Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : WACANA

MEMBINA KELUARGA HARMONIS DALAM MENCIPTAKAN MASYARAKAT MADANI Lilik, Salmah
Wacana Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.892 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i1.68

Abstract

Dalam pembangunan bangsa di era globalisasi ini Indonesia tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh dari negara-negara lain yang baik dibidang ekonomi, budaya, informasi, media massa, hiburan, barang, jasa, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dalam hal ini antara daerah atau negara satu dan lainnya adalah bagian dari perkembangan yang lebih luas, serta berhubungan satu sama lain. Dr. Suyatno Kartodirjo menyatakan bahwa dalam globalisasi prosesnya sedemikian kompleks dan cepat perkembangnnya yang dapat mendorong perubahan ide-ide, lembaga-lembaga, pranata-pranata dan nilai-nilai social budaya. Adapun dampak globalisasi termasuk pula dalam perubahan perilaku, gaya hidup, struktur masyarakat, yang menuju kearah persamaan global, dengan menembus batas etnik, agama, daerah, wilayah dan negara. Dampak globalisasi dapat bersifat positif maupun negatif,; dampak yang positif membutuhkan dukungan dari masyarakat yang berupa nilai sikap dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan baru yang yang dikehendaki. Dan akan menyebar keseluruh penjuru dunia. Dengan adanya pengaruh globalisasi maka terdapat perseran peran wanita yang dahulu karena wanita memeliki kemampuan reproduksi maka wanita dalam hal ini bertugas/ bekerja dalam rumah tangga, berfungsi sebagai ibu rumah tangga; konsep perbedaan biologis antara pria dan wanita yang berdampak pula pada dunia kerja. Hal ini dipandang sangat merugikan bagi peranan dan kedudukan wanita di masyarakat. Permasalahan dalam masyarakat yang muncul adalah Kemitra sejajaran pria dan wanita yang harmonis belum terwujud. Karena salah persepsi terhadap kemitraan dan kesejajaran pria dan wanirta maka masing-masing pasangan melangkah sesuai dengan keinginan masing-masing, mencari pelampiasan atas ketidak adilan dan ketidakpuasan yang dirasakan dalam hidup. Salah satu sebabnya adalah persepsi kemitra scjajasan pria dan wanita yang kurang tepat atau salah akan memicu berbagai macam konflik-konflik seperti konflik peran, krisis harga diri, selingkuh dan bahkan tidak jarang pula dengan diikuti keluarga pecah serta anak/ remaja berperilaku delikuen yang menjadikan permasalahan bagi masyarakat yang mengakibatkan kekejaman, perilaku tak bermoral muncul dan tingkat kejahatan meningkat. Oleh karena itu pemerintah dalam pembangunan bangsa, salah satu aspek yang menjadi sasaran yang penting adalah sosialisasi kemitra sejajaran pria dan wanita yang akan mencoba meletakkan kembali persepsi kemitra sejajaran pria dan wanita. Dengan menciptakan keluarga harmonis dan madani yang mampu membentuk masyarakat madani sebagai wadah pembentukan generasi penerus.
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN ASERTIVITAS DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA SISWA KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA Nike Kusumawati; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.516 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.24

