Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Uplift of Shoreline Regions on Pagai Island due to the September 12, 2007 Mw 8.4 Earthquake Captured by SAR Image Lubis, Ashar Muda
Makara Journal of Technology Vol. 19, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

At least 25 people were killed by the September 12, 2007 Mw 8.4 Bengkulu earthquake, and many buildings were destroyed in Bengkulu and West Sumatra provinces. It is very important to estimate the earth surface deformation due to the earthquake to understand the rupture size and its process. The aim of this research is to estimate the shoreline change and vertical displacement on Pagai Island associated with the September 12, 2007 Mw 8.4 Bengkulu earthquake. The intensity of ALOS-PALSAR satellite images is used to access the pattern of displacement. The result shows that Pagai Island demonstrated huge uplift due to the earthquake. In general, the result of uplift in the shoreline regions derived from Synthetic Aperture Radar (SAR) image has a good agreement with other methods, such as in situ measurements, InSAR, and Global Positioning System (GPS) observations. This result implies that the earthquake fault location was very close to/around Pagai Island. Using this method, we can easily estimate the pattern of deformation in very remote and very wide areas without any equipment on the ground. The only limitation is the method cannot provide quantitative displacement.
Correlation Among Rainfall, Humidity, and The El Niño-Southern Oscillation (ENSO) Phenomena in Bengkulu City During the Period from 1985-2020 Agam Wardani; Arya J Akbar; Lina Handayani; Ashar Muda Lubis
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 4 (2023): April
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i4.2971

Abstract

A correlation analysis is needed to see the relations among the three variables, rainfall with El Niño-Southern Oscillation (ENSO) and Humidity with ENSO. The instability of rainfall and the decrease in the humidity in Bengkulu City can be affected by La Nina and El Nino phenomena. This research aimed to analyze the correlations among rainfall, humidity, and ENSO with Pearson correlation analysis. The rainfall and humidity data were collected from BMKG, and the ENSO data were obtained from NOAA PSL for the 1985-2020 period. The results of the correlation analysis of rainfall and ENSO for the last 35 years generally show a moderately strong correlation. However, a strong correlation in the La Nina phase specifically occurred in 1988-1989, 1998-1999, 1999-2000, 2007-2008 and 2010-2011 with values of 58.6, 40.1, 61.4, 96, 4, and 89.2%. Meanwhile, the correlation >80% (very strong) during the El Nino phase occurred in 1987, 1991-1992, 1997, 2015. The correlation analysis results of humidity and ENSO show little correlation in the La Nina phase of >70% (1988-1989, 1998-1999, 2010-2011) and the El Nino phase of <70% (1997, 2015, 2016). The humidity correlations with ENSO do not influence the humidity change in Bengkulu City. The decrease in the humidity in Bengkulu City can be affected by other factors, such as land use change to housing due to population growth in Bengkulu City.
IDENTIFIKASI SUDUT PERGERAKAN SESAR SUMATRA DI SEGMEN MUSI KEPAHIANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK Ashar Muda Lubis; Devika Christina Butarbutar; Suhendra Suhendra
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.543

Abstract

Salah satu segmen yang aktif di sesar Sumatra adalah segmen Musi yang berada di Kabupaten Kepahiang. Pada segmen ini telah terjadi gempa bumi yang besar pada tahun 1979 dengan kekuatan Mw = 6,0 dan tahun 1997 dengan kekuatan Mw = 5,0. Hal ini mungkin dapat terjadi dimasa yang akan datang, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk meneliti tingkat akumulasi energi di segmen ini. Tingkat akumulasi energi berhubungan dengan  geometri sesar, yang salah satu geometri sesar adalah sudut (dip) pergerakan sesar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sudut (dip) pergerakan sesar di segmen Musi menggunakan metode geolistrik tahanan jenis. Penelitian  dilakukan pada 4 lintasan, untuk setiap lintasan mempunyai panjang lintasan 480 m dengan jarak spasi antara  elektroda sepanjang 10 m dan menggunakan 48 buah elektroda. Setiap lintasan pada penampang dapat dilihat nilai kontras resistivity yang menunjukkan keberadaan sesar. Setiap lintasan diperoleh sudut (dip) yang terbentuk akibat pergerakan sesar sebesar  Tetapi, pada lintasan keempat diperoleh sudut  yang tidak signifikan, karena memperoleh kontras resistivity yang kurang jelas, sehingga sulit untuk menentukan sudut (dip) pergerakan sesar. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menentukan sudut (dip) pergerakan sesar pada segmen Musi menggunakan seismik Refleksi. 
STUDI FREKUENSI KRITIS (foF2) PADA LAPISAN IONOSFER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GEMPA BUMI DI SEGMEN MENTAWAI TAHUN 2010-2015 Ashar Muda Lubis; Mawaddah Mawaddah; Afrizal B.; Halauddin Halauddin; Zainal Abidin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.717

