Claim Missing Document
Check
Articles

SIMULASI PENGARUH KOMPOSISI LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (POME) TERHADAP KANDUNGAN AIR BIOGAS DAN DAYA LISTRIK YANG DIHASILKAN SEBUAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOGAS Nazaruddin Sinaga; Ahmad Syukron B Nasution
Eksergi Vol 12, No 3 (2016): SEPTEMBER 2016
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.184 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v12i3.616

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan industri kelapa sawit terbesar di dunia. Limbah cair pabrik kelapa sawit adalah limbah cair yang berminyak dan tidak beracun, hasil pengolahan minyak sawit. Meski tak beracun, limbah cair tersebut dapat menyebabkan bencana lingkungan karena dibuang di kolam terbuka dan melepaskan sejumlah besar gas metana dan gas berbahaya lainnya yang menyebabkan emisi gas rumah kaca. Digestasi anaerobik merupakan proses konversi senyawa organik menjadi biogas dengan kondisi tanpa oksigen melalui empat tahapan. Limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) berasal dari proses produksi minyak mentah kelapa sawit atau biasanya disebut crude palm oil (CPO). Kandungan yang terdapat didalam limbah cair pabrik kelapa sawit ialah 95 % air dan 4 – 5 % padatan total. Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari pengaruh komposisi limbah cair pabrik kelapa sawit terhadap kandungan air biogas dan daya listrik yang dihasilkan oleh mesin gas. Penelitian ini diharapkan dapat menemukan informasi mengenai pengoptimalan data yang ingin dicapai. Dalam simulasi ini, metode perhitungan biogas menggunakan metode stoikiometri danmetode pemurnian biogasnya ialahwater scrubbing dengan kondisi operasi tekanan 9 bar dan jumlah stage sebanyak 4. Feedstream input limbah cair sebesar 400 m3/day. Digester yang digunakan ialah CSTR dengan pendegradasian sebesar 71 %.Kondisi mesophilik yang dipilih dalam simulasi ini yaitu 37 oC. Variasi Komposisi TSS POME berkisar 2- 4 % dan komposisi air sebesar 95-96 %. Daya listrik dan panas yang dibangkitkan menggunakan mesin gas. Debit massa air tanpa cooler sebesar 0.82 kg/h dan 0.8 kg/h tanpa cooler. Simulasi ini menghasilkan daya listrik dan daya panas terbesar pada 4 % TSS sebesar 0.9961 MW menggunakan cooler. Pada kondisi tanpa cooler menghasilkan daya listrik sebesar 0.9963 MW.
Perancangan Awal Conventer Kit LPG Sederhana untuk Konversi Mesin Bensin Skala Kecil Nazaruddin Sinaga
Eksergi Vol 13, No 1 (2017): JANUARI 2017
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5170.981 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v13i1.809

Abstract

Pemerintah saat ini telah mengambil kebijakan untuk mengganti penggunaan bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas. Untuk melakukan konversi ini diperlukan converter kit yang harganya relatif mahal, karena harus diimpor dari luar negeri. Pada tulisan ini disajikan hasil perancangan awal pressure regulator sederhana yang berfungsi untuk menurunkan tekanan dan mengatur aliran gas dari tangki gas LPG menuju saluran hisap mesin bensin 4 tak, dengan daya maksimum 10 Hp. Dalam perancangan ini tekanan masuk pressure regulator maximum 10 bar, dan tekanan keluar maksimum 1,1 bar. Komponen yang dirancang adalah rumah/casing pressure regulator, diafragma dan pegas, dengan kriteria sederhana, murah, materialnya mudah ditemui di pasaran dan mudah untuk diperbaiki. Dalam perancangan ini didapatkan hasil rancangan berupa geometri rumah/casing yang terbuat dari bahan alumunium, diafragma dari bahan karet khusus dan pegas dari bahan music wire dengan ukuran yang sesuai dengan kriteria perancangan. Melalui penelitian ini diperkirakan harga untuk sebuah unit pressure regulator adalah sekitar 750 ribu rupiah.
HUBUNGAN ANTARA POSISI THROTTLE, PUTARAN MESIN DAN POSISI GIGI TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA BEBERAPA KENDARAAN PENUMPANG Nazaruddin Sinaga; Sigit Joko Purnomo
Eksergi Vol 9, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.569 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v9i1.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari parameter operasi kendaraan yang berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar. Parameter operasi kendaraan ini akan diperoleh dari peralatan engine scanner OBD-II yang akan dipasang di kendaraan selama proses penelitian. Dengan diperolehnya data parameter operasi kendaraan yang paling berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar, maka parameter tersebut akan dapat dibuat suatu pemodelan. Pemodelan ini selanjutnya akan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan dan pengembangan suatu driving simulator. Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan posisi throttle dan putaran mesin dengan konsumsi bahan bakar dari kendaraan penumpang. Karena 2 (dua) parameter tersebut dianggap mempunyai pengaruh yang besar terhadap perubahan nilai konsumsi bahan bakar. Penelitian ini dilakukan pada 7 (tujuh) kendaraan penumpang yang berbahan bakar bensin premium, sistem pengaliran bahan bakar dengan sistem injeksi elektronik, yang menggunakan sistem kontrol  elektronik (ECU). Kendaraan diuji di laboratorium dengan memvariasikan kecepatan pada berbagai posisi gigi. Dari penelitian ini diperoleh suatu pemodelan konsumsi bahan bakar yang dipengaruhi oleh posisi throttle dan putaran mesin.   Kata kunci : konsumsi bahan bakar, hemat bahan bakar, posisi throttle, putaran mesin,  smart driving
PERBANDINGAN BEBERAPA PARAMETER OPERASI MESIN MOBIL INJEKSI TERHADAP PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BENSIN DAN CAMPURAN METANOL-BENSIN M15 Nazaruddin Sinaga; Dharigra Alcita
Eksergi Vol 12, No 3 (2016): SEPTEMBER 2016
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.353 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v12i3.617

