Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Komunikasi Kelompok untuk Meningkatkan Kerja Sama Tim Produksi Samasta Films Iqbal Jamil; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i1.6675

Abstract

Abstract. One of the many phenomena today is that Indonesia's creative industry is booming. Film is a subsector of the creative industry. In Bandung itself, the film is a developing subsector. Film presence on various media platforms also signals the growth of the production of films. Group communication is the communication that sustains the filming process in a production team. The study focuses on group communication going on the films production team Samasta films. The purpose of this study is (1) to know the role of production leader, (2) communications interaction, (3) group cohesivity, (4) communication techniques and finally (5) to include communication groups essential elements in the samasta films production team. The methods used are qualitative methods with case studies approach, and the study uses interview techniques to draw information to the source. As for the other sources, the individual who was part of the films production team. The result of this study is that group communication can increase the cooperation of the production team, when all members have the same vision and interworked communication is constructive, thus making individual and group performance grow. Abstrak. Salah satu fenomena yang terjadi saat ini ialah, merebaknya industri kreatif di Indonesia. Film merupakan subsektor dari industri kreatif. Di Kota Bandung sendiri, film merupakan subsektor yang sedang berkembang. Kehadiran film di berbagai platform media juga menandakan berkembangnya kehadiran rumah produksi film. Komunikasi kelompok ialah komunikasi yang menunjang berjalannya proses pembuatan film di sebuah tim produksi. Penelitian ini memfokuskan kepada komunikasi kelompok yang terjadi pada tim produksi Samasta Films. Tujuan penelitian ini ialah (1) untuk mengetahui peranan pimpinan produksi, (2) interaksi komunikasi, (3) kohesivitas kelompok, (4) teknik komunikasi dan terakhir (5)untuk mengetahui bagaimana komunikasi kelompok untuk meningkatkan kerja sama tim produksi Samasta Films. Adapun metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta penelitian ini menggunakan teknik wawancara dalam menggali informasi kepada narasumber. Adapun yang menjadi narasumber ialah individu yang menjadi bagian dari tim produksi Samasta Films. Hasil penelitian ini ialah komunikasi kelompok dapat meningkatkan kerja sama tim produksi, ketika seluruh anggota memiliki visi yang sama dan komunikasi yang terjalin bersifat membangun, sehingga membuat kinerja individu dan kelompok meningkat.
Representasi Komunikasi Antarpribadi pada Keluarga dalam Film Drama Keluarga Kiki Muhamad Khadafi; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i1.6835

Abstract

Abstract. Family is a marriage bond that lives in one household, in a state of interdependence by interacting and caring for one another. This can be created by the existence of interpersonal communication carried out by the family so that it can make the relationship between families even closer by being shown in a family genre film. Among the many family films, the film Kapan Moving Rumah shows the atmosphere of communication that exists within the family. With this, the representation of interpersonal communication within the family refers to the communication that occurs within the family in the film Kapan Move Rumah. The purpose of this study is to find out how the representation of interpersonal communication in terms of denotation, connotation, and myths in the family in the film Kapan Move Rumah. The method used in this study is a qualitative research method using Roland Barthes's semiotic analysis viewed denotatively, connotatively, and mythically. Methods of data collection in this study using documentation and literature study. Good communication can make a family relationship better by creating a harmonious relationship between family members and creating happiness in the family, but this atmosphere can change because there is a difference of opinion which causes a fight because each family member has a very high ego. Abstrak. Keluarga merupakan sebuah ikatan perkawinan yang hidup dalam satu rumah tangga, dalam keadaan saling ketergantungan dengan saling berinteraksi dan saling memperhatikan satu sama lain. Hal tersebut bisa tercipta dengan adanya komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh keluarga sehingga dapat membuat hubungan antar keluarga menjadi semakin erat dengan diperlihatkan pada suatu film bergendre keluarga. Diantara banyaknya film keluarga, pada film Kapan Pindah Rumah memperlihatkan suasana komunikasi yang ada dalam keluarga, Dengan ini maka representasi komunikasi antarpribadi dalam keluarga mengacu kepada komunikasi yang terjadi pada keluarga dalam film Kapan Pindah Rumah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana representasi komunikasi antar pribadi secara denotasi, konotasi, dan mitos pada keluarga dalam film Kapan Pindah Rumah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dilihat secara denotative, konotatif, dan mitos. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi dan studi pustaka. Komunikasi yang baik bisa membuat suatu hubungan keluarga menjadi lebih baik dengan terciptanya hubungan harmonis antar anggota keluarga dan menciptakan kebahagiaan dalam keluarga, namun suasana tersebut dapat berubah karena terdapat sebuah perbedaan pendapat yang menimbulan suatu pertikaian karena masing–masing anggota keluarga memiliki ego yang sangat tinggi.
Makna Diri dan Branding Fotografer Yogascitra Naufal; Neni Yulianita; Anne Maryani
KOMVERSAL Vol 5 No 2 (2023): Komversal : Jurnal Komunikasi Universal
Publisher : Program Studi Hubungan Masyarakat Politeknik LP3I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38204/komversal.v5i2.1077