Abstract

Komunikasi interpersonal memegang peranan penting dalam perkembangan remaja. Keberhasilan mengembangkan komunikasi interpersonal yang baik dapat membantu remaja mengembangkan berbagai kapasitas mental dan intelektual. Namun demikian, banyak permasalahan yang timbul berkaitan dengan komunikasi. Salah satu permasalahan yang dihadapi remaja terkait dengan komunikasi adalah kecemasan komunikasi interpersonal. Konsep diri dan asertivitas merupakan faktor personal yang terkait dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu skala kecemasan komunikasi interpersonal, skala konsep diri, dan skala asertivitas. Analisis  data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F-test = 76,071, p  0,05, dan nilai R = 0,781. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan dan kuat antara konsep diri dan asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada siswa kelas X SMA Al Islam 1 Surakarta. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rx1y = -0,240; p<0,05, artinya ada hubungan negatif yang signifikan antara konsep diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi konsep diri maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal, sebaliknya semakin rendah konsep diri maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal. Nilai rx2y = -0,600; p<0,05, menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara asertivitas dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi asertivitas maka semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonal, sebaliknya semakin rendah asertivitas maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonal. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,611 atau 61,1%, terdiri atas sumbangan efektif konsep diri terhadap kecemasan komunikasi interpersonal sebesar 12,94% dan sumbangan efektif asertivitas terhadap kecemasan komunikasi interpersonal sebesar 48,13%. Ini berarti masih terdapat 38,9% faktor lain yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal selain konsep diri dan asertivitas.   Kata kunci: kecemasan komunikasi interpersonal, konsep diri, asertivitas
Studi Kasus Pola Intimasi Dengan Teman Sebaya Pada Remaja Bonaventura Arya Gemilang; Istar Yuliadi; Salmah Lilik
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.674 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.80

Abstract

Studi Kasus Pola Intimasi Dengan Teman Sebaya Pada Remaja Case Study Pattern Of Intimacy With Peers in Adolescent With Autism Bonaventura Arya Gemilang, Istar Yuliadi, Salmah Lilik Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Remaja cenderung untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan teman-teman yang membuat para remaja menjadi lebih dekat dengan teman mereka. dan dari kedekatan tersebut akan timbul suatu intimasi yang membuat hubungan pertemanan menjadi lebih mendalam. Bagi mereka yang mempunyai gangguan seperti autisme sangatlah sulit untuk membangun suatu hubungan yang mendalam, namun mereka mempunyai cara masing-masing dalam membangun hubungan yang mendalam dengan orang lain. Penelitian ini berupaya mengkaji bagaimana mereka yang mengalami gangguan autisme dan sudah memasuki masa remaja dapat membangun suatu hubungan yang dalam dengan teman sebaya mereka. Hubungan yang dalam ini dilihat melalui bagaimana interaksi dan kedekatan mereka, pengaruh yang diberikan, adanya hubungan timbal balik, serta berbagi satu sama lain. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data empiris dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan riwayat hidup. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data empiris dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan riwayat hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka dengan gangguan autisme juga bisa untuk membangun suatu hubungan yang mendalam dengan teman sebaya mereka. Mereka bisa berkmounikasi dan berinteraksi dengan teman dekat mereka layaknya remaja normal pada umumnya. Kata kunci: Autisme, Intimasi, Remaja
Pengaruh Supportive Expressive Group Therapy terhadap Penurunan Tingkat Stres dan Peningkatan Tingkat Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara yang sedang Menjalani Proses Kemoterapi Annisa Nursanti Ardhina; Salmah Lilik; Aditya Nanda Priyatama
Wacana Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.459 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i1.76

