Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Mengembangkan Kualitas Usaha Milik Desa (Q-BUMDes) untuk Melestarikan Ketahanan Ekonomi Masyarakat dan Kesejahteraan Adaptif: Perancangan Sistem Kewirausahaan Desa dengan Menggunakan Model Tetrapreneur PL Rika Fatimah
Jurnal Studi Pemuda Vol 7, No 2 (2018): Sociopreneur Muda
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.937 KB) | DOI: 10.22146/studipemudaugm.39551

Abstract

Salah satu bentuk pemberdayaan dari pemerintah berupa Otonomi yaitu desa dapat mengelola sumber daya secara mandiri salah satunya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Penelitia ini dilakukan di Desa Bleberan, Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian ini menggunakan pendekatan Tetrapreneur yang terdiri terbagi menjadi pemetaan kondisi kewirausahaan desa (Chainpreneur); identifikasi kebutuhan wirausahawan desa dalam menjalankan dan mengembangkan usaha mereka (Marketpreneur); pelaksanaan Model Tetrapreneur untuk merancang Q-BUMDes (Qualitypreneur); penentuan pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dalam pembangunan Q-BUMDes (Brandpreneur). Selain menggunakan model Tetrapreneur,penelitian ini uga menggunakn teori resource based view sebagai dasar pemilihan unit usaha desa yang haruslah memiliki ciri khas dan keunggulan kompetitif supaya dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa rekomendasi yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan setempat dan pemerintah daerah baik pada tingkat Rantai (Chainpreneur), Kualitas (Qualitypreneur), Pasar (Marketpreneur) maupun Merek (Brandpreneur). Oleh karena itu direkomendasikan untuk melakukan pembangunan sistem Q-BUMDes pengembangan wirausaha Bleberan. Sistem Q-BUMDes tersebut membentuk suatu sistem basis data terpadu untuk melakukan pengendalian wirausaha desa yang meliputi penjaringan dan pengembangan potensi wirausaha desa dan pementaan fasilitator mentor, coach, dan dana bantuan berdasarkan data sistem yang di-update secara periodik. Penerapan model Tetrapreneur di Desa Bleberan ini diharapkan dapat menjadi panutan bagi Desa lainnya khususnya di Daerah Istimewa Yoyakarta sebagai suatu model keberlanjutan dalam pengentasan kemiskinan tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Pengembangan Desa Jomboran sebagai Desa Agrowisata Mandiri Melalui Model Pembanguna Karakter, Model Tetrapreneur, dan Pemetaan Potensi Desa Berbasis Pertanian Siwi Indarti; R. Edwin Indarto; Rika Fatimah PL; Miftahul Ajri
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 4, No 2 (2019): Maret
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2265.636 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.30912

Abstract

ABSTRACT Jomboran, one of the villages located in Klaten Tengah, Klaten, Central Java. Jomboran Village is an economical strategic area as it is close to the administrative center of Klaten. Jomboran Village with its potentials can be developed as a tourist village based on agriculture combined with the uniqueness of environmental conditions and cultural wealth of the community.The Jomboran village development method is carried out through three stages: identification of potential and mapping of areas, especially agricultural land; institutional programs and village financial institutions; and village tourism branding program.The programs that have been implemented are the improvement of community motivation through workshop with the theme "Building Powerful Character Towards Jomboran Tourist Village"; training the basics of business to potential community groups to improve the village economy; agricultural extension and technical guidance to farmer group members; Exhibition of the Creative Economy of Featured Products Jomboran, and the initiation of tropical fruit garden as an educational park.Through the UGM Guided Village Program, the potentials of Jomboran village can be synergized into attractive village tour package and have market opportunities.  Keywords: agrotourism; community quality; institutional; tetrapreneur; village.
Mengembangkan Kualitas Usaha Milik Desa (Q-BUMDes) untuk Melestarikan Ketahanan Ekonomi Masyarakat dan Kesejahteraan Adaptif: Perancangan Sistem Kewirausahaan Desa dengan Menggunakan Model Tetrapreneur PL Rika Fatimah
Jurnal Studi Pemuda Vol 7, No 2 (2018): Sociopreneur Muda
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.937 KB) | DOI: 10.22146/studipemudaugm.39551

