Claim Missing Document
Check
Articles

Dukungan Keluarga pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Menjalankan Self-Management Diabetes Sisca Damayanti; Nursiswati N; Titis Kurniawan
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.084 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v2i1.81

Abstract

Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DMT2) memerlukan pengontrolan untuk meminimalisir komplikasi melalui penerapan self-managementyang baik. Efektifitas penerapan self-managementdipengaruhi banyak faktor salah satunya dukungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling dekat dengan pasien DM sehingga diharapkan dapat membantu, mengontrol dan membentuk perilaku pasien DM termasuk dalam hal ini perilaku self-management. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang ini bertujuan untuk menggali dukungan keluarga dalam konteks pasien DM di Indonesia. Sebanyak 78 responden dilibatkan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode concecutive sampling. Dukungan keluarga diukur menggunakan instrumen yang di modifikasi dari The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) dengan skor Alpha Cronbach 0,973 dan korelasi inter-item0.386-0.859. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan dukungan keluarga dikategorikan menjadi favorable(bila skor total individu > nilai mean kelompok 69,62). Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responden (55,1%) melaporkan dukungan keluarga favorable. Dari analisis domain dukungan keluarga, dimensi dukungan lingkungan sosial secara umum menunjukkan persentase terendah (48,71%) dibandingkan domain dukungan keluarga yang lainnya. Dengan demikian menjadi penting bagi perawat untuk meningkatkan keterlibatan keluarga dalam perawatan DMT2 serta meningkatkan aspek dukungan lingkungan sosial. Kata kunci: Diabetes melitus, dukungan keluarga, perilaku self-managementAbstractType 2 diabetes mellitus (T2DM) must be controlled to reduce complications through good self-management behaviour (SMB). The effectiveness of SMB is influenced some factors, one of them is family support. family is the closest social enviroment for patients of DM, thus it is hoped to help, control, and create patient of DM behaviour includes self management behaviour. This study was descrition quantitative with cross sectional approach purposed to determine the level of patients’ perceived of family support in Indonesia. Seventy-eight respondents were included for this study by using concecutive sampling methode. The questionnaire for family support was modified from The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) with Chronbach Alpha 0,973 and inter-itemcorrelation 0,386-0,859. The data collected were analyzed using descriptive analysis, where family support categorized into favorable (if individual score > the respondents mean score = 69.62) and oppositely. The results showed that more than half of respondents (55,1%) reported favorable family support. Regarding family support domains, social network support noted as the lowest percentage (48.71%). Therefore, it is important for nurses and other healthcare professional to improve family involvement in diabetes care especially improving network support aspect.Key words:Diabetes mellitus, family support, self-management behaviour
Perilaku Pencegahan Penularan dan Faktor-Faktor yang Melatarbelakanginya pada Pasien Tuberculosis Multidrugs Resistance (TB MDR) Iis Nurhayati; Titis Kurniawan; Wiwi Mardiah
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 3 No. 3 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.151 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v3i3.118

