Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

HUBUNGAN ASUPAN MAGNESIUM, SENG, DAN MANGAN DENGAN DIABETES MELITUS GESTASIONAL PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KABUPATEN BANTUL Adelia Suryani Nasution; Effatul Afifah; Emy Huriyati; Bunga Astria Paramashanti; Tri Siswati
Media Gizi Mikro Indonesia Vol. 15 No. 1 (2023): Media Gizi Mikro Indonesia (MGMI)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Gestational diabetes mellitus or diabetes experienced during pregnancy occurs due to a metabolic disorder of blood glucose during pregnancy. The prevalence of gestational diabetes mellitus in Indonesia is 1.9% - 3.6%. Intake of mineral nutrients seen from its most important function is to metabolize carbohydrates, proteins, and fats into energy such as magnesium, zinc, and manganese minerals so there is a special attention between macro and micro mineral intake with the incidence of gestational diabetes mellitus. Objective: To examine the correlation between the intake of magnesium, zinc, and manganese of gestational diabetes mellitus in pregnant women in the Public Health Area of Sewon, Banguntapan, and Jetis Bantul District Yogyakarta Special Region. Methods: This research was an observational analytic research with a cross-sectional research design. The sampling technique used purposive sampling method, research subjects are pregnant women who have been done checking urine reduction in trimester I in Bantul Regency working area as many as 136 pregnant women. The data collected include respondent characteristics, fasting blood glucose measurement, and SQFFQ form. The data will be analyzed using Fisher exact with significance level ? <0.05 and mean different test (T-test). Results: Of the 136 respondents, 3 of them (2.2%) included the gestational diabetes mellitus group. Fisher exact test results showed the correlation of magnesium intake with the incidence of gestational diabetes mellitus had p-value = 0.097, the correlation of zinc intake with the incidence of gestational diabetes mellitus had p-value = 0.198 (OR=0,193, 95% CI;0,017-2,189), and the correlation of manganese intake with the incidence of gestational diabetes mellitus has p-value = 0.207 (OR=0,200, 95% CI;0,018-2,271). Conclusion: There was no significant correlation between the intake of magnesium, zinc, and manganese and gestational diabetes mellitus in Bantul District Yogyakarta Special Region (DIY). ABSTRAK Diabetes melitus gestasional atau diabetes yang dialami saat masa kehamilan terjadi akibat adanya gangguan metabolik glukosa darah saat masa kehamilan. Prevalensi diabetes melitus gestasional di Indonesia sebesar 1.9% - 3.6%. Asupan zat gizi mineral dilihat dari fungsinya yang paling penting ialah memetabolisme karbohirdrat, protein, maupun lemak menjadi energi seperti mineral magnesium, seng, dan mangan sehingga perlu adanya perhatian khusus antara asupan makro dan mikro mineral dengan kejadian diabetes melitus gestasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan asupan magnesium, seng, dan mangan dengan diabetes melitus gestasional pada ibu hamil di wilayah Puskesmas Kecamatan Sewon, Banguntapan, dan Jetis Kabupaten Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, subyek penelitian adalah ibu hamil yang sudah dilakukan pengecekan reduksi urin di trimester I yang ada di wilayah kerja puskesmas Kabupaten Bantul sebanyak 136 ibu hamil. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, hasil pengukuran kadar glukosa darah puasa, serta pengisian kuesioner SQ-FFQ. Data akan dianalisis menggunakan uji fisher exact dengan tingkat kemaknaan ? < 0.05 dan uji beda rata-rata (T-test). Dari 136 responden, 3 orang diantaranya (2,2%) termasuk kelompok diabetes melitus gestasional. Hasil uji Fisher exact menunjukkan hubungan asupan magnesium dengan kejadian diabetes melitus gestasional memiliki nilai p-value = 0,097, hubungan asupan seng dengan kejadian diabetes melitus gestasional memiliki nilai p-value = 0,198 (OR=0,193, 95% CI;0,017-2,189), dan hubungan asupan mangan dengan kejadian diabetes melitus gestasional memiliki nilai p-value = 0,207 (OR=0,200, 95% CI;0,018-2,271).
