Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Survei Pengetahuan Dokter Spesialis terhadap Penggunaan Opiat pada Tatalaksana Nyeri Kanker di Rumah Sakit Pemerintah, Jakarta, 2017 INDRAYANI, LENNY; SETIABUDY, RIANTO; SOETIKNO, VIVIAN; IRAWAN, COSPHIADY
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.236 KB)

Abstract

Treatment of cancer pain often requires opioids, and morphine is a gold standard in the management of severe cancer pain. Inadequate knowledge of cancer pain management causes opioid usage is not optimal. Indonesia is one of the countries with very low opioid consumption. The purpose of this study was to find out the physician’s knowledge about the management of cancer pain in choosing opioid, administration, doses, side effects, addiction and factors of opioid that barrier in pain management. This cross-sectional study was conducted in General Hospital Jakarta and a Private Hospital in Tangerang. Inclusion criteria were medical specialist who treating cancer pain. This study used questionnaires that filled out by respondents and confidential. Score of adequate knowledge was ≥ 70, and to assess the relationship between knowledge of opioid use with specialization analyzed by Chi-square test and Fisher’s exact if Chi-square requirement is not fulfilled. Statistical analysis was performed by SPSS version 20. From a total of 146 distributed questionnaires, we received 103 questionnaires (70,5%). In this study, the majority of respondents (69,9%) had inadequate knowledge. The highest rate (70,55) was found in the choosing opioid section, while the lowest rate (49,5) was found in the opioid side effects section. There is no significant relationship between physician knowledge on opioid usage and specialization (P= 0,355). Government regulation is major obstacle to opioid use, followed by lack of training, drug availability and knowledge of side effects ABSTRAK Penatalaksanaan nyeri kanker sering kali membutuhkan opiat dengan morfin sebagai gold standard menurut panduan WHO analgesic step ladder . Pengetahuan penalaksanaan nyeri kanker yang kurang menyebabkan penggunaan opiat yang tidak optimal. Indonesia merupakan salah satu negara dengan konsumsi opiat yang sangat rendah. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dokter mengenai penanganan nyeri kanker dalam pemilihan opiat, cara pemberian, dosis, efek samping, dan adanya adiksi, serta faktor-faktor yang menjadi penghambat pada penanganan nyeri kanker. Desain penelitian ini merupakan survei potong lintang ( cross sectional ) yang dilakukan terhadap dokter spesialis yang menangani nyeri kanker di Rumah Sakit Umum Pemerintah Jakarta dan salah satu rumah sakit swasta di Tangerang. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang diisi responden dan bersifat rahasia. Pengetahuan dianggap baik bila nilai ≥ 70. Sedangkan untuk menilai hubungan antara pengetahuan tentang penggunaan opiat dengan bidang spesialisasi dokter dianalisis dengan uji Chi-square . Hasil statistik dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 20. Dari total 146 kuesioner yang didistribusikan, didapatkan 103 kuesioner (70,5%) yang direspons. Pada penelitian ini, mayoritas responden (69,9%) mempunyai pengetahuan yang tidak adekuat. Rerata tertinggi didapatkan pada bagian pemilihan opiat 70,55; sedangkan rerata terendah didapatkan pada bagian efek samping opiat, yaitu 47,56. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dokter tentang penggunaan opiat dengan bidang spesialisasi (P= KORESPONDENSI: Lenny Indrayani Departemen Farmakologi dan Terapeutik, Universitas Indonesia. Email: lenny3ma@gmail.com Indonesian Journal of Cancer Vol. 11, No. 4 October - December 2017160 0,355). Regulasi pemerintah merupakan penghambat utama pada penggunaan opiat, disusul dengan kurangnya pelatihan, ketersediaan obat dan pengetahuan tentang efek samping.
Evaluation of Kidney Injury Molecule-1 (KIM-1) and Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin (NGAL) Urinary Levels for Detecting Kidney Dysfunction in Patients With Nasopharyngeal Cancer Treated With Cisplatin-Based Treatment Rejeki, Marliana Sri; Arozal, Wawaimuli; Setiabudy, Rianto; Atmakusuma, Djumhana
Indonesian Journal of Cancer Vol 12, No 2 (2018): April-June
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.677 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v12i2.581