Abstract

Tuberculosis Multidrugs Resistance (TB-MDR) merupakan masalah serius di Indonesia. Selain memiliki risiko penularan yang tinggi, TB-MDR mempunyai banyak hambatan dalam pengobatan, baik lama pengobatan, jumlah obat yang banyak, dan efek samping yang buruk. DHal ini menjadi penting mengidentifikasi perilaku pencegahan penularan pada pasien TB-MDR beserta faktor yang melatarbelakanginya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku penderita TB-MDR dalam mencegah penularan beserta faktor yang melatarbelakanginya. Penelitian deskriptif korelasional ini melibatkan seluruh pasien TB-MDR yang sedang menjalani pengobatan fase intensif hingga November 2014 di Rumah Sakit Hasan Sadikin sebanyak 61 orang. Data karakteristik responden, perilaku dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan dihubungkan satu sama lain (independent t-test, one way annova, dan Pearson Correlational test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden berpendidikan SMA (54,1%), berjenis kelamin laki-laki (60,6%), tipe MDR gagal pengobatan kategori 1 & 2 (60,7%), berusia < 44 tahun (68,9%), sebagian besar menikah (75,4%) dan berpenghasilan di bawah UMR (81,9%), serta mengeluhkan efek samping berupa mual (90,1%). Lebih dari setengah responden (57,4%) melaporkan perilaku pencegahan penularan yang baik. Perilaku pencegahan penularan ditemukan berhubungan secara bermakna dengan jenis kelamin (p = 0,01), perceived benefit (p = 0,02), cues to action (p = 0,00), dan self efficacy (p = 0,006). Akan tetapi, tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara perilaku pencegahan dengan data demografi (usia, satatus pernikahan, tingkat pendidikan, dan penghasilan) maupun tipe MDR (p>0,05). Hal ini menjadi penting bagi tenaga kesehatan untuk memperkuat faktor tersebut sebagai upaya meningkatkan perilaku pencegahan transmisi/penularan TB.Kata kunci: Faktor, pencegahan penularan, TB-MDR. Prevention Behaviors and Its’ Contributing Factors among Patients with Multi-drugs Resistance Tuberculosis (MDR-TB)AbstractMulti-drugs Resistance Tuberculosis (MDR-TB) is a serious health problem in Indonesia. Beside the risk of transmission, the treatment of MDR-TB encounters some obstacles namely lengthy medication, multiple drugs and adverse side effects. Therefore, it is important to identify patients’ prevention behaviors and its contributing factors. This study was aimed to identify MDR-TB patients’ prevention behaviors and its’ contributing factors. This descriptive correlational study involved all (61 patients) of MDR-TB patients who received intensive medication until November 2014 in Dr. Hasan Sadikin Hospital. Demographic and health characteristics data, as well as behaviors and its related factors were collected using questionnaires. Data were analyzed using descriptive analyses and correlational test (independent t-test, one way ANOVA, and Pearson correlation test). The results showed that more than half of respondents were male (60.6%), MDR with failed medication type 1 & 2 (60.7%), age less than 44 years old (68.9%), mostly married (75.4%), had income less than minimum standard (81.9%), and experienced nausea as the medication’s side effect (90.1%). Additionally, more than half of respondents (57.4%) reported good prevention behaviors. These behaviors significantly related to female gender (p = 0.01), perceived benefit (p = 0.02), cues to action (p = 0.000), and self-efficacy (p = 0.006). However, there was not any significant relationship between the prevention behaviors and demographic data (age, educational level, marital status, and income) or between the behaviors and patients’ medication categories (p > 0.05). Generally, MDR-TB patients in this study performed good preventive behaviors and it was related to their perceived benefit, cues to action, and self-efficacy. Therefore, it is important for healthcare professional to empower these identified factors in order to minimize the MDR-TB transmission.Key words: Factors, MDR-TB, prevention behaviors.
Effect of Wound Care Using Robusta Coffee Powders on Diabetic Ulcer Healing Yeni Yeni Yulianti; Kusman Ibrahim; Titis Kurniawan
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 1 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.564 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i1.412

Abstract

Diabetic Gangrene Ulcers are chronic wounds with proinflammatory wound environment caused by elevated levels of  TNF-α, which tends to occur in delay in wound healing, and infection susceptibility. This research aims to determine the effect of wound care using Robusta coffee powder as an adjuvant  to the healing of diabetic ulcers gangrene.32 patients were included in this Quasi-experiment with Pretest-Posttest Control Group Design approach and the sampling was done by consecutive sampling method at random. The object was divided into 2 groups, namely the intervention group and the control group performed on patients undergoing treatment in the surgical and inpatient wards, Regional public hospital, Sekarwangi. The intervention group received wound treatment with Robusta coffee powder while the control group received conventional wound treatment for 2 weeks, during which also has been done assessment of wound scores with wound assessment Bates Jensen at the time of pretest and posttest.            Characteristics of respondents between the intervention group and the homogeneous control did not differ significantly. The difference of mean score of pretest and posttest score in two groups with t test showed there was significant difference with p value <0,05, whereas for difference of mean score between group of intervention and control with independent t test showed there is difference significantly.            There is influence of wound care using Robusta coffee powder as adjuvant to healing diabetic ulcers gangrene in Regional public hospital, Sekarwangi, Sukabumi. Therefore, it is important for the hospital to consider wound care using Robusta coffee powder on diabetic ulcer gangrene wounds as it can accelerate wound healing.  Keywords: Robusta cofee, Wound healing, Diabetic ulcers, Wound assessment Bates Jensen
Pengaruh Brain Gym Terhadap Fungsi Kognitif Pasien Pasca Stroke Iskemik Di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Hasan Sadikin Bandung Kristian Labertus; Ati Surya Mediawati; Titis Kurniawan
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v2i1.56

