Articles
PERBEDAAN SUBJECTIVE WELL BEING PADA IBU DITINJAU DARI STRUKTUR KELUARGA DI KOTA DENPASAR
Dewi, Gina Sonia Martha;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (285.721 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p11
Ilmu psikologi tidak hanya studi yang membahas tentang kelemahan tetapi juga studi tentang kekuatan dan kebijakan individu yang kemudian disebut sebagai Psikologi Positif. Salah satu pokok bahasan dalam psikologi positif adalah terkait dengan subjective well being individu. Terdapat enam prediktor subjective well being individu dimana salah satu prediktor tersebut adalah hubungan sosial yang positif. Kelompok sosial terkecil didalam masyarakat adalah keluarga. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analisis Independent Sample T-test, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu two stage area sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu yang tinggal pada struktur keluarga nuclear family (N=60) dan struktur keluarga extended family (N=60) dengan rentang usia 18-40 tahun. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala subjective well being sebanyak 27 aitem (?= 0,857). Hasil dari penelitian ini diperoleh t hitung pada Equal varians assumed sebesar 2,519 dengan probabilitas 0,013 atau berada dibawah 0,05 (p<0,05), maka Ha diterima, atau dapat dikatakan kedua kelompok berbeda secara signifikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan subjective well being pada ibu yang tinggal dalam struktur keluarga nuclear family dengan ibu yang tinggal dalam struktur keluarga extended family. Kata Kunci : Subjective well being, Ibu, Extended Family, Nuclear Family
Peran tujuan berprestasi dalam memprediksi kemunculan perilaku meminta bantuan akademik terhadap teman sebaya pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Nugraha, I Gusti Agung Ananda Giri;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 9 No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/JPU.2022.v09.i02.p03
Meminta bantuan akademik terhadap teman sebaya adalah salah satu cara regulasi belajar yang efektif untuk meningkatkan prestasi karena pelajar di Indonesia secara umum memiliki sifat pemalu dan pendiam di kelas dan enggan bertanya kepada pengajar namun banyak alasan selain tujuan berprestasi yang menyebabkan individu ingin mendapatkan nilai yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mencaritahu peran tujuan berprestasi dalam memprediksi kemunculan perilaku mencari bantuan akademik terhadap teman sebaya. Penelitian ini dilakukan terhadap 163 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang didapatkan melalui teknik convenience sampling. Data dari penelitian ini didapatkan melalui skala terjemahan Pattern of Adaptive Learning Survey dan Help Seeking From Peer Measure. Data yang didapatkan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tujuan berprestasi merupakan prediktor positif signifikan dari meminta bantuan instrumental pada teman sebaya (R2=0,221, p<0,001) namun bukan merupakan prediktor dari meminta bantuan eksekutif pada teman sebaya. Penelitian ini berimplikasi bahwa perilaku meminta bantuan instrumental pada teman sebaya yang dilakukan muncul karena mahasiswa memiliki tujuan yang ingin dicapai ketika pelajar, namun hal yang sama tidak berlaku pada meminta bantuan eksekutif yang mana disebabkan oleh faktor lainnya.
Hubungan antara kelekatan orangtua-remaja dengan motivasi belajar pada remaja di SMA Negeri 4 Denpasar
Manalu, Paul Kevin;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1116.914 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p13
Masa remaja merupakan masa dimana manusia sedang berada didalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan anak membutuhkan sebuah dorongan untuk dapat menjalani proses tersebut dengan baik, dorongan tersebut disebut motivasi belajar. Orangtua merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk motivasi belajar remaja. Hubungan antara orangtua dan remaja yang terbentuk sejak lama dan memberikan arti khusus pada remaja itu disebut kelekatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelekatan orangtua dan remaja dengan motivasi belajar pada remaja di SMA Negeri 4 Denpasar. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple cluster sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 143 orang, siswa SMA Negeri 4 Denpasar berusia 15-16 tahun dan sedang duduk di kelas XI. Peneliti menyebarkan dua skala yaitu skala kelekatan orangtua-remaja yang disusun oleh Dewi (2013), dan skala motivasi belajar yang disusun berdasarkan aspek motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang disusun oleh Uno (2011). Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product moment untuk melihat hubungan antara variabel kelekatan orangtua dan remaja dengan motivasi belajar. Analisis product moment menghasilkan r hitung 0,356 dengan signifikansi 0,000 (<0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan positif antara kelakatan orangtua-remaja dengan motivasi belajar. Nilai koefisien determinannya adalah 0,127 yang berarti bahwa kelekatan mempunyai kontribusi sebesar 12,7% terhadap motivasi belajar. Dengan demikian semakin tinggi kelekatan orangtua-remaja maka semakin tinggi juga motivasi belajar remaja. Kata kunci: Motivasi belajar, kelekatan, remaja.
