Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENGARUH TOTAL SUSPENDED SOLID DALAM PENENTUAN KEDALAMAN LAUT DANGKAL DENGAN METODE ALGORITMA VAN HENGEL DAN SPITZER Lukman Maulana; Andri Suprayogi; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.842 KB)

Abstract

ABSTRAKTeknologi penginderaan jauh dapat memberikan informasi kedalaman dengan efektif dan efisien, terutama untuk daerah yang memiliki morfologi dasar laut yang sering berubah-ubah. Namun untuk mengekstraksi data kedalaman tersebut banyak faktor yang akan menyebabkan kesalahan dalam penentuan nilai kedalaman.Pada penelitian ini digunakan metode penentuan kedalaman laut dangkal citra satelit Landsat dengan menggunakan metode Van Hengel dan Spitzer yang pernah digunakan oleh Wahyuningrum et.al, 2008 untuk mengetahui kemampuan citra digital Landsat 7 ETM+ dalam memetakan kedalaman perairan dangkal di  Pulau  Pari. Dan Lestari, 2009 menggunakan metode penentuan konsentrasi TSS untuk melihat kecenderungan perubahan TSS dan transparansi perairan Teluk Jakarta. Sedangkan dalam penelitian ini kedua metode tersebut digunakan untuk mengkaji pengaruh TSS terhadap penentuan kedalaman laut dangkal dengan metode VHS di perairan Marina Kota Semarang menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI tahun 2013.Hasil dari pengolahan citra Landsat dengan menggunakan metode VHS diperoleh nilai kedalaman antara 3 – 13 m dengan R2 (koefisien determinasi) 0,7127 dan RMS error 1,2929. Sedangkan untuk penentuan konsentrasi TSS diperoleh konsentrasi TSS antara 1 – 181 mg/l dengan nilai R2 (koefisien determinasi) 0,8669 dan RMS error 14,1668. Pada kedalaman < 3 m diperoleh simpangan kedalaman antara lapangan dengan citra yang besar yaitu 11,013 m hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi TSS yang cukup tinggi karena dekat dengan pesisir pantai. Dan pada kedalaman lebih dari 13 m simpangan kedalaman meningkat kembali yaitu 24,090 m dengan semakin dalamnya permukaan dasar laut. Kata Kunci :    Landsat 8 OLI, Kedalaman Laut Dangkal, Total Suspended Solid (TSS), Algoritma Van Hengel dan Spitzer (VHS). ABSTRACTRemote sensing technology can provide depth information effectively and efficiently, especially for areas that have seabed morphology are often fickle. But to extract depth data there are some factors that will cause an error in the determination of the depth value.In this study used a method of determining the depth of the shallow sea with Landsat images using the Van Hengel and Spitzer which is ever used by Wahyuningrum et.al, 2008, to determine the ability of the digital image of Landsat 7 ETM + to map shallow water depth at Pari Island. And Lestari, 2009 using the method of determining the concentration of TSS to see the trend change and transparency TSS in Jakarta Bay waters. While in this study both methods are used to assess the effect of TSS to determine the depth of the shallow marine waters of Marina using VHS method in Semarang with Landsat satellite imagery 8 OLI in 2013.The Results of Landsat image processing using VHS method obtained depth values between 3-13 m with R2 (coefficient of determination) 0,7127 and RMS error 1,2929. whereas for determining the TSS concentration obtained TSS concentrations between 1-181 mg/l with value of R2 (coefficient of determination) 0,8669 and RMS error 14,1668. At a depth of < 3 m between the depths of field with a large image obtained difference 11,013 m. it is influenced by high TSS concentrations as it is close to the coast. And at a depth of more than 13 m, the difference in the depth increased again 24,090 m with the deepening of the sea floor. Keywords :            Landsat 8 OLI, Depth Shallow Seas, Total Suspended Solid (TSS), Algorithm Van Hengel and Spitzer (VHS).
