Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Evaluasi Pascaimplantasi Koklea di Bandung Roland Lallo Mangontan; Lina Lasminingrum; Sally Mahdiani
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 Desember 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i2.25665

Abstract

Implantasi koklea adalah terobosan dalam bidang kedokteran untuk tatalaksana gangguan dengar sensorineural derajat berat atau sangat berat. Pasien dengan implan koklea dilakukan evaluasi sebelum dan sesudah implantasi koklea dengan tujuan menilai perkembangan kemampuan komunikasi. Evaluasi pascaimplantasi koklea dapat dilakukan dengan berbagai metode, diantaranya Categories of Auditory Performance (CAP)-II dan Free Field Test (FFT). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hasil evaluasi pasien pascaimplantasi koklea di Bandung periode Januari 2012-Desember 2016. Penelitian dilakukan secara deskriptif dari pasien yang dilakukan implantasi koklea di Bandung periode Januari 2012-Desember 2016. Pasien dilakukan evaluasi menggunakan metode Categories of Auditory Performance-II sesuai usia dan lama penggunaan alat serta Free Field Test. 34 pasien telah dilakukan implantasi koklea: 11 pasien (32,3%) bilateral, 23 pasien (67,6 %) unilateral, 22 pasien (64,7%) dilakukan evaluasi dengan CAP-II, 9 pasien (26,4%) dilakukan evaluasi dengan FFT, 3 pasien (8,8%) tidak mengikuti evaluasi CAP-II ataupun FFT, 22 pasien (100%) mengalami peningkatan level CAP-II setelah penggunaan implan koklea. 9 pasien (100%) memberikan respon pada FFT setelah pemakaian implan koklea. Usia, lama penggunaan implan dan gangguan kongenital penyerta lain merupakan faktor penting yang mempengaruhi hasil CAP-II. Respon pada FFT juga muncul setelah penggunaan implan koklea.Kata kunci: CAP, FFT, implantasi koklea.
Hubungan Pembentukan Biofilm Bakteri Staphylococcus Aureus dan Pseudomonas Aeruginosa Dengan Derajat Penyakit dan Kualitas Hidup Penderita Rinosinusitis Kronik Lina Lasminingrum; Shinta Fitri Boesoirie; Nurbaiti Nurbaiti
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 3 (2019): Volume 4 Nomor 3 Maret 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2504.192 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i3.21241

Abstract

Bakteri biofilm terbukti berperan dalam patogenesis rinosinusitis kronik khususnya Staphylococcus Sp pada kasus berat dan rekalsitran. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pembentukan biofilm bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dengan derajat penyakit dan kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik. Penelitian ini menggunakan metoda analitik observasional prospektif  dengan pendekatan potong lintang, pada kurun waktu September 2017 – Agustus 2018, dengan populasi penelitian adalah penderita usia ≥ 18 tahun yang didiagnosis RSK di klinik Rinologi-Alergi, RS dr. Hasan Sadikin Bandung. 29 sampel sekret hidung diperoleh menggunakan floqswabs dan dilakukan kultur identifikasi bakteri serta deteksi biofilm menggunakan metode TCP (Tissue Culture Plate). Pengukuran derajat penyakit menggunakan Skala Analog Visual dan pemeriksaan nasoendoskopi serta kualitas hidup menggunakan SNOT-22. Data diolah dan dianalisis menggunakan uji rank Spearman. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara pembentukan biofilm bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa dengan derajat penyakit (p>0,05) tetapi didapatkan hubungan yang bermakna dengan kualitas tidur dan psikologi (p<0,05). Pembentukan biofilm pada rinosinusitis kronik berpengaruh terhadap kualitas tidur dan psikologi penderita RSK.Kata kunci: Biofilm, derajat penyakit, kualitas hidup,  SNOT-22
Karakteristik OMSK Dengan Kolesteatoma Pada Pasien Rawat Inap di RS Hasan Sadikin Periode 2016-2017 Arif Tria; Lina Lasminingrum; Arif Dermawan
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 3 (2020): Volume 5 Nomor 3 Maret 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i3.28764