Abstract

Telah dilakukan kajian frekuensi kritis (foF2) lapisan F ionosfer untuk mencari apakah perubahan/anomali foF2 pada lapisan ini berhubungan dengan kejadian gempa bumi di segment Mentawai Sumatera Barat sehingga dapat digunakan sebagai prekusor gempa bumi dalam order harian. Untuk itu data ionogram pada waktu 2005-2015 yang merupakan hasil pengamatan ionosonda tipe Frequency Modulation Continous Wave (FMCW) di stasiun Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatra barat, kemudian data aktivitas geomagnetik melalui indeks Disturbance Storm Time Index (DST) dan data aktivitas matahari (sunspot number) telah digunakan. Sementara itu sebanyak 37 kejadian data gempa bumi (Mw > 5,5) di wilayah Mentawai yang berasal dari USGS digunakan untuk mengkaji anomali foF2 terhadap kejadian gempa bumi selama 14 hari sebelum gempa bumi terjadi. Hasil pengamatan secara umum memperlihatkan terdapat anomali foF2 pada selang 14 hari sebelum terjadinya gempa bumi. Kemunculan foF2 tersebut dapat diduga sebagai indikasi sebagai aktivitas pre-seismic dalam kulit bumi pada 37 kejadian gempa bumi di wilayah Mentawai, meskipun kadang-kadang aktivitas geomagnet dan aktivitas matahari terlihat berpengaruh anomali foF2. Oleh karena itu diperlukan kajian lanjutan untuk menguji korelasi antara anomali foF2 dan kejadian gempa bumi secara statistik.
Mapping Landslide Vulnerability using Machine Learning Approach along the Taba Penanjung-Kepahiang Road, Bengkulu Province Abrar, Camelia Batun; Lubis, Ashar Muda; Fadli, Darmawan Ikhlas; Akbar, Arya J; Samdara, Rida
Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/geoplanning.11.1.43-56

