Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Efektifitas Pemberian Jus Bitsak (Bit dan Sirsak) Terhadap Peningkatan Hemoglobin Remaja Putri dengan Anemia Sumasri, Sumasri; Daramatasia, Wira; Rahmawati, Wenny
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i7.14570

Abstract

ABSTRACT Anemia is a health problem that still has a high incidence rate. Anemia still occurs a lot in adolescent girls because they get menstruation along with imbalanced nutrition, diseases and impaired iron absorption. The serious impact of anemia to adolescents may occur during productive age that leads to giving birth to low birth weight babies and bleeding during childbirth. Therefore, anemia becomes an important concern in prevention and treatment. The effectiveness of giving Bitsak Juice (beetroot and soursop) on increasing hemoglobin to students with anemia at SMP Unggulan AL-YA'LU Malang in 2024. This study used a pre-experimental method with a one group pre-test and post-test design. The number of samples was 30 samples. Sampling technique was purposive sampling with analysis using T- Paired test. It was obtained P- value (0.001) <0.05 means that there is a significant difference in the average Hb pre-test and post-test of the intervention group. The average Hb pre-test of the intervention group was 10,680 while the average Hb post-test of the intervention group was 12,687. This shows that bitsak juice is effective in increasing hemoglobin in students with anemia at AL-YA'LU Superior Junior High School in Malang in 2024. It is expected that giving bitsak juice is not only as anemia treatment therapy, but also as a habit of drinking juice as an alternative to anemia prevention to adolescent girls at middle school age.  Keywords: Beetroot, Soursop, Hemoglobin, Anemia, Adolescent.  ABSTRAK Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih menduduki angka kejadian yang tinggi. Anemia masih banyak terjadi pada remaja putri  karena   remaja putri mengalami menstruasi disertai adanya pola makan yang tidak memenuhi gizi seimbang, penyakit dan gangguan absorbsi zat besi. Dampak anemia yang serius pada remaja ini jika tidak ditangani dapat terjadi  pada saat usia produktif dengan melahirkan berat bayi lahir rendah dan terjadi perdarahan saat melahirkan. Oleh karena itu anemia menjadi perhatian penting dalam pencegahan dan penanganan. Mengetahui efektifitas pemberian jus bitsak (bit dan sirsak) terhadap peningkatan hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMP Unggulan AL-YA’LU Malang tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode quasy eksperimental dengan one group pre-test dan post-test design. Jumlah sampel sebanyak 30 sampel. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan analisis menggunakan uji T-Paired. Diperoleh nilai P-value (0,001) <0,05 bermakna bahwa terdapat perbedaan signifikan rata-rata Hb pretest dan posttest kelompok intervensi. Diperoleh rata-rata Hb pre test kelompok intervensi 10.680 sedangkan rata-rata Hb post test kelompok intervensi sebesar 12,687.  Hal ini menunjukkan jus bitsak efektif meningkatkan hemoglobin pada siswi dengan anemia di SMP Unggulan AL-YA’LU Malang Tahun 2024. Diharapkan pemberian jus bitsak menjadi suatu kebiasaan untuk minum bukan hanya sebagai terapi penanganan anemia saja, namun juga sebagai budaya minum jus sebagai alternatif pencegahan anemia pada remaja putri di usia Sekolah Menengah Pertama. Kata Kunci: Bit, Sirsak, Hemoglobin , Anemia, Remaja
HUBUNGAN PENGUNGKAPAN STATUS DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHIV) DI JOMBANG CARE CENTER (JCC+) KABUPATEN JOMBANG Araujo, Novenia Agustinha de Deus; Daramatasia, Wira; Rahmawati, Wenny
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.33451

