Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS FASE TUMBUH PADI MENGGUNAKAN ALGORITMA NDVI, EVI, SAVI, DAN LSWI PADA CITRA LANDSAT 8 Sudarsono, Nur Wahidah; Sudarsono, Bambang; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.681 KB)

Abstract

ABSTRAKTanaman padi (Oryza sativa, sp) termasuk kelompok tanaman pangan yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dengan produksi yang cukup besar adalah kabupaten Kendal. Pada tahun 2013, produksi padi di Kendal mencapai 234.557 ton dari luas panen 45.221 Ha.Dalam era globalisasi informasi untuk mendukung program ketahanan pangan, dituntut kecepatan dan ketepatan informasi sumberdaya pertanian yang lebih kuantitatif. Teknologi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kecepatan dan ketepatan informasi sumberdaya pertanian tersebut. Dalam hal ini teknologi peginderaan jauh dapat berperan dengan memanfaatkan citra satelit temporal untuk menentukan fase tumbuh tanaman padi dengan mencari nilai indeks vegetasi dari tanaman padi, sehingga dapat diperkirakan berapa luas panen padi setiap tahunnya.Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian untuk menganalisa fase tumbuh tanam padi pada daerah Kabupaten Kendal menggunakan teknologi penginderaan jauh, dimana penginderaan jauh merupakan teknologi yang sangat ideal digunakan mengingat beberapa kelebihan seperti jangkauan yang luas dan cepat.Beberapa metode yang selama ini digunakan menentukan indeks vegetasi antara lain NDVI, EVI, SAVI, dan LSWI. Selanjutnya metode-metode tersebut akan coba digunakan untuk menetukan fase tumbuh tanam padi. Dimana pada penelitian ini dianalisa metode mana yang memiliki model terbaik dalam menentukan fase tumbuh tanaman padi. Dan diperoleh kesimpulan bahwa metode NDVI memiliki pemodelan yang lebih baik dibandingkan metode-metode lainnya. Nilai koefisien determinasi (R2) NDVI sebesar 0,868 dan model yang diperoleh yaitu        y = - 0,0199X2 + 0,2298X + 0,0539.Menurut hasil pengolahan citra satelit Landsat 8 menggunakan metode NDVI dan pemodelan NDVI yang telah dilakukan pada citra perekaman bulan Mei 2015, diperoleh hasil perkiraan luas panen padi untuk daerah Kabupaten Kendal seluas 1.872,655 Ha. Kata kunci            : Fase tumbuh tanam padi, Citra Satelit Landsat 8, Indeks Vegetasi, Luas panen.ABSTRACTPaddy (Oryza sativa, sp) is including to a group of crops food which very important and useful for the life of the Indonesian people. One of regency in Central Java with a large of paddy production is Kendal regency. In 2013, paddy production in Kendal reached 234.557 tons by 45.221 hectares harvested area .In this globalization era, to support the information for food security program, required more quantitative high rate and accuracy of agricultural resources. Remote sensing technology is one of technology that can be utilized to obtain the high rate and accuracy of information about the agricultural resources. In this case, remote sensing technology can play a role by using temporal satellite images to determine the growth stage of paddy plants by looking at the vegetation index value of the paddy plant, so it can be estimated paddy harvested area annually.Based on the description above, the research conducted to analyze the phase of paddy growth in the Kendal area using remote sensing technology, where remote sensing is a technology that is ideally used considering several advantages such as wide coverage and fast.Some of the methods that have been used for determine vegetation index are NDVI, EVI, SAVI, and LSWI. Furthermore, these methods will be used for trying to determine the phase of paddy growth. In this study will be analyzed which method that has the best model for determining the phase of paddy growth. Then concluded that the NDVI has a modeling method which better than other methods. The coefficient of determination (R2) of NDVI is 0,868 with obtained model is       y = - 0,0199X2 + 0,2298X + 0,0539.According to the results of Landsat 8 satellite image processing using NDVI method and NDVI modeling that has been done to the recording image  in May 2015, the estimation result of paddy harvested area on Kendal regency about 1872,655 Ha. Keywords       :        The phase of paddy growth, Landsat 8 Satellite Imagery, Vegetation Index, Harvested area. *) Penulis, Penanggungjawab
Rancang Bangun Sistem Informasi Geografis Pelayanan Kesehatan Masyarakat Berbasis Web (Studi Kasus: Kota Semarang) Sindhu P., Gita Amalia; Sudarsono, Bambang; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.959 KB)

