Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Mitigasi bencana dalam mempersiapkan kader siaga bencana dan perawatan luka akut pada kondisi cedera di Desa Mandalahaji Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung: Mitigasi Bencana Ade Tika Herawati; Sri Mulyati Rahayu; Sumbara Sumbara; Inggrid Dirgahayu
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 7 No. 1 (2025): February
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v7i1.2343

Abstract

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Desa Mandala Haji dalam menghadapi bencana melalui pelatihan kader siaga bencana dan perawatan luka akut. Mitra dalam program ini adalah kader desa, pemerintah desa, serta tenaga akademik dari Universitas Bhakti Kencana. Metode yang digunakan mencakup edukasi, simulasi, serta praktik mitigasi bencana dan penanganan kegawatdaruratan, seperti bantuan hidup dasar dan penanganan patah tulang. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman kader, di mana sebelum pelatihan hanya 18% yang memiliki tingkat pengetahuan baik, sementara setelah pelatihan meningkat menjadi 72%. Kesimpulannya, edukasi dan simulasi yang diberikan terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan kader terhadap bencana. Program ini berkontribusi dalam membangun kapasitas masyarakat secara berkelanjutan, sehingga dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan strategi mitigasi berbasis komunitas. Disaster Mitigation in Preparing Disaster Preparedness Cadres and Acute Wound Care in Injury Conditions in Mandala Haji Village, Pacet District, Bandung Regency This program aims to enhance the disaster preparedness of the Mandala Haji Village community through training for disaster preparedness cadres and acute wound care. The partners in this program include village cadres, the village government, and academic staff from Bhakti Kencana University. The methods used involve education, simulations, and practical training in disaster mitigation and emergency response, such as basic life support and fracture management. The evaluation results showed a significant improvement in cadre knowledge, with only 18% having a good level of knowledge before the training, increasing to 72% afterward. In conclusion, the provided education and simulations were proven effective in enhancing cadre preparedness for disasters. This program contributes to building sustainable community capacity and can serve as a model for other regions in developing community-based disaster mitigation strategies.
Masyarakat SIAP Sehat: Pemberdayaan Masyarakat dalam Tanggap Darurat dan Perawatan Luka Ringan Inggrid Dirgahayu; Lia Nurlianawati; Vina Vitniawati; Sumbara Sumbara
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i3.886

Abstract

Introduction: Communities, particularly vulnerable groups such as adolescents and community volunteers, often face limitations in knowledge and skills when dealing with health emergencies and disasters. Low preparedness can increase the risk of complications in emergency cases, including wound care, adolescent reproductive health, and the need for basic first aid. Therefore, empowerment-based community interventions are necessary to enhance the capacity of individuals and communities. Objective: The purpose of this service was to improve the knowledge and skills of teenagers and RW 04 cadre in Cibeet Village, Ibun, Bandung Regency, in dealing with health emergencies and disasters. Method: This public service was conducted using educational methods, demonstrations, and simulations covering wound care, disaster identification, prevention of reproductive health emergencies in adolescents, and Basic Life Support (BLS). Before and after the activity, pre-tests and post-tests were conducted to measure the participants' knowledge level. Result: The evaluation results showed a significant increase in knowledge among adolescents and cadres after the activities, reflecting the effectiveness of participatory learning methods in community empowerment. These activities contributed to strengthening community resilience, particularly among vulnerable groups, through enhanced capacity in prevention, early management, and health emergency response. Conclusion: There was a significant increase in knowledge among adolescents and cadres after the activity, reflecting the effectiveness of participatory learning methods in community empowerment.
Pengalaman Suami yang Mengikuti Vasektomi di Kecamatan Cimahi Tengah : Experience of Husbands who Follow Vasectomy in Cimahi Tengah Subdistrict Fikri Mourly Wahyudi; R. Siti Jundiah; Novitasari Tsamrotul Fuadah; Inggrid Dirgahayu; Yuyun Sarinengsih
NERS Jurnal Keperawatan Vol. 18 No. 2 (2022): NJK Volume 18, Number 2
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.v18i2.123

