Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

MEMFASILITASI PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK MELALUI PRAKTIK LESSON STUDY PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS X IPS1 DI SMAN 10 TERNATE Rusmini Noh; Endang Purwati; Nurmaya Papuangan
Oikos : Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Ekonomi Vol 6 No 1 (2022): Oikos : Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Ekonomi
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/oikos.v6i1.4995

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan melihat best-practices implementasi lesson study dalam memfasilitasi pembelajaran yang berpusat pada peserta pada mata pelajaran IPS Ekonomi. Metode: Studi deskriptif kualitatif ini dilakukan di SMAN 10 Ternate selama bulan Agustus-November 2021 dengan melibatkan subyek sebanyak 36 siswa kelas X IPS1. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dengan menggunakan instrument berupa lembar observasi, rekaman proses pembelajaran, dan catatan harian peneliti yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Temuan: hasil penelitian menunjukkan bahwa lesson study mampu memfasilitasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik melalui setiap implementasi pada tahapan designing, action, and reflection. Kesimpulan: Lesson study sebagai model peningkatan kompetensi guru melalui pengkajian praktik pembelajaran memberi kontribusi positif bagi guru dan peserta didik di kelas X IPS1 pada mata pelajaran Ekonomi. Lesson study memberi ruang kepada guru untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam melakukan perubahan dan perbaikan. Sementara bagi peserta didik, lesson study memberi ruang hak belajar untuk difasilitasi mengembangkan potensi yang dimilikinya. Hasil penelitian ini menjadi rekomendasi bagi perbaikan kualitas pembelajaran di Sekolah Menengah Atas di Kota Ternate, khususnya pada mata pelajaran IPS.
Case method to increase student participation and problem-solving skills in biochemistry subject lesson study integrated at Khairun University Sundari Sundari; Suparman Suparman; Abu Mas'ud; Said Hasan; Nurhasanah Nurhasanah; Nurmaya Papuangan; Dharmawaty M Taher; Yusmar Yusuf
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 5, No 1 (2023): February 2023
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v5i1.14747

Abstract

The Biochemistry course is a basic and compulsory subject for Biology Education students. This study aims to determine students' level of participation and problem-solving skills through the ability to solve cases of Biomolecules and proteins on Student Worksheets (LKM). This is an Action Research integrated with lesson study with two cycles. The instruments used were student participation rubrics in the case method and LKM problem-solving skills in the Biochemistry course. The subjects in this study were 24 third-semester students of the Biology Education Study Program. Data analysis techniques through descriptive statistics with percentages. The results showed an increase in the percentage from cycle 1 to cycle 2. Student participation in collaborative activities increased from 71.5% to 73.3%, while problem-solving skills increased from 53.5% to 71.7%. Based on the observer transcripts, some students still do not understand the material and cases discussed in lectures in class and the laboratory. This is because students do not actively ask questions and do not have curiosity about the material and case explanations presented by lecturers or fellow students. This study shows that implementing the integrated case method in lesson study can increase student participation activities and problem-solving skills in Biochemistry courses.Abstrak Matakuliah Biokimia merupakan matakuliah dasar dan wajib bagi mahasiswa Pendidikan Biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi dan problem-solving skill mahasiswa melalui kemampuan menyelesaikan kasus-kasus konsep Biomolekul dan protein pada Lembar Kerja Mahasiswa (LKM). Ini adalah penelitian Action Reseach terintegrasi lesson study dengan dua siklus. Instrumen yang digunakan adalah rubrik pertisipasi mahasiswa dalam case method dan LKM problem-solving skill matakuliah Biokimia. Subjek dalam penelitian ini adalah 24 mahasiswa semester 3 prodi Pendidikan Biologi. Teknik analisis data melalui statistik deskriptif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentasi dari siklus 1 ke siklus 2. Aktivitas partisipasi mahasiswa dalam kolaborasi dari 71,5% menjadi 73,3%, sedangkan problem-solving skill mahasiswa dari 53,5% menjadi 71,7%. Berdasarkan transkrip observer masih ada mahasiswa yang kurang memahami materi dan kasus yang didiskusikan dalam perkuliahan di kelas maupun di laboratorium. Hal ini karena mahasiswa tidak aktif bertanya dan tidak memiliki rasa ingin tahu terhadap materi dan penjelasan kasus yang disampaikan oleh dosen atau sesama mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi case method terintergrasi dalam lesson study dapat meningkatkan aktivitas partispasi dan problem-solving skill mahasiswa pada matakuliah Biokimia.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATERI RUANG LINGKUP BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DIKELAS X SMA NEGERI 6 KOTA TERNATE Nurkila Abija; Ilham Majid; Nurmaya Papuangan
JURNAL BIOEDUKASI Vol 6, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2023
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v6i1.5890