Abstract

Pendahuluan : Otitis Media Supuratif Kronik merupakan infeksi kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga tengah disertai gangguan pendengaran. Kolesteatoma adalah salah satu komplikasi utama OMSK. Makalah ini bertujuan menggambarkan karakteristik OMSK dengan kolesteatoma pada pasien rawat inap di RSHS pada tahun 2016-2017.Metode : Penelitian deskriptif observasional potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis pasien rawat inap RSHS pada tahun 2016-2017 dengan diagnosis OMSK dengan kolesteatoma.Hasil : Pada periode 2016-2017 jumlah pasien OMSK dengan kolesteatoma sebanyak 116 pasien, terdiri dari 86 pasien (74%) dewasa, 30 pasien (26%) anak-anak, 66 pasien (57%) perempuan, 50 pasien (43%) laki-laki, gangguan pendengaran konduktif (43%)., pembentukan kolesteatoma pada cavum timpani dan mastoid (89, 77%) dan 22 pasien (18.9%) dengan komplikasi OMSK.Diskusi : Insidensi OMSK berulang pada pasien dewasa cukup tinggi. Karena itu, pasien disarankan untuk menuntaskan pengobatan dan melakukan pemeriksaan penunjang guna mengetahui kemungkinan terjadinya komplikasi.Kesimpulan : Penderita OMSK kolesteatoma terbanyak adalah dewasa perempuan. dengan gangguan pendengaran konduktif dan lokasi pembentukan kolesteatoma terbanyak adalah pada cavum timpani dan mastoid. Terdapat 22 pasien dengan komplikasi OMSKKata Kunci : kolesteatoma, konduktif, OMSK, perforasi
POTENCY OF VINEGAR THERAPY IN OTOMYCOSIS PATIENTS Eman Sulaiman; Bambang Purwanto; Lina Lasminingrum; Yussy Afriani Dewi; Sally Mahdiani
Journal of Medicine and Health Vol. 1 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.351 KB) | DOI: 10.28932/jmh.v1i2.509

Abstract

Otomycosis is an outer ear canal infection caused by fungi. Clinicians are trying to find out the most effective antifungal drug for treating otomycosis. Traditionally Apple cider vinegar has been used for the treatment of various diseases, including antifungal.The high cost in otomycosis treatment effort, long duration of treatment, high recurrence rate, and the difficulty in the application of drugs in the otomycosis treatment have encouraged the researcher to do this study. Having evaluated  the improvement of clinical symptoms, otoscopy view and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar therap, this study uses descriptive study design of four otomycosis patients in the ORL HNS outpatient clinic of Hasan Sadikin Hospital Bandung from July to August 2014. Having evaluated a clinical symptoms improvement, it is found out that there is an increase of otoscopy view and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar. In other words, there is an Improvement of clinical symptoms, otoscopy view, and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar therapy. Topical apple cider vinegar therapy gives a good result in the improvement of clinical symptom,otoscopy view, and examination of KOH 10% in otomycosis  patients. Keywords: otomikosis, sign and symptoms improvement, apple cider vinegar.
Tuberkulosis hidung primer Fitri Heryanti; Teti Madiadipoera; Lina Lasminingrum; Sinta Sari Ratunanda
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.991 KB) | DOI: 10.32637/orli.v45i1.109

