Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KELAYAKAN DAN RISIKO USAHATANI JERUK KEPROK MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Isdiantoni, Isdiantoni
Performance Vol 3, No 2 (2013): Performance
Publisher : Fakultas Ekonomi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan (2009), potensi pengembangan tanaman jeruk keprok Madura di Kabupaten Sumenep, cukup besar yaitu seluas 400 hektar yang tersebar di 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Dasuk, Kecamatan Ambunten dan Kecamatan Pasongsongan. Salah satu faktor yang dapat menenunjang keberhasilan pengembangan komoditas jeruk ini, adalah kelayakan ekonomis (menguntungkan secara finansial).Dipihak lain, petani sebagai pelaku utama kegiatan pengembangan jeruk keprok Madura dan sebagai produsen, harus mengetahui kemungkinan resiko yang akan diterimanya dan besarnya keuntungan dari usaha ini. Pengetahuan terhadap hubungan antara resiko dan keuntungan ini, akan memberikan dasar pertimbangan yang rasional bagi petani dalam mengembangkan komoditas jeruk keprok Madura. Informasi/data pada penelitian ini, diperoleh dari petani jeruk keprok Madura yang bibitnya berasal dari cangkokan dan mulai dibuahkan pada umur 3 (tiga) tahun.Pengukuran kelayakan finansial usahatani jeruk keprok Madura dilakukan dengan melihat kriteria investasi, dan pengukuran terhadap hubungan antara tingkat resiko dengan keuntungan, diukur secara statistik dengan melihat koefisien variasi (coefficient of variation) dan batas bawah keuntungan. Kriteria investasi pada usahatani jeruk keprok Madura menunjukkan nilai NPV sebesar Rp. 118,342,271 (> 0), Net B/C sebesar 1.38 (> 1) dan IRR sebsar 23,7% (> discount rate), sehingga proyek usahatani jeruk keprok Madura dapat dikatakan go! (layak dilaksanakan).Periode yang diperlukan untuk menutup biaya investasi, yaitu 9 tahun 10 bulan (di bawah dari umur ekonomis proyek), sehingga proyek ini layak diusahakan. Selama periode proyek (15 tahun) nilai koefisien variasi (CV) didapatkan 0.588 (CV > 0.5) dan nilai batas bawah keuntungan (L) didapatkan sebesar Rp. (31,204,042) yang menunjukkan L < 0.  Dengan demikian, pengusahatani jeruk keprok Madura harus berani menanggung resiko (kerugian) sebesar  Rp. 31,204,042,- pada setiap proses produksi. Kata kunci: Usahatani Jeruk Keprok Madura, Kelayakan, dan Resiko Finansial
DISEMINASI CARA HIDUP SEHAT DAN SANITASI DI KAWASAN PESISIR PULAUAN KECIL POTERAN, SUMENEP MADURA Koentjoro, Maharani Pertiwi; Masruroh, Inayatul; Isdiantoni, Isdiantoni; Prasetyo, Endry Nugroho
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 5, No 3 (2021): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.837 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v5i3.4682

Abstract

Abstrak: Kesehatan menjadi salah satu faktor penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Di Pulau Poteran, akses pelayanan kesehatan terhalang dengan keadaan geografis dan keadaan cuaca. Kondisi ini mengakibatkan kurangnya perhatian masalah kesehatan dan kondisi sanitasi lingkungan masyarakat pesisir. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah diseminasi cara hidup sehat dan sanitasi kepada masyarakat di kawasan pesisir pulau Poteran, agar masyarakat (1) termotivasi untuk menjaga kebersihan lingkungan; (2) melakukan pencegahan dan penanganan secara dini terhadap penyakit; (3) mendorong peran serta, penguatan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk berperan aktif dalam menangani sanitasi lingkungan. Metode yang dilaksanakan pada kegiatan ini adalah penyuluhan melalui media poster pendidikan sanitasi lingkungan berbahasa Madura yang tinggal di pulau kecil di pulau Poteran. Mitra kegiatan ini adalah Yayasan Jala Tani Pertiwi. Hasil evaluasi yang dilakukan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah sosialisasi menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman cara hidup sehat dan sanitasi sebesar 42%. Peningkatan pemahaman ini diharapkan mampu mengubah pola pikir dan perilaku hidup sehat masyarakat. Abstract:  Health is one of the determining factors for the quality of Human Resources (HR). In Poteran Island, access to health services is hindered by geography and weather conditions. This condition results in a lack of attention to health problems and environmental sanitation conditions in coastal communities. The purpose of this community service is the dissemination of healthy living and sanitation methods to communities in the coastal area of Poteran Island, so that people are (1) motivated to maintain a clean environment; (2) early prevention and treatment of disease; (3) encouraging participation, strengthening public awareness and concern to play an active role in dealing with environmental sanitation. The method used in this activity is to provide counseling and distribution of environmental sanitation education posters in Madurese language living on a small island on Poteran Island. The partner of this activity is the Jala Tani Pertiwi Foundation. The results of evaluations conducted using a questionnaire before and after the socialization showed an increase in understanding of healthy living and sanitation methods by 42%. This increase in understanding is expected to be able to change the mindset and behavior of healthy living in society.
Kelayakan Ekonomi Teknologi Petani Pada Usahatani Bawang Merah Varietas Sumenep (Studi Kasus di Desa Rajun Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep) Isdiantoni Isdiantoni
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 9 No 1 (2012): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.664 KB) | DOI: 10.24929/fp.v9i1.124