Abstract

The development of photography in the city of Bandung is closely related to the development of photography in Indonesia. Bandung is one of the big cities in Indonesia with a very rapid development of photography, especially with the emergence of various photographers with specialization in their fields. With the presence of many photographers who have started to appear in the city of Bandung, many photographers are still looking for the meaning of their photography activities and the branding that must be done so that the public becomes aware and uses their services. From this phenomenon, the research "Self Meaning and Photographer Branding" was created. This study uses a qualitative research method with a phenomenological study approach from Alfred Schutz. The purpose of this study is to find out, describe and analyze the motives of photographers in the city of Bandung in carrying out photography activities, to analyze and identify the experiences of photographers in the city of Bandung in carrying out photography activities, to find and describe the self-meanings of photographers in the city. Bandung in photography activities and to identify and describe the branding of photographers in the city of Bandung to attract consumer interest. This research uses social action theory from Max Webber. This research produces the because motive and in order to motive owned by the photographers, there are eleven motives owned by the photographers, namely, hobbies, love, environment, campaigns, earning a living, role models, visualization of imagination, remembering stories, appreciation, improvement confidence and dreams. The experience gained by photographers in the city of Bandung in carrying out photography activities is divided into three aspects, namely, obstacles, satisfaction and achievements. The meaning obtained by photographers in the city of Bandung in photographic activities is divided into three aspects, namely, the purpose, sensation and character of the photo. Branding carried out by photographers in the city of Bandung is obtained through three strategies namely, through social media, word of mouth and through the community.
Strategi Komunikasi Upselling oleh Barista: Studi Kasus: Komunikasi up selling yang dilakukan Barista Fore Coffee outlet TSM Bandung Alma Azzahra; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.8935

