Janny D. Kusen
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Community Structure And Attraction Of Reef Fish Associated With Artificial Reef In The Tahuna Bay Makawaehe, Wenseslaus Fransiscus; Kusen, Janny D.; Manoppo, Lefrand; Bataragoa, Nego E.; Sambali, Haryani; Sumilat, Deiske A.; Mantiri, Rose O. S. E.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.34761

Abstract

 Community structure and interest of coral fish associated with artificial reefs in The Bay of Tahuna Sangihe Islands Regency is carried out in relation to increased coral fish production in Tahuna Bay. In addition to sandy waters and seagrass so that environmental engineering is pursued with artificial reefs. Artificial reefs are deployed in 5 locations with a depth of about 8 and underwater observations are carried out in data retrieval using the Underwater Visual Census (UVC) method. The data is processed to get a profile of the community structure of coral fish that can be associated with artificial reefs. The composition of coral fish species consists of target fish 9 families; 14 species, major fish 6 families; 7 species and fish indicator 1 family; 1 species. Indicator fish are generally eaters of the ends of young branch corals, branch corals have not grown in artificial reef structures. The diversity index (H') of the moderate category (+2.5) with a high, stable community, evenness (E) level or classified as a relatively high, uniformity (S) high. A low dominance index (C) indicates no species dominates. Mann-Whitney analysis about the level of fish interest to artificial reefs structure both in morning and evening showed no significant difference, while the highest acquisition of Important Values Indices of coral fish in the morning and evening, is Dascyllus trimaculatus by + 73,15. Generally, artificial reef indicates that the coral fish community was maximum developed yet, it was suspected that the coral fish community is still in the stage of adjustment or adaptation to the new environmental structure.Keywords: Community Structure; Artificial Reef; Associate Fishes; gulf TahunaAbstrakStruktur komunitas dan ketertarikan ikan karang yang  berasosiasi dengan terumbu buatan di Teluk Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe dilakukan dalam kaitan dengan peningkatan produksi ikan karang di Teluk Tahuna. Selain karena perairan berpasir dan lamun sehingga diupayakan suatu rekayasa lingkungan dengan penempatan terumbu buatan. Terumbu buatan diletakkan (deploy) di 5 lokasi dengan kedalaman sekitar 8 dan dilakukan pengamatan bawah air dan pengambilan data menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC). Data diolah  untuk mendapatkan profil struktur komunitas ikan-ikan karang yang dapat berasosiasi dengan terumbu buatan. Komposisi jenis ikan karang terdiri dari ikan target 9 family; 14 spesies, ikan mayor 6 family; 7 spesies dan ikan indikator 1 family; 1 spesies. Ikan indikator yang umumnya pemakan ujung karang cabang muda, karang cabang belum bertumbuh di struktur terumbu buatan. Indeks keanekaragaman (H’) kategori sedang (+ 2,5) dengan kemerataan (E) tergolong tinggi, komunitas stabil, keseragaman (S) tinggi. Indeks dominansi (C) rendah mengindikasikan tidak ada spesies mendominasi. Hasil Analisis Mann-Whitney terhadap tingkat ketertarikan ikan terhadap terumbu buatan baik pagi dan sore hari menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata artinya terumbu buatan mampu menarik ikan karang untuk berlindung dan mencari makan, sedangkan perolehan tertinggi Index Nilai Penting ikan karang saat pagi dan sore hari yaitu Dascyllus trimaculatus sebesar 72.04% dan 74.27% Secara umum menunjukkan terumbu buatan belum berkembang maksimal, di duga komunitas Ikan karang masih dalam tahap penyesuaian atau adaptasi dengan struktur terumbu buatan di lingkungan yang baru.Kata kunci: struktur komunitas; terumbu buatan; ikan asosiasi; teluk tahuna
Composition and Condition Of Coral Reefs In Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Ali, Fajri Nurul; Rondonuwu, Ari B.; Pratasik, Silvester B.; Wantasen, Adnan S.; Bataragoa, Nego E.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38203