ANALISIS DAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP TINGKAT EKONOMI MENGGUNAKAN KOMBINASI METODE DINSAR DAN SIG (Studi Kasus : Kota Semarang) Tengku Oki Al Akbar; Yudo Prasetyo; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.238 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah yang secara geografis terletak pada koordinat 110o16’20”- 110o30’29” BT dan 60o55’34”-70o7’04” LS dengan luas wilayah sekitar 391,2 km2. Kota Semarang merupakan salah satu kota pesisir yang secara umum terbentuk dari endapan aluvial. Adapun karakteristik dari endapan aluvial ini adalah tanahnya masih mengalami proses konsolidasi. Proses konsolidasi ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah pada daerah tersebut. Selain itu, pengambilan air tanah dan pengaruh beban permukaan juga berkontribusi dalam terjadinya penurunan muka tanah di Semarang.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan muka tanah di Kota Semarang dengan metode DInSAR. DInSAR adalah metode pencitraan radar ke samping yang memanfaatkan informasi fasa, amplitudo, dan panjang gelombang pada pengolahannya untuk mendapatkan topografi dan deformasi. Data yang digunakan adalah citra satelit ALOS PALSAR level 1.0 dengan akuisisi data Juni 2007 (20070608),  Juli 2008 (20080726), dan September 2008 (20080910). Metode DInSAR yang digunakan adalah two-pass interferometry dengan Shuttle Radar Topography (SRTM) sebagai Digital Elevation Model (DEM) referensi untuk topografi. Proses DInSAR ini diproses dengan menggunakan software SARScape dan menggunakan kombinasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk analisis kerugian ekonomi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadi penurunan muka tanah di kota Semarang kecepatan penurunan muka tanah rata-rata tertinggi dari pasangan citra 20070608-20080910 adalah sebesar 9,059±1,89 cm/tahun dan 20080726-20080910 adalah sebesar 1,979±1,24 cm/tahun. Dan luas wilayah yang terkena dampak penurunan muka tanah paling tingggi adalah seluas 69,58 km2 serta menunjukkan hasil kerugian ekonomi terhadap dampak penurunan muka dari sektor infrastruktur jalan sebesar Rp. 70,983 Miliyar, fasilitas umum sebesar Rp. 16,472 Miliyar, pertanian sebesar Rp. 1,563 Miliyar, dan pemukiman sebesar Rp 57,238Miliyar. Kata Kunci : ALOS PALSAR, DInSAR, Penurunan Muka Tanah, SARScape, SIG ABSTRACTSemarang city is the capital city of Central Java Province which is geographically located in 110o16’20”- 110o30’29” E and 60o55’34”- 70o7’04” N, and it is about 391,2 km2. Semarang is a city in a coastal area which was formed alluvial sediment. It has it’s characteristic process where the land is still through the consolidation process. It causes a land subsidence in those area. Moreover, explorations of land water and the burden of the surface of the land also contribute the land subsidence in Semarang.The purpose of this research is to find out the land subsidence in Semarang by using DInSAR method. DInSAR is a side scan radar technology which uses a phase information, amplitudo, and the wave length to get topography and deformation data. The data which was used in the process is ALOS PALSAR level 1.0 images with the acquisition data in June 2007 (20070608), July 2008 (20080726), and September 2008 (20080910). DInSAR method which was used to process the data was two-pass interferometry with Shuttle Radar Topography (SRTM) as Digital Elevation Model (DEM) to give the topography reference. The DInSAR Process was processed with SARScape software and use a combination of Geographic Information Systems (GIS) for the analysis of economic losses.The result of this research showed the land subsidence in Semarang has got the maximum velocity rate is about 9.059±1.89 cm/year in 20070608-20080910 and it’s about 1.979±1.24 cm/year in 20080726-20080910. The area which got the worst impact of the land subsidence is around 69.58 km2 and showed the results in economic losses to the effects of subsidence from the infrastucture sector amounted to idr. 70.983 billion, public facilities idr.16.472 billion, agriculture idr. 1.563 billion and idr. 57.238 billion for settlement.Keywords: ALOS PALSAR, DInSAR, Land Subsidence, SARScape, GIS  *) Penulis, Penanggungjawab
PEMETAAN KERENTANAN BENCANA GUNUNG BROMO DENGAN CITRA SENTINEL-1 MENGGUNAKAN METODE INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (InSAR) Adito Maulana; Yudo Prasetyo; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.672 KB)

Abstract

ABSTRAK                Erupsi gunung berapi adalah bencana alam yang menghasilkan dampak luas terhadap daerah terkena dampak bencana. Kerugian yang dialami dari erupsi gunung berapi tidak sedikit. Ancaman akibat erupsi gunung berapi tersebut dapat diminimalisir dengan pembuatan peta kerentanan bencana pada daerah yang rawan terjadi  erupsi gunung berapi. Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan terkenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Peta kerentanan bencana Gunung Bromo sangat diperlukan untuk meminimalisir kerugian yang dapat terjadi di daerah wisata tersebut.                