Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Wana Raksa

SISTEM PENGELOLAAN DAN POTENSI TEGAKAN HUTAN RAKYAT KECAMATAN NUSAHERANG KABUPATEN KUNINGAN Agus Yadi Ismail; Oding Syafrudin; Yudi Yutika
Wanaraksa Vol 10, No 02 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v10i02.1059

Abstract

Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh diatas lahan yang dibebani hak milik, jadi hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat (Undang-Undang pokok Kehutanan No. 41 Tahun 1999). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengidentifikasi sistem pengelolaan, potensi tegakan dan manfaat ekonomi dari kegiatan pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikadu Kecamatan Nusaherang Kabupaten Kuningan. Penelitian ini diperoleh dari metode field observation, metode sampling dan metode wawancara terhadap petani responden.Sistem pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikadu masih bersifat sederhana, Pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikadu dilakukan dengan menggunakan sistem agroforestry dengan tanaman semusim dan model agroforesty dengan tanaman perkebunanHasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden petani hutan. Petani responden mendapatkan bibit dengan cara membeli dan dilakukan proses seleksi untuk mendapatkan bibit yang bermutu. Pemanenan kayu dengan cara sistem tebang pilih dengandiameter pohon yang sudah mencapai 20-50 cm. Pemasaran kayu dilakukan dengan sistem tebasan oleh pengepul yang berasal dari Desa Cikadu.Potensi pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikadu dengan luas hutan rakyat dari seluruh petani responden 11,21 Ha, memiliki potensi kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) 13,60 m3/ha dan Mahoni (Swietenia mahagoni) 23,87 m3/ha dan afrika (Meosopsi eminii)12,83 m3/ha. Dengan potensi usaha Hutan Rakyat desa Cikadu untuk mahoni Rp.29.150.000/tahun, untuk sengon Rp.16.580.000/tahun dan untuk afrika Rp. 24.450.000/tahun,cengkeh (Syzygium auromaticum) Rp. 234.000/tahun, sedangkan kontribusi pendapatan terkecil diperoleh dari kopi (Coffea robusta) Rp. 156.600/tahun.Kata Kunci : Hutan rakyat, Sistem pengelolaan hutan rakyat , Potensi tegakan kayu,   Kontribusi pendapatan.
STRUKTUR POPULASI DAN SEBARAN SERTA KARAKTERISTIK HABITAT HURU SINTOK (Cinnamomum sintocBl) DI RESORT CILIMUS TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Agus Yadi Ismail; Iing Nasihin; Didin Juhendar
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1049

Abstract

Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Propinsi Jawa Barat.Kawasan konservasi memiliki fungsi utama sebagai perlindungan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktut populasi, sebaran spasial dan karakteristik habitat Huru Sintok di kawasan Resort Cilimus, Taman Nasional Gunung Ciremai.        Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015. Data yang digunakan berupa sekunder meliputi kondisi umum lokasi dan data primer meliputi data titik koordinat, analisis vegetasi, nama spesies, jumlah individu setiap spesies, diameter batang, tinggi pohon, kelerengan, ketinggian tempat, dan suhu lokasi pengamatan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Dominansi (C), Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), Indeks Kemerataan (E) dan Indeks Kekayaan Jenis (R).Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi Huru Sintok berbentuk piramida dengan dasar yang luas artinya banyaknya pohon paling banyak dijumpai pada kelas umur rendah dan semakin menurun dengan bertambahnya kelas diameter, hasil ini menunjukkan bahwa Huru Sintok dapat beregenerasi dengan baik yang terlihat dengan jumlah semai yang melimpah. Sebaran Huru Sintok cenderung individual dan jarang ditemukan mengelompok. Adanya pohon Huru Sintok yang ditemukan di kawasan penelitian diduga karena Huru Sintok dapat beradaptasi dengan baik di habitat pada kawasan hutan Resort Cilimus yang masih kaya akan unsur organik karena hutan tersebut merupakan kawasan konservasi. Karakteristik habitat Huru Sintok dijumpai dengan ketinggian 500-1100 m dpl, dengan kelerengan mulai dari 10-45 %, suhu mulai dari 19-26°C dan vegetasi penyusun Huru Sintok didominasi oleh famili Lauraceae dan Euphorbiaceae.Kata Kunci :     Huru Sintok, Struktur Populasi, Sebaran Spasial, Karakteristik Habitat.
INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI INDUSTRI PRIMER KAYU RAKYAT DI KABUPATEN MAJALENGKA PRIVINSI JAWA BARAT Agus Yadi Ismail; Yovi Mustikasari Elis; Ilham Adhya
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1048

