Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (PEMP) DI DUSUN TAMAN DESA TAMAN AYU KECAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT Junaidin, Junaidin; Mas’ad, Hj. Mas’ad
International Journal of Natural Science and Engineering Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : International Journal of Natural Science and Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.339 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan evaluasi serta perkembangan yang terjadi atas pelaksanaan kebijakan pelaksanaan program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) di Dusun Taman Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Sedangkan analisis data menggunakan metode model alir (flow model) yang meliputi tahap: (a) reduksi data, (b) penyajian data, dan (c) penarikan kesimpulan serta verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap fokus permasalahan dalam penelitian ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: (a) Pelaksanaan kebijakan PEMP  dalam pemberdayaan masyarakat miskin di Kecamatan Gerung terdiri dari empat tahap, antara lain yaitu tahap persiapan; tahap pelaksanaan; tahap pengendalian; dan tahap pelestarian. Pemanfaatan dana bantuan telah sesuai dengan tiga komponen kegiatan yang menjadi sasaran tujuan program PEMP, yaitu ekonomi produktif; pelatihan dan pembangunan sarana dan prasarana dasar lingkungan. Namun masih ada sejumlah anggota KSM yang memanfaatkan bantuan tersebut untuk kegiatan konsumtif. Pembentukan BKM dan KSM dilaksanakan secara demokratis, transparansi, dan jujur, karena kedua lembaga lokal inilah yang berinteraksi dalam pelaksanaan PEMP.
PEMANFAATAN TANAH PERKEBUNAN SEBAGAI BENTUK BUDIDAYA TANAMAN PEPAYA CALIFORNIA DI DESA MALAKA KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA Junaidin, Junaidin; Arif, Arif; Gufran, Gufran
International Journal of Natural Science and Engineering Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : International Journal of Natural Science and Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.599 KB)

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru warga masyarakat Desa Malaka dan pemuda berupa penambahan wawasan tentang bagaimana proses penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Pepaya California adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Solusi yang ditawarkan setelah mengikuti kegiatan penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan diharapkan kepada masyarakat Desa Malaka yang menjadi subjek penelitian: masyarakat Mengerti dan memahami arti pentingnya penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Menumbuhkan sikap tanggung jawaban disiplin diri. emperoleh bekal keterampilan dan pengetahuan dasar tentang penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Meningkatkan ilmu pengetahuan dan penelitian sehingga menciptakan peluang usaha. Menciptakan prodak yang berkualitas. Adapun hasil dari pengabdian ini: Kegiatan-kegiatan pengabdian pada masyarakat menjadi garda terdepan dalam mendekatkan Universitas/Perguruan Tinggi, sehingga masyarakat tidak hanya menatap Perguruan Tinggi sebagai sebuah Lembaga Pendidikan yang besar dengan kemampuan mencetak para sarjan, namun juga dapat berkontribusi langsung para masyarakat. Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan  Tahun 2017, berupa penambahan wawasan, perolehan pengalaman pengembangan, minat, bakat dan pengetahuan tentang penyusunan RTRW Desa. Bahwa dengan dilaksanakannya kegiatan Pelatihan Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan Tahun 2017 sangat terbantu, baik dari sisi pengetahuan dasar juga dengan pemahaman Bagaimanakah Budidaya Tanaman Pepaya California yang baik dan sukses.
PEMBELAJARAN INOVATIF, KREATIF DAN PRODUKTIF SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI PESERTA DIDIK Junaidin Junaidin
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 5, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v5i2.93