Pemetaan kerentanan bencana Gunung Bromo ini menggunakan teknologi pengindraan jauh dan SIG (sistem informasi geografis). Peta kerentanan dibuat dengan menggunakan parameter kerentanan sosial dan lingkungan yang mengacu pada PERKA BNPB no.2 tahun 2012. Parameter kerentanan digabung lalu dilakukan proses skor dan pembobotan untuk menghasilkan peta kerentanan bencana. Teknologi pengindraan jauh menggunakan citra Sentinel-1 untuk mendapatkan pola aliran lava dari hasil digital elevation model (DEM) yang diperoleh dari proses InSAR. Citra Landsat-8 digunakan untuk mendapatkan tutupan lahan dengan klasifikasi Supervised Maximum Likelihood. Data aliran lava dan tutupan lahan di-overlay untuk menjadi peta kawasan rawan bencana Gunung Bromo.                Penelitian ini menghasilkan peta dengan informasi tingkat kerentanan bencana Gunung Bromo. Tingkat kerentanan rendah seluas 4346,009 hektar (86,018%), tingkat sedang 694,920 hektar (13,754%) dan tingkat tinggi seluas 11,528 hektar (0,228%). Dampak erupsi Gunung Bromo dengan aliran lava dengan radius 25, 50 dan 75 meter tutupan lahan yang paling luas terkena lava erupsi adalah pasir coklat dengan presentase terkena aliran lava dibandingkan dengan tutupan lahan lain mencapai 30%. Kawasan rawan bencana yang paling luas terkena dampak pada radius 0,3 – 2,5 kilometer adalah pasir putih dan radius 2,5 – 5 kilometer adalah pasir coklat. Keandalan peta kerentanan bencana Gunung Bromo dengan acuan penelitian referensi berada pada tingkat andal karena parameter yang digunakan sudah disesuaikan dengan keadaan pada Gunung Bromo yang jarang terdapat pemukiman hingga radius 5 kilometer.                Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada warga, wisatawan dan pemerintah setempat mengenai tingkat kerentanan Gunung Bromo sehingga dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman erupsi Gunung Bromo.Kata Kunci : Gunung Bromo, InSAR, Kerentanan Bencana, Parameter, Supervised  ABSTRACT                Volcanic eruptions is a natural disaster that produces a wide impact on disaster affected areas.The losses suffered from volcanic eruption are not small. The threat  of volcanic eruption can be minimized by making disaster vulnerability maps in areas prone to volcanic eruption. Mount Bromo is a volcano that still active and famous as one of the best tourist destinations in Indonesia. Vulnerability disaster map of Mount Bromo is needed to minimize the losses that can occur in the tourist area of Mount Bromo.                 The vulnerability disaster mapping of Mount Bromo using GIS (geographic information system). The vulnerability map is created using vulnerability parameters of social and enviromental that refers to PERKA BNPB no.2 year 2012. The vulnerability parameters are combined and weighted to produce disaster vulnerability maps. Remote sensing technology using Sentinel-1 imagery to obtain lava flow pattern form digital elevation model (DEM) that obtained from InSAR process. Landsat-8 imagery used to obtain land cover with Supervised Maximum Likelihood classification. Lava flow and land cover data overlay to become a disaster prone map area of Mount Bromo.                 This research produces maps with information of vulnerability level of Mount Bromo. Low vurnerability area of 4346,009 hectare (86,018%), medium area of 694,920 hectare (13,754%) and high level area of 11,528 hectare (0,228%). The impact of eruption of Mount Bromo with lava flows with radius of 25, 50 and 75 meters of the most exposed land cover with lava eruption is brown sand with percentage of exposed  lava flow compared with other land cover reaches 30%. The most disaster-prone areas affected by a radius of 0,3 – 2,5 kilometers are white sand and for a radius 2,5 -5 kilometers is brown sand. reliability of the vulnerability map of Mount Bromo disaster with reference research at a good reliable level because the parameters used are adjusted to the condition on Mount Bromo which is rarely settled up to a radius of 5 kilometers.                This research is expected to provide information to the citizens, tourists and local goverment regarding the vulnerability of Mount Bromo so that it can be a reference to improve the readiness and alertness in facing threat of eruption at Mount Bromo.Keywords: InSAR, Mount Bromo, Parameters, Supervised, Vulnerability Disaster
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BOYOLALI Wahyu Satya Nugraha; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.242 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Boyolali memiliki kelebihan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah karena berada pada segitiga wilayah Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) dan termasuk wilayah yang sangat strategis untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal maka di butuhkan pengembangan kawasan industri. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Boyolali. Penelitian ini mempertimbangkan enam parameter yang menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, dan jarak pusat perdagangan dan infrastruktur.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,26% untuk kemiringan lereng, 8,21% penggunaan  lahan, 5,04% jenis tanah, 35,26% jarak terhadap jalan utama, 3,56% jarak terhadap sungai, dan 12,66% untuk jarak terhadap pusat perdagangan dan infrastruktur. Dari hasil intersect peta prioritas lahan dengan RTRW Kabupaten Boyolali, dan kemudian hasil tersebut  dilakukan pengurangan berdasarkan luas lahan RTRW maka hasil yang didapat adalah hasil potensi lahan sebesar 17389,633 Ha.Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan dengan skoring, tingkat potensi lahan di Kabupaten Boyolali untuk pengembangan kawasan industri dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas sangat sesuai (S1) dengan luas 18438,34 Ha, kelas sesuai (S2) dengan luas 21175,51 Ha, kelas cukup sesuai (S3) dengan luas 35670,16 Ha, kelas kurang sesuai (N1) dengan luas 24953,14 Ha, kelas tidak sesuai (N2) dengan luas 9701,42 Ha.Kata Kunci : AHP, Potensi Lahan Industri, SIG ABSTRACTBoyolali Regency has geographical advantage which can be used as region development due to its position on the golden triangle of Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) and it also categorized as strategic regionfor developing the industry area. In order toenhance the development of industrial sector to be aimed, integrated, and give more optimum usage, it needs the developing of industrial area. In this study, Geographical Information System (GIS) brings specific benefit which can be used to find out the terrain potency level of industrial area development in Boyolali. This study takes consideration on six aspects which can enhance the development of industrial area, they are terrain slope, the use of the terrain, the soil type, distance to the road, distance to the river, and also distance of trading center and infrastructure.By the analysis using AHP method (Analytical Hierarchy Process) shows that the weighted score which affected each of parameter is 35.26% for terrain slope, 8.21% for the use of terrain, 5.04% for soil type, 35.26% for the distance to the main road, 3.56% for the distance to the river, and also 12.66% for the distance of trading center and infrastructure. From the intersect result terrain priority map and RTRW of Boyolali Regency, and then that result deducted based on the RTRW wide and resulting the terrain potency level is 17,389.633 Hectares.Whereas, according to the calculation result by scoring concludes that terrain potency level in Boyolali for industrial area development classified into 5 classes that are: 1) very appropriate (S1) with 18,438.34 hectares of wide, 2) appropriate (S2) with 21,175.51 hectares of wide, 3) fairly appropriate (S3) with 35,670.16 hectares of wide, 4) poorly appropriate (N1) with 24,953.14 of wide, and 5) unappropriate (N2) with 9,701.42 hectares of wide.Keywords: AHP, industrial terrain potency, GIS 
ANALISIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH BERDASARKAN STATUS TANAH MENGGUNAKANSISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen) Muhammad Ibnu Munadi; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.482 KB)

Abstract

ABSTRAKKecamatan Kebumen merupakan salah satu daerah yang strategis. Ini dikarenakan Kecamatan Kebumen dilewati oleh jalur selatan yang menghubungkan Provinsi DIY dan Jawa Barat. Dilain sisi, berdasarkan informasi BPN Kanwil Jateng yang dimuat Suara Merdeka tahun 2014 bahwa terdapat 80,42% tanah di Kabupaten Kebumen belum bersertifikat. Oleh karena itu diperlukan analisis berapa jumlah tanah yang sudah memiliki sertifikat  dan bagaimana penggunaan tanah di Kecamatan Kebumen.Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang pemetaan dan informasi spasial, akan lebih mudah mengetahui bagaimana sebaran penggunaan tanah dan sebaran status tanah. Teknologi Sistem Informasi Geografis merupakan teknologi survey dan pemetaan yang dapat digunakan untuk mengambil, menyimpan, memperbaharui, analisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang memiliki referensi geografis.Penelitian ini menghasilkan informasi bahwa masih terdapat 77,48% tanah di Kecamatan Kebumen belum bersertifikat dan juga penggunaan tanah yang sudah bersertifikat  didominasi oleh pemukiman dengan persentase 36,4%. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi yang dapat dikembangkan untuk pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan di masa yang akan datang.Kata Kunci : Kecamatan Kebumen,Penggunaan tanah, Sistem Informasi Geografis ABSTRACTKebumen sub-district is one of the strategic areas because the Kebumen sub-district passed by the southbound lanes linking Yogyakarta and West Java. In other news, based on information contained BPN Regional Office of Central Java on Suara Merdeka in 2014 that there were 80.42% of the land in Kebumen has not been certified. Therefore, it is necessary to analyze how the amount of land that already has a certificate and how to use land in the district of Kebumen.Along with technological advances in the field of mapping and spatial information, it will be easier to know how the distribution of land use and distribution of land status. Geographic Information System technology is a survey and mapping technology that can be used to retrieve, store, update, manipulate, analyze and display all forms of information that have a geographical reference.The result of this study has information that there are 77.48% of the land in the Kebumen Sub-District has not been certified and also the use of land that has been certified in Kebumen Sub-District dominated by housing place with a percentage of 36.4%. It was expected the information from this study can provide useful informations and hopefully this research can be developed in the future.Keyword : Geographic Information System, Kebumen Sub-district, Land use *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS CURAH HUJAN BERDASARKAN KURVA INTENSITAS DURASI FREKUENSI (IDF) DI DAERAH POTENSI BANJIR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : DAS Bogowonto Kabupaten Purworejo) Dwi Uzteyqah Exacty; Arwan Putra Wijaya; Hani&#039;ah Hani&#039;ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.848 KB)