Abstract

Abstract. Fore Coffee is an original Indonesian coffee retail startup founded in 2018. Until now, Fore Coffee has 127 active outlets in 31 cities in Indonesia, one of which is the Fore Coffee outlet TSM Bandung, which is located on Jl. Gatot Subroto No. 289 Bandung, West Java. A business is inseparable from strategy, every company relies on a strategy to achieve its goals. In the midst of hectic coffee shop competition in Indonesia, every entrepreneur needs to think smart about the right strategy to use to maintain the existence of the coffee shop itself. Like Fore Coffee, which implements an up selling communication strategy as a marketing communication strategy implemented by the Barista. The purpose of this study was to find out the Up selling Communication Strategy carried out by Barista Fore Coffee. Researchers used qualitative research methods with a case study approach and used a constructivist paradigm. The informants in this study were 4 Baristas from the TSM Bandung Fore Coffee outlet and 3 Fore coffee customers. This study uses the theory of Behaviorism. The data in this study were obtained through semi structured interviews with sources, observation and documentation. The results of this study show that Barista Fore Coffee implements up selling communication as a marketing communication strategy for customers. It was also found that the up selling communication strategy carried out by Barista Fore Coffee was not solely carried out to increase sales through buying and selling agreements, but also to maintain a good image of the company through the services provided by the Barista. Abstrak. Fore Coffee merupakan startup kopi retail asli Indonesia yang didirikan pada tahun 2018. Hingga saat ini Fore Coffee telah memiliki 127 outlet aktif pada 31 Kota di Indonesia, salah satunya adalah Fore Coffee outlet TSM Bandung yang terletak di Jl. Gatot Subroto No.289 Bandung, Jawa Barat. Sebuah bisnis tidak terlepas dari strategi, setiap perusahaan mengandalkan sebuah strategi guna mencapai tujuannya. Di tengah ramainya persaingan Coffee shop di Indonesia, setiap pengusaha perlu berpikir cerdas terkait strategi yang tepat digunakan untuk mempertahankan keberadaan Coffee shopnya itu sendiri. Seperti halnya Fore Coffee yang menerapkan strategi komunikasi up selling sebagai strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh Barista. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Strategi Komunikasi Up selling yang dilakukan oleh Barista Fore Coffee. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan paradigma konstruktivis. Narasumber pada penelitian ini merupakan 4 orang Barista dari Fore Coffee outlet TSM Bandung dan 3 orang pelanggan Fore coffee. Penelitian ini menggunakan teori Behaviorisme. Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan para narasumber, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa Barista Fore Coffee mengimplementasikan komunikasi up selling sebagai strategi komunikasi pemasaran yang diberikan terhadap pelanggan. Ditemukan pula bahwa strategi komunikasi up selling yang dilakukan Barista Fore Coffee bukan semata-mata dilakukan untuk meningkatkan penjualan melalui kesepakatan jual beli saja, melainkan juga untuk mempertahankan citra baik perusahaan melalui pelayanan yang diberikan oleh Barista.
Makna Avatar Couple pada Pengguna Media Sosial Discord Risman Maulana; Anne Maryani
Jurnal Riset Manajemen Komunikasi Volume 2, No. 2, Desember 2022 Jurnal Riset Manajemen Komunikasi (JRMK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrmk.v2i2.1637

Abstract

Abstract. Couple avatars have become one of the things that we encounter quite often, especially when we are browsing via the internet. It's not uncommon for us to find two-dimensional photographs or avatars that show a pair of lovers. The purpose of conducting this research is to find out how the motives, experiences, and also the meaning of the avatar couple users use the avatar couple. Data collection techniques in this study used in-depth interviews and observation. Based on the results of the study, it was found that the motives of discord social media users in using the avatar couple were seeking attention, and providing a sense of security, being invited by a partner, being forced, and because they saw other people.\ Abstrak. Avatar couple telah menjadi salah satu hal yang cukup sering kita temui, terkhusus ketika kita berjelajah lewat internet. Tidak jarang kita temui foto-foto atau avatar dua dimensi yang menunjukkan layaknya sepasang kekasih. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motif, pengalaman, dan juga makna dari para pengguna avatar couple dalam menggunakan avatar couple. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa motif dari pengguna media sosial discord dalam menggunakan avatar couple yaitu mencari perhatian, dan memberikan rasa aman, diajak oleh pasangan, terpaksa, dan karena melihat orang lain.
Komunikasi Pelayanan Masyarakat Komunitas Edan Sepur dalam Menjaga Keselamatan Pelintas Rel Resty Zulia Latifah; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.13402

