Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : journal of green complex engineering

GALERI SENI DAN RUANG KREASI DENGAN PENDEKATAN RAMAH ANAK DI BULUKUMBA Aisyah Ayu Andira Alkatiri; Citra Amalia Amal; Nurhikmah Paddiyatu; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 1 No. 1 (2023): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v1i1.65

Abstract

Seni merupakan wadah penting bagi perkembangan kreativitas dan apresiasi anak-anak. Proses interaktif dalam kegiatan berkesenian memberikan nilai-nilai estetik, keterampilan, dan kreativitas yang lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan membuat konsep dan merancang galeri seni dan ruang kreasi dengan pendekatan ramah anak di Kota Bulukumba untuk mendorong pengembangan seni dan ekspresi anak. Seni memiliki peran sentral dalam perkembangan anak, memungkinkan mereka menggali kreativitas dan ekspresi diri. Metode penelitian melibatkan pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur. Selanjutnya data tersebut dianalisis menjadi konsep rancangan desain. Hasil penelitian berupa konsep perancangan galeri seni dan ruang kreasi sebagai pedoman perancangan. Beberapa ruang penting seperti ruang kreasi, anak-anak dapat berpartisipasi dalam berbagai aktivitas seni seperti melukis, memahat, menari, drama, bermusik, digital art, dan menanam. Fokusnya adalah meningkatkan keterampilan dan kreativitas anak melalui pembelajaran interaktif yang menyenangkan. Dengan pendekatan ramah anak, akan menciptakan lingkungan yang menginspirasi serta mendukung perkembangan seni dan ekspresi anak-anak secara berkelanjutan. Dengan konsep rancangan bangunan galeri seni dan ruang kreasi ini, memiliki harapan untuk menjadi pusat pembelajaran dan rekreasi seni yang memberikan dampak positif bagi perkembangan anak-anak.
Arsitektur sebagai Katalis Budaya: Desain Eco-Cultural untuk Pusat Warisan Bugis-Makassar Muhammad Suaib; Muhammad Syarif; Nurhikmah Paddiyatu; Rohana; Andi Yusri; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.201

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gowa merupakan wilayah di Sulawesi Selatan yang kaya akan budaya Bugis-Makassar, namun belum memiliki fasilitas representatif untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal secara berkelanjutan. Studi ini merancang sebuah Pusat Kebudayaan dan Seni Lokal dengan pendekatan eco-cultural yang menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan pelestarian nilai budaya lokal. Metode yang digunakan meliputi observasi tapak, wawancara, studi literatur, serta analisis sosial dan ekologis sebagai dasar perancangan. Hasil desain menunjukkan integrasi lima prinsip eco-cultural—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, dan idealized concept of place—ke dalam bentuk arsitektur yang adaptif terhadap iklim tropis serta simbolik terhadap budaya Bugis-Makassar. Zona fungsional disusun secara fleksibel untuk menunjang aktivitas edukasi, pertunjukan, dan interaksi sosial, sementara bentuk bangunan terinspirasi dari topi Patonro dan kipas tradisional. Desain ini tidak hanya menghasilkan fasilitas budaya yang fungsional dan kontekstual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi ekologis. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini berperan penting dalam mendukung kontinuitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat Gowa, serta menjadi model arsitektur berkelanjutan berbasis lokal di Indonesia. ABSTRACTGowa Regency in South Sulawesi is rich in Bugis-Makassar cultural heritage but lacks a representative facility for the sustainable preservation and development of local culture. This study designs a Local Cultural and Arts Center using an eco-cultural approach that combines environmental sustainability principles with the preservation of local cultural values. The methods used include site observation, interviews, literature studies, and socio-ecological analysis as the foundation for design development. The design results demonstrate the integration of five eco-cultural principles—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, and idealized concept of place—into architectural forms that are adaptive to the tropical climate and symbolically reflective of Bugis-Makassar culture. Functional zones are organized flexibly to support educational, performance, and social interaction activities, while the building form is inspired by the traditional Patonro headgear and cultural fan motifs.This design not only provides a functional and contextually relevant cultural facility but also serves as an educational space and ecological reflection. Therefore, the cultural center plays a vital role in supporting cultural continuity and environmental awareness in the Gowa community and serves as a model for locally based sustainable architecture in Indonesia.      
Feminist Architecture for Inclusive Heritage Learning at the Colliq Pujie Museum Muh Alfin; Ashari Abdullah; Citra Amalia Amal; Nurhikmah Paddiyatu; Sahabuddin Latif; Andi Yusri
Journal of Green Complex Engineering Vol. 4 No. 1 (2026): August
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v4i1.282

Abstract

This study develops an inclusive heritage-learning environment for the Colliq Pujie Museum Complex in Barru Regency through a feminist architectural approach. A research-through-design method combined literature and precedent review, field observation, comparative site selection, climate and access analysis, user–activity mapping, spatial programming, descriptive quantitative analysis, and criteria-based evaluation. The selected 1.79-ha site adjoins the existing museum and is directly accessible from a provincial road. The resulting 9,502-m² program integrates temporary and immersive exhibitions, a Barru history gallery, education, workshops, library and research functions, a 529-seat auditorium, reflection spaces, and supporting amenities. Feminist principles were translated into human-scaled thresholds, connected commons, universal circulation, passive visibility, mixed-mode environmental zoning, and an interpretive sequence that presents Colliq Pujie as a producer and custodian of Bugis knowledge. The proposal demonstrates that gender-responsive architecture can be operationalized as a performance framework linking representation, access, safety, participation, and environmental comfort rather than as a formal style. The design remains a schematic hypothesis requiring participatory validation, environmental simulation, accessibility auditing, and post-occupancy evaluation.