Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

KEHIDUPAN MEMBIARA DAN JEBAKAN TAKDIR: SUBJEKTIVITAS ROMO YB MANGUNWIJAYA DALAM PERSPEKTIF SLAVOJ ŽIŽEK Taum, Yoseph Yapi
Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 7 No 1 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajbs.2023.07011

Abstract

The monastic life for celibate individuals is not a problem-free life choice. As human beings, individuals who choose the monastic life face various biological, sociological, and psychological upheavals that are not easily overcome. These upheavals can lead to a crisis of faith. This study aims to uncover the issues faced by celibate individuals as depicted in the novel "Romo Rahardi" by YB Mangunwijaya. The study will employ Slavoj Žižek's symbolic discursive theory to unravel the symbolic entanglements that constrain the subjects and reveal the characters' positions in confronting their lives as celibate individuals. This research is a qualitative descriptive study that utilizes a discursive approach. The findings of this research reveal fractures and disorientation in the subjective realm. When Rahadi reaches the age of puberty, he becomes aware of the extraordinary sexual attraction towards the opposite sex, and he views this phenomenon as something good, natural, and positive. However, this awareness becomes a tremendous black hole as Rahadi enters the symbolic order. The celibate lifestyle confines him without the opportunity to explore alternative paths. In the real realm, when Rahadi reflects on the reality of his life as a spiritual person, he discovers a fragmented and incomplete subjective condition that is far from ideal—a primordial and absurd alienation. There exists a homology between Romo Rahadi and Romo YB Mangunwijaya.
Rekonstruksi Geneologis dan Analisis Nilai – Nilai Spiritualitas dalam Legenda Ratu Roro Kidul: Kajian Sastra Lisan Damayanti, Fira Nur Vianingtias; Taum, Yoseph Yapi
Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sabda.20.1.29-47

Abstract

Cerita tentang Roro Kidul merupakan mitos atau legenda yang terkenal di Indonesia. Cerita ini berkaitan dengan kepercayaan akan adanya seorang ratu yang menjadi penguasa Pantai Selatan yang memiliki beberapa versi di setiap daerah. Ada yang menyebut Roro Kidul sebagai Nyai Roro Kidul, Kanjeng Ratu Kidul, Lara Kidul, dan sebagainya. penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pada pemahaman tentang mitos Roro Kidul, dengan fokus khusus pada aspek genealogis dan spiritualitasnya. Oleh sebab itu, pendekatan tradisi lisan, dengan menggunakan teori geneologis dan spiritualitas dipilih untuk menjawab topik tersebut. Konsep-konsep utama yang digunakan untuk penelitian ini, yaitu konsep mitosologi, genealogi, kepercayaan tradisional, spiritualitas, interaksi budaya, dan keragaman budaya. Konsep-konsep ini digunakan sebagai kerangka konseptual dasar untuk memahami fenomena penelitian ini. Metode penelitian adalah kajian Pustaka dan studi lapangan. Hasil penelitian ini mengungkap narasi tentang Roro Kidul memiliki banyak versi yang berkembang di berbagai daerah (Yogyakarta, Palabuhratu, Solo dan Jakarta) narasi tersebut digunakan sebagai alat legitimasi politik dan spiritual, serta mencerminkan identitas budaya masyarakat. Roro Kidul juga dianggap sebagai entitas spiritual yang memengaruhi kehidupan sosial dan budaya. Meskipun pemahaman tentangnya berubah seiring waktu, esensi spiritualitas dan pengaruhnya terhadap keseimbangan alam dan kehidupan manusia tetap dipertahankan.
Paradoks Individualitas: Penjelajahan Dekonstruksi Nilai Komunal dan Individual dalam Cerpen Jakarta Karya Totilawati Tjitrawasita Sugestian, Laetitia; Taum, Yoseph Yapi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.7872

Abstract

This study aims to explore alternative interpretations of the short story Jakarta to demonstrate that such interpretation is not absolute. The data for this study is collected through library research. This study employs an eclectic approach by combining objective and discursive methods. Teeuw's semiotic theory is used for objective analysis, while Derrida's deconstruction theory is applied for discursive analysis. In the process data analyzation, the researcher anaylized the short story's elements using Teeuw's semiotic theory, identified the ideology embodied in the story, carried out decentering with Derrida's deconstruction theory, and identified as well as developed novel ideas that arose from the decentering process. The findings of this study reveal that the interpretation of the short story Jakarta is not absolute. The analysis using Teeuw's theory reveals that the story foregrounds the importance of family as a community, in which personal interests are considered secondary. However, the application of Derrida's deconstruction theory uncovers a new idea within the story, namely that each individual has the right to prioritize personal interests over non-urgent communal concerns. This idea is found through the characterization of Pak Pong's selfishness, as reflected in the conflict within the short story Jakarta. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penafsiran alternatif terhadap cerpen Jakarta untuk menunjukkan bahwa penafsiran terhadap cerpen ini tidak bersifat mutlak. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Dalam proses analisis, penelitian ini menggunakan pendekatan eklektik dengan menggabungkan metode objektif dan diskursif. Teori semiotika Teeuw digunakan untuk analisis objektif, sedangkan teori dekonstruksi Derrida diterapkan dalam analisis diskursif. Dalam melakukan analisis, peneliti menganalisis struktur cerpen dengan teori semiotika Teeuw, mengidentifikasi ideologi yang terkandung dalam cerpen, melakukan decentering dengan teori dekonstruksi Derrida, dan mengidentifikasikan serta merumuskan gagasan baru yang muncul dari proses decentering. Penelitian ini menemukan bahwa penafsiran terhadap cerpen Jakarta tidaklah mutlak. Analisis dengan teori Teeuw menunjukkan bahwa cerpen ini mengedepankan pentingnya keluarga sebagai sebuah komunitas, dengan kata lain kepentingan pribadi ditempatkan sebagai urusan sekunder. Namun, penerapan teori dekonstruksi Derrida berhasil mengungkap sebuah gagasan baru dalam cerpen ini, yaitu bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengutamakan kepentingan pribadinya dan menomorduakan urusan komunal yang tidak mendesak. Gagasan ini ditemukan melalui karakter keegoisan Pak Pong yang tercermin dalam konflik cerpen Jakarta.
Kebenaran Historis dalam Puisi “Ballada Bintang Kejora” Karya Yoseph Yapi Taum: Perspektif George Lukacs Fayola, Benedicta; Taum, Yoseph Yapi
Salingka Vol 21, No 2 (2024): SALINGKA, Edisi Desember 2024
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v21i2.1098

