Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan lembar kerja siswa-digital ‘puzzle interaktif’ berbasis liveworksheet bagi guru-guru madrasah Ramlah Ramlah; Agung Prasetyo Abadi; Hanifah Hanifah; Amanda Mutiara Putri; Nisa Nabilatuzzahra; Vanessa Rahmawati Julistiwa6
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22210

Abstract

Abstrak Pengelolaan sampah menjadi masalah kesehatan lingkungan yang hingga saat ini belum dapat terselesaikan. Pada Kabupaten Banjar, timbulan sampah rata-rata dalam dua tahun terakhir sebanyak 148.944 ton dan diperkirakan dalam satu hari jumlah sampah yang dihasilkan penduduk mencapai 408 ton/hari pada tahun 2022. Berdasarkan hasil diagnosis komunitas, permasalahan yang muncul di Desa Tiwingan Lama RT 02, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar yaitu masyarakat belum melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Alternatif pemecahan masalah untuk menangani permasalahan mengenai pengelolaan sampah tersebut adalah dengan adanya program pemberdayaan berupa penyuluhan, pembuatan tempat sampah dari tong bekas, serta pemasangan media promotif visual berupa spanduk ajakan memilah sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalisir permasalahan kesehatan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan praktik. Instrumen kegiatan ini di antaranya adalah kuesioner pre dan post-test, lembar observasi, serta kuesioner sebagai pemandu wawancara kepada 7 responden pada monitoring pengetahuan lanjutan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa setelah dilakukan penyuluhan, terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat dari rata-rata 70 menjadi 90. Setelah dilakukan uji statistik berupa uji Wilcoxon, diketahui terdapat perbedaan pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan dengan nilai uji sebesar 0,027. Hasil monitoring pengetahuan lanjutan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah responden yang terkategori memiliki pengetahuan baik yaitu dari 1 orang saat post-test menjadi 6 orang saat monitoring ke-3. Pada kegiatan penyediaan tempat sampah sistem pilah, masyarakat desa bersama Karang Taruna berhasil membuat tempat sampah sistem pilah sehingga terjadi duplikasi pengadaan tempat sampah. Selain itu, pada kegiatan pemasangan spanduk tentang pemilahan sampah juga berhasil mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah. Kata kunci: sampah; pengelolaan sampah; pemilahan sampah; pemanfaatan sampah; tempat sampah sistem pilah Abstract Waste management remains an unresolved environmental health issue to date. In Banjar Regency, the average waste generation over the past two years has been 148,944 tons, with an estimated daily production of 408 tons per day in 2022. Based on community diagnosis results, the emerging issue in Tiwingan Lama Village, RT 02, Aranio District, Banjar Regency is inadequate waste management by the community. The alternative solution to address this waste management issue is through an empowerment program involving education, the construction of waste bins from recycled barrels, and the installation of visual promotional media such as banners encouraging waste sorting. The objective of these activities is to minimize environmental health issues, particularly regarding waste management. The methods employed include lectures, discussions, and practical demonstrations. The activity instruments include pre- and post-test questionnaires, observation sheets, and interview questionnaires for 7 respondents during the advanced knowledge monitoring. The results indicate that after the education sessions, there was an increase in community knowledge from an average of 70 to 90. Statistical analysis using the Wilcoxon test revealed a significant difference in knowledge before and after the education sessions, with a test value of 0.027. The follow-up monitoring showed an increase in the number of respondents categorized as having good knowledge, from 1 person in the post-test to 6 people in the third monitoring session. In the waste bin provision activity using a sorting system, the village community, along with the youth organization, successfully constructed waste bins with sorting systems, which led to the duplication of waste bin procurement. Additionally, the installation of banners promoting waste sorting was successful in influencing the community to engage in waste sorting. Keywords: waste; waste management; waste sorting; waste utilization; segregated waste bins
Gender Differences in Multidimensional Mathematics Attitudes Among Junior Secondary Students: A Cross-Sectional Survey in the Indonesian Context Talenta Valentina Christi; Hendra Kartika; Ramlah Ramlah
Jurnal Didactical Mathematics Vol. 8 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/dm.v8i1.17482