Abstract

Model discovery learning merupakan model pembelajaran yang melatihkan pada peserta didik belajar mandiri untuk meningkatkan keterampilan dan proses kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Kota Ternate pada materi ruang lingkup biologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bersifat reflektif dan kolaboratif yang terdiri dari empat tahapan, yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 6 Kota Ternate pada materi ruang lingkup biologi. Hasil belajar peserta didik dengan mengunakan model  discovery learning pada siklus I sebanyak 2 peserta didik atau sebesar 10% yang mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan pada siklus II sudah mengalami peningkatan hasil belajar peserta didik sebanyak 18 peserta didik atau sebesar 86% yang mencapai ketuntasan belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil observasi aktivitas peserta didik pada siklus I yaitu 52%, siklus II yaitu meningkat menjadi 98%. Sedangkan hasil observasi aktivitas guru siklus I yaitu 56%, siklus II meningkat menjadi 88% sehingga model discovery learning dinyatakan dapat meningkatkan hasil  belajar peserta didik.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar dengan Menggunakan Model Pembelajaran Circuiit Learning Pada Materi Pertumbuhan dan Perkembangan Mahluk Hidup Ridwan Jusuf; Nurmaya Papuangan; Asri Tamalene
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 7, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jdc.v7i2.75768

Abstract

Terbatasnya pemahaman guru tentang model pembelajaran menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proses penggunaan model pembelajaran Circuit Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa Sekolah Dasar. Metode Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa dan tes. Analisis data yang digunakan adalah dianalisis statistik deskriptif kualitatif yang dinyatakan dalam persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada siklus I terdapat 43% siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal. Aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 62% berada pada kategori baik dan aktivitas guru diperoleh 70% berada pada kategori baik. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa diperoleh 86%, aktivitas siswa diperoleh 84% berada pada kategori sangat baik dan aktivitas guru diperoleh 89% berada pada kategori sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Circuit Learning dapat meningkatkan hasil dan aktivitas belajar siswa sekolah dasar.
Diversity and Enumeration of Lactic Acid Bacteria in Traditional Fermented Fish Product Bakasang from Bacan and Sanana, North Maluku Nurmaya Papuangan; Srimaya Maswara; Hasna Ahmad; Nurhasanah Nurhasanah
JURNAL BIOEDUKASI Vol 8, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2025
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v8i1.9759

Abstract

Bakasang is a fermented fish product traditionally made using the viscera (internal organs) of tuna (Thunnus spp.) and skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), with the addition of a high concentration of salt, typically around 20% or more. The fermentation process occurs naturally and spontaneously through the activity of indigenous microorganisms, particularly those belonging to the lactic acid bacteria (LAB) group. LAB are Gram-positive, catalase-negative bacteria capable of producing lactic acid, which plays a crucial role in preservation and flavor development, and also possesses potential probiotic functionality. This study aims to evaluate the diversity and population of LAB in locally produced bakasang from the Bacan and Sanana regions, as a basis for the development of functional foods utilizing local microbial resources. Enumeration and isolation of LAB were conducted using the pour plate method on de Man, Rogosa, and Sharpe (MRS) agar, followed by morphological colony characterization, Gram staining, and physiological profiling. The results showed that LAB populations in bakasang samples from both regions ranged from 10⁵ to 10⁸ CFU/g. The LAB count in bakasang from Bacan (2.4 × 10⁸ CFU/g) was higher compared to that from Sanana (4.6 × 10⁵ CFU/g). Macroscopic, microscopic, and physiological characterization of the isolates indicated similarities to the genera Lactobacillus and Lactococcus. The diversity of LAB observed in this study reflects local microbiota with promising potential to be developed as fermentation agents and probiotics for the functional food industry.
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI TENTANG BAGIAN DAN FUNGSI MIKROSKOP SERTA PERAWATANNYA Rukmiati Mardani; Nurmaya Papuangan; Yusmar Yusuf
JURNAL BIOEDUKASI Vol 7, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2024
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v7i1.8026