Abstract

Landslides occur when masses of rock, debris or soil move due to various factors and processes that cause land movement. The Taba Penanjung-Kepahiang route is one of the areas in Bengkulu Province that is highly prone to landslides. This causeway is the only fastest land route connecting the Bengkulu-Kepahiang area. In recent years, the road area has often been cut off due to landslides and fallen trees, which have caused road access to be cut off and obstructed and claimed lives. This study uses a Machine Learning (ML) and GIS approach with Variable Frequency Ratio using 16 independent factors obtained from the spatial database and DEM, which correlate with landslide events. This research aims to gain an in-depth understanding of the factors that cause landslides. In addition, the research focus is the development of a Disaster Mitigation Model to design and implement effective strategies to reduce the risk and impact of landslide disasters through in-depth analysis The dependent factor is the location of the landslide from the historical landslide area for the last five years, with a distribution of 70/30%. Furthermore, frequency ratio is used to analyze the correlation between conditioning factors and historical landslides. Then, the independent and dependent factors were normalized to create a landslide susceptibility map. Frequency Ratio (FR) indicates the likelihood of an event occurring, with drainage density (FR= 0.69), shear wave velocity (Vs30) (FR= 0.66), slope (FR= 0.60), and rainfall (FR= 0.55).  The output of the processed data is in the table below.
ESTIMASI PERUBAHAN GARIS PANTAI DAERAH PESISIR KABUPATEN BENGKULU UTARA DENGAN MENGGUNAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV): (Estimating Shoreline Changes at Coastal Region of North Bengkulu Regency using Unmanned Aerial Vehicle (UAV)) Ashar Muda Lubis; Rendi Hanapi; Juhendi Sinaga; Rida Samdara; Budi Harlianto
Majalah Ilmiah Globe Vol. 24 No. 2 (2022): GLOBE VoL 24 No 2 TAHUN 2022
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesisir Kabupaten Bengkulu Utara merupakan daerah yang rentan terhadap perubahan garis pantai yang disebabkan fenomena abrasi pantai. Abrasi pantai yang terjadi merusak infrastruktur, permukiman warga dan daerah agrobisnis. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kecepatan perubahan garis pantai di daerah Kabupaten Bengkulu Utara menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Pengambilan data UAV menggunakan drone DJI Mavic 2 Pro pada bulan Oktober 2018 pada lima lokasi daerah penelitian yakni daerah pantai Padang Betuah, Lais, Serangai, Ketahun dan Pelabuhan PT. Firman. Pengolahan data menggunakan software Agisoft PhotoScan untuk mendapatkan Orthophoto. Sebagai referensi data garis pantai sebelumnya digunakan peta Rupabumi dari Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 1992, 2000 dan 2011 sebagai data sekunder. Metode tumpang susun digunakan untuk mendapatkan informasi perubahan pantai dengan foto UAV tahun 2018 dan data tahun 1992, 2000 dan 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kecepatan perubahan garis pantai yang telah terjadi di lima lokasi penelitian berdasarkan data UAV tahun 2018 dengan data sekunder 1992, 2000 dan 2011 adalah: Padang Betuah sebesar 19,4 m/th, Lais sebesar 19,9 m/th, Serangai sebesar 19,5 m/th, Ketahun sebesar 15,9 m/th dan Pelabuhan PT. Firman sebesar 15,7 m/th. Secara umum nilai rata-rata kecepatan perubahan garis pantai mencapai 18,1 m/th, sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan. Perbedaan kecepatan perubahan garis pantai untuk masing-masing lokasi penelitian disebabkan oleh perbedaan morfologi/kemiringan, struktur batuan penyusun pantai, kekuatan gelombang laut dan arus sejajar pantai pada masing-masing lokasi, sehingga diperlukan kajian lanjutan berbagai disiplin ilmu untuk memahami karakteristik perubahan garis pantai di Bengkulu Utara secara komprehensif baik spasial maupun temporal.
DEFORMASI POSTSESISMIC DAN INTERSEISMIC SECARA SPASIAL DAERAH BENGKULU DENGAN PENGAMATAN GPS PERIODE 2007-2016 Ashar Muda Lubis; Edi Purwanto
Majalah Ilmiah Globe Vol. 26 No. 1 (2024): GLOBE VOL 26 TAHUN 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Bengkulu merupakan daerah yang rawan gempa bumi. Gempa bumi besar terakhir terjadi di daerah ini pada 12 September 2007 (Mw 8.4), setelah sebelumnya juga terjadi pada 4 Juni 2000 (Mw 7.9). Mengingat fenomena ini sering berulang, maka pengamatan terhadap proses siklus gempa bumi sangat penting untuk dilakukan. Siklus ini meliputi fase interseismic, preseismic, coseismic, postseismic dan kembali ke fase interseismic. Penelitian bertujuan untuk menentukan segmentasi deformasi postseismic dan interseismic di daerah Bengkulu dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS). Data GPS tahun 2007-2016 dari stasiun GPS KRUI, MNNA, SLMA, CBKL, UNBE, LAIS, dan MKMK diolah dengan menggunakan perangkat GAMIT/GLOBK. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa deformasi postseismic terjadi pada stasiun MKMK dan LAIS. Sebaliknya deformasi interseismic terjadi pada stasiun CBKL, UNBE, SLMA, MNNA dan KRUI. Selanjutnya, stasiun LAIS mengalami deformasi postseismic yang paling besar setelah gempa bumi 12 September 2007 (Mw 8.4) yaitu 21.3 cm menuju arah barat daya. Sebaliknya, stasiun MNNA mengalami deformasi interseismic yang paling besar yaitu 13.5 cm menuju arah timur laut. Dari penelitian ini ditemukan bahwa daerah segmentasi postseismic dan interseismic berada diantara daerah Lais dan daerah Kota Bengkulu. Penelitan secara kontinu diperlukan untuk memahami fase siklus gempa bumi yang lebih baik untuk keperluan mitigasi bencana gempa bumi di daerah Bengkulu.
Pencegahan Risiko Penularan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dari Penggunaan Alat Selam Bersama pada Kelompok Penyelam di Pulau Enggano Atmaja, Vestidhia Yunisya; Kamilah, Santi Nurul; Lestari, Dian Fita; Lubis, Ashar Muda; Sipriyadi, Sipriyadi; Bastian, Muhammad Chandra; Wulandari, Gustina Dwi; Utama, Ahmat Fakhri
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v9i1.649