Abstract

This research is based on the phenomenon of the low participation of men in family planning, which is only 1,5%, whereas the vasectomy method is only chosen by 0,3% of fertile-age couples. Various reasons make men's participation very low. This research was conducted to explore the experiences of husbands who had gone through vasectomy that could answer the phenomena. The study was conducted on 6 participants married men aged 44 to 62 years old, with the duration of vasectomy in 1 to 25 years. The method used is qualitative research with a phenomenological approach to explore the phenomena that exist in the experience of husbands who had gone through vasectomy procedures. The data of the research was collected through interviews with participants, checked with data triangulation, and analyzed by the Colaizzi approach. The study produced 8 themes: readiness to do vasectomy, pain, anxiety, getting rewards, no physical changes, no changes in sexual intercourse, and rumors, as well as 18 sub-themes. Researchers recommend health education and evaluation of vasectomy acceptors, and further researchers to continue research with other methods so deeper phenomena can be explored.
Optimalisasi Uks Untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Remaja Tentang Kegawatdaruratan Dan Perawatan Luka Sumbara; Inggrid Dirgahayu; Lia Nurlianawati; Vina Vitniawati
Mega Buana Journal of Innovation and Community Service Vol. 5 No. 1 (2026): Juli 2026
Publisher : LPPM Universitas Mega Buana Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59183/vhsa9y88

Abstract

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja di lingkungan sekolah, khususnya terkait kegawatdaruratan dan perawatan luka. Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami cedera ringan dan kondisi darurat kesehatan akibat aktivitas sehari-hari, sementara literasi kesehatan dan kesiapsiagaan pertolongan pertama masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja melalui optimalisasi program UKS dengan pendekatan edukasi, demonstrasi, dan simulasi. Metode yang digunakan meliputi pemberian pendidikan kesehatan, demonstrasi perawatan luka sederhana, serta simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi awam. Evaluasi efektivitas program dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test pada 100 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan pengurus UKS di SMP Negeri 66 dan SMKN 6 Kota Bandung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan tingkat pengetahuan dan kesiapsiagaan peserta setelah intervensi, ditandai dengan pergeseran seluruh peserta ke kategori pengetahuan sangat baik pada post-test. Temuan ini menunjukkan bahwa optimalisasi UKS dengan metode pembelajaran aplikatif mampu meningkatkan literasi kesehatan dan kesiapsiagaan kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Disarankan agar program edukasi kegawatdaruratan dan perawatan luka diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam kegiatan rutin UKS untuk memperkuat ketahanan kesehatan sekolah.
Associations Between Physical Activity and Multiple Maternal Health Outcomes Among Pregnant Women: A Cross-Sectional Study Tri Nur Jayanti; R. Nety Rustikayanti; Inggrid Dirgahayu
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i1.949

Abstract

important role in maintaining maternal health. However, inappropriate activity levels may be associated with various adverse maternal outcomes. Previous studies have often focused on single health outcomes, limiting understanding of how physical activity relates to multiple maternal conditions within the same population. Objective: This study aimed to comprehensively examine the associations between physical activity levels and multiple maternal health outcomes, including constipation, low back pain (LBP), blood pressure, chronic energy deficiency (CED), and anemia, among pregnant women. Methods: This cross-sectional correlational study involved 251 pregnant women consecutively recruited from two community health centers. Physical activity was assessed using the Pregnancy Physical Activity Questionnaire (PPAQ), while constipation, LBP, blood pressure, CED, and anemia were measured using the Constipation Assessment Scale (CAS), Numeric Rating Scale (NRS), and a standardized checklist form. Data were analyzed using Chi-square and Fisher’s exact tests, with odds ratios (ORs) and 95% confidence intervals (CIs) calculated for significant associations. Results: Most respondents reported moderate levels of physical activity. Physical activity level was significantly associated with LBP severity (p = 0.020), with women engaging in vigorous activity showing higher odds of severe LBP compared with those performing sedentary to moderate activity (OR = 1.83; 95% CI: 0.94–3.54). No statistically significant associations were observed between physical activity level and constipation, blood pressure, CED, or anemia. Conclusion: Low back pain was the only maternal health outcome significantly associated with physical activity level in this study. These findings highlight the importance of antenatal care interventions that prioritize screening for LBP, assessment of physical workload patterns, and guidance on safe and balanced physical activity to prevent severe LBP during pregnancy.
PENERAPAN TEKNIK VOCALIZATION DAN DEEP BREATHING UNTUK MENGATASI NYERI KALA I PERSALINAN PARTUS MATURUS: STUDI KASUS Raden Nety Rustikayanti; A Azis; Inggrid Dirgahayu; Tri Nur Jayanti
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.630

