Gazali Lembah
Faculty Of Education And Teacher Training, Tadulako University, Jalan Soekarno Hatta Km.9 Palu, Central Sulawesi, Indonesia.

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Penguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan (Studi Kasus Nilai Pendidikan Karakter dalam Gending Rare): Kajian Hermeneutika Gazali Gazali; Juniati Juniati; Moh. Tahir; Gusti Ketut Alit Suputra; Kadek Adi Mahera
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1552

Abstract

This study aims to identify the character education values contained in Gending Rare as well as to understand the meanings embedded within them. A qualitative method was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using Palmer’s hermeneutic approach to interpret the meanings found in the lyrics of Gending Rare, which include the songs Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, and Dadong Dauh. The findings indicate that the song Putri Cening Ayu contains six character education values, namely religiosity, discipline, hard work, curiosity, appreciation of achievement, and responsibility. This song conveys the values of Balinese family life, particularly the relationship between mother and child. The mother’s instruction to her child to take care of the house reflects emotional closeness and the teaching of responsibility. The song Juru Pencar presents seven character education values, including religiosity, discipline, hard work, appreciation of achievement, friendliness/communication, social care, and responsibility. It reflects the life of coastal communities in Bali who rely on fishing. Through its simple lyrics, the song conveys values of perseverance, cooperation, and environmental awareness. Meanwhile, the song Meong-Meong contains five character education values: religiosity, hard work, independence, environmental care, and responsibility. It conveys life lessons through the story of a cat trying to catch a mouse. Animal characters are used as metaphors to instill careful, reflective, and responsible thinking in children. The song Dadong Dauh contains six character education values, including religiosity, discipline, hard work, independence, environmental care, and responsibility. Its meaning portrays an elderly woman patiently caring for chickens as part of Balinese daily life. Through its simple narrative, the song conveys values of perseverance, attentiveness, and respect for the role of elders.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Gending Rare serta memahami makna yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan hermeneutika Palmer guna menafsirkan makna dalam syair Gending Rare, yang meliputi lagu Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, dan Dadong Dauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Putri Cening Ayu mengandung 6 nilai pendidikan karakter, di antaranya religius, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, dan tanggung jawab. Lagu ini mengandung makna kehidupan keluarga Bali yang sarat nilai, khususnya dalam hubungan antara ibu dan anak. Amanah ibu kepada anak untuk menjaga rumah mencerminkan kedekatan emosional sekaligus pembelajaran tanggung jawab. Lagu Juru Pencar memuat 7 nilai pendidikan karakter, termasuk religius, disiplin, kerja keras, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna kehidupan masyarakat pesisir Bali yang menggantungkan hidup pada aktivitas menjala ikan. Melalui syair sederhana, lagu ini menyampaikan nilai perjuangan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan. Sementara itu, lagu Meong-Meong mengandung 5 nilai pendidikan karakter, yakni religius, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna menyampaikan ajaran hidup melalui kisah seekor kucing yang berusaha menangkap tikus. Tokoh binatang digunakan sebagai metafora untuk menanamkan cara berpikir yang cermat, reflektif, dan bertanggung jawab. Lagu Dadong Dauh mengandung 6 nilai-nilai pendidikan karakter seperti religius, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Makna dalam lagu ini menggambarkan sosok nenek yang dengan sabar merawat ayam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Melalui kisah sederhana, lagu ini menyampaikan nilai ketekunan, perhatian, dan penghormatan terhadap peran orang tua.
Mengungkap Bentuk dan Fungsi Feminisme Liberal dalam Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais Gazali Gazali; Ulinsa Ulinsa; Iqlima Iqlima
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.889.249--263

Abstract

This research aims to describe the forms and functions of liberal feminism in the novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" by Hanum Salsabiela Rais. It employs a qualitative descriptive research design using the liberal feminist theory approach. The data is sourced from the 2015 edition of the novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" by Hanum Salsabiela Rais. Data collection is conducted through reading and note-taking techniques. Data analysis consists of three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data reduction is intended to sharpen, categorize, guide, and eliminate unnecessary data. Data presentation is carried out by grouping the data according to their respective sub-sections related to liberal feminism. The conclusion-drawing step is based on organizing information using inductive techniques. Based on the research findings, the forms and functions of liberal feminism are identified. The functions and forms of liberal feminism mutually support each other, particularly in the fields of politics, culture, economy, and society.  AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi feminisme liberal dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan teori feminisme liberal. Data bersumber   dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais cetakan tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca dan teknik catat. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dimaksudkan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan. Penyajian data dilakukan dengan mengelompokkan data sesaui dengan sub-babnya masing-masing yang berkaitan dengan feminisme liberal. Adapun langkah penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pengorganisasian informasi dengan menggunakan teknik induktif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bentuk dan fungsi feminisme liberal. Fungsi dan bentuk feminism liberal tersebut saling mendukung, yaitu bidang politik, budaya, ekonomi, dan sosial.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENULIS TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI BERBASIS AUDIOVISUAL MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII SMPN 1 WITA PONDA Arjia; Gazali; Yunidar; Agustan; Ulfah
JS (JURNAL SEKOLAH) Vol. 10 No. 3 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/rvz09c45