Abstract

Salah satu bentuk pemberdayaan dari pemerintah berupa Otonomi yaitu desa dapat mengelola sumber daya secara mandiri salah satunya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Penelitia ini dilakukan di Desa Bleberan, Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian ini menggunakan pendekatan Tetrapreneur yang terdiri terbagi menjadi pemetaan kondisi kewirausahaan desa (Chainpreneur); identifikasi kebutuhan wirausahawan desa dalam menjalankan dan mengembangkan usaha mereka (Marketpreneur); pelaksanaan Model Tetrapreneur untuk merancang Q-BUMDes (Qualitypreneur); penentuan pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dalam pembangunan Q-BUMDes (Brandpreneur). Selain menggunakan model Tetrapreneur,penelitian ini uga menggunakn teori resource based view sebagai dasar pemilihan unit usaha desa yang haruslah memiliki ciri khas dan keunggulan kompetitif supaya dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa rekomendasi yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan setempat dan pemerintah daerah baik pada tingkat Rantai (Chainpreneur), Kualitas (Qualitypreneur), Pasar (Marketpreneur) maupun Merek (Brandpreneur). Oleh karena itu direkomendasikan untuk melakukan pembangunan sistem Q-BUMDes pengembangan wirausaha Bleberan. Sistem Q-BUMDes tersebut membentuk suatu sistem basis data terpadu untuk melakukan pengendalian wirausaha desa yang meliputi penjaringan dan pengembangan potensi wirausaha desa dan pementaan fasilitator mentor, coach, dan dana bantuan berdasarkan data sistem yang di-update secara periodik. Penerapan model Tetrapreneur di Desa Bleberan ini diharapkan dapat menjadi panutan bagi Desa lainnya khususnya di Daerah Istimewa Yoyakarta sebagai suatu model keberlanjutan dalam pengentasan kemiskinan tanpa meninggalkan kearifan lokal.
DETERMINING PRIORITY NEEDS OF CULINARY MICRO-ENTERPRISE CUSTOMERS IN INDONESIA THROUGH A QUALITY PERSPECTIVE Tutur Wicaksono; Rika Fatimah P.L
Journal of Tourism and Economic Vol 3, No 2 (2020): EDISI 3
Publisher : STIE Pariwisata API Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.019 KB) | DOI: 10.36594/jtec.v3i2.99

Abstract

Determining the priority of customer needs is one of the right steps for business people to take to determine the direction of allocating their resources. In this study, affinity diagrams and tree charts are used to classify and translate the opinions of loyal customers about customer needs. The customer opinion (voice of the customer) obtained through semistructured interviews is then translated into a technical language (voice of quality) that has a relationship and correlation to existing theories. Data in the form of items of customer need, which are the result of affinity diagram analysis and tree diagrams, are then presented using a matrix that takes the left and right chamber of the House of Quality (HOQ) matrix from the Quality Function Deployment (QFD) method. Matrix that adopts the left and right chamber of HOQ matrix will display the items of customer needs and their priority level. The purpose of this study is to identify the item of customer needs and determine the priority level of customer needs for micro culinary fried rice enterprise in Indonesia. The variable Service Quality in the dimension of Responsiveness with the indicator item Fast Service ranks third. Variable Perceived Benefit in the dimension A Statement of Value with items including Low Prices and Discount occupy the second position. The variable of product quality in the Performance dimension with items including Delicacy, High Quality Ingredients, Varied Menu and Large Portion is the variable of customer needs with the highest priority. 
HALAL APPROACH ON FOOD PRODUCT DESIGN IN THE VILLAGE LEVEL Zilal Afwa Ajidin; Rika Fatimah TL
Imara: JURNAL RISET EKONOMI ISLAM Vol 6, No 1 (2022): IMARA: JURNAL RISET EKONOMI ISLAM
Publisher : IAIN Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/imara.v6i1.5797

Abstract

This research aims to determine the management model for halal products at the village level. The model used is the Tetrapreneur Mutual Cooperation Movement (G2R). The four approaches to this tetrapreneur are business chain, business market, business quality and business brand. The object of this research is the fried meatball products in Bejiharjo Village, Gunungkidul Regency, DI Yogyakarta. The method used is descriptive qualitative approach with in-depth interviews and literature study. The results of this study indicate that the development of food product designs at the village level can be carried out with the support of capital access, product innovation, consumer awareness, halal services, digital marketing and ancillary services.
Inovasi Bisnis dalam Lembaga Wakaf dengan Menggunakan Strategi Kualitas dan TQM Activities Arifianto, Febrianza; Fatimah, Rika
Asyafina Journal: Jurnal Akademi Pesantren Vol. 2 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Asyafina Akademik Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2896/asyafina.v2i1.50