Abstract

Latar Belakang : Jumlah penderita stroke iskemik di dunia dan Indonesia menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Salah satu dampak yang muncul pasca stroke adalah gangguan motorik, sensorik, dan kognitif. Gangguan kognitif dapat mengganggu aktivitas harian dan menurunkan kualitas hidup, sehingga diperlukan latihan brain gym sebagai stimulus untuk memperbaiki gangguan tersebut. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh latihan brain gym terhadap fungsi kognitif pada pasien pasca stroke iskemik yang mengalami gangguan kognitif. Metode : Penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan desain time series ini melibatkan 42 responden yang direkrut dari pasien RSUP Dr.Hasan sadikin Bandung menggunakan consecutive sampling. Responden terbagi menjadi dua kelompok menggunakan random allocation (masing-masing 21 orang). Kelompok kontrol mendapatkan farmakoterapi dan fisioterapi, sedangkan kelompok intervensi mendapatkan tambahan latihan brain gym 3 kali seminggu selama 4 minggu. Evaluasi fungsi kognitif dilakukan pada awal minggu pertama dan setiap akhir minggu menggunakan Montreal Cognitive Assesment (MoCA). Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial (p value < 0,05). Hasil : Kelompok intervensi menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan dan konstan selama penelitian di domain eksekutif, orientasi, delayed recall, atensi, penamaan, abstraksi, dan bahasa. Hal ini dibuktikan dengan uji repeated ANOVA dan Post-Hoc yang menunjukkan nilai kurang dari 0,05. Uji homogenitas karakteristik responden dan uji beda pretest menunjukkan hasil tidak berbeda secara signifikan (p>0,05). Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh latihan brain gym dalam memperbaiki domain eksekutif, orientasi, delayed recall, atensi, penamaan, abstraksi, dan bahasa pasien pasca stroke iskemik di RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Dengan demikian menjadi penting bagi pihak rumah sakit mempertimbangkan latihan brain gym sebagai bagian terapi dalam mengelola kerusakan fungsi kognitif pasien pasca stroke sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien.
Perception of Prolanis Participants About Chronic Disease Management Program Activities (PROLANIS) in the Primary Health Service Universitas Padjadjaran Risman Ariana; Citra Windani Mambang Sari; Titis Kurniawan
NurseLine Journal Vol 4 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/nlj.v4i2.12687

Abstract

Prolanis is a program that the purpose is to handle health problems in Indonesia. However, the participation of prolanis participants in the activities and the presents itself are still low in every month. The purpose of this study was to identify the participants about project activities in UPT Layanan Kesehatan Unpad encompasses perception, seriousness, benefits, obstacles to action and confidence. This quantitative descriptive study was conducted on 81 respondents by means of total sampling. The research data was taken using questionnaire which consisted of 46 statements developed from literature related to prolanis and previously had tested the validity with value range 0,453-0,760 and reliability with result 0,729, then data analyzed descriptively. The results showed that most prolanis participants (54.3%) had good activities with pro-public activities. In addition, there were mostly participants and no response to the disease if there were no prolanis program (50.6%), impact of prolanis (54.3%), current sensitivity of prolanis (53.1%) and belief to follow prolanis (54.3%). While almost all participants (81.5%) had information and instructions to follow prolanis. This action demonstrates good activities but there are still significant obstacles in the framework of existing projects to support existing services for UPT Layanan Kesehatan Unpad with roles to increase participation of prolanis participants.
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN DALAM PENERAPAN SELF-CARE MANAGEMENT DIABETEST MELITUS DI DESA CILELES KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan; Sri Hartati Pratiwi
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i1.2558

