Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Eksploitasi Alam dalam Novel Si Anak Pemberani Karya Tere Liye: Kajian Ekokritik Stevanny Yosicha Putri; Susilawati Endah Peni Adji; Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i1.5158

Abstract

Penelitian ini membahas tentang eksploitasi alam yang terdapat di dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini adalah, (1) mendeskripsikan faktor penyebab perilaku eksploitasi alam, (2) mendeskripsikan dampak eksploitasi alam, dan (3) mendeskripsikan perlawanan para tokoh terhadap tindakan eksploitasi alam. Penelitian ini menggunakan teori ekokritik yang terdiri dari dua model kajian, yaitu model kajian etika lingkungan dan model kajian sastra apokaliptik. Model kajian etika lingkungan digunakan untuk menganalisis faktor penyebab serta dampak dari eksploitasi alam dan model kajian sastra apokaliptik untuk menganalisis perlawanan beberapa tokoh terhadap eksploitasi alam dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye.  Hasil analisis penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga, sebagai berikut. (1) Terdapat dua faktor utama penyebab eksploitasi alam dalam novel ini yaitu ekonomi dan kekuasaan. Faktor tersebut telah melanggar enam prinsip moral terhadap kearifan lingkungan. (2) Dampak eksploitasi alam yang terdapat dalam novel ini adalah pencemaran dan kerusakan ekosistem alam, terganggunya mata pencaharian penduduk, dan adanya penindasan secara mental serta fisik. (3) Terdapat perlawanan para tokoh terhadap tindakan eksploitasi alam
KELUHURAN DALAM PUISI “PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA” KARYA W.S. RENDRA: PERSPEKTIF LONGINUS (The Nobility in The Poem “Pesan Pencopet kepada Pacarnya” by W.S. Rendra: Longinus Perspective) Taum, Yoseph Yapi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4637

Abstract

This study aims to reveal the values of nobility in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" written by WS Rendra by using the perspective of Longinus theory. This poem seems to give immoral teachings that are conveyed through community trash figures, namely a pickpocket and his girlfriend, a government official's concubine. Reading poetry like this one can spontaneously reject it, because there are no values that seem worthy to be followed or imitated. The main question of this research is what are the noble values in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra? This type of research is qualitative by using library data sources. The approach used to answer this research question is an expressive approach, with Longinus' theory of nobility. The results of this study show that the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra has noble values which include: the power of noble thinking, great emotion or passion, superior rhetoric, special choice of words, and unique compositional structure. The benefit of this research is to demonstrate different textual strategies in reading poetry. This poem has the power to push and elevate the reader to the stage of sublimation, namely the stage of nobility. That is why this poem is worth reading, living, and teaching its values.Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra dengan menggunakan perspektif teori Longinus. Puisi ini terkesan memberikan ajaran yang tidak bermoral yang disampaiakan melalui tokoh-tokoh sampah masyarakat, yakni seorang pencopet dan pacarnya seorang selir pejabat pemerintah. Membaca puisi semacam ini orang dapat secara spontan menolaknya, sebab tidak ada satupun nilai-nilai yang sepertinya layak untuk diikuti ataupun diteladani. Pertanyaan penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian ini adalah pendekatan ekspresivisme, dengan teori keluhuran Longinus. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya WS Rendra memiliki nilai-nilai keluhuran yang mencakup:  daya pemikiran yang luhur, emosi atau passion yang agung, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Manfaat penelitian ini adalah mendemonstrasikan strategi tekstual yang berbeda di dalam membaca puisi. Puisi ini memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, yakni tahap keluhuran. Itulah sebabnya puisi ini berharga untuk dibaca, dihayati, dan diajarkan nilai-nilainya.
WHEN THE EARTH CONQUERS THE HEAVEN: A STUDY OF NARRATOLOGY ON KANA INAI ABANG NGUAK IN THE PERSPECTIVE OF A. J. GREIMAS Astuti, Sri; Taum, Yoseph Yapi
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 1, No 1 (2017): September 2017
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v1i1.664

