Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga pada Indikator TB Paru di Puskesmas Tayu II Kabupaten Pati Naily Rahma Sari; Chriswardani Suryawati; Nurhasmadiar Nandini
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 7, No 4 (2019): OKTOBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.921 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v7i4.24771

Abstract

Tayu II Primary Health Care is one of the health center that has re-recorded data collection on PIS-PK in 2018. During the implementation there has never been an evaluation. Based on the data, there were differences between target achieved in PIS-PK and SPM. This study aims to evaluate the implementation of PIS-PK on the indicators of pulmonary TB in Tayu II Primary Health Care, Pati Regency. This was qualitative research with a descriptive approach. This research used in-depth interview  and observation method to collect data from sample selected based on purposive sampling technique. The variables studied are input, process, and environment. The results showed that the data collection hasn’t been accompanied by a supporting form for screening and referral because there was no work procedure used as a reference for implementing TB services in the PIS-PK program. In its implementation, there were no planning documents which cover data collection activities until further interventions that integrated with the P2TB program. While activities that have been carried out other than data collection were the provision of initial interventions, advising patients to go to the Tayu II Primary Health Care, and reporting. Reporting was still not optimal because there was no coordination forum. Tayu II Primary Health Care advised to develop and establish SOPs so that they can improve the quality of data collection on PIS-PK in TB case finding, construct policies that clarify the involvement of the P2TB program, and optimize coordination of internal networks for further intervention.  Keywords : Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), TB Paru, Primary Health Care
Analisis Pengembangan Tim Pendataan Kunjungan Rumah Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga di Puskesmas Manyaran Kota Semarang Etik Nindiya Setiya Ningrum; Septo Pawelas Arso; Nurhasmadiar Nandini
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 7, No 4 (2019): OKTOBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.625 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v7i4.24820

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Puskesmas Manyaran merupakan puskesmas dengan cakupan pendataan terendah di Kota Semarang dengan capaiannya sebesar 75%. Keberhasilan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan Keluarga sangat dipengaruhi kegiatan pengembangan tim dalam melaksanakan pendataan kunjungan rumah PIS-PK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan tim pelaksanaan pendataan kunjungan rumah Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga di Puskesmas Manyaran Kota Semarang.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik metode indepth interview. Penelitian dilakukan pada Juni-Agustus 2019. Subjek penelitian merupakan kepala Puskesmas dan Koordinator PIS-PK Puskesmas Manyaran sebagai informan utama. Sedangkan informan triangulasi yaitu Petugas PIS-PK Puskesmas Manyaran. Faktor yang dianalisis meliputi keterampilan manajemen umum dan pelaksanaan pelatihan. Hasil: Hasil penelitian yaitu Puskesmas Manyaran sudah merencanakan pelaksanaan kegiatan pendataan, pelatihan pengisian form profil kesehatan tidak diberikan kepada seluruh petugas melainkan hanya kepada pegawai PNS, petugas telah mendapatkan pelatihan menghitung indeks keluarga sehat serta petugas lapangan sudah mampu menggunakan alat pengukur tekanan darah.Simpulan dan Saran: Keterampilan manajemen umum petugas pendataan kunjungan rumah sudah memiliki keterampilan sesuai tugasnya masing-masing. Pelaksanaan pelatihan untuk menunjang pendataan kunjungan rumah belum optimal, pelatihan yang tersedia hanya berasal dari dinas dan diperuntukkan bagi petugas yang termasuk dalam golongan PNS saja. Penelitian ini menyarankan kepada Puskesmas Manyaran untuk melaksanakan pelatihan rutin bagi seluruh petugas agar mendukung baik kemampuan maupun keterampilan manajemen umum petugas dalam pelaksanaan pendataan kunjungan rumah sehingga dapat berjalan lebih baik dan mampu mencapai target secara optimal. Kata Kunci: Pengembangan tim, pendataan, PIS-PK
PENGELOLAAN ASET TETAP BARANG MILIK NEGARA DITINJAU DARI PERMENKES NO 9 TAHUN 2018 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KESEHATAN Penelitian pada Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas II Amb Zadrak Romeo Kermite; Septo Pawelas Arso; Nurhasmadiar Nandini
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 9, No 4 (2021): JULI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.542 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v9i4.29924