Abstract

Abstract: This study aims to develop audiovisual-based learning media for writing observational report texts using the inquiry method for eighth-grade students of SMPN 1 Wita Ponda and to test its validity, practicality, and effectiveness. The study used a research and development method with stages of needs analysis, design, development, validation, trial, and product revision. The research subjects included material experts, media experts, Indonesian language teachers, and eighth-grade students. The research instruments were validation sheets, practicality questionnaires, and pretest and posttest writing skills tests. Data were analyzed using quantitative descriptive analysis techniques, N-gain calculations, and paired t-tests. The results showed that the developed learning media were in the very valid and very practical categories. The effectiveness test showed a significant increase in students' writing skills with a moderate N-gain value and significant t-test results. Thus, audiovisual-based learning media with the inquiry method is feasible and effective for use in learning to write observational report texts in junior high schools. Keyword: Learning Media Development, Writing Report Texts, Inquiry Method   Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi berbasis audiovisual menggunakan metode inkuiri pada siswa kelas VIII SMPN 1 Wita Ponda serta menguji tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitasnya. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, validasi, uji coba, dan revisi produk. Subjek penelitian meliputi ahli materi, ahli media, guru bahasa Indonesia, dan siswa kelas VIII. Instrumen penelitian berupa lembar validasi, angket kepraktisan, serta tes pretest dan posttest keterampilan menulis. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif, perhitungan N-gain, dan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan berada pada kategori sangat valid dan sangat praktis. Uji efektivitas menunjukkan peningkatan signifikan keterampilan menulis siswa dengan nilai N-gain kategori sedang dan hasil uji t yang signifikan. Dengan demikian, media pembelajaran berbasis audiovisual dengan metode inkuiri layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran menulis teks laporan hasil observasi di SMP. Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Menulis Teks Laporan, Metode Inquiri  
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MATERI TEKS EKSPOSISI BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA KELAS V SDN SIUMBATU Nani Kurniawati Bansoe; Mohammad Tahir; Gazali
JS (JURNAL SEKOLAH) Vol. 10 No. 3 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/hz4hr717

Abstract

Abstract: This study aims to develop Indonesian language teaching materials on exposition texts based on local wisdom for fifth-grade students of SDN Siumbatu and to examine their feasibility, practicality, and effectiveness. The study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, which consists of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The research subjects were 30 fifth-grade students in the 2025/2026 academic year. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, expert validation, and pretest–posttest assessments. The material expert validation result reached 86% and the media expert validation reached 84%, both categorized as highly feasible. Students’ responses showed an average percentage of 89% in the very good category. The effectiveness analysis indicated an increase in the mean score from 62.40 in the pretest to 83.20 in the posttest, with an N-Gain score of 0.55 categorized as moderate. These findings demonstrate that the developed local wisdom-based exposition text teaching materials are feasible, practical, and effective in improving elementary students’ exposition writing skills. The integration of local wisdom makes learning more contextual, meaningful, and relevant to students’ daily lives. Keyword: teaching materials, exposition text, local wisdom, elementary school, ADDIE model Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar pembelajaran Bahasa Indonesia materi teks eksposisi berbasis kearifan lokal pada siswa kelas V SDN Siumbatu serta menguji kelayakan, kepraktisan, dan efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Subjek penelitian adalah 30 siswa kelas V tahun ajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, validasi ahli, serta tes pretest dan posttest. Hasil validasi ahli materi memperoleh persentase 86% dan ahli media 84% dengan kategori sangat layak. Respon siswa terhadap penggunaan bahan ajar menunjukkan persentase rata-rata 89% dengan kategori sangat baik. Hasil analisis efektivitas menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 62,40 pada pretest menjadi 83,20 pada posttest dengan nilai N-Gain sebesar 0,55 yang berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa bahan ajar teks eksposisi berbasis kearifan lokal yang dikembangkan layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi siswa sekolah dasar. Integrasi kearifan lokal dalam bahan ajar menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kehidupan siswa. Kata Kunci: bahan ajar, teks eksposisi, kearifan lokal, sekolah dasar, model ADDIE  
Kritik Sosial dalam Novel Padang Bulan Karya Andrea Hirata (Kajian Sosiologi Sastra Sastra) Ulinsa Ulinsa; Gazali Lembah; Yunidar Nur; Nuraedah Nuraedah; Nur Fadilah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6058