Abstract

Gambaran geografis mengenai letak dan informasi keberadaan infrastruktur fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersebar cukup merata di Kota Semarang belum memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pembangunan Sistem Informasi Geografis (SIG) persebaran pelayanan kesehatan masyarakat merupakan pilihan yang diharapkan mampu memberikan solusi atas masalah yang dihadapi tersebut dengan penyajian informasi secara terintegrasi dari data spasial dan data non spasial, serta penyajian yang dinamis untuk proses editing data.Untuk dapat menghasilkan aplikasi Sistem Informasi Geografis berbasis web ini dibutuhkan data spasial masing-masing lokasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas untuk wilayah Kota Semarang, serta diambil contoh apotek dan klinik untuk wilayah Kecamatan Banyumanik beserta data atributnya. Sistem Informasi Geografis berbasis web ini dimulai dengan pengumpulan data, kemudian penganalisisisan data yang telah diperoleh, dilanjutkan dengan pembangunan program menggunakan software XAMPP untuk server lokal dan basis data MySQL dengan fitur phpMyAdmin di dalamnya, Notepad ++ untuk proses pembuatan kode program, integrasi basis data dengan Google Maps API untuk menampilkan peta, serta browser sebagai pengecekan tampilan yang dihasilkan oleh kode program melalui server lokal.Hasil dari pemrograman diperoleh aplikasi pelayanan kesehatan masyarakat berbasis web yang dapat diakses pada situs http://semarang-gohealthy.com dengan menampilkan lokasi dan informasi yang cukup kompleks yang disajikan melalui peta Google Maps API dengan fitur fungsi edit bagi pengguna pihak kedua yaitu rumah sakit, puskesmas, apotek, dan klinik, serta dinas kesehatan.Kata kunci: Pelayanan Kesehatan Masyarakat, SIG Berbasis Web
ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN PERUNTUKAN PEMAKAMAN UMUM BARU BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang, Kota Semarang) Aji, Angga Sapto; Suprayogi, Andri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.01 KB)

Abstract

ABSTRAK Pertambahan penduduk yang terus meningkat serta keterbatasan lahan pemakaman umum di Kecamatan Tembalang menimbulkan permasalahan seperti kekurangan lahan makam. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dibutuhkan suatu perencanaan lokasi makam baru, agar kebutuhan masyarakat untuk lahan pemakaman tetap terpenuhi. Dalam merencanakan lokasi pemakaman umum baru, diperlukan suatu sistem informasi terstruktur yang terdiri dari aspek kebijakan, ekonomi, fisik, lingkungan, sosial dan budaya. Sistem tersebut dikenal dengan nama Sistem Informasi Geografis.Tahapan perencanaan lokasi makam baru dilakukan dengan menyusun berbagai kriteria utama, yaitu kriteria landuse, fisik, ekonomi dan ekologi.  Analytic Hierarchy Process (AHP) berbasis spasial, digunakan untuk menghitung bobot kriteria, kemudian bobot tersebut digunakan untuk memperoleh peta kesesuaian masing-masing kriteria. Dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS.10. dilakukan proses tumpang susun (overlay) terhadap peta kesesuaian masing-masing kriteria. Sehingga diperoleh hasil akhir berupa peta kesesuaian lokasi makam baru Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Dari hasil pembobotan AHP diperoleh besar pengaruh setiap parameter yaitu 56,99 % untuk kriteria landuse, 24,63 % untuk kriteria fisik, 12,13 % untuk kriteria ekonomi, dan 6,26 % untuk kriteria ekologi. Dari hasil proses overlay diperoleh lokasi dengan kategori sangat sesuai seluas 99.06 (ha), lokasi dengan kategori sesuai seluas 815.95 (ha), lokasi dengan kategori kurang sesuai seluas 1487.80 (ha), dan lokasi dengan kategori tidak sesuai seluas 1746.18 (ha). Kata Kunci : AHP , Lokasi pemakaman umum baru, SIG. ABSTRACT                 The increasing population and the limitation of public cemeteries in Tembalang caused problems such as lack of cemeteries area. To overcome this problem, it is needed a plan for new cemetery location so that it can be fulfilled for those who need it. As a plan for the location of new public cemeteries, it is required a system of structural informations which consists of aspects such as policy, economic, physical, environmental, social and cultural. This system is known as geographic information system.                A plan step for a new cemetery locations is doing by arranging the main criteria, i.e. land use type, physical, economic, and ecological. Analytic Hierarchy Process (AHP) based on spatial analysis was used to calculate weight criterion which the next is used to obtain a map of the suitability of each criterion. By using the ArcGIS 10, it was done the process of overlaying map by each suitability map which was appropriate to criteria so that can be obtained the convenient map for the cemetery locations in Tembalang, Semarang. The results can be acquired influenced by  those parameters with landuse, physical, economic, and ecological of 56.99%, 24,63%, 12, 13%, and 6.26%, respectively. By the overlaying process, it also can be obtained the results with the very suitable category  area, the corresponding category area, lacked category area, and inappropriate category area  of 99,06 Ha, 815.95 Ha, 487,80 Ha, and 1746,18 Ha, respectively.  Keyword: AHP , GIS, New Public Cemetry Location.  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS FAKTOR AKSESIBILITAS JALAN TERHADAP NILAI TANAH DI SEKITAR KAMPUS TEMBALANG UNIVERSITAS DIPONEGORO Siti Khoeriyah; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.917 KB)