Abstract

This study aims to determine the composition and condition of coral reefs in Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency. The method used is Line Intercept Transect (LIT). Data were collected by SCUBA diving at 3 meters and 10 meters depths. In 3 meters depth was found biotic components such as Acropora and non-Acropora with 6 growth forms, and five other biotic components, while abiotic components were only found in coral rubbles (R). In 10 meter depth was found biotic components live coral with 7 growth forms, and five other biotic components, while the abiotic components as sand and coral rubbles. In two depths, the coral reef component dominant were Acropora digitate (ACD) and Acropora branching (ACB). The condition of coral reefs at 3-meter depth and 10 meters were  “Fair”  with the percent cover of live corals being 35.59% and 37.30%.Keywords: Coral; Coral Reef; ConditionAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kondisi terumbu karang di Tanjung Dudepo Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transect (LIT). Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman SCUBA pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Pada kedalaman 3 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup acropora dan non-acropora dengan 6 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik hanya ditemukan berupa pecahan karang. Pada kedalaman 10 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup dengan 7 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik berupa pasir dan pecahan karang. Pada dua kedalaman, bentuk pertumbuhan yang mendominasi yaitu acropora digitate dan acropora branching. Kondisi terumbu karang pada lokasi penelitian khususnya pada kedalaman 3 meter dan 10 meter yaitu berada pada kategori cukup dengan persentase tutupan sebesar 35,59% dan 37,30%. Kata kunci: Karang; Terumbu Karang; Kondisi.
Acanthuridae in Bitunuris Waters Talaud Islands Sasauw, Harpan; Bataragoa, Nego E.; Manu, Gaspar D.; Rondonuwu, Ari B.; Lalita, Jans D.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.41165

Abstract

 This study aims to determine the species of fish from the Acanthuridae family in Bitunuris Village, Salibabu Island, Talaud Islands Regency. Fish samples were caught using monofilament gill nets with a mesh size of 1.5 inches, net length of 15 m, and net height of 2 m. Sampling was carried out in April and May 2021. A total of 63 individuals were caught consisting of nine species. Acanthurus nigrofuscus 40 individuals, 10.0-17.0 cm in length and 18-77 g in weight. Acanthurus lineatus three individuals, 9.4-17.7 cm in length and 17-96 g in weight. Acanthurus triostegus is seven individuals, 9.3-12.4 cm in length, and weighs 21-55 g. Acanthurus nigricans two individuals each measuring 13.9-13.9 cm in length and weighing 67-70 g each. One individual Ctenochaetus cyanocheilus, a total length of 10.3 cm, and weight of 29 g. Naso lituratus four individuals, length 15.1-17.7 cm and weight ranging from 68-115 g. Naso brevirostris one individual measuring 23.0 cm in length and weighing 186 g. One individual Naso brachycentron, 24.5 cm in length and 172 g in weight. Zebrasoma scopas four individuals, 12.1-15.8 cm in length and weighing 54-105 g.Keywords: Species, gill nets.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies ikan Famili Acanthuridae di Desa Bitunuris Pulau Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud. Sampel ikan ditangkap menggunakan jaring insang monofilamen dengan ukuran mata jaring 1,5 inci, panjang jaring 15 m, tinggi jaring 2 m. Pengambilan sampel dilakukan pada April dan  Mei 2021. Sebanyak 63 individu yang tertangkap terdiri atas sembilan spesies.  Acanthurus nigrofuscus 40 individu, panjang berkisaran 10,0-17,0 cm dan berat 18-77 g.  Acanthurus lineatus tiga individu, panjang berkisaran 9,4-17,7 cm berat berkisaran 17-96 g.  Acanthurus triostegus  tuju individu, panjang 9,3-12,4 cm dan berat berkisaran antara 21-55 g.  Acanthurus nigricans dua individu masing-masing ukuran panjang 13,9-13,9 cm berat masing-masing ukuran 67-70 g.  Ctenochaetus cyanocheilus satu individu, panjang total 10,3 cm dan  berat 29 g.  Naso lituratus empat individu, ukuran panjang 15,1-17,7 cm berat berkisaran 68-115 g.  Naso brevirostris satu individu ukuran panjang 23,0 cm memiliki berat 186 g.  Naso brachycentron satu individu,  panjang 24,5 cm dan berat 172 g.  Zebrasoma scopas empat individu,  panjang 12,1-15,8 cm dan  berat 54-105 g.Kata Kunci: Spesies, jaring insang.
Meristic And Morfometric Characteristics Of Scad Mackerel Decapterus macarellus (Cuvier, 1833) Karundeng, Christian; Lohoo, Anneke V.; Manginsela, Fransine B.; Tilaar, Ferdinand F.; Sangari, Joudy R. R.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.41285