Abstract

Kana Inai Abang Nguak is a folk lyric by the society of Dayak Desa which is spoken in formal ritual language by chanting. The characters in kana are usually related with the life in nirvana and represents the thoughts and world view of Dayak society. This paper is meant to discuss one kana entitled Inai Abang Nguak using narratology perspective of A. J. Greimas. Greimass narratology studies gradually reveal surface structure and deep structure of a story. Surface structure reveals the context and story sequences. Deep structure reveals the syntax structure (actantial and functional scheme) and also semantic structure, which are three semantic axis including desire pursued axis, power axis, and communication axis. The text Inai Abang Nguak consists of seven-sequence(act)-story actantial scheme which centers on Inai Abang as the subject of the story. The success of earth in conquering the heaven (nirvana) is caused by three factors: 1) although the heaven is blessed with eternal life, the heaven is actually blood-related with this earth; 2) the heavens act in capturing earths ritual leaders is a heavy violation that has to be fought against by the earth; 3) the power of the earth as one unit (human beings, animals, spirits, and magical powers) to attack the heaven and bring back harmony to the earth. It can be concluded that Greimas narratology can be used to understand surface structure, deep structure, and even discursive structure of a folk story.
Makna dan fungsi mantra dalam upacara adat nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian tradisi lisan Damayanti, Fira Nur Vianingtias; Adji, Fransisca Tjandrasih; Taum, Yoseph Yapi
Sintesis Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i1.6079

Abstract

Penelitian ini membahas makna dan fungsi mantra dalam upacara Nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian Tradisi Lisan. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitumenjelaskan asal mula upacara adat nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, mendeskripsikan makna mantra dalam prosesi nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, Memaparkan fungsi mantra dalam upacara nyadran. Landasan tori yang digunakan sebagai landasan referensi adalah tradisi lisan (folklore) dan teori fungaionalism. Penelitian ini menggunakan empat teknik pengumpulan data yaitu, teknik pengamatan, teknik wawancara, teknik kepustakaan, dan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk formal dan informal.Hasil penelitian ini menunjukan adanya cerita tentang dua keturunan darah biru yaitu, GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah melatarbelakangi upacara Nyadran untuk memperingati ditemukannya keturunan darah biru yang bersemayam di Desa Pundungsari dan  juga sebagai bentuk ucap syukur brayat yang doanya telah terkabul atau bentuk penyampaian nazar, makna mantra yang digunakan dalam upacara nyadran merujuk pada pertanian di desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul dan nazar yang dilahirkan oleh brayat dari luar Pundungsari. Selain itu, ditemukan pula makna yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan sebagai syarat pelafalan mantra dan simbol dari harapan masyarakat yang ada di desa Pundungsari, ditemukan empat fungsi mantra yakni, fungsi religius yang merujuk pada bentuk ucap syukur atas terkabulnya nazar atau harapan setiap brayat yang hadir, fungsi sosial budaya merujuk pada gotong-royong masyarakat desa Pundungsari dan seluruh brayat, fungsi ekonomi merujuk pada hasil tani yang dihasilkan, dan fungsi estetika merujuk pada metafora atau makna yang terkandung dalam mantra.
Analisis Lirik Lagu "Lingkaran Aku Cinta Padamu" Karya Iwan Fals dan Sawung Jabo: Perspektif Hermeneutika Gadamer Saventika, Theresia Ricna; Taum, Yoseph Yapi
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1305

