Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa SMPN 8 Mataram Kelas VII Tahun Ajaran 2022/2023 Ricky Pramana Setiawan Panie; Nani Kurniati; Eka Kurniawan; Nurul Hikmah
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2023): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v8i2.1419

Abstract

Masih kurangnya perhatian dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika berdampak terhadap hasil belajar siswa yang masih rendah dan mengakibatkan siswa cenderung pasif selama proses pembelajaran sehingga membuat aktivitas belajar siswa kurang optimal. Guru sebagai pendidik masih kurang menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan menjadikan siswa kurang responsif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran discovery learning dalam meningkatkan hasil belajar pada matematika siswa kelas VII SMP Negeri 8 Mataram Tahun Ajaran 2022/2023. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimental design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 8 Mataram. Sampel dari penelitian ini yaitu siswa kelas VII(B) sebagai kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Discovery learning dan kelas VII(E) sebagai kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional, yang dipilih secara random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pemberian posttest. Instrumen penelitian ini adalah RPP dan lembar tes hasil belajara siswa (posttest) pada materi aritmatika sosial. Analisis data yang digunakan adalah uji t, dan uji effct size. Berdasarkan hasil analisis data nilai posttest menggunakan uji t dimana didapatkan nilai thitung = 3,616>tTabel = 1,1996 dengan taraf signifikan 5%, sehingga H0 ditolak dan uji effect size dengan d = 0,904 (tinggi). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran discovery learning berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN 8 Mataram tahun ajaran 2022/2023.
Pengaruh Perfeksionisme dan Prokrastinasi Akademik terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas X SMAN 1 Kediri Wardatul Uyun; Laila Hayati; Eka Kurniawan
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 8 No 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v8i1.11439

Abstract

Mathematical problem-solving ability is an essential competence in mathematics learning, contributing to the development of students’ reasoning and higher-order thinking skills, and is influenced by psychological factors such as perfectionism and academic procrastination. This study aimed to analyze the effects of perfectionism and academic procrastination, both partially and simultaneously, on the mathematical problem-solving ability of tenth-grade students at SMAN 1 Kediri in the 2025/2026 academic year. This study employed a quantitative approach with an ex post facto design. The sample consisted of 31 students selected through cluster sampling from four classes. The instruments included a perfectionism questionnaire, an academic procrastination questionnaire, and a mathematical problem-solving test based on Polya’s indicators. Data were analyzed using multiple linear regression preceded by normality, linearity, multicollinearity, and heteroscedasticity tests. The results of the prerequisite tests indicated that the data were normally distributed, the relationships among variabels were linear, and no multicollinearity or heteroscedasticity was detected. The regression analysis showed that perfectionism had a significant effect of 46.7%, while academic procrastination had a significant negative effect of 30.4%. Simultaneously, both variabels had a significant effect on students’ mathematical problem-solving ability of 59.3%..
Pelatihan Menyusun Strategi Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Matematika Bagi Para Guru Sd Di Gugus Suela Lombok Timur Ketut Sarjana; Nani Kurniatai; Nurul Hikmah; Eka Kurniawan; Ulfa Lu'luilmaknun
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 9 No 1 (2026): Januari - Maret 2026
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v9i1.14934

Abstract

Kemampuan berpikir berpikir kritis telah menjadi hal mendasar yang sangat penting dikuasai pada abad 21 karena pembelajaran abad 21 menjadi target kurikulum yang sedang berlaku dan menuntut menuntut peserta didik memiliki berpikir kritis dan kreatif.. Supaya kemampuan itu dapat tercapaii di dalam kelas, maka para guru matematika selaku agen transfer ilmu seyogianyaah memiliki kesiapan untuk membelajarkan ke dua kemampuan tersebut. Tujuan dari kegaiatan ini adalah menguatkan konsep berpikir kritis serta melatih para guru SD tentang cara membelajarkan kemampuan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut para guru diberikan pelatihan dengan metode ekspos fakto, pelatihan, diskusi dan presentasi dan evaluasi. Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat yang telah dilakukan ternyata sangat efektif yakni terjadi perubahan kearah perbaikan yang signifikan karena skor rata-rata pre-tes = 4.25 dan skor rata-rata post-tes = 7,30. Disisi lain hasil uji statistik t diperoleh bahwa = 15,980 > ttabel = 2,060 pada tafar signifikasi 0,05. Memperhatikan manfaat kegiatan ini perlu dilakukan kegaiatan yang sama dilakukan pada sekolah yang memiliki kareakteristik yang sama.pada Gugus yang berbeda di Kecamatan Suela. Disisi lain para pemangku kepentingan yang bergerak dalam pendidikan khususnya pendidikan dasar ikut perperan aktif mewujudkan kegiatan yang serupa, dalam upaya mengimplementasikan pembelajaran yang mengintegrasikan TPACK pada pembelajaran yang menuntut kritis.
Concept Image Siswa dalam Materi Barisan dan Deret pada Pembelajaran Berdiferensiasi Dita Oktavihari; Junaidi Junaidi; Gilang Primajati; M. Gunawan Supiarmo; Eka Kurniawan; Alvano Tugas Hendrawan
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 7 No 4 (2025): Desember
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v7i4.11044