Abstract

ABSTRAKAda berbagai macam faktor yang mempengaruhi harga tanah, , namun secara umum dalam penilaian tanah dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu faktor terukur (tangible) dan faktor tidak terukur (intangible). Melalui faktor terukur inilah nilai harga tanah dapat dipertimbangkan beberapa hal yang terkait kondisi, posisi dan aspek-aspek lainnya yang dapat dikaji secara logis dan empiris. Berbeda halnya dengan faktor tak terukur yang sangat sulit sekali untuk dapat dinilai karena mengarah kepada hal yang abstrak seperti, kenyamanan, kenyamanan serta faktor-faktor lainnya yang bersifat psikologis.Salah satu hal yang mempengaruhui dalam pembelian tanah adalah kedekatan terhadap tempat tujuan melakukan aktivitas harian. Adapun jarak adalah salah satu faktor yang mempengaruhinya, sebagaimana dalam teori yang dinyatakan oleh Von Thunen. Pada penelitian ini akan mengkaji faktor aksesibilitas yang terdiri dari variabel-variabel jarak bidang tanah terhadap kampus, jalan kolektor sekunder dan arteri sekunder, akses angkutan umum, dan ukuran lebar jalan.Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa data pemodelan tahun 2010 berdasarkan harga pasar dan pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) hanya tiga variabel yang mempengaruhi harga tanah berdasarkan analisis statistik , berbeda dengan data pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga pasar keempat variabel mempengaruhi harga tanah. Walaupun demikian data pemodelan tahun 2013 berdasarkan harga NJOP  yang memiliki harga perkiraan persamaan model yang terbaik untuk memprediksi harga sesungguhnya dibanding hasil persamaan pemodelan lainnya. Nilai COV (Coefficient Of Variation) sebesar 2% (kurang dari 5%) dapat diterima karena memiliki kriteria sangat baik dan harga perkiraan dari uji PRD (Price Related Differential) sebesar 1,12 berada diluar nilai 0,98 sampai 1,03.Kata Kunci : Penilaian tanah, Faktor Aksesibilitas, NJOP. ABSTRACTThere are many factor that affect the soil prices, but generally, the soil estimation are grouped into two factor, measurable factor (tangible) and immeasurable factor (intangible). Through the measurable factor, the soil value price can be considered some things related to the condition, position, and other aspects that can be studied logically and empirically. Unlike the measurable factor, the immeasurable factor is very difficult to measure because it leads to the abstract things such as, comfortable, also other factor which is psychologically.One of the things that influence the land purchase is the adjacency to the destination places to perform daily activities. The distance is one of the factors that influence the land purchase, as expressed in Von Thunen theory. This study will review the accessibility factors that consist of the distance variables toward the campus, secondary collector road and secondary artery, the access of public transportation, and the width measure of the road.Based on the calculation result, it showed that the 2010’s data modeling based on the market price and the 2013’s modeling based on the NJOP price (The sale value of tax object) based on the statistic analysis, only three variables that influenced the land price, it’s different from the 2013’s data modeling, based on the market price, all four variables influenced the land price. Nevertheless, the 2013’s data modeling based on the NJOP price that which has the estimation price the best model equation to predict the real price than the other equation modeling result. A COV value (Coefficient Of Variation) OF 1,7% (less than 5%) is acceptable because it has a very good criteria and an estimation price from PRD testing (Price Related Differential) of 1,11 are beyond the 0,98 to 1,03 value.Keywords : Land assessment, Accessibility Factors, NJOP
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PERSEBARAN KANTOR POS DI KOTA SEMARANG DENGAN GOOGLE MAPS API Paundra Ksatrio Wahyutomo; Andri Suprayogi; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.837 KB)