Abstract

Hutan Rakyat Menjadi alternatif dalam pemasok bahan baku perindustrian. Industri Kayu rakyat memegang peranan yang penting dalam hal menyerap kayu yang dihasilkan oleh petani hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi Industri primer kayu rakyat, mendapatkan data dan informasi, serta mengetahui sebaran industri primer kayu hutan rakyat di Kabupaten Majalengka. Metode yang digunakan yaitu  metode survey dan wawancara di analisis secara analisis deskriptif dan kualitatif. Dari hasil penelitian terdapat 68 industri penggergajian (sawmill) yang tersebar merata hampir diseluruh kecamatan dari 26 kecamatan hanya satu kecamatan yang tidak terdapat industri penggergajian yaitu Kecamatan Panyingkiran. Jenis kayu yang digunakan yaitu jenis kayu Jati, Mahoni, Sengon, Suren, Afrika, Pinus, Akasia, Puspa, Nangka, Mangga, Campuran (Salam,Tisuk, Randu, Lamtoro, Waru dan Gempol).  Jenis kayu dengan jumlah produksi tertinggi setiap bualannya yaitu Jenis kayu sengon (Paraserianthes falcaria) 2.713 M3,  kayu Mahoni (Swietenia macrophylla) 2.652 M3 Jati (Tectona grandis),  1.352 M3 Afrika (Maesopsis eminii),  916 M3 Mangga (Mangifera indica), 338 M3 dan hasil produk olahan kayu log menjadi produk setengah jadi dengan jumlah semuanya sebesar 4.488.6 M3, menghasilkan papan sebanyak 1.730 M3, kusen 1.134 M3, kaso 669.2 M3, reng 165.5 M3, palet 789.8 M3. Sehingga Pemerintah Kabupaten Majalengka harus mempertahankan jumlah hutan rakyat yang ada, agar ketersedian  bahan baku kayu untuk proses produksi  tetap terpenuhi dan Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait dengan potensi ketersediaan bahan baku kebutuhan industri penggergajian (Sawmill).Kata kunci :Industri Primer, Penggergajian, Sawmill, Hutan Rakyat, Log.
IDENTIFIKASI DAN SEBARAN JENIS Cinnamomum sintoc BL DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) DI RESORT CILIMUS DAN MANDIRANCAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Agus Yadi Ismail; Dede Kosasih; Dian Novitasari
Wanaraksa Vol 11, No 01 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i01.1064

Abstract

Jenis Cinnamomum sintoc Blume merupakan salah satu vegetasi penghasil minyak atsiri pada batang dan daunnya. Dalam upaya konservasi C.sintoc, maka perlu dilakukan studi untuk mengetahui populasi dan sebaran sintok diTaman Nasional Gunung Ciremai.Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai populasi, sebaran, dan karakteristik habitat  Cinnamomum sintoc di Resort Cilimus dan Resort Mandirancan Taman Nasional Gunung Ciremaisehingga proses kelangkaannya dapat dicegah dan pengembangan dapat dilakukan dalam upaya pembudidayaan tanaman ini. Penelitian dilaksanakan di Resort Cilimus dan Mandirancan Taman Nasional Gunung Ciremai Provinsi Jawa Barat yang terletak pada koordinat 108° 24' 20.3706" - 108° 28' 40.2486" Bujur Timur dan 6° 49' 30.9185"- 6° 54' 3.8434" Lintang Selatan dengan luas wilayah 3.171,035 hektar. Penelitian dimulai bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2016. Identifikasi morfologi dan sebaran C.sintoc menggunakan metode observasi dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan yang dilakukan di Resort Cilimus dan Mandirancan dibatasi berdasarkan ketinggian dari 500-1200 mdpl.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebaran Cinnamomum sintoc pada lokasi penelitian banyak ditemukan individu pada Resort Cilimus sedangkan untuk Resort Mandirancan cenderung mengelompok terutama pada ketinggian 700 mdpal dan 900 mdpal.selain itu Habitat di Resort Cilimus Cinnamomum sintoc ditemukan hanya pada ketinggian 500-1200 mdpal dengan rata-rata suhu 26.3oC dan kelembaban 78% dan Resort Mandirancan ditemukan hanya pada ketinggian 500-1100 mdpal dengan rata-rata suhu 27.3oC dan kelembaban 75.5%. Dan habitat Cinnamomum sintocditemukan pada Zona tropik dataran rendah (0-1000 Mdpal) dan Zona sub montan atau Hutan pegunungan rendah (1000-1500 Mdpal).Kata Kunci: Cinnamomum sintoc, habitat, morfologi, sebaran
SEBARAN JENIS DAN HARGA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU SETENGAH JADI DI KABUPATEN MAJALENGKA Iing Nasihin; Agus Yadi Ismail; Randi Adpan
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1050