Abstract

Pengaruh Supportive Expressive Group Therapy terhadap Penurunan Tingkat Stres dan Peningkatan Tingkat Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara yang sedang Menjalani Proses Kemoterapi The Effect of Supportive Expressive Group Therapy on Reducing Stress Levels and Improving Level of Quality of Life on Breast Cancer Patients Undergoing Chemotherapy Ayu Anissa Nur Prafitri Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Pasien kanker payudara yang sedang menjalani proses kemoterapi akan mengalami dampak fisik dan dampak psikologis. Dampak psikologis yang dialami adalah peningkatan tingkat stres dan penurunan tingkat kualitas hidup. Stres adalah stres adalah suatu keadaan yang dialami oleh seseorang untuk melakukan sebuah usaha penyesuaian diri sebagai wujud penyeimbangan kondisi fisik dan psikologis yang dihasilkan oleh perubahan lingkungan yang diterima. Sedangkan kualitas hidup adalah sebuah kondisi seseorang yang menggambarkan kepuasan hidup terhadap kebutuhan kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial yang telah dihadapi. Dampak psikologis tersebut dapat diatasi dengan psikoterapi yaitu Supportive Expressive Group Therapy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Supportive Expressive Group Therapy terhadap penurunan tingkat stres dan peningkatan kualitas hidup. Supportive Expressive Group Therapy merupakan suatu psikoterapi kelompok yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir, guna membantu pasien untuk mengekpresikan kondisi fisik, psikologis dan sosial yang dirasakannya sehingga mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan tingkat kualitas hidup untuk menuju hidup yang lebih baik dalam menjalani proses terapi pengobatan khususnya kemoterapi. Subjek penelitian ini adalah pasien wanita kanker payudara di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Desain penelitian ini adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak 4 orang. Kelompok eksperimen diberikan Supportive Expressive Group Therapy sebanyak tujuh sesi selama tiga hari dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi, studi kasus, role play, simulasi, permainan dan latihan. Instrumen terapi yang digunakan adalah modul terapi, buku kerja, buku evaluasi. Metode pengumpulan data penelitian yaitu berupa skala stres, skala kualitas hidup EORTC QLQ-C30 dan skala kualitas hidup EORTC QLQ-BR23. Koefisien reliabilitas seluruh skala tergolong baik, yaitu skala stres dengan rtt sebesar 0.963, skala EORTC QLQ-C30 dengan rtt sebesar 0,957 dan skala EORTC QLQ-BR23 dengan rtt sebesar 0,934. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik nonparametrik uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney dengan bantuan komputer program SPSS for MS windows versi 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney, pada analisis tingkat stres diperoleh nilai z sebesar -2,309 dan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,021 (p
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA PENYANDANG CACAT TUBUH DI BALAI BESAR REHABILITASI SOSIAL BINA DAKSA PROF. DR. SOEHARSO SURAKARTA Fitriana Dyah Sandhaningrum; Sri Wiyanti; Salmah Lilik
Wacana Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.226 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i1.55

Abstract

Remaja penyandang cacat tubuh dihadapkan pada masalah pergaulan yang berhubungan erat dengan penerimaan dan penolakan terhadap kehadirannya, baik oleh teman sebaya atau orang yang lebih tua. Penanaman konsep diri positif pada diri remaja penyandang cacat tubuh sangat diperlukan untuk menghadapi keberhasilan seseorang dalam mengatasi persoalan dan penyesuaian dirinya. Remaja penyandang cacat tubuh juga membutuhkan dukungan sosial untuk menghadapi segala permasalahannya sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh, (2) ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh, dan (3) ada hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Penelitian ini adalah penelitian populasi, karena terbatasnya jumlah populasi yaitu remaja penyandang cacat tubuh yang berumur 16 s/d 21 tahun di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Prof. Dr. Soeharso Surakarta hanya 50 orang. Oleh karena itu 50 orang tersebut semuanya digunakan sebagai sampel penelitian, sehingga pengambilan sampel dengan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala konsep diri, skala dukungan sosial dan skala penyesuaian sosial. Berdasarkan analisis regresi dua prediktor menunjukkan bahwa ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh dengan Ry(1,2) = 0,689, Freg = 21,296 dengan p < 0,05. Koefisien korelasi rx1y adalah 0,590 dan p < 0,05 dan rx2y adalah sebesar 0,685 dengan p < 0,05. Kesimpulan dari analisis data tersebut adalah adanya hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh  dan ada hubungan positif antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh serta ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Besarnya sumbangan efektif (SE%) kedua variabel bebas secara bersama-sama adalah 47,5%.   Kata kunci: remaja penyandang cacat tubuh, konsep diri, dukungan sosial, penyesuian sosial.
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI STRATEGI SELF-MANAGEMENT DALAM MENGATASI WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU BEKERJA Dias Tri Handayani; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.887 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.37