Abstract

Penyakit yang dapat disebabkan akibat penggunaan alat selam secara bersama yang tidak aseptik yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA merupakan penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan atas dan menginfeksi seluruh bagian pernapasan bawah (alveoli). ISPA dapat menular melalui droplet mengandung virus atau bakteri terhirup oleh orang sehat. Penggunaan alat selam secara langsung akan bersentuhan dengan bagian mulut dan hidung, apabila perawatan alat penyelaman kurang tepat akan menimbulkan adanya risiko penularan ISPA. Kelompok penyelam di Pulau Enggano menggunakan alat selam bersama untuk aktivitas mencari ikan dan menyewakan untuk para wisatawan. Namun para penyelam masih minim pengetahuan terkait dampak risiko penyakit dari penggunaan alat selam bersama. Kegiatan dihadiri oleh perwakilan 5 kelompok penyelam yang ada di Pulau Enggano. Kegiatan pengabdian meliputi pembukaan, sosialisasi, pelatihan mengenai cara membersihkan alat selam yang benar, tanya jawab, evaluasi kegiatan, dan penutupan. Hasil evaluasi dari kegiatan ini, kelompok penyelam menilai sangat bermanfaat dan membantu meningkatkan pengetahuan peserta. Para penyelam menjadi sadar akan pentingnya kebersihan dan perawatan alat selamnya. Secara umum, berdasarkan hasil evaluasi, menunjukkan bahwa masyarakat puas dengan pelaksanaan kegiatan ini dan mengucapkan terima kasih atas penyerahan alat dan bahan pembersih alat selam untuk kelompok penyelam. Pemahaman dan penerapan aseptik pada alat selam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan agar menjadi nilai lebih untuk kelompok penyelam. Tidak hanya untuk kesehatan para penyelam yang mencari ikan namun juga untuk wisatawan yang hendak menggunakan alat selam. Diseases that can be caused by sharing diving equipment that is not aseptic are Acute Respiratory Infections (ARI). ARI is a disease that infects the upper respiratory tract and infects the entire lower respiratory tract (alveoli). ARI can be transmitted through droplets containing viruses or bacteria inhaled by healthy people. Using diving equipment will directly come into contact with the mouth and nose, if the diving equipment is not maintained properly it will pose a risk of transmitting ARI. Groups of divers on Enggano Island use diving equipment together for fishing activities and rent them out to tourists. However, divers still lack knowledge regarding the impact of disease risks from using shared diving equipment. The activity was attended by representatives of 5 diving groups on Enggano Island. Service activities include opening, socialization, training on how to properly clean diving equipment, questions and answers, activity evaluation, and closing. As a result of the evaluation of this activity, the diving group considered it very useful and helped increase the participants' knowledge. Divers become aware of the importance of cleanliness and maintenance of their diving equipment. In general, based on the evaluation results, it showed that the community was satisfied with the implementation of this activity and expressed their gratitude for the delivery of diving equipment and cleaning materials to the diving group. The understanding and application of aseptics in diving equipment needs to be carried out on an ongoing basis so that it becomes an added value for groups of divers. Not only for the health of divers looking for fish but also for tourists who want to use diving equipment.
Pengaruh ENSO Dan IOD Terhadap Suhu Permukaan Laut di Perairan Pulau Enggano Amalia, Isra; Lubis, Ashar Muda; Cahyarini, Sri Yudawati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 1 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i1.25759