Abstract

Abstrak:Social Studies Educationsangat penting dalam segala aspek kehidupan, karena itu perlu dipelajari agar semua insan Indonesia. Pendidikan  Social Studies Educationyang bertanggungjawab atas pengembangan keterampilan berpikir peserta didik perlu ditingkatkan kualitasnya, melalui pengembangan berpikir tingkat tinggi peserta didik.  Problem-based learning  (PBL) merupakan pembelajaran yang inovatif, kreatifdan produktif, karena dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan yang makin kompleks di abad ke-21 ini. Tahap-tahap  dalam PBL membimbing siswa untuk melakukan  self-directed learning,sehingga dapat membentuk kemandirian. Dalam pemecahan masalah melalui PBL juga dituntut pengembangan kemampuan lintas bidang studidan kolaborasi dalam membangun pengetahuan. Di samping itu siswa juga dilatih untuk memilah dan memilih informasi yang sesuai, melakukan prediksi dan evaluasi terhadap jawaban permasalahan, yang membentuk kreativitasnya. Dengan PBL waktu belajar juga dapat digunakan secara lebih efektif, yang melalui penggunaan ICT sebagai sumber informasi, maupun ajang komunikasi lintas batas dan lintas waktu. PBL yang  mengakomodasi penggunaan ICT dapat menjawab masalah kekurangan waktu belajar, keterbatasan luasdan jumlah kelas di sekolah, maupun kurangnya jumlah guru khususnya di daerah terpencil. Implementasi pembelajaran yang berbasis ICT dapat memberikan kontribusi positif dalam inovasi pembelajaran.Abstract: Social Studies Educations are very important in all aspects of life, because it needs to be learned for all Indonesians. Education Social Studies Education responsible for the development of students' thinking skills needs to be improved in quality, through the development of high-level thinking of learners. Problem-based learning (PBL) is an innovative, creative and productive learning, because it can improve students' ability to solve problems in an increasingly complex life in the 21st century. Stages in PBL guide students to self-directed learning, so as to establish independence. In solving problems through PBL is also required the development of cross-disciplinary skills and collaboration in building knowledge. In addition, students are also trained to sort and select appropriate information, to make predictions and evaluate the answers to problems, which shape their creativity. With PBL the learning time can also be used more effectively, through the use of ICT as a source of information, as well as cross-border and cross-time communication arena. PBLs that accommodate the use of ICT can address the problem of shortage of study time, wide limitations and number of classes in schools, as well as the lack of teachers in remote areas. Implementation of ICT-based learning can provide a positive contribution in learning innovation.
KAJIAN KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA TANAMAN OBAT DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Junaidin
Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada Mataram Vol. 4 No. 2 (2018): JURNAL PENELITIAN DAN KAJIAN ILMIAH KESEHATAN POLITEKNIK MEDICA FARMA HUSADA MA
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.538 KB) | DOI: 10.33651/jpkik.v4i2.27

Abstract

Penelitian ini dapat memberikan jawaban bahwa potensi yang dimiliki daerah setempat memang cukup potensial dan perlu dimanfaatkan secara bijak untuk kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi lahan peruntukan budidaya tanaman obat dan memperoleh data base tentang kesesuaian lahan budidaya tanaman obat dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai daerah budidaya tanaman obat di Kawasan Suku Sambori Kabupaten Bima. Dalam penelitian ini mengunakan metode survei dengan pendekatan metode MLA (Multidiciplinaire Landscape Assesment) yaitu suatu metode untuk menentukan “sumber daya apa yang paling penting bagi masyarakat. Instrument penelitian yang kami paparkan adalah berupa peralatan yang digunakan dalam proses penelitian seperti: GPS, rambu ukur, thermometer, kompas geologi, stpowatch, sechi disk, salinometer,dan software analisis data SIG serta didukung oleh metode pengumpulan data yaitu metode observasi, dokumentasi dan eksperimentai sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
PENDAMPINGAN PENYUSUNAN RANCANGAN PEMBELAJARAN INOVATIF ABAD 21 PADA MAHASISWA Agus Herianto; Sukuryadi Sukuryadi; Ibrahim Ibrahim; Mas’ad Mas’ad; Khosiah Khosiah; Mahsup Mahsup; Sintayana Muhardini; Irma Setiawan; Junaidin Junaidin; Zaenudin Zaenudin; Eka Fitriani; Najamudin Najamudin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.15820