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah yang serius dan mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan diikuti peningkatan komplikasi, baik akut maupun kronis. Sehingga diperlukan pengendalian yang baik guna mencegah komplikasi akut dan mengurangi risiko komplikasi dalam jangka panjang. Salah satu upaya pengendalian yang dilakukan adalah self-care management yang bertujuan untuk mencapai pengontrolan gula darah secara optimal serta mencegah terjadinya komplikasi sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mencapai kerberhasilan dalam pengendalian penyakit diabetes mellitus ini, diperlukan keterlibatan dari berbagai unsur masyarakat salah satunya kader kesehatan. Kader kesehatan dapat berperan serta dalam mendampingi dan men-support pasien dengan diabetes mellitus dan keluarga dalam self-care management diabetes mellitus. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan mengenai self-care management diabetes melitus dan meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam melakukan skrining risiko diabetes melitus pada masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupa pelatihan mengenai self-care management diabetes melitus dan risiko diabetes melitus. Metode yang digunakan adalah ceramah, simulasi, dan diskusi dengan menggunakan media berupa modul pelatihan. Setelah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, terdapat peningkatan pengetahuan kader kesehatan setelah dilakukan kegiatan pelatihan dan sebagian besar kader kesehatan mampu mengisi formulir pengkajian risiko diabetes melitus dengan benar. Dengan demikian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan mengenai self-management dan skrining risiko diabetes melitus. Sehingga diharapkan kegiatan pelatihan ini perlu dilanjutkan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader kesehatan mengenai self-care diabetes melitus serta perlu adanya monitoring yang dilakukan oleh perawat/tim kesehatan mengenai self-care management diabetes melitus. 
Risiko Penyakit Jantung Pada Keluarga Penderita Di Poli Jantung RSUD Dokter Slamet Garut Tahun 2017 Siti Rosita; Titis Kurniawan; Sandra Pebrianti
JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA Vol 5 No 1 (2019): jurnal kesehatan bhakti husada
Publisher : UP3M AKPER-AKBID BHAKTI HUSADA CIKARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.895 KB) | DOI: 10.37848/jurnal.v5i1.22

Abstract

Coronary Cardiovascular Disease is still one of the major health problems in the world. Prevention can be done with the introduction of risk factors and early detection. Screening is an effective way to identify risk factors for cardiovascular disease in the first stage, furthermore, the offspring's' (siblings) sufferers of cardiovascular disease is one of the risk factors that need to be noticed. This study is aimed to identify the risk level of cardiovascular disease on the patients’ family undergoing outpatient in polyclinic cardiology dr. SlametGarut Hospital. This quantitative descriptive study involves the family (siblings / descendants) of coronary cardiovascular disease patients, with a sample of 89 people, the sampling technique used is accidental sampling. The instrument in this study utilized Cardiovascular Jakarta Score consists of 7 questions divided into ≥5 high, 2-4 medium, and -7 to 1 light. Data were analyzed by frequency distribution and final result. The result showed that almost half of respondents (43.8%) are in medium risk state and few of respondents (29.2%) are in high risk state. This indicated that the proportion of respondents with higher risk is more found in male respondents, aged 60-64 years, has active smoking habit, IMT 26.00-29.99, has no history of DM, TD category of hypertension level 1 and has the habit of less activity. It can be concluded that most families are at risk for coronary cardiovascular disease ≥10% within the next 10 years. Thus it becomes important that families maintain a healthy lifestyle and it is suggested that the hospital develop the program as an effort to raise awareness related to the risk of coronary cardiovascular disease and the importance of prevention efforts towards people who have families with cardiovascular disease.
Gambaran Self Efficacy Pada Keluarga Penderita Diabetes Melitus Dalam Menjalankan Upaya Pencegahan Diabetes Melitus Nugraha Firdaus; Titis Kurniawan; sandra pebrianti
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol 1, No 2 (2020): Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKPI)
Publisher : Universitas Mitra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Family with diabetes mellitus is a group that has the biggest risk to get diabetes mellitus. Nonetheless, a few families are found to do a prevention effort towards this issue. Self-efficacy is one of the factors that determines one’s behavior. This research purpose is to identify family with diabetes mellitus self-efficacy on carrying diabetes mellitus prevention effort.This research used quantitative descriptive with cross sectional method, involving 138 families with diabetes mellitus (siblings or descendant) who live on Tarogong public health center work area. The respondents were selected by using purposive sampling technique. The data was collected by using diabetes mellitus prevention self-efficacy questionnaire. The instrument was developed by the author based on related literature and had been tested for validity by two lecturers working in the field of diabetes mellitus. The collected data were analyzed as a description and displayed in percentage, frequency, mean. The general findings showed that the family’s self-efficacy for preventing diabetes mellitus was on high category (54,3%). Smoking and physical activity domain were found as the highest mean score, while exercise and health check-up were identified as the lower ones.The research result can be concluded that the family self-efficacy in preventing diabetes mellitus belongs to high category. Nevertheless, it is still important for community health center to develop a certain program that can involve family to improve low self-efficacy domain such as exercise and medical check-up. Keywords          : Diabetes Mellitus, family, prevention, self-efficacy
KEPATUHAN MENJALANKAN MANAJEMEN DIRI PADA PASIEN HEMODIALISIS Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 3 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.358 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v3i2.308

