Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI KANDUNGAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN YANG DIJUAL OLEH PENGEPUL IKAN SUNGAI DONAN CILACAP Jannati, Annisya Rahmadina; Wijaningsih, Wiwik; Setiadi, Yuwono
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.4334

Abstract

Background : According to the research results of Hernayanti (2006) the content of Cd heavy metals in waters and sendiments ranged between 0.14-1.03 ppm and 0.85-2.75 ppm, while the heavy metal content of Pb in water and successive metals ranging between 0.085-1.1 ppm and 11.3-18.5 ppm. Fish are creatures that are sensitive to pollution of heavy metals so they can be used as indicators of water pollution.Objective : The purpose of this study was to determine the lead content in layur fish, three waja fish, anchovy, mullet, and keeper fish which are sold in the Donan River Pengepul Cilacap. The method used in this study is descriptive analysis that is to determine the description of lead levels in these fish. Lead levels were tested using the SSA method (Atomic Absorption Spectrophotometry).Result : The test results of lead levels using the SSA (Atomic Absorption Spectrophotometer) method showed that of 5 fish samples sold by 5 collectors in the Donan River Cilacap, lead was detected with layur content 0.143 mg / kg, mullet fish 0.271 mg / kg, anchovy 0.309 mg / kg, three waja fish 0.412 mg / kg, and goalkeeper 0.640 mg / kg.Conclution : The conclusion of this study was detected the content of timbale in layur fish, three waja fish, anchovy, mullet, and keeper fish. The highest lead content exceeds the threshold that has been determined by SNI, namely in three waja fish and keeper fish.
Pemberian Jus Aloe Guava Terhadap Kadar Glukosa Darah Postprandial Suryaningrum, Septiani; Prihatin, Setyo; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol 1, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v1i2.76

Abstract

Background : Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease. The early symptoms of pre diabetes can be seen in hyperglycemia postprandial. The functional food such as aloe guava juice can be given to decrease postprandial blood glucose levels. Aloe guava juice contains a substance that can increase the pancreas to produce insulin response and contains soluble fiber which can block the absorption of glucose and decrease the absorption into the blood.Objective : Knowing the effects of aloe guava juice on postprandial blood glucose levels in Semarang Polytechnic students are provided with a meal.Method : This research is an experimental sample-series, with a total sample of 10 people. All subjects receive 2 times the treatment, the first treatment subjects was fed and then an interval of 1 week of feeding subjects treated with aloe guava juice with the same amount of carbohydrate that is 55.5 grams. Methods of measurement of fasting and postprandial glucose levels using a easy touch. Test paired T-test was used to analyze the effect of aloe guava juice on postprandial blood glucose levels.Results : Based on Paired T-test, there was no significant effect of aloe guava juice at minute 0 '(p = 0.834), the 30' (p = 0.566), the 60 '(p = 0.615) and the 120' (p = 0.511), but at minute 180 ' significant effect of aloe guava juice on the postprandial blood glucose levels was detected, (p = 0.012)Conclusion : The aloe guava juice has the potency to decrease postprandial blood glucose levels after three hours.
Faktor Determinan Kelelahan Kerja Pada Tenaga Penjamah Makanan di Instalasi Gizi RS Dr R Soetijono Blora Ekawati, Heni; Rahmawati, Ana Yuliah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v4i2.3265

Abstract

Latar Belakang: Tenaga penjamah makanan merupakan unsur yang sangat penting dalam pelayanan gizi rumah sakit, yaitu berperan dalam mengolah makanan dan menyajikan makanan yang bermutu kepada pasien. Kelelahan kerja ditandai dengan melemahnya tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan, sehingga meningkatkan kesalahan dalam bekerja.Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja tenaga penjamah makanan di instalasi gizi RS dr R Soetijono Blora.Metode: Menggunakan rancangan observasional dengan teknik total sampling dan jumlah sampel 16 orang. Analisa data yang digunakan adalah analisa bivariat dengan korelasi Pearson Product Moment  dan Rank Spearman. Analisa multivariat dengan Regresi Linier.Hasil: Ada hubungan antara tingkat kecukupan energi dengan kelelahan kerja (p=0,005), tidak ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja (p=0,899), tidak ada hubungan antara umur dengan kelelahan kerja (p=0,145), tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kelelahan kerja (p= 0,243), ada hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja (p= 0,011), tidak ada hubungan antara stres kerja dengan kelelahan kerja (p=0,054), faktor yang paling berpengaruh pada kelelahan kerja adalah faktor tingkat kecukupan energi dan beban kerja (p=0,001).Kesimpulan: Faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja adalah tingkat kecukupan energi dan beban kerja.
Daya Terima Mix Kefir Buah dan Kefir Susu Buah Wijaningsih, Wiwik; Sunarto, Sunarto; Wulandari, Desi
JURNAL RISET GIZI Vol 12, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i1.11414