Abstract

Abstract : This study aims to analyze the management of fixed assets of State Property (BMN) at BTKLPP Class II Ambon with reference to the Minister of Health Regulation Number 9 of 2018 concerning Guidelines for BMN Management in the Ministry of Health. The research was focused on the aspects of determining the usage status of BMN and the elimination of BMN. The study uses a qualitative method with an analytic descriptive approach. The results showed that the determination of the usage status of BMN at BTKLPP Ambon has not been going well. This evidenced by the findings that most of the fixed assets of BMN have not been assigned their usage status. The process of eliminating BMN's fixed assets also did not go well. One of the reasons is that the usage status has not been determined. The process of managing assets remains interrelated and when one aspect is neglected, it will affect other aspects. Keywords : Fixed Assets, State Property, Regulation
MEASURING EMPLOYEE JOB SATISFACTION AT HOSPITALS: A LITERATURE REVIEW Nurhasmadiar Nandini; Agus Aan Adriansyah
Indonesian Journal of Health Care Management Vol 1, No 1 (2020): Indonesian Journal of Health Care Management
Publisher : STIKes Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.039 KB) | DOI: 10.36053/ijohcm.v1i1.2

Abstract

A hospital as a healthcare facility consists of various people with various background, competence, and job description. The method to measure job satisfaction at a hospital might be different from in other organizations. This paper aimed to compare the advantages and disadvantages of the methods and instruments to develop a suggestion for more suitable instrument at hospitals in Indonesia. This was a literature review focusing on the comparison of instruments and measurement of employee satisfaction at hospitals. The results showed that there were several instruments with similar variables used to measure job satisfaction in general institutions and at hospitals. However, several variables need to be added in the instruments to measure job satisfaction of hospital employees related to patients, work safety, and else. Based on the literature review, it can be concluded that several indicators need to be included in every questioner to measure job satisfaction of hospital employees, such as supervisor, salary and workload, relationship with co-workers, and opportunity for promotion.
Analisis Inisiasi Pembentukan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Dea Devita; Septo Pawelas Arso; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 3 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.356 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.3.26-30

Abstract

Latar belakang: Peran pemerintah sangat diperlukan untuk peningkatan kualitas rumah sakit, seperti  dibentuknya Badan Pengawas Rumah Sakit baik di tingkat pusat maupun provinsi. Salah satu BPRSP yang terlihat sudah mampu melaksanakan fungsinya adalah BPRSP DIY sehingga perlu adanya analisis insiasi pembentukan BPRSP untuk nantinya dapat menjadi gambaran bagi provinsi lain yang akan membentuk BPRSP. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis inisiasi pembentukan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BPRSP DIY).Metode: Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan utama dan trangulasi. Informan utama dalam penelitian ini adalah anggota Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan informan triangulasi meliputi Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogayakarta.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa BPRSP DIY pertama kali di inisiasi oleh DINKES PROV DIY karena tuntutan kebutuhan penyelesaian konflik DIY dan munculnya peraturan Peraturan Pemerintah nomor 49 tahun 2013 tentang BPRS. Pembentukan BPRSP DIY dilakukan pada tahun 2015 dengan pedoman SK Kepala DINKES PROV DIY yang saat ini pedomannya berubah menjadi SK Gubernur DIY, namun hingga saat ini Peraturan Gubernur DIY terkait BPRSP DIY belum diterbitkan. Pada awal pembentukannya, BPRSP DIY juga melakukan pembuatan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit di DIY dan melakukan sosialisasi dengan survey terpadu dengan DINKES PROV DIY ke seluruh rumah sakit di DIY.Simpulan dan Saran: Kesimpulan dari penelitian ini adalah Proses inisiasi dilakukan dengan sangat cepat karena dukungan dari berbagai pihak serta komitmen dari personel BPRSP yang sangat kuat. Saran dari penelitian ini ialah bagi BPRSP DIY diharapkan senantiasa dapat  mempertahankan dan meningkatkan komitmen dalam pelaksanaan fungsi pembinaan dan pengawasan rumah sakit serta mampu memperluas jejaring yang telah dibentuk, bagi DINKESPROV DIY diharapkan dapat mengawal pembentukan Peraturan Gubernur terkait BPRSP DIY dan bagi Pemerintah Daerah Yogyakarta diharapkan dapat segera menerbitkan Peraturan Gubernur DIY terkait BPRSP DIY.
Implementasi Promotion Mix dalam Upaya Penciptaan Nilai pada Pelayanan Rawat Inap di RSUD Ungaran Vinda Dwi Eriyanti; Septo Pawelas Arso; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 3 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.101 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.3.1-5