Abstract

Abstract. Service is an effort to help and meet the needs of individuals or groups. Services can be provided through communities, one of which is the "Edan Sepur" Community. The Edan Sepur Community in its services applies Traffic Discipline. From the implementation of this community, it wants drivers or the public to always be orderly in traffic, especially at crossings. The aims of this research are 1) to analyze building closeness with the community when providing services, 2) to analyze the communication techniques used by the Edan Sepur community to increase awareness and safety of rail passers, 3) To analyze the Edan Sepur community when providing community services through the community “Edan Sepur”. This research uses a constructivist paradigm with qualitative research methods and a case study research approach. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. The subjects in this research were Public Relations and members of the Crazy Sepur Community and crossing drivers. The results of this research are that the Edan Sepur Community is actively building relationships with the community. They use persuasive communication techniques to change people's attitudes and behavior. Apart from that, they also provide education about crossing discipline to create a safer environment. Abstrak. Pelayanan adalah upaya untuk membantu dan memenuhi kebutuhan individu atau kelompok. Pelayanan dapat dilakukan melalui komunitas, salah satunya yaitu Komunitas “Edan Sepur”. Komunitas Edan Sepur ini dalam pelayanannya menerapkan Disiplin Berlalu Lintas. Dari penerapan komunitas ini menginginkan pengendara atau masyarakat untuk selalu tertib dalam berlalu lintas terutama di Perlintasan. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) untuk menganalis membangun kedekatan dengan masyarakat saat memberikan pelayanan, 2) Untuk menganalisis teknik komunikasi yang digunakan oleh komunitas edan sepur dalam meningkatkan kesadaran serta keselamatan pelintas rel, 3) Untuk menganalisis komunitas Edan Sepur saat melakukan pelayananmasyarakat melalui komunitas “Edan Sepur”. Penelitan ini menggunakan paradigmakonstruktivisme dengan metode penelitiankualitatif serta pendekatan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaituobservasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjekpada penelitian ini yaitu Humas dan anggotaKomunitas edan sepur dan pengendara perlintasan. Hasil Penelitian ini yaitu Komunitas Edan Sepuraktif membangun hubungan dengan masyarakat,.Mereka menggunakan teknik komunikasi persuasifuntuk merubah sikap dan perilaku masyarakat. Selain itu, mereka juga menyediakan edukasitentang disiplin perlintasan untuk menciptakanlingkungan yang lebih aman.
Hubungan antara Tayangan Kuliner Korea di Media Sosial dengan Perilaku Konsumtif Mohammad Jordan Febrian Gunawan; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v4i2.13898

Abstract

Abstract. The emergence of new media has had a major impact on its users, from the reach of information to changes in lifestyle behavior. With the existence of new media, social media emerged where Korean cultural impressions became popular. The existence of the Tiktok application as a product of this new media makes people share information and create various content which we also call content creators. This culture is spread through entertainment, culinary, fashion, and cosmetic shows which makes the audience of Tiktok seem hypnotized by its content which causes consumptive behavior to emerge. This phenomenon will be studied on followers of the @hugryfever account using the theory of Goyette et al (2010), including intensity, content, and valance of opinion with the aim of knowing the relationship between Korean culinary impressions and consumptive behavior. This study uses quantitative methods and correlational research types. Collecting research data through online questionnaires to @hungryfever followers totaling 100 respondents using random sampling techniques. After processing data from respondents' answers, this study found a relationship between intensity, content, and valance of opinion with consumptive behavior. Abstrak. Munculnya media baru atau new media telah memberikan dampak yang besar bagi penggunanya mulai dari jangkauan informasi sampai dengan perubahan perilaku gaya hidup. Dengan adanya new media muncul media sosial yang dimana tayangan budaya korea menjadi populer. Adanya aplikasi Tiktok sebagai produk dari new media ini menjadikan orang-orang membagikan informasi serta membuat berbagai konten yang juga kita sebut sebagai conten creator. Budaya ini disebarkan melalui tayangan hiburan, kuliner, fashion, dan kosmetik yang membuat penonton dari Tiktok ini seperti terhipnotis oleh konten-kontennya yang menyebabkan munculnya perilaku konsumtif. Fenomena ini akan diteliti pada followers akun @hugryfever menggunakan teori dari Goyette et al (2010), diantarnya intensity ,content, dan valance of opinion dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara tayangan kuliner korea dengan perilaku konsumtif. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif serta jenis penelitian korelasional. Pengumpulan data penelitian melalui kuisioner secara online kepada followers @hungryfever yang berjumlah 100 responden menggunakan teknik random sampling. Setelah melakukan pengolahan data dari jawaban responden penelitian ini menghasilkan hubungan antara intensity, content, dan valance of opinion dengan perilaku konsumtif
Instagram sebagai Media Promosi Utama Radio Mara FM pada Era Digital Very Vebrio; Maryani, Anne
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.12846