Abstract

Latar belakang: Kefir adalah produk yang berbahan baku susu yang difermentasi dengan penambahan kefir grains yang merupakan hasil dari simbiosis dari bakteri asam laktat (BAL) dengan khamir. Kefir digolongkan sebagai pangan fungsional karena memiliki efek baik terhadap kesehatan, dan digolongkan makanan prebiotik karena pada kefir terdapat kandungan bakteri baik yang bermanfaat memperbaiki sistem mikroflora usus dan menghambat pertumbuhan patogen dalam usus. Tujuan: untuk mengetahui daya terima kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan merupakan  rancangan  acak  lengkap  (RAL).  Pembuatan produk kefir buah pada mix kefir buah dan kefir susu buah. Hasil: Terdapat perbedaan kesukaan aroma dari dua belas jenis kefir buah (p0.05). Skor kesukaan aroma terendah adalah Kefir susu naga 50 dan yang tertinggi adalah Kefir mangga 50. Selain itu, terdapat perbedaan Skor kesukaan viskositas (p0.05), skor kesukaan viskositas terendah kefir susu melon 30 dan tertinggi kefir mangga 50. Terdapat perbedaan Skor kesukaan rasa (p0.05), skor terendah kefir susu pisang 30 dan tertinggi kefir nanas 50. Ada perbedaan Skor kesukaan warna (p0.05). Skor kesukaan warna terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi kefir naga 50. Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan terendah kefir susu pisang 30 dan yang tertinggi Kefir mangga 50. Kesimpulan: Ada perbedaan Skor kesukaan secara umum (p0.05). Skor kesukaan secara umum  bervariasi mulai dari 3.3-4.4, skor kesukaan secara umum terendah adalah Kefir susu pisang 30 dan yang paling tinggi Kefir mangga 50
Formulasi Permen Jelly Daun Kelor Dan Jambu Biji Sebagai Alternatif SnackTinggi Zat Besi Dan Vitamin C Untuk Anak Dewi, Irma Anisa; Pertiwi, Estuasih Dyah; Fitriani, Fitriani; Rahmawati, Ana Yuliah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol 11, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i1.10784

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi ADB di negara berkembang mencapai 30%, termasuk Indonesia. Solusinya adalah dengan mengkonsumsi sumber Fe dan Vitamin C untuk membantu penyerapan. Permen jeli jambu biji dan daun kelor sebagai upaya pemanfaatan bahan pangan lokal kaya vitamin C dan Fe untuk jajanan anak usia 3-12 tahun.Tujuan: Mengetahui pengaruh formulasi jambu biji dan daun kelor terhadap kadar vitamin C, Fe, elastisitas, dan tingkat preferensi permen jelly sebagai alternatif snack tinggi vitamin C dan Fe.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dengan perbandingan jambu biji dan daun kelor, yaitu F1(0:0), F2(25:75), F3(50:50), dan F4 (75). :25). Kadar vitamin C menggunakan HPLC, kandungan zat menggunakan ICP-OES, kekencangan menggunakan metode TA-Texture Analyzer, dan tingkat kesukaan diuji oleh 15 orang panelis semi terlatih. Perbedaan kadar dan kekencangan vitamin C menggunakan ANOVA dan Duncan. Perbedaan kadar Fe dan tingkat kesukaan menggunakan Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.Hasil: kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada F2 (20,09mg/100g), kandungan Fe tertinggi terdapat pada F2 (0,94mg/100g), elastisitas tertinggi sebesar 1,57 Newton pada F1 sebagai kontrol, tingkat kesukaan tertinggi terdapat pada F1 sebagai kontrol. 3,76 berdasarkan warna, aroma, rasa, dan tekstur pada F3. Terdapat pengaruh yang nyata pada kadar vitamin C 28,4% dan kadar Fe 36,8%. Tidak terdapat pengaruh formulasi permen jelly terhadap kekenyalan, warna, aroma, rasa, dan tekstur.Kesimpulan: Pada F2 dapat menyumbang vitamin C terbesar yaitu 44,64% dari kebutuhan harian. F4 dapat menyumbangkan Fe terbesar yaitu 8,40% dari kebutuhan harian, namun tidak memenuhi 20% menurut AKG.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN TIMBAL (Pb) PADA IKAN YANG DIJUAL OLEH PENGEPUL IKAN SUNGAI DONAN CILACAP Jannati, Annisya Rahmadina; Wijaningsih, Wiwik; Setiadi, Yuwono
JURNAL RISET GIZI Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v2i2.4334