Abstract

Peran ganda yang dimiliki ibu bekerja sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga mengarahkan ibu bekerja pada permasalahan work-family conflict (selanjutnya disebut WFC) yang disebabkan oleh pertentangan dua peran atau lebih sekaligus.   WFC dapat menyebabkan terganggunya psychological well-being (selanjutnya disebut PWB) pada ibu bekerja, jika tidak diatasi dengan benar.  Dengan membangun self-management dalam diri ibu bekerja, dapat membantu ibu bekerja mengatasi WFC, sehingga lebih mengarahkan mereka pada proses pencapaian  PWB.  PWB  adalah kehidupan yang positif, seimbang dan berkelanjutan pada individu dalam menghadapi tantangan menuju kondisi terbaik meliputi fisik, mental dan sosialnya.  Terdapat empat strategi self-management, yaitu positive self-talk, time management, task delegation dan role compartmentalization, yang nantinya masing-masing strategi self-management akan mengarahkan ibu bekerja pada kondisi PWB yang berbeda-beda pula. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Populasi adalah ibu bekerja di 4 Bank Persero (BUMN) di Surakarta.  Sampel berjumlah 72 orang dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan kriteria wanita sudah menikah, pada saat ini memiliki anak berusia 0 – 13 tahun, suami masih hidup dan pendidikan minimal lulusan SMA/ SMK.  Pengumpulan data menggunakan Skala PWB dan Skala Strategi Self-Management dalam Mengatasi WFC. Teknik analisis data yang digunakan adalah One-Way ANOVA dengan bantuan program SPSS 14. Hasil analisis dengan menggunakan teknik One-Way ANOVA diperoleh  = 1,165 lebih kecil dari   = 2,739.  Dari hasil analisis tersebut, dapat dimaknai bahwa tidak ada perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Hal ini dikarenakan masing-masing strategi berperan sebagai fungsi afek, tingkah laku dan kognisi dalam diri individu yang sistem bekerjanya saling terpisah tetapi saling mempengaruhi, sehingga ketiganya sama-sama diperlukan untuk mengatasi work-family conflict dan sama-sama berkontribusi dalam mengarahkan psychological well-being pada ibu bekerja.   Kata kunci: psychological well-being, strategi self-management dalam mengatasi work-family conflict, ibu bekerja
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KONFORMITAS DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Ratna Akhiroyani Pratiwi; Munawir Yusuf; Salmah Lilik
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.895 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.60

Abstract

Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang manapun sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekelilingnya. Perilaku merokok merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada masa remaja. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja, seperti kurang kuatnya konsep diri yang dimiliki remaja dan kurang bisa menyaring pergaulan atau korban dari konformitas yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok pada remaja. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala konsep diri, skala konformitas, dan skala perilaku merokok. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil perhitungan menggunakan analisis regresi ganda menunjukkan korelasi rx1y sebesar - 0,600 pada taraf signifikan p < 0,05. Artinya ada korelasi negatif yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja, dan korelasi rx2y sebesar 0,615 pada taraf signifikan p < 0,05 memiliki arti ada korelasi positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku merokok pada remaja. Selain itu berdasarkan hasil analisis data diketahui ada hubungan yang signifikan secara statistik antara konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok pada remaja ditunjukkan dengan nilai korelasi Ry12 = 0,757 dan Fregresi = 20,111 dengan r < 0,05. Sumbangan efektif konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok dapat dilihat dari koefisien determinan (R2) sebesar 0,5728 atau 57,28% yang berarti masih terdapat 42,72% faktor lain yang mempengaruhi perilaku merokok selain konsep diri dan konformitas.     Kata kunci: konsep diri, konformitas, perilaku merokok.
STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS) Mursyid Robbani; Salmah Lilik; Arif Tri Seyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.122 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.92