Abstract

Gambaran kemampuan petani dalam mengalokasikan sumberdayanya dapat dilihat dari kedudukan ekonomi usahatani tersebut dan besarnya nilai manfaat yang diperoleh. Penelitian ini dilakukan di Desa Rajun Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang dipilih secara sengaja (purposive), karena merupakan salah satu sentra uasahatani bawang merah dengan jumlah petani terbanyak (75 petani). Sampel pada penelilitian ini diambil secara acak berstrata secara proporsional (proportionate stratified random sampling), dengan pertimbangan, luas areal penanaman bawang merah pada masing-masing responden, yang dibagi ke dalam 3 strata. Dari strata 1 dengan luas tanah garapan sempit (< 0,250 ha) diambil sebanyak 27 responden, strata 2 dengan luas tanah garapan sedang (≥ 0, 250 ha s/d ≤ 0,375 ha) dambil sebanyak 28 responden, dan strata dengan luas tanah garapan luas (> 0,375 ha) diambil sebanyak 10 responden. Untuk melihat kedudukan ekonomi usahatani bawang merah digunakan analisa nisbah antara penerimaan dengan biaya (R/C rasio) dan untuk menilai besarnya manfaat dari penerapan teknologi yang dilakukan oleh petani menggunakan analisis B/C. Hasil penelitian menunjukkan nilai R/C = 1,5 yang memberikan gambaran usahatani bawang merah memberikan keuntungan, yaitu sebesar Rp. 17,853,644.10 per hektar. Namun demikian, karena analisanya menggunakan biaya riil, sehingga ada biaya usahatani yang tidak diperhitungkan (seperti sewa lahan, tenaga kerja dalam keluarga dan pajak), maka dapat dikatakan keuntungan usaha tersebut masih rendah. Penggunaan paket tekologi yang diterapkan petani tidak mampu memberikan manfaat atau penambahan biaya dari setiap rupiah penerapan paket teknologi petani tidak mampu memberikan tambahan penerimaan sebesar penambahan biaya tersebut, karena nilai B/C < 1, yaitu hanya mencapai 0,49. Kata kunci : keuntungan, efisiensi, nilai manfaat
IDENTIFIKASI RESPON PERTUMBUHAN GENOTIPE Moringa Oleifera (L) DALAM MENINGKATKAN KOMPONEN HASILPRODUKSI Isdiantoni Isdiantoni; Henny Diana Wati
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 14 No 1 (2017): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.21 KB) | DOI: 10.24929/fp.v14i1.412

Abstract

Tanaman kelor (Moringa Oleifera(L) tumbuh baik di pekarangan tanpaadanya teknik budidaya. Saat ini penelitian tentang MoringaOleifera(L) lebihbanyak di bidang farmakologinya saja, oleh karena itu perlu adanya penelitian dibidang teknik budidaya yang tepat. Teknik budidaya dengan pemangkasan yangtepat diharapkan mampu menghasilkan produksi yang lebih baik. Penelitian inimencoba mengidentifikasi pengaruh pemangkasan terhadap respon pertumbuhantanaman kelor (Moringa Oleifera(L)) dalam meningkatkan komponen hasilproduksi lebih baik atau tidak jika diberikan perlakuan pemangkasan.Hasilpengamatan pada umur 90 HST terlihat bahwa semua parameter yang diujikanterhadap komponen pertumbuhan dan produksi biomas genotipe MoringaOleifera (L) berpengaruh sangat nyata terhadap perlakuan pemangkasan.Perlakuan teknik pemangkasan dengan ketinggian 120 cm dari atas permukaantanah menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman Moringa oleifera (L)tertinggi. Berdasarkan data hasil pengamatan respon pertumbuhan genotipeMoringa Oleifera (L) dalam meningkatkan komponen hasil produksimengindikasikan bahwa dengan perlakuan pemangkasan 120 cm dari permukaantanah yang berpengaruh sangat nyata. Oleh karena itu untuk teknik pemangkasantanaman Moringa Oleifera (L) perlakuan pemangkasan 120 cm yang dapatmeningkatkan komponen hasil produksi.
PROSPEK EKONOMIS TEKNIK BUDIDAYA PADI ORGANIK Isdiantoni Isdiantoni; Ika Fatmawati; Purwati Ratna W
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 4 No 1 (2007): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.372 KB) | DOI: 10.24929/fp.v4i1.531

