Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS SEBAGAI PARADIGMA PENYELESAIAN KONFLIK: STUDI KASUS DUA LEGENDA RAKYAT NUSANTARA Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i2.1022

Abstract

Claude Lvi-Strauss (1908-2009) adalah pakar strukturalisme terkemuka yang percaya bahwa struktur pemikiran manusia purba (savage mind) sama dengan struktur pemikiran manusia modern (civilized mind) karena sifat dasar manusia sebenarnya sama. Berbagai tradisi lisan, khususnya mitos, memiliki kualitas logisdan bukan estetis, psikologis, ataupun religius. Mitos adalah sebuah dunia yang kontradiktif. Dalam mitos seolah-olah tidak ada logika dan tidak ada kontinuitas. Hakikat mitos adalah sebuah alat logis sebagai upaya untuk mencari pemecahan terhadap kontradiksi-kontradiksi empiris yang dihadapi masyarakat dan yang tidak terpahami oleh nalar manusia. Dengan memahami satuan-satuan naratif (mitheme), pembagian adegan-adegan cerita, dan identifikasi episode-episode cerita, analisis struktururalisme Levi-Strauss dapat menemukan logika di balik mitos tertentu. Karena itulah, bagi Levi-Strauss sastra lisan dan mitos memiliki pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.Kajian yang bersifat akademis terhadap persoalan-persoalan masyarakat, termasuk fenomena tradisi lisan, memerlukan landasan teoretis yang memadai. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan teori Strukturalisme Levi-Strauss sebagai sebuah paradigma akademis dalam memahami fenomena sastra lisan sebagai sarana penyelesaian konflik-konflik empiris dalam masyarakat. Untuk itu, tulisan ini mengulas dua buah cerita rakyat, yaitu cerita Wato Wele-Lia Nurat (masyarakat Lamaholot Flores Timur) dan legenda Suku Tengger (Bromo, Jawa Timur). Melalui perspektif Levi-Strauss, dapat dipahami bahwa legenda-legeda tersebut merupakan alat logika yang dipergunakan masyarakatnya untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradisi empiris yang mereka hadapi.Kata kunci: strukturalisme, konflik empiris, pesan kultural
IDEOLOGI DAN APARATUS NEGARA DALAM TIGA CERPEN KARYA PUTU WIJAYA : PERSPEKTIF LOUIS ALTHUSSER Atria Graceiya; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3119

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas ideologi dan aparatus negara dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya. Penelitian ini menggunakan paradigma Abrams, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan diskurtif. Pendekatan objektif digunakan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik tiga cerpen Putu Wijaya. Pendekatan diskurtif digunakan untuk membongkar ideologi dengan perspektif ideologi Louis Althusser. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dengan mengandalkan jenis data kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa bentuk ideologi dan aparatus negara yang ditemukan beragam, yakni (1) tiap tokoh utama direpresentasikan hal-hal yang melekat pada permasalah tokoh utama; (2) ada interpelasi pada tokoh utama agar diakui sebagai subjek; (3) bentuk ideologi yang ditemukan yakni ideologi dominan, ideologi terkungkung, ideologi bebas, ideologi resistensi, dan ideologi tengah terdapat di dalamnya; (4) aparatus ideologi negara (ISA) mendominasi dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya.Kata Kunci: ideologi, aparatus negara, Putu Wijaya, Althusser ABSTRACT This article discusses ideology and the state apparatus in three short stories by Putu Wijaya. The study employs the Abrams paradigm, namely an objective and discursive approach. This study applies an objective approach to analyzing the intrinsic elements of three short stories by Putu Wijaya. A discursive approach is used to dismantle ideology with the ideological perspective of Louis Althusser. Qualitative data were collected using library research method. The results of this study show that ideology and state apparatus are represented in a variety of ways; first, each main character is represented by the problems he experiences; second, there is an interpellation on the main character to be recognized as subject; third, the ideological forms found are dominant ideology, confined ideology, free ideology, ideological resistance, and central ideology; last, the ideological state apparatuses are prominent in three of Putu Wijaya's short stories..Keywords: ideology, state apparatus, Putu Wijaya, Althusser
STRATEGI DOMINASI DALAM NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASARI: PERSPEKTIF PIERRE BOURDIEU Maria Novenia; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v13i2.2298