Abstract

Pasien gagal ginjal kronik harus menjalankan manjemen diri diantaranya hemodialisis, pengobatan, pembatasan cairan dan diet. Angka morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis akan meningkat apabila tidak menjalankan manajemen diri dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kepatuhan pasien hemodialisis dalam menjalankan manajemen diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan kepada pasien di Unit Hemodialisis di salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Barat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah responden 129 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kepatuhan menjalankan manajemen diri pada pasien hemodialisis diadaptasi dari kuesioner End Stage Renal Disease Adherence. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi berupa frekuensi, persentase, dan mean. Sebagian besar responden tidak patuh dalam menjalankan manajemen diri 92 orang dan patuh sebanyak 28,7% yaitu 37 orang. Kepatuhan pasien dalam menjalankan hemodialisis sesuai jadwal sudah baik dengan rata-rata skor 271,3. Kepatuhan pasien hemodialisis masih kurang dalam membatasi asupan cairan dengan rata-rata skor 120, makanan dengan rata-rata skor 147, dan pengobatan dengan rata-rata skor 133).  Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan dukungan kepada pasien dengan memberikan edukasi, konseling dan promosi kesehatan dengan menggunakan berbagai media termasuk media sosial terkait pentingnya pengontrolan cairan dan makanan. Kata kunci: Hemodialisis, Kepatuhan manajemen diri Abstract Compliance with running self-management on hemodializing patients Patients with chronic kidney failure must carry out self-management including hemodialysis, treatment, fluid and dietary restrictions. The morbidity and mortality rates in hemodialysis patients will increase if they do not carry out self-management properly. This study was conducted to identify the compliance of hemodialysis patients in carrying out self-management. This research was a descriptive study conducted on patients at the Hemodialysis Unit in one of the largest hospitals in West Java. The sampling technique used was consecutive sampling with the number of respondents 129 people. Data collection techniques carried out by compliance questionnaire method of running self management in hemodialysis patients adapted from the End Stage Renal Disease Adherence questionnaire. Data were analyzed using frequency distributions in the form of frequency, percentage, and mean. Most of the respondents were not obedient in carrying out self-management as many as 71.3%, 92 people and obedient as many as 28.7%, 37 people. Patient compliance in conducting hemodialysis schedule has been good with mean 271.3. Compliance with hemodialysis patients was still lacking in limiting fluid intake with mean 120, food with mean 147, and treatment with mean 133. Health workers are expected to be able to provide support to patients by providing education, counseling and health promotion by using various media including social media related to the importance of controlling fluids and food that must be carried out by hemodialysis patients. Keywords: Adherance, Hemodialysis, Self-Management
Penundaan Hemoroidektomi Dan Peran Advokasi Perawat Pada Ny.Y Dengan Hemoroid Grade IV: Studi Kasus Epi Rohaeti; Titis Kurniawan; Eka Afrimasari
Padjadjaran Acute Care Nursing Journal Vol 3, No 3 (2022): Padjadjaran Acute Care Nursing Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.076 KB) | DOI: 10.24198/pacnj.v3i3.46140