Abstract

ABSTRAKTujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik, karakteristik rancangan pembelajaran dan penyusunan rancangan pembelajaran inovatif abad 21. Metode kegiatan dengan tahapan terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian yaitu: 1) Mahasiswa peserta pengabdian memahami tentang model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik; 2) Mahasiswa peserta pengabdian memahami dengan baik cara mengimplementasikan model-model pembelajaran inovatif tersebut dalam kegiatan pembelajaran; 3) Mahasiswa peserta pengabdian memahami secara spesifik ciri atau karakteristik rancangan pembelajaran inovatif abad 21; 4) Mahasiswa peserta pengabdian memahami tentang penyusunan rancangan pembelajaran inovatif abad 21 dalam wujud RPP. Kata kunci: pendampingan; rancangan pembelajaran inovati abad 21; mahasiswa ABSTRACTThe purpose of this service activity is to increase students' understanding of constructivistic-oriented innovative learning models, characteristics of learning designs and the preparation of innovative learning designs of the 21st century. The method of activity with stages consists of preparation, implementation and evaluation of activities. The results of service activities are: 1) Students participating in the service understand about innovative learning models oriented to constructivism; 2) Students participating in the service understand well how to implement these innovative learning models in learning activities; 3) Students participating in the service understand specifically the characteristics or characteristics of innovative learning designs in the 21st century; 4) Students participating in the service understand about the preparation of innovative learning designs for the 21st century in the form of lesson plans. Keywords: mentoring; 21st century innovation learning design; student
The Role of Geography Education Lecturers in Measuring Students' Basic Literacy and Numeracy Skills at SDN Pujut District, Central Lombok Regency Junaidin Junaidin; Siti Sanisah; Agus Herianto; Ravinesh Rohit Prasad
JURNAL GEOGRAFI Vol 15, No 1 (2023): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v15i1.42453

Abstract

The strategy to improve the quality of education in schools is to improve the management of literacy culture. Literacy refers to the process of reading, writing, and speaking to build, integrate, and critique meaning. Many researchers studied teachers' role in improving elementary school students' literacy and forgot how lecturers also have an essential role. This study aims to identify geography education lecturers' role in measuring students' basic literacy and numeracy skills at SDN Pujut District, Central Lombok Regency. Research Methods use descriptive qualitative. Interviews, observation, and descriptive analysis of documents by purposive sampling obtained data. To increase the credibility of research informants using the principle of data saturation. The results of this study show that students' literacy and numeracy skills are still low because teachers' ability in Central Lombok Regency is also considered to have decreased, so the support of parents is considered a servant. This research also shows that the role of geography education lecturers is very significant in measuring literacy and numeracy skills applied to all fields of learning in an integrated manner so that the roles of teachers and lecturers both have an essential role in measuring the literacy and numeracy of elementary school students.Keywords: Lecturer Role, Literacy Ability, Basic Numeracy of Students 
The Influence of Global Cultural Infiltration on the Sasak Traditional Marriage System in Lombok Island Muhamad Alfin Tarmizi; Siti Sanisah; Sukuryadi Sukuryadi; Ravinesh Rohit Prasad; Junaidin Junaidin; Mas’ad Mas’ad
JURNAL GEOGRAFI Vol 16, No 2 (2024): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v16i2.43446

Abstract

The essence and existence of culture in its process will gradually change due to various factors, such as the infiltration of global culture. This quantitative study aims to determine the effect of global cultural infiltration on the traditional Sasak marriage system in Lombok Island. The research was conducted in Montong Gamang Village, Kopang District, Central Lombok Regency, with 50 respondents determined by purposive sampling. The research data were obtained through a questionnaire analyzed using the Product Moment Correlation formula. The analysis results show a correlation coefficient (0.639) greater than the value of r-Product Moment (0.279) at a significance level of 5%. This means that global cultural infiltration has a significant effect on the traditional Sasak marriage system in Lombok Island. It is suggested that the tribe can wisely select and accept the foreign culture, be aware of negative influences, and maintain local cultural values. Keywords: Cultural Infiltration; Marriage System; Sasak Tribe Custom
PEMANFAATAN TANAH PERKEBUNAN SEBAGAI BENTUK BUDIDAYA TANAMAN PEPAYA CALIFORNIA DI DESA MALAKA KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA Junaidin, Junaidin; Arif, Arif; Gufran, Gufran
International Journal of Natural Science and Engineering Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.599 KB) | DOI: 10.23887/ijnse.v1i1.12435

