Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hypertension Prevention Education Through Training in Making Herbal Teas in Talango Village, Talango District, Sumenep Regency Maharani Pertiwi K; Bastiana Bastiana; Asma Rubiah Rosyadahan; Suprapto Maat; Isdiantoni Isdiantoni; Endry Nugroho Prasetyo
Journal of Health Community Service Vol. 2 No. 2 (2022): Journal of Health Community Service: 2022 Mei
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jhcs.v2i2.2758

Abstract

Talango Village is one of the villages located in Talango District, Sumenep Regency. The people of this village make a living mainly as fishermen and farmers. One of the habits carried out by fishers and farmers in between their activities is smoking. The nicotine in cigarette smoke can increase blood pressure and heart rate, narrow arteries, harden their walls, and make blood more likely to clot. This condition can increase the risk of hypertension or high blood pressure. Based on interviews and surveys with partners Yayasan Jala Tani Pertiwi, education about hypertension prevention needs to be carried out to prevent hypertension in fishers and hypertension in Talango Village. This problem has prompted a service team to design educational activities to prevent hypertension by manufacturing herbal teas. This activity is structured through the first step, namely the preparation stage (compilation of training modules, participant selection, and evaluation media creation), the second stage (the process of implementing activities with pre-/post-test and discussion), and the third stage (evaluating the results of the training). A total of 20 farmers and fishers who are members of the Jala Tani Pertiwi Foundation were given education about hypertension, then continued with training to make anti-hypertensive herbal teas. The evaluation results showed an increase in participants' understanding of the material provided by 34%. Participants are known to have been able to understand and make herbal teas made from Moringa leaves, jasmine flowers, lemongrass leaves, and roselle flowers. Furthermore, to increase the participants' interest in this activity, the service team also taught them how to make tea packaging and how to sell it.
KELAYAKAN DAN RISIKO USAHATANI JERUK KEPROK MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Isdiantoni Isdiantoni
PERFORMANCE: Jurnal Bisnis & Akuntansi Vol 3 No 2 (2013): Performance : Jurnal Bisnis & Akuntansi
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.802 KB)

Abstract

Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan (2009), potensi pengembangan tanaman jeruk keprok Madura di Kabupaten Sumenep, cukup besar yaitu seluas 400 hektar yang tersebar di 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Dasuk, Kecamatan Ambunten dan Kecamatan Pasongsongan. Salah satu faktor yang dapat menenunjang keberhasilan pengembangan komoditas jeruk ini, adalah kelayakan ekonomis (menguntungkan secara finansial).Dipihak lain, petani sebagai pelaku utama kegiatan pengembangan jeruk keprok Madura dan sebagai produsen, harus mengetahui kemungkinan resiko yang akan diterimanya dan besarnya keuntungan dari usaha ini. Pengetahuan terhadap hubungan antara resiko dan keuntungan ini, akan memberikan dasar pertimbangan yang rasional bagi petani dalam mengembangkan komoditas jeruk keprok Madura. Informasi/data pada penelitian ini, diperoleh dari petani jeruk keprok Madura yang bibitnya berasal dari cangkokan dan mulai dibuahkan pada umur 3 (tiga) tahun.Pengukuran kelayakan finansial usahatani jeruk keprok Madura dilakukan dengan melihat kriteria investasi, dan pengukuran terhadap hubungan antara tingkat resiko dengan keuntungan, diukur secara statistik dengan melihat koefisien variasi (coefficient of variation) dan batas bawah keuntungan. Kriteria investasi pada usahatani jeruk keprok Madura menunjukkan nilai NPV sebesar Rp. 118,342,271 (> 0), Net B/C sebesar 1.38 (> 1) dan IRR sebsar 23,7% (> discount rate), sehingga proyek usahatani jeruk keprok Madura dapat dikatakan go! (layak dilaksanakan).Periode yang diperlukan untuk menutup biaya investasi, yaitu 9 tahun 10 bulan (di bawah dari umur ekonomis proyek), sehingga proyek ini layak diusahakan. Selama periode proyek (15 tahun) nilai koefisien variasi (CV) didapatkan 0.588 (CV > 0.5) dan nilai batas bawah keuntungan (L) didapatkan sebesar Rp. (31,204,042) yang menunjukkan L < 0.  Dengan demikian, pengusahatani jeruk keprok Madura harus berani menanggung resiko (kerugian) sebesar  Rp. 31,204,042,- pada setiap proses produksi. Kata kunci: Usahatani Jeruk Keprok Madura, Kelayakan, dan Resiko Finansial
Survey Persepsi dan Mobilitas Pengguna Jasa Penyebrangan di Pelabuhan Gersik Putih - Kalianget di Masa Pandemi Covid 19 dan Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Isdiantoni, Isdiantoni; Yuliastina, Roos; Hidayat, Imam; Isyanto, Isyanto
Jurnal ABDIRAJA Vol 5 No 1 (2022): Jurnal Abdiraja
Publisher : LPPM Universitas Wiraraja Sumenep, Jalan Raya Sumenep Pamekasan KM. 5 Patean Sumenep 69451, Telp. (0328) 673399 Fax. (0328) 673088