Abstract

Abstrack. In this research entitled "Instagram as the Main Promotion Media for Radio Mara FM", the researcher attempts to reveal promotional planning, the promotion process and the urgency of using Instagram as the main promotion media. This research uses a methodology with a constructivist paradigm and qualitative methods as well as a Robert K. Yin case study approach with sub-explanatory. With new media and marketing and promotion theories, this research is able to answer all existing questions. With conclusions such as this promotion planning, Radio Mara FM forms the company's structural framework by dividing fields and mapping human resources. Apart from that, in the promotion planning process, discussions are held to get ideas and ideas regarding promotions on Instagram. So that the person responsible for the program is formed, namely the Project Manager Program. With these three things, it is believed that Radio Mara FM prioritizes the aspect of maximizing human resources compared to promotional content on Instagram. Radio Mara FM tries to process Instagram promotion by making the social media team into content creators whose job is to produce interesting content every day. This content is clearly different from radio products. This is because Instagram promotion is a form of increasing the image and sales of Radio Mara FM. Evaluation is carried out based on feedback and responses from the public and clients. The execution of Instagram promotional publications is carried out by internal content creators at Mara FM Radio. After going through the research process, the researchers concluded that Radio Mara FM uses Instagram as a form of digital existence. Abstrak. Pada penelitian ini yang berjudul “Instagram Sebagai Media Promosi Utama Radio Mara FM”, peneliti berusaha untuk mengungkap perencanaan promosi, proses promosi dan urgensi penggunaan Instagram sebagai media utama promosi. Penelitian ini menggunakan metodologi dengan paradigma konstruktivisme dan metode kualitatif serta pendekatan studi kasus Robert K. Yin dengan sub eksplanatoris. Dengan teori new media dan pemasaran serta promosi, penelitian ini mampu menjawab seluruh pertanyaan yang ada. Dengan kesimpulan seperti perencanaan promosi ini, Radio Mara FM membentuk kerangka struktural perusahaan dengan membagi bidang dan pemetaan sumber daya manusia. Selain itu, pada prosesnya perencanaan promosi dilakukan musyawarah guna mendapatkan ide dan gagasan mengenai promosi pada Instagram. Sehingga terbentuk penanggungjawab program yaitu Project Manager Program. Dengan ketiga hal tersebut diyakini, bahwa Radio Mara FM lebih mengutamakan aspek pemakasimalan sumber daya manusia dibandingkan dengan konten promosi pada Instagram. Radio Mara FM berusaha memproses promosi Instagram dengan cara menjadikan para tim media sosial sebagai content ceator yang bertugas memproduksi konten yang menarik setiap harinya. Konten-konten ini pun jelas berbeda dengan produk radio. Hal ini dikarenakan promosi Instagram sebagai bentuk peningkatan citra dan sales dari Radio Mara FM. Evaluasi dilakukan berdasar kepada feedback dan respon dari publik dan klien. Eksekusi publikasi promosi Instagam dilakukan oleh para content creator Internal Radio Mara FM. Setelah melalui proses riset peneliti menyimpulkan Radio Mara FM menggunakan Instagram sebagai bentuk eksistensi digital.
Komunikasi Komunitas Kecantikan Online di Aplikasi Female Daily Aneu Nur Annisa Putri; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.14034