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Capaian kepuasan pelanggan rawat inap di RSUD Ungaran masih kurang dari 90%, menunjukkan RSUD Ungaran belum mencapai standar minimal dalam hal kepuasan pelanggan. Maka dari itu RSUD Ungaran harus menciptakan layanan bernilai dari sebelum pemberian layanan kepada pasien agar dapat meningkatkan kepuasan pasien salah satunya dengan upaya promosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bauran promosi dalam upaya penciptaan nilai pelayanan rawat inap di RSUD Ungaran.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif metode indepth interview dimana sampel dipilih berdasar teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan pada Februari-Maret 2019. Subjek penelitian merupakan Kepala Seksi Pelayanan Medik, Kepala Seksi Keperawatan, Kepala Ruang Rawat Inap dan Kasubag Umum Kepegawaian sebagai informan utama. Sedangkan informan triangulasi yaitu Dokter, Perawat dan pasien. Faktor yang dianalisis meliputi advertising, sales promotion, personal selling, public relations dan direct marketing.Hasil: Hasil penelitian yaitu promosi sudah dilakukan pihak RSUD Ungaran dengan talkshow kesehatan di radio, web Rumah Sakit, papan pengumuman, banner, leaflet, brosur merupakan bentuk promosi advertising. RSUD Ungaran tidak melakukan personal selling dan sales promotion. Promosi public relations melalui talkshow bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Direct marketing dilakukan dengan mengadakan kegiatan senam bersama paguyuban sayang ginjal, paguyuban stroke, serta persatuan diabetes. Simpulan dan Saran: Promosi yang sudah dilakukan pihak RSUD Ungaran adalah advertising, public relations dan direct marketing sehingga sudah mendukung upaya penciptaan nilai pelayanan rawat inap di RSUD Ungaran. Penelitian ini menyarankan kepada RSUD Ungaran untuk melakukan promosi personal selling kepada perseorangan dengan memberikan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilakukan secara berkala.
Analisis Kebutuhan Pelatihan Berdasarkan Kemampuan Kerja Jabatan (KKJ) dan Kemampuan Kerja Pribadi (KKP) Petugas Klinik Satmoko Yoga Dwi Ardianto; Sutopo Patria Jati; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.283-290