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/adr.v5i1.1594

Abstract

Kabupaten Sumenep sebagai salah satu kabupaten di Wilayah Jawatimur masih berstatus zona Merah terkait penyebaran Covid 19. Dalam rangka menekan jumlah penyebaran Covid 19 pada beberapawilayah zona merah di Indonesia, pemerintah menerbitkan kebijakan No 21 Tahun 2020 tentang Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meski aturan ini telah ditetapkan, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari msayarakat di kabupaten Sumenep tetap melakukan kegiatan keluar rumah seperti kegiatan mobilisasi antar pulau ke daratan menggunakan trasportasi umum. Mobilitas yang dimaksud dalam hal ini yaitu mobilitas masyarakat pengguna jasa penyeberangan Gersik putih-Kalianget, Sarana penyebrangan ini masih tetap melakukan aktifitas penyebrangan barang dan orang meskipun di masa pandemi , bahkan tetap melakukan aktivitas kegiatan penyebrangan tanpa menerapkan protokoler kesehatan 5M pagi penumpang kapal tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tertarik untuk melakukan survei terhadap pengguna transportasi penyebrangan Gersik –putih Kalianget dalam mempersepsikan Covid 19 dan pemberlakuan PSBB. Setelah melakukan survei kegiatan pengabdian ini dilanjutkan dengan melakukan sosialisasi ringan terhadap narasumber yang ditemui dan membegikan masker secara gratis.
PKM Penyuluhan Usaha Sayuran Hidroponik Desa Karang Anyar Ekawati, Ida; Wati, Henny Diana; Isdiantoni, Isdiantoni
Jurnal ABDIRAJA Vol 5 No 1 (2022): Jurnal Abdiraja
Publisher : LPPM Universitas Wiraraja Sumenep, Jalan Raya Sumenep Pamekasan KM. 5 Patean Sumenep 69451, Telp. (0328) 673399 Fax. (0328) 673088