Abstract

Fish are cold-blooded vertebrates, whose body movements and balance are mainly using fins, breathing through gills, and living in an aquatic environment. Most vertebrates in the world are fish covering 48.1%, mammals (10.8%), reptiles (14.4%), amphibians (6.0%), and birds (20.7%). One of the fish consumed in North Sulawesi is scad mackerel locally called malalugis. This research focused on the meristic and morphometric characteristics of blue scad. The samples were caught in Makalehi waters and then landed in Manado Bay. Meristic observations (related to the number) included the number of spines and soft dorsal fin, pectoral fin, pelvic fin, anal fin (anal), and caudal fin. There were 9 spines on the first dorsal (D1), 2 spines and 30-37 soft rays on the second dorsal (D2), 3 spines and 24-31 soft rays on the anal fin (A), and 1,327 linea lateralis (LL). The morphometric observations cover total length, standard length, fork length, head length, tail stem length, eye width, body width, pectoral fin length, and anal fin length (anal). The total length ranged from 180 mm to 303 mm with a mean of 223 mm and a standard deviation of 25 mm.Keywords: fin, linea lateralis, Makalehi waters.AbstrakIkan merupakan hewan vertebrata berdarah dingin, yang pergerakan dan keseimbangan tubuhnya terutama menggunakan sirip dan umumnya bernapas dengan insang serta hidup dalam lingkungan air. Spesies hewan vertebrata terbanyak di dunia adalah ikan dengan persentase 48,1 persen dari keseluruhan hewan vertebrata yang ada, pada mamalia memiliki presentase 10,8 persen, reptile memiliki 14,4 persen, amfibi hanya 6,0 persen dan spesies burung 20,7 persen. Salah satu ikan yang dikenal dan dikonsumsi di Sulawesi Utara adalah ikan layang biru atau disebut ikan malalugis. Penelitian ini mengenai karakteristik meristik dan morfometrik ikan layang biru. Penelitian sampel ikan layang biru yang ditangkap di Perairan Makalehi dan kemudian didaratkan di Teluk Manado. Pengamatan meristik (berkaitan dengan jumlah) meliputi jumlah jari-jari keras dan jari-jari lemah pada sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal (dubur) dan sirip ekor. Terdapat 9 duri sirip pada dorsal pertama (D1), 2 duri dan 30-37 sirip lemah pada dorsal kedua (D2); 3 duri dan dan 24-31 sirip lemah pada anal (A), dan 13-27 linea lateralis (LL). Pengamatan morfometrik (berkaitan dengan ukuran antara lain panjang total, panjang standar, panjang garpu,panjang kepala, panjang batang ekor, lebar mata, lebar badan, panjang sirip dada, panjang sirip anal (dubur). Panjang total berkisar 180-303 mm dengan rerata 223 mm dan standar deviasi 25 mm.Kata kunci: Sirip; Linea lateralis; perairan Makalehi. 
Mangrove Community Structure On The Coast Of Tanjung Kelapa, Tombariri Districts, Bunaken National Park daud, fitran; Kusen, Janny D.; Kumampung, Deislie Roxmerie H.; Djamaaludin, Rignolda; Darwasito, Suria; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.43952