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TBC) hidung primer sangat jarang terjadi. Dalam dua dekade terakhir, TBC paru maupun ekstraparu muncul kembali sebagai masalah besar dalam bidang kesehatan di dunia.Penegakkan diagnosis TBC hidung juga tidak mudah baik secara klinis maupun dalam pemeriksaanlaboratorium. Gejala dan tanda klinisnya bervariasi dan tidak spesifik, menyerupai lesi granuloma akibatinfeksi lainnya, non-infeksi, atau keganasan. Tujuan: Kasus ini diajukan untuk  mengingatkan kembalipara dokter umum dan spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher mengenai kasusTBC hidung primer yang jarang dijumpai sehingga tidak terjadi keterlambatan penegakan diagnosisdan penanganan kasus tersebut jika ditemukan lesi granuloma di hidung. Kasus: Dilaporkan satu kasusTBC hidung primer pada pasien perempuan usia 28 tahun. Penatalaksanaan: Pada pasien ini, dilakukanprosedur untuk mendiagnosis TBC hidung primer, kemudian diberikan terapi obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap (KDT)kategori Isesuai panduan nasionaldanWHO,serta larutan pencuci hidung. Kesimpulan:TBC hidung primer harus dipertimbangkan sebagai salah satu diagnosis banding untuk setiap pasien dengan lesi granuloma di daerah kepala dan leher.Diagnosisdinidan penanganan yangtepatdapat menghasilkan kesembuhan total dari penyakit yang jarang ini. Kata kunci: tuberkulosis hidung, lesi granuloma, obat antituberkulosis.ABSTRACT Background: Primary nasal tuberculosis (TB) is an extremely rare case. In the last two decades, tuberculosis both pulmonary and extrapulmonary reemerged as a major health problem worldwide. Thediagnosis of nasal tuberculosis is also not easy, both clinically and in the laboratory. The symptoms andsigns are various and nonspecific, similar to other granulomatous lesions due to infection, non-infectionand malignancy. This condition may cause treatment delays of the desease. Objective: To remind thegeneral practitioner and otorhinolaryngologist about the primary nasal tuberculosis cases which extremelyrare so there is no delay in the diagnosis and treatment of those cases when granulomatous lesionsappeared in the nose. Case: We reported one case of primary nasal tuberculosis in female patients 28years old. Management: We performed diagnostic procedures to this patient and found primary nasaltuberculosis and the patient was given antituberculosis drugs-fixed dose combination (FDC) categoryI based on national guidelines and WHO as well as nasal wash solution. Conclusion: Primary nasaltuberculosis should be considered as one of differential diagnoses for each patient with unusual lesionsappeared in the head and neck region. Early diagnosis and proper treatment could bring about totalcure of this rare disease. Keywords: nasal tuberculosis, granulomatous lesion, antituberculosis drugs
Angka Kejadian dan Gambaran Rinitis Alergi dengan Komorbid Otitis Media di Poliklinik Rinologi Alergi Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RS Dr. Hasan Sadikin Pahmi Budiman Saputra Basyir; Teti Madiapoera; Lina Lasminingrum
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Otitis media adalah adalah peradangan mukosa telinga tengah,tuba eustachius,antrum mastoid dan sel mastoid. Otitis media merupakan komorbiditas dari rinitis alergi. Rinitis alergi adalah gangguan hidung yang disebabkan oleh reaksi peradangan mukosa hidung diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) yang ditandai dengan gejala hidung yaitu hidung tersumbat rinorea, bersin atau gatal.Tujuan : Untuk mengetahui angka kejadian dan gambaran rinitis alergi dengan komorbid otitis media Metode : Penelitian deskriptif retrospektif cross-sectional dilakukan di poliklinik Rinologi-Alergi Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RS Dr Hasan Sadikin selama periode Januari 2013-Juni 2014, pada 83 pasien rinitis alergi dengan otitis media rentang umur 5-55 tahun. Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, nasoendoskopi, otoskopi, timpanometri, audiometri dan pemeriksaan tes kulit tusuk. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan otitis media akut 33,7%,otitis media efusi 42,2% dan otitis media supuratif kronis 24,1%. Tingkat berat gejala rinitis alergi pada penelitian ini adalah ringan intermiten 21,7%,ringan pesisten 14,5%, sedang-berat intermiten 7,2%, sedang-berat persisten 56,6%. Terdapat hubungan bermakna antara gejala hidung tersumbat pada rinitis alergi dengan komorbid otitis media akut (p= 0,02), otitis media efusi (p =0,03), otitis media supuratif kronik (p =0,032). Hasil tes fungsi tuba dengan gangguan fungsi tuba 89,2%. Terdapat 81,9% menderita tuli konduktif pada telinga kanan dan 78,3% telinga kiri .Kesimpulan: Insidens rinitis alergi dengan otitis media 36,7%. Rinitis alergi dengan otitis media efusi 42,2%,Otitis media akut 33,7%, dan otitis media supuratif kronis 24,1. Terdapat hubungan bermakna antara hidung tersumbat pada rinitis alergi dengan otitis mediaKata kunci: rinitis alergi, otitis media akut, otitis media efusi,otitis media supuratif kronisBackground : Otitis media is an inflammation of the mucosa of the middle ear, eustachian tube, mastoid antrum and mastoid cells. Otitis media is a comorbidity of allergic rhinitis. Allergic rhinitis is a nasal disorder caused by reaction inflammation of the nasal mucosa mediated by immunoglobulin E (IgE) that is characterized by nasal congestion, rhinorrhea, sneezing or itching. Purpose: To investigate the incidence and characteristic of allergic rhinitis with comorbid otitis media population Methods: A retrospective descriptive cross-sectional study that was conducted a Rhinology-Allergy clinic of ORL-HNS Department, Hasan Sadikin Hospital during the period of January 2012 -June 2014 involved 83 patients, in age 5-55 years. Diagnosis is based on history,physical examination,nasoendoscopy,otoscopy, tympanometry, audiometry and skin prick test. Results: In this study, we found acute otitis media 33,7%, otitis media effusion 42,2%, and chronic suppurative otitis media 24,1%.Severe levels of symptoms of allergic rhinitis and otitis media, mild intermittent 21,7%, mild persistent 14,5%, moderate-severe intermittent 7.2%, moderate-severe persistent 56.6%.There is a significant relationship between nasal congestion with acute otitis media (p= 0,02), otitis media with efusi (p =0,03), chronic supurativa otitis media( p =0,032). Eustachian tube function test in otitis media with abnormal 89,2%. There were 81.9% suffer from conductive hearing loss in the right ear and 78.3% in left ear. Conclusion: The incidence of otitis media with comorbid allergic rhinitis 36,7%, acute otitis media 3,7%, otitis media effusion 42,2%, and chronic suppurative otitis media 24,1%. There is a significant relationship between nasal congestion and otitis mediaKey words: allergic rhinitis, acute otitis media, otitis media with effusion, chronic suppurative otitis media
Efektivitas Ekstrak Kulit Manggis Sebagai Terapi Adjuvan Terhadap Perbaikan Gejala dan Tanda Klinis serta Kualitas Hidup Pasien Rinitis Alergi Kadarullah, Oke; Lasminingrum, Lina; Sumarman, Iwin
MAGNA MEDICA Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 4 (2017): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.702 KB) | DOI: 10.26714/magnamed.1.4.2017.43-50