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia memiliki potensi ekonomi yang signifikan melalui instrumen filantropi Islam, khususnya wakaf. Dengan jumlah umat Muslim mencapai 237 juta jiwa, pengelolaan dana wakaf yang efektif dapat menjadi sumber daya ekonomi yang kuat bagi masyarakat. Meskipun demikian, pengelolaan wakaf di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Islam lainnya seperti Arab Saudi, Bangladesh, dan Yordania yang telah menjadikan wakaf sebagai pendorong utama kemakmuran umat. Studi ini berfokus pada pengelolaan dana wakaf di dua lembaga pendidikan Islam, yaitu UNISSULA Semarang dan UNISMA Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi kualitas dan praktik Total Quality Management (TQM) yang diterapkan di kedua lembaga ini guna meningkatkan kualitas pengelolaan wakaf. Penelitian ini dilakukan karena adanya kesenjangan antara pengelolaan wakaf di Indonesia dengan negara-negara sejenis. Metode penelitian ini melibatkan analisis statistika deskriptif untuk mengevaluasi persepsi responden terhadap delapan indikator strategi kualitas dan aktivitas TQM menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UNISSULA Semarang mengandalkan lima indikator strategi kualitas, termasuk kepemimpinan, pengelolaan efektif, dukungan staf, dan pelatihan. Sementara itu, UNISMA Malang mengusung empat indikator, antara lain fokus pada pelanggan, perbaikan berkelanjutan, pengukuran kinerja, dan ketepatan waktu. Hasil analisis juga mengungkapkan bahwa kedua lembaga memiliki perhatian yang tinggi terhadap kualitas dan menerapkan aktivitas TQM. Mayoritas responden dari UNISSULA Semarang dan UNISMA Malang memberikan penilaian yang positif terhadap kualitas pengelolaan wakaf. Dengan demikian, rekomendasi yang diajukan adalah mempertahankan serta terus meningkatkan kualitas pengelolaan wakaf melalui penerapan strategi kualitas dan praktik TQM yang efektif. Hal ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian umat Muslim di Indonesia melalui optimalisasi potensi wakaf.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengelolaan Sampah Organik menjadi Alternatif Pakan Ternak dan Pupuk di Kelurahan Olak Kemang Puja, Muhammad; Rahmad , Rayhan Fadhillah; Prihandani, Ghina; Fatimah, Rika; Fitrilla, Adinda; Lestari , Ayu; Haya, Haya; Rahma, Zulpatur; Humairoh, Sayra; Syafitri, Restu; Widia, Widia; Fatona, Arsa; Sembiring, Dian Arisandy Eka Putra
Jurnal JUPEMA Vol. 3 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Laboratorium Pembelajaran FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jupema.v3i2.37099

Abstract

Olak Kemang Village faces significant challenges in managing organic waste, impacting both the environment and health. Unmanaged organic waste produces methane, exacerbating global warming. To address this, IMABIO Universitas Jambi initiated a maggot cultivation training program, transforming waste into animal feed and fertilizer, while creating new economic opportunities. This study aims to empower the community through technical and business training for economic sustainability. The method includes surveys, training, and the establishment of a local organization. As a result, community awareness has increased, and income has grown through the sale of dried maggots. This program offers practical solutions and empowers the community, with the potential to serve as a model for other areas. Abstrak. Kelurahan Olak Kemang menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah organik, yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan. Sampah organik yang tidak dikelola menghasilkan metana, memperburuk pemanasan global. Untuk mengatasi ini, IMABIO Universitas Jambi memulai program pelatihan budidaya maggot, mengubah sampah menjadi pakan ternak dan pupuk, serta membuka peluang ekonomi baru. Penelitian ini bertujuan memberdayakan masyarakat dengan pelatihan teknis dan bisnis untuk keberlanjutan ekonomi. Metode meliputi survei, pelatihan, dan pembentukan organisasi lokal. Hasilnya, kesadaran masyarakat meningkat dan pendapatan bertambah melalui penjualan maggot kering. Program ini menawarkan solusi praktis dan memberdayakan masyarakat, berpotensi menjadi model bagi daerah lain.
The Empowerment of Mosque-Based Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) with a Marketpreneur Approach and Maqashid Syariah Fathma, ‘Azizah; Rizki, Darlin; Fatimah, Rika
International Journal of Nusantara Islam Vol 12, No 1 (2024): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v12i1.32135

