Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pemanfaatan Tumbuhan Famili Zingiberaceae oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Wisata Pantai Rancabuaya Kecamatan Caringin Kabupaten Garut Asep Zainal Mutaqin; Mohamad Nurzaman; Tia Setiawati; Ruly Budiono; Ela Noviani
Sains dan Matematika Vol. 5 No. 2 (2017): April, Sains & Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman suku bangsa dan budaya, termasuk pengetahuan tradisional di dalamnya. Salah satu pengetahuan yang ada di masyarakat adalah pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mendokumentasikan pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan famili Zingiberaceae oleh masyarakat desa di kawasan Wisata Pantai Rancabuaya Kecamatan Caringin Kabupaten Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif bersifat deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara semistruktur terhadap informan kunci. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling. Hasil wawancara menunjukan bahwa terdapat 12 jenis tumbuhan famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan masyarakat, yaitu laja bodas (Alpinia galanga (L.) Willd.), laja beureum (Alpinia purpurata K. Schum.), kapolaga (Amomum cardamomum Maton), koneng temen (Curcuma domestica Val.), koneng gede (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), cikur (Kaempferia galanga Linn.), jahe gajah (Zingiber officinale var. Roscoe), jahe emprit (Zingiber officinale var. Amarum), jahe beureum (Zingiber officinale var. Rubrum), koneng bodas (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc.), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.), dan panglay (Zingiber cassumunar Roxb.). Berdasarkan genusnya, masyarakat memanfaatkan Alpinia, Amomum, dan Kaempferia sebagai bumbu masak dan obat; Curcuma sebagai bumbu masak, bahan jamu, dan obat; serta Zingiber sebagai obat, bumbu masak, bahan minuman, dan ritual adat. Tumbuhan-tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan liar dan hasil budidaya yang diperoleh dari pekarangan, kebun, dan sawah. Indonesia is a country that has a diversity of ethnic groups and cultures, including traditional knowledge in it. One of the existing knowledge in society is knowledge about the use of plants. This research was conducted to document the utilization of Zingiberaceae family of plant species by rural communities in the Rancabuaya Coastal area of Caringin District, Garut Regency. The method used in this research is descriptive qualitative analysis. Data collection techniques were carried out by direct observation and semistructured interviews of key informants. Determination of informants is done by snowball sampling technique. Interview results show that there are 12 species of plants of the Zingiberaceae family that are utilized by the community, namely laja bodas (Alpinia galanga (L.) Willd.), laja beureum (Alpinia purpurata K. Schum.), kapolaga (Amomum cardamomum Maton), koneng temen (Curcuma domestica Val.), koneng gede (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), cikur (Kaempferia galanga Linn.), jahe gajah (Zingiber officinale var. Roscoe), jahe emprit (Zingiber officinale var. Amarum), jahe beureum (Zingiber officinale var. Rubrum), koneng bodas (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc.), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.), dan panglay (Zingiber cassumunar Roxb.).  Based on its genus, people use Alpinia, Amomum, and Kaempferia as cooking spices and medicines; Curcuma as cooking spices, herbal ingredients, and medicine; and Zingiber as medicine, cooking spices, beverage ingredients, and traditional rituals. These plants are wild plants and cultivation results obtained from the yard, garden, and rice fields.
Identifikasi Polen sebagai Indikator Keanekaragaman Tumbuhan Sumber Pakan Lebah Madu (Apis cerana F.) di Kawasan Konservasi Hutan Kota di Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kusmoro, Joko; Febrian, Rifky Rochimat; Shanida, Syasya; Husodo, Teguh; Mutaqin, Asep Zainal; Hermawan, Wawan
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.42694