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi sejarah yang tergambar dalam puisi tersebut, khususnya terkait dengan peristiwa-peristiwa krusial di Papua. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melalui tiga tahap, pengumpulan data, dengan melakukan studi pustaka, analisis data, dengan menggunakan metode analisis isi, dan penyajian data dengan metode informal. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis puisi “Ballada Bintang Kejora” dalam penelitian ini merupakan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini berfokus pada analisis teks dan kontekstualisasi sejarah. Penelitian ini menganalisis puisi berjudul “Ballada Bintang Kejora” karya Yoseph Yapi Taum melalui perspektif teori refleksi George Lukács. Analisis dilakukan melalui tiga tahap utama: pertama, mengidentifikasi keaslian sejarah yang tercermin dalam puisi; kedua, mengevaluasi kesetiaan puisi terhadap fakta-fakta historis; dan ketiga, menelaah autentisitas warna lokal yang disampaikan dalam karya sastra ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "Ballada Bintang Kejora" secara akurat merefleksikan berbagai aspek kerusuhan di Papua, mengungkapkan detail-detail sejarah yang mendalam dan otentik, serta memperkaya pemahaman kita tentang kompleksitas sosial dan budaya di wilayah tersebut melalui medium puisi.This research aims to reveal the historical representation depicted in the poem, especially related to crucial events in Papua. The research method used is qualitative through three stages, data collection, conducting literature studies, data analysis,  content analysis methods, and presenting data using informal methods. The approach used in analyzing the poem "Ballada Bintang Kejora" in this research is a literary sociology approach. This research focuses on text analysis and historical contextualization. This research explores the poem "Ballada of the Morning Star" by Yoseph Yapi Taum through the perspective of George Lukács' theory of reflection. The analysis was carried out through three main stages: first, identifying the historical authenticity reflected in the poetry; second, evaluating the poem's fidelity to historical facts; and third, examining the authenticity of the local color conveyed in this literary work. The research results show that "Ballada of the Morning Star" accurately reflects various aspects of the riots in Papua, reveals deep and authentic historical details, and enriches our understanding of the social and cultural complexity of the region through the medium of poetry.
Analisis Puisi Jurang Musim Karya Toto Sudarto Bachtiar dengan Pendekatan Semiotika Riffaterre Sugestian, Laetitia; Taum, Yoseph Yapi
Salingka Vol 21, No 1 (2024): SALINGKA, Edisi Juli 2024
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v21i1.997

Abstract

This research aims to uncover the overall meaning of the poem Jurang Musim and to prove that the comprehensive meaning of this poem cannot be determined solely through the interpretation of specific words, lines, or stanzas. The data in this study is collected using recording techniques from the observation method. The data is then analyzed using Michael Riffaterre's semiotic approach, so the data analysis steps include reading the poem heuristically hermeneutically and determining the hypogram, then concluding with determining the matrix, model, and meaning. The results of this study indicate that the overall meaning of the poem Jurang Musim cannot be captured solely through the interpretation of specific words, lines, or stanzas. Furthermore, this study also found that the poem's meaning describes that individuals who are accustomed to living an easy life in the past tend not to have resilient characters. As a result, when they enter the next phase of life, they are unable to effectively face the onset of late-coming difficult times. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengungkap makna keseluruhan puisi Jurang Musim dan membuktikan bahwa makna komprehensif puisi ini tidak bisa hanya ditentukan melalui interpretasi terhadap kata, baris, atau bait tertentu. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik rekam dari metode simak. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan pendekatan semiotika Michael Riffaterre sehingga langkah analisis data dalam penelitian ini adalah membaca puisi secara heuristik dan hermeneutik, serta menentukan hipogram, lalu diakhiri dengan menentukan matriks, model, dan makna. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa makna keseluruhan dari puisi Jurang Musim tidak dapat hanya ditangkap melalui interpretasi terhadap kata, baris, atau bait tertentu. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa makna puisi ini menggambarkan bahwa individu yang terbiasa menjalani kehidupan mudah di masa lampau cenderung tidak memiliki karakter yang tangguh. Akibatnya, ketika mereka memasuki fase berikutnya dalam hidup, mereka tidak mampu menghadapi dengan efektif datangnya masa-masa sulit yang terlambat.