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi industri kayu setengah jadi, memetakan daerah sebaran industri pengolahan kayu setengah jadi , mengetahui Sumber bahan baku, jenis kayu dan kapasitas setiap produk industri profil industri pengolahan kayu setengah jadi. Penelitian dilakukan melalui metode survey dimana waktu penelitian ini dilaksanakan adalah 4 bulan pada bulan April sampai Juni 2015 di lakukan di industri sekunder pengrajin kayu di Kabupaten Majalengka. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa jenis kayu yang digunakan didominasi oleh jenis kayu jati, mahoni, jenis kayu tersebut digunakan untuk bahan setengah jadi berupa kusen, pintu, jendela, lemari, bupet dan kursi.Kata Kunci: Identifikasi, inventarisasi, industri kayu
INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI SEBARAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN MAJALENGKA Agus Yadi Ismail; Yayan Hendrayana; Rahman Hidayat Saputra
Wanaraksa Vol 10, No 02 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v10i02.1061

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi profil hutan rakyat di Kabupaten Majalengka untuk mengetahui sebaran hutan rakyat, potensi dan model/pola hutan rakyat yang ada di Kabupaten Majalengka  Data penelitian yang diambil adalah data sekunder dan data primer yang didapat dari intansi terkait maupun dengan metode wawancara terhadap petani hutan. Analisa profil petani serta volume pohon dan kemudian dijelaskan secara deskriptif berdasarkan tabulasi dan diagram yang diperoleh.Hasil diperoleh di hutan rakyat Kabupaten Majalengka sebaran hutan rakyat yang paling banyak terdapat di Kecamatan Maja dengan jumlah blok 31 blok serta luas hutan rakyat 895,1 Ha, sedangkan unutuk sebaran hutan rakyat yang sedikit terdapat di Kecamatan Rajagaluh dengan jumlah blok 4 blok hutan rakyat, akan tetapi untuk luasan hutan rakyatnya yang terkecil beerada diKecamatan Palasah dengan luas 61,9 Ha. Model/pola pengelolaan hutan rakyat di Kab. Majalengka  adalah sistem campuran dan Agroforesty pada umumnya pola penggunaan lahan tidak intensif, stuktur tegakan yang mendominasi adalah pohon yang memiliki diameter 15-25 cm sedangkan jenis pohon yang mendominasi adalah sengon (Parasarianthes falcataria). Potensi tegakan tanaman hutan rakyat di Kabupaten Majalengka adalah 625,48 m3 dengan luas lahan 2834,5 Ha dan potensinya 1.772.923,06 m3.Selain itu pengelolaan hutan rakyat dapat membantu menambah pendapatan petani sekaligus meningkatkan kesejahtraan serta dapat merehabilitasi lahan tidur atau pun lahan kritis kembali menjadi lahan yang produktif.Kata kunci : Agroforesty serta campuran, sebaran hutan rakyat, potensi tegakan, pengelolaan hutan rakyat dan manfaatnya.
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN KEPADATAN MAMALIA BESAR DI AREAL KERJA IUPHHK-HA PT. AMPRAH MITRA JAYA KALIMANTAN TENGAH Agus Yadi Ismail; Dede Kosasih; Sulhanudin Sulhanudin
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1051