Abstract

Penulisan lirik lagu tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan terhadap peristiwa kehidupan, sosial, dan budaya yang melingkupinya. Lirik lagu sering kali merefleksikan pengalaman pribadi, situasi sosial, atau kondisi budaya tertentu yang dihadapi oleh penulisnya. Oleh karena itu, lirik lagu memiliki pemaknaan yang kaya dan dapat dikaji lebih jauh, terutama dengan menggunakan teori-teori yang memungkinkan penggalian makna yang lebih komprehensif. Makalah ini menyajikan analisis lirik lagu “Lingkaran Aku Cinta Padamu” karya Iwan Fals dan Sawung Jabo menggunakan perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai bagaimana elemen-elemen hermeneutika Gadamer—seperti konsep historis, dialektis, prasangka, dan penggunaan bahasa—berkontribusi dalam penafsiran lirik lagu tersebut. Konsep historis membantu untuk mengungkap bagaimana konteks sosial dan budaya masa lalu membentuk makna lirik, sementara dialektika mengeksplorasi bagaimana interaksi antara teks dan pembaca menghasilkan interpretasi yang dinamis. Prasangka digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan pribadi dan latar belakang pendengar mempengaruhi pemahaman mereka terhadap lirik, sedangkan penggunaan bahasa dianalisis untuk menilai bagaimana pilihan kata serta struktur linguistik mempengaruhi makna. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik lagu “Lingkaran Aku Cinta Padamu” karya Iwan Fals dan Sawung Jabo dapat dipahami secara lebih mendalam melalui perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Pendekatan hermeneutika Gadamer memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan konteks historis, dialektis, prasangka, dan penggunaan bahasa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperluas perspektif dalam analisis lirik lagu dan memberikan kontribusi pada kajian sastra Indonesia dengan menunjukkan relevansi pendekatan hermeneutika dalam memahami karya musik secara mendalam.
Pandangan Dunia dalam Cerpen "Pada Titik Kulminasi" Karya Satyagraha Hoerip: Perspektif L. Goldmann Portier, Stephani Angelica Brigitta; Taum, Yoseph Yapi; Purnomo, Christina Astrilinda
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1382

Abstract

Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang ide penulisannya muncul dari realitas kehidupan. Penokohan dalam cerpen merupakan salah satu gambaran realitas yang diwujudkan dalam bentuk karakter seseorang. Soesetio adalah tokoh utama dalam cerpen "Pada Titik Kulminasi" karya Satyagraha Hoerip. Karakter Soesetio menunjukkan kompleksitas ketika dihadapkan pada dilema harus membunuh adik iparnya sendiri. Karya tulis ini bertujuan untuk menganalisis cerpen menggunakan teori Struktur Genetik milik Lucien Goldmann, yakni teori yang menitikberatkan unsur karya. Teori ini akan menghasilkan pandangan dunia penulis melalui analisis tragic vision, subjek kolektif, fakta kemanusiaan, dan homologi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan mimetik M. H. Abrams, yakni pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan. Berdasarkan hasil analisis ini, Soesetio mengalami ambivalensi moral (tragic vision) ketika harus mengambil nyawa dan akhirnya memilih akomodasi sebagai resolusi. Karakter ini mencerminkan pandangan dunia humanistik yang ditandai dengan pemikiran rasional dalam pengambilan keputusan.
Kekerasan dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye: Perspektif Johan Galtung Dewi, Ervidina Nastiti Karya; Taum, Yoseph Yapi; Purnomo, Christina Astrilinda
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1383

Abstract

Novel adalah sebuah karya sastra hasil kreativitas seorang pengarang berasal dari perpaduan imajinasi dengan realitas sekitar penulis tersebut, menghasilkan sebuah dunia baru yang memuat kehidupan para karakternya. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis berbagai bentuk-bentuk kekerasan yang terdapat dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye dengan menggunakan perspektif teori kekerasan Johan Galtung. Mengadopsi pendekatan mimetik dari paradigma M.H. Abrams, penelitian ini mengeksplorasi representasi kekerasan langsung, struktural, dan budaya yang dihadirkan dalam teks novel tersebut. Model kekerasan Galtung memberikan kerangka konseptual yang memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika kekerasan, termasuk peran pelaku, korban, serta dampaknya terhadap hubungan sosial dan lingkungan. Dengan menggunakan teori kekerasan Galtung, makalah ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga mampu menyampaikan kritik tajam terhadap struktur kekuasaan dan ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa dalam novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye terdapat lapis-lapis kekerasan yang terdiri dari kekerasan langsung, struktural, dan budaya yang dialami tokoh-tokohnya. Pemahaman ini berkontribusi dalam mencegah kekerasan di masyarakat melalui analisis karya sastra yang mendalam terhadap akar penyebab dan dampak kekerasan.
Proses Simulacrum dan Hiperrealitas pada Film Agak Lain Karya Muhadkly Acho dalam Perspektif Jean Baudrillard Damayanti, Tri Esti; Taum, Yoseph Yapi; Purnomo, Christina Astrilinda
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 20 (2024): Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhamm
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v20i.1384