Abstract

HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat  menyerang serta menurunkan  sistem kekebalan tubuh manusia. Pengungkapan status HIV melibatkan pengungkapan status seseorang yang positif HIV terhadap pasangan seksualnya, anggota keluarga, atau orang lain di lingkungan sosialnya. Kecemasan yang muncul pada seorang individu merupakan akibat dari adanya ketakutan karena mengidap penyakit kronis yang berujung pada ketidakberfungsian diri individu baik secara fisik maupun psikis.  Tujuan penelitisn ini untuk menganalisis hubungan pengungkapan status dengan tingkat kecemasan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di JCC+ Kabupaten Jombang.  Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling menggunakan pusposive sampling pada 31 dari 125 ODHIV di KDS JCC+ Kabupaten Jombang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Self Disclosure Scale dan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Analisa yang digunakan yaitu uji Somers’D. Hasil penelitian menunjukkan pengungkapan status dalam kategori tidak terbuka sebanyak 20 (64,5%), dan yang terbuka sebanyak 11 (35,5%). Tingkat kecemasan pada penelitian ini dalam kategori cemas sedang sebanyak 18 (58,1%), cemas ringan sebanyak 11 (35,5%), cemas berat sebanyak 1 (6,5%). Pengungkapan status dengan tingkat kecemasan diuji menggunakan uji Somers’D didapatkan nilai (p=0,000) r = -0,736. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengungkapan status dengan tingkat kecemasan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Jombang Care Center (JCC+) Kabupaten Jombang dengan kekuatan hubungan linier  negatif yang kuat dengan nilai (p=0,000) r= -0,736.  
RELATIONSHIP BETWEEN MATERNAL CHARACTERISTICS AND MENARCHE IN SCHOOLGIRLS AGED 10-12 Saingu, Mariana; Soelistyoningsih, Dwi; Rahmawati, Wenny
Siklus : Journal Research Midwifery Politeknik Tegal Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/siklus.v13i01.5992

Abstract

Adolescence is a period of change or transition from childhood to adulthood which includes biological, psychological and social changes. The most important event in a child's puberty is the first menstruation or menarche, which is a biological sign of sexual maturity. Examine the correlation between maternal characteristics and menarche readiness for female students aged 10-12 years. This study used correlational analysis with a cross sectional approach. Data collection technique used a questionnaire which was conducted on 89 respondents with menarche readiness students aged 10-12 years at SDK Santo Yusup III Malang. The statistical test used the contingency coefficient test. The results of this study indicated that there was correlation between maternal characteristics and readiness for menarche for students aged 10-12 years at SDK Santo Yusup III Malang, the mother's age had p value = 0.000 (r = 0.372), the last education of the mother was p value of 0.001 (r = 0.480), and mother's menarche age p = 0.002 (r = 0.453), which means there was a correlation between the two variables. The correlation value in this study indicated that the direction of the correlation was positive with a fairly strong correlation strength.Keyword: Characteristics of Mothers, Readiness for Menarche, 10-12 Years Old Student
“REMBUG GENKU” REMAJA BUGAR GENERASI KUAT DENGAN MENINGKATKAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG TRIAD KRR Yuliyanik; Mayasari, Senditya Indah; Rahmawati, Wenny
Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) Vol. 7 No. 1 (2024): CIASTECH 2024 Potensi dan Dampak Artificial Intelligence (AI) di Era Society 5.
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ciastech.v7i1.6976

Abstract

Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat secara fisik, psikis dan intelektual. Menurut Word Health Organization (WHO) tahun 2014 batasan usia remaja adalah 10 – 19 tahun. Beberapa penelitian mengungkapkan remaja memiliki masalah yang cukup serius selama masa peralihannya. Masa peralihan inilah yang membuat remaja rasa ingin tahunya sangat tinggi. Rasa ingin tahu jika tidak mendapatkan informasi yang benar, maka dapat berisiko pada kehidupan remaja tersebut, salah satunya masalah tentang TRIAD KRR. TRIAD KRR adalah Tiga Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja yaitu Seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA. Tujuan PKM ini adalah untuk menjaga remaja tetap bugar dalam menghadapi masa peralihan dan terhindar dari masalah yang berkaitan dengan TRIAD KRR. Metode yang dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan tentang TRIAD KRR dan dampaknya. PkM ini dilaksanakan pada siswa kelas IX di SMPN 26 Malang. Kesimpulan dari PkM adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap TRIAD KRR dan dampak yang ditimbulkan. Remaja merupakan generasi penerus bangsa, remaja yang sehat akan membuat negara kuat.
Suplementasi Extra Virgin Olive Oil (EVOO) Pada Ibu Hamil Untuk Mencegah Preeklamsia Rahmawati, Wenny; Retnaningrum, Dwi Norma
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.46776