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Berdasarkan hasil studi pendahuluan, didapatkan beberapa keluhan pasien yang disampaikan melalui media sosial, menyatakan bahwa kurangnya keramahan petugas Klinik Satmoko dalam memberikan pelayanan. Temuan lain yang didapatkan dari studi pendahuluan yang dilaksanakan pada bulan September 2020, diketahui bahwa dalam dua tahun terakhir Klinik Satmoko hanya melaksanakan satu kali pelatihan bagi petugas klinik. Mengingat masih adanya keluhan dari pasien terkait keramahan, hal ini menunjukkan bahwa petugas Klinik Satmoko masih membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi. Pelatihan yang telah dilaksanakan dirasa kurang cukup dan belum mampu untuk mengatasi masalah kinerja. Maka dari itu, perlu dilakukan analisis kebutuhan pelatihan untuk menentukan kegiatan pelatihan yang sesuai dengan masalah kinerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pelatihan petugas Klinik Satmoko berdasarkan Kemampuan Kerja Jabatan (KKJ) dan Kemampuan Kerja Pribadi (KKP).Metode: Penelitian menggunakan metode kombinasi, dengan pendekatan explanatory sequential.Penelitian dilakukan pada bulan November–Desember 2020 di Klinik Satmoko. Pengumpulan data kuantitatif melalui pengisian kuesioner dan subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti yaitu  pengetahuan kerja, sikap kerja, dan keterampilan kerja. Pengumpulan data kualitatif melalui observasi dan wawancara dengan manajer sebagai informan utama dan pemilik sebagai informan triangulasi.Hasil: Berdasarkan analisis peringkat kebutuhan pelatihan, komponen kompetensi yang menjadi prioritas pelatihan adalah kemampuan pelaporan penyakit kepada puskesmas, ketelitian dalam bekerja, kebiasaan menunda pekerjaan, kemampuan mengevaluasi pelayanan farmasi, dan kemampuan melayani kritik, saran, dan pertanyaan.Simpulan: Pelatihan yang dibutuhkan petugas Klinik Satmoko meliputi pelatihan pelaporan penyakit, pelatihan peregangan dan istirahat aktif, self-leadership, pelatihan standar pelayanan kefarmasian apotek, dan service excellence. Kata kunci: Analisis Kebutuhan Pelatihan, kinerja, klinik   ABSTRACT Title: Training Needs Analysis Based On Work Ability (KKJ) And Personal Work Ability (KKP) Of Satmoko Clinic Officer Background: Based on preliminary studies, several complaints of patients were obtained through social media stating that lack of hospitality among the Satmoko Clinic staffs. Another discovery obtained from a preliminary study that was carried out in September 2020, It was known that in the last two years Satmoko Clinic had only conducted one training for clinic staffs. Because there were still complaints about hospitality, this suggests that the Satmoko Clinic staffs still needs training to improve competence.  The training that was carried out is unable to become the performance problem solution. Therefore, training needs analysis to determine training activities that suit performance problems. The study aims to analyze the training needs of the Satmoko Clinic staffs based on work ability (KKJ) and personal work ability (KKP). Method: The study used a combination method, with a explanatory sequential approach. The study was carried out in November – December 2020 at Satmoko Clinic. Quantitative data collection through the filling of questionnaires and the research subject were determined by purposive sampling. The variables under study are work knowledge, work attitude and work skills. The collection of qualitative data through observation and interview with the manager as the key informers and clinic owner as  triangulation infomant. Result: Based on the training needs  analysis rating, the competence priority component of training is the ability to report illness, precision at work, procrastination habits, the ability to evaluate pharmaceutical services, and the ability to administer criticisms, suggestions, and questions. Conclusion: The training that the Satmoko Clinic staffs needs is disease reporting training, stretching and active rest training, self-leadership training, pharmacist standard service training, and service excellence training. Keywords: Clinic, Training Needs Analysis, performance.
Hubungan Status Akreditasi dengan Kepatuhan Pegawai dalam Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Sofie Astri Risanty; Antono Suryoputro; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.195-200