Abstract

Film sebagai media visual yang kuat, seringkali menyajikan realitas yang telah dikonstruksi dan dimanipulasi. Konsep simulacrum dan hiperrealitas yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard menjadi relevan dalam memahami bagaimana film membentuk representasi realitas. Film Agak Laen, karya Muhadkly Acho, dipilih sebagai objek penelitian karena keberhasilannya dalam mengemas tema-tema kompleks seperti realitas, identitas, dan makna dalam format komedi yang menghibur. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konsep simulacra dan hiperrealitas merefleksikan konstruksi realitas dalam Film Agak Laen menggunakan teori Simulacra dan Hiperrealitas yang dikemukakan oleh Jean Baurillard. Penelitian ini juga mengkaji bagaimana ini mampu menggabungkan unsur komedi, horor, dan sosial secara harmonis, serta bagaimana film ini merepresentasikan keberagaman dan pluralisme masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten. Objek analisis utama adalah film Agak Laen. Data yang dianalisis meliputi dialog, adegan, dan simbol-simbol visual yang relevan dengan konsep simulacrum dan hiperrealitas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam pemahaman tentang representasi realitas dalam film Indonesia kontemporer. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya kajian tentang penerapan teori-teori sastra dan sosiologi dalam analisis film.
Mythological Identity and The Reconstruction of Spiritual Values in the Legend of Ratu Roro Kidul Damayanti, Fira Nur Vianingtias; Taum, Yoseph Yapi
Randwick International of Social Science Journal Vol. 5 No. 4 (2024): RISS Journal, October
Publisher : RIRAI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47175/rissj.v5i4.1077

Abstract

ABSTRACT This study explores the mythological identity of Ratu Roro Kidul, a prominent figure in Indonesian folklore, and its implications for local spirituality and culture. Drawing from Mircea Eliade’s concept of mythology as a narrative structure that connects humans to the sacred and Joseph Campbell’s notion of mythological heroes as symbols of cultural identity, the study employs genealogical myth analysis to examine the origins, variations, and roles of Roro Kidul’s myth across Indonesia. The research highlights two main versions of the myth: one linking Roro Kidul to the Majapahit Kingdom as a goddess protecting the Southern Ocean, and the other associating her with the Kingdom of Pajajaran, emphasizing her transformation into a queen of spirits. Both versions reflect the intertwining of spiritual and historical narratives, with Roro Kidul serving as a guardian of nature and a symbol of political legitimacy, especially in relation to the Mataram Sultanate. The study concludes that the myth of Roro Kidul not only represents local beliefs but also functions as a tool for understanding the connection between humans, nature, and the supernatural, while playing a key role in shaping social and political identities in Java. This research paves the way for further studies on the role of myth in the construction of power and cultural identity in Southeast Asia.
Motif dalam cerita rakyat bandit sosial: Studi perbandingan cerita rakyat "Si Pitung", "Si Jampang", dan "Robin Hood" dalam perspektif mazhab Finlandia Sugestian, Laetitia; Taum, Yoseph Yapi
Sintesis Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v18i2.8052

Abstract

Fenomena perampokan untuk membantu rakyat kecil merupakan suatu fenomena yang universal sehingga kisah tentang perampok yang merampok untuk membantu rakyat kecil (bandit sosial) tidak hanya ditemui di satu daerah. Buktinya, bangsa Inggris memiliki kisah "Robin Hood" dan masyarakat Betawi memiliki kisah "Si Jampang" serta "Si Pitung". Penelitian ini bertujuan untuk meneliti persamaan dan perbedaan kisah "Robin Hood", "Si Jampang", serta "Si Pitung" untuk melihat sejauh mana persamaan ketiga cerita rakyat tersebut. Untuk meneliti persamaan dan perbedaan ketiga cerita rakyat tersebut, teori historis komparatif yang dikembangkan oleh Mazhab Finlandia digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga cerita rakyat itu memiliki tiga persamaan dan dua perbedaan. Di samping itu, pasangan cerita rakyat "Si Pitung" dan "Si Jampang" serta "Si Pitung" dan "Robin Hood" memiliki satu persamaan masing-masing. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketiga cerita rakyat tersebut memiliki lebih banyak persamaan dibanding perbedaan.