Abstract

In Indonesia, the leading cause of maternal mortality is still preeclampsia. The Indonesian Health Profile of 2023 recorded 412 cases of preeclampsia as the cause of maternal mortality. Until now, the only way to treat preeclampsia is to terminate the pregnancy. Although the cause of preeclampsia is not yet known, its pathophysiology is characterized by placental hypoperfusion and ischemia. Endothelial dysfunction, inflammatory pathways, the renin-angiotensin system (RAS), and oxidative stress are some of the factors that cause preeclampsia. Antioxidants such as extra virgin olive oil (EVOO) can help reduce oxidative stress. By examining blood pressure, urinary protein, platelets, and monocyte levels, this study attempts to determine the effectiveness of EVOO supplementation in preventing preeclampsia in pregnant women. This quasi-experimental study used a pretest and posttest design with a control group. As many as thirty pregnant women participated in this study, which was divided into treatment and control groups. During the week after delivery, the treatment group was given EVOO daily. The effectiveness of EVOO in preventing preeclampsia will be assessed by analyzing monitoring data using the T-Test. The results show that there is a significant difference in platelet levels between the treatment and control groups. EVOO helps prevent preeclampsia by stabilizing the platelet levels of pregnant women.
SIGAP (Sosialisasi dan Informasi Gawat Preeklamsia): Menekan RisikoPreeklamsia Sejak Dini Retnaningrum, Dwi Norma; Rahmawati, Wenny; Yuliyanik, Yuliyanik
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/mqdp0628

Abstract

Preeklampsia menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal, khususnya diIndonesia. Kondisi ini umumnya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai denganpeningkatan tekanan darah dan keberadaan protein dalam urin. Kurangnya pemahaman ibu hamilmengenai gejala dan risiko preeklampsia kerap menyebabkan keterlambatan dalam deteksi danpenanganan, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin. Sebagai bentukkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan ibu hamil, program pengabdian masyarakatbertajuk SIGAP (Sosialisasi dan Informasi Gawat Preeklampsia) dilaksanakan dengan tujuanutama untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap preeklampsia.Program ini mengedepankan pendekatan edukatif melalui kegiatan penyuluhan dan distribusimateri informasi kepada kelompok sasaran, yaitu ibu hamil, keluarga, dan kader kesehatan diwilayah intervensi. Metode pelaksanaan mencakup ceramah interaktif, diskusi kelompok,demonstrasi pemeriksaan tekanan darah secara mandiri, serta pembagian leaflet edukatif. Kegiatanini ditujukan kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk ibu hamil dan menyusui, kaderposyandu, dan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer. Evaluasi program dilakukan melaluipre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat pengetahuan pesertasetelah mengikuti kegiatan. Skor pengetahuan meningkat signifikan dari 30 ± 10 % menjadi85 ± 8 % (p < 0,001). Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan berkomitmen menerapkaninformasi yang diperoleh Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi melaluiprogram SIGAP memiliki potensi yang besar dalam menurunkan risiko preeklampsia dimasyarakat dan turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan ibu hamil di Indonesia.
OVERVIEW OF KNOWLEDGE ABOUT FREE SEX AND EARLY MARRIAGE OF TEENS Rahmawati, Wenny; Retnaningrum, Dwi Norma
Siklus : Journal Research Midwifery Politeknik Tegal Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/siklus.v14i02.7120

Abstract

Data from BKKBN for 2023 shows worrying adolescent sexual behavior in Indonesia. 60% of Indonesian teenagers are involved in sexual relations at the age of 16-17 years. In addition, 20% of teenagers have sex at the age of 19-20 years and 20% even have sex at the age of 14-15 years. This free sexual behavior will trigger an increase in the occurrence of early marriages caused by marriage by accident. Early marriage at the age of less than 19 years will cause various reproductive and psychological health problems in teenagers. This study aims to determine the description of knowledge related to free sex and early marriage in adolescents using a cross-sectional method. As a result, the majority (49.7%) of respondents had poor knowledge about free sex, a small portion (9.2%) had poor knowledge about free sex. Regarding early marriage, the majority (41.6%) of respondents had poor knowledge regarding the concept of early marriage and a small portion (4.3%) had poor knowledge.
PEMBERDAYAAN KADER PKB (PRODUK KUE BAYAM) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KEHAMILAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) Retnaningrum, Dwi Norma
Media Husada Journal Of Community Service Vol. 2 No. 1 (2022): Media Husada Journal of Community Service
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.968 KB)