Abstract

Mathematics attitudes play a critical role in shaping students’ engagement, achievement, and long-term participation in STEM-related pathways. This study aimed to examine gender differences across four dimensions of mathematics attitudes—self-perceptions, value of mathematics, enjoyment, and perceived mathematics achievement—among junior secondary students in Indonesia. A quantitative cross-sectional survey design was employed involving 60 seventh-grade students (30 male and 30 female) selected through convenience sampling. Data were collected using an adapted version of the Attitudes Toward Mathematics Scale for Indonesian Students (ATMSE), comprising 26 items measured on a four-point Likert scale. Descriptive statistics based on median values were used to analyze gender-based patterns across dimensions. The findings indicate that both male and female students exhibit moderate, but not strongly positive, attitudes toward mathematics. Self-perceptions and enjoyment were generally situational and cautious, while perceived achievement emerged as the weakest dimension, with consistently low-to-moderate median scores across genders. Gender differences were minimal and largely descriptive rather than substantial, suggesting convergent attitudinal tendencies within this context. The results highlight a potential discrepancy between students’ classroom participation and the internalization of a confident mathematics identity. Strengthening students’ academic self-concept, reinforcing authentic recognition of achievement, and connecting mathematical learning to meaningful future pathways are recommended as strategic directions for pedagogical intervention. Future research employing inferential and longitudinal designs is needed to examine how these attitudinal profiles evolve and influence sustained engagement in mathematics and STEM trajectories
Pemanfaatan ubin sebagai alat peraga garis bilangan untuk pembelajaran operasi hitung bilangan bulat Hanifah Hanifah; Nita Hidayati; Attin Warmi; Ramlah Ramlah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38869

Abstract

AbstrakKegiatan pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh permasalahan bahwa kenyataan di lapangan terdapat beberapa sekolah yang menyajikan pelajaran matematika di kelas kurang bervariasi dalam penggunaan media pembelajaran, hal ini menyebabkan siswa hanya menguasai materi yang diberikan tanpa mengetahui konsep materi tersebut. Pada sekolah dasar, siswa sudah belajar tentang operasi hitung pada bilangan bulat positif dan negatif. Pada materi operasi hitung bilangan bulat, siswa kesulitan dalam memahami simbol positif dan negatif pada bilangan bulat apabila dikenai sebuah operasi hitung. Tujuan pelaksanaan pengabdian ini untuk memberikan gambaran kepada siswa bahwa penyampaian pembelajaran matematika pada materi operasi bilangan bulat dapat memanfaatkan ubin lantai kelas sebagai garis bilangan untuk mempermudah siswa dalam menyelesaiakan operasi bilangan bulat positif dan negatif dan juga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN Sukaharja II dan SDN Telukjambe II, Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan jumlah 70 siswa dari kedua sekolah tersebut. Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi empat tahap, yaitu: identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat dan memperagakan alat peraga garis bilangan dengan memanfaatkan ubin lantai kelas, sehingga kegiatan ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa sangat tertarik dan antusias dalam mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan. Kegiatan ini juga meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas. Dengan meningkatnya motivasi dan kreativitas siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuan matematis siswa pada materi bilangan bulat. Kata kunci: operasi bilangan bulat; garis bilangan; ubin lantai kelas. AbstractThis community service activity is motivated by the problem that in reality in the field there are several schools that present mathematics lessons in class with less variety in the use of learning media, this causes students to only master the material given without understanding the concept of the material. In elementary school, students have learned about arithmetic operations on positive and negative integers. In the material on arithmetic operations on integers, students have difficulty understanding the positive and negative symbols in integers when subjected to an arithmetic operation. The purpose of this community service is to provide an overview to students that the delivery of mathematics learning on the material on integer operations can utilize classroom floor tiles as number lines to make it easier for students to complete positive and negative integer operations and can also create a fun learning atmosphere. This activity was carried out at SDN Sukaharja II and SDN Telukjambe II, Karawang Regency, West Java with a total of 70 students from the two schools. The method of implementing this activity includes four stages, namely: problem identification, planning, implementation and evaluation. This activity can improve students' ability to create and demonstrate number line props using classroom floor tiles, thereby improving student learning outcomes. Students are very interested and enthusiastic in participating in each activity. This activity also increases student motivation and creativity in participating in mathematics learning in class. By increasing student motivation and creativity, students can improve their mathematical abilities in the topic of integers. Keywords: integer operations; number line; classroom floor tiles.
OPTIMIZING MATHEMATICAL PROBLEM SOLVING ABILITY THROUGH DEEP LEARNING INTEGRATION ORIENTED TOWARDS SELF-REGULATED LEARNING Hana Lastiar Olivia Sagala; Ramlah; Aditya Prihandhika
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11734