Abstract

Latar Belakang: Puskesmas melakukan kegiatan pelayanan kesehatan yang beragam yang melibatkan berbagai tenaga profesi dan non profesi, serta melibatkan berbagai obat, tes dan prosedur dengan teknologi dan peralatan kedokteran yang memiliki risiko terjadinya kesalahan dan kecelakaan. Standar keselamatan pasien dalam Permenkes 11 tahun 2017 merupakan acuan bagi fasilitas kesehatan yang wajib diterapkan dalam melaksanakan kegiatannya. Dengan penerapan tujuh standar keselamatan pasen ini, diharapkan Puskesmas dapat menyelenggaraan asuhan pasien lebih aman dan bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan. Penilaian pelaksanaan standar keselamatan pasien dilakukan menggunakan instrumen akreditasi yang wajib dilaksanakan secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertaarik untuk mengetahui hubungan status akreditasi dengan kepatuhan pegawai puskesmas dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, rancangan cross sectional. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square Test. Populasi pada penelitian ini adalah pegawai puskesmas se-kota Semarang dengan teknik pengambilan Stratified and Proirtional Random Sampling sebanyak 87 pegawai. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 47,1% responden memiliki kepatuhan yang tidak baik. Hasil analisis statistik dengan menggunakan Chi-Square menunjukkan bahwaa status akreditasi (p=0,257), tidak berhubungan dengan kepatuhan pegawai dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien. Simpulan: Status akreditasi yang diperoleh puskesmas tidak mempunyai hubungan signifikan terhadap kepatuhan pegawai dalam pelaksanaan standar keselamatan pasien. Tingginya status akreditasi tidak berarti bahwa pegawai mempunyai tingkat kepatuhan yang tinggi dan bukan berarti status akreditasi rendah lalu kepatuhannya juga rendah. ABSTRACTTitle: Relationship between Puskesmas Accreditation Status and Employee Compliance in the Implementation of Patient Safety Standards  Background: Puskesmas conducts diverse health service activities, which involve a variety of drugs, tests and procedures with medical technology and equipment that are at risk of errors and accidents. Minister of Health Regulation 11 of 2017 concerning patient safety consists of seven patient safety standards are a mandatory reference for health facilities in carrying out their activities.  With the application of these seven pasent safety standards, it is hoped that Puskesmas can safeguard patient care and can be used as a benchmark for success. Assessment of the implementation of patient safety standards is carried out using accreditation instruments which must be carried out regularly at least once every three years. Based on this, the researcher was interested in finding out the relationship between accreditation status and compliance of puskesmas staff in implementing patient safety standards.Method: This was quantitative research with cross sectional design. Data Analyzed with Chi-Square Test. The population in this study were employees of health centers throughout the city of Semarang and sample was chosen by Stratified and Proirtional Random Sampling, with sample size 87 employees.Result: The results of this study showed that 47.1% of respondents had poor compliance. The results of statistical analysis using Chi-Square showed that there was no relation between accreditation status and employee compliance in implementing patient safety standards (p = 0.257).Conclusion:. The accreditation status obtained by the puskesmas does not have a significant relationship to employee compliance in implementing patient safety standards. High accreditation status does not mean that employees have a high level of compliance and does not mean low accreditation status and therefore low compliance.   Keywords: patient safety standards, puskesmas, accreditation status
Selama Era Pandemi Covid-19, Bagaimana Puskesmas Mertoyudan 1 Melaksanakan PHBS? Sintia Mashitoh; Septo Pawelas Arso; Nurhasmadiar Nandini
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 4 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.4.291-299