Abstract

M15 merupakan campuran metanol ( CH30H ) – bensin dengan ratio 15:85. Keunggulan metanol adalah mempunyai angka oktan yang lebih tinggi dari pada bensin yaitu 109, kemudian metanol memiliki kandungan oksigen yang tinggi hingga 50% [1]. Pada penelitian ini bahan bakar ditambah dengan zat aditif 1,2-Propylene Glycol sebanyak 7mL per liter bahan bakar. Kemudian pada injektor bensin mesin mobil dipasang Metanol Injection Controller. Proses pengujian dilakukan pada posisi gigi ke-3 transmisi mobil. Proses pengambilan data parameter operasi mesin menggunakan Engine Scanner Auterra Dashdyno, parameter yang diambil adalah kecepatan mobil, air flow rate, fuel rate, air fuel ratio, ignition time advance, absolute throtlle position, dan instant economy. Pada beberapa grafik didapat berbagai fenomena yang terjadi, khususnya terdapat daerah efisiensi bahan bakar yang rendah. Hasil perbandingan nilai beberapa parameter yang diuji antara M15 dan bensin nilainya hampir sama khususnya pada kondisi idlehingga kecepatan dibawah 5000 rpm pada posisi gigi 3.Keywords:Methanol; M15;Operation Parameters;Fuel Injection Car
STUDI EKSPERIMENTAL KARAKTERISTIK KINERJA SEPEDA MOTOR DENGAN VARIASI JENIS BAHAN BAKAR BENSIN Nazaruddin Sinaga; - Mulyono
Eksergi Vol 11, No 1 (2015): JANUARI 2015
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3032.943 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v11i1.256

Abstract

Studi eksperimental ini menguji sepeda motor empat langkah 125 cc dengan variasi bahan bakar yaitu premium, pertamax dan pertamax-plus. Pengujian dilakukan dengan menempatkan sepeda motor uji di atas dinamometer inersia chassis roller tunggal  dengan variasi gigi transmisi untuk mendapatkan kinerja sepeda motor, yaitu besar torsi dan daya yang dihasilkan. Dari studi ini dihasilkan torsi maksimal didominasi bahan bakar premium di tiap gigi transmisi. Bahan bakar premium memberikan torsi maksimum rata-rata di empat gigi transmisi sebesar 5,21 % lebih besar dari torsi maksimum pertamax dan sebesar 5,25 % dari torsi maksimal pertamax-plus. Daya maksimum tertinggi gigi satu didapat dari premium  9,4 % diatas pertamax  dan 4,5 % diatas pertamax-plus.  Daya maksimum tertinggi di gigi dua, tiga dan empat dari pertamax-plus berturut-turut rata-rata lebih besar 1,18 % atas premium dan lebih besar 4,16.% dari pertamax.Kata kunci : sepeda motor, premium, pertamax, pertamax plus, kinerja   
Analisis Aliran Pada Rotor Turbin Angin Sumbu Horisontal Menggunakan Pendekatan Komputasional Nazaruddin Sinaga
Eksergi Vol 13, No 3 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.106 KB) | DOI: 10.32497/eksergi.v13i3.1027