PENGARUH VARIASI CAMPURAN IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP SIFAT FISIK, ORGANOLEPTIK, DAN KADAR ZAT BESI SNACK TINGGI ZAT BESI: The Effect Of Variation Mixture Of Catfish (Pangasius Hypopthalmus) And Moringa Leaves (Moringa Oleifera) On Physical, Organoleptic, And Iron Content Properties of an Iron-Rich Snack Atikah Izzatul Jannah; Tri Siswati; Joko Susilo
Media Gizi Mikro Indonesia Vol. 18 No. 1 (2026): Media Gizi Mikro Indonesia (MGMI)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Anemia is one of the nutritional problems that often occur in adolescents As an effort to prevent anemia, it is necessary to improve eating habits by consuming foods rich in protein and iron, one of which is dimsum.  Objective: This study aims to determine the effect of variations of a mixture of catfish (Pangasius hypopthalmus) and moringa leaves (Moringa oleifera) on the physical, organoleptic, and iron properties of dimsum in the manufacture  of dimsum.  Methods: This study was a laboratory experiment with a Completely Randomized Design (CRD). The ingredients of dimsum are derived from catfish and moringa leaves with a ratio of 100%: 0%, 90%: 10%, 85%: 15%, 80%: 20%. The data collected included physical trait tests, organoleptic tests (hedonic scale tests), and iron content tests using spectrophotometric methods. Results: The results showed that the higher the addition of moringa leaves,  the greener the color of dim sum, the more chewy the texture, and the less savory the taste. Organoleptic tests showed that  C-treated dim sum (85% catfish and 15% moringa leaves) was most preferred in terms of aroma, color, taste, and texture. The highest iron levels were found in dim sum  treatment A (14.25 mg/100 g), while treatment B and C met around 45-47% of the daily iron needs of adolescent girls. Conclusion. The addition of moringa leaves increases the green color, chewiness, and decreases the savory taste of dim sum. Treatment C is the most preferred, while treatment A has the highest iron, and B and C meet 45–47% of the daily needs of adolescent girls. This product has the potential to be developed as a locally-based functional food for the prevention of anemia in adolescent girls ABSTRAK  Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang sering terjadi pada remaja Sebagai upaya pencegahan anemia, diperlukan perbaikan kebiasaan makan dengan mengonsumsi makanan yang kaya protein dan zat besi, salah satunya dimsum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi campuran ikan patin (Pangasius hypopthalmus) dan daun kelor (Moringa oleifera) terhadap sifat fisik, organoleptik, dan kadar zat besi pada pembuatan dimsum. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium dengan rancangan acak sederhana (Completely Randomized Design/CRD). Bahan dimsum berasal dari ikan patin dan daun kelor dengan perbandingan 100% : 0%, 90% : 10%, 85% : 15%, 80% : 20%. Data yang dikumpulkan meliputi uji sifat fisik, uji organoleptik (hedonic scale test), dan uji kadar zat besi menggunakan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan daun kelor, warna dimsum semakin hijau, tekstur semakin kenyal, dan rasa gurih semakin berkurang. Uji organoleptik menunjukkan bahwa dimsum perlakuan C (85% ikan patin dan 15% daun kelor) paling disukai dari segi aroma, warna, rasa, dan tekstur. Kadar zat besi tertinggi terdapat pada dimsum perlakuan A (14,25 mg/100 g), sedangkan perlakuan B dan C memenuhi sekitar 45-47% kebutuhan harian zat besi remaja putri. Penambahan daun kelor meningkatkan warna hijau, kekenyalan, dan menurunkan rasa gurih dimsum. Perlakuan C paling disukai, sedangkan perlakuan A memiliki zat besi tertinggi, dan B serta C memenuhi 45–47% kebutuhan harian remaja putri. Produk ini berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional berbasis lokal untuk pencegahan anemia pada remaja putri.