Abstract

Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil (mikroskopis). Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organism yang berukuran kecil. Pengenalan laboratorium sangat penting dilakukan agar mahasiswa mengetahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga dapat menimalisisr kesalahan prosedur  pemakain alat.  Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif  kualitatif  yang bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa program studi pendidikan biologi semester 2 tentang bagian dan fungsi mikroskop serta perawatannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dasar tentang bagian dan fungsi mikroskop mahasiswa program studi pendidikan biologi dalam kategori baik sebesar 57%, 38% pada kategori cukup, dan 4% pada kategori kurang. Sedangkan untuk pengetahuan dasar tentang perawatan mikroskop pada kategori baik sebesar 68%, 23%, pada kategori cukup,dan 9% kategori kurang. Dari hasil penelitian isimpulkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa tentang bagian dan fungsi mikroskop pada kategori baik dengan rataan 83.72, dan pengetahuan tentang perawatan mikroskop juga pada kategori baik dengan rataan 80,95.
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI TENTANG BAGIAN DAN FUNGSI MIKROSKOP SERTA PERAWATANNYA Mardani, Rukmiati; Papuangan, Nurmaya; Yusuf, Yusmar
JURNAL BIOEDUKASI Vol 7, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2024
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v7i1.8026

Abstract

Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil (mikroskopis). Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organism yang berukuran kecil. Pengenalan laboratorium sangat penting dilakukan agar mahasiswa mengetahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga dapat menimalisisr kesalahan prosedur  pemakain alat.  Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif  kualitatif  yang bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa program studi pendidikan biologi semester 2 tentang bagian dan fungsi mikroskop serta perawatannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dasar tentang bagian dan fungsi mikroskop mahasiswa program studi pendidikan biologi dalam kategori baik sebesar 57%, 38% pada kategori cukup, dan 4% pada kategori kurang. Sedangkan untuk pengetahuan dasar tentang perawatan mikroskop pada kategori baik sebesar 68%, 23%, pada kategori cukup,dan 9% kategori kurang. Dari hasil penelitian isimpulkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa tentang bagian dan fungsi mikroskop pada kategori baik dengan rataan 83.72, dan pengetahuan tentang perawatan mikroskop juga pada kategori baik dengan rataan 80,95.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATERI RUANG LINGKUP BIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DIKELAS X SMA NEGERI 6 KOTA TERNATE Abija, Nurkila; Majid, Ilham; Papuangan, Nurmaya
JURNAL BIOEDUKASI Vol 6, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2023
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v6i1.5890

Abstract

Model discovery learning merupakan model pembelajaran yang melatihkan pada peserta didik belajar mandiri untuk meningkatkan keterampilan dan proses kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Kota Ternate pada materi ruang lingkup biologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bersifat reflektif dan kolaboratif yang terdiri dari empat tahapan, yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA SMA Negeri 6 Kota Ternate pada materi ruang lingkup biologi. Hasil belajar peserta didik dengan mengunakan model  discovery learning pada siklus I sebanyak 2 peserta didik atau sebesar 10% yang mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan pada siklus II sudah mengalami peningkatan hasil belajar peserta didik sebanyak 18 peserta didik atau sebesar 86% yang mencapai ketuntasan belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil observasi aktivitas peserta didik pada siklus I yaitu 52%, siklus II yaitu meningkat menjadi 98%. Sedangkan hasil observasi aktivitas guru siklus I yaitu 56%, siklus II meningkat menjadi 88% sehingga model discovery learning dinyatakan dapat meningkatkan hasil  belajar peserta didik.
Diversity and Enumeration of Lactic Acid Bacteria in Traditional Fermented Fish Product Bakasang from Bacan and Sanana, North Maluku Papuangan, Nurmaya; Maswara, Srimaya; Ahmad, Hasna; Nurhasanah, Nurhasanah
JURNAL BIOEDUKASI Vol 8, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2025
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v8i1.9759