Abstract

The Effectiveness of Mangosteen Peel Extract as Adjuvant Therapy for Improvement of Clinical Symptoms and Signs and Quality of Life of Allergic Rhinitis PatientsLatar belakang: Rinitis alergi (RA) merupakan penyakit inflamasi di mukosa hidung yang diperantarai IgE setelah paparan alergen. Polusi dapat memperberat inflamasi alergi. Terapi RA ditujukan untuk memperbaiki gejala, mencegah perburukan, dan meningkatkan kualitas hidup. Ekstrak kulit manggis merupakan herbal yang lazim digunakan sebagai terapi adjuvan/tambahan dengan efek antiinflamasi dan antioksidan. Kapasitas antioksidannya lebih tinggi dibandingkan buah lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai perbaikan gejala klinis, tanda klinis, serta kualitas hidup pada RA menetap sedang berat. Metode: Penelitian ini merupakan quasi experimental randomized trial open label pre and post test design. Penelitian berlangsung di poliklinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September −November 2013. Kelompok kontrol mendapat terapi standar berupa tablet loratadin dan kortikosteroid intranasal, sedangkan kelompok perlakuan diberi tambahan kapsul ekstrak kulit manggis selama 14 hari. Diagnosis berdasarkan anamnesis , pemeriksaan fisik dan tes kulit tusuk. Lalu dinilai skor gejala hidung semikuantitatif Weeke, Davis dan Okuda (TNSS), skor nasoendoskopi adaptasi Lund Kennedy, serta skor gangguan kualitas hidup RQLQ dari Juniper. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney.Hasil: Dari 34 subjek terbagi dalam dua kelompok, perbaikan skor TNSS, skor nasoendoskopi, dan skor RQLQ didapatkan hasil yang signifikan (p<0,05) pada tiap kelompok pascaterapi. Namun perbandingan seluruh variabel pemeriksaan pasca terapi antara kedua kelompok tidak siginifikan (p>0,05).Simpulan: Pemberian kapsul ekstrak kulit manggis sebagai terapi adjuvan tidak efektif pada pasien RA menetap derajat sedang berat dalam meningkatkan efektivitas terapi standar. Background: Allergic rhinitis (RA) is an inflammatory disease in the IgE-mediated nasal mucosa after allergen exposure. Pollution can aggravate allergic inflammation. RA therapy is aimed at improving symptoms, preventing deterioration, and improving quality of life. Mangosteen skin extract is an herb commonly used as adjuvant / additional therapy with anti-inflammatory and antioxidant effects. Antioxidant capacity is higher than other fruit. The purpose of this study was to assess the improvement of clinical symptoms, clinical signs, and quality of life in moderate to severe RA.Methods:This research is a quasi experimental randomized trial of open label pre and post test design. The research took place in the polyclinic of Ear Nose Throat Surgery Head Surgery of Neck Hospital. Hasan Sadikin Bandung in September-November 2013. The control group received standard therapy in the form of loratadine tablet and intranasal corticosteroid, while the treatment group was given additional mangosteen leaf extract capsule for 14 days. Diagnosis based on anamnesis, physical examination and puncture skin test. Then assessed the semiticivity of Weeke, Davis and Okuda (TNSS) nose score, Lund Kennedy's adaptation nasoendoskopi score, and Juniper's RQLQ quality-disruption score. Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann Whitney tests.Results: The 34 subjects divided into two groups, improvement of TNSS score, nasoendoskopi score, and RQLQ score showed significant results (p <0.05) in each post-therapy group. However, the comparison of all post-therapy examination variables between the two groups was not significant (p> 0.05).Conclusion: The administration of mangosteen skin extract capsules as adjuvant therapy is not effective in patients with moderate to severe RA in improving the effectiveness of standard therapy.
Displasia Mondini sebagai faktor risiko terjadinya komplikasi meningitis berulang Arifianto, Aditya; Lasminingrum, Lina; Aroeman, Nurakbar; Boesoirie, Shinta Fitri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 45 No. 2 (2015): Volume 45, No. 2 July - December 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v45i2.121

Abstract

Latar belakang: Displasia Mondini  adalah kasus yang jarang ditemukan namun merupakan penyebab penting terjadinya meningitis berulang pada anak dan membutuhkan indeks kecurigaan klinisyang tinggi sehingga dapat dilakukan diagnosis sedini mungkin. Displasia Mondini  adalah kelainankongenital berupa malformasi koklea yang terjadi akibat dari gangguan perkembangan embrio pada telingabagian dalam, di minggu ke tujuh. Anomali kongenital tulang temporal dapat menyebabkan  fistulisasiantara telinga tengah dan ruang subarakhnoid. Tujuan: Mempresentasikan kasus displasia Mondini dengan komplikasi meningitis berulang. Kasus: Satu kasus displasia Mondini  disertai hipertrofi adenoiddan meningitis berulang pada anak laki-laki usia enam tahun. Penatalaksanaan: Medikamentosa denganpemberian antibiotik dan adenoidektomi. Kesimpulan: Displasia Mondini  dengan faktor predisposisihipertrofi adenoid disertai meningitis berulang yang dilakukan adenoidektomi memberikan hasil yangbaik dengan tidak didapatkan kembali meningitis berulang pada pasien setelah tiga tahun. Kata kunci : displasia Mondini, hipertrofi adenoid, adenoidektomi, meningitis berulang  ABSTRACTBackground: Mondini dysplasia is a rare case but has an important role for recurrent pyogenic meningitis in children and requires a high index of clinical suspicion for early diagnosis. Mondinidysplasia is malformation of the cochlea due to impairment of the embryonic development of the innerear during the seventh week of fetal life. Congenital anomalies of temporal bone may cause fistulisation between the middle ear and subarachnoid space. Purpose: To present a case of Mondini dysplasia with recurrent meningitis complication. Case: A  case of Mondini dysplasia accompanied by hypertrophyadenoid and recurrent meningitis in a six year old boy. Management: Medical treatment with antibioticand adenoidectomy. Conclusion: Adenoidectomy for management of Mondini dysplasia with recurrentmeningitis accompanied by adenoid hypertrophy, gave a good result with no recurrent meningitis afterthree years. Key words: Mondini dysplasia, adenoid hypertrophy, adenoidectomy, recurrent meningitis
POTENCY OF VINEGAR THERAPY IN OTOMYCOSIS PATIENTS Eman Sulaiman; Bambang Purwanto; Lina Lasminingrum; Yussy Afriani Dewi; Sally Mahdiani
Journal of Medicine and Health Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v1i2.509