Abstract

Mathematical problem-solving ability is an essential competency in mathematics learning; however, research conducted during 2022–2025 consistently indicates that junior high school students’ problem-solving ability remains in the low category. Students tend to apply formulas without understanding the problem context and rarely verify their solutions. This study aims to examine: (1) whether there is a significant difference in mathematical problem-solving ability between students taught using the Deep Learning approach and those taught using a conventional approach; and (2) whether the improvement in mathematical problem-solving ability of students using the Deep Learning approach is better than that of students using the conventional approach. This study employed a quantitative method with a quasi-experimental design (Nonequivalent Pretest-Posttest Control Group Design), involving 61 eighth-grade students at SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 students in the experimental class (VIII-E) and 30 students in the control class (VIII-H). Data were collected through essay tests based on Polya’s problem-solving indicators and analyzed using independent samples t-test and Welch’s T’ test via IBM SPSS Statistics 26.0. The results show that: (1) there is a significant difference in posttest scores between the two classes (sig./2 = 0.0115 < 0.05), with the experimental class mean (56.42) higher than the control class (51.33); and (2) the improvement of the experimental class (N-Gain = 0.3013; moderate category) is significantly better than the control class (N-Gain = 0.1920; low category), based on Welch’s T’ test (sig./2 = 0.0015 < 0.05). These findings confirm that the Deep Learning effectively enhances students’ mathematical problem-solving ability. Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika; namun, penelitian yang dilakukan selama tahun 2022–2025 secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa SMP masih berada pada kategori rendah. Siswa cenderung menerapkan rumus tanpa memahami konteks masalah dan jarang memverifikasi solusi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji: (1) apakah terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang diajar menggunakan pendekatan Deep Learning dan siswa yang diajar menggunakan pendekatan konvensional; dan (2) apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang menggunakan pendekatan Deep Learning lebih baik daripada siswa yang menggunakan pendekatan konvensional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental (Desain Kelompok Kontrol Non-ekuivalen Pretest-Posttest), yang melibatkan 61 siswa kelas delapan di SMP Negeri 1 Jatiwangi: 31 siswa di kelas eksperimen (VIII-E) dan 30 siswa di kelas kontrol (VIII-H). Data dikumpulkan melalui tes esai berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya dan dianalisis menggunakan uji t sampel independen dan uji T Welch melalui IBM SPSS Statistics 26.0. Hasil menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan signifikan pada skor posttest antara kedua kelas (sig./2 = 0,0115 < 0,05), dengan rata-rata kelas eksperimen (56,42) lebih tinggi daripada kelas kontrol (51,33); dan (2) peningkatan kelas eksperimen (N-Gain = 0,3013; kategori sedang) secara signifikan lebih baik daripada kelas kontrol (N-Gain = 0,1920; kategori rendah), berdasarkan uji T Welch (sig./2 = 0,0015 < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa Deep Learning secara efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
EFFECTIVENESS OF DEEP LEARNING BASED ON PROBLEM-BASED LEARNING ON STUDENTS' CRITICAL THINKING IN BRAIN ROT CONTEXT Talenta Valentina Christi; Ramlah Ramlah; Indra Budiman
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11841

Abstract

Mathematical critical thinking skills are essential competencies in mathematics education, yet their development among students remains suboptimal. This condition is compounded by the brain rot phenomenon arising from excessive digital content consumption and the dominance of conventional teaching practices that offer limited opportunities for deep cognitive engagement. This study aimed to analyze differences in the improvement of mathematical critical thinking skills between students taught through Deep Learning-oriented instruction using the Problem Based Learning (PBL) model and those taught through Teacher-Centered Learning (TCL) using the Direct Instruction model, while also describing students' critical thinking profiles based on gadget-use intensity categories. A quasi-experimental method with a Nonequivalent Pretest–Posttest Control Group Design was employed. Participants comprised 92 tenth-grade students from SMA Negeri 2 Cileungsi, with 45 students in the experimental class and 47 in the control class, selected through purposive sampling. Data were collected via essay tests measuring mathematical critical thinking skills and questionnaires assessing gadget-use intensity. Analysis was conducted using the Shapiro–Wilk normality test, Levene's homogeneity test, and an independent samples t-test. Results indicated a significant difference in the improvement of mathematical critical thinking skills between groups (t = −7.715; p = 0.000 < 0.05), favoring the PBL class. Additionally, students with high gadget-use intensity recorded lower mean pretest scores (47.73) compared to moderate (56.08) and low (64.52) intensity groups, suggesting that the brain rot phenomenon negatively impacts students' mathematical critical thinking skills.
MATHEMATICAL REASONING CHARACTERISTICS ACROSS ABILITY LEVELS IN METACOGNITIVE-BASED DEEP LEARNING Rivka Larose Lubis; Ramlah Ramlah; Indra Budiman
EMTEKA: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 7 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/emteka.v7i2.11880