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/adr.v5i1.1608

Abstract

Desa Karang Anyar merupakan desa di wilayah pesisir yang padat penduduk, sehingga timbul masalah sempitnya lahan di sekitar rumah. Demikian pula, lahan untuk usaha yang tersedia hanya lahan tambak garam, sehingga usaha di lahan ini menjadi tumpuhan sumber pendapatan penduduk. Sementara hasil usaha garam belum bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Usaha skala kecil unggas juga sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat perlu adanya usaha lain yang tidak memerlukan lahan yang luas. Salah satu usaha yang dapat dilakukan pada lahan terbatas yaitu usaha sayuran hidroponik. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat sasaran dan perubahan sikap terhadap sistem tanam hidroponik dan peluang usaha. Sasaran kegiatan ini adalah para pemuda/pemudi yang lebih paham teknologi dan tergabung dalam organisasi PKK. Kegiatan pengabdian ini dalam bentuk penyuluhan dengan metode ceramah yang dilengkapi dengan alat peraga video hidroponik serta tanya jawab. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa respons peserta penyuluhan sangat positif, bahkan peserta melakukan penyuluhan atau pelatihan lagi terkait pertanian. Tingkat pengetahuan, pemahaman peserta penyuluhan meningkat. Hampir semua peserta memahami teknik budidaya sayuran hidroponik (90%). Semua peserta ingin mencoba sistem tanam hidroponik di rumah masing-masing, namun peserta memilih sistem hidroponik yang lebih sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa respons peserta penyuluhan sangat positif, bahkan peserta melakukan penyuluhan atau pelatihan lagi terkait pertanian. Tingkat pengetahuan, pemahaman peserta penyuluhan meningkat. Hampir semua peserta memahami teknik budidaya sayuran hidroponik (90%). Semua peserta ingin mencoba sistem tanam hidroponik di rumah masing-masing, namun peserta memilih sistem hidroponik yang lebih sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa respons peserta penyuluhan sangat positif, bahkan peserta melakukan penyuluhan atau pelatihan lagi terkait pertanian. Tingkat pengetahuan, pemahaman peserta penyuluhan meningkat. Hampir semua peserta memahami teknik budidaya sayuran hidroponik (90%). Semua peserta ingin mencoba sistem tanam hidroponik di rumah masing-masing, namun peserta memilih sistem hidroponik yang lebih sederhana.
Using Moringa (Moringa oleifera Lamm) in Concentrate Feed to Improve Body Weight, Scrotal Circumference, and Semen Production of Kacang Goat Rokana, Efi; Suyadi, Suyadi; Peasetyo, Endry Nugroho; Isdiantoni, Isdiantoni
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 10, No 1 (2023): JITRO, January
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jitro.v10i1.27235

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the effect of Moringa leaf powder (Moringa oleifera Lamm) on concentrated feedstuff to improve the body weight, scrotal circumference, and semen production of kacang goat. A total of 20 male kacang goats aged 12-18 months with an average body weight of 15.96±1.82 kg have been used in this study. The feedstuff given is elephant grass (Pennisetum purpureum) as basal feed and concentrated feed substituted with Moringa leaf powder in isoprotein feed. This study uses a completely randomized design. The male kacang goats are divided into 4 treatment groups with different dose of Moringa leaf powder substitution in the concentrated feed, namely P0 = 0%, P1 = 10%, P2 = 20%, and P3 = 30%. Each treatment is repeated five times. The data are then analyzed by ANOVA. Analysis of the nutritional content of Moringa leaf powder substituted in concentrate feed includes DM content = 87. 98%; OM = 91.59%; CFb = 8.03%; CP = 27.73%; CF = 4.16%; NFE = 39.92%; ADF = 8.68%; NDF = 9.96%; Tannin = 29.64%; Saponin = 2.37%, GE = 3997.00 cal / g. The results show that substituting Moringa leaf powder in concentrated feed has a significantly different effect (P 0.05) on the amount of feed consumption and semen production. The study concludes that feeding with Moringa leaf powder by 20% as concentrate substitution is given 1% of body weight (based on Dry Matter) can be applied to increase body weight, scrotal circumference, and semen production of male kacang goats. Keywords: kacang goat, Moringa (Moringa oleifera Lamm), scrotal circumference, semen production, substitution.
Determination of Cultivation Method Based On the Quality of Seaweed (Kappaphycus alvarezii) in Sumenep District Wulandari, Siska Ayu; Setyaningsih, Sri; Rohmah, Alissa Nazilatur; Isdiantoni, Isdiantoni
Science Education and Application Journal Vol 5 No 1 (2023): Science Education and Application Journal
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/seaj.v5i1.678