Abstract

Mamalia memiliki peran penting dalam jaring makanan hampir di setiap ekosistem. Mamalia dapat memberi makan pada berbagai tingkatan rantai makanan, seperti herbivora, insektivora, karnivora dan omnivora. Penelitian ini difokuskan pada mamalia besar yang memiliki berat badan lebih dari 5 kilogram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur vegetasi, keanekaragaman jenis dan kepadatan serta status konservasi mamalia besar yang ada di kawasan lindung IUPHHK-HA PT. AMJ Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di empat kawasan lindung, yaitu Arboretum, Kantong Satwa (KS), Sempadan Sungai (SS) dan Kawasan Konservasi Insitu (KKI) dengan menggunakan metode transek garis (line transect method).Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan sebagian besar merupakan jenis tumbuhan yang temasuk dalam famili Dipterocarpaceae, Rosaceae, Ebenaceae, dan Leguminosae. Keanekaragaman jenis mamalia besar yang ditemukan adalah sebanyak 10 jenis mamalia. Kepadatan mamalia besar yang paling tinggi terdapat pada lokasi KS dan KKI. Dan berdasarkan jenis satwanya, yang paling tinggi adalah jenis Babi Hutan (Sus scrofa) sebanyak 2,82 individu/ha, serta Lutung Merah (Presbytis rubicunda) dan Owa-owa (Hylobates muelleri) masing-masing sebanyak 2,59 individu/ha. Hampir semua jenis mamalia besar yang ditemukan merupakan jenis satwa yang dilindungi. Dan 2 jenis diantaranya merupakan satwa yang termasuk dalam status Endangered (genting atau terancam) yaitu jenis Orang Utan (Pongo pygmaeus) dan Owa-owa (Hylobates muelleri).Agar keseimbangan ekosistem dan kelestarian alam serta lingkungannya tetap terjaga, perlu dilakukannya pengelolaan dan perlindungan yang lebih intensif baik bagi satwa tersebut maupun habitatnya sebagai penunjang keberlangsungan hidupnya.Kata Kunci : Mamalia Besar, Kawasan Lindung, Keanekaragaman Jenis Kepadatan
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI KAWASAN GUNUNG SUBANG KABUPATEN KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT Toto Supartono; Agus Yadi Ismail; Ade Hamdani
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1047

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi jenis-jenis burung serta mengetahui tingkat keanekragaman jenis burung di lereng utara kawasan hutan Gunung Subang Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode daftar jenis mackinon dengan menggunakan 10 jenis dalam 1 daftar dan mengumpulkan 20 daftar jenis. Selain itu dilakukan analisis vegetasi untuk menemukan hubungan keanekaragaman burung dengan vegetasi dari tiap habitat.Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, jenis burung yang ditemukan sebanyak 45 jenis burung, dengan total perjumpaan sebanyak 1.012 individui, dengan total perjumpaan pada tipe habitat Hutan Alam sebanyak 34 jenis dengan total perjumpaan sebanyak 381 individu, pada tipe habitat situ ditemukan sebanyak 27 jenis dan 349 individu yang dijumpai, dan pada tipe habitat kebun ditemukan sebanyak 24 jenis burung dengan total perjumpaan sebanyak 282 individu.Indeks keanekaragaman jenis burung pada habitat hutan memiliki nilai H’= 3,11 dan nilai E=0,52. Pada habitat situ memiliki nilai H’= 2,78 dan nilai E=0,47. Untuk tipe habitat kebun memiliki nilai H’= 2,83 dan nilai E= 0,50.Kata Kunci : Hutan, keanekaragaman jenis burung, analisis vegetasi.
PENGGUNAAN KONEKTIVITAS BUATAN OLEH KUKANG JAWA (Nycticebus javanicus) PADA AREAL TALUN KABUPATEN GARUT Hilman Fauzi; Agus Yadi Ismail; Toto Supartono
Wanaraksa Vol 16, No 01 (2022)
Publisher : Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v16i01.9014