Abstract

ABSTRAKBencana banjir termasuk bencana alam yang sering terjadi ketika datangnya musim penghujan. Seperti yang terjadi di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, banjir terjadi akibat limpasan air Sungai Bogowonto yang menggenangi tambak udang sehingga mengakibatkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat Kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) dan mengetahui perubahan penggunaan lahan di Daerah Aliran sungai Bogowonto Kabupaten Purworejo tahun 2002, 2008 dan 2013, serta menganalisis pengaruh perubahan penggunaan lahan dan tingkat banjir berdasarkan data curah hujan tahun 2002-2013, sehingga dapat diketahui daerah yang berpotensi banjir.Metode  yang digunakan untuk membuat Kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) adalah metode Mononebe dan untuk perhitungan Debit Air menggunakan metode Rasional. Penelitian ini membutuhkan Peta RBI kabupaten Purworejo dengan skala 1:25.000, data curah hujan tahun 2002-2013, data Jenis Tanah Kabupaten Purworejo, peta tata guna Lahan Kabupaten Purworejo, peta daerah Aliran Sungai (DAS) dan citra Landsat 8 tahun 2013.Intensitas Curah Hujan tertinggi terdapat pada periode ulang terlama yaitu pada periode ulang 100 tahun. Sedangkan intensitas curah hujan terendah terdapat pada periode ulang tercepat yaitu 2 tahun. Dalam hal penggunaan lahan, terjadi pengurangan luas sawah dan tegalan, sedangkan pemukiman, hutan dan perkebunan, lahan kosong, serta tambak dan danau mengalami peningkatan luas. Nilai debit dari tahun 2002 hingga 2013 mengalami peningkatan. Oleh karena itu, pengaruh dari banyaknya curah hujan dan perubahan penggunaan lahan hutan dan perkebunan memiliki persamaan regresi Y = 22720,14 + (0,52416 X) + e.Kata Kunci: DAS Bogowonto, Intensitas curah hujan, debit air, pengaruh perubahan lahan ABSTRACTFlood was a natural disaster that often occured in every rainy season. As occured in Purwodadi district, regency of Purworejo, flood caused by run off water of Bogowonto river that inundating the shrimp ponds so that gave bad impact up to hundred milion rupiahs.The purpose of this Research, Firstly is to make Intensity Duration Frequency curve and know the changes of landuse at Bogowonto watersheds, regency of Purworejo, in 2002, 2008 and 2013. Secondly is to analyze an effect of landuse changes and flood levels based on rainfall data from 2002 untul 2013, so it can be determined the potential flood area. The method is used to make curve of Intensity Duration Frequency is using Mononobe method then Rational method is using to calculate water discharge. This research is using data RBI map of Purworejo regency with scale 1:25.000, rainfall data from 2002 until 2013, land types map, landuses map, watersheds map and landsat 8 data acquired in 2013.The highest rainfall intensity occured in the longest return peroid which is occuring hundred years period. The lowest rainfall intensity occured in the shortest return perioid which is occuring 2 years  peroid, based on landuse changes, there are decreasing landuse with ricefield and more area, in regency area, forest and plantation area, available, pondsand, lake were occured of discharge value it was occured from 2002 until 2013. Therefore, result of effect of rainfall level and landuse changes for forest and plantations are determined of regresion equation Y = 22720,14 + (0,52416 X) + e.Keyword: Bogowonto Watershed, Rainfall Intensity, Water Discharge, Effect of Land Change
PEMBUATAN PETA POTENSI LAHAN BERDASARKAN KONDISI FISIK LAHAN MENGGUNAKAN METODE WEIGHTED OVERLAY Fahrunnisa Wulandari Adininggar; Andri Suprayogi; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.758 KB)

Abstract

ABSTRAK Suatu pembangunan selain mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah juga perlu memperhatikan kondisi fisik lahan, karena lahan memiliki keterbatasan. Kecamatan Kota Kendal, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kaliwungu berbatasan langsung dengan Laut Jawa, elevasinya 0 – 100 mdpl yang mengakibatkan tiga kecamatan tersebut sangat sering dilanda bencana banjir padahal tiga kecamatan tersebut termasuk padat penduduknya dan merupakan jantung dari Kabupaten Kendal. Pada saat ini sedang banyak pembangunan di wilayah studi, maka evaluasi pun sangat diperlukan untuk mengawasi pembanguan yang ada, apakah sudah sesuai dengan potensi lahannya ataukah belum sesuai.Untuk menentukan potensi penggunaan lahan pertanian, permukiman, dan industri berdasarkan kondisi fisik lahan dapat dilakukan dengan weigted overlay, salah satu metode pembobotan dengan mengoverlaykan beberapa peta yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penilaian kerentanan. Peta parameter kondisi fisik lahan di overlaykan dengan bobot yang dihasilkan dari analisis AHP. Kemudian dibandingkan dengan peta penggunaan lahan eksisiting dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta potensi lahan untuk masing – masing peruntukan berdasarkan kondisi fisik lahan dan peta evaluasi kecocokan antara peta potensi lahan, peta penggunaan lahan eksisting, dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2011 – 2031. Kata Kunci : Kondisi Fisik, Potensi Lahan, Weighted Overlay, Kendal  ABSTRACT A development in