Abstract

Background: Cisplatin has a potency of causing nephrotoxicity. Serum BUN and creatinine levels have been well-known for detecting kidney dysfunction; while KIM-1 and NGAL urine levels are relatively new measurements. The study was aimed to evaluate urinary KIM-1 and NGAL level to detect kidney dysfunction in patients with advanced stage NPC who received cisplatin-based chemotherapy.Methods: The study was a cohort-prospective study with 3 subject groups, i.e. patients who had never received and who had received 75-100 mg/m2 cisplatin-based chemotherapy as well as those who had never received 40 mg/m2 cisplatin-based chemotherapy. The levels of urinary KIM-1, NGAL and serum level of BUN and creatinine were measured before and after receiving cisplatin. Statistical analyses were ANOVA, Pearson, Spearman, Kolmogorov-Smirnov test and SPSS version 22.0.Result: There was a significant difference of delta BUN level (p=0.0001) and delta urinary NGAL level (p = 0.025) before and after treatment in all three groups; while delta KIM-1 level showed no significant difference in all three groups (p=0.275). Cisplatin may cause accumulated nephrotoxicity, which has dose-dependent manner.Conclusion: Measuring urinary NGAL level can detect an early stage of kidney dysfunction; however, it still cannot replace the role of BUN. Measurement of urinary KIM-1 level cannot detect kidney dysfunction.
The Role of Melatonin in Improving Hypoxia in Malignant Tumor: A Mini-Review Kartini, Diani; Taher, Akmal; Panigoro, Sonar S.; Setiabudy, Rianto; Jusman, Sri W; Haryana, Sofia M; Abdullah, Murdani; Rustamadji, Primariadewi
The New Ropanasuri Journal of Surgery Vol. 4, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Comparison of Light Transmission Aggregometry and VerifyNow in Detecting Clopidogrel Resistance and Factors Affecting Clopidogrel Resistance in AMI-EST Patients Undergoing Percutaneous Coronary Intervention: A Cross-Sectional Study Astuti Giantini; Ina Susianti Timan; Erlin Listiyaningsih; Rahajuningsih Dharma; Rianto Setiabudy; Idrus Alwi; Lia Gardenia Partakusuma; Nuri Dyah Indrasari; Alida Roswita Harahap; Siskawati Suparmin; Windy Sahar; Renan Sukmawan
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i2.1477

Abstract

BACKGROUND: Light transmission aggregometry (LTA) and VerifyNow is commonly used to measure platelet responsiveness to clopidogrel. This study aimed to compare the results of LTA and VerifyNow P2Y12 assay for assessing the clopidogrel resistance in patients undergoing percutaneous coronary intervention and determine factors affecting clopidogrel resistance.METHODS: The subjects were 119 patients who underwent percutaneous coronary intervention (PCI) and had given loading dose of 600 mg clopidogrel. Blood samples were taken at 6 hour after clopidogrel loading dose. Platelet aggregation was measured by LTA and VerifyNow.RESULTS: LTA and VerifyNow assay showed fair agreement with Kappa=0.270, p=0.001. The proportion of resistance to clopidogrel using VerifyNow was 21.8% and LTA was 47.1%. Patients with diabetes melitus were more likely to develop clopidogrel resistance than patients without diabetes (OR of 7.67; 95% CI: 1.87-31.50; p=0.005).CONCLUSION: The ability of LTA and VerifyNow in detecting clopidogrel resistance were not comparable. Multivariate analysis results for VerifyNow shows diabetes mellitus as the greatest predictors of clopidogrel resistance.KEYWORDS: agreement, clopidogrel resistance, LTA, predictor, VerifyNow 
Model Skoring Untuk Memprediksi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi 0-6 Bulan Harapan Parlindungan Ringoringo; Iskandar Wahidiyat; Bambang Sutrisna; Rahayuningsih Setiabudy; Rulina Suradi; Rianto Setiabudy; Saptawati Bardososono
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.338-44

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. DataSKRT tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%. Belum dijumpai pemeriksaanlaboratorium sederhana yang dapat memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulan menderita ADB.Tuj uan. Mencari model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Ada 211 bayi yangikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengananemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, sTfR dilakukan saat bayi berusia 0bulan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari,<11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) gambaran darah tepi mikrositik dan atauhipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6)Indeks RDW >220.Hasil. Faktor risiko terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan adalah diet ibu dan jenis kelamin bayi. Berdasarkanfaktor risiko dibuat model skoring dan klasifikasi risiko untuk memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulanakan menderita ADB atau tidak.Kesimpulan. Model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan dapat digunakan untukdeteksi dini ADB. (
Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan Harapan Parlindungan Ringoringo; Iskandar Wahidiyat; Bambang Sutrisna; Rahayuningsih Setiabudy; Rulina Suradi; Rianto Setiabudy; Sapatawati Bardososono
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.163-70