Abstract

Enggano Island, located in the Indonesia Ocean, about 178 km away south-west from Bengkulu city, experiences Sea Surface Temperature (SST) variability that may be influenced by global climate phenomena such as the El Niño Southern Oscillation (ENSO) and the Indian Ocean Dipole (IOD). This study aims to analyze the influence of ENSO and IOD on SST surrounding Enggano Island using monthly and annual data during the period 1993-2023. The research was carried out descriptively-analytically including temporal patterns of SPL, seasonal anomalies, and correlations between SPL and the NINO 3.4 index and Dipole Mode Index (DMI). The results showed a significant relationship between ENSO and SPL, where El Niño causes an increasing in SST, while La Niña decreases it with a moderate positive correlation (r = 0.5, p = 0.0042). IOD also affects SST with a weaker positive correlation (r = 0.352, p = 0.0523), where positive phases of IOD could increase SST at the region. Seasonally, the highest SST yearly occurred in March-May and the lowest in June-August. In addition, an increasing SST of 0.5°C can be found over the past 31 years, which may contribute to sea level rise with trend of 4.6-4.7 mm/year, higher than the global average. This research emphasizes the importance of understanding the complex interactions between ENSO, IOD and SPL, which impact oceanographic dynamics and coastal ecosystem management.  Pulau Enggano yang terletak di Samudera Indonesia, sekitar 178 km arah barat daya dari kota Bengkulu, mengalami variabilitas Suhu Permukaan Laut (SPL) yang dapat dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ENSO dan IOD terhadap SPL di sekitar Pulau Enggano dengan menggunakan data bulanan dan tahunan selama periode 1993-2023. Penelitian dilakukan secara deskriptif-analitik meliputi pola temporal SPL, anomali musiman, dan korelasi antara SPL dengan indeks NINO 3.4 dan Dipole Mode Index (DMI). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ENSO dan SPL, dimana El Nino menyebabkan peningkatan SST, sedangkan La Nina menurunkannya dengan korelasi positif sedang (r = 0.5, p = 0.0042). IOD juga mempengaruhi SST dengan korelasi positif yang lebih lemah (r = 0.352, p = 0.0523), di mana fase positif IOD dapat meningkatkan SST di wilayah tersebut. Secara musiman, SST tertinggi tahunan terjadi pada bulan Maret-Mei dan terendah pada bulan Juni-Agustus. Selain itu, peningkatan SST sebesar 0,5°C dapat ditemukan selama 31 tahun terakhir, yang dapat berkontribusi pada kenaikan permukaan laut dengan tren 4,6-4,7 mm/tahun, lebih tinggi dari rata-rata global. Penelitian ini menekankan pentingnya memahami interaksi yang kompleks antara ENSO, IOD dan SPL, yang berdampak pada dinamika oseanografi dan pengelolaan ekosistem pesisir.
Analisis Kejadian Banjir ROB di Provinsi Bengkulu Periode 2022-2024 Agustina, Lisa Asyifa; Lubis, Ashar Muda; Pranowo, Widodo Setiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 1 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i1.25833

Abstract

Bengkulu Province is one of the coastal areas prone to tidal flooding due to a combination of various oceanographic and meteorological factors such as tides, wind speed, rainfall, and sea wave height. This study aims to analyze the dominant factors causing tidal floods in Bengkulu Province during the period 2022-2024. Data on tidal flood events were obtained from BPBD and BPS reports of Bengkulu Province, as well as mass media sources. The analysis was conducted using wind data from the European Center for Medium Weather Forecast (ECMWF), rainfall data from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG), and tidal prediction data from the Geospatial Information Agency (BIG). The results show that during the west season, tidal floods are triggered by strong westerly winds due to the West Monsoon, full tides, and moderate to high rainfall, as in the events of February 4-6, 2022 and January 26-27, 2023. During the east monsoon, tidal floods are caused by steady southeast winds and high tides due to the East Monsoon, despite low rainfall, as in the events of July 30, 2023 and August 3-5, 2023. In the transitional season, tidal floods tend to be influenced by a combination of full tides, moderate winds and light to moderate rainfall, such as on May 14-15, 2022 and October 16-17, 2024. Factors such as tropical cyclone activity and the Indian Ocean Dipole (IOD) also contribute significantly to the increased risk of tidal flooding, particularly strengthening winds and increasing rainfall in certain seasons.  Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah pesisir yang rawan terkena banjir rob akibat kombinasi berbagai faktor oseanografis dan meteorologis seperti pasang surut, kecepatan angin, curah hujan, dan tinggi gelombang laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan penyebab banjir rob di Provinsi Bengkulu selama periode 2022–2024. Data kejadian banjir rob diperoleh dari laporan BPBD dan BPS Provinsi Bengkulu, serta sumber media massa. Analisis dilakukan dengan menggunakan data angin dari European Center for Medium Weather Forecast (ECMWF), data curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta data prediksi pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim barat, banjir rob dipicu oleh angin barat yang kuat akibat Monsun Barat, pasang purnama, dan curah hujan sedang hingga tinggi, seperti pada kejadian 4–6 Februari 2022 dan 26–27 Januari 2023. Selama musim timur, banjir rob disebabkan oleh angin tenggara yang stabil dan gelombang tinggi akibat Monsun Timur, meskipun curah hujan rendah, seperti pada kejadian 30 Juli 2023 dan 3–5 Agustus 2023. Pada musim peralihan, banjir rob cenderung dipengaruhi oleh kombinasi pasang purnama, angin sedang, dan curah hujan ringan hingga sedang, seperti pada 14–15 Mei 2022 dan 16–17 Oktober 2024. Faktor-faktor seperti aktivitas tropikal siklon dan Indian Ocean Dipole (IOD) juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko banjir rob, terutama memperkuat angin dan meningkatkan curah hujan pada musim tertentu.