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang jejaring sosial dan kajian alur menurut teori Franco Moretti serta analisis strategi dominasi menurut perspektif Pierre Bourdieu dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Hasil analisis pendekatan objektif, yakni jejaring sosial dan kajian alur adalah sebagai berikut. Dalam novel Maryam, terdapat empat simpul yang memiliki relasi aktif dan intens, yakni Maryam, Pak Khairuddin, Umar, dan Zulkhair. Empat simpul tersebut membentuk jaringan sosial dan relasi (tepi) yang berbeda-beda. Alur dalam novel Maryam menggunakan alur campuran, karena cerita tidak berurutan dan sering menceritakan masa lampau. Hasil analisis pendekatan diskursif tentang strategi dominasi memperlihatkan lima kesimpulan sebagai berikut. 1) Perbedaan kelas dalam novel Maryam terbagi menjadi tiga, yakni kelas dominan, kelas borjuasi baru, dan kelas borjuasi kecil. 2) Modal ekonomi, sosial, dan simbolik kelompok Ahmadiyah lebih besar daripada kelompok Islam. Akan tetapi, modal budaya (agama) kelompok Islam lebih kuat. 3) Arena dalam novel Maryam adalah arena agama dan arena ekonomi. 4) Dominasi simbolik dilakukan kelompok Islam dalam bentuk poligami. 5) Kelompok Ahmadiyah yang termasuk kelas dominan justru mengalami dominasi karena dalam arena agama mereka termasuk dalam kelompok minoritas dan dianggap sesat.
LUBANG BUAYA: MITOS DAN KONTRA-MITOS Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v6i1.2709

Abstract

Wacana tentang Lubang Buaya merupakan salah satu wacana dominan dalam masa pemerintahan Orde Baru. Narasi-narasi resmi yang diproduksi negara (state) dan direproduksi masyarakat (society) cenderung menyebarkan kesan menakutkan bahkan menyeramkan. Tulisan bertujuan mengungkapkan narasi-narasi tentang Lubang Buaya sebagai sebuah mitos politik. Dalam penelusuran, ditemukan kenyataan bahwa mitos Lubang Buaya yang telah diawetkan melalui narasi sejarah, monumen, museum, film, hari peringatan sesungguhnya telah mengalami proses demitologisasi. Secara khusus, sastrawan Indonesia mengawali proses demitologisasi Lubang Buaya dengan menciptakan kontra mitos dalam karya-karya mereka.Tulisan ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, mitos tentang peristiwa yang terjadi di Lubang Buaya mengandung muatan nilai-nilai emosional yang jelas-jelas dimaksudkan untuk kepentingan propaganda politik. Kedua, mencuatnya pandangan-pandangan yang berbau kontroversial dalam mitos itu menunjukkan bahwa saat ini telah terjadi proses demitologisasi, yaitu proses menghilangkan mitos sebelumnya. Ketiga, sebagai sebuah tragedi nasional, peristiwa Lubang Buaya dan G30S tetap akan dikenang. Sebagai bagian dari usaha untuk tetap mempelajari pengalaman masa lampau itulah, kita akan tetap terbuka menerima segala penafsiran baru mengenai peristiwa itu.KATA KUNCI G30S, Orde Baru, mitos, kontra-mitos, demitologisasi
SANG KRISTUS DALAM PUISI INDONESIA MODERN Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v10i1.162