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru warga masyarakat Desa Malaka dan pemuda berupa penambahan wawasan tentang bagaimana proses penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Pepaya California adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Solusi yang ditawarkan setelah mengikuti kegiatan penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan diharapkan kepada masyarakat Desa Malaka yang menjadi subjek penelitian: masyarakat Mengerti dan memahami arti pentingnya penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Menumbuhkan sikap tanggung jawaban disiplin diri. emperoleh bekal keterampilan dan pengetahuan dasar tentang penelitian Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan. Meningkatkan ilmu pengetahuan dan penelitian sehingga menciptakan peluang usaha. Menciptakan prodak yang berkualitas. Adapun hasil dari pengabdian ini: Kegiatan-kegiatan pengabdian pada masyarakat menjadi garda terdepan dalam mendekatkan Universitas/Perguruan Tinggi, sehingga masyarakat tidak hanya menatap Perguruan Tinggi sebagai sebuah Lembaga Pendidikan yang besar dengan kemampuan mencetak para sarjan, namun juga dapat berkontribusi langsung para masyarakat. Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan  Tahun 2017, berupa penambahan wawasan, perolehan pengalaman pengembangan, minat, bakat dan pengetahuan tentang penyusunan RTRW Desa. Bahwa dengan dilaksanakannya kegiatan Pelatihan Budidaya Tanaman Pepaya California sebagai Bentuk Pemanfaatan Tanah Perkebunan Tahun 2017 sangat terbantu, baik dari sisi pengetahuan dasar juga dengan pemahaman Bagaimanakah Budidaya Tanaman Pepaya California yang baik dan sukses.
Exploring The Impact of Deep Learning Approaches on Geography Education: Student Perceptions and Educational Implications Syafril; Junaidin
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 7 (2025): July
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i7.12276

Abstract

This study addresses the gap in understanding the effectiveness of deep learning approaches in geography education, particularly in higher education contexts where such methods are not yet fully integrated. The aim of this study was to explore students' perceptions of deep learning in geography courses, focusing on its impact on their understanding of the subject, critical thinking, student engagement, and the role of technology. A quantitative descriptive research design was employed, utilizing a structured questionnaire administered to 100 geography students from a university in Indonesia. The questionnaire explored five key areas: understanding of deep learning, deep learning-based instructional processes, student engagement, the use of technology, and the development of higher-order thinking skills. The results showed that students perceived deep learning as effective in enhancing their understanding of geography, improving critical thinking skills, and increasing engagement in the learning process. Students also recognized the importance of integrating technology, such as digital tools and geospatial data, in fostering deeper learning experiences. However, while students expressed positive perceptions, the study highlighted the need for further professional development for educators in applying deep learning strategies effectively. In conclusion, deep learning has the potential to significantly enhance geography education by fostering deeper engagement, critical thinking, and the use of technology. It is recommended that higher education institutions invest in training faculty members to integrate deep learning methods into their teaching practices and that future research explore the long-term effects of deep learning on academic performance and real-world applications in geography.
Implementasi The 70:20:10 Model Untuk Meningkatkan Spatial Literacy Skills Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu di SMPN 5 Jonggat Tri Rahmania; Junaidin Junaidin; Mas'ad Mas'ad; Siti Sanisah; Arif Arif
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4237

Abstract

This study aims to assess the effectiveness of the 70:20:10 teaching model in improving students' spatial literacy skills in geography. This research applied the Classroom Action Research (PTK) approach implemented in two cycles at SMP Negeri 5 Jonggat with a focus on students in class VII IPS. The 70:20:10 model combines experiential learning (70%), social learning (20%), and formal learning (10%). Data were obtained through observations, interviews, and spatial literacy tests, which were then analyzed both quantitatively and qualitatively. The findings showed an increase in the average score from 45.39 (pre-cycle) to 62.87 (cycle I) and 75.24 (cycle II). The model proved effective in developing spatial skills through an active, collaborative and reflective approach. Therefore, the 70:20:10 model is a relevant teaching strategy to improve spatial literacy competencies and geography learning in the 21st era.