addition to referring to the Spatial Plan also needs to pay attention to the physical condition of the land, because the land has limitations. District Kendal City, District Brangsong, and District Kaliwungu directly adjacent to the Java Sea, the elevation 0-100 meters above sea level resulted in three districts are very frequently hit by floods when the three districts including the densely populated and is the heart of Kendal. Currently a lot of development in the study area, the evaluation is very necessary to keep an eye on the Development of existing, is already in line with the potential of the land or is not appropriate.To determine the potential land of farmland, homes and industry based on the physical condition of the land to do with weighted overlay, one method of weighting by overlay some maps related to the factors that influence the vulnerability assessment. Map parameters of the physical condition of land in overlay with weights produced from AHP analysis. Then compared with land use maps and urban planing maps. The end result of this research is a map of potential land for each allotment based on the physical condition of the land and map evaluation of the suitability of potential maps of land, existing land use map, and urban planning maps Kendal Year 2011-2031. Keywords : Physical Condition, Potential Land, Weighted Overlay, District Kendal  *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS POTENSI LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT EUCHEUMA CHOTTONII MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DI PERAIRAN LAUT DEMAK Avi Yudhanto; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.597 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dimana terdapat 17.508 pulau yang dipisahkan oleh laut. Setiap pulau yang berbatasan dengan laut memiliki pantai. Garis pantai keseluruhan pulau di Indonesia mencapai 99.093 Km. Pantai-pantai di Indonesia memiliki potensi alam yang melimpah pada hasil laut dan budidaya terhadap sumber daya alamnya. Salah satu budidaya alam yang dikembangkan di Indonesia adalah rumput laut.Penentuan  lokasi  budidaya  rumput  laut  tidak  jarang  mengalami  kendala  yang  membutuhkan  banyak  waktu, biaya serta tenaga. Teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi solusi yang baik dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut. Lokasi budidaya rumput laut dapat diprediksi menggunakan citra Landsat 8 yang direkam bulan 1 Oktober 2014 dan 26 Maret 2015 untuk menentukan parameter suhu permukaan laut, oksigen terlarut, muatan padatan tersuspensi dan salinitas.  Daerah penelitian ini berada pada perairan pantai Kabupaten Demak Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penentuan suhu permukaan laut dan oksigen terlarut adalah algoritma Ali El Battay, algoritma Indah Budi Lesatari untuk penentuan muatan padatan tersuspensi (TSS), dan algoritma Sam Wouthuyzen dalam penentuan salinitas.Berdasarkan pengolahan data, didapatkan hasil  suhu permukaan laut daerah pengamatan tergolong memiliki suhu yang hangat yang berada pada kisaran 26°C - 32°C, kandungan oksigen terlarut dominan berada pada kisaran 3-8 mg/l, kandungan muatan padatan tersuspensi (TSS) dominan berada pada kisaran 20-80 mg/l, dan kandungan salinitas dominan berada kisaran 28-32 mg/l. Penentuan lokasi menggunakan metode matching menghasilkan kelas sesuai untuk budidaya rumput laut seluas 3829,20  ha dan berjarak 3 Km dari tepi perairan pantai Kabupaten Demak. Untuk uji RMSe SPL = 2.06°C, uji RMSe DO = 2.05 mg/l, uji RMSe TSS = 7.27 mg/l, sedangkan uji RMSe salinitas = 5.14‰Kata Kunci    : rumput laut, suhu permukaan laut, oksigen terlarut, muatan padatan tersuspensi, salinitas. ABSTRACTIndonesia is the largest archipelago in the world which there are 17,508 islands separated by the sea. Each island is bordered by the sea has  beach. The coastline of  all Indonesia islands reached 99 093 Km. The Indonesian’s beach has much natural resources on the sea and the cultivation resources. One of the natural cultivation developed in Indonesia is seaweed.Site selection for seaweed cultivation sometimes got some problems that need more time, cost and energy. The technology  such  as  remote  sensing  and  Geographic  Information  Systems  (GIS)  were  a  great  solution  for  site selection  of  seaweed  production  development. Seaweed cultivation location can be predicted with Landsat 8 image which scaned on 1st October 2014 and 26th March 2015 for the parameters of sea surface temperature, dissolved oxygen, total suspended solids and salinity. The study areas in Demak coastal waters, Central Java. The method used for determinating sea surface temperature and dissolved oxygen are algorithms Ali El Battay, Indah Budi Lesatari’s algorithm for determining total suspended solids (TSS), and Sam Wouthuyzen’s algorithm for determinating of salinity.Based on data processing, the result of relatively sea surface temperature area is warm temperatures in the range 26 ° C - 32 ° C, the dominant dissolved oxygen content in the range of 3-8 mg / l, the dominant total suspended solids (TSS)  range of 20-80 mg / l, and the dominant area content range of salinity 28-32 mg / l. The determination using matching methods produce conformity class covering 3829.20 ha and located 3 Km from the edge of the coastal waters of Demak. To test the SPL RMS error = 2.06 ° C, test RMS errors DO = 2:05 mg / l, TSS test RMS error = 7:27 mg / l, while the RMS error test salinity = 5.14 ‰Key words      : seaweed, sea surface temperature, dissolved oxygen, total suspended solids, salinity. *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS KESUBURAN DAN PENCEMARAN AIR BERDASARKAN KANDUNGAN KLOROFIL-A DAN KONSENTRASI TOTAL SUSPENDED SOLID SECARA MULTITEMPORAL DI MUARA BANJIR KANAL TIMUR Aditya Hafidh Baktiar; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.177 KB)