Abstract

Abstract. The beauty industry has undergone a significant transformation, emerging as one of the potential sectors in the present time. The shift in media consumption towards online platforms, particularly through social media applications, has played a crucial role in shaping the perspectives of teenage girls on beauty. The Female Daily Network has become the largest women's community in Indonesia, facilitating information about beauty. The Female Daily app, as the main platform, provides a space for FD Talk, a forum where users can interact and give online reviews of beauty products. This research employs a qualitative method with a case study approach. Utilizing the New Media theory and the Technology Acceptance Model, the aim is to identify the motives behind the use and acceptance of the application by its users. Data collection for this research will involve interviews, observations, and documentation of relevant information. The expected outcome of this research is to contribute to a better understanding of effective community communication and a comprehensive insight into the activities of online beauty product reviews among teenagers in Bandung. Abstrak. Industri kecantikan mengalami transformasi yang signifikan menjadi salah satu industri yang potensial di masa sekarang. Perubahan dalam konsumsi media menjadi ke media online, melalui media sosial aplikasi Female Daily memainkan peran penting dalam membentuk pandangan remaja perempuan terhadap kecantikan. Female Daily Network menjadi komunitas perempuan terbesar di Indonesia yang memfasilitasi informasi mengenai kecantikan. Aplikasi Female Daily, sebagai platform utama, memberikan ruang untuk FD Talk, forum di mana pengguna dapat berinteraksi dan memberikan online review produk kecantikan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan etnografi virtual. Dengan menggunakan teori New Media dan teori Technology Acceptance Model, yang diharapkan dapat mengenali motif di balik penggunaan dan penerimaan aplikasi pada penggunanya. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap data-data yang relevan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman lebih untuk komunikasi komunitas yang efektif dan pemahaman yang baik terhadap aktivitas yaitu online review produk kecantikan di kalangan remaja Bandung.
Makna Komunikasi Antarpribadi dalam Upaya Pemeliharaan Kesehatan Mental di Kalangan Remaja Tasya Pratiwi Aisyah; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.15079

Abstract

Abstract. Most adolescents experiencing mental health issues greatly need someone as their support system. Besides access to assistance services and counseling, the role of the surrounding environment, such as friends, is crucial in maintaining mental health disorders. This study aims to understand the meaning of interpersonal communication that can arise through individual experiences, the role of support from the surrounding environment, and the individual's internal motives in maintaining mental health. This research uses a qualitative method with a constructivist paradigm and a phenomenological approach. The theory employed in this study is Alfred Schutz's phenomenological theory. Interviews, observations, documentation, and literature studies are the data collection techniques used in this research. The data analysis technique used in this study follows the Miles and Huberman model, which consists of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that interpersonal communication experiences of students who have experienced mental health disorders with their surroundings are triggered by personal issues within the students. Students who have experienced mental health disorders tend to become more open to their surroundings after consulting with a psychologist. Moreover, the surrounding environment plays a very important role in maintaining the mental health of these students because the positive feedback they receive leads to effective communication. Additionally, In-Order-To Motive and Because Motive also serve as triggers in forming the meaning of communication for the experiences of students who have experienced mental health disorders and then have the courage to consult a psychologist. Abstrak. Sebagian besar remaja yang mengalami masalah kesehatan mental sangat memerlukan seseorang sebagai support system mereka. Selain akses layanan bantuan dan konseling, peran lingkungan sekitar seperti teman sangatlah penting dalam upaya pemeliharaan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna komunikasi antarpribadi yang dapat timbul melalui pengalaman individu, adanya peran pendukung dari lingkungan sekitar, dan motif dalam diri individu guna memelihara kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma kontruktivis serta pendekatan fenomenologi. Teori yang peneliti gunakan dalam penelitian ini ialah teori fenomenologi Alfred Schutz. Wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan pada penelitian ini. Adapula teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah, pengalaman komunikasi antarpribadi mahasiswa yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental dengan lingkungan sekitarnya dipicu oleh adanya suatu masalah dalam diri mahasiswa. Mahasiswa yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental cenderung mulai terbuka dengan lingkungan sekitarnya setelah melakukan konsultasi dengan psikolog. Adapula lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan mental mahasiswa tersebut karena feedback positif yang mereka dapatkan menimbulkan komunikasi yang efektif. Selain itu, In-Order-To Motive dan Because Motive juga menjadi pemicu dalam pembentukan makna komunikasi bagi pengalaman mahasiswa yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental dan kemudian memberanikan diri untuk melakukan konsultasi ke psikolog.