Abstract

Otomycosis is an outer ear canal infection caused by fungi. Clinicians are trying to find out the most effective antifungal drug for treating otomycosis. Traditionally Apple cider vinegar has been used for the treatment of various diseases, including antifungal.The high cost in otomycosis treatment effort, long duration of treatment, high recurrence rate, and the difficulty in the application of drugs in the otomycosis treatment have encouraged the researcher to do this study. Having evaluated  the improvement of clinical symptoms, otoscopy view and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar therap, this study uses descriptive study design of four otomycosis patients in the ORL HNS outpatient clinic of Hasan Sadikin Hospital Bandung from July to August 2014. Having evaluated a clinical symptoms improvement, it is found out that there is an increase of otoscopy view and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar. In other words, there is an Improvement of clinical symptoms, otoscopy view, and examination of KOH 10% in patients receiving apple cider vinegar therapy. Topical apple cider vinegar therapy gives a good result in the improvement of clinical symptom,otoscopy view, and examination of KOH 10% in otomycosis  patients. Keywords: otomikosis, sign and symptoms improvement, apple cider vinegar.
Evaluasi Pendengaran Pasien Pascatindakan Miringoplasti Berdasarkan Gambaran Audiometri Nada Murni di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Anggie Mutmainnah; Arif Dermawan; Lina Lasminingrum
Journal of Medicine and Health Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v3i1.3171

Abstract

Gendang telinga atau membran timpani merupakan membran di antara telinga luar dantelinga tengah. Membran ini sangat berperan dalam proses pendengaran. Apabila terjadikerusakan pada membran,timpani, maka fungsi pendengaran seseorang akan terganggu.Miringoplasti adalah prosedur rekonstruksi perforasi membran timpani dengan menggunakantandur pada telinga dengan rantai tulang pendengaran utuh, gerak baik, dan tidak terdapat jaringanpatologik di dalam telinga tengah. Miringoplasti bertujuan memperbaiki fungsi pendengaran danmencegah infeksi berulang ke telinga tengah dan telinga dalam. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui karakteristik dan peningkatan ambang pendengaran penderita membran timpaniperforasi pascatindakan miringoplasti berdasarkan gambaran audiometri nada murni pada pasienOMSK tanpa kolesteatoma di Poli THT-KL RSHS Bandung periode 1 Januari 2012-31 Desember2016. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dari pasien yang telah menjalani miringoplasti.Terdapat 285 kasus baru perforasi membran timpani; laki-laki 153 (53,7 %), perempuan 132 (46,3%), sebanyak 169 (59,3%) pasien didapatkan peningkatan ambang dengar sebesar 10,1 dB - 20dB, mencapai ambang dengar normal sebanyak 249 (87,4%) pasien, dan penutupan perforasisebanyak 254 (89,1%) pasien. Simpulan penelitian ini didapatkan peningkatan pendengaran yangbaik pasca tindakan miringoplasti pada perforasi membran timpani tanpa kelainan yang lain. Kata kunci: Perforasi membran timpani, miringoplasti, peningkatan ambang dengar.