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Selama dua tahun berturut turut pada tahun 2017 dan 2018 Kabupaten Magelang menjadi kabupaten/kota yang memiliki presentase rumah tangga sehat terrendah di Provinsi Jawa Tengah dengan presentase 59.69%. Puskesmas Mertoyudan 1 merupakan puskesmas di Kecamatan Mertoyudan yang memiliki PHBS tatanan Rumah Tangga cukup baik. Namun terdapat dua indikator penilaian yang tergolong masih rendah serta cakupan pendataan rumah sehat yang belum maksimal yakni indikator aktivitas fisik dan tidak merokok dengan presentase masing masing 53.7% dan 42.0%. Selain itu, Puskesmas Mertoyudan 1 merupakan puskesmas dengan kasus konfirmasi Covid-19 yang tinggi. Dari hal tersebut maka diperlukan evaluasi mengenai bagaimana pelaksanaan PHBS rumah tangga pada masa pandemi Covid-19 dari aspek konteks, aspek input, aspek proses dan aspek produk.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan metode indepth interview yang dipilih berdasarkan Teknik purposive sampling. Subjek penelitian merupakan Kepala Puskesmas, Koordinator Program PHBS dan Kader Kesehatan sebagai informan utama. Sedangkan informan triangulasi yaitu Penanggung Jawab Program PHBS Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dan Masyarakat. Aspek yang dianalisis terdiri dari aspek konteks, aspek input, aspek proses dan aspek produk.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan proses pelaksanaan masih mengalami beberapa kendala. Pada aspek konteks, masih terdapat kendala kurangnya kesadaran masyarakat, pada aspek input masih terdapat kendala pada jadwal pelaksanaan, jumlah dan kompetensi tenaga PHBS, pada aspek proses mengalami kendala pada proses pendataan, perencanaan, dan pelaksanaan.Simpulan: Pelaksanaan PHBS pada masa pandemi Covid-19 di Puskesmas Mertoyudan 1 belum berjalan dengan maksimal karena terkendala dengan situasi dan kondisi pandemi yang membatasi kegiatan lapangan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aspek konteks, aspek input, aspek porses dan aspek produk.Kata kunci: PHBS, Covid-19, Evaluasi, Kabupaten Magelang ABSTRACTTitle:  Analysis of the Implementation of the Clean and Healthy Behavior Program (PHBS) at Mertoyudan 1 Public Health Center, Magelang Regency during the Covid-19 Pandemic PeriodBackground: For two consecutive years in 2017 and 2018 Magelang Regency became the district/city that had the lowest percentage of healthy households in Central Java Province with a percentage of 59.69%. Mertoyudan 1 Public Health Center is a health center in Mertoyudan District which has a fairly good PHBS household arrangement. However, there are two assessment indicators that are still low and the coverage of healthy home data collection is not maximized, namely indicators of physical activity and not smoking with a percentage of 53.7% and 42.0%, respectively. Based on data obtained from the Mertoyudan 1 Health Center in 2019, there were 12,893 households that should have been included in the household PHBS data collection, but only 7,454 households were recorded. That means that there are still 42.2% of households that have not been recorded. Based on data obtained from the Magelang District Health Office on November 25, 2020, it is known that Mertoyudan District is the sub-district with the highest confirmed COVID-19 cases in Magelang Regency with details of 166 people confirmed to have recovered, 13 people confirmed dead, 98 people confirmed isolation and 10 people. confirmed to be treated. PHBS activities during the COVID-19 pandemic have not been carried out as well as before the pandemic. High-risk activities allow the spread of COVID-19 such as house-to-house data collection and activities that involve large numbers of people. From this, it is necessary to evaluate how to implement household PHBS during the Covid-19 pandemic from the context aspect, input aspect, process aspect and product aspect.Method: This research was a qualitative research with a descriptive approach using in-depth interview method which is selected based on purposive sampling technique. The research subjects were the Head of the Puskesmas, the PHBS Program Coordinator and the Health Cadre as the main informants. Meanwhile, the triangulation informants were the person in charge of the PHBS program at the Magelang regency health office and the community. The aspects analyzed consist of context aspects, input aspects, process aspects and product aspects.Result: The results of the study show that the implementation process is still experiencing several obstacles. In the context aspect, there are still obstacles to the lack of public awareness, in the input aspect there are still obstacles in the implementation schedule, the number and competence of PHBS staff, in the process aspect there are obstacles in the data collection, planning, and implementation processes.Conclusion: The implementation of PHBS during the Covid-19 pandemic at the Mertoyudan 1 Puskesmas has not run optimally because it is constrained by the pandemic situation and conditions that limit field activities. This is influenced by several factors including context aspects, input aspects, processing aspects and product aspects.Keywords: PHBS, Covid-19, Evaluation, Magelang Recency
TRAINING AND ASSISTANCE IN INTEGRATED MANAGEMENT OF CHILDHOOD ILLNESS FOR PNEUMONIA AND DIARRHEA CASES: PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN TATALAKSANA MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UNTUK KASUS PNEUMONIA DAN DIARE Nurhasmadiar Nandini; Inggita Raiesa Rahmi; Moh Syarofil Anam; Juwita Pratiwi; Sutopo Patria Jati; Nikie Astorina Yunita Dewanti
Darmabakti Cendekia: Journal of Community Service and Engagements Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE 2023
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/dc.V5.I1.2023.8-15