Abstract

Pendahuluan: Persalinan normal ditandai dengan adanya kontraksi uterus yang semakin meningkat seiring bertambahnya dilatasi serviks. Kontraksi yang semakin sering dan kuat dipersepsikan sebagai nyeri persalinan yang memengaruhi kenyamanan dan psikologis ibu bersalin. Salah satu intervensi yang dapat diberikan yaitu penerapan teknik deep breathing-vocalization. Tujuan penelitian untuk menganalisis penerapan teknik deep breathing-vocalization pada pasien dengan nyeri persalinan. Metode: Jenis penelitian yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi. Sampel sebanyak 2 pasien ibu bersalin fase aktif kala I yaitu Ny. A (G2P1A0) dan Ny. D (G1P0A0). Nyeri persalinan dipersepsikan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil: Sebelum intervensi, Ny. A dan Ny. D mengalami nyeri berat dengan skala NRS 8. Setelah diberikan teknik deep breathing dan vocalization, skala nyeri Ny. A menurun dari 8 menjadi 7, sedangkan Ny. D menurun dari 8 menjadi 6. Kedua klien tampak lebih rileks, mampu mengikuti pola napas, dan lebih terkontrol saat menghadapi kontraksi. Kesimpulan: Teknik deep breathing dan vocalization dapat membantu menurunkan nyeri persalinan kala I serta meningkatkan kenyamanan ibu bersalin. Intervensi ini dapat digunakan sebagai tindakan mandiri keperawatan dan dikombinasikan dengan pendekatan nonfarmakologis lain sesuai kebutuhan ibu.
Analisis Asuhan Keperawatan pada Pasien Postpartum dengan Ketidaknyamanan Pasca Partum melalui Penerapan Effleurage Massage: Studi Kasus Rani Asela Ramadani; Tri Nur Jayanti; R. Nety Rustikayanti; Inggrid Dirgahayu
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 2 (2026): April 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i2.2495

Abstract

Ketidaknyamanan pasca partum merupakan masalah yang umum dialami ibu setelah persalinan spontan akibat kontraksi uterus selama proses involusi dan trauma jaringan perineum. Kondisi ini dapat mengganggu mobilisasi, istirahat, aktivitas sehari-hari, dan proses menyusui sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis asuhan keperawatan pada pasien postpartum dengan ketidaknyamanan pasca partum melalui penerapan effleurage massage di Ruang Nifas RSUD Welas Asih Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan pada satu pasien postpartum spontan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik menggunakan pendekatan BUBBLE-HE, dan telaah dokumentasi rekam medis untuk mendapatkan informasi mengenai riwayat persalinan, hasil pemeriksaan, terapi yang diberikan, dan catatan perkembangan pasien. Intervensi berupa effleurage massage pada area abdomen dan punggung diberikan selama ±15–20 menit, kemudian skala nyeri dievaluasi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Sebelum intervensi, pasien mengalami ketidaknyamanan pasca partum uang ditandai dengan keluhan nyeri skala 7 disertai gangguan kenyamanan dan keterbatasan mobilisasi. Setelah intervensi, skala nyeri menurun menjadi 4, pasien tampak lebih rileks, nyaman, serta mampu melakukan mobilisasi dan menyusui dengan lebih baik. Penerapan effleurage massage memberikan berbagai dampak positif pada ibu postpartum sehingga diharapkan intervensi keperawatan nonfarmakologis berbasis bukti ini dapat dipertimbangkan dalam penatalaksanaan ketidaknyamanan pasca partum.