Abstract

The planting method greatly affects the growth and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii seaweed. In addition, the planting method will also affect the physico-chemical conditions of the waters which are closely related to the growth of K. alvarezii. This study aims to determine the appropriate method of seaweed cultivation so that it can be used as a reference for K. alvarezii farmers to pay more attention to appropriate and appropriate cultivation methods in cultivating K. alvarezii so as to improve the quality of seaweed. This study begins with observations at the sampling location, taking water samples and samples of K. alvarezii seaweed. The research data was processed using SPSS (Statistical Product and Service Solution) version 16.0 software with analysis of variance (One Way ANOVA) to obtain parameters that affect the quality of seaweed so that the appropriate planting method can be determined. The results obtained from this study, the appropriate method for planting K. alvarezii in Palasa using a floating raft, in Lobuk and Padike using the bottom method, while in Tonduk using the long line method.
Alteration of the Rhizosphere Bacteria Community Respond Differently to Plant Growth Promoting Rhizobacteria in Peanut Soil’s Poteran Island Ekawati, Ida; Wati, Henny Diana; Koentjoro, Maharani Pertiwi; Sudarwati, Herni; Isdiantoni, Isdiantoni; Prasetyo, Endry Nugroho
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 46, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v46i3.3947

Abstract

Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) has been detailed to affect soil microbial exercises or community composition. There is a lack of information on the degree to which PGPR as a biofertilizer concurrently influences the action, estimate, and composition of the soil microbial community. This research investigated the impacts of the timing and frequency of PGPR application as biofertilizers on the rhizosphere bacteria community in arable soil. We compared four treatments in an experimental field site, namely: one-time treatment of PGPR at the beginning of planting (P1), twice treatment of PGPR (P2), 15-days of planting (DP), and 30-DP (P3); and without treatment of PGPR (WP). A total rhizosphere bacteria community fingerprint was surveyed using ribosomal intergenic spacer analysis (RISA) using a culture-dependent and culture-independent approach. The rhizosphere bacteria community was surveyed during 80 DP. The unweighted pair-group method with arithmetic mean (UPGMA) clustering showed that the rhizosphere bacteria community in three-frequency applications of PGPR was more abundant than without PGPR application and one or two PGPR applications. This study revealed that the rhizosphere bacteria community was increased in soil with PGPR application, especially in P3, three dosages of PGPR application. Increasing the rhizosphere bacteria community could strongly influence the clay foam soil nutrient.
Pendampingan Peningkatan Produksi dan Pemasaran Produk Ikan Krispi Khas Desa Lobuk Kabupaten Sumenep Anekawati, Anik; Isdiantoni, Isdiantoni; Anugerah, Ahmed David; Chayadi, Mokhamad Nur; Koenhardono, Eddy Setyo; Hadiwidodo, Yoyok Setyo; Subchan, Subchan
Jurnal ABDIRAJA Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Abdiraja
Publisher : LPPM Universitas Wiraraja Sumenep, Jalan Raya Sumenep Pamekasan KM. 5 Patean Sumenep 69451, Telp. (0328) 673399 Fax. (0328) 673088