Abstract

Background : According to the research results of Hernayanti (2006) the content of Cd heavy metals in waters and sendiments ranged between 0.14-1.03 ppm and 0.85-2.75 ppm, while the heavy metal content of Pb in water and successive metals ranging between 0.085-1.1 ppm and 11.3-18.5 ppm. Fish are creatures that are sensitive to pollution of heavy metals so they can be used as indicators of water pollution.Objective : The purpose of this study was to determine the lead content in layur fish, three waja fish, anchovy, mullet, and keeper fish which are sold in the Donan River Pengepul Cilacap. The method used in this study is descriptive analysis that is to determine the description of lead levels in these fish. Lead levels were tested using the SSA method (Atomic Absorption Spectrophotometry).Result : The test results of lead levels using the SSA (Atomic Absorption Spectrophotometer) method showed that of 5 fish samples sold by 5 collectors in the Donan River Cilacap, lead was detected with layur content 0.143 mg / kg, mullet fish 0.271 mg / kg, anchovy 0.309 mg / kg, three waja fish 0.412 mg / kg, and goalkeeper 0.640 mg / kg.Conclution : The conclusion of this study was detected the content of timbale in layur fish, three waja fish, anchovy, mullet, and keeper fish. The highest lead content exceeds the threshold that has been determined by SNI, namely in three waja fish and keeper fish.
PELATIHAN PEMBUATAN KEFIR SUSU KACANG TANAH KACANG MERAH (SUKATAME) SEBAGAI PMT BALITA GUNA PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING UNTUK KADER DI KELURAHAN PEDURUNGAN TENGAH Hendriyani, Heni; Wijaningsih, Wiwik; Wulandari, Desi; Sintadewi Purbaningrum, Galuh
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1838-1843

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia anak. Di Indonesia, masalah stunting masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah yang memiliki akses terbatas terhadap gizi. Salah satu cara untuk mengatasi stunting adalah dengan memperkenalkan makanan tambahan yang bergizi tinggi dan mudah diakses oleh masyarakat. Kefir, produk fermentasi susu yang kaya akan prebiotik, protein, dan probiotik, memiliki manfaat besar untuk kesehatan, termasuk membantu penurunan stunting pada balita. Kefir susu kacang tanah kacang merah (Sukatame) merupakan inovasi yang menggabungkan manfaat kefir dengan kacang tanah dan kacang merah. Pelatihan pembuatan kefir susu kacang tanah kacang merah (Sukatame) dilakukan untuk kader di Kelurahan Pedurungan Tengah. Pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kader dalam memproduksi dan mengolah kefir sebagai makanan tambahan balita. Metode yang digunakan meliputi ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test untuk melihat peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pembuatan kefir sukatame, dengan rata-rata peningkatan skor pre-test dan post-test sebesar 3,6. Hasil uji hedonik terhadap produk kefir menunjukkan tingkat kesukaan yang tinggi dari para peserta. Pelatihan ini diharapkan dapat membantu percepatan penurunan stunting di wilayah Kelurahan Pedurungan Tengah dengan menyediakan makanan tambahan yang bergizi dan mudah diakses.
Pendampingan Penyusunan Siklus Menu dan Standar Porsi sebagai Upaya Pencegahan PTM di Pondok Pesantren Fitriani; Wijaningsih, Wiwik; Subandriani, Dyah Nur
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 4 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) Edisi September - Desembe
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i4.4135