Abstract

Lebah madu (Apis cerana) merupakan serangga penyerbuk yang efektif dan berperan dalam meningkatkan produksi tanaman pertanian. Kehidupan lebah madu sangat bergantung pada sumber pakan yang dapat diperoleh dari tanaman yang ada di kawasan hutan, area perkebunan atau pertanian. Tanaman menyediakan polen sebagai sumber nutrisi, sementara lebah madu akan membantu proses penyerbukan. Tumbuhan yang beragam dapat meningkatkan persediaan nutrisi serangga penyerbuk, meningkatkan jumlah penyerbuk dan pada akhirnya akan meningkatkan hasil panen. Polen memiliki lapisan dinding sel polimer sporopolenin yang sangat stabil sehingga morfologi polen tidak akan berubah dan dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui jenis maupun keanekaragaman tumbuhan yang menjadi sumber pakan lebah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan persentase jenis-jenis polen tumbuhan sebagai sumber pakan A. cerana. Penelitian dilakukan di kawasan konservasi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dari bulan September 2021 sampai Mei 2022. Pengambilan sampel butir polen dilakukan menggunakan metode perangkap polen. Identifikasi jenis-jenis polen yang tertangkap pada perangkap polen dilakukan di Laboratorium Biosistematik dan Molekuler, Departemen Biologi, Universitas Padjadjaran menggunakan metode asetolisis yang dilanjutkan dengan menghitung persentase masing-masing jenis polen tumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 27 jenis polen yang berasal dari 20 famili tumbuhan. Persentase polen terbesar ditemukan pada jenis Ageratum conyzoides (44,28%), sedangkan nilai presentasi terkecil ditemukan pada jenis Ceiba pentandra dan Pinus merkusii (0,12%). Informasi keragaman tanaman sumber pakan lebah mempunyai peranan yang penting dalam mendukung budidaya lebah madu.
Morphoanatomy and Phytochemical Content of Sente Leaves (Alocasia macrorrhizos (L.)G.Don) under Different Light Intensity in Arboretum Universitas Padjadjaran Rachma, Nadhira Zaachrany; Mutaqin, Asep Zainal; Setiawati, Tia; Nurzaman, Mohamad; Hasan, Rusdi
Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/florea.v11i1.21146

Abstract

Light intensity in plants influences their growth potential as well as their morphological, anatomical, and physiological structures. This study aimed to observe the leaf area, leaf thickness, leaf type, stomatal type, stomatal density, chlorophyll content, and phytochemical content of Sente leaves (Alocasia macrorrhizos) in two locations with different light intensities. This exploratory research used a survey method to determine the research location, and environmental parameter measurements was used as supporting data. Morphological and anatomical parameters and chlorophyll content were assessed using a quantitative approach, while phytochemical content was determined qualitatively and analyzed descriptively. The results showed differences in the morphology, anatomy, chlorophyll content, and phytochemicals of Sente leaves in varying light intensities. Morphologically, the leaves of Sente plants in shaded locations had larger surface areas, were thinner, and appeared greener compared to those in unshaded locations. The stomatal density of leaves in unshaded areas was higher (76.43 cells/mm ²) compared to shaded areas (56.05 cells/mm ²). The chlorophyll content in shaded locations was higher (82.03 CCl) than in unshaded locations (41.7 CCl). Phytochemical tests for flavonoids and saponins showed higher compound levels in leaves from unshaded locations, while tannin tests revealed higher levels in shaded locations compared to unshaded ones. Meanwhile, tests for alkaloids and quinones yielded negative results.  
Characteristics of Stomata and Leaf Thickness in Several Liliales Plants Hasan, Rusdi; Nurzaman, Mohamad; Setiawati, Tia; Mutaqin, Asep Zainal
Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/florea.v11i2.21297

Abstract

This study examines the stomatal characteristics and leaf thickness of six species within the Liliales: Gloriosa superba, Sansevieria trifasciata, Aloe vera, Cordyline terminalis, Pleomele angustifolia, and Allium fistulosum. Stomatal density, type, and distribution were measured to understand their relationship with leaf morphology. The results show that Gloriosa superba has a stomatal density of 148.72/mm² and an index of 0.295, with thin leaves. Sansevieria trifasciata, with its thick, fleshy leaves, has a lower stomatal density of 15.39/mm² and an index of 0.031. Aloe vera, another species with thick leaves, has a stomatal density of 38.47/mm² and an index of 0.067. In contrast, Cordyline terminalis and *Pleomele angustifolia, which have thin leaves, exhibit higher stomatal densities of 192.31/mm² and 128.21/mm², respectively. Their stomatal indices are 0.092 for Cordyline terminalis and 0.163 for Pleomele angustifolia. Allium fistulosum also has thin leaves, with a stomatal density of 100/mm² and a high stomatal index of 0.390. The study reveals that species with thicker leaves tend to have lower stomatal densities, a feature that helps reduce water loss in arid environments. These findings contribute to a deeper understanding of plant adaptation mechanisms and have implications for improving water-use efficiency in agriculture and conservation efforts.
The Growth of Oyster Mushroom on Ramie Chip Waste-Derived Media was Accelerated by Rice-washed Water Budiono, Ruly; Washfanisa, Handina Alya; Mutaqin, Asep Zainal; Kusmoro, Joko; Nurzaman, Mohamad; Setiawati, Tia; Hasan, Rusdi
Jurnal Biodjati Vol 9, No 2 (2024): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v9i2.33433