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/adr.v8i1.3950

Abstract

Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, merupakan desa mandiri dengan potensi besar di sektor perikanan dan pariwisata. Namun, desa ini menghadapi tantangan seperti keterbatasan pengolahan hasil tangkapan nelayan, kualitas produk tidak konsisten, desain packiging kurang menarik, dan pengelolaan destinasi wisata yang kurang optimal. Dua mitra utama yang dilibatkan adalah BUMDes Pelangi Nusantara dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi ikan krispi, memperluas pemasaran produk lokal melalui digitalisasi, meningkatkan manajemen mitra berbasis masyarakat. Metode kegiatan ini adalah pendampingan dan pelatihan pengolahan ikan krispi khas Lobuk, pembuatan desain kemasan, workshop manajemen usaha, pencatatan keuangan, serta promosi digital. Hasil kegiatan yaitu dari aspek produksi diperoleh peningkatan keterampilan pemilihan ikan sebesar 80%, pengeringan ikan 90%, proses penggorengan 75%, proses penirisan 90%, dan packaging 85%; dari aspek pemasaran telah terbentuk platform informasi kegiatan Pokdarwis dan Bumdes serta pemasaran produk mitra secara digital melalui website; dari aspek manajemen terjadi peningkatan minat usaha peserta 85,89% dan pengetahuan kewirausahaan 47,99% dari sebelum kegiatan, peningkatan keterampilan pencatatan keuangan sederhana menggunakan aplikasi “kasir minipro” sebesar 100%, dan tercipta kemasan dengan standar persyaratan untuk pemasaran di pasar modern, memiliki nilai estetika, dan dengan desaian yang dikehendaki mitra.
Resource Support Strategy dalam Pengelolaan Destinasi Wisata Kelor Berbasis Edukasi Rahman, Sindi Arista; Arifin, Syamsul; Isdiantoni, Isdiantoni; Santosa, Ribut; Rasaili, Wilda
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 10, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v10i2.13976

Abstract

Poteran Village is the island with the largest moringa producer in Sumenep Regency. The results of the Moringa plant are then processed into various food products such as Moringa noodles, Moringa tea, Moringa flour and Moringa capsules. Based on this potential, it is important to develop it into a tourist destination based on educational tourism with an empowerment management strategy. As is known, Moringa tourism studies have not received much attention from academics. Therefore, research was conducted to find out how Moringa can be managed as a culinary tourism attraction based on educational tourism using resource strategies. The research uses a qualitative method with focus group discussion as a data collection method. The results of this research show 1) readiness of facilities as the responsibility of stakeholders, 2) Optimization of human resource empowerment related to community empowerment as the main actor, 3) Utilization of financial resources as the main driver in launching the Moringa educational tourism development program, 4) institutional strategy is a strategy that used in order to seek the role of institutions in developing education-based Moringa tourism destinations.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAUAN MASYARAKAT DALAM MENGELOLA PEKARANGAN DI KABUPATEN SUMENEP Isdiantoni, Isdiantoni
Jurnal Karaton Vol 1 No 2 (2022): Karaton: Jurnal Pembangunan Sumenep
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekarangan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menanam sayur dan buah, didukung oleh program pemerintah P2L (program Pekarangan Pangan Lestari) pada Tahun 2020. Permasalahan yang muncul di Kabupaten Sumenep adalah kesadaran masyarakat untuk memanfaatan pekarangan sebagai penyedia bahan pangan belum optimal. Maka yang perlu dilakukan ada dua hal yaitu, pertama: mengetahui indeks kepentingan dan indeks hambatan, kedua: melakukan pemetaan menggunakan metode Importance Performance Analysis. Metode yang digunakan simple random sampling (sampling error 0,05), diperoleh jumlah sampel sebanyak 70 orang. Hasil menunjukkan indeks kepentingan tertinggi terjadi pada indikator kesuburan lahan dan terendah diperoleh oleh indikator pendidikan. Hambatan tertinggi pada indikator aksesibilitas/kemudahan terhadap saprodi, serta terkecil pada indikator pengetahuan teknologi pengelolaan lapang produksi dan lingkungan. Sedangkan Faktor yang dipersepsikan penting tetapi menjadi penghambat utama oleh pengelola pekarangan yaitu: (1). Kebutuhan pengetahuan perencanaan penanaman; (2). Kebutuhan pengetahuan memilih jenis tanaman; (3). Kebutuhan pengetahuan manfaat pekarangan; (4). Kebutuhan terhadap aksesibilitas saprodi; (5). Ketersediaan air; (6). Kesuburan lahan; dan (7). Dukungan kelembagaan (pelatihan dan fasilitasi)