Abstract

ABSTRAKSeiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, mengakibatkan meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan semakin terkontaminasinya air, tanah dan udara. Salah satu perairan yang telah terkontaminasi limbah adalah perairan muara Banjir Kanal Timur dimana perairan Banjir Kanal Timur terletak di wilayah pesisir yang sering dijadikan sebagai tempat bermuaranya limbah domestik maupun limbah rumah tangga yang sering dibuang ke sungai. Oleh karena itu perlu adanya informasi mengenai mengenai penilaian kualitas air di muara Banjir Kanal Timur. Salah satu parameter untuk menilai kualitas air yaitu Klorofil-a dan Total Suspended Solid.Dalam penelitian yang dilakukan pada bulan April tahun 2016 ini memiliki tujuan untuk mengetahui distribusi kesuburan dan pencemaran air yang didasarkan pada kandungan klorofil-a dan Total Suspended Solid. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan titik sampel secara acak di perairan muara Banjir Kanal Timur. Selanjutnya hasil sampling akan diuji dilaboratorium untuk mendapatkan nilai kandungan klorofil-a dan konsentrasi TSS, dari nilai uji laboratorium, nantinya dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengolahan kandungan korofil-a dan konsentrasi TSS pada citra satelit Landsat.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi kesuburan air pada tahun 2003, 2014 dan 2016 di dominasi oleh status trofik oligotrof (0-2,6 mg/l) dan status trofik paling kecil pada tahun 2003, 2014 dan 2016 secara berurutan ditempati oleh status trofik eutrof (7,3-56 mg/l), mesotrof (2,6-7,3 mg/l) dan hipereutrof ( >56 mg/l). Sedangkan untuk konsentrasi TSS pada tahun 2003, 2014 dan 2016 didominasi oleh daerah tercemar ringan dengan nilai kandungan 84 – 504 mg/l dan indeks pencemaran paling kecil ditempati oleh kategori tercemar sedang yang memiliki kandungan TSS pada rentang 504 – 5048 mg/l. Kata Kunci : Banjir Kanal Timur, Indeks Pencemaran, Klorofil-a, Status Trofik,Total Suspended Solid.ABSTRACTAlong with the increase of population, resulting the amount of waste produced increase. This causes more contamination of water, soil and air. One of waters that has been contaminated by waste is the East Flood Canal where it is located in the coastal area that often serve as a place of domestic waste and household waste which is often dumped into the river. Therefore it is necessary that the existance of information for the water quality assessment in the estuary of the East Flood Canal. One of the parameters to assess the water quality are Chlorophyll-a and Total Suspended Solid.A study conducted in April 2016 had the objective to determine the distribution of fertility and water pollution that is based on the content of chlorophyll-a and Total Suspended Solid. In this research, random sample points was taken in the estuarine waters of East Flood Canal. Furthermore, the sampling result will be tested in laboratory to get the content value of chlorophyll-a and TSS concentrations, from the value of laboratory tests, later it could be used as the basis for processing the content of korofil-a and TSS concentration on Landsat satellite imagery.The results shows that the fertility distribution of water in 2003, 2014 and 2016 is dominated by the oligotrof trophic status (0-2 mg / l) and the lowest trophic status in 2003, 2014 and 2016 respectively occupied by the eutrof trophic status (5 -15 mg / l), mesotrof (2-5 mg / l) and hipereutrof (≥15 mg / l). While for the concentration of TSS in 2003, 2014 and 2014 were dominated by light polluted area with the content value of 84-504 mg / l and the lowest pollution index is occupied by a medium polluted category that contains TSS in the range of 504-5048 mg / l.Keywords : East Flood Canal, Chlorophyll-a, Total Suspended Solid, Pollution Index, Trophic Status*)  Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS POTENSI PENINGKATAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (NJOP) BERDASARKAN PETA ZONA NILAI TANAH (ZNT) (Studi Kasus : Kec. Sidomukti, Kota Salatiga) Riana Kristiani Priskila Putri; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.848 KB)

Abstract

