Claim Missing Document
Check
Articles

Dialektika Agama: Harmoni dalam Jemaat Ahmadiyah (Resepsi Jemaat Ahmadiyah Indonesia Manislor Kuningan Jawa Barat terhadap Ayat-Ayat Jihad dan Perdamaian) 'aini, Adrika Fithrotul; Mustaqim, Abdul
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.007 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1768

Abstract

Intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan kerap terjadi di mana-mana di bumi Nusantara ini, sebagaimana sikap kekerasan yang terjadi di kelompok Ahmadiyah Manislor Kuningan beberapa tahun lalu. Kejadian yang seperti ini perlu adanya suatu konfirmasi penafsiran mengenai ayat al-Qur’an yang mengacu pada signifikansi nilai-nilai perdamaian yang harus dijunjung antar sesama. Al-Qur’an juga membincangkan mengenai perdamaian (rekonsiliasi). Reinterpretasi tersebut berguna untuk penghapusan penindasan, penegakkan kebebasan beragama, dan perdamaian. Adapun tulisan ini mengambil dua pokok permasalahan, yakni nilai-nilai perdamaian apa saja yang ada dalam jemaat Ahmadiyah?, kemudian bagaimana pemahaman Jema’at Ahmadiyah Manislor Kuningan terhadap ayat-ayat tentang perdamaian yang diresepsi sehingga membentuk suatu konsep yang menjadi tameng terhadap terjadinya kekerasan selanjutnya. Dari beberapa telaah pustaka yang penulis lakukan, belum ada penelitian yang membahas mengenai dialektika agama dalam Jemaat Ahmadiyah yang difokuskan pada studi resepsi. Hasil ini penelitian ini menunjukkan bahwa Jema’at Ahmadiyah Manislor dalam memahami ayat al-Qur’an tentang Jihad dengan pendekatan resepsi, di mana ayat jihad tersebut tidak hanya diartikan dan diaplikasikan begitu saja, akan tetapi dilihat dari sisi historis dan konteks masa sekarang yang secara tidak sadar melibatkan horison (pre understanding) mereka. Oleh karena itu, ayat tersebut dengan sendirinya sebenarnya dapat menjadi solusi dari perselisihan yang terjadi dalam Jema’at Ahmadiyah Manislor Kuningan.
Etik PEmanfaatan Keanekaragaman Hayati Dalam PErsPEKtif al-Qur’an Mustaqim, Abdul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.930

Abstract

Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur’an. Keanekaragamanhayati adalah segala macam bentuk ciptan Allah swt di muka bumiini, baik yang terdiri dari alam binatang maupun alam tumbuhan.Dalam perspektif al-Qur’an keanekaragaman tersebut merupakananugrah sang pencipta yang merupakan tanda-tanda kekuasaannya.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perspektif alQur’an dalam melihat pemanfaatan keanekaragaman hayati yangdimaksud tersebut, dengan menggunakan pendekatan kontenanalisis penulis berusaha untuk membongkar sisi-sisi yang belumterungkap dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan keragamanciptaan Allah. Hasilnya adalah terungkapnya tujuan Allahmenciptakan makhluknya yang beragam tersebut sesungguhnyaadalah diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkandalam kehidupan. Hal itu membutuhkan etika manusia agarkelangsungan kehidupan ala mini tetap seimbang dan tidakmerusak keberlanjutan ekologi.
Hāfizūn and Yaktumūn: Ethical Foundations for the Preservation of and Access to Cultural Heritage in GLAM Institutions Vita Amelia; Abdul Mustaqim
AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/alquds.v10i1.15728

Abstract

GLAM institutions (Galleries, Libraries, Archives, and Museums) face an ethical tension between preserving cultural heritage and providing public access to it. Strict preservation practices may produce restrictive access regimes, while uncontrolled access risks damaging collections. This study aims to formulate an ethical framework to address this tension, constructed from QS. Al-Hijr [15]:9 and QS. Al-Baqarah [2]:159 through interpretation. Using Qualitative library research and thematic interpretation, this article analyzes two key concepts: the custodial mission (Hāfizūn) in QS. Al-Hijr: 9 and the prohibition of concealing knowledge (Yaktumūn) in QS. Al-Baqarah: 159. The analysis shows that QS. Al-Hijr [15]:9 legitimizes preservation ethics, while QS. Al-Baqarah [2]:159 grounds ana ethnics accessibility. The synthesis yields an ethical model that integrates authenticity, integrity, equity, transparency, and controlled access as its core elements. The study offers theological-ethical guidance for GLAM policy and enriches Islamic information ethics, complementing existing secular approaches (Floridi’s information ethics, IFLA/ICA/UNESCO codes) with a theologically grounded perspective relevant to Muslim-majority contexts and to global discourse alike.
Preserving Sanad in the Digital Age: A Case Study of Virtual Talaqqī for Qirā'āt al-Qurʾān at Markaz Qiroat Indonesia Minan, Muhammad Aufal; Mustaqim, Abdul
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 23 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/v23i1.12798

Abstract

Purpose – This study aims to examine innovations in fully online qirā’āt learning at Markaz Qiroat Indonesia (MQI) and to analyze the quality and authenticity of sanad transmission within digital-based qirā’āt instruction. Design/methodology/approach  – This study employed a qualitative research method using a case-study approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation to examine learning practices, pedagogical processes, and the transmission of sanad in online qirā’āt learning at MQI; the authenticity of the sanad was verified through expert validation involving certified muqriʾ and sanad holders, including the examination of ijāzah chains, the continuity (ittiṣāl) of transmission, and the fulfillment of tashḥīḥ requirements in virtual talaqqī, while data triangulation was employed to enhance the credibility and validity of the findings. Findings – The findings indicate that online qirā’āt learning at MQI, implemented through a virtual talaqqī method, has the potential to maintain the quality of recitation and support the continuity of sanad, as evidenced by expert validation, the assessment of transmission continuity (ittiṣāl), and the application of tashḥīḥ criteria in virtual learning sessions. The use of the talwīn Manẓūmah Syāṭibiyyah method, compiled by Ihsan Ufiq, is found to effectively support participants’ understanding of the Matan Syāṭibiyyah as the core text of qirā’āt al-sab‘. Additionally, the online format provides flexible access for participants from diverse geographical backgrounds, although challenges remain in the form of limited affective interaction due to participants’ time constraints. Research implications/limitations – This study implies that well-structured digital learning, supported by a comprehensive curriculum, a humanistic pedagogical approach, and a rigorous evaluation system, can overcome affective and interactional limitations in online religious instruction. However, as a single case study, the findings are limited in generalizability and may not fully represent other qirā’āt institutions or learning contexts. Originality/value – This study contributes original insights into the integration of digital technology with traditional qirā’āt pedagogy.