Abstract

ABSTRAK Kantorpos sebagai fasilitas umum layanan masyarakat yang berfungsi sebagai penyedia jasa layanan pengiriman dan juga lembaga keuangan non bank masih memiliki keterbatasan mengenai letak lokasi yang persebarannya tidak merata di Kota Semarang dan dikarenakan sebagian kantor pos cabang memiliki masa kontrak Hak Guna Bangunan dengan jangka waktu 3 sampai 5 tahun, Oleh sebab itu Penelitian ini juga mencangkup mengenai analisis penentuan lokasi baru kantorpos di Kota Semarang dengan memanfaatkan data spasial yang telah didapat baik dari survey lapangan melalui metode Buffering dan overlay dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 9.3Internet merupakan media informasi yang tergolong cepat dan murah sehingga media tersebut sangat cocok untuk perkembangan SIG (Sistem Informasi Geografis). Sedangkan SIG yang dikembangkan berbasis Internet melalui media web dikenal sebagai webGIS.Adanya internet sebagai media teknologi informasi dan komunikasi yang mempengaruhi dalam kehidupan manusia saat ini memberikan banyak kemudahan, salah satunya memudahkan masyarakat dalam pencarian informasi tempat danpencarianlokasi.Dikarenakan kurangnya informasitentang kantorpos di kota Semarang. Disamping itu, Informasi yang disediakan selama ini hanyabersifat statis. Mengacu pada pemahaman tersebut maka penelitian ini mengkaji persebaran kantorpos kota Semarangdengan menciptakan aplikasiWebGIS  menggunakan Google Maps API. Dan sebagai alternatif dalam memberikan informasi yang cepat, tepat, dan up to date bahasa pemrograman menggunakan HTML dan PHP sebagai dasar dari halaman situs yang disajikan dan didukung oleh Database MySQL pada sistem operasi windows 7.Aplikasi Sistem Informasi Geografis persebaran kantorpos kota Semarang ini diharapkan dapat membantu bagi para pengguna dalam memperoleh informasi spasial dan juga non spasial mengenai kantorpos yang ada di kota Semarang, dengan mengakses melalui alamat situs www.semarang-pos.com yang berbasis desktop melalui perangkat komputer dengan media Internet. Kata Kunci: Analisis Penentuan LokasiBaru, Buffering,Lokasi Kantor Pos, WebGIS,  ABSTRACT The post office as a public facility which serves delivery service provider and nonbank financial institutions still has limitations because of the unequal location spreading in Semarang. Most of post offices branch have a contract period of 3 to 5 years. Therefore, this research aims to analysis a determining locations of new post offices in Semarang city by utilizing spatial data which have been obtained from field surveys through Buffering and overlay methods using ArcGIS 9.3.Internet is an information tool which is fast and cheap so that it is very suitable for the GIS (Geographic Information System) development. Besides, GIS is developed based on the Internet via web media known as WebGIS. The existence of the Internet as an information and communication technology that affect human life at this time provides a lot of convenience, one of which allows people to search for informations andlocations.Due to lack and staticinformation about the post offices in Semarang, this study examines the distribution of post office in Semarang by creating a Web GIS application using the Google Maps API. As an alternative to provide fast, accurate and up to date nformations, it uses the programming language HTML and PHP. And therefore the basis of the site pages presented and supported by a MySQL database on Windows 7 operating system. Post officedistribution in Semarangby using Geographic Information Systems Application is expected to help to the users for obtaining information on the spatial and non-spatial regarding the post office in Semarang. Which can be accessed through the website address www.semarang-pos.combased desktops through a computer device with Internet Keywords :Buffering, New Location defined Analysis, Post Office Location,WebGIS *) Penulis, Penanggungjawab
MONITORING PERUBAHAN AREA PERSAWAHAN DENGAN PENGINDERAAN JAUH DATA LANDSAT MULTITEMPORAL (Studi Kasus Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah) Dwi Nugroho; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.055 KB)

Abstract

ABSTRAKLahan Persawahan memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat yang bercorak agraris dimana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun saat ini banyak alih fungsi lahan persawahan menjadi lahan non persawahan, contohnya di Kabupaten Boyolali. Jadi, jika terjadi alih fungsi lahan persawahan ke lahan non persawahan pasti akan berdampak pada perekonomian masyarakatnya dan ketersediaan pasokan beras terkait dalam hal ketahanan pangan lokal penduduk Kabupaten Boyolali per tahunnya.Penelitian ini memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh dalam mendeteksi perubahan lahan persawahan dari tahun 2010-2014 dengan lokasi penelitian di Kabupaten Boyolali. Metode yang digunakan dalam pengolahan data adalah Supervised Classification dan menggunakan proses Raster to Polygon. Dimana hasil yang diperoleh adalah adanya penurunan luas lahan persawahan dari tahun 2010-2014. Pada tahun 2010 diperoleh luas lahan persawahan sebesar 37.571,68 Ha, dan pada tahun 2014 diperoleh luas lahan persawahan sebesar 18.877,33 Ha.Dengan memanfaatkan metode Supervised Classification, maka dapat diketahui bahwa Kabupaten Boyolali defisit dalam ketersediaan pasokan beras terkait Ketahanan Pangan Lokal. Dengan kebutuhan beras per kapita per hari sebesar 0,24 kg, sedangkan angka ketetapan dari Dinas Ketahanan Pangan sebesar 0,3 kg. Kata Kunci : Lahan Sawah, Perubahan Lahan, SIG dan Penginderaan Jauh, Kabupaten Boyolali  ABSTRACTRice field land has a strategic role and function for people who figured agrarian society where most rely on the agricultural sector. But now many conversion of paddy fields into non paddy fields, for example in Boyolali. So, in case of paddy land conversion to non-paddy fields will definitely have an impact on society and the economy related supply of rice in terms of food security of local residents Boyolali per year.This study utilizes the application of Geographic Information Systems (GIS) and remote sensing to detect changes in the paddy fields of 2010-2014 with research sites in Boyolali. The method used in the data processing is Supervised Classification and use the Raster to Polygon. There the results are a decrease in paddy land area of 2010-2014. In 2010 acquired land area of 37571.68 hectares of rice fields, and in 2014 obtained a land area of 18877.33 hectares of rice fields. By utilizing the Supervised Classification method, it can be seen that the Boyolali deficit in the supply of rice Related Local Food Security. With the demand of rice per capita per day of 0.24 kg, while figures from the Department of Food Security provisions of 0.3 kg. Keywords: Rice field, Change of Land, GIS and Remote Sensing, Boyolali
ANALISIS DAYA TAMPUNG FASILITAS PENDIDIKAN TERHADAP JUMLAH PENDUDUK USIA SEKOLAH BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS widya Prajna; Sutomo Kahar; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.594 KB)