Abstract

Pemilihan dan teknik budidaya memegang peranan penting dalam keberhasilan usaha produksi pertanian. Namun demikiaan dalam pemilihan suatu teknik budidaya petani seharusnya selalu mempertimbangkan berapa resiko yang harus ditanggungnya dibandingkan dengan keuntungan yang akan diperolehnya. Hubungan antara resiko dan keuntungan ini dapat diukur dengan menghitung Koefisien Variasi (CV) dan batas bawah kentungan (L). Koefisien Variasi dapat memberikan informasi berapa besarnya resiko yang harus ditanggung petani dengan jumlah keuntungan yang akan diperoleh. Sementara batas bawah keuntungan menunjukkan nilai nominal keuntungan atau kerugian minimum atau terendah. Dari kedua teknik budidaya padi tersebut, baik secara organik maupun non-organik sama-sama memberi kemungkinan bagi petani untuk terhindar dari kerugian, akan tetapi keuntungan yang di peroleh teknik budidaya padi organik lebih besar dibandingkan dengan teknik budidaya padi secara non-organik. Hal ini ditunjukkan dengan lebih kecilnya nilai batas bawah keuntungan (L) dari teknik budidaya padi non-organik dibanding dengan teknik budidaya padi secara organik. Namun demikian meskipun keuntungan teknik budidaya padi secara organik lebih besar dibandingkan dengan keuntungan dari teknik budidaya padi secara konvensional, akan tetapi fluktuasi nilai resikonya lebih besar dalam arti nilai koefisien variasi (CV) teknik budidaya padi organik lebih besar dibandingkan dengan nilai koefisien variasi (CV) teknik budidaya padi non-organik.
POTENSI EKONOMIS PENGGEMUKAN SAPI MADURA DENGAN PEMBERIAN SUPLEMEN PAKAN MULTINUTRIEN Ika Fatmawati; Awiyanto Awiyanto; Isdiantoni Isdiantoni; Arfinsyah Hafid Anwari
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 6 No 1 (2009): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.114 KB) | DOI: 10.24929/fp.v6i1.543

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah pemberian SPM terhadap Sapi Madura mampu meningkatkan pertambahan berat badan maksimal dan potensi ekonomis (besarnya peningkatan pendapatan) terhadap usaha penggemukan Sapi Madura dengan pemberian SPM. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji beda rata-rata (perbandingan) dan analisis anggaran parsial (anggaran keuntungan parsial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berkualitas (dengan penambahan SPM) mampu meningkatkan pertambahan berat badan Sapi Madura yang digemukkan dan memberikan keuntungan atau peningkatan pendapatan peternak. Pertambahan berat badan belum tentu memberikan keuntungan yang maksimal terhadap usaha penggemukan Sapi Madura, karena ada beberapa faktor lain yang menjadi pembentuk harga Sapi Madura.
KAJIAN PENGEMBALIAN KREDIT PENGUATAN MODAL DI KABUPATEN SUMENEP Isdiantoni Isdiantoni
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 6 No 1 (2009): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.774 KB) | DOI: 10.24929/fp.v6i1.545