Abstract

Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang mengharuskan para santrinya untuk mandiri dan tinggal menetap di pondok selama masa pendidikan. Pihak pondok pesantren berperan sebagai pengasuh dan keluarga bagi santri yang memperhatikan layanan sekolah dan kebutuhan santri. Salah satu kebutuhan santri yaitu pemenuhan kebutuhan gizi para santri, karena para santri melewati waktu makannya setiap hari dalam di dalam pondok pesantren. Penyediaan menu sehat dalam upaya pencegahan PTM tidak terlepas dari proses penyelenggaraan makanan yang baik dan harus memiliki pengetahuan mengenai siklus menu dan standar porsi yang tepat. Pengetahuan tentang siklus menu diperlukan dalam menyusun menu sehari-hari, sehingga konsumen tercukupi kebutuhan gizi dan tidak bosan mengonsumsinya. Pengetahuan cara pengolahan pangan yang baik diperlukan dalam memilih cara-cara pengolahan yang tepat, pemilihan bahan baku dan bahan tambahan untuk menghasilkan makanan yang bergizi dan aman, serta pengetahuan tentang standar porsi akan memberikan gambaran kebutuhan bahan pangan santri sehari-hari. Hasil dari kegiatan edukasi dan praktek penyusunan siklus menu dan standar porsi ini adalah peningkatan pengetahuan santri sebesar 19,5%; peningkatan keterampilan dengan tersusunnya siklus menu dengan variasi bahan pangan dan olahan yang baru oleh santri; dan dibagikan pula buku pendamping dengan kumpulan resep ke pihak pondok pesantren.
Pendampingan Pemberian Menu Sehat Dalam Upaya Pencegahan Ptm Di Pondok Pesantren Kecamatan Pedurungan Kota Semarang Fitriani, Fitriani; Wijaningsih, Wiwik; Nur Subandriani, Dyah
Journal of Comprehensive Science Vol. 2 No. 12 (2023): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v2i12.570

Abstract

Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang mengharuskan para santrinya untuk mandiri dan tinggal menetap di pondok selama masa pendidikan. Salah satu kebutuhan santri yaitu pemenuhan kebutuhan gizi para santri, karena para santri melewati waktu makannya setiap hari di pondok pesantren. Untuk dapat memenuhi hal tersebut perlu adanya pemberian menu sehat bagi para santri. Pemenuhan menu sehat dalam upaya pencegahan PTM (Penyakit Tidak Menular), makanan santri dipenuhi melalui penyelenggaraan makanan institusi yang dikelola dengan baik agar kebutuhan gizi para santri dapat tercukupi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Tujuan kegiatan ini adalah melaksanakan pendampingan pemberian menu sehat dalam upaya pencegahan PTM di pondok pesantren Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah tahap pre-test, edukasi dan pendampingan serta evaluasi dengan cara post-test. Sasaran kegiatan ini adalah penjamah makanan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas kota Semarang. Hasil kegiatan ini adalah terjadi perubahan pengetahuan penjamah makanan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas kota Semarang setelah diberikan edukasi dan pendampingan. Kegiatan ini memerlukan dukungan pihak pesantren dalam menciptakan penyelenggaraan makanan yang sehat dan aman sehingga santri memperoleh makanan sehat sesuai dengan kebutuhan gizinya.
Hubungan Perilaku Ibu dalam Pemberian Makan dan Tingkat Kecukupan Energi-Protein dengan Status Gizi Batita Usia 12-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Tersono Kabupaten Batang Yunaidah, Yunaidah; Wijaningsih, Wiwik
JURNAL RISET GIZI Vol. 1 No. 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v1i1.72

Abstract

Background: The situation at the time of malnourished infants is the result of not giving enough food to meet nutrient in terms of quality and quantity. Less energi and protein in infants may hinder growth, especially vulnerable to diseases and infectious diseases lead to low levels of intelligence.Objectives: To know the relationship between maternal behavior in feeding and energy-sufficiency level of protein in the nutritional status of toddlers aged 12-36 months in the working area health center Tersono Batang regency. Method: The scope of this research is the field of nutritional science community with a location in the working area of Batang regency Tersono Health Center, the research conducted in October-December 2009, this kind of research through a descriptive analytic cross-sectional approach for the dependent and independent variables were collected at the same time. population is aged 12-36 months toddler of 1021, with the number of sample 100 toddlers.Detemination samples taken at random samples using interval sampling. Analysis of the relationship between maternal behavior in the feeding with nutritional status of toddlers aged 12-36 months, the level of energy and protein adequacy with nutritional status of toddlers 12-36 months of age using Chi-Square test. Results: Maternal behavior in the feeding  a good of 63% and 37% less, the level of energy sufficiency for good 82% and 18% less, the level of protein adequacy for good 81% and less 19% and good nutritional status as many as 83% and 17% less.The relationship between maternal behavior in the feeding  and level of adequacy of nutritional status of energy-protein are significantly ststistik .Conclusions: There is a relationship between maternal behavior in feeding and energy-sufficiency level of protein nutritional status. Suggestions: Suggestions to improve of information about the behavior of mothers in feeding to specially cleaning of toddlers and  mothers.