Abstract

The disclosure of literary criticism on the novel by Andrea Hirata does not merely look at it clearly. Still, it refers to the social aspect as an outline of the conflict in the storyline. The study aims to reveal and describe the social criticism forms in the novel Padang Bulan by Andera Hirata using the sociology of literature study. The method used in this research is descriptive method and this type of research is qualitative research. The results of the analysis of this study indicate that there are five social criticisms in the novel Padang Bulan, such as moral criticism, political criticism, educational criticism, economic criticism, and cultural criticism. AbstrakPengungkapan kritik sastra pada novel karta Andrea Hirata tidak semata-mata hanya melihat secara gamblang, melainkan berpatokan pada aspek sosial sebagai garis besar konflik pada alur cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial dalam novel Padang Bulan karya Andera Hirata menggunakan kajian sosiologi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima kritik sosial dalam novel Padang Bulan, yaitu kritik moral, kritik politik, kritik pendidikan, kritik ekonomi, dan kritik kebudayaan.
The Ecology of Kaili Oral Literature in Narrative and Non-Narrative Form in Dolo District, Sigi Regency Gazali Gazali; Syamsuddin Syamsuddin; Agustan Agustan; Ade Nurul Izatti; Fadillah Fadillah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8465

Abstract

Indonesia possesses a rich tradition of oral literature that reflects local culture and indigenous wisdom, with regional languages serving as inherited cultural identities across generations. One of these traditions is the Kaili oral literature in the Ledo dialect, which is actively preserved in Dolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi. This study aims to examine the forms and ecological meanings of Kaili oral literature, both narrative and non-narrative, and to document its role in preserving local cultural and environmental knowledge. Using a literary ecology approach, this study analyzes the relationship between culture and environment as represented in oral traditions, focusing on how human interactions with nature, social life, and spiritual beliefs are encoded in oral expressions. The data were analyzed qualitatively to identify linguistic forms, symbolic meanings, and ecological values embedded in legends, myths, customary expressions, poems, and folk songs. The findings show that Kaili oral literature comprises narrative forms (legends and myths) and non-narrative forms (customary expressions, poetry, and folk songs), all of which embody ecological values such as environmental ethics, respect for nature, social harmony, and spiritual balance. Narrative texts emphasize human–nature–spiritual relationships through symbolic events, while non-narrative texts function as moral guidance, social regulation, and ecological awareness in daily life. Kaili oral literature serves not only as cultural heritage but also as a medium of ecological education that reinforces the interconnectedness between humans and the environment. Abstrak Indonesia memiliki kekayaan tradisi sastra lisan yang mencerminkan budaya dan kearifan lokal, dengan bahasa daerah sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu di antaranya adalah sastra lisan Kaili dialek Ledo yang berkembang di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk dan makna ekologis sastra lisan Kaili, baik dalam bentuk naratif maupun non-naratif, serta mendokumentasikan perannya dalam pelestarian pengetahuan budaya dan lingkungan masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekologi sastra untuk menganalisis hubungan antara budaya dan lingkungan sebagaimana tercermin dalam tradisi lisan. Analisis difokuskan pada bentuk linguistik, makna simbolik, serta nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam legenda, mitos, ungkapan adat, syair, dan nyanyian rakyat. Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi pola representasi hubungan manusia dengan alam, sosial, dan spiritual dalam tradisi lisan Kaili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra lisan Kaili terdiri atas bentuk naratif (legenda dan mitos) serta non-naratif (ungkapan adat, syair, dan nyanyian rakyat) yang sama-sama mengandung nilai ekologi. Sastra lisan naratif menekankan relasi manusia, alam, dan spiritual melalui simbolisasi peristiwa dan tokoh, sedangkan sastra lisan non-naratif berfungsi sebagai media pendidikan moral, pengendalian sosial, dan penanaman kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Sastra lisan Kaili tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan ekologis yang menegaskan keterhubungan manusia dengan lingkungan dan semesta.
Mitologi Burung Bonyia Kas di Kabupaten Banggai: Kajian Semiotika Roland Barthes Eri Hermawansa; Gazali Gazali; Juniati Juniati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8453