Abstract

Mangrove ecosystems are wetland resources in coastal areas, life support systems and natural wealth of very high value. The lack of information about the status of mangrove species at the study site as well as the alleged presence of various types of mangrove loss in each region have been identified as important mangrove knowledge information gaps. This can improve various conservation and management strategies, especially in maintaining the sustainability of mangrove ecosystems. This activity lasted 6 (six) months including data collection using the line transect method, the results showed that there were 5 types of mangroves at three stations including Soneratia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina and ceriops tagal. High diversity (H') is found at Station 2 and Station 3 with a Dominance value (D) categorized as moderate at Station 1 while Stations 2 and 3 are categorized as medium, Uniformity (e) at all stations is high, absolute density is highest at station 1 and station 2, and at station 3 the absolute density is lowest, the similarity of community (IS) mangrove types in all three locations is the same because it still includes the same location in the intertaidal area. Keywords: Community structure, Mangrove, Tanjung Kelapa Abstrak Ekosistem mangrove merupakan sumber daya lahan basah pada wilayah pesisir, sistem penyangga kehidupan dan kekayaan alam yang nilainya sangat tinggi.. Kurangnya informasi tentang status spesies mangrove di lokasi penelitian serta dugaan adanya berbagai jenis kehilangan mangrove di setiap wilayah telah diidentifikasi sebagai kesenjangan informasi pengetahuan tentang mangrove yang penting. Hal ini dapat meningkatkan berbagai strategi konservasi dan pengelolaan, terutama dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove. Kegiatan ini berlangsung 6 (enam) bulan termasuk dengan pengambilan data mengunakan metode transek garis, Hasil penelitian menunjukan Terdapat 5 jenis mangrove pada ketiga stasiun diantaranya Soneratia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina dan ceriops tagal. Keanekaragaman tinggi (H’) terdapat pada Stasiun 2 dan Stasiun 3 dengan nilai Dominansi (D) dikategorikan sedang pada Stasiun 1 sedangkan Stasiun 2 dan 3 dikategorikan sedang, Keseragaman (e) pada semua stasiun tinggi, kepadatan mutlak tertinggi pada stasiun 1 dan stasiun 2, dan pada stasiun 3 kepadatan mutlak terendah, kesamaan komunitas (IS) jenis mangrove pada ketiga lokasi sama karena masih mencakup satu lokasi yang sama didaerah intertaidal. Kata kunci: Struktur komunitas, Mangrove, Tanjung Kelapa
Length-Weight Relationship and Reproduction of Spotcheek emperor Lethrinus rubrioperculatus Sato, 1978 at Napo Nain Likupang North Sulawesi Laura, Azhar; Kambey, Alex D.; Bataragoa, M.Sc, Dr. Ir. Nego E.; Pratasik, Silvester B.; Lohoo, Anneke V.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.46348

Abstract

Spotcheek emperor L. rubrioperculatus lives in association with coral reefs, at a depth of 10-168 m. This species lives on sandy bottoms and along the outer reef slopes. The lemur fish L.rubriopercelatus is a protogynous hermaphrodite fish, there is a sex change from the female phase to the male phase. Research related to sea urchins in Likupang waters has never been carried out, even in general it is very limited in Indonesia. This study aims to analyze the length-weight relationship and reproductive aspects of spotcheek emperor at Napo Nain Likupang waters. Length-weight relationships are growth patterns and condition factors. Reproductive aspects are the level of gonadal maturity, gonadal maturity index, and fecundity. Fish samples were caught using two types of hand lines, hook number 10 with monofilament line number 90 and hook number 12 with monofilament line number 100. Sampling was carried out three times in May, June, and July 2022. The total samples were 80 individuals. consisting of 44 male individuals with a fork length range of 14.7-22.7 cm, 42 female individuals with a fork length range of 13.0-24.0 cm, and 2 individuals of transitional elephant fish, respectively 19.5 and 20.0 cm. Male length-weight relationship W= 0.2332L2.1642 (R2=0.7881) negative allometric growth pattern. Females W = 0.0868L2.505 (R2=0.9575) negative allometric growth pattern. The condition factor for male fish is 1.03 ± 0.22 and 0.99 ± 0.12 for females. The gonadal maturity was found in May for both males and females. Gonad Maturity Index for males ranged from 0.03-0.18 and for females 0.02-1.49. Fecundity ranged from 21.035-3.9497 with an average of 31.530 ± 5.929. The relationship between fecundity and length F=3152L0.7721 (R2=0.24340) Keywords: Growth pattern, Allometric, Gonad, Fecundity. Abstrak Ikan lencam L. rubrioperculatus hidup berasosiasi dengan terumbu karang, pada kedalaman 10-168 m. Spesies ini hidup di dasar berpasir dan di sepanjang lereng terumbu bagian luar. Ikan lencam L.rubriopercelatus adalah ikan hermaprodit protogini, terjadi perubahan kelamin dari fase betina ke fase jantan. Penelitian berkaitan ikan lencam di perairan Likupang belum pernah dilakukan, bahkan secara umum di Indonesia sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjang-berat dan aspek reproduksi. Hubungan Panjang- berat meliputi pola pertumbuhan dan faktor kondisi di parairan Napo Nain Perairan Likupang. Aspek reproduksi meliputi tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad dan fekunditas. Sampel ikan ditangkap dengan menggunakan dua jenis pancing ulur (hand line) mata pancing nomor 10 dengan tali monofilament nomor 90 dan mata pancing nomor 12 dengan tali monofilament nomor 100. Sampling dilakukan tiga kali pada bulan Mei, Juni dan Juli 2022. Jumlah sampel 80 individu terdiri atas terdiri dari 44 individu jantan dengan kisaran panjang garpu 14,7-22,7 cm, 42 individu betina dengan kisaran panjang garpu 13,0-24,0 cm, 2 individu ikan lencam transisi kelamin masing 19,5 dan 20,0 cm. Hubungan panjang-berat jantan W= 0,2332L2,1642 (R2=0,7881)pola pertumbuhan alometrik negatif. Betina W = 0,0868L2,505 (R2=0,9575) pola pertumbuhan alometrik negatif. Faktor kondisi jantan bernilai 1,03 ± 0,22 dan 0,99 ± 0,12 ikan betina. Tingkat kematangan gonad ikan yang siap memijah (TKG IV) ditemukan pad bulan Mei baik jantan maupun betina. Indeks Kematangan Gonad jantan berkisar antara 0,03-0,18 dan betina 0,02-1,49. Fekunditas berkisar antara 21.035-3.9497 dengan rata-rata 31.530 ± 5.929. Hubungan fekunditas dengan panjang F=3152L0,7721 (R2=0,24340) Kata kunci : Pola pertumbuhan, Allometrik, Gonad, Fekunditas
Status and Condition of Mangroves in Mangrove Ecosystem on Tongkeina Coast Bunaken National Park Kolinug, Oscean; Sinjal, Chatrien A. L.; Kusen, Janny D.; Manengkey, Hermanto W.K.; Djamaaludin, Rignolda; Rumampuk, Natalie D.C.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51158