Abstract

Mosques have experienced a decline in function and role. However, in the midst of the degradation of the role of mosques, the Jogokariyan Mosque continues to make efforts to revive mosques through micro, small, and medium enterprise (MSME) empowerment programs. The aim of this research is to analyze mosque-based empowerment activities using a marketpreneur approach and measure the achievements of maqashid sharia among MSMEs assisted by mosques. The research utilized a descriptive quantitative approach with questionnaires and interviews as survey methods. The sampling used a non-probability sampling approach with a convenience sampling technique. The total samples consisted of 66 MSMEs assisted by the Jogokariyan Mosque. The research results revealed that the Jogokariyan Mosque has fulfilled the marketpreneur’s key measurements, namely business chain strategies and market projections. The business chain strategy activities carried out included coaching via WhatsApp groups, business lessons, and capital assistance. Meanwhile, the market projections implemented were forming partnerships, participating in bazaars, and joining community markets. Through the maqashid sharia approach, two aspects were obtained, namely the spirituality aspect and the business growth aspect. The spirituality aspect shows that business actors have fulfilled the indicators of maintaining religion, self, family, and intellectual with high values. Meanwhile, in terms of business growth, it is still at a moderate level. However, the MSME actors under the support of the Jogokariyan Mosque have overall achieved maqashid sharia.
Rejuvenating Sustainable Mangrove Ecotourism Destinations Using a Tetrapreneur Model: A Case of Kulon Progo, Indonesia Aji, Khusnul Bayu; Fatimah, P.L. Rika
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 7, No 2 (2024): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (October)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v7i2.74608

Abstract

ABSTRACTThis article aims to investigate actual conditions and construct potential recommendations to rejuvenate mangrove ecotourism destinations to be more sustainable along the southern coast of Kulon Progo using a Tetrapreneur Model. In this study, a qualitative research approach was adopted. To obtain primary data, systematic observation and in-depth interviews were utilized, while a literature study strategy involving a comprehensive review of relevant documents in various forms, such as textual, visual, digital, and physical items, was employed to collect secondary data. The results indicate that the four approaches of the Tetrapreneur Model, namely Chainpreneur, Marketpreneur, Qualitypreneur, and Brandpreneur, as examined in this study, have their own unique set of facts, comprising Improvement Gap Facts, Sustainability Potential Facts, and Supporting Facts for the rejuvenation of mangrove ecotourism destinations. Furthermore, stakeholders in mangrove ecotourism destinations, particularly local community groups acting as tourism business operators and the local government of Jangkaran Village, are suggested to consider implementing several practical recommendations based on the Tetrapreneur Model.ABSTRAKTujuan dari artikel ini adalah untuk menginvestigasi kondisi aktual dan mengkonstruksi rekomendasi potensial untuk meremajakan destinasi ekowisata mangrove agar lebih berkelanjutan di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo menggunakan Model Tetrapreneur. Kajian ini mengadopsi pendekatan penelitian kualitatif. Untuk mengumpulkan data primer, observasi secara sitematis dan wawancara mendalam digunakan, sedangkan studi literatur yang melibatkan tinjaun komprehensif terhadap dokumen-dokumen yang relevan dalam berbagai bentuk, mulai tekstual, visual, digital, hingga fisik digunakan untuk mengumpulkan data sekunder. Hasil menunjukkan bahwa empat pendekatan dari Model Tetrapreneur, yakni Chainpreneur, Marketpreneur, Qualitypreneur, dan Brandpreneur, seperti yang dikaji dalam tulisan ini, memiliki fakta-fakta uniknya masing-masing, terdiri dari Fakta Gap Perbaikan, Fakta Potensi Keberlanjutan, dan Fakta Pendukung dalam konteks peremajaan destinasi ekowisata mangrove. Selanjutnya, para pemangku kepentingan di destinasi ekowisata mangrove, khususnya komunitas lokal sebagai pengelola bisnis pariwisata dan pemerintah Desa Jangkaran, disarankan untuk mempertimbangkan penerapan beberapa rekomendasi praktis berdasarkan Model Tetrapreneur.
The Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur Concept for Accelerating Tourism Village (Case Study of Karangasem Bantul Tourism Village) Masyhari Makhasi, Ghifari Yuristiadhi; Fatimah P.L., Rika; Kenchu, Hikaru
Pusaka : Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event Vol. 7 No. 1 (2025): February-Juli
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33649/pusaka.v6i2.155

Abstract

Not many tourist villages in Indonesia have achieved the classification of independent tourist villages (desa wisata mandiri) as stated in the Tourism Village Guidelines published by the Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment of the Republic of Indonesia (2021) which oversees tourism and village affairs. Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur as a sustainable entrepreneurial model concept for creating independence and authority towards global iconic products can be an acceleration towards an independent tourist village. This conceptual paper wants to offer an acceleration concept that can be carried out by the management of the Karangasem Tourism Village in Bantul Yogyakarta by implementing the four pillars of Tetrapreneur, namely Chainpreneur, Marketpreneur, Qualitypreneur, and Brandpreneur to become an independent tourist village with its global iconic product, namely bamboo crafts, which are the mainstay product of the community. The findings can also be applied to other tourist villages in Indonesia to expedite their transformation into independent tourism villages.