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis faktor-faktor yang mendasari keputusan petani meminjam kredit, (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani, (3) Menganalisis tingkat efisiensi usahatani, dan (4) Menganalisis tingkat pengembalian kredit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dengan menggunakan alat analisis faktor (Exploratory Factor Analysis), analisis regresi berganda, analisis R/C (Return Cost Ratio), dan analisis regresi logistik. Hasil analisis faktor menunjukkan, bahwa alasan utama petani mengambil kredit penguatan modal yaitu; (1) Faktor internal petani; (2) Faktor fasilitas kredit; serta (3) Faktor persyaratan kredit. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani dari petani peminjam kredit penguatan modal adalah (a) Produksi usahatani, (b) Biaya sarana produksi, (c) Biaya tenaga kerja, dan (d) Biaya input lainnya. Efisiensi usahatani padi di Kabupaten Sumenep telah mencapai tingkat yang efisien. Petani yang melunasi kredit penguatan modal mempunyai tingkat efisiensi lebih tinggi (R/C = 1,60) daripada petani yang belum melunasi kredit penguatan modalnya (R/C = 1,54), sehingga lebih mempunyai kemampuan dalam mengembalikan (melunasi) kredit penguatan modalnya. Tingkat pengembalian kredit penguatan modal di Kabupaten Sumenep dari Tahun 2003 sampai Tahun 2006 cenderung menurun (jumlah tunggakannya semakin meningkat). Dan faktor-faktor yang mempengaruhi peluang pengembalian kredit penguatan modal yaitu; (a) Pendapatan usahatani; (b) Kelas kelompok tani; dan (c) Penerapan paket teknologi budidaya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI PETANI MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK PADA BUDIDAYA PADI DI KABUPATEN SUMENEP Ida Ekawati; Isdiantoni Isdiantoni; Zasli Purwanto
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 8 No 1 (2011): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.84 KB) | DOI: 10.24929/fp.v8i1.562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mendasari keputusan petani dalam menggunakan bahan organik pada budidaya padi di Kabupaten Sumenep. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis faktor yang melibatkan 12 variabel. Pengukuran semua variabel menggunakan skala linkert dalam bentuk pernyataan yang bersifat positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan petani padi di Kabupaten Sumenep dalam menggunakan pupuk organik didasarkan pada: (1) faktor tepat guna, yang dibentuk oleh variabel ketersediaan bahan baku, biaya pembuatan murah, dan aplikatif; (2) faktor kesederhanaan, yang dibentuk oleh variabel informasi tentang pupuk organik mudah didapatkan dan kesederhanaan pembuatan pupuk organik; (3) faktor keunggulan, yang dibentuk oleh variabel kelebihan pupuk organik dan variabel manfaat penggunaan pupuk organik; serta (4) faktor keberhasilan, yang dibentuk oleh variabel peningkatan kesuburan lahan dan variabel kebiasaan/tradisi pemanfaatan bahan organik.
PENGARUH MASA SIMPAN DAN JENIS PENGIKAT GRAFTING TERHADAP KEBERHASILAN GRAFTING SIRSAK (Annona muricata) VARIETAS RATU Tri Wahyu Hidayat; Ali Mustafa Sidauruk; Rico Hutama Sulistiyo; Buana Susilo; Lengga Nurullah Dalimartha; Eko Chandra Wiguna; Isdiantoni Isdiantoni; Maharani Pertiwi Koentjoro; Endry Nugroho Prasetyo
Biogenesis Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.916 KB) | DOI: 10.31258/biogenesis.14.2.7-12

Abstract

ABSTRACTIn nursery technology, the storage of scions always requires approriate optimization of shelf life and good packing This study aims to determine the effect of shelf life and storage materials on viability of soursop (Annona muricata) var. Ratu grafting by applying randomized factorial design with 2 factors: storage time and type of packing materials, with 3 times repeatation. The duration of storage time factor consist of 5 levels: 0 day, 3 days, 5 days, 1 week and 2 weeks meanwhile packing materials factor consist of 2 levels: parafilm and polyethylene. The highest survival rate was obtained at 0 day shelf life time and parafilm as storage material, whereas the lowest one was shown at 2 weeks storage with polyethylene as storage material.Keywords: Scion, Grafting, Storage, Packing Material, Soursop
Hypertension Prevention Education Through Training in Making Herbal Teas in Talango Village, Talango District, Sumenep Regency Maharani Pertiwi K; Bastiana Bastiana; Asma Rubiah Rosyadahan; Suprapto Maat; Isdiantoni Isdiantoni; Endry Nugroho Prasetyo
Journal of Health Community Service Vol. 2 No. 2 (2022): Journal of Health Community Service: 2022 Mei
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jhcs.v2i2.2758

Abstract

Talango Village is one of the villages located in Talango District, Sumenep Regency. The people of this village make a living mainly as fishermen and farmers. One of the habits carried out by fishers and farmers in between their activities is smoking. The nicotine in cigarette smoke can increase blood pressure and heart rate, narrow arteries, harden their walls, and make blood more likely to clot. This condition can increase the risk of hypertension or high blood pressure. Based on interviews and surveys with partners Yayasan Jala Tani Pertiwi, education about hypertension prevention needs to be carried out to prevent hypertension in fishers and hypertension in Talango Village. This problem has prompted a service team to design educational activities to prevent hypertension by manufacturing herbal teas. This activity is structured through the first step, namely the preparation stage (compilation of training modules, participant selection, and evaluation media creation), the second stage (the process of implementing activities with pre-/post-test and discussion), and the third stage (evaluating the results of the training). A total of 20 farmers and fishers who are members of the Jala Tani Pertiwi Foundation were given education about hypertension, then continued with training to make anti-hypertensive herbal teas. The evaluation results showed an increase in participants' understanding of the material provided by 34%. Participants are known to have been able to understand and make herbal teas made from Moringa leaves, jasmine flowers, lemongrass leaves, and roselle flowers. Furthermore, to increase the participants' interest in this activity, the service team also taught them how to make tea packaging and how to sell it.