Abstract

Mathematical reasoning ability is an essential competency in mathematics learning; however, many students still experience difficulties in constructing arguments, applying concepts, and drawing logical conclusions. Metacognitive-based deep learning is expected to support reasoning development by encouraging students to plan, monitor, and evaluate their thinking processes. This study aimed to describe the characteristics and levels of junior high school students’ mathematical reasoning ability in a metacognitive-based deep learning environment. A descriptive quantitative approach was employed involving 31 seventh-grade students of SMP Yos Sudarso Karawang. Data were collected through a mathematical reasoning test consisting of two essay items based on four indicators: making conjectures, applying mathematical concepts, carrying out logical procedures, and drawing conclusions. The instrument met the criteria of validity, reliability, discrimination index, and difficulty index. The results showed that 6.45% of students were categorized as high, 70.97% as medium, and 22.58% as low. High-level students fulfilled all reasoning indicators, medium-level students showed weaknesses in procedures and conclusions, and low-level students experienced difficulties in concepts, procedures, and conclusions. These findings provide a deeper understanding of students’ mathematical reasoning characteristics across ability levels and may inform more reflective mathematics instruction. Kemampuan penalaran matematis merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika, namun masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menyusun argumen, menerapkan konsep, dan menarik kesimpulan secara logis. Deep learning berbasis metakognitif diharapkan dapat mendukung pengembangan penalaran melalui kegiatan merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses berpikir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dan level kemampuan penalaran matematis peserta didik SMP dalam pembelajaran deep learning berbasis metakognitif. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 31 peserta didik kelas VII SMP Yos Sudarso Karawang. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan penalaran matematis yang terdiri atas dua soal uraian berdasarkan empat indikator. Instrumen telah memenuhi kriteria validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6,45% peserta didik berada pada level tinggi, 70,97% pada level sedang, dan 22,58% pada level rendah. Peserta didik pada level tinggi memenuhi seluruh indikator penalaran, peserta didik pada level sedang masih menunjukkan kelemahan pada prosedur dan kesimpulan, sedangkan peserta didik pada level rendah mengalami kesulitan dalam konsep, prosedur, dan kesimpulan. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakteristik penalaran matematis pada setiap level kemampuan dan dapat menjadi pertimbangan dalam pembelajaran matematika yang lebih reflektif.
Pengaruh Gaya Belajar terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pada Materi Sistem Koordinat Hana Lastiar Olivia Sagala; Ramlah
Jurnal Didactical Mathematics Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/dm.v7i2.16269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi sistem koordinat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausal-komparatif (ex post facto). Subjek penelitian meliputi 34 siswa kelas VIII di salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Karawang yang ditentukan melalui teknik sampling jenuh. Instrumen penelitian terdiri atas angket gaya belajar model VAK (Visual, Auditori, Kinestetik) dan tes kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan langkah Polya. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, serta uji hipotesis dengan One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar visual merupakan kategori yang paling dominan dibandingkan auditori dan kinestetik. Analisis ANOVA menghasilkan nilai signifikansi 0,831, sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan gaya belajar visual, auditori, maupun kinestetik. Uji lanjutan Post Hoc Bonferroni juga menunjukkan hasil serupa dengan nilai signifikansi 1,000 pada seluruh perbandingan antar kelompok. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah matematis tidak semata-mata dipengaruhi oleh gaya belajar, tetapi juga oleh faktor lain seperti strategi pembelajaran dan motivasi belajar. Oleh karena itu, pendidik disarankan untuk menerapkan strategi pembelajaran yang adaptif dan variatif, yang dapat mengakomodasi beragam gaya belajar siswa serta mendorong pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi
Dampak Pembelajaran Deep Learning terhadap Perkembangan Metakognisi dan Penurunan Kecemasan Matematis: Kajian Literatur Sistematis Rivka Larose Lubis; Ramlah
Jurnal Didactical Mathematics Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/dm.v7i2.16272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis keterkaitan antara deep learning, kemampuan metakognisi, dan kecemasan matematis dalam konteks pembelajaran matematika. Kajian dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) yang mengacu pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Data dikumpulkan melalui penelusuran artikel di Google Scholar dengan kata kunci “deep learning pembelajaran matematika”, “metakognisi”, dan “kecemasan matematis” pada rentang publikasi tahun 2020–2025. Dari 600 artikel yang ditemukan, 15 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola hubungan antarvariabel. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan deep learning berkontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan metakognisi siswa dan penurunan kecemasan matematis melalui proses belajar yang reflektif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Peningkatan kesadaran metakognitif terbukti memperkuat regulasi diri siswa dalam mengelola tekanan emosional terhadap matematika. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan deep learning dan pelatihan metakognitif guna menciptakan ekosistem belajar matematika yang adaptif, humanistik, dan selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21
Pendekatan Deep Learning dalam Pendidikan Matematika: Sebuah Systematic Review tentang Dampaknya terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Khaila Nurjannah; Ramlah
Jurnal Didactical Mathematics Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/dm.v7i2.16283