Abstract

This study aims to describe students' concept images on sequences and series in differentiated learning and to examine the concept image gap between students, teachers, and mathematicians. This study used a qualitative approach with a didactic design and a hermeneutic phenomenology method. The research subjects included students, teachers, and mathematicians, who were selected purposively. Data were collected through learning observations, questionnaires, and in-depth interviews, and then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion-drawing techniques. The results showed that students' conceptual images of sequences and series were dominated by intuitive, visual, and procedural understandings. Students were able to recognize real-world patterns and contexts, but tended to rely on repeated addition or multiplication rather than using formal definitions and symbolic formulas. In geometric sequences and series, a concept image conflict was found due to students' difficulty in understanding exponential growth patterns. Although differentiated learning provides space for diverse student learning styles, the results show that this approach does not fully guarantee the formation of a complete formal conceptual understanding. Therefore, strengthening conceptual scaffolding is needed so that students' concept images are more aligned with the correct concept definition. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan concept image siswa pada materi barisan dan deret dalam pembelajaran berdiferensiasi serta mengkaji kesenjangan concept image antara siswa, guru, dan matematikawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain didaktis dan metode fenomenologi hermeneutik. Subjek penelitian meliputi siswa, guru, dan matematikawan, yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi pembelajaran, kuesioner, serta wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa concept image siswa pada materi barisan dan deret didominasi oleh pemahaman intuitif, visual, dan prosedural. Siswa mampu mengenali pola dan konteks nyata, namun cenderung mengandalkan penjumlahan atau perkalian berulang dibandingkan penggunaan definisi formal dan rumus simbolik. Pada barisan dan deret geometri, ditemukan conflict concept image akibat kesulitan siswa dalam memahami pola pertumbuhan eksponensial. Meskipun pembelajaran berdiferensiasi memberikan ruang bagi keberagaman cara belajar siswa, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini belum sepenuhnya menjamin terbentuknya pemahaman konseptual formal yang utuh. Oleh karena itu, diperlukan penguatan scaffolding konseptual agar concept image siswa lebih selaras dengan concept definition yang benar.
Kesalahan Newman Dalam Menyelesaikan Soal Cerita SPLDV Ditinjau Dari Tingkat Kecemasan Matematika Siswa Kelas IX SMPN 6 Mataram Sofie Atma Dwiva; Sri Subarinah; Eka Kurniawan
Mandalika Mathematics and Educations Journal Vol 8 No 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jm.v8i1.11276

Abstract

The perception of mathematics as a difficult subject often leads students to make errors. Errors made by students when solving story problems need to be analyzed to determine the cause. Mathematics anxiety is one of the causes of students making errors. This study aims to describe the errors made by students of SMPN 6 Mataram in answering story problems based on Newman's theory in terms of students' level of mathematics anxiety. The type of research used is qualitative. The research instruments used were anxiety level questionnaires, story problem tests, and interview guidelines. The selection of subject in class IX F used a purposive sample with the criteria: (1) students who had learned the system of linear equations in two variables (SPLDV), (2) students who had completed the mathematics anxiety questionnaire, (3) students from one class representing high, moderate, and low levels of mathematics anxiety. The results show that mathematics anxiety influences the types of errors students make in solving SPLDV word problems. Students with high anxiety made errors in comprehension, transformation, process skills, and conclusion stages; those with moderate anxiety in comprehension, process skills, and conclusion; while students with low anxiety mainly erred at the conclusion stage.
Kemampuan pemecahan masalah SPLDV ditinjau dari kemandirian belajar siswa kelas IX SMPN 1 Narmada Lalu Abdal Gaffar; Baidowi; Eka Kurniawan
Griya Journal of Mathematics Education and Application Vol. 6 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/griya.v6i2.1143

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) ditinjau dari tingkat kemandirian belajar siswa kelas IX SMP Negeri 1 Narmada tahun ajaran 2025/2026. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian berjumlah 35 siswa kelas IX.1 yang diberikan kuesioner kemandirian belajar dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Selanjutnya, dipilih 8 siswa berdasarkan tingkat kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika untuk dilakukan wawancara secara mendalam pada setiap kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemandirian belajar tinggi cenderung mampu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, dan melaksanakan rencana dengan baik, namun belum terbiasa melakukan pengecekan kembali terhadap hasil jawaban. Siswa dengan kemandirian belajar sedang cenderung menunjukkan kemampuan yang cukup namun belum konsisten pada setiap tahapan pemecahan masalah. Sementara itu, siswa dengan kemandirian belajar rendah cenderung mengalami kesulitan pada hampir seluruh tahapan pemecahan masalah matematika. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemandirian belajar berperan penting dalam menentukan kualitas kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.