Abstract

Pemanfaatan energi angin di Indonesia terkendala oleh rendahnya kecepatan rata-rata angin di kebanyakan wilayah Indonesia. Oleh karena itu perlu diupayakan dan dikembangkan teknologi yang dapat digunakan untuk memanfaatkan energi angin yang berkecepatan rendah ini sehingga dapat diterapkan secara komersial. Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memantapkan kemampuan dalam melakukan analisis dan perancangan turbin angin untuk berbagai parameter yang mempengaruhi karakteristik turbin angin. Dalam tulisan ini dikemukakan hasil-hasil perhitungan numerik 2 dan 3 dimensi dari suatu turbin angin yang terdapat di Laboratorium Efisiensi dan Konservasi Energi, Universitas Diponegoro. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan model simulasi perhitungan yang nantinya dapat digunakan untuk menganalisis dan merancang turbin angin dengan berbagai variasi parameter, misalnya sudut pitch, sudut yaw, sudut tilt, sudut precone, diameter rotor, jenis airfoil, kecepatan angin, intensitas turbulensi, dan sebagainya. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ANSYS FLUENT dengan model turbulensi k- standard dan Spalart-Allmaras, pada sebuah turbin angin sumbu horizontal 3 sudu berdiameter 120 cm menggunakan airfoil NACA 4415 dengan panjang chord terlebar 153 mm. Kecepatan angin divariasikan dari 2,5 m/s - 3,4 m/s dengan kecepatan rotor 355 rpm, dengan sudut serang dari 0 - 16 derajat serta sudut pitch 23 - 26 derajat. Kesimpulan utama yang dihasilkan dari studi ini adalah bahwa analisis aliran pada turbin angin dapat dilakukan dengan metoda numerik dengan hasil yang cukup baik. Kesimpulan lainnya adalah bahwa model turbulensi k- standard memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan model turbulensi Spalart-Allmaras. Dari simulasi ini juga dihasilkan rancangan rotor turbin angin yang dapat bekerja pada kecepatan angin yang lebih rendah dibandingkan dengan turbin angin yang dimiliki saat ini. Kata kunci : turbin angin, wind turbine aerodynamics, blade design, computational fluid dynamic
TINJAUAN SINGKAT OPTIMALISASI PEMANFAATAN ENERGI SURYA PADA SEKTOR RUMAH TANGGA Ligan Budi Pratomo; Nazaruddin Sinaga
Journal Publicuho Vol 4, No 2 (2021): May - July
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35817/jpu.v4i2.18436

Abstract

Energy use always increases, especially fossil energy. Through the National Energy Policy, the government continues to strive to increase the role of new and renewable energy sources so as to reduce dependence on fossil energy. Solar power generation is a type of renewable energy generator that capable to convert solar energy to electric energy. The main components of solar power generatios are batteries, solar panels, charger controllers, and inverters.  Solar power generations technology itself is always being developed, such as automatic monitoring and sun tracking systems designed to improve system performance. One of the applications of solar power generations is in the household sector. In this sector consumes 49% of the national electricity energy in 2018. This type of generator is categorized as a roof solar power generations. Based on existing data, there were 1400  roof solar power generations users in September 2019. The development of solar energy utilization for the household sector is very appropriate because it can help achieve renewable energy about 23% in 2025 and 31% in 2050 in the national energy mix.
Review Pengaruh Range Dan Approach Terhadap Efektivitas Cooling Tower Unit 2 Di Pt. Indonesia Power Kamojang Pradipta Ahluriza; Nazaruddin Sinaga
Energi & Kelistrikan Vol 13 No 2 (2021): Energi dan Kelistrikan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Teknik PLN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33322/energi.v13i2.1267

