Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

KEANEKARAGAMAN JAMUR MAKROSKOPIS DI BEBERAPA HABITAT KAWASAN TAMAN NASIONAL BALURAN Ratna Wati; Noverita Noverita; Tatang Mitra Setia
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v12i2.10363

Abstract

AbstrakJamur merupakan komponen dasar yang sangat penting dalam suatu ekosistem. Taman Nasional Baluran merupakan salah satu ekosistem dengan beberapa tipe habitat yang mendukung pertumbuhan jamur. Kawasan ini memiliki keanekaragaman jamur yang belum banyak dieksplorasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, keanekaragaman jenis dan potensi jamur makroskopis di lima tipe habitat di kawasan Taman Nasional Baluran. Penelitian dilakukan pada tipe habitat hutan primer perbukitan, hutan primer dataran rendah, hutan evergreen, hutan musim dan hutan jati pada bulan Maret 2013. Metode yang digunakan adalah petak kuadrat yang berukuran 10 x 10 m pada jalur dengan interval 50 m sebanyak 20 plot pada masing-masing tipe habitat. Jumlah jenis jamur makroskopis yang ditemukan adalah sebanyak 152 jenis, 37 marga dan 25 suku. Masing-masing lokasi memiliki kesamaan jenis yang berbeda. Indeks keanekaragaman termasuk kategori rendah. Pada hutan primer perbukitan sebesar 2,154; hutan primer dataran rendah sebesar 2,144; hutan jati sebesar 2,423; hutan musim sebesar 1,375; dan evergreen sebesar 1,063. Terdapat perbedaan jenis jamur makroskopis yang mendominasi setiap habitat. Pada penelitian ini ditemukan jamur makroskopis berpotensi dekomposer, mikoriza, obat dan pangan. Hasil penelitian diharapkan para pihak dapat menjaga kawasan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati khususnya jamur makroskopis sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut serta dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.Abstract The fungus is a basic component that is very important in the forest ecosystem. Baluran National Park is one of the ecosystems with several types of habitats, which supports the growth of fungus. This area has a diversity of macrofungi that has not been much explored. The purpose of this study was to determine the composition, diversity and potential of macrofungi in five habitat types in Baluran National Park area.The study was conducted on habitat types of hills hilly primary forest, primary forest of lowland, evergreen forest, forest season and jati forests in March 2013.The method used is the swath of squares measuring 10 x 10 m on track, with an interval of 50 m, as many as 20 plots in each habitat type. Number of species of macrofungi found as many as 152 species, 37 genera and 25 familiy. Each location has a different kind of similarity. The diversity index is categorized as low. hills hilly primary forest amounted to 2.154, primary forest of lowland amounted to 2.144, jati forest of 2.423, seasons forest of 1.375 and evergreen of 1.063. There are different types of macrofungi that dominate in every habitat. In this study found macroscopic fungi potentially as decomposers, mycorrhizae, medicinal and food. From the research result expected the management of Baluran National Park can maintain the area to protect biodiversity in particular macrofungi so that it can be further research and can be used by the local community.
PENGGUNAAN POHON TIDUR MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI HUTAN LINDUNG ANGKE KAPUK DAN EKOWISATA MANGROVE PANTAI INDAH KAPUK JAKARTA Ahmad Baihaqi; Tatang Mitra Setia; Jito Sugardjito; Glave Lorenzo
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 10, No 1 (2017): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v10i1.4910

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan pohon tidur monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Penelitian menggunakan metode Pencatatan Perjumpaan Langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Hutan Lindung Angke Kapuk  (HLAK) hanya terdapat sekelompok monyet ekor panjang yang berjumlah 26 individu dengan komposisi: 1 jantan alfa, 3  jantan dewasa, 4 betina dewasa, 4 bayi, dan 14 remaja. Ada 15 jenis tumbuhan mangrove di HLAK dan kelompok monyet ekor panjang hanya memanfaatkan satu pohon Rhizophora apiculata untuk tidur, dengan ketinggian 16 m dan berjarak 10 m dari tepi jalan. Pada kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (EMPIK) terdapat sekelompok monyet ekor panjang yang berjumlah 13 individu dengan komposisi: 1 jantan alfa, 1 jantan dewasa, 3 betina dewasa, dan 8 remaja. Ada 8 jenis tumbuhan mangrove di EMPIK dan kelompok monyet ekor panjang yang memanfaatkan hanya satu pohon Avicennia officinalis untuk tidur, dengan ketinggian 20 m dan berjarak 5 m dari tepi danau. Abstract The study aims to determine the use of roosting trees by long-tailed macaque (Macaca fascicularis). The recording method used is the Direct Encounter. The results showed that in Hutan Lindung Angke Kapuk  (HLAK) there was only a group of the long-tailed macaque with a total of 26 individuals comprised of: 1 alpha male, 3 adult males, 4 adult females, 4 infants, and 14 juveniles. There were 15 species of mangrove plants in HLAK and a group of long-tailed macaque utilized only one tree Rhizophora apiculata to sleep, which is characterized by approximately 10 m high and located 10 m from the edge of the road. In the area of Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (EMPIK), there was a group of the long-tailed macaque with 13 individuals, the composition as follows: one alpha male, one adult male, 3 female adult females, and 8 juveniles. There were 8 species of mangrove plants in EMPIK and a group of long-tailed macaque utilized only one tree Avicennia officinalis to sleep, which is characterized by approximately 20 m high and approximately 5 m from the edge of the lake.
Differences in Knowledge, Attitude, and Practice of The Community Parrots in Ternate and Sofifi, North Maluku Ramadani, Annisa; Setia, Tatang Mitra; Mangunjaya, Fachruddin M.; Siregar, Benny A.; Basalamah, Fitriah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v1i1.38275