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu kompetensi kunci dalam pembelajaran matematika yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis penerapan pendekatan deep learning dalam pembelajaran matematika serta dampaknya terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan tahapan identifikasi, seleksi, dan sintesis terhadap artikel ilmiah yang relevan. Sumber data diperoleh dari jurnal nasional dan internasional yang diakses melalui Google Scholar dengan bantuan aplikasi Publish or Perish menggunakan kata kunci “deep learning” dan “kemampuan pemecahan masalah matematis” pada rentang waktu 2023–2025. Berdasarkan proses seleksi, diperoleh 19 artikel yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil telaah menunjukkan bahwa penerapan deep learning secara konsisten memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui pembelajaran yang aktif, reflektif, kolaboratif, dan kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat penguasaan konsep, tetapi juga menumbuhkan kesadaran metakognitif, rasa percaya diri, serta motivasi belajar siswa dalam menghadapi tantangan akademik. Namun, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh kesiapan guru, ketersediaan fasilitas, dan dukungan teknologi pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa deep learning merupakan strategi pembelajaran yang relevan untuk memperkuat kemampuan berpikir tingkat tinggi dan menjadi dasar konseptual bagi penelitian lanjutan yang bersifat empiris pada konteks pendidikan matematika yang lebih luas
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP DALAM ALJABAR: STUDI KASUS BERDASARKAN LEVEL KEMAMPUAN Niken Nurul Aini; Ramlah Ramlah
JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika) Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Bhinneka PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/jp2m.v12i1.8680

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP pada materi aljabar berdasarkan level kemampuan. Penelitian dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Karawang dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas 42 siswa kelas VII yang mengikuti tes pemecahan masalah, kemudian dipilih tiga siswa sebagai subjek wawancara dengan kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Data diperoleh melalui tes dua soal uraian dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis berdasarkan indikator pemecahan masalah menurut Polya: memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian, dan memeriksa kembali. Untuk memastikan keabsahan data digunakan triangulasi metode, instrumen, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan tinggi mampu melalui seluruh tahapan pemecahan masalah dengan baik, menyusun model aljabar yang tepat, serta melakukan refleksi terhadap solusi. Siswa dengan kemampuan sedang dapat memahami inti masalah dan menyusun penyelesaian dasar, namun masih kurang mendalam dalam merancang strategi dan mengevaluasi hasil. Sementara itu, siswa dengan kemampuan rendah mengalami kesulitan pada hampir semua tahapan, terutama dalam memahami informasi penting dan menyusun strategi yang sistematis. Temuan ini menunjukkan adanya variasi kemampuan yang signifikan antar siswa, serta pentingnya pembelajaran yang berorientasi pada penguatan keterampilan berpikir kritis, representasi aljabar, dan kesadaran metakognitif siswa dalam menyelesaikan masalah matematis.