Abstract

This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings contained in the mythology of the Bonyia Kas Bird in Banggai Regency through Roland Barthes' semiotic study. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were obtained through in-depth interviews with community leaders and informants who understand the mythology of the Bonyia Kas Bird, and supported by documentation of oral stories that have developed in the community. The data analysis technique was carried out by classifying the data into three stages of meaning, namely denotation, connotation, and myth in accordance with Roland Barthes' semiotic theory. The results of the study show that at the denotative level, the Bonyia Kas Bird is understood as a bird figure that has physical characteristics resembling an eagle and is known through its sound as a certain marker. At the connotative level, the Bonyia Kas Bird is interpreted as a symbol of warning, caution, and a moral message for the community in carrying out daily activities. Meanwhile, at the mythical level, the Bonyia Kas Bird functions as a cultural sign system that represents the relationship between humans, nature, and God's power, and is part of the identity and local wisdom of the Banggai community. This research confirms that the mythology of the Bonyia Kas Bird serves not only as a traditional story but also as a means of transmitting social and cultural values that are still believed today. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam mitologi Burung Bonyia Kas di Kabupaten Banggai melalui kajian semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan informan yang memahami mitologi Burung Bonyia Kas, serta didukung oleh dokumentasi cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Teknik analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data ke dalam tiga tahapan pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos sesuai dengan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, Burung Bonyia Kas dipahami sebagai sosok burung yang memiliki ciri fisik menyerupai burung elang dan dikenal melalui bunyinya sebagai penanda tertentu. Pada tataran konotatif, Burung Bonyia Kas dimaknai sebagai simbol peringatan, kehati-hatian, serta pesan moral bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara itu, pada tataran mitos, Burung Bonyia Kas berfungsi sebagai sistem tanda budaya yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan kekuasaan Tuhan, serta menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Banggai. Penelitian ini menegaskan bahwa mitologi Burung Bonyia Kas tidak hanya berfungsi sebagai cerita tradisional, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai sosial dan budaya yang masih diyakini hingga saat ini.
Mengungkap Bentuk, Makna, dan Fungsi Ritual Vunja: Upaya Pemertahanan Kearifan Lokal Masyarakat Pantolobe Gazali Gazali; Fendi Eko Widodo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6071

Abstract

The study that uses descriptive qualitative method with hermeneutic approach aims to reveal the form, significance, and function of the "vunja" ritual. The result shows that there are eight forms of the ritual, such as molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, and patompo manu. We discovered that vunja rituals have two significant meanings, verbal and nonverbal symbols. Whereas, we also discovered the significance of the rituals as (1) a sign of respect for the ancestor who bestowed a bountiful harvest, (2) an offering to the ancestor in the hope of future harvests, (3) a forum mutual cooperation of the local community for the swift implementation of the vunja ritual, and (4) a means for the vunja community members to interact with one another. AbstrakPenelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik ini bertujuan untuk mengungkap bentuk, makna, dan fungsi ritual vunja. Hasil penelitian menyimpulkan bentuk ritual vunja terdiri atas delapan tahapan, yaitu molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, dan patompo manu. Makna yang terkandung dalam ritual vunja adalah makna simbol verbal dan makna simbol nonverbal. Sementara itu, fungsi ritual vunja adalah (1) sebagai bentuk penghargaan kepada nenek moyang yang telah memberikan hasil panen yang berlimpah, (2) bentuk persembahan dengan harapan diberikan hasil yang lebih baik lagi pada musim tanam berikutnya, (3) wadah gotong royong masyarakat setempat untuk kelancaran pelaksanakan ritual vunja, dan (4) wadah menjalin interaksi antara masyarakat yang melaksanakan vunja dengan kerabat yang datang dari desa lain.
Representation of Language Functions in Habiburrahman El Shirazy’s Novel Pudarnya Pesona Cleopatra Bela Audy Hayati; Gazali; Pratama Bayu Santosa; Agustan
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 13 No. 2 (2025): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v13i2.6759