Abstract

ABSTRAK Sebagai salah satu kota metropolitan Semarang boleh dikatakan cukup padat, pada tahun 2011 kepadatan penduduknya sebesar 4.133 jiwa per km2, sedikit mengalami kenaikan dibandingkan dengan keadaan tahun 2010. Dikarenakan tingginya nilai kepadatan penduduk tersebut maka perlu ditunjang dengan sarana-sarana penunjang kegiatan penduduknya terutama di bidang pendidikan.Pada penelitian ini untuk analisis lokasi sekolah terhadap kawasan pemukiman menggunakan service area analyst, sedangkan analisis daya tampung dilakukan dengan menghitung nilai APK, APM, TPS, dan Ketertampungan yang kemudian disajikan secara spasial dalam bentuk peta. Penelitian ini mengambil 5 kecamatan di Kota Semarang saja, yaitu Candisari, Gayamsari, Semarang Selatan, Semarang Tengah, dan Semarang Timur. Fasilitas pendidikan yang diteliti adalah tingkat SMP dan SMA.                Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa lokasi sekolah yang ada baik di tingkat SMP dan SMA sudah dapat menjangkau kawasan pemukiman yang ada. Sesuai dengan Permendiknas No. 24 Tahun 2007 yang menyatakan lokasi sekolah harus dapat dijangkau dari kawasan pemukiman dengan jarak 6 km. Untuk tingkat SMP, di kecamatan Candisari terdapat sebesar 13,12% penduduk usia 13-15 tahun  yang tidak tertampung  dan kecamatan Gayamsari terdapat sebesar 11,95% penduduk usia 13-15 tahun yang tidak tertampung. Sedangkan di tingkat SMA hanya kecamatan Candisari terdapat sebesar 12,16% penduduk usia 16-18 tahun tahun yang tidak dapat tertampung. Kata kunci: Lokasi Sekolah, Pemukiman, Semarang, Service Area Analyst.ABSTRACTAs one of a metropolitan city, Semarang has a high density population. In 2011, the population density is 4.133 population per km2, this amount is higher than in 2010. Because of the high density population, it is necessary that the  public facility have to match it’s necessity, especially in education.                In this reasearch, the school location to residence area analysis was analyzed using service area analyst method. Meanwhile the school capacity analysis was  done by calculating APK, APM, TPS, and Accomodated that than it is presented spatially in the form of a map. This study took 5 subdistricts of Semarang City, there are Candisari, Gayamsari, Semarang Selatan, Semarang Tengah, and Semarang Timur. The  education facility objects are junior high schools, and senior high schools.This study showed that the location of existing schools at both the junior high schools and senior high schools have reached residence area. In accordance with the Ministerial Regulation No. 24 of 2007 that the school should be reachable from the residence area within a distance of 6 km. For the junior high school level, in Candisari subdistrict there are 13.12% population aged 13-15 are not accommodated and in Gayamsari subdistrict 11.95% of the population aged 13-15 are not accommodated. While in senior high school level only in Candisari subdistrict 12.16% of the population aged 16-18 years who can’t be accommodated. Keywords: School Location, Resident, Semarang, Service Area Analyst.   *) Penulis Penanggung Jawab
PENGAPLIKASIAN PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN ALIRAN PERMUKAAN DALAM PENGENDALIAN PENDANGKALAN WADUK JATIBARANG Avini Sekha Rasina; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.596 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Waduk dibuat karena sungai-sungai di Indonesia memiliki kelebihan air saat musim penghujan dan debit sungai sangat kecil saat musim kemarau. Sebagai tempat penampungan air, Waduk Jatibarang mempunyai kapasitas daya tampung air tertentu sementara kapasitas tersebut dapat berubah karena adanya pendangkalan waduk yang disebabkan aktivitas alami maupun antropogenik. Salah satu penyebab pendangkalan waduk karena adanya aliran permukaan yang mengangkut sedimen dari beberapa daerah tangkapan hujan dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) yang terdegradasi.                