Renti Mahkota
Department Of Epidemiology, Faculty Of Public Health, Universitas Indonesia, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Determinan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Kota Bengkulu saat Kebakaran Hutan Handayani, Rini; Mahkota, Renti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 3 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 3, Agustus 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i3.88

Abstract

Latar Belakang: Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Bengkulu tahun 2015 menyebabkan adanya pencemaran udara baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal ini juga mengakibatkan meningkatnya kejadian ISPA pada balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan kejadian ISPA pada balita di Kota Bengkulu saat kebakaran hutan tahun 2015. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah case control. Kasus merupakan balita yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan dan didiagnosa menderita ISPA dan kontrol adalah dua balita tetangga kasus yang ditemui pertama kali. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis atap (OR: 2,79; 95% CI: 1,36-5,69), ventilasi (OR: 2,60; 95% CI: 1,39-4,84), kepadatan hunian (OR: 2,14; 95% CI: 1,07-4,28), dan asap bahan bakar memasak (OR: 4,14; 95% CI: 1,56-10,9) memiliki hubungan yang kuat terhadap ISPA. Kesimpulan: Jadi, ada hubungan antara kondisi fisik rumah, kepadatan hunian dan pajanan asap terhadap kejadian ISPA pada Balita setelah dikontrol oleh variabel kovariat. Determinant of Acute Respiratory Infection (ARI) in Under Five Years Old in Bengkulu during Forest Fire Background: Forest fire which was happened in Province Bengkulu in 2015 potentially cause indoor or outdoor air pollution. It can increase Acute Respiratory Infection (ARI) in children under five years old. This study aimed to find out the dominant determinants of ARI in under five years old in Bengkulu city when forest fire in 2015. Method: The research was done with case control design during March-July 2016. Cases were 116 children under five who visited primary health care and were diagnosed ARI. Controls were 232 children under five who were cases’ neighbors who first met. Analysis was done using logistic regression. Result: It found that a significant association between improper roof (OR=2.68; 95% CI: 1.31-5.45), inadequate ventilation (OR=2.60; 95%CI: 1.38-4.89), living in overcrowded conditions (OR=2.12; 95% CI: 1.06-4.25), indoor air pollution from of combustion from fuel used for cooking (OR=4.88; 95% CI: 1.87-12.79), gender (OR=2.67; 95%CI: 1.45-4.93), nutritional status (OR=2.67; 95%CI: 1.27-5.60), immunization history (OR=3.10; 95%CI: 1.40-6.86), and breastfeeding history (OR=5.12; 95%CI: 2.73-9.57) with ARI. Conclusion: In conclusion, there are relation of house conditions, overcrowded conditions smoke, and characteristics of children under five years old with ARI in children under five years old in Bengkulu City when forest fire in 2015. Keyword: Acute Respiratory Infection, Children under five, Forest Fire, Risk Factors
OVERVIEW OF VACCINATION STATUS AND COMORBIDITIES IN DEATHS DUE TO COVID-19 OMICRON VARIANT IN RIAU PROVINCE, 2022: Gambaran Status Vaksinasi dan Komorbiditas pada Pasien Meninggal Akibat COVID-19 Varian Omicron di Provinsi Riau, 2022 Rajunitrigo, Rajunitrigo; Muryanto, Irwan; Mahkota, Renti; Siregar, Fajri Marindra; Elvita, Nina; Malfasari, Eka; Basra, Mega Utami; Marwanty, Marwanty
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Berkala Epidemiologi (Periodic Epidemiology Journal)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V12I22024.134-142

Abstract

Background: The Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) pandemic is causing problems in public health. One of the prevention efforts is vaccination. Omicron, the new variant of COVID-19, is a variant that is spreading rapidly in Indonesia, including in Riau Province. Purpose: This study aims to describe the determinants of vaccination status in deaths of Omicron variant COVID-19 patients in Riau Province from February to April 2022. Methods: Cross-sectional research was conducted using secondary data. A total of 158 patients who died with confirmed COVID-19 and the Omicron variant via S-Gene Target Failure (SGTF) and sequencing test, and were treated at a referral hospital in Riau Province within two months (8 February – 4 April 2022) were included in the study. The distribution of patient deaths was analyzed univariately and bivariately. Results: Most of the death cases were unvaccinated (67.09%). As many as 48.73% of the 158 deaths were elderly ≥61 years, and the majority (70.13%) of cases were unvaccinated. It was found that 64.56% of the 158 patient deaths occurred in mainland Riau, and the majority (67.65%) were unvaccinated. Diabetes mellitus (35.86%) and cardiovascular disease (28.97%) were the highest comorbidities. Conclusion: In preventing deaths due to COVID-19, it is necessary to accelerate and increase vaccination coverage, especially for children and the elderly in land and coastal areas. Vaccination can optimize protection against COVID-19. Apart from that, efforts are needed to prevent the severity of comorbidities.
