Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI JAMUR MAKROSKOPIS DI GARIS WALLACEAE DAN WEBER KAWASAN HUTAN JALUR PENDAKIAN MOYA MABUKU, KOTA TERNATE MENGGUNAKAN KOORDINAT GPS Dwisatyadini, Mutimanda; Hikmah Zikriani; Susi Sulistiana; Inggit Winarni; Nurmaya papuangan; Nurhasanah
Jurnal Metabio Vol. 7 No. 2 (2025): MetaBio : Jurnal Pendidikan (Edisi Elektronik)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Simalungun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/txrsk586

Abstract

Kandungan organik dan pH tanah yang berbeda dapat menyebabkan spora jamur yang berbeda tumbuh, dan jenis tanah merupakan salah satu faktor yang secara langsung dapat memengaruhi keberadaan jamur. Galur Wallacea dan Weber di Ternate, Maluku Utara, akan menjadi subjek penelitian ini. Lokasi penelitian memiliki spesies jamur endemik, keanekaragaman hayati yang belum terpapar, dan lokasi geografis yang unik. Pengumpulan data dilakukan melalui survei langsung, metode eksplorasi pengambilan sampel, purposive random sampling, dan koleksi langsung jamur, seperti bentuk, warna, panjang batang, diameter, dan substrat hidup (tanah, kayu, daun, lainnya), bersama dengan pengamatan morfologi jamur. Analisis kualitatif mencantumkan ordo, famili, genus, dan nama ilmiah, yang disajikan dalam tabel dan gambar, dan menggambarkan karakteristik masing-masing spesies dengan hasil identifikasi. Indeks keanekaragaman digunakan. Faktor lingkungan yang diukur, suhu udara, kelembaban tanah, intensitas cahaya, dan pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 spesies jamur ditemukan di Kawasan Hutan Jalur Pendakian Moya Mabuku, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Indonesia, dengan koordinat GPS pada 0,8° Lintang Utara dan 127,3630910 Bujur Timur. Jamur-jamur tersebut adalah divisi Asycomycota dan Basidiomycota, serta famili Helotiaceae, Strophariaceae, Hygrophoraceae, Auriculariceae, Omphalotaceae, Tremellaceae, Hypoxylaceae, Phyllotopsidaceae, Poliporaceae, Gardonemataceae, Tricholomataceae, Sarcoscyphaceae, Agaricaceae, Mycenaceae, Psathyrellaceae, dan Cortinariaceae. Hasil uji parameter substrat kayu, tanah, dan tempurung kelapa menunjukkan pH 3,85-6,10. dan memiliki kelembapan udara 77,5-91,5%RH, kelembapan substrat 36,5-99,9%, intensitas cahaya 93,5-7496 Cd, suhu udara 27,7-33,9 oC, suhu substrat 27,4-33,9 °C, dan pH 3,85-6,15 dapat optimal untuk pertumbuhan jamur makroskopis.
Pelatihan Pembuatan Slide Epidermis Daun Pisang dengan Teknik Replika Cyanoacrylate untuk Siswa SMA 8 Kota Ternate Suparman, Suparman; Nurhasanah, Nurhasanah; Papuangan, Nurmaya; Talib, Murni; Khasanah, Miftakhul; Turuy, Rosihan
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma (in Progress)
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v7i1.1116

Abstract

Pelatihan praktikum biologi memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa SMA terkait struktur sel tumbuhan. Kegiatan ini bertujuan melatihkan pembuatan preparat epidermis daun pisang dengan teknik replika cyanoacrylate sebagai alternatif metode pengamatan stomata yang sederhana, murah, dan mudah diaplikasikan. Pelatihan dilaksanakan pada 19 Mei 2025 di SMAN 8 Kota Ternate dengan melibatkan 42 siswa kelas XI dan guru pendamping biologi. Proses pelatihan terbagi atas tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, yang mencakup kegiatan pengenalan konsep, demonstrasi, praktik berkelompok, pengamatan mikroskopis, dokumentasi hasil, serta diskusi reflektif. Hasil evaluasi keterampilan menunjukkan bahwa mayoritas peserta memperoleh nilai dalam rentang menengah hingga tinggi (70–95), dengan variasi capaian antarindividu yang dipengaruhi oleh perbedaan keterampilan praktis dan pengalaman awal. Evaluasi kepuasan peserta juga menunjukkan skor rata-rata di atas 84, dengan aspek tertinggi pada pemahaman epidermis daun dan kesempatan bertanya kepada fasilitator. Temuan ini menegaskan bahwa metode replika cyanoacrylate dapat diterapkan secara efektif di tingkat SMA untuk meningkatkan keterampilan praktikum siswa, memperkuat pemahaman biologi sel, serta menciptakan pengalaman belajar sains yang interaktif dan menyenangkan.
EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGGUNAAN MIKROSKOP UNTUK PENGUATAN PRAKTIKUM BIOLOGI SISWA SMA NEGERI 8 KOTA TERNATE Nurhasanah, Nurhasanah; Suparman, Suparman; Papuangan, Nurmaya; Turuy, Rosihan; Khasanah, Miftakhul; Higoro, Hamida; Talib, Murni
Jurnal Abdi Insani Vol 13 No 1 (2026): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v13i1.3332

Abstract

Microscope skills are fundamental in biology education as they connect theoretical concepts with direct observation of cells and tissues. However, many students still struggle to operate microscopes properly, resulting in suboptimal practical sessions. This activity aimed to enhance students’ understanding and practical skills through structured microscope training. The training was conducted on May 18, 2025, at SMA Negeri 8 Ternate, involving 42 eleventh-grade students (20 males and 22 females) and three biology teachers. The program included theoretical explanation, demonstration, and hands-on practice using the cyanoacrylate-based leaf epidermis replica technique. Training effectiveness was evaluated through pre-test and post-test scores, practical skill rubrics, and participant satisfaction questionnaires. The training significantly improved students’ learning outcomes. The average knowledge score increased by 24.5% (from 59.8 to 84.3), while practical skills reached an average of 81.5% (“good” category). Participant satisfaction averaged 88%, with the highest ratings on clarity of instruction (3.6) and opportunity for discussion (3.7). Attendance (92%) and engagement in practice (91%) reflected high enthusiasm and active participation. These findings indicate that structured, hands-on training supported by repeated practice and interactive facilitation effectively enhances both conceptual and procedural competencies in microscopy. The model also promotes collaboration and strengthens students’ scientific skills. Microscope training at SMA Negeri 8 Ternate proved effective in improving students’ knowledge, skills, and motivation. This training model is recommended for broader application to strengthen biology practicum competencies and can be adapted for other school laboratory topics.