Abstract

This research aims to outline the language roles found in the novel "Pudarnya Pesona Cleopatra" by Habiburrahman El Shirazy. The study utilized qualitative descriptive research employing content analysis methods. The researcher focused this study by using Roman Jakobson's theory of language functions, which proposes that language functions consist of six functions: referential, emotive, poetic, phatic, conative, and metalingual functions. The data source for this study was obtained from the novel Pudarnya Pesona Cleopatra by Habiburrahman El Shirazy, the 27th edition published by Republika Publisher in 2019. Data collection in this study used reading and note-taking techniques. The results of this study indicate that there are six language functions in the novel Pudarnya Pesona Cleopatra by Habiburrahman El Shirazy. The total data included in these six functions amounted to 212 data points. The dominant language functions are the emotive function with 87 data points and the referential function with 77 data points.
Penguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan (Studi Kasus Nilai Pendidikan Karakter dalam Gending Rare) : Kajian HermeneutikaPenguatan Wawasan Lokal Masyarakat Bali di Daerah Perantauan: Kajian Hermeneutika Gazali Gazali; Juniati Juniati; Moh. Tahir; Gusti Ketut Alit Suputra; Kadek Adi Mahera
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1544

Abstract

This study aims to identify the character education values contained in Gending Rare as well as to understand the meanings embedded within them. A qualitative method was used, with data collected through observation, interviews, and documentation. The data were analyzed using Palmer’s hermeneutic approach to interpret the meanings found in the lyrics of Gending Rare, which include the songs Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, and Dadong Dauh. The findings indicate that the song Putri Cening Ayu contains six-character education values, namely religiosity, discipline, hard work, curiosity, appreciation of achievement, and responsibility. This song conveys the values of Balinese family life, particularly the relationship between mother and child. The mother’s instruction to her child to take care of the house reflects emotional closeness and the teaching of responsibility. The song Juru Pencar presents seven-character education values, including religiosity, discipline, hard work, appreciation of achievement, friendliness/communication, social care, and responsibility. It reflects the life of coastal communities in Bali who rely on fishing. Through its simple lyrics, the song conveys values of perseverance, cooperation, and environmental awareness. Meanwhile, the song Meong-Meong contains five-character education values: religiosity, hard work, independence, environmental care, and responsibility. It conveys life lessons through the story of a cat trying to catch a mouse. Animal characters are used as metaphors to instill careful, reflective, and responsible thinking in children. The song Dadong Dauh contains six-character education values, including religiosity, discipline, hard work, independence, environmental care, and responsibility. Its meaning portrays an elderly woman patiently caring for chickens as part of Balinese daily life. Through its simple narrative, the song conveys values of perseverance, attentiveness, and respect for the role of elders. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Gending Rare serta memahami makna yang terdapat di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan hermeneutika Palmer guna menafsirkan makna dalam syair Gending Rare, yang meliputi lagu Putri Cening Ayu, Juru Pencar, Meong-Meong, dan Dadong Dauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Putri Cening Ayu mengandung 6 nilai pendidikan karakter, di antaranya religius, disiplin, kerja keras, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, dan tanggung jawab. Lagu ini mengandung makna kehidupan keluarga Bali yang sarat nilai, khususnya dalam hubungan antara ibu dan anak. Amanah ibu kepada anak untuk menjaga rumah mencerminkan kedekatan emosional sekaligus pembelajaran tanggung jawab. Lagu Juru Pencar memuat 7 nilai pendidikan karakter, termasuk religius, disiplin, kerja keras, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna kehidupan masyarakat pesisir Bali yang menggantungkan hidup pada aktivitas menjala ikan. Melalui stair sederhana, lagu ini menyampaikan nilai perjuangan, kebersamaan, dan kesadaran lingkungan. Sementara itu, lagu Meong-Meong mengandung 5 nilai pendidikan karakter, yakni religius, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Lagu ini mempunyai makna menyampaikan ajaran hidup melalui kisah seekor kucing yang berusaha menangkap tikus. Tokoh binatang digunakan sebagai metafora untuk menanamkan cara berpikir yang cermat, reflektif, dan bertanggung jawab. Lagu Dadong Dauh mengandung 6 nilai-nilai pendidikan karakter seperti religius, disiplin, kerja keras, mandiri, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Makna dalam lagu ini menggambarkan sosok nenek yang dengan sabar merawat ayam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Melalui kisah sederhana, lagu ini menyampaikan nilai ketekunan, perhatian, dan penghormatan terhadap peran orang tua.