Abstract

Cooling tower diperlukan di industri pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk sirkulasi air pendingin dikontakkan dengan gas tak jenuh sehingga sebagian dari zat cair itu akan menguap, dan suhu zat cair turun. PT. Indonesia Power Kamojang menggunakan mesin Cooling Tower untuk melakukan pendinginan. Untuk mengetahui performansi kemampuan cooling tower yang dimiliki maka diperlukan pengukuran efektivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pendinginan dan pengukuran efektivitas dilakukan dengan nilai approach dan range. Range merupakan perbedaan atau jarak antar temperatur air yang masuk dan keluar menara pendingin. Approach adalah perbedaan suhu air dingin yang keluar dari menara pendingin dan suhu wetbulb ambient. Metode yang digunakan untuk mengukur performansi Cooling Tower menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness, untuk mendapatkan nilai availability, performance efficiency, dan rate of quality. Maka pada saat musim kemarau memiliki efekvtivitas yang lebih baik dibandingkan dengan musim hujan. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, serta temperatur air kondensat yang masuk ke dalam Cooling Tower. Semakin tinggi temperatur air kondensat yang masuk, maka efektivitas proses pendinginan di dalam Cooling Tower semakin rendah karena proses pendinginan tidak maksimal. Hal ini menyebabkan temperature yang dihasilkan oleh cooling tower tidak mencapai temperature yang diinginkan.
Perencanaan PLTS Roof Top On-Grid Untuk Gedung Kantor PLTU Amurang Sebagai Upaya Mengurangi Auxiliary Power dan Memperbaiki Nilai Nett Plant Heat Rate Pembangkit Ardian Burhandono; Jaka Windarta; Nazaruddin Sinaga
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.13051

Abstract

Pembangkit listrik adalah kumpulan dari beberapa mesin yang sumber utamanya dari listrik tergabung dalam beberapa sistem atau sub sistem untuk menjalankan proses produksi menghasilkan energi listrik. Tidak semua listrik yang di hasilkan dari Generator disalurkan ke pelanggan namun juga ada listrik yang di pakai sendiri untuk menggerakkan motor-motor listrik atau tempat-tempat lain yang memerlukan listrik yang ada di dalam area pembangkit tersebut. Saat ini kebutuhan listrik untuk gedung kantor diambilkan dari unit pembangkit PLTU Amurang sehingga membebani auxiliary power pembangkit tersebut. Perencanaan pembangunan PV sel surya roof top on grid sebagai salah satu alternatif sebagai sumber energi listrik di kantor PLTU Amurang sehingga bisa mengurangi auxiliary power pembangkit utama dan memperbaiki Nett Plant Heat Rate (NPHR).  Hasil perhitungan diperlukan 6 modul panel sel surya dengan nominal power per panel 300 Wp dan satu inverter kapasitas 2000 W dengan estimasi biaya Rp 71.500.000,-. Setelah pemasangan PLTS, terdapat perkiraan penghematan rata-rata 133 kWh setiap bulan dan nilai NPHR mengalami penurunan minimal 20,15 kCal/kWh setiap bulannya yang menandakan unit pembangkit utama semakin efisien.
WORKING FLUID REVIEW ON THE SYSTEM ORGANIC RANKINE CYCLE Iwan Gunawan; Nazaruddin Sinaga
Scientific Journal of Mechanical Engineering Kinematika Vol 6 No 1 (2021): SJME Kinematika Juni 2021
Publisher : Mechanical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/sjmekinematika.v6i1.188

Abstract

Pada penelitian ini, penulis melakukan review penggunaan fluida kerja ORC yang disimulasikan menggunakan EES dan melakukan review pada beberapa jurnal yang dilakukan sebelumnya. Fluida kerja yang dianalisa adalah isopentane sebagai fluida kerja yang dipakai, isobutane dan R245fa, dimana isobutane menghasil power output yang lebih tinggi dibandingkan dengan fluida sekunder lainnya karena enthalpi uap yang masuk ke turbine dan enthalpi uap yang masuk ke kondenser yang dihasilkan lebih tinggi dan ini menyebabkan kalor yang masuk ke dalam sistem ORC lebih tinggi dibandingkan dengan fluida kerja lainnya. Pada sistem ORC banyak pilihan fluida kerja dan bisa diaplikasikan dalam sistem baik secara aktual maupun masih dalam research, baik dalam off design dalam bentuk paper, jurnal maupun aplikasi teknologi secara langsung dalam pembangkit listrik panas bumi, waste heat recovery plant atau tipe combine cycle lainnya. Pada beberapa sistem yang diteliti, R227ea memiliki efisiensi thermal yang lebih baik daripada fluida sekunder lainnya. Sedangkan pada waste heat power plant, R134a memiliki efisiensi yang lebih baik dari fluida sekunder yang diteliti. Dan pada research lainnya HFE-301 memiliki efisiensi thermal sebesar 85% pada aplikasi Radial inflow turbine dengan kecepatan sekitar 60.000 rpm dan menghasilkan daya sebesar 1,5 kW.