Abstract

Rice-washed water is wastewater resulted from the rice cleaning process that is rich in nutrients. The use of ramie chip waste can be considered a potential substrate due to its lignocellulosic nature, similar to other wastes studied. This study aimed to examine the effect of rice-washed water on the mycelium and pinhead growth of white oyster mushrooms grown in the ramie chip waste as the growing medium. The experiment was conducted for three months using a completely randomized design with four rice-washed water treatments and six replications. The rice-washed water concentration treatments were 0% (K0), 25% (K1), 50% (K2), and 100% (K3), which were added to the ramie chip waste as the growing medium for white oyster mushroom. The time of mycelium propagation velocity, the time the first pinhead appearance, the number of mushroom bodies, and the largest cap diameter were observed. The results showed that ramie chip waste-derived media was suitable to cultivate white oyster mushrooms. Adding 100% rice-washed water to the media significantly affected the speed of mycelium propagation (16.51 days) compared to control (30 days) and the appearance of the first pinhead (31.5 days) compared to control (38.5 days) as well as the number of fruiting bodies of mushroom (8.8) compared to control (6.2). However, the rice-washed water application did not significantly affect the diameter of the largest mushroom cap.
KANDUNGAN FITOKIMIA DAUN TEMBELEKAN (Lantana camara L) PADA DUA TEMPAT DENGAN INTENSITAS CAHAYA BERBEDA Fikriyah, Nanda adzka; Tia Setiawati; Rusdi Hasan; Mohamad Nurzaman; Asep Zainal Mutaqin
Jurnal Riset dan Inovasi Pendidikan Sains (JRIPS) Vol. 4 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jrips.v4i1.7955

Abstract

Tembelekan (Lantana camara L) adalah salah satu tumbuhan yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan. Tumbuhan ini mengandung banyak senyawa fitokimia yang bermanfaat untuk kesehatan seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan lainnya. Salah satu faktor yang memengaruhi kandungan fitokimia tanaman adalah intensitas cahaya karena dapat memengaruhi proses metabolisme tumbuhan hingga pembentukan senyawa metabolit sekunder. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menguji kandungan fitokimia yang terdapat di daun tembelekan (Lantana camara L) pada lokasi dengan intensitas cahaya yang berbeda yaitu sampel dari daerah yang gelap atau ternaungi dan sampel dari daerah yang terang atau terkena sinar matahari langsung. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dan uji kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan intensitas cahaya pada lokasi yang terang sebesar 9925 lux sedangkan daerah gelap sebesar 1500 lux. Ditemukan senyawa fitokimia tembelekan (Lantana camara L) pada sampel terang yaitu senyawa fenol, saponin dan flavonoid sedangkan pada sampel di daerah yang ternaungi atau gelap ditemukan senyawa fenol, flavonoid dan kuinon. Kata Kunci : Fitokimia, Intensitas Cahaya, Lantana camara, Uji Fitokimia
Community's Knowledge of Leopard Cats' Roles in the Cisokan, West Java Erri Noviar Megantara; Teguh Husodo; Dwi Rustam Kendarto; Asep Zainal Mutaqin; Sya Sya Shanida; Indri Wulandari
ETHOS: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 12 No. 1 (2024): (Januari, 2024) Ethos: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Sai
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v12i1.2603