Hubungan Pengetahuan HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Remaja 15-19 Tahun di Indonesia (Analisis Data SDKI Tahun 2012) Situmeang, Berliana; Syarif, Syahrizal; Mahkota, Renti
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stigma terhadap ODHA menjadi salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan, perawatan, pengobatan, dan dukungan HIV/AIDS. Pengetahuan tentang HIV/AIDS mempengaruhi terjadinya stigma terhadap ODHA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA di kalangan remaja usia 15-19 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2012 dengan disain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 8.316 orang. Hasil studi menunjukkan 71,63% remaja mempunyai stigma terhadap ODHA, 49,10% remaja mempunyai pengetahuan yang kurang tentang HIV. Pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS berhubungan dengan stigma terhadap ODHA (PR= 1,210 95% CI: 1,149-1,273) setelah dikontrol oleh keterpaparan media massa. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja guna mengurangi stigma terhadap ODHA.
Pengaruh Jarak Kelahiran terhadap Kematian Bayi di Indonesia, Filipina, dan Kamboja (Analisis Data Survei Demografi Kesehatan) Fitri, Adelina; Adisasmita, Asri; Mahkota, Renti
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kematian bayi didefinisikan sebagai kematian yang terjadi pada tahun pertama kehidupan. Angka kematian bayi di Indonesia dan Kamboja sendiri masih berada diatas AKB Asia Tenggara, sedangkan Filipina sudah sama dengan AKB Asia Tenggara. Jarak kelahiran merupakan salah satu faktor yang memegang peran penting pada kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi di Indonesia, Filipina dan Kamboja. Penelitian menggunakan data dari Demographic Health Survey (DHS). Desain penelitian adalah cross sectional dan sampel pada masing-masing negara berjumlah 10.162, 4.741 dan 4.330 bayi. Hasil penelitian memperlihatkan, jarak kelahiran < 18 bulan memiliki risiko paling besar terhadap kematian bayi di Indonesia (OR = 2,43: 95% CI 1,26 - 4,70), Kamboja (OR = 4,39: 95% CI 1,76 - 10,94) dibandingkan jarak kelahiran 18 - 23 bulan, 24 - 35 bulan dan > 36 bulan. Sedangkan di Filipina jarak kelahiran 18 - 23 bulan merupakan risiko paling besar pada kematian bayi dibandingkan jarak kelahiran < 18 bulan dan >2 4 bulan (OR = 2,59: 95% CI 1,13 - 5,95). Jarak kelahiran yang ideal untuk mengurangi risiko kematian bayi adalah > 24 bulan
Faktor Risiko Terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A di Kabupaten Tangerang Tahun 2016 Laila, Nenden Hikmah; Mahkota, Renti; Sariwati, Elvieda; Setiabudi, Dwi Agus
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatitis A adalah penyakit hati akibat virus hepatitis A yang dapat menyebabkan kesakitan ringan sampai berat. Di Indonesia Hepatitis A sering muncul dalam Kejadian Luar Biasa (KLB). Tahun 2014 tercatat 3 Provinsi dan 4 Kabupaten terjadi KLB dengan jumlah penderita 282. Penyelidikan epidemiologi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran KLB dan mengidentifikasi faktor risiko KLB Hepatitis A di Kabupaten Tangerang tahun 2016. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kasus kontrol. Penyelidikan dilaksanakan pada bulan Maret 2016 di Kabupaten Tengerang. Besar sampel yaitu 44 kasus dan kontrol sebanyak 95. Data yang dikumpulkan dalam penyelidikan ini berupa data primer dan sekunder. Data primer meliputi identifikasi responden dan faktor risiko Hepatitis A. Penyelidikan dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur serta observasi lingkungan. Data sekunder diambil berdasarkan laporan puskesmas, catatan dinas kesehatan Kabupaten Tangerang dan data demografi. Data dianalisis dengan Stata menggunakan uji bivariate: Chi Square (X2) dan multivariate; regresi logistik. KLB terjadi pada bulan Februari-Maret 2016 dengan kasus sebanyak 44, kasus terbanyak terjadi pada minggu ke-10 pada bulan Maret 2016. KLB hepatitis A berdasarkan kelompok umur 6 10 tahun sebesar 3 orang (6.82%) lebih sedikit dibanding umur 11-16 tahun yaitu 41 orang (93.18%), KLB hepatitis A berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada perempuan yaitu 24 orang (54.55%) dibanding laki laki yaitu 20 orang (45.45%) dengan OR 0.71 (CI95% 0.32-1.56). Faktor risiko diantaranya tidak cuci tangan pakai sabun sehabis BAB OR 7.90 (CI 95% 3.14 -19.88) dan jenis kantin yang digunakan (Warung 2) OR 2.92 (CI 95% 1.21 - 7.02). KLB hepatitis A terjadi karena berbagai faktor risiko diantaranya tidak cuci tangan pakai sabun sehabis bab dan jenis kantin yang digunakan (Warung 2). Selain itu PHBS penjamah makanan kurang baik dan sanitasi lingkungan juga buruk. Upaya pencegahan bisa dilakukan melalui perbaikan sanitasi sekolah dan penyuluhan tentang PHBS dan imunisasi hepatitis A.