Penelitian ini dilakukan melalui pemantauan aliran permukaan dari pemanfaatan data ASTER GDEM versi-2 dan Landsat-8. Pemantauan dilakukan secara berkala terhadap penutupan vegetasi pada catchment area Waduk Jatibarang sebagai faktor utama pengendali degradasi dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan algoritma NDVI.                Hasil penelitian tugas akhir ini mengenai pola aliran permukaan yang terbentuk dan kondisi daerah tangkapan hujan yang mengacu pada penutupan lahan permanen/ hutan beserta empat kelas kerapatan hutannya yaitu non lebat, lebat, sangat lebat dan ekstra lebat. Berdasarkan analisis, pola aliran permukaan yang terbentuk adalah radial karena arah alirannya mengalir ke segala arah dari puncak gunung dan membentuk beragam sudut. Analisis selanjutnya menunjukan terdapat 14 daerah tangkapan hujan berkondisi buruk dan 2 daerah tangkapan hujan berkondisi baik yaitu daerah tangkapan hujan Kreo 08 dan Kreo 15. Kedua daerah tangkapan hujan tersebut diidentifikasikan berkondisi baik karena persentase hutannya lebih dari 30%. Selain itu, analisis kerapatan hutan menyatakan bahwa daerah tangkapan hujan Waduk Jatibarang memiliki luas hutan yang tergolong lebat (dengan nilai spektral >= 0,6) sebesar 1001,618 Hektar dari total luas hutan 1041,712 Hektar sehingga hutan yang ada telah berperan baik dalam pengendalian pendangkalan Waduk Jatibarang.Kata Kunci: Aliran Permukaan, Waduk Jatibarang, Daerah Tangkapan Hujan, Hutan ABSTRACTReservoir is made because the rivers in Indonesia have too much water during the rainy season and the river debit is less water in the dry season. As the water reservoir, the Jatibarang Reservoir has a limited water capacity while the capacity can change because of the silting reservoir caused by natural and anthropogenic activity. One of the causes of the silting reservoir due to surface runoff carrying sediment from several catchment area in a degraded watershed (DAS).                This research was done through the monitoring of surface runoff from data utilization of ASTER GDEM version-2 and Landsat-8. The monitoring is done periodically for the landcover in the catchment area of Jatibarang Reservoir as a main factor of controlling the degradation using the method of supervised classification and NDVI algorithms.                Results of this minithesis are about the pattern of formed surface runoff and condition catchment areas which refer to the permanent landcover/ forest along with four density classes of the forest, those are non-dense, heavy, very heavy and extraordinary heavy. Based on the analysis, formed surface runoff pattern is radial because flowdirection to all directions of mountain top and creating various angles. The next analysis shows that there are 14 catchment areas in critical condition and 2 catchment areas in good condition, those are catchment area on Kreo 08 and 15. Both of catchments are identified to be good condition because their  percentage of  forest are more than 30%. On the other hand, forest density analysis shows that Jatibarang Reservoir’s catchment areas have a relatively dense forest area of 1001.618 hectares of the total forest area of 1041,712 hectares so a relatively dense forest (with a spectral value > = 0,6) so the existing forest has been well in Jatibarang Reservoir siltation control.Keyword: Surface Runoff, Jatibarang Reservoir, Catchment Area, Forest*) Penulis, Penanggungjawab
VERIFIKASI LETAK SEGMEN BATAS INDIKATIF BERDASARKAN ASPEK TEKNIS DAN NON-TEKNIS (Studi Kasus : Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang) Faizal Hafidz Muslim; Bambang Sudarsono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1748.798 KB)