Abstract

 Abstract The community's habit of owning wild animals is still ongoing until now. This has become one of the threats to the existence of wildlife in their natural habitat. Parrots, with their ability to imitate surrounding sounds, have become a popular pet choice. Therefore, the purpose of this study is to determine the influence of knowledge, attitudes, and practices about parrots on the profile of the community. The study differentiates between those who owner bird and those who do not. Data collection was conducted for two months in Ternate and Sofifi, North Maluku. The method used was purposive sampling, interviewing as many as 104 respondents who had been determined. The interview data was processed into multiple linear regression values and canonical correlations. The results of this research identified that the majority of those who owned parrots were aged between 42–57 (36%); female (52%); with high school graduates (46%); and engaged in various professions, such as housewives or entrepreneurs (71%). On the other hand, those who were non-owner parrots were dominated by individuals aged 10–25 (46%); male (65%); with undergraduate degrees (62%); and categorized as students (38%). The results of this study show that knowledge and attitudes have an influence on education, profession, and age of the community on the topic of curly-billed bird maintenance. Abstrak Kebiasaan masyarakat memiliki satwa liar masih berlangsung hingga sekarang. Hal ini menjadi salah satu ancaman terhadap keberadaan satwa liar di habitat aslinya. Burung paruh bengkok memiliki kemampuan meniru suara di sekitarnya, dan menjadi satwa liar yang populer sebagai peliharaan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan, sikap, dan kesadaran tentang pemeliharaan burung paruh bengkok terhadap profil masyarakat. Studi ini membedakan, antara masyarakat yang memelihara burung dan yang tidak. Pengumpulan data dilakukan selama dua bulan di Kota Ternate dan Sofifi, Maluku Utara. Metode yang digunakan purposive sampling, mewawancarai sebanyak 104 responden yang telah ditentukan. Data wawancara tersebut diolah menggunakan software SPSS 22.0 untuk memperoleh nilai regresi linier berganda dan kolerasi kanonikal. Hasil penelitian, mengidentifikasi bahwa mayoritas dari mereka yang memiliki burung paruh bengkok berusia antara 42–57 (36%); berjenis kelamin perempuan (52%); tingkat pendidikan SMA (46%); dan memiliki profesi lainnya, seperti ibu rumah tangga atau pengusaha (71%). Di sisi lain, masyarakat yang tidak memelihara burung paruh bengkok, didominasi yang berusia 10–25 (46%); berjenis kelamin laki-laki (65%); tingkat pendidikan sarjana (62%); dan lebih ddidominasi oleh pelajar/mahasiswa (38%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap memiliki pengaruh dengan pendidikan, profesi, dan usia masyarakat terhadap topik pemeliharaan burung paruh bengkok.
Co-Authors Achmad Sofyan Achmad Yanuar Ahmad Baihaqi Ainisyifa, Ulfa Alinar Alinar Alvira Noer Effendi Alvira Noer Effendi Amir Hamidy Anang Aditiya Andrew John Marshall Annastasya Rahma Ramadhani Arief Kurniawan Assalam, Muhammad Hudan Aziz, Panji B. Surata Boby Muslimin Campbell Owen Webb Cheryl Denise Knott Cipto Utomo Cipto Utomo Dedy Darnaedy Dennys Perdana Armanda Devi Alamsyah Dewi Malia Prawiradilaga Dewi, Fitriya Nur Annisa Dewinta Febriyanti Dimas Mulya Pratama Domingus Da Costa Endro Setiawan Fachruddin Mangunjaya, Fachruddin Fachrudin Mangunjaya Fadhillah, Hilwa Syifa Fajar Kaprawi Farits Alhadi Firmansyah Firmansyah Fitriah Basalamah Fitriah Basalamah Glave Lorenzo Gugah Praharawati Gugah Praharawati Halim, Nauhal Nazri HANDAYANI Handayani, Sri Hariyanto Hariyanto Hasni Ruslan Herda Pamela Hutabarat Hermansyah Hermansyah Hermansyah Hermansyah Hilwa Syifa Fadhillah Huda Shalahudin Darusman Hutabarat, Herda Pamela Ikhsan Matondang Ilmi, Fauziah Imran SL Tobing Indarjani Indarjani, Indarjani Indriastuti, Hapsari Isai Yusidarta Jito Sugardjito Khoe Susanto Kusumahadi Khoe Susanto Kusumahadi Kusholany LUTHFIRALDA SJAHFIRDI M Ainul Labib M Syukur Wahyu Putra M. Yogi Riyantama Isjoni Mangunjaya, Fachruddin M. Melta Rini Fahmi Mochammad Zamroni Moh. Hamdani Nira Zulifa Silawane Nita Nurjanah Njo Fransiscus Xaverius Anditya Ciptadi Putra Nonon Saribanon Noverita Novida, Rika Nurdian Sahrila Nurhasanah, Annisa Haryanti Nyoto Santoso Ona Noerwana Panji B Surata Azis Prawesti Wulandari Putra, Njo Fransiscus Xaverius Anditya Ciptadi Ramadani, Annisa Ratna Wati Ratna Wati Ratni Ernita Reflinur Reflinur Rooselina Dwi Rahayu Sakdullah Sapari, Iman Saptowo Jumali Pardal Satrio, Muhammad Bagus Septiana Anggraini Pratiwi Siregar, Benny A. Slamet Slamet Sri Suci Utami Atmoko Sumayyah Tamaulina Br Sembiring Tegas Gentur Sosiawan Tegas Gentur Sosiawan Tom Kirschey Wening Enggarini Wicaksono, Gusti Widyaningrum, Dita Fitria Yanuar, Achmad Yenisbar Yeremiah Rubin Tjamin