Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Formulasi Salep Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Kombinasi Zeolit Alam Lampung (Zal) Sebagai Penstabil Sediaan Antibakteri Staphylococcus aureus Laila Susanti; Lilik Koernia Wahidah; Pratika Viogenta
Journal of Pharmascience Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8086

Abstract

ABSTRAK Sediaan salep esktrak buah mengkudu telah terbukti sebagai antibakteri, namun esktrak tanaman pada umumnya sangat mudah terdegradasi oleh pH, cahaya dan suhu, oleh karena itu pemanfaatan Zeolit Alam Lampung (ZAL) dengan keistimewaan struktur morfologinya diharapkan mampu mempertahankan kestabilan sediaan salep hingga suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ZAL sebagai penstabil sediaan salep dengan menghitung perubahan prosentase zona hambat bakteri pada sediaan salep sebelum dan sesudah dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC. Penelitian ini meliputi tiga tahap utama yakni pertama formulasi salep ekstrak buah mengkudu kombinasi Zeolit Alam Lampung (ZAL) dengan variasi konsentrasi ekstrak 10%+ZAL, 15%+ZAL, 30%+ZAL, KZ (Kontrol Zeolit tanpa esktrak) dan KE (Kontrol Ekstrak tanpa zeolit) yang kemudian dilakukan evaluasi sediaan salep. Tahap kedua seluruh sampel dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada sediaan salep, dan tahap ketiga seluruh sampel disimpan pada suhu 40oC selama 24 jam, kemudian diuji aktivitas antibakteri kembali terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel sebelum dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC menunjukkan respon zona hambat bakteri yang kuat kecuali KZ. Setelah dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC, terjadi penurunan zona hambat pada KE dan Ekstrak 10%+ZAL sebesar 100% dan 36,81%. Hal yang menarik terjadi pada Esktrak 15%+ZAL dan 30%+ZAL, yakni terjadi kenaikan zona hambat sebesar 35,20 % dan 31,32%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai Asymp. Sig (0,016) <  nilai p (0,01) maka H0 ditolak sehingga dilakukan uji lanjut Tukey yang menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan antar kelompok uji. Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ZAL mampu meningkatkan kinerja sediaan salep ekstrak buah mengkudu terutama pada konsentrasi 15% dan 30% dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus sehingga sediaan salep esktrak buah mengkudu kombinasi ZAL dapat digunakan sebagai alternatif obat pengganti obat sintetik kimiawi.  Kata kunci : Zeolit, Salep, M.citrifolia L, Staphylococcus aureus ABSTRACT             Noni extract ointment has been proven to be antibacterial, but plant extracts are generally very easily degraded by pH, light and temperature, therefore the use of Lampung Natural Zeolite (ZAL) with its special morphological structure is expected to be able to maintain the stability of ointment preparations to high temperatures. This study aims to determine the potential of ZAL as a stabilizer for ointment preparations by calculating the change in the percentage of bacterial inhibition zones in ointment preparations before and after storage at 40oC. This study includes three main stages, namely the first formulation of noni extracts from Lampung Natural Zeolite extract (ZAL) with variations in extract concentration of 10% + ZAL, 15% + ZAL, 30% + ZAL, KZ (Zeolite control without extract) and KE (Control Extract without zeolite) which then evaluated the ointment preparation. The second stage of all samples was tested for antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria in ointment preparations, and the third stage all samples were stored at 40oC for 24 hours, then tested for antibacterial activity against Staphylococcus aureus. The results showed that all samples before storage at 40oC showed a strong inhibitory zone response except KZ. After storage at 40oC, there was a decrease in inhibition zones at KE and Extract 10% + ZAL by 100% and 36.81%. An interesting thing happened at the Extract 15% + ZAL and 30% + ZAL, namely an increase in inhibition zones of 35.20% and 31.32%. Statistical test results indicate the Asymp value. Sig (0.016) >p value (0.01) then H0 is accepted, so Tukey's further tests show that there are significant differences between the test groups. From this explanation it can be concluded that ZAL can improve the performance of noni fruit extract ointment especially at concentrations of 15% and 30% in inhibiting Staphylococcus aureus bacteria so that the ZAL noni extract extract can be used as an alternative drug for chemical synthetic drugs. Keywords : Zeolite, Ointment, M.citrifolia L, Staphylococcus aureus
Studi Fitokimia Jamur Endofit Tumbuhan Seluang Belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) Asal Kabupaten Tabalong Kalsel Nashrul Wathan; Pratika Viogenta; Jehan Azizah; Fery Ramadhan; Sindwi Rinanda Sari
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14317

Abstract

Seluang belum adalah tumbuhan asal Kalimantan yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai afrodisiaka karena memiliki metabolit sekunder yang bervariasi. Endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan mampu menghasilkan metabolit sekunder yang serupa dengan inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan isolat jamur endofit dari akar Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) dan melakukan skrining fitokimia senyawa yang dikandungnya. Proses penumbuhan isolat jamur endofit dari akar seluang belum (L. sarmentosa) dilakukan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) hingga didapatkan isolat terpisah. Jamur endofit murni yang dihasilkan kemudian diamati identitasnya secara makroskopik dan mikroskopik. Jamur endofit hasil isolasi lalu dibiakkan dalam media Potato Dextrose Broth (PDB), senyawa bioaktif yang terkandung lalu diekstraksi menggunakan etil asetat dan dilanjutkan identifikasi senyawa fitokimianya. Penelitian ini mendapatkan 6 isolat endofit yang diidentifikasi sebagai Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici dan Tripospermum Speg. Kandungan senyawa fitokimia yang diskrining dari ekstrak etil asetat keenam jamur endofit hasilnya beberapa isolat positif mengandung golongan senyawa fenolik, flavonoid, steroid, dan terpenoid. Kata Kunci: Saluang Bilung, lavanga sarmentosa, Fungi Endofit, Herba Kalimantan, Suku Dayak   Seluang belum. is a plant from Kalimantan which commonly believes by local people as an aphrodisiac because it has various secondary metabolites. Endophytes are microbes that live in plant tissues and are able to produce secondary metabolites similar to their host. The purpose of this study is to isolating the endophytic fungus from Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) root and to perform phytochemical screening of its metabolites. Endophytic fungi isolated from seluang belum roots then grown in PDA (Potato Dextrose Agar) media until obtained separate isolates. The obtained fungal isolates then identified macroscopically and microscopically to determine their identity. The isolated fungi then fermented in PDB (Potato Dextrose Broth) media, the secondary metabolites then extracted with ethyl acetate and identified its phytochemicals. The results showed that 6 endophytic isolates were identified as Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici and Tripospermum Speg. The phytochemical content that screened from the ethyl acetate extract of 6 endophytic fungi was resulting some positive containing groups of phenolic compounds, flavonoids, steroids, and terpenoids.