Abstract

SAIndonesia is a country with Muslims majority population in this world. Before 1970, Teeuw notedthat the figure of Christ was not known publically for Indonesians. However, after 1970, I observethat the image of The Christ get more common for Indonesian, as it was shown at the works ofliterature. In this paper, I show that the Christ was experienced by at least 10 Indonesian poets on25 poetries. They are not only Christians but also Muslims. On their works, we will learn 5 dominantthemes, i.e: 1) Christ as the Savior of all human; 2) Christ belongs to a certain community; 3).Christ makes the sinners repentance; 4) People doubt of Christ holiness; and 5) Christ is a cruelJudge.
PEMAKNAAN BELENGGU DENGAN TEORI DAN METODE SEMIOTIK Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v6i2.2704

Abstract

Tulisan ini bertujuan melakukan pemaknaan Belenggu dengan teori dan metode semiotik yang beranjak dari asumsi dasar bahwa bahasa sastra memiliki konvensi tambahan sehingga sastra memiliki meaning of meaning . Kajian dan pemaknan tersebut dibatasi pada pembacaan heuristik, penafsiran terhadap jenis-jenis tanda yang meliputi ikon, indeks, dan simbol-simbol dominan yang memiliki satuan makna, serta eksplisitasi matriks, model, dan varian-varian.Pemaknaan roman Belenggu dengan teori dan metode semiotik ini membuka peluang bagi pembaca untuk menafsirkan roman tersebut pada tataran bahasa dan sastra, serta melakukan konkretisasi terhadap ruang kosong (the empty spaces) yang tidak diungkapkan secara eksplisit dalam teks. Tema masa lampau yang menjauh dan masa depan yang belum pasti yang menjadi inti roman Belenggu merupakan hasil konkretiasi terhadap ruang kosong dalam teks.KATA KUNCI semiotik, heuristik, matriks, model
Kegelisahan Eksistensial Joko Pinurbo: Sebuah Tanggapan Pembaca Yoseph Yapi Taum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.597 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.364

Abstract

Kehadiran penyair Joko Pinurbo dengan karya-karyanya mendapat tanggapan pembaca yang luas di tanah air. Puisi-puisinya memiliki karakteristik tersendiri yang kontradiksif antara pilihan katanya yang nyeleneh dan sikap kepenyairannya yang cenderung serius dan filosofis. Makalah ini merupakan sebuah tinjauan terhadap karya-karya Joko Pinurbo sebagai sebuah tanggapan. Tanggapan beberapa ahli sastra juga ikut didiskusikan di sini. Melalui pembacaan terhadap beberapa tanggapan, makalah ini mengungkap 1) Kecenderungan Puisi Mbeling dalam puisi-puisi Joko Pinurbo; 2) Penggunaan Bahasa dan Persoalan Sehari-hari dalm puisi-puisi Joko Pinurbo; 3) Refleksi Keagamaan dalam puisi-puisi Joko Pinurbo, dan 4) Kegelisahan Eksistensial dalam puisi-puisi Joko Pinurbo
KEPAHLAWANAN TOKOH KARNA DALAM NOVEL MAHABHARATA KARYA NYOMAN S. PENDIT: KAJIAN SEMIOTIKA TEEUW Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha; Fransisca Tjandrasih Adji; Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v16i2.5064

Abstract

Karna, salah satu tokoh dalam novel Mahabharata karya Nyoman S. Pendit—novel adaptasi dari Epos Mahabharata. Mengingat bahwa Karna merupakan salah satu tokoh dalam karya sastra, penulis ingin mengetahui kepahlawanan tokoh Karna dengan kerangka berpikir Semiotika Teeuw. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai kode-kode bahasa, sastra, dan budaya pada tokoh Karna dalam novel dengan maksud menemukan makna terdalam dari tokoh Karna. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perjalanan hidup dan kepahlawanan Karna adalah ajaran hidup manusia yang melaksanakan dharmanya di dunia.Dari ketiga hasil analisis kode-kode tersebut, ditemukan bahwa kepahlawanan Karna tidak hanya terletak dari kesetiaannya pada Kaurawa, melainkan pula perjalanan hidupnya dari lahir, kebenciannya terhadap Pandawa, kutukan yang ia dapatkan, hingga pada akhirnya bersatu dengan Pandawa di Surgaloka bahwa hidupnya merupakan pahlawan bagi yang melaksanakan dharma. Perjalanan hidup Karna yang melaksanakan dharma dapat menjadi bahan pembelajaran bagi manusia untuk hidup pada jalan dharma.
Eksploitasi Alam dalam Novel Si Anak Pemberani Karya Tere Liye: Kajian Ekokritik Stevanny Yosicha Putri; Susilawati Endah Peni Adji; Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i1.5158