Abstract

STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS)     COPING STRATEGIES OF BIPOLAR ON THE DIVORCE EXPERIENCE (CASE STUDY)     Mursyid Robbani, Salmah Lilik, Arif Tri Seyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran Universitas SebelasMaret     ABSTRAK   Strategi koping merupakan proses penyesuaian diri berupa perilaku dan pikiran internal berupa sumber daya, nilai-nilai yang dianut, dan komitmen sebagai upaya pertahanan diri dari tuntutan eksternal yang mengancam untuk memperoleh rasa aman dan menurunkan efek negatif yang ditimbulkan. Bipolar merupakan merupakan gangguan suasana perasaan atau mood yang ditandai dengan pergantian antara episode mania dengan episode depresi dalam waktu yang berbeda atau keduanya dalam waktu yang sama yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari berupa peningkatan atau penurunan energi yang signifikan. Pada penelitian ini, seseorang yang mengalami gangguan bipolar menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap efek stres yang ditimbulkan karena kondisi mood yang tidak stabil ditambah dengan kurangnya dukungan yang diterima karena perceraian yang dialami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi koping yang digunakan pada bipolar yang mengalami perceraian. Subjek penelitian ini berjumlah dua orang, yaitu pria dan wanita yang memiliki diagnosis bipolar tipe mania dan tidak memiliki gangguan lain, masih menjalani pengobatan dengan psikiater, serta memiliki riwayat perceraian dalam dua tahun terakhir. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah riwayat hidup, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kedua subjek memiliki latar belakang utama gangguan bipolar yang sama, yaitu karena kehilangan pasangan. Sementara alasan bercerai dari kedua subjek adalah karena kurangnya efektivitas komunikasi dan interaksi yang terjalin diantara keduanya menjadi pemicu terbesar dalam perceraian mereka. Untuk bertahan dengan kondisinya, kedua subjek menggunakan delapan bentuk koping dari dua jenis berupa problem-focused dan emotion-focused. Subjek wanita lebih dominan melakukan koping dengan cara problem-focused seperti berkonsultasi kepada psikiater, mengonsumsi obat secara rutin dan berbagi cerita dengan orang lain, sedangkan untuk subjek pria lebih memilih emotion-focused sebagai cara dominan untuk bertahan seperti berusaha mengontrol diri dari kejadian stresfull, dan berpikiran positif karena ingin melepaskan diri dari ketergantungan obat. Kedua subjek juga memiliki reaksi psikologis yang sama seperti berdamai dengan diri sendiri dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA MAHASISWA ORGANISATORIS Hiemma Tiar Kusuma Umbara; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.917 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.28

Abstract

Keterampilan mental seseorang berkembang salah satunya melalui keterampilan sosial. Keterampilan sosial menjadi modal yang mengarahkan seseorang pada pembentukan mental yang optimal. Kematangan emosi berperan dalam pengendalian emosi dan penerimaan diri membuat seseorang nyaman berinteraksi yang berdampak pada keberalngsungan interaksi seseorang dengan lingkungan. Mahasiswa organisatoris dalam menjalani dinamika organisasi memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan pengalaman interaksional. Berkembangnya kematangan emosi dan penerimaan diri positif pada seorang mahasiswa organisatoris dapat menjaga keberlangsungan interaksi, sehingga pengalaman interaksional semakin banyak dan keterampilan sosial menjadi semakin berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan penerimaan diri dengan keterampilan sosial pada mahasiswa organisatoris. Responden penelitian ini adalah mahasiswa UNS yang menjadi pengurus organisasi BEM tingkat universitas dan fakultas dengan usia keanggotaan minimal satu tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive incidental sampilng. Pengumpulan data menggunakan Skala Keterampilan Sosial, Skala Kematangan Emosi, dan Skala Penerimaan Diri. Analisis data menggunakan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menghasilkan nilai F-test = 70,310, p<0,05, dan R=791, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis I dapat diterima. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rx1y=0,290; p<0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara kematangan emosi dan keterampilan sosialNilai rx2y=0,386; p<0,05; dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara penerimaan diri dan keterampilan sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan secara parsial kematangan emosi dan penerimaan diri memiliki hubungan yang lemah dengan keterampilan sosial, jika hanya salah satu diantara kematangan emosi atau penerimaan diri yang dimiliki seseorang kurang menunjang berkembangnya keterampilan sosialnya. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,6260 atau 62,60%, terdiri atas sumbangan efektif kematangan emosi terhadap keterampilan sosial sebesar 25,91% dan sumbangan efektif penerimaan diri terhadap keterampilan sosial sebesar 36,69%. Hal ini berarti masih terdapat 37,4% variabel lain yang mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial selain kematangan emosi dan penerimaan diri. Kata kunci: keterampilan sosial, kematangan emosi, penerimaan diri