HUBUNGAN KEBUTUHAN AFILIASI DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL TWITTER PADA REMAJA AKHIR
Putra, I Putu Galang Dharma;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (521.502 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p05
McClelland said that one of three major human needs is the need for affiliation, or the need to establish relationships with other people who are generally at its peak when someone is at the stage of adolescence. One way to establish a relationship with another individuals is by communicate. One medium that people uses to communicate is internet. Twitter is one of many internet-based social media that often used by the adolescence. Various things communicated by teenagers on Twitter, from positive tweets, or even the controversial one. Thus, makes their intensity of adolescence’s tweets, because adolescence wants to established a communication with other people in order to satisfy their need for affiliation. Therefore, it can be assumed that adolescence’s need for affiliation is related to their intensity of Twitter usage A total of 415 adolescence aged between 18-21 years old were becoming subjects of this research. This study uses quantitative method with correlational approach. The sampling technique was multistage cluster sampling. The instruments that used in this research are the need for affiliation scale (21 items), and the intensity of twitter usage scale (2 items), with the need for affiliation scale’s reliability coefficient of 0.815 The main data in this research were processed by using the nonparametric Spearman correlation analysis with a correlation value of 0.342 and a probability value of 0.000. The supporting data were also processed using the nonparametric analysis to see the difference between subjects’ demographic data. The results indicate that the needs for affiliation variable and intensity of Twitter usage variable did not differ significantly by gender of respondents, however, it differ significantly based on age and length of ownership of the subjects’ Twitter account. Keywords: Need for affiliation, intensity, Twitter, adolescence.
Peran dukungan sosial keluarga dan efikasi diri terhadap stres akademik mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2018
Wistarini, Ni Nyoman Imas Pradnyanita;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (537.263 KB)
Stres akademik diartikan sebagai respon tubuh terhadap tekanan, tuntutan, persaingan, harapan yang terjadi di lingkungan pendidikan untuk meningkatkan prestasi akademik. Stres akademik dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal berasal dari dukungan sosial dan faktor internal berasal dari keyakinan individu akan kemampuannya sendiri atau efikasi diri. Keluarga merupakan sumber dan dukungan sosial pertama yang diterima oleh seseorang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran dukungan sosial keluarga dan efikasi diri terhadap stres akademik mahasiswa baru. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif. Karakteristik subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswa baru angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan jumlah 150 orang. Skala yang digunakan untuk alat ukur penelitian ini adalah skala dukungan sosial keluarga, skala dengan hasil nilai koefisien regresi 0,556, nilai koefisien determinasi 0,310 dan nilai signifikansi 0,000 (p<0.05) serta koefisien beta terstandarisasi pada variabel dukungan sosial keluarga senilai -0,240 dan efikasi diri senilai -0,576 yang berarti dukungan sosial keluarga dan efikasi diri berperan dalam menurunkan stres akademik pada mahasiswa baru angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kata Kunci: Dukungan sosial keluarga, efikasi diri, mahasiswa baru, stres akademik.
Perbedaan Efikasi Diri Berdasarkan Tipe Pola Asuh Orangtua pada Remaja Tengah di Denpasar
Widiyanti, A.A. Mas Diah;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (345.431 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p17
Parenting style are all forms of interaction process between parent and child that will give effect to the personality development of children. The growth of self-efficacy in adolescents is evolve regularly. Beginning of the growth of self-efficacy focused on the elderly, then influenced by siblings, peers, and other adults. In this case the parents and family members have an important role in the formation of adolescent self-efficacy. Patterns of parenting and good interaction with family members is a contributing factor to form a positive self-efficacy in adolescents. Different dynamics of parenting style will also form a different self efficacy in adolescents. The aim of this research is to investigate the difference of self-efficacy based on parenting style of middle adolescents in Denpasar. This research is quantitative comparison. The subjects were middle adolescents in Denpasar as many as 380 people to the criteria of Grade X and XI Senior High School in Denpasar. The sample were selected using Area Probability Random Sampling Method. Method of data collection using the Parenting Scale has tested its validity, the reliability of 0.952 as well as Self-Efficacy Scale also has reliability 0.962. Distribution of the data obtained indicates normal data and homogeneous. Statistical analysis methods with techniques of comparative One Way Anova. Results obtained F = 22.275, p = 0.000 and analysis of Post Hoc get results indicate that the authoritative parenting has a significance of 0.000 Authoritarian, authoritative parenting with 0,000 Permissive, Authoritarian parenting Permissive amounted to 0.163. It means that the difference in self-efficacy based on the type of authoritative parenting with authoritarian, self-efficacy differences with Permissive parenting authoritative, and there is no difference in self-efficacy on the Authoritarian Permissive parenting adolescents in the middle of Denpasar. Keywords : Parenting Style, Self-Efficacy, Middle Adolescents
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGAN PERILAKU MENJALIN PERSAHABATAN PADA REMAJA DI DENPASAR
Purnamasari, Kadek Novia;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (302.919 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p03
Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Seiring dengan perubahan yang dialami, remaja cenderung mencari jati diri dengan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Terkadang, keinginan para remaja terhalang oleh sikap orangtua dalam mengasuh anak yang masih menjunjung tinggi aturan kebudayaan, sehingga mempengaruhi hubungan antara orangtua dengan anak. Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja terhadap perilakunya. Tidak sedikit anak dengan pola asuh orangtua yang otoriter cenderung menarik diri dari lingkungannya. Hal ini dapat memicu remaja untuk enggan menjalin persahabatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang negatif antara pola asuh otoriter dengan perilaku menjalin persahabatan pada remaja. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Subyek penelitian ini adalah remaja SMA Negeri di Denpasar sebanyak 207 orang dengan kriteria anak yang berpola asuh otoriter dan berusia antara 15-17 tahun. Metode pengambilan sampelnya dengan metode area probability random sampling. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Korelasi Product moment dari Karl Pearson. Oleh karena data hasil penelitian memiliki distribusi yang tidak normal, maka peneliti memutuskan untuk mengubah metode analisis data menjadi nonparametrik Korelasi Spearman Rank. Hasil probabilitas pada korelasi spearman rank 0,000 (p < 0,05) menunjukkan bahwa ada hubungan (signifikan) dengan kategori nilai korelasi rendah berdasarkan tabel makna nilai korelasi menurut Sugiyono 2007, dimana koefisien korelasi spearman rank-nya adalah +0,327. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang negatif antara pola asuh otoriter dengan perilaku menjalin persahabatan pada remaja. Kata kunci : Pola Asuh Otoriter, Perilaku Menjalin Persahabatan, Remaja
PERBEDAAN KEMANDIRIAN REMAJA SMA ANTARA YANG SINGLE FATHER DENGAN SINGLE MOTHER AKIBAT PERCERAIAN
Suwinita, I Gusti Ayu Mirah;
Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (338.781 KB)
|
DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p06
Structure of the family is one of the factors that builds the independence of adolescents. Nowadays, it is uncommon to find families that are not united due to divorcement. The condition where families are no longer united (single parent) will affect the independence of adolescents. Independence of adolescence is the ability to organize behavior and decision without being dependent on parents (Steinberg, 2002). The purpose of this research is to see the difference of independence between senior high school adolescents with single mother and adolescents with single father due to divorcement. A total of 64 senior high school adolescents in Bali in aged 15-18 years who have single parents due to divorcement were included as subjects in this quantitative research, with comparison approach. The sampling technique that was used in this research was cluster sampling. Measuring instrument used in this research was Independence Scale (34 item, rxx=0.889). The statistical technique used to process the data of this study is a parametric test of independent t-test. Based on the outcome of this research, it appears that there is no significant difference between the independence of senior high school adolescents with a single father nor single mother due to divorcement (t=1.212) with p equal to 0,230 (p>0,05). Keyword: Autonomy of Adolescence, single father, single mother.
Peran Citra Tubuh Terhadap Kepercayaan Diri Pada Remaja Perempuan di Denpasar Yang Menggunakan Media Sosial Tiktok
Kusumawati, Ni Ayu Diah;
Marheni, Adijanti;
Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 9.C (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Self-confidence is one of the important things in the growth and development process, especially in adolescents. This is because self-confidence is one of the developmental tasks in adolescence. where at this stage individuals will experience various changes in themselves, starting from physically and psychologically, not infrequently these changes cause adolescents' self-confidence to decrease. Body image at this time is often based on stereotypes or certain beauty standards such as having a good body shape, being thin, having a tall body and white skin which are spread through TikTok social media. This study aims to determine the role of body image on self-confidence in female students in Denpasar who use TikTok. This type of research is quantitative using cluster sampling techniques. The measuring instrument used in this study uses a scale of self-confidence and body image. The total number of subjects in this study was 197 respondents. Data analysis in this study used a simple linear regression technique. The results of the study showed that appearance evaluation played a role of 11.3% on self-confidence, appearance orientation played a role of 8.6% on self-confidence, satisfaction with body parts played a role of 6.4% on self-confidence, anxiety about having a fat body played a role of 0.3% so it was considered not to play a role on self-confidence and body size categorization played a role of 2.3% on self-confidence.
Peran Kontrol Diri sebagai Mediator Hubungan Komunikasi Efektif Orang Tua Remaja dengan Agresivitas Remaja
Pratidina, Putu Ayu Onik;
Marheni, Adijanti;
Sampe Tondok, Marselius
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 27 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20885/10.20885/psikologika.vol27.iss1.art6
Aggressiveness is one of the most critical problems in adolescents in their relationships with other people. Various factors that influence adolescent aggressiveness include effective parent- adolescent communication and self-control. However, there is still limited research examining the effect of effective parent-adolescent communication on adolescent aggressive behavior, especially mediated by self-control. This study aimed to determine the effect of effective parent-adolescent communication on adolescent aggressiveness mediated by self-control. The participants of this study were 228 high school students, middle adolescence (15-18 years). Data were collected using the Parent-Adolescent Effective Communication Scale, Aggressiveness Scale, and Self-Control Scale. The hypotheses were tested using mediation analysis using the JASP statistical program. The results showed that self-control partially mediated the relationship between effective parent-adolescent communication on adolesent aggressiveness. Furthermore, parents’ communication with adolescent girls was more likely to be open than with boys. These results can be a reinforcement that effective parent-adolescent communication plays an important role in the development of a child from an early age because it supports the development of self-control and behavior of children.