Abstract

Abstrak Di Indonesia kematian ibu masih didominasi oleh 3 penyebab utama yaitu perdarahan, preeklamsia dan infeksi (Kemenkes RI, 2014). Prevalensi ibu hamil dengan KEK di Indonesia adalah 23,4% (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Sedangkan di kabupaten Malang sebesar 24%. Pada ibu kejadian KEK dapat meningkatkan terjadinya anemia saat kehamilan dan memper besar terjadinya perdarahan saat persalinan dan pasca bersalin. Salah satu penyebab perdarahan post partum adalah masalah gizi pada ibu hamil. Anemia dan kekurangan energi kronik (KEK) merupakan masalah gizi yang terjadi pada ibu hamil. Bayem merah( Alternanthera amoena voss) mengandung vitamin, protein, karbohidrat, lemak, mineral, zat besi, magnesium, mangan, kalium dan kalsium. Vitamin yang terkandung dalam bayam merah adalah vitamin A, C dan E. kandungan vitamin C dan senyawa flavonoid pada bayam merah lebih tinggi dibandingkan dengan bayam hijau. Dibandingkan dengan tanaman lain, kandungan zat besi bayam merah lebih tinggi, sehingga berguna untuk penderita anemia (Rohmatika & Umarianti, 2017). Tujuan dari pengabdian ii adalah untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan KEK, serta memperkenalkan olahan makanan dari bahan bayam merah di Wilayah desa Sukomulyo, Pujon. Metode pengabdian menggunakan metode penyuluhan gizi terhadap ibu hamil dan pelatihan pembuatan makan dari bahan bayam merah yang diikuti oleh 10 orang. Adapun mitra yakni bidan desa, kader dan ibu hamil. Kegiatan ini di bagi dalam 3 tahap yaitu pendekatan dan pendataan, pemaparan, pelatihan pembuatan makanan dengan bahan dasar bayam merah. Sebagian besar ibu hamil dan kader paham dengan pemaparan yang disampaikan. Kesimpulan pengabdian ini Pendidikan dan pelatihan pembuatan kue bayam merah dapat meningkatkan pengetahuan untuk mencegah KEK pada ibu hamil Kata Kunci: Kehamilan, Kekurangan energi kronik, Gizi ibu hamil, bayam merah
Implementation of Family Development Tasks and Severity of ARI in Toddlers Rahmawati, Wenny; Satiti, Ika Arum Dewi
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 13, No 2 (2025): EDITION JULY 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v13i2.7128

Abstract

Acute Respiratory Infection (ARI) refers to an infection targeting the human respiratory passages, predominantly affecting children between the ages of 1 and 5 years. Improperly managed ARI condition can result in worsening nutritional conditions, secondary infections, stunted growth, and development. The family plays an important role in efforts to prevent ARI and its complications. When the family gets better at Providing family health services, the level of ARI that occurs in the family becomes less severe. The current study investigates the link between family health tasks and severity of Acute Respiratory Infections (ARI). An observational approach was utilized in this study with a retrospective design. The activities were conducted during the period June-August 2022 at the Dinoyo Community Health Center, Malang City. Purposive sampling was used resulted in 57 samples experiencing ARI. The instruments for both variables were assessed through questionnaires The hypothesis was tested using a chi-square test. The result show mothers who had poor family development tasks had a severity level of severe ARI of 38.6%; mothers in charge of family development had mild ARI in 15.8% of cases and moderate ARI in an estimated 22.8% of cases. The results obtained from the Chi-Square Test have a p-value = 0.000. This study reveals a significant correlation between family task performance and ARI severity in toddlers. Mothers who demonstrate poor achievement in family developmental tasks are more likely to have children experiencing higher severity of ARI. 
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU TENTANG PEMBERIAN ORALIT DAN ZINC PADA BALITA DIARE DI POSYANDU PERMATA HATI KEDUNGKANDANG KOTA MALANG Danuarti, Ika Setia; Soelistyoningsih, Dwi; Rahmawati, Wenny
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.49176

Abstract

Pendahuluan: Diare penyebab kematian balita sebesar 40% diseluruh dunia setiap tahun. Diare pembunuh utama anak-anak, tahun 2015 sebanyak 9% dari semua kematian anak balita diseluruh dunia. Lebih dari 1.400 anak-anak meninggal setiap hari, dan 526.000 anak per tahun, meskipun ketersediaan pengobatan efektif yang sederhana. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian oralit dan zinc pada balita yang mengalami diare di Posyandu Permata Hati Kedungandang Kota Malang. Metode: Menggunakan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Didapatkan sampel responden, dengan kriteria ibu dengan anak usia 1-5 tahun, mengalami diare dalam 3 bulan terakhir, dam bersedia menjadi responden subjek penelitian, melalui teknik purposive sampling. Instrumen berupa kuesioner pengetahuan dan perilaku. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Data karakteristik responden menunjukkan mayoritas ibu adalah berusia produktif dan berpendidikan menengah, dengan sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 73%. Perilaku ibu dalam pemberian oralit dan zinc juga didominasi oleh kategori cukup 73%. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square, diperoleh nilai p = 0,014 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku ibu tentang pemberian oralit dan zinc pada balita diare. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, maka semakin baik pula perilaku ibu dalam memberikan oralit dan zinc. Simpulan: Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, maka semakin baik perilaku mereka dalam pemberian oralit dan zinc pada balita yang mengalami diare.