Abstract

 Javan Slow loris (Nycticebus javanicus) is a critically endangered species caused by several factors, one of them is forest loss and sustainable habitat degradation that cause reduced the habitat of Javan slow loris. In the Agroforestry area Cipaganti Garut West Java, artificial connectivity was made by the Little Fireface Project as a solution to reduce the death threat of Javan slow loris and they can reach their home range without using terrestrial activity. This research aimed to determine the preferences of Javan slow loris to the use of 5 artificial connectivity. The data in this research were collected using camera trap which installed in each artificial connectivity and analyzed using encounter rate (ER) and Neu method to determine the encounter rate of the Javan slow loris in each artificial connectivity and vegetation analysis to determine availability of forage plant in each artificial connectivity. The Javan Slow Loris dominantly found in waterline artificial connectivity with encounter rate (ER: 3,77 pictures/day) and analyzed with Neu methods. The result is Javan slow loris prefers using the artificial connectivity (waterline) type (w1). Availability of forage plant with highest amount found on bridge 4 (waterline) with total 113 individuals from 4 speciesKukang (Nycticebus javanicus) merupakan spesies yang terancam punah yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah hilangnya hutan dan degradasi habitat berkelanjutan yang menyebabkan berkurangnya habitat kukang. Di kawasan Agroforestri Cipaganti Garut Jawa Barat, konektivitas buatan dibuat oleh Little Fireface Project sebagai solusi untuk mengurangi ancaman kematian kukang dan mereka dapat mencapai wilayah jelajahnya tanpa menggunakan aktivitas terestrial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi kukang terhadap penggunaan 5 konektivitas buatan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kamera trap yang dipasang pada setiap konektivitas buatan dan dianalisis menggunakan metode Face Rate (ER) dan Neu untuk mengetahui tingkat perjumpaan kukang pada setiap konektivitas buatan dan analisis vegetasi untuk mengetahui ketersediaan tanaman hijau. di setiap konektivitas buatan. Kukang dominan ditemukan di perairan buatan dengan tingkat perjumpaan (ER: 3,77 gambar/hari) dan dianalisis dengan metode Neu. Hasilnya kukang lebih memilih menggunakan tipe konektivitas buatan (garis udara) (w1). Ketersediaan tanaman hijauan dengan jumlah tertinggi terdapat pada jembatan 4 (garis air) dengan jumlah 113 individu dari 4 spesies
Co-Authors Aaf Falahudin Ade Hamdani Adi Oksifa Rahma Harti Agung Rifai Agus Yuniawan Isyanto Ai Nurlaila Ai Nurlaila, Ai Althaaf, Naufal Amalia, Lidya Nur Aminudin, Sukron Anggi Setiadi Anna Fitri Hindriana Anna Fitri Hindriyana Arie Wahyuni Asep Wahyudin Astuti, Imelda Puji Cecep Kusmana Dadan Ramdani Nugraha Dede Djuniardi Dede Kosasih Dede Kosasih Deni Deni Deni Deni Deni Deni Dian Novitasari Didin Juhendar Dinar Dinar Dzulfannazhir, Fauzan Elly Proklamasiningsih Eming Sudiana Eming SUDIANA Euis Sri Hastuti FATIMATUZZAHRO Fina Nadia Silma Fujiman, Heris Herma Wiharno Hidayatullah, Robby Ardiansah Hilman Fauzi Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ida Marina Ida Marina Ida Marina Ida Marina, Ida Idit Sukmadi Ika Karyaningsih Ilham Adhya Indra, Dikki Ivan Chofyan Kartika Sari Koswara, Engkos Lina Karlina Lutfi Rahman Purbasari Mawangi, Rindi Muhamad Rijal Nainggolan, Mai Fernando Nasihin, Iing Nina Herlina Nina Herlina Nina Herlina Nina Herlina NINA HERLINA Nurdin Nurdin Nurdin Nurdin Nurdin Nurlaela, Ai Oding Syafrudin Ossa Yuniar Pupatriyani Rahman Hidayat Saputra Rahmantya, Yanneri Elfa Kiswara Ramadhan, Mohamad Fajri Randi Adpan Sakinah, Ana Sholihath, Lia Laelatul SITI MARYAM Sofyan, Hadiyan Nur Sri Ayu Andayani sri ayu andayani, sri ayu Sukron Aminudin Sukron Aminudin Sulhanudin Sulhanudin Supartono, Toto Supriatna, Odang Surya Abadi Sembiring Suwari Akhmaddhian Tambunan, Herlina Yolanda Tira Nurjanah Toto Supartono Tuti Rahmawati Veronica, Anita Wina Waniatri Yayan Hendrayana Yayan Hendrayana Yayan Hendrayana Yeyen Suryani Yovi Mustikasari Elis Yudi Yutika Zaenal Abidin Zakaria, Zein