Abstract

Latar Belakang: Hemoroid grade IV sering disertai nyeri hebat dan perdarahan per-anal berisiko menimbulkan banyak komplikasi serius. Pada kondisi ini, hemoroidektomi merupakan salah satu pilihan terapi terbaik. Meski demikian, pengambilan keputusan untuk menjalani hemoroidektomi sering menjadi hal yang sulit bagi sebagian pasien. Tujuan: Studi ini ditujukan untuk mendeskripsikan masalah kesehatan, pengambilan keputusan dan peran advokasi perawat pada pasien dengan hemoroid grade IV. Metode: Jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif yang dilakukan pada pasien Ny.Y (44 tahun) di ruang rawat penyakit dalam. Data didapatkan dari wawancara, pengkajian fisik, observasi, dan studi dokumen. Hasil: Pasien menderita hemoroid selama 27 tahun dan mengeluhkan perburukan benjolan di area anus disertai nyeri dan perdarahan per-anal. Lima tahun lalu (2017) pasien menjalani hospitalisasi dan disarankan dilakukan hemoroidektomi, namun pasien menolak karena takut dan merasa kondisinya akan membaik dengan pengaturan pola makan. Saat ini rehospitalisasi ke 2 pasien mengalami nyeri kronis, gangguan perfusi perifer (anemia berat), dan deficit nutrisi. Selama perawatan, pasien mendapatkan edukasi dan informasi dari perawat terkait diagnosa yang dialami dan tindakan hemoroidektomi hingga pada hari ke-4 perawatan, pasien memutuskan untuk dilakukan hemoroidektomi karena pasien tersadar bahwa kondisinya tidak akan membaik tanpa operasi. Selain pemberian intervensi untuk mengatasi masalah aktual, pemberian informasi secara berkesinambungan dan refleksi terhadap kondisi yang dialami dapat membantu pasien mengambil keputusan yang tepat. Simpulan: Perburukan kondisi tidak serta merta membuat pasien mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Peran advokasi perawat dalam pemberian informasi yang berkesinambungan merupakan peran penting yang membantu pasien dalam proses pengambilan keputusan yang lebih baik, lebih cepat dan lebih tepat.
Co-Authors Aisyah, Iis Alviani, Eka Turjanah Andini, Nathania Putri Arseda, Astuti Aushaf, Inka Fadilla Nur Bambang Aditya Nugraha Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Dian Adiningsih Diva Jogina Dwi Siwi Handayani Edi Mustamsir Eka Afrima Sari Eka Afrimasari Elsa Pudji Setiawati Epi Rohaeti Ernawati Ernawati Fa'izah, Bella Nadia Fadilah, Tria Nurhayyu Fadillah, Jasmine Fasya Fauzia, Salwa Ghaida Firdaus, Rose Maryana Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Helwiyah Ropi Hesti Platini Iis Nurhayati Ikawati, Dewi Karina, Grashiva Putri Kristian Labertus Kurniawan Yudianto Kusman Ibrahim Lestari, Ranti Asri Lumbantobing, Valentina Malfa Laila Pratidina Mediawati, Ati Surya Mira Trisyani Musyaffa, Najwa Aufa Muta'aliyah, Hikmah Mutiarasani, Anjani Nentika, Rindayu Bidara Caela Nugraha Firdaus Nurfuadah, Irfani Nurrofiqoh, Malihatunnisa Nursiswati Nurwijayanti Olivia, Claudia Pebriana, Tika Rifa Luthfiyah Pratiwi, Atlastieka Puspaningrum, Sepdian Putri, Nova Belinda Putri, Silvi Riana Rahma Dewi Rahmawati, Dedah Rahmawati, Syifa Eka Rasyiddin, Gyan Reyza, Muhammad Fakhrul Risman Ariana Robiul Fitri Masithoh Rustianti Salwa, Tetalia Sandra Pebrianti Santoso, Nilam Cahya Ressawati Sari, Citra Windani Mambang Sari, Eka Afirma Sari, Nur Puspita Setiani, Haniifah Silmi, Reina Zahira Sisca Damayanti siti romadoni Siti Rosita Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Sri Hartati Sri Hartati Pratiwi Sri Suparti Sundari, Nissa Fauziyah Susilaningsih, Fransisca Sri Taty Hernawaty Titiek Suwarti Tsauroh, Salsabila Fiqrotu Tuti Pahria Virssyani, Khansa Auliya Vitniawati, Vina Wati, Irma Widaningsih, Ida Wijayanti, Niken Ayu Wiwi Mardiah Wongchan Petpichetchian Yanti Hermayanti Yeni Yulianti Yudiana, Zahra Haurannisa Yutantri, Savitri Kartika Zahirah, Esa