Abstract

Bakasang is a fermented fish product traditionally made using the viscera (internal organs) of tuna (Thunnus spp.) and skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), with the addition of a high concentration of salt, typically around 20% or more. The fermentation process occurs naturally and spontaneously through the activity of indigenous microorganisms, particularly those belonging to the lactic acid bacteria (LAB) group. LAB are Gram-positive, catalase-negative bacteria capable of producing lactic acid, which plays a crucial role in preservation and flavor development, and also possesses potential probiotic functionality. This study aims to evaluate the diversity and population of LAB in locally produced bakasang from the Bacan and Sanana regions, as a basis for the development of functional foods utilizing local microbial resources. Enumeration and isolation of LAB were conducted using the pour plate method on de Man, Rogosa, and Sharpe (MRS) agar, followed by morphological colony characterization, Gram staining, and physiological profiling. The results showed that LAB populations in bakasang samples from both regions ranged from 10⁵ to 10⁸ CFU/g. The LAB count in bakasang from Bacan (2.4 × 10⁸ CFU/g) was higher compared to that from Sanana (4.6 × 10⁵ CFU/g). Macroscopic, microscopic, and physiological characterization of the isolates indicated similarities to the genera Lactobacillus and Lactococcus. The diversity of LAB observed in this study reflects local microbiota with promising potential to be developed as fermentation agents and probiotics for the functional food industry.
Identifikasi dan Karakteristik Morfologi Jamur Makroskopis di Garis Wallace dan Weber Kawasan Hutan Jalur Pendakian Moya Mabuku Kota Ternate Menggunakan Koordinat GPS Dwisatyadini, Mutimanda; Zikriyani, Hikmah; Sulistiana, Susi; Winarni, Inggit; Papuangan, Nurmaya; Nurhasanah, Nurhasanah
Biocaster : Jurnal Kajian Biologi Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Lembaga Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kamandanu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/biocaster.v6i1.768

Abstract

Differences in organic matter content and soil pH can cause different fungal spore growth. Soil type is one of the factors that directly affect the presence of fungi. This research was conducted on the Wallace and Weber lines in Ternate, North Maluku. The research location was chosen because it has endemic fungal species, biodiversity that has not been widely discovered, and unique geographical conditions. Data collection was carried out through direct surveys using exploration methods, sampling with purposive random sampling, and direct collection of fungi based on shape, color, stem length, diameter, and type of substrate where they grow (soil, wood, leaves, and others), along with observations of fungal morphology. Qualitative analysis includes determining the order, family, genus, and scientific name presented in the form of tables and images, as well as descriptions of the characteristics of each species based on the identification results. The diversity index was also calculated. Environmental parameters measured included air temperature, soil moisture, light intensity, and soil pH. The results of the study showed that there were 20 species of fungi in the Moya Mabuku Hiking Trail Forest Area, Central Ternate District, Ternate City, North Maluku, Indonesia, with GPS coordinates of 0.8° North Latitude and 127.3630910° East Longitude. These fungi belong to the Ascomycota and Basidiomycota divisions, with the families Helotiaceae, Strophariaceae, Hygrophoraceae, Auriculariaceae, Omphalotaceae, Tremellaceae, Hypoxylaceae, Phyllotopsidaceae, Polyporaceae, Gardonemataceae, Tricholomataceae, Sarcoscyphaceae, Agaricaceae, Mycenaceae, Psathyrellaceae, and Cortinariaceae. The results of environmental parameter measurements on wood, soil, and coconut shell substrates showed that soil pH ranged from 3.85-6.10; air humidity 77.5-91.5% RH; substrate humidity 36.5-99.9%; Light intensity ranges from 93.5 to 7496 cd; air temperature ranges from 27.7 to 33.9°C; and substrate temperature ranges from 27.4 to 33.9°C. These pH conditions, ranging from 3.85 to 6.15, are considered optimal for supporting the growth of macroscopic fungi.