Abstract

Mangrove ecosystems are a typical type of vegetation found in tropical coastal areas. Mangrove vegetation generally thrives in gently sloping coastal areas near river mouths and beaches that are protected from wave forces. The mangrove forest ecosystem is a nursery ground for young fauna (juvenile stage) that will grow into adult individuals and is also a spawning ground for several animals and other aquatic biota such as birds, insects, snakes, shrimp, fish, and shellfish. This research was conducted at 3 different points. The results showed that there were 6 types of mangroves at the three stations including Soneratia alba, S. ovata, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Avicennia marina, and A. alba. High diversity (H') is found at Station 2 and Station 3 at 0.4 and Station 1 at 0.2 with a Dominance value (D) Medium at Station 1 at 0.37 while Stations 2 and 3 at 0.27 and 0.28 are categorized as low, Uniformity (e) at all stations is high with values of 0.74, 0.89 and 0.70, absolute density is highest at Station-1 and Station-2 with a value of 0.10%, and at Station-3 the lowest Absolute Density is 0.06%, Community Similarity (IS) mangrove species at all three locations are the same because they still cover the same location in the intertidal area. Keywords: Community structure, Mangrove, Tongkeina. Abstrak Ekosistem mangrove merupakan tipe vegetasi khas yang terdapat di daerah pantai tropis. Vegetasi mangrove umumnya tumbuh subur di daerah pantai yang landai di dekat muara sungai dan pantai yang terlindung dari kekuatan gelombang. Ekosistem hutan mangrove merupakan daerah asuhan (nursery ground) fauna-fauna muda (juvenile stage) yang akan bertumbuh kembang menjadi individu dewasa dan juga merupakan daerah pemijahan (spawning ground) beberapa satwa dan biota perairan lain seperti burung, serangga, ular, udang, ikan dan kerang-kerangan.Penelitian ini dilakukan di 3 titik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan terdapat 6 jenis mangrove pada ketiga stasiun di antaranya Soneratia alba, S. ovata, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Avicennia marina  dan A. alba. Keanekaragaman tinggi (H’) terdapat pada Stasiun 2 dan Stasiun 3 0,4 serta Stasiun 1 0,2 dengan nilai Dominansi (D) dikategorikan sedang pada Stasiun 1 0,37 sedangkan Stasiun 2 dan 3 0,27 dan 0,28 dikategorikan rendah, Keseragaman (e) pada semua stasiun tinggi dengan nilai 0,74, 0,89 dan 0,70, kepadatan mutlak tertinggi pada Stasiun-1 dan Stasiun-2 dengan nilai 0,10%, dan pada Stasiun-3 Kepadatan Mutlak terendah yaitu 0,06%, Kesamaan Komunitas (IS) jenis bakau pada ketiga lokasi sama karena masih mencakup satu lokasi yang sama di daerah intertaidal. Kata kunci : Struktur komunitas, Mangrove, Tongkeina.