Abstract

Latar belakang: IMCI diresmikan oleh WHO dan UNICEF pada tahun 1990 untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi dan balita di negara berkembang. Keterampilan tenaga kesehatan menjadi salah satu komponen IMCI dan memberikan pengaruh terhadap angka kematian bayi dan balita. Tujuan: Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan pada penanganan pneumonia dan diare pada bayi balita di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Grobogan. Metode: Metode dalam kegiatan ini adalah pendampingan tenaga kesehatan melaui langkah identifikasi, sosialisasi, penyampaian materi, diskusi, pendampingan, monitoring & evaluasi oleh Dinas Kesehatan secara berkala. Berisi metode penelitian/ kegiatan pengmas yang dilaksanakan. Hasil: Hasil Pelatihan dan pendampingan ditemukan bahwa beberapa tenaga kesehatan di Puskesmas tidak yakin/ragu-ragu ketika akan melakukan klasifikasi kasus pneumonia, sehingga temuan kasus pneumonia di Puskesmas cukup kecil. Kelengkapan prasarana di puskesmas juga belum terpenuhi sesuai buku bagan MTBS. Kesimpulan: Puskesmas perlu melengkapi prasarana dan pelatihan secara berkala untuk menunjang pelayanan tatalaksana MTBS terkait kasus pneumonia dan diare pada bayi dan balita.
Co-Authors Adhitama, Pramudya Fahry Adilah, Annida Nur Aesyah, Anis Agung Dwi Laksono Agung, Nadiva Putri Agus Aan Adriansyah Amalia Shabrina Fitri Anggraini, Rika Kusuma Anindya Hapsari Anindya, Prakasita Artha Antono Suryoputro Aryudi, Dwinda Rahmawati Ayu Dyah Pramesti Ayun Sriatmi Azarine, Dinda Aziza, Nafra Azzahra, Atha Firza Berlian Arswendo Adietya Besar Tirto Husodo Budiyono Budiyono Damayanti, Athalia Dea Devita Dea Devita Dewi, Fitriana Tungga Dian Mawarni Dina Septiyanita Pratiwi Djazuly Chalidyanto Eka Yunila Fatmasari Etik Nindiya Setiya Ningrum Farid Agushybana Farid Farid Agushybana Fathahidin, Ghaniya Afiifa Fitri, Tari Adelia Fuadah, Irvina Wahyu Gamasiano Alfiansyah Handayani, Novia Handayani, Novia Hanifah, Zaqi Afif Hario Megatsari Hela Ayu Ramadhan Hermawati, Dinda Widya Iken Nafikadini Inggita Raiesa Rahmi Insyira, Insyira Juwita Pratiwi Kawidian Putri Bayu Alam Kusyogo Cahyo Lelly Prakusya Manullang, Jessika Putri Natasya Martini Martini Maya Weka Santi maya weka santi, maya weka Mika Vernicia Humairo Moh Syarofil Anam Mufliha, Azza Nadia Dela Ayunda Nadzifah, Zalfa Naily Rahma Sari Nikie Astorina Yunita Dewanti Nikie Astorina Yunita Dewanti Nikie Astorina Yunita Dewanti Nikken Prima Puspita Nissa Kusariana Novia Luthviatin Nufika Fatasyadhuha Nurahmada, Dewi Nuzulul Kusuma Putri Pahsya, M Naufal Zidane Pakpahan, Vina Estetika Paramita, Nadinda Maretta Diah Paramitha, Nadhila Penggalih Mahardika Herlambang Pratiwi, Rachma Widya Puriana, Pila Putri Asmita Wigati Rahmaningrum, Faikha Dhista Rahmasari, Annisya Aulia Rani Tiyas Budiyanti Ratna Dwi Wulandari Ratna Nur Pujiastuti Ristantya, Alfandira Rossa Rizqi Annisa Nur Fananni Salsabila, Nanda Aulia Salsabilla Rushda Amrina Santoso, Bagus Satrio Saraswati, Siwi Kurnia Sartika Silalahi, Jennifer Evelyn Septo Pawelas Arso Shabah, Shava Shavia Sholichat, Baqiatus Shrimarti Rukmini Devy Sinabutar, Beatrix Magdalena Sintia Mashitoh Sistikawati, Hestu Ismah Sofie Astri Risanty Sutopo Patria Jati Syamsulhuda BM Tika Dwi Tama Tito Yustiawan Ulya, Siti Afuzal Vinda Dwi Eriyanti Widodo Jatim Pudjirahardjo Widyaningtyas, Nur Hafizhah Wulan Kusumastuti Wulan Kusumastuti Wulansari, Arum Yoga Dwi Ardianto Yoto, Mohamad Yuliani, Kasih Zadrak Romeo Kermite