Abstract

ABSTRAK UU No. 06 Tahun 2014 tentang Desa berimplikasi bahwa desa harus mandiri (otonom) dalam hal pembangunan, pembangunan membutuhkan perencanaan, perencanaan membutuhkan peta dan salah satu unsur dalam peta adalah batas wilayah yang jelas dan pasti (batas definitif). Ketidakjelasan batas wilayah berpotensi konflik bahkan sengketa. Kecamatan Getasan yang memiliki 13 desa dan semua segmen batasnya masih bersifat indikatif dibuat oleh 2 versi instansi berbeda yaitu BIG dan Bappeda.Penataan batas wilayah menjadi solusi untuk ketidakjelasan batas yang terdiri dari tahapan penetapan dan penegasan batas wilayah. Dalam Permendagri No. 27 Tahun 2006 tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa dan No. 76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah proses penataan batas terdiri dari 3 tahapan utama yaitu pengumpulan dokumen, pembuatan peta dasar dan delineasi garis batas, yang didasarkan aspek teknis (berdasarkan prinsip geodesi) dan aspek non-teknis (administratif dan geografis).Hasil penelitian didapatkan skala maksimal peta yang bisa dibuat adalah 1:5.000, ketelitian planimetris 0,5mm diatas peta dilakukan uji t-student dengan Ha (hipotesis alternatif) = selisih rata-rata < 2,5 m, diperoleh hasil t tabel = -1,691 dan t hitung = -35,205 m (masuk daerah penolakan) maka Ha diterima. Batas versi RBI dan Bappeda pada aspek administratif (blok pajak) seluruh segmennya tidak sesuai dan aspek geografis pada unsur alam 2 segmen versi RBI dan Bappeda tidak sesuai, untuk unsur buatan 2 segmen versi BIG dan 4 segmen versi Bappeda tidak sesuai, secara visual berubah dan secara kuantitatif setelah dilakukan adjudikasi dan dibandingkan dengan batas versi BIG luas betambah 37,095 Ha, dengan Bappeda berkurang sebesar 49,931 Ha sedangkan dengan data BPS 2015 bertambah 10,207 Ha.                Kata Kunci: Batas Indikatif, Batas Definitif, Aspek Teknis dan Non-Teknis ABSTRACT Law No. 06/2014 about Village implies that the village must be autonomous in development, development requires planning, planning requires a map and one of the elements of the map is the exact and certainboundaries (definitive boundary).The boundary vagueness potentiallyinduces conflict even disputes. District Getasan which has 13 villages and indicative boundaries segment created by 2 different agencies such as BIG and Bappeda.Boundary regulation is the solution to the boundary vagueness problem which consist of determination and averment boundary. Minister of Home Affairs Law No. 27/2006 about Determination and Averment of Village Boundary and No. 76/2012 about Guidelinesof Averment Region Boundary mentioned about there are three steps in boundary determination, they are collecting document, creating base map, and delineating boundary line, which based on the technical aspects (geodetic principle) and non-technical aspects (administrative and geographical).The result showed the maximum scale that can be made is 1:5.000, with planimetric accuracy 0.5 mm above map tested using t-student,Ha = mean difference < 2.5 m and  obtained t table = -1.691 and t statistic= -35.205 (in denial area) so Ha is accepted. The boundarylines in BIG and Bappeda version are not suitableobserved from the administrative aspect (block tax map) in all segments,there are two segments observed from geographical aspectsin natural element which showsthe RBI and Bappeda version are not suitable, in the artificial elements there are 2 segments of RBI and four segmentsof BAPPEDAversion are not suitable. There are changes in visual and quantitative wide of the area in BIG version (37.095 Ha larger) and Bappeda version (49.931 Ha smaller) compared to BPS 2015 data (10.207 Ha larger).  Key Word : Indicative Boundary, Definitiv Boundary, Technical and Non-Thecnical aspect
PEMBUATAN PETA FOTO DENGAN FOTO UDARA FORMAT KECIL DI KOMPLEKS CANDI PRAMBANAN DENGAN WAHANA PESAWAT QUADCOPTER Harmeydi Akbar; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.688 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi prambanan termasuk salah satu dari situs warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama yang memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia (Wikipedia.Org).Mengingat kelebihan dan pentingnya pengawasan candi Prambanan ini, maka perlu dilakukan pemetaan di wilayah candi Prambanan.Pengawasan yang perlu dilakukan sesering mungkin, dengan mempertimbangkan kemudahan dan biaya yang relatif murah, metode pemetaan foto udara format kecil menggunakan quadcopter dengan ketelitian tertentu menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelaksanaan pemetaan candi Prambanan dalam penelitian ini menggunakan metode pemetaan foto udara format kecil dengan RC multirotor (quadcopter), sehingga lebih mudah untuk ditentukan tempat dimulainya terbang (take off) dan mendarat (landing). Dengan RC quadcopter, masalah landasan tidak menjadi kendala lagi.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketelitian gambar yang didapat dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel dengan hasildilapangan. Dan menganalisis kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel.Penelitian ini dilakukan selama 3 kali penerbangan dan menghasilkan lebih dari 768 dan hanya 404 foto yang dapat dipergunakan.