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%.Tujuan. Mengetahui berapa insidens defisiensi besi dengan atau tanpa anemia, dan kapan mulai terjadi deplesi besi atau defisiensi besi sebelum terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Di antara 211 bayi yang ikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6) Indeks RDW >22,0. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% untuk usia 0-1 bulan, ST <16% untuk usia 2-6 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 28,0, 27,0, dan 40,8%; artinya 95,8% bayi mempunyai status besi bermasalah. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan, berturut-turut 9,5, 14,2, dan 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan. Suplementasi zat besi elemental dengan dosis 1 mg/kg/hari hendaknya diberikan pada semua bayi aterm sejak lahir.
Soy isoflavone supplementation increases equol-producing capability in postmenopausal women with osteopenia Elly Herwana; Rianto Setiabudy; Sidartawan Soegondo; Ali Baziad; Adi Hidayat
Universa Medicina Vol. 31 No. 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2012.v31.120-130

Abstract

Background Isoflavone containing soy protein has been associated with beneficial health effects. Equol, a gut bacterial metabolite of the isoflavone daidzein, has been hypothesized to be the cause of the effectiveness of isoflavones. The objective of this study was to evaluate the effect of 100 mg/day soy isoflavone supplementation for 3 months on the ability to produce equol in postmenopausal women with osteopenia.MethodA pre-post experimental study was conducted to assess the effects of 100 mg/day soy isoflavone supplementation on equol production capability and the proportion of equol producers to non-equol producers in postmenopausal women with osteopenia. A total of 39 subjects received 1 supplement tablet containing 100 mg soy isoflavones (genistein, daidzein) for 3 months. Determination of serum genistein, daidzein, and equol concentrations was performed twice at baseline and at 3 months post-supplementation using high-performance liquid chromatography mass spectrophotometry (HPLC-MS). Equol producer status was determined by the detection of a serum equol concentration of 5 µg/L.Results Mean genistein and daidzein concentrations at baseline were 86.2 ± 68.4 ìg/L and 16.7 ± 18.6 ìg/L, respectively. The proportion of equol producers was 69.2%. After 3 months of soy isoflavone supplementation the serum concentrations of genistein and daidzein significantly increased to 161.0 ± 5.8 ìg/L (p=0.000) and 49.9 ± 40.4 ìg/L (p=0.000), respectively, and the proportion of equol producers also significantly increased (100.0%).ConclusionSoy isoflavone supplementation was capable of increasing the serum concentrations of isoflavones (genistein and daidzein) and the equol-producing capacity of postmenopausal women with osteopenia.
Profile of D-dimer in Uncomplicated Pregnancy: Profile D-dimer Kehamilan tanpa Komplikasi Rahajuningsih Dharma; Mercy T. Panjaitan; Kanadi Sumapradja; Rianto Setiabudy
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 7 No. 4 October 2019
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.527 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v7i4.1065

