Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Komparasi Efektifitas Ekstrak Bawang Putih Dan Umbi Gadung Dalam Mengatasi Hama Jangkrik Pada Tanaman Cabai Intan Chairun Nisa
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 27 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrolandnasional.v27i2.529

Abstract

Pestisida kimia yang sering digunakan petani untuk mengatasi hama mempunyai dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu alternatif pengganti pestisida kimia adalah pestisida organik. Beberapa tanaman potensial sebagai pestisida organik adalah bawang putih dan umbi gadung. Salah satuhama yang merugikan bagi tanaman cabai adalah jangkrik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pestisida organik dari bawang putih dan umbi gadung dalam mengatasi hama jangkrik pada tanaman cabai. Penelitian diawali dengan pembuatan habitat tiruan jangkrik dari tanaman cabai, kemudian diadaptasikan selama tiga hari. Sebanyak 30 tanaman cabai dikelompokkan menjadi 10 perlakuan yaitu aquades sebagai aquades sebagai kontrol negatif, pestisida kimia sebagai kontrol positif, ektrak bawang putih dan ekstrak umbi gadung dengan konsentrasi masing-masing 5%, 10%, 20% dan 40%. Perbandingan efektifitas antar perlakuan diamati melalui tiga aspek antara lain nilai persentase mortalitas, indeks kecepatan kematian dan medium lethal time (LT50). Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap nilai ketiga aspek. Semakin tinggi konsentrasi semakin efektif dalam membunuh jangkrik. Nilai persentase mortalitas, indeks kecepatan kematian dan medium lethaltime (LT50) tertinggi pada ekstrak umbi gadung 40% adalah 85%, 50 dan 6,5 menit dan ekstrak bawang putih 40% adalah 55%, 31 dan 10 menit secara berurutan. Berdasarkan analisis ketiga aspek tersebut ekstrak umbi gadung lebih efektif sebagai pestisida organik dibandingkan dengan ekstrak bawang putih dengan nilai yang mendekati kontrol positif.
PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium cepa L.) PADA MEDIA TUMBUH YANG DITAMBAHKAN ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI: PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium cepa L.) PADA MEDIA TUMBUH YANG DITAMBAHKAN ZAT PENGATUR TUMBUH ALAMI Azis H, Abd; Dahlan; Rizal, Muhammad; Chairun Nisa, Intan; Rivai, Iskandar
Jurnal Agrisistem Vol. 20 No. 1 (2024): Jurnal Agrisistem
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr.v20i1.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil bawang merah pada media tanam yang ditambahkan Zat Pengatur Tumbuh Alami. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Adapun perlakuan yang dicobakan adalah ; E0 : Media Tanam Tanah, Kotoran Kandang puyuh, sekam bakar (2:1:1) tanpa penambahan ZPT, E1 : Media Tanam Tanah, Kotoran Kandang puyuh, sekam bakar (2:1:1) + Ekstrak kecambah kacang hijau 300 gram/ ltr Air, E2 : Tanam Tanah, Kotoran Kandang puyuh, sekam bakar (2:1:1) + Ekstrak bonggol pisang 300 gram/ ltr Air. E3 : Tanam Tanam Tanah, Kotoran Kandang puyuh, sekam bakar (2:1:1) + Ekstrak rebung 300 gram/ ltr Air. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Penggunaan Media tanam Tanah + Kotoran Kandang Puyuh + Sekam padi dengan perbandingan (2 : 1 : 1 ) yang ditambahkan Zat pengatur tumbuh alami berpengaruh pada pertumbuhan vegetative dan hasil tanaman bawang merah. Penggunaan Media tanam Tanah + Kotoran Kandang Puyuh + Sekam padi yang ditambahkan Zat pengatur tumbuh alami ekstrak bonggol pisang memberikan respon pertumbuhan vegatatif dan hasil paling baik dibanding zat pengatur tumbuh alami ekstrak kecambah kacang hijau dan ekstrak rebung pada tanaman bawang merah.
Analisis Hirarki Proses dalam Pemilihan Detergen Soft Eco Enzime (SEE), Detergen Eco Enzyme (EE), dan Detergen Kimia Salamah, Umi; Nisa, Intan Chairun; Juliadi, Ertawan; Moestin, Moestin
Saintek: Jurnal Sains Teknologi dan Profesi Akademi Angkatan Laut Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : AKADEMI ANGKATAN LAUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59447/saintek.v16i2.130

Abstract

Surfactant waste produced by detergents with chemicals causes water and soil to be polluted. Water as a vital human need must be saved from pollution by waste, so it is necessary to find innovations in the use of laundry detergents using environmentally friendly materials. This study conducted experiments using 3 kinds of detergents, namely: 1) A. MES and SEE, 2) B. MES and EE, and 3) C. MES and Chemistry. Experiments on the use of detergents with respondents of AAL Community Service Assistance residents in Pesapen Surabaya. There are 5 criteria for assessing and selecting detergent, namely: 1) cleaning power, 2) softness of clothing, 3) Effect on color, 4) power to kill bacteria, and 5) the cost of purchasing detergent manufacturing materials. In analyzing the 3 criteria 1), 2) and 3) using hierarchical process analysis, criterion 5) is calculated by comparing the manufacturing costs incurred. As for criterion 4), laboratory tests will be carried out as the next research step. The results of the AHP of the best-selected detergent are A. MES and SEE. Given that SEE is an EE whose fermentation is at least 6 months, it is recommended to use SEE for the manufacture of detergent. Limbah surfaktan yang dihasilkan oleh detergent dengan bahan kimia menyebabkan air dan tanah tercemar. Air sebagai kebutuhan vital manusia harus diselamatkan dari pencemaran oleh limbah, maka perlu mencari inovasi penggunaan detergen cuci pakaian dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Penelitian ini melakukan eksperimen penggunaan 3 macam detergen yaitu: 1) A. MES dan SEE, 2) B. MES dan EE, dan 3) C. MES dan Kimia. Eksperimen penggunaan detergen dengan responden warga Binaan Pengabdian kepada Masyarakat AAL di Pesapen Surabaya. Kriteria penilaian dan pemilihan detergent ada 5 yaitu: 1) daya bersih, 2) kelembutan Pakaian, 3) Efek terhadap warna, 4) daya membunuh bakteri, dan 5) biaya pembelian bahan pembuatan detergent. Dalam menganalisis 3 kriteria 1), 2) dan 3) menggunakan Analisis hirarki proses, sedangkan untuk kriteria 5) dihitung dengan membandingkan biaya pembuatan yang keluarkan. Sedangkan untuk kriteria 4) akan dilakukan uji laboratorium sebagai langkah penelitian selanjutnya. Hasil dari AHP detergen yang terpilih terbaik adalah A. MES dan SEE. Mengingat SEE adalah EE yang fermentasinya minimal 6 bulan, maka untuk pembuatan ditergen disarankan menggunakan SEE.