbantoruan, Julia Ester; Setiani, Bhakti Etza; Al-Baarri, Ahmad Ni'matullah; Sutopo, Sutopo; Kurnianto, Edy
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.20452

Abstract

Apoptosis merupakan kematian sel yang terjadi saat pengkonversian daging yang berkaitan erat dengan kualitas daging. Salah satu parameter studi apoptosis adalah perubahan pH. Analisis pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pH pada daging itik dan ayam yang disimpan selama 8 jam pada suhu ruang. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai pH pada daging itik secara berturut-turut sebesar 6,70±0,21; 6,66±0,13; 6,64±0,31; 6,51±0,25 dan 6,50±0,19 sedangkan pada daging ayam sebesar 5,66±0,16; 5,59±0,11; 5,56±0,25; 5,52±0,16 dan 5,45±0,16. Penyimpanan daging pada suhu ruang menyebabkan penurunan nilai pH daging itik sebesar 0,20% dan daging ayam sebesar 0,21%.
Genetic Diversity of Simpo and Limpo Cattle Based on Five Blood-protein Locus Polymorphism Lestari, Dela Ayu; Sutopo, Sutopo; Setiaji, Asep; Kurnianto, Edy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 9, No 3 (2022): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jitro.v9i3.25096

Abstract

Simpo and Limpo cattle is a crossbred cattle of Indonesian local cattle and exotic cattle that popular among traditional farmers in Indonesia. The objective of this study was to identify genetic diversity of Simpo and Limpo cattle based on blood-protein polymorphism. A total of 70 blood samples were collected from unrelated 35 heads of Simpo cattle and 35 heads of Limpo cattle from Grobogan dan Kendal population. The blood plasm was used to identify the blood proteins. Blood protein analysis was performed using Sodium Dodecyl Sulfate-Polyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Observed bands were used to perform allele interpretation of five locus, namely Pre-albumin (Pe-Alb), Albumin (Alb), Post-albumin (Po-Alb), Ceruloplasmin (Cp) and Amylase-1 (Am-1). Results showed there were polymorphism in all of the five blood protein locus in both cattle; 4 of 5 and 2 of 5 of the blood-protein locus studied showed deviation from Hardy-Weimberg Equilibrium (HWE) for Simpo and Limpo cattle, respectively and the average heterozygosity value (H) was 0.478 and 0.362 for Simpo and Limpo cattle, respectively. In conclusion, the study indicated that population of Simpo and Limpo cattle has high genetic diversity. Keywords: allele frequency; genotype frequency; heterozygosity