Abstract

Abstract Objective: To obtain the profile of D-dimer in uncomplicated pregnancy. Methods: A cross sectional study was done on 90 uncomplicated pregnant women consisted of 30 women in each trimester and 30 healthy, nonpregnant women as control group from July to August 2012. D-dimer level was measured by particle enhanced immunoturbidimetry method using Innovance D-dimer and Sysmex CA 1500 in the Department of Clinical Pathology, Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Results: All women in the control group showed normal D-dimer level (<0.,5 mg/L FEU). The median and range of D-dimer level in the 1st trimester, 2nd trimester, and 3rd trimester were 0.42 mg/L FEU and 0.1-1.07 mg/L FEU, 0.97 mg/L FEU and 0.6-3.34 mg/L FEU, and 1.56 mg/L FEU and 0.69-3.75 mg/L FEU, respectively. Increased D-dimer level was found in 27% of pregnant women in 1st trimester, 87% in 2nd trimester, and 100% in 3rd trimester. Conclusion: Increased D-dimer level was found in 27% of pregnant women in 1st trimester, 87% in 2nd trimester, and 100% in 3rd trimester. The range of D-dimer level in the 1st trimester was 0.1-1.07 mg/L FEU, in the 2nd trimester was 0.6-3.34 mg/L FEU, and in the 3rd trimester was 0.69-3.75 mg/L FEU. Keywords: D-dimer, trimester, uncomplicated pregnancy Abstrak Tujuan : Untuk mendapatkan profil D-dimer pada kehamilan tanpa komplikasi. Metode : Penelitian potong lintang dilakukan pada 90 perempuan hamil tanpa komplikasi yang terdiri atas 30 perempuan pada tiap trimester dan 30 perempuan sehat yang tidak hamil, sebagai kelompok kontrol dari bulan Juli sampai Agustus 2012. Kadar D-dimer diukur dengan cara particle enhanced immunoturbidimetry menggunakan reagen InnovanceÃ’ D-dimer dan koagulometer SysmexÃ’ CA 1500 di Deparemen Patologi Klinik, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Hasil: Seluruh perempuan dalam kelompok kontrol mempunyai kadar D-dimer dalam batas normal (<0.,5 mg/L FEU). Median (rentang) kadar D-dimer pada trimester pertama, kedua, dan ketiga berturut-turut 0.42 mg/L FEU (0.1-1.07 mg/L FEU), 0.97 mg/L FEU (0.6-3.34 mg/L FEU), dan 1.56 mg/L FEU (0.69-3.75 mg/L FEU). Peningkatan kadar D-dimer ditemukan pada 27% perempuan hamil trimester pertama, 87% trimester kedua, dan pada 100% trimester ketiga. Kesimpulan: Peningkatan kadar D-dimer ditemukan pada 27% perempuan hamil trimester pertama, 87% trimester kedua dan 100% pada trimester ketiga. Rentang kadar D-dimer level pada trimester pertama adalah 0.1-1.07 mg/L FEU, pada trimester kedua 0.6-3.34 mg/L FEU, dan pada trimester ketiga 0.69-3.75 mg/L FEU. Kata kunci: D-dimer, kehamilan tanpa komplikasi, trimester
Etika Kedokteran dalam Kerjasama Periklanan dengan Sponsor Rianto Setiabudy; Broto Wasisto; Bachtiar Husein
Jurnal Etika Kedokteran Indonesia Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Majelis Kehormatan Etik Indonesia PBIDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.666 KB) | DOI: 10.26880/jeki.v4i1.45

Abstract

Kerjasama antara dokter atau perhimpunan profesi dengan industri dalam upaya pengiklanan produk tertentu berpeluang cukup besar untuk menyebabkan dokter atau perhimpunan profesi masuk ke dalam kon ik kepentingan. Dalam kondisi demikian, para profesional medis ini harus berupaya maksimal untuk memberikan pesan edukasi kepada masyarakat, mempertahankan independensi, dan menjaga integritas profesi. Dalam kerjasama ini, dokter atau perhimpunan profesi tidak dibenarkan dalam bentuk apa pun ikut atau memberi kesan ikut mempromosikan suatu produk tertentu. Dokter atau perhimpunan profesi dibenarkan membuat iklan edukasi. Sponsor boleh menyatakan dukungannya terhadap pesan edukasi itu dalam tayangan terpisah dengan jedah waktu yang cukup sedemikian sehingga orang tahu bahwa itu pesan yang datang dari sponsor. Dokter dan perhimpunan profesi seyogyanya juga tidak boleh ikut tampil dalam promosi produk yang disamarkan sebagai diskusi kesehatan di televisi atau radio
Bullying (Perundungan) di Lingkungan Pendidikan Kedokteran Anna Rozaliyani; Broto Wasisto; Frans Santosa; R Sjamsuhidajat; Rianto Setiabudy; Pukovisa Prawiroharjo; Muhammad Baharudin; Ali Sulaiman
Jurnal Etika Kedokteran Indonesia Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Majelis Kehormatan Etik Indonesia PBIDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.152 KB) | DOI: 10.26880/jeki.v3i2.36