Abstract

Local communities have ways of managing and utilizing forest products, including leopard cats' habitat. Communities have knowledge and perceptions passed down from one generation to the next through community participation in their environment. This activity aims to reveal the community's knowledge regarding the role of leopard cats in the Cisokan. The implementation of this activity consists of collecting issues and data, FGD, and evaluation. The results show that almost all informants do not know the role of leopard cats in controlling prey animal populations and agricultural pests. Although leopard cats prey on domestic birds, they are not considered a nuisance to the community. After a joint discussion with the community regarding the ecological role of leopard cats, 79% of informants understood leopard cats' role in nature, which indirectly supported agriculture. Besides that, 70% of respondents understand that leopard cats should be protected.
Kerapatan Stomata dan Kadar Klorofil Tumbuhan Clausena Excavata berdasarkan Perbedaan Intensitas Cahaya Budiono, Ruly; Sugarti, Dini; Nurzaman, Mohamad; Setiawati, Tia; Supriatun, Titin; Mutaqin, Asep Zainal
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.752 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kerapatan stomata dan kadar klorofil tumbuhan Clausena excavata atau ki baceta berdasarkan intensitas cahaya di Cagar Alam Bojonglarang Jayanti Kabupaten Cianjur. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode survey dan untuk analisis sampel menggunakan spektrofotometer. Pengambilan sampel daun dengan intensitas cahaya 0-500 lux, 500-1000 lux dan 1000-1500 lux dilakukan dengan tiga kali pengulangan. Sampel daun diambil sebanyak 6 helai kemudian dilakukan pengamatan kerapatan stomata dan ekstraksi untuk pengukuran kadar klorofil. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerapatan stomata pada intensitas cahaya 0-500 lux sebesar 149,4/mm², pada intensitas cahaya 500-1000 lux sebesar 156,5/mm², dan pada intensitas cahaya 1000-1500 lux sebesar 166,5/mm². Dari hasil pengukuran kadar klorofil didapatkan bahwa total kadar klorofil pada intensitas 0-500 lux adalah sebesar 25,44 mg/L, pada intensitas 500-1000 lux sebesar 47,70 mg/L, dan pada intensitas 1000-1500 lux sebesar 52,45 mg/L
Kadar Klorofil pada Beberapa Tumbuhan Obat di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung Nurzaman, Mohamad; Meilinda, Pudji; Budiono, Ruly; Setiawati, Tia; Mutaqin, Asep Zainal
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.257 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar klorofil dari tumbuhan–tumbuhan obat di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode survey. Sampel dianalisis menggunakan spektrofotometer. Penelitian dilakukan pada lima titik lokasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukan 15 jenis tumbuhan obat dari 15 famili yang berbeda, yaitu Cananga odorata (Annonaceae), Cinnamomum parthenoxylon (Lauraceae), Cordyline fruticosa (Liliacaee), Datura metel (Solanaceae), Gossampynus heptaphylla (Bombacaceae), Intsia bijuga (Fabaceae), Ixora javinca (Rubiaceae), Lagerstromia speciosa (Lythraceae), Lantana camara (Verbenaceae), Melastoma candidum (Melastomaceae), Pileatrinervia (Urticaceae), Psidium guajava (Myrtaceae), Rhoeo discolor (Commelinaceae), Stercullia Oblongata(Streculiaceae), dan Styrax benzoin (Sytraceae). Jenis yang memiliki kadar klorofil tertinggi adalah Lantana camara dari famili verbenaceae, yaitu sebesar 50,52mg/L. Sedangkan Stercullia Oblongata dari famili Streculiaceae memiliki kadar klorofil terendah dengan nilai sebesar 3,96 mg/L.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, ANATOMI, FITOKIMIA, DAN KLOROFIL DAUN SPESIES FABACEAE DI TWA PANANJUNG, PANGANDARAN Sephianti, Selvi; Mutaqin, Asep Zainal; Budiono, Ruly; Nurzaman, Mohamad; Setiawati, Tia; Hasan, Rusdi
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 23, No 2 (2025): BIOTIKA DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v23i2.68018

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik morfologi, anatomi, kandungan fitokimia, dan klorofil daun tiga spesies famili Fabaceae (Acacia auriculiformis, Dendrolobium umbellatum, dan Cynometra ramiflora) yang tumbuh di Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung, Pangandaran. Penelitian ini diharapkan menjadi penelitian dasar tentang potensi spesies Fabaceae dalam bidang farmasi, pertanian, dan konservasi sumber daya alam. Penelitian dilakukan secara observasional melalui pengamatan morfologi dan anatomi daun, pengujian fitokimia secara kualitatif (alkaloid, tanin, dan saponin), serta kadar klorofil daun. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan karakteristik morfologi, anatomi, dan profil fitokimia antar spesies. A. auriculiformis dan C. ramiflora mengandung alkaloid dan saponin. D. umbellatum mengandung tanin dan saponin. Species yang mengandung klorofil dari yang tertinggi ke terendah secara berurutan adalah C. ramiflora, D. umbellatum, dan A. auriculiformis. Faktor lingkungan yang terukur adalah 859.33-7474 lux untuk intensitas cahaya, 75-83,67% untuk kelembapan udara, 29,23-30,4°C untuk temperatur udara, 6,6-6,93 untuk pH tanah, <2 mg/kg untuk kadar nitrogen tanah, <6,67 mg/kg untuk kadar fosfor tanah, serta <2,34 mg/kg untuk kadar unsur kalium tanah.