ABSTRAKNilai Jual Objek Pajak (NJOP) selama ini digunakan sebagai dasar dalam pengenaan PBB. Proses penentuan NJOP haruslah sesuai dengan ketentuan nilai pasar wajar (NPW), jadi pemerintah tidak salah jika berharap bahwa NJOP adalah sama dengan nilai pasar. Tetapi kenyataannya NJOP seringkali tidak sesuai dengan NPW, hal ini mendasari semakin berkembangnya sistem penilaian harga pasar menggunakan Peta Zona Nilai Tanah (ZNT). Peta ZNT adalah peta yang menggambarkan suatu zona geografis yang terdiri atas sekelompok objek pajak yang mempunyai satu Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) yang dibatasi oleh batas penguasaan atau pemilikan objek pajak dalam satu wilayah administrasi desa atau kelurahan. Pembuatan peta ZNT memerlukan data berupa harga tanah yang berdasarkan nilai pasar sebagai informasi tekstualnya.  Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan harga tanah berdasarkan NJOP dan berdasarkan harga pasar sehingga dapat diketahui peningkatan harga tanah yang bisa didapatkan. Metode penilaian yang digunakan adalah penilaian masal, dengan pendekatan perbandingan penjualan, dimana faktor penentu nilai tanah hanya dibatasi pada faktor lokasi dan aksesibilitas. Dari hasil penelitian ini diperoleh jumlah Zona Nilai Tanah sebanyak 58 zona. Peningkatan NJOP berdasarkan harga pasar yang tertinggi mencapai 1.563%, dimana nilai tanah berdasarkan data NJOP sebesar Rp. 64.000, sedangkan nilai tanah berdasarkan harga transaksi sebesar Rp. 1.064.000, sehingga kenaikannya mencapai Rp. 1.000.000. Sedangkan peningkatan harga yang terendah adalah 57%, dimana nilai tanah berdasarkan data NJOP sebesar Rp. 464.000, sedangkan nilai tanah berdasarkan harga transaksi sebesar Rp. 729.000, sehingga kenaikannya mencapai Rp. 265.000. Tinggi rendahnya peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lokasi dan akses jalan.Kata Kunci : Nilai Indikasi Rata-Rata (NIR), Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Zona Nilai Tanah (ZNT)ABSTRACTTax Object Sales Value (NJOP) has been used as a basis for the imposition of tax on land and building. NJOP determination process must be suitable with the provisions of the fair market value (NPW), so the government consider that NJOP is equal to the market value. But the fact is NJOP often incompatible with NPW, it underlies the development of a scoring system using the market value of the Land Value Zone (ZNT) Map. ZNT map is a map that describes a geographical zone made up of a group of objects that have a single tax Indicative Value Average (NIR) which is bounded by the limits of ownership or control rights of tax object in the administrative area of the village or villages. Making of ZNT map requires data such as land values which are based on market value as textual information. This study aimed to compare the value of land based on NJOP and based on market value so increasing land value can be obtained. The assessment methods used are mass appraisal with the sales comparison approach, where the deciding factor is only limited to the value of the land on the location and accessibility factors. The results of this study show the amount of land value zone as much as 58 zones. NJOP increased based on the highest market value reached 1.563%.  It is caused by the value of land based on NJOP data Rp. 64.000 while the value of the land based on the transaction value Rp. 1.064.000, so the increase reached Rp. 1.000.000. While the lowest value increase is 57%. The land value based on NJOP data Rp. 464.000, while the value of the land based on the transaction value Rp. 729.000, so the increase reached Rp. 265.000. The level of this increase is influenced by location and access road factors.Keywords: Indicative Value Average (NIR), Land Value Zone (ZNT) Map, Tax Object Sales Value (NJOP)   *) Penulis, Penangungjawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adito Maulana Aditya Hafidh Baktiar Adzim, Hamida Zulfi Ahadea Kautzarea Yuwono Ahmad Daniyal Aisah Hajar Akbar, Rizki Maulidi Albani, Ferel Rico Alfian Galih Utama, Alfian Galih Alfreud, Carl Dylan Aminudin, Azam Ammarohman, Fauzi Janu Andri Suprayogi Angga Sapto Aji, Angga Sapto Annaafi, Raihan Deo Ardhian Setiawan Saputra Arief Laila Nugraha Arizal Kawamuna, Arizal Arliandy Pratama Avi Yudhanto Avianta Anggoro Santoso Avini Sekha Rasina Bambang Darmo Yuwono Bambang Septiana Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bastrianto, Regina Widya Dani Nur Martiana Denni Apriliyanto Dian Ayu Saraswati Dwi Nugroho Dwi Setyo Wicaksono, Dwi Setyo Dwi Uzteyqah Exacty Erlangga Putranindya Fahrunnisa Wulandari Adininggar Faizah, Eliya Nur Faizal Hafidz Muslim Fatimah, Bekty Nur Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Gilang Yudistira Hilman Gita Amalia Sindhu P. Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Haniah Haniah Harmeydi Akbar Heranda Ibnu Adhi Ihsan Pakaya Indah Purwanti Kartiko Ardhi Widananto Lilik Kristianingsih Lukman Maulana Manik, Sarah Magdauli Maulvi Surya Gustavianto Mia Anggorowati Karomah Muh Zaki Ulil Albab Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Ibnu Munadi Mutiah Nurul Handayani Nadia Anggraeni Yuristasari Nisa, Afifatun Novita Amelia Nuardi Dwi Pradipta Nur Wahidah Sudarsono, Nur Wahidah Nurfauzi, Irfan Nurhadi Bashit Paundra Ksatrio Wahyutomo Polin Mouna Togatorop Prambudhianto Putro Pamungkas Praptaningtyas, Berliana Dwi Putra, Ikhlas Ika Putri Mariasari Sukendar, Putri Mariasari Putri, Novita Resti Winda Ratriana Rezky Yudhaseno Riana Kristiani Priskila Putri Ridho Alfirdaus Risty Khoirunisa Rosyiidah, Rofi’ Ronaa Ryadi, Michael Vashni Immanuel Sabri, L M Sawitri Subiyanto Sendi Akhmad Al Mukmin Setyo Adhi Nugroho Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Simamora, Enggar Stefan Sinaga, Kepin Siti Khoeriyah Sukomono, Abdi Sulistyo, Mohamad Adityo Ragil Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syaharini, Jay She Sylvia Tri Yuliani Tengku Oki Al Akbar Togi Pardo Siagian Ummi Athiyyah Yuniarti Wahyu Satya Nugraha Wahyuddin, Yasser Wahyudin, Yaser Wahyudin, Yasser Wibisana, Alyawan Satrio widya Prajna Yoga Kencana Nugraha Yudo Prasetyo Yuliansyah Rachman Nur Rizky