Abstract

Dalam lingkungan pendidikan kedokteran, bullying atau perundungan masih kerap terjadi. Korban perundungan umumnya peserta didik atau junior, sedangkan pelaku perundungan antara lain pendidik dan senior. Perundungan merupakan bentuk pelanggaran etik dasar dan hak asasi manusia, yang dapat berdampak buruk terhadap peserta didik, lingkungan kerja, maupun kualitas pelayanan kesehatan. Untuk itu diperlukan upaya komprehensif dengan menyertakan berbagai pihak terkait guna mencegah dan menghentikannya. Perbaikan kurikulum pendidikan yang mengutamakan prinsip kesetaraan dan etika kesejawatan, diharapkan dapat mencegah dan menghentikan tindakan perundungan secara bertahap dan sistematis.
Co-Authors Adi Hidayat Adi K Aman, Adi K Agus Setiyono Agustin Iskandar Ahmad Sulaeman Akmal Taher Ali Baziad Ali Baziad Ali Sulaiman Ali Sulaiman Ali Sulaiman Alida Harahap Alida Roswita Harahap Anna Rozaliyani Arini Setiawati Aru W Sudoyo Aryati Aryati Ascobat, Purwantyastuti Astuti Giantini Bachtiar Husein Bambang Sutrisna Bambang Sutrisna Bernardus Philippi Beti E. E Dewi, Beti E. E Beti Ernawati Dewi Broto Wasisto Broto Wasisto Cleopas Martin Rumende Cosphiadi Irawan COSPHIADY IRAWAN Daldiyono H Dalima A.W. Astrawinata Dewi Muliaty Diani Kartini Djajadiman Gatot Djumhana Atmakusuma Djumhana Atmakusuma, Djumhana Elly Herwana Erlin Listiyaningsih Fadlika Harinda Frans D. Suyatna Frans Santosa Frans Santosa Gayatri, Anggi Harapan Parlindungan Ringoringo Harapan Parlindungan Ringoringo Hardi Darmawan Harry Isbagio Harry Isbagyo, Harry Haryana, Sofia M Herdiman T. Pohan Hidayati, Anggi Puspa Nur Husniah Th-Akib I Dewa Gede Ugrasena Idrus Alwi Imam Effendi Ina Susianti Timan Indra Kusuma Indrasari, Nuri Dyah INDRAYANI, LENNY Inge A. Kristanti Instiaty, Instiaty Irawan Yusuf Iskandar Wahidiyat Iskandar Wahidiyat Iwan Darmansjah Jason Sriwijaya Johannes Hudiono Julitasari Sundoro Julitasari Sundoro Jusman, Sri W Kanadi Sumapradja Kato, Mitsuyasu Laurentius A. Lesmana LENNY INDRAYANI Leonard Nainggolan Lestari Rahayu Lia Gardenia Partakusuma Lina Lasminingrum Lisnawati Rachmadi Madoka Takeuchi Marliana Sri Rejeki Marulam M. Panggabean Masahiro Takeuchi Melva Louisa Mercy T. Panjaitan Muchtaruddin Mansyur Muhammad Baharudin Murdani Abdullah Murti Andriastuti, Murti Nafrialdi Nafrialdi Noviyantih, Noviyantih Nurul Akbar Nuzirwan Acang Nyoman Kertia Primariadewi Rustamadji Priyono, Harim Pukovisa Prawiroharjo Puteri, Meidi U. Putri, Pingkan Permata R Sjamsuhidajat Rahajuningsih Dharma Rahajuningsih Dharma Rahajuningsih Dharma Rahajuningsih Dharma Rahayuningsih Setiabudy Rahayuningsih Setiabudy Rejeki, Marliana Sri Renan Sukmawan Restuti, Ratna Dwi Riadi Wirawan Rikarni Rikarni Robby Zulkarnain Rulina Suradi Rulina Suradi Sapatawati Bardososono Saptawati Bardososono Saukani Gumay Septelia I. Wanandi Settrin Chenderawasi Sidartawan Soegondo Siskawati Suparmin Siti Hafilah Sjaifoellah Noer Soehartati Gondowiardjo Sonar Panigoro Suhendro Suhendro Suyanto Sidik Suyanto Sidik Tambunan L Tambunan, Tambunan L Toar J.M. Lalisang Unggul Budihusodo Vera Yuwono Vivian Soetikno Wahono Sumaryono Wardhani, Bantari W.K. Watanabe, Yukihide Wawaimuli Arozal Wibowo, Suryo Anggoro Kusumo Windy Sahar Yahdiana Harahap Yefta Moenadjat Zita Arieselia