Factors Affecting the Adoption of Malaria Interventions for Pregnant Women in Tanzania: Tanzania Demographic Health Survey 2022 Nyamukondiwa, Melisa; Adisasmita, Asri C.; Mahkota, Renti; Betera, Same
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 8, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanzania is endemic to malaria and pregnant women due to their vulnerability are among the high-risk groups. The adoption of malaria interventions targeted to pregnant women is affected by a number of factors. A cross-sectional study using secondary data from Tanzania Demographic Health Survey (TDHS) for 2022 was used. A logistic regression was used for bivariate analysis to identify factors affecting the adoption of malaria interventions during pregnancy in Tanzania. Data from pregnant women between 15 to 49 years (N=1408) were analyzed in this study. Insecticide treated nets (ITNs) and intermittent preventive therapy in pregnancy using sulfadoxine-pyrimethamine (IPTp-SP) were the main malaria prevention methods identified from the TDHS 2022. The results showed that insecticide treated nets ownership (83.0%) and its usage (85.5% of those who had ITN) was relatively high among pregnant women. More than half of the pregnant women (60.6%) received IPTp-SP during pregnancy. Marital status (ORmarried compared to not married=1.60; 95% CI: 1.15-2.24), education (ORsecondary level and higher compared to no education=1.43; 95% CI: 1.04-2.00) and Antenatal Care (ANC) visits (ORat least four ANC visits compared to no ANC=2.60, 95% CI: 1.40-4.82), and higher level wealth status and parity had statistically significant association with higher odds of using ITN. Age (OR≥35 years compared to 15-19 years=0.15, 95% CI: 0.05-0.50), education level (ORsecondary level and higher compared to no school=0.47, 95% CI: 0.27-0.79) and wealth status (at all levels, compared to the poorest) had statistically significant association with lower IPTp-SP uptake. Antenatal care visits should be maximized as an opportunity to distribute insecticide treated nets, give intermittent preventive medicine and education on malaria prevention. Future research should conduct multivariate analysis to determine independent predictors.
Epidemiologi Kejadian Luar Biasa Malaria Bulan September-November 2024: Studi Serial Kasus di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau Rajunitrigo, Rajunitrigo; Muryanto, Irwan; Mahkota, Renti; Armen, Fadhil; Nuryanti, Yusni; Rizal, Fahrul; Adwiyah, Rabiatul
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Malaria remains a public health issue in Indragiri Hilir Regency, Riau, despite its elimination certification 2018. In 2024, a malaria outbreak occurred, and an epidemiological investigation was then carried out. This study aims to describe the epidemiological characteristics of the malaria outbreak based on person, time, and place. This study used a serial case design, analyzing all confirmed malaria cases reported in the e-SISMAL system of Indragiri Hilir Regency from September 1st to November 30th, 2024. Data on Anopheles Sundaicus habitats were obtained from epidemiological investigation reports. Univariate and bivariate analyses were conducted using the chi-square test. Among them 248 identified cases, with 50% aged 15–45 years, 55.2% male, and 27.0% housewives. Among them, 90.3% had no history of malaria, 91.5% were infected with Plasmodium vivax, and 63.7% experienced fever and/or chills. The peak of cases occurred in week 41, with 66.5% seeking treatment within 1–3 days. A total of 98.4% of cases were from Kuala Selat Village, with an Annual Parasite Incidence (API) of 112.4‰. The primary habitat of Anopheles Sundaicus was in lagoons, with the highest larval density found in water bodies with salinity level of 6–11‰. Bivariate analysis showed a significant association between male gender and high-risk occupations with symptomatic malaria status (pAnopheles Sundaicus habitats are necessary. Additional, protection for high-risk groups, education, and enhanced surveillance should be reinforced to prevent future case surges. Keywords: Malaria Outbreak, Malaria Epidemiology, Plasmodium vivax, Anopheles Sundaicus, Indragiri Hilir Regency