Abstract

Penelitian ini membahas tentang eksploitasi alam yang terdapat di dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini adalah, (1) mendeskripsikan faktor penyebab perilaku eksploitasi alam, (2) mendeskripsikan dampak eksploitasi alam, dan (3) mendeskripsikan perlawanan para tokoh terhadap tindakan eksploitasi alam. Penelitian ini menggunakan teori ekokritik yang terdiri dari dua model kajian, yaitu model kajian etika lingkungan dan model kajian sastra apokaliptik. Model kajian etika lingkungan digunakan untuk menganalisis faktor penyebab serta dampak dari eksploitasi alam dan model kajian sastra apokaliptik untuk menganalisis perlawanan beberapa tokoh terhadap eksploitasi alam dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye.  Hasil analisis penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga, sebagai berikut. (1) Terdapat dua faktor utama penyebab eksploitasi alam dalam novel ini yaitu ekonomi dan kekuasaan. Faktor tersebut telah melanggar enam prinsip moral terhadap kearifan lingkungan. (2) Dampak eksploitasi alam yang terdapat dalam novel ini adalah pencemaran dan kerusakan ekosistem alam, terganggunya mata pencaharian penduduk, dan adanya penindasan secara mental serta fisik. (3) Terdapat perlawanan para tokoh terhadap tindakan eksploitasi alam
KELUHURAN DALAM PUISI “PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA” KARYA W.S. RENDRA: PERSPEKTIF LONGINUS (The Nobility in The Poem “Pesan Pencopet kepada Pacarnya” by W.S. Rendra: Longinus Perspective) Taum, Yoseph Yapi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4637

Abstract

This study aims to reveal the values of nobility in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" written by WS Rendra by using the perspective of Longinus theory. This poem seems to give immoral teachings that are conveyed through community trash figures, namely a pickpocket and his girlfriend, a government official's concubine. Reading poetry like this one can spontaneously reject it, because there are no values that seem worthy to be followed or imitated. The main question of this research is what are the noble values in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra? This type of research is qualitative by using library data sources. The approach used to answer this research question is an expressive approach, with Longinus' theory of nobility. The results of this study show that the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra has noble values which include: the power of noble thinking, great emotion or passion, superior rhetoric, special choice of words, and unique compositional structure. The benefit of this research is to demonstrate different textual strategies in reading poetry. This poem has the power to push and elevate the reader to the stage of sublimation, namely the stage of nobility. That is why this poem is worth reading, living, and teaching its values.Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra dengan menggunakan perspektif teori Longinus. Puisi ini terkesan memberikan ajaran yang tidak bermoral yang disampaiakan melalui tokoh-tokoh sampah masyarakat, yakni seorang pencopet dan pacarnya seorang selir pejabat pemerintah. Membaca puisi semacam ini orang dapat secara spontan menolaknya, sebab tidak ada satupun nilai-nilai yang sepertinya layak untuk diikuti ataupun diteladani. Pertanyaan penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian ini adalah pendekatan ekspresivisme, dengan teori keluhuran Longinus. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya WS Rendra memiliki nilai-nilai keluhuran yang mencakup:  daya pemikiran yang luhur, emosi atau passion yang agung, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Manfaat penelitian ini adalah mendemonstrasikan strategi tekstual yang berbeda di dalam membaca puisi. Puisi ini memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, yakni tahap keluhuran. Itulah sebabnya puisi ini berharga untuk dibaca, dihayati, dan diajarkan nilai-nilainya.