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui tingkat ketelitian gambar memiliki kisaran 0-2 pixel.Berdasarkan hasil kisaran tersebut, diketahui bahwa pemodelan tidak mengandung kesalahan kasar dan sistematik. Berdasarkan pengukuran hasil model dengan hasil lapangan memiliki selisih jumlah rata-rata 1,727 cmdan masing-masing foto memiliki selisih antara 2 cm dan 4 cm. Sedangkan kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel adalah cepat, hemat dan efisien, penerbangan dilakukan dibawah awan sehingga menekan biaya sewa sehingga tidak perlu pesawat khusus dengan lubang kamera. Biaya yang dipergunakan lebih murah dibandingkan dengan pemotretan udara biasa dan dapat dilakukan oleh SDM Indonesia terutama didaerah-daerah untuk menunjang program otonomi daerah. Sedangkan kelemahannya adalah untuk suatu daerah yang luas diperlukan frame foto yang lebih banyak dibandingkan dengan foto udara biasa, tidak cocok untuk pembuatan peta kontur.Kata kunci : quadcopter, kamera Go Pro Hero 3, foto udara format kecil.ABSTRACTPrambanan temple is one of  the UNESCO world heritage site, the largest Hindu temple in Indonesia, and one of the most beautiful temples in Southeast Asia. The architecture of the building is tal l and slender shaped according to the Hindu architecture in general with the main temple of  Shiva temple which has a height reaching 47 meters in the center of the complex cluster of to wering temples smaller. As one of the grandest temples in South east Asia, Prambanan temple is the main attraction of tourists visit from all over the world (Wikipedia. Org). Given the advantages and importance of monitoring this Prambanan temple, then need to be mapped in the area of Prambanan temple.Supervision needs to be done as often as possible, taking into account the ease and relatively low cost,  method of mapping a small format aerial photographs using a quadcopter with a certain precision to be one of the main options. Implementation mapping Prambanan in this study using small  format aerial photography mapping with RC multirotor (quadcopter), making it easier to set the starting fly (take off) and landing (landing). With RC quadcopter, the problem of  foundation is not an obstacle anymore.The objectives of this study was to determine the level of accuracy obtained by using the image of aeromodelling quadcopter and the camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels with field results. And analyze the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels.This observation was conducted for 3 times the cost and generates more than 768 and only 404 photos that can be used. Based on the research results, the image has a known level of accuracy range of 0-2 pixels. Based on the results of these ranges, it is known that the modeling does not contain harsh and systematic errors. Based on the measurement results of the model with field results have a difference about 1,727 cm and each photo has a difference of between 2cm and4cm. While the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels is fast, effective and efficient, so the flight was conducted under the clouds reduce the cost of the rental so do not need a special plane with a camera hole. The cost used is cheaper compared to regular aerial photography and can be done by Indonesian human resources, especially in areas to support the program of regional autonomy. The disadvantage is to a large area photo frame required more than the usual aerial photographs, is not suitable for the manufacture of a contour map.Keywords: quadcopter, camera Go ProHero3, small formataerial photographs
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adito Maulana Aditya Hafidh Baktiar Adzim, Hamida Zulfi Ahadea Kautzarea Yuwono Ahmad Daniyal Aisah Hajar Akbar, Rizki Maulidi Albani, Ferel Rico Alfian Galih Utama, Alfian Galih Alfreud, Carl Dylan Aminudin, Azam Ammarohman, Fauzi Janu Andri Suprayogi Angga Sapto Aji, Angga Sapto Annaafi, Raihan Deo Ardhian Setiawan Saputra Arief Laila Nugraha Arizal Kawamuna, Arizal Arliandy Pratama Avi Yudhanto Avianta Anggoro Santoso Avini Sekha Rasina Bambang Darmo Yuwono Bambang Septiana Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bastrianto, Regina Widya Dani Nur Martiana Denni Apriliyanto Dian Ayu Saraswati Dwi Nugroho Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Dwi Uzteyqah Exacty Erlangga Putranindya Fahrunnisa Wulandari Adininggar Faizah, Eliya Nur Faizal Hafidz Muslim Fatimah, Bekty Nur Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Gilang Yudistira Hilman Gita Amalia Sindhu P. Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Haniah Haniah Harmeydi Akbar Heranda Ibnu Adhi Ihsan Pakaya Indah Purwanti Kartiko Ardhi Widananto Lilik Kristianingsih Lukman Maulana Manik, Sarah Magdauli Maulvi Surya Gustavianto Mia Anggorowati Karomah Muh Zaki Ulil Albab Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Ibnu Munadi Mutiah Nurul Handayani Nadia Anggraeni Yuristasari Nisa, Afifatun Novita Amelia Nuardi Dwi Pradipta Nur Wahidah Sudarsono, Nur Wahidah Nurfauzi, Irfan Nurhadi Bashit Paundra Ksatrio Wahyutomo Polin Mouna Togatorop Prambudhianto Putro Pamungkas Praptaningtyas, Berliana Dwi Putra, Ikhlas Ika Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Novita Resti Winda Ratriana Rezky Yudhaseno Riana Kristiani Priskila Putri Ridho Alfirdaus Risty Khoirunisa Rosyiidah, Rofi’ Ronaa Ryadi, Michael Vashni Immanuel Sabri, L M Sawitri Subiyanto Sendi Akhmad Al Mukmin Setyo Adhi Nugroho Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Simamora, Enggar Stefan Sinaga, Kepin Siti Khoeriyah Sukomono, Abdi Sulistyo, Mohamad Adityo Ragil Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syaharini, Jay She Sylvia Tri Yuliani Tengku Oki Al Akbar Togi Pardo Siagian Ummi Athiyyah Yuniarti Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wahyudin, Yaser Wahyudin, Yasser Wibisana, Alyawan Satrio widya Prajna Yoga Kencana Nugraha Yudo Prasetyo Yuliansyah Rachman Nur Rizky