Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : LingTera

PENGGUNAAN ALIH KODE (CODE SWITCHING) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI MA MU’ALLIMAAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Rahmina Rahmina; Roswita Lumban Tobing
LingTera Vol 3, No 2: October 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.111 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i2.6314

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis penggunaan alih kode yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Inggris, dan (2) faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang guru dan 175 siswa kelas X. Objek dalam penelitian ini adalah tuturan penggunaan alih kode yang meliputi  jenis alih kode dan faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta terjadi sejumlah 166 data. Selanjutnya, seluruh data terbagi dalam 2 jenis alih kode, yaitu; (1) intra-sentential code switching terjadi sejumlah 61 data (37%), dan (2) inter-sentential code switching terjadi sejumlah 105 data (63%). Berikutnya, faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor linguistik dan faktor non-linguistik. Faktor yang paling dominan melatarbelakangi terjadinya alih kode adalah faktor linguistik dari segi kurangnya penguasaan bahasa Inggris yang dimiliki oleh siswa.Kata kunci: alih kode, pembelajaran bahasa Inggris THE USE OF CODE SWITCHING IN ENGLISH LANGUAGE LEARNING AT MA MU’ALLIMAAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA. AbstractThis research aims to describe: (1) the types of code switching in English language learning, and (2) the background factors in using code switching in English language learning  at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. This research was descriptive-qualitative. The subjects were 2 English teachers and 175 students of X grade. The objects were the utterances of code switching which include the types of code switching and the background factors in using code switching in English language learning at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. The result of the research shows that the use of code switching in English language learning at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta is 166 data. All data are divided into 2 types of code switching. They are as follows: (1) intra-sentential code switching is 61 data (37%) and (2) inter-sentential code switching is 105 data (63%). Next, the background factors in using code switching in English language learning are linguistic and non-linguistic factors. The dominant background factor in using code switching in English language learning is the linguistic factor in the lack of student capability in English.Keyword: code switching,  English language learning
Konstruksi adjektiva sebagai atribut dalam klausa bahasa Prancis dan bahasa Indonesia Tobing, Roswita Lumban
LingTera Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Department of Applied Linguistics, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v7i1.32118

Abstract

Tulisan artikel ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menjelaskan perbedaan konstruksi adjektiva bahasa Prancis dan bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan pendekatan struktural untuk melihat sistem gramatika bahasa Prancis dan sistem gramatika bahasa Indonesia. Analisis tersebut dipadukan dengan acuan semantik untuk melihat keberterimaan sebuah konstruksi. Metode yang digunakan untuk menjelaskan perbedaan sistem gramatika kedua bahasa tersebut adalah metode analisis kontrastif oleh James (1986) dan Poedjosoedarmo (2001). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa kaidah konstruksi adjektiva bahasa Prancis sangat berbeda dengan kaidah konstruksi adjektiva bahasa Indonesia. Pembentukan adjektiva bahasa Prancis, menyesuaikan dengan jenis dan jumlah nomina. Pembentukan kata sifat Prancis menyesuaikan dengan jenis dan jumlah kata benda yang dijelaskannya. Ketika nominanya  berjumlah tunggal maskulin, tidak ada perubahan dengan kata sifat, jika nomina yang dijelaskan oleh  adjektiva berjenis femina tunggal, adjektiva akan memperoleh tambahan sufiks {-e}, dan adjektiva akan memperoleh tambahan sufiks {-s} jika nomina yang dijelaskannya maskulin jamak, tambahan sufiks{-es} untuk adjektiva yang nominanya bergender feminin jamak. Adjektiva bahasa Indonesia tidak membutuhkan konkordansi dengan nomina yang dijelaskannya. Perbedaan yang sangat kontras ini memungkinkan pembelajar berbahasa Indonesia akan melakukan interferensi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Prancis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini sangat membantu pembelajar untuk dapat memahami dengan baik sistem pembentukan adjektiva bahasa Prancis, yang berbeda dengan  sistem pembentukan adjektiva bahasa Indonesia. Hal ini Konstruksi adjektiva sebagai atribut dalam klausa bahasa Prancis dan bahasa Indonesia AbstractThis article is a descriptive study that aims to explain the differences in the construction of French and Indonesian adjectives. Data analysis uses a structural approach to see the grammatical system of both languages, French and Indonesian. The analysis is combined with semantic references to see the acceptability of a construction. The method used to explain the differences in grammatical systems of the two languages is a contrastive analysis method by James (1986) and Poedjosoedarmo (2001). Based on the research finding, it was found that French adjective construction rules are very different from the rules of Indonesian adjective construction. The formation of French adjectives adjusts to the type and number of nouns they describe. When nouns are single masculine, there is no change with adjectives. When nouns are single femina, adjectives will get an additional suffix {-e}, and adjectives will get an additional suffix {-s} when the noun they describe is masculine plural, an additional suffix {-es} for adjectives when the noun are feminine plural. In Indonesian, there is no adjustments in the form of adjectives with nouns that are explained. The differences that are very contrast of both languages, allows Indonesian learners to interfer Indonesian adjektive form in French. Therefore, the results of this study are very helpful for students to be able to understand well the French adjective formation system, which is very different from the Indonesian adjective formation system.
Linguistics incivility in student: Lecturer communication on WhatsApp Rohali, Rohali; Tobing, Roswita Lumban; Perdi Rahayu, Siti
LingTera Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Applied Linguistics, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v11i1.71319

Abstract

This research aims to identify (1) strategies of linguistic incivility used in student-lecturer communication, and (2) the aspects of speech acts used that represent linguistic incivility. The research analyzed data from six WhatsApp groups that include students and lecturers. The distributional method was used to analyze linguistic incivility representations and the identity method to analyze linguistic incivility strategies. The results demonstrated that the incivility strategies used include (1) respecting other people's time (34%), (2) asserting oneself (19%), (3) refraining from idle complaints (16%), (4) speaking kindly (9%), (5) listening (6%), (6) respecting even a subtle "no" (6%), (7) respecting others' opinions (6%), and (8) not shifting responsibility and blame (3%). Furthermore, students violated the rules of linguistic civility by these actions: initiating conversations without greetings, using excessive words, expressing personal complaints, conveying opinions impolitely, and shifting blame. Recognizing the importance of linguistic civility in student-lecturer communication is crucial for fostering respectful and productive interactions.