Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Komposisi Campuran Sabut dan Tempurung Kelapa terhadap Nilai Kalor Biobriket dengan Perekat Molase Otong Nurhilal; Sri Suryaningsih
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.4 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v2i1.15606

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis yang menjadi salah satu penghasil kelapa terbesar di dunia. Dalam satu kelapa  menghasilkan daging kelapa sebesar 28%, sisanya adalah sabut kelapa sebesar 35% dan tempurung kelapa sebesar 12% yang sering dianggap sebagai limbah sisa. Salah satu bentuk pemanfaatan dari limbah sabut dan  tempurung kelapa yaitu dengan dibuat menjadi briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi yang optimal pada pembuatan briket campuran sabut dan tempurung kelapa dengan menggunakan perekat tetes tebu (molase). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode ekperimen dengan tahapan persiapan bahan, karbonisasi bahan, pembuatan briket, dan pengujian briket. Pada pembuatan briket, bahan perekat yang digunakan adalah perekat molase dengan konsentrasi 10%. Pengujian yang dilakukan meliputi uji proksimat, uji nilai kalor, dan uji pembakaran dengan metode WBT (Water Boiling Test)  untuk mengetahui efisiensi pembakaran. Dari hasil penelitian menunjukan peningkatan nilai kalor seiring dengan penambahan konsentrasi tempurung kelapa. Sehingga komposisi yang optimal pada pembuatan briket campuran sabut dan tempurung kelapa adalah 50% : 50% dengan nilai kalor sebesar 6211 kal/g dan telah memenuhi Standar Briket Nasional. Dan dari hasil uji pembakaran didapatkan efisiensi pembakaran sebesar 9,861%. 
Kajian Pengaruh Temperatur Sintering terhadap Peningkatan Derajat Kristalinitas Karbon dari Limbah Kulit Kemiri Nana Suryana; Sahrul Hidayat; Otong Nurhilal
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.605 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v5i2.35078

Abstract

Beberapa alotrop karbon memiliki kemampuan menginterkalasi ion, atom atau molekul sehingga berpotensi diterapkan pada beragam aplikasi teknologi. Grafit merupakan salah satu alotrop karbon dengan kemampuan interkalasi serta transport ion yang baik. Pada penelitian ini dilakukan sintesis karbon aktif berbahan baku limbah kulit kemiri, dengan temperatur karbonisasi 700oC dan aktivator kimiawi berupa larutan KOH 30%. Setelah proses aktivasi, diberikan perlakuan sintering pada karbon aktif dengan temperatur masing-masing 950oC dan 1000oC, proses tersebut diharapkan dapat meningkatkan fase kristal karbon aktif mendekati fase grafit. Hasil pengujian menunjukkan struktur dominan amorf, dengan derajat kristalinitas 35.23% serta 35.44%, dan derajat grafitisasi arah vertikal berkisar di 36% serta 37% untuk arah horizontal. Perlakuan proses sintering dengan temperatur 1000oC memiliki derajat kristalinitas tertinggi yaitu 35.44%. Hal ini mengindikasikan bahwa proses sintering berpengaruh terhadap perubahan derajat kristalinitas karbon aktif.
Alat Perangkap Hama dengan Metode Cahaya UV dan Sumber Listrik Panel Surya Wahyu Alamsyah; Otong Nurhilal; Jajat Yuda Mindara; Aswad Hi Saad; Setianto Setianto; Sahrul Hidayat
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.691 KB) | DOI: 10.24198/jiif.v1i01.10915

Abstract

Pada kegiatan pengabdian pada masyarakat ini, telah berhasil didesain dan dibuat alat perangkap hama dengan basis cahaya UV yang sumber listriknya dari panel surya. Untuk memudahkan di dalam  penggunaannya, alat telah dilengkapi dengan kontroler sehingga pengisian baterai dan penyalaan lampu dapat diatur waktunya secara otomatis. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, alat dapat berfungsi dengan baik, yaitu pengisian baterai berlangsung normal dan pada saat matahari terbenam, secara otomatis lampu UV menyala selama 10 jam. Setelah menyala 10 jam lampu UV akan mati secara otomatis untuk menghemat dan mengefisiensikan daya listrik yang digunakan. Berdasarkan hasil pengujian alat telah berfungsi dengan baik dan dapat menjebak hama yang biasa aktif di malam hari.
Synthesis and Characterization of Water Hyacinth Porous Carbon for Lithium Sulfur Battery Cathode Composites Otong Nurhilal; Sahrul Hidayat; Risdiana .
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jiif.v7i2.43356

Abstract

Water hyacinth as a weed plant is a type of biomass with a fast growth rate. This condition causes problems in the environment and has a negative impact on life, including health and economic problems. To provide added value to the utilization of water hyacinth, a synthesis and characterization of porous carbon from water hyacinth has been carried out which is used as a sulfur cathode matrix in lithium sulfur batteries. From the results of the N2 adsorption-desorption test, the surface area of porous carbon was 297.7 m2/g and the total pore volume was 0.332 cm3/g. The results of the composite test showed that the sulfur content in the composite for a ratio of 1:2.5 was 60.6 wt%. The cathode of a lithium sulfur battery has been made from a composite with a thickness 100 mm and a sulfur loading of 2.80 mg/cm2. The initial discharge capacity of the battery is 264 mAh/g with a coulomb efficiency of up to 70%. Battery discharge capacity of 175.5 mAh/g at 50th cycle.
Modifikasi Karbon Berpori Eceng Gondok Doping Nitrogen Untuk Matrik Katoda Baterai Litium Sulfur Dengan Kapasitas Tinggi Otong Nurhilal; Sahrul Hidayat; Dadan Sumiarsa; Risdiana Risdiana
Chimica et Natura Acta Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v11.n2.46078

Abstract

Karbon berpori dari biomassa menjadi kandidat potensial untuk matrik katoda baterai litium sulfur. Karbon berpori harus memiliki konduktivitas listrik yang tinggi untuk meningkatkan kontak elektrik sulfur yang bersifat isolator.  Modifikasi karbon berpori doping N diperlukan untuk meningkatkan kinerja baterai litium sulfur. Pada penelitian ini telah dibuat karbon berpori Eceng Gondok doping N, selanjutnya dikompositkan dengan sulfur dan diaplikasikan untuk katoda baterai litium sulfur. Hasil pengujian dengan FTIR menunjukkan adanya gugus C=N pada 1657 cm-1. Hasil pengujian SEM-EDS terhadap komposit karbon berpori doping N/sulfur diperoleh kadar sulfur sebesar 66,95 wt% untuk rasio 1:2,5. Hasil pengujian dengan four line probe (FLP) diperoleh konduktivitas listrik karbon berpori doping N sebesar 17,16 x 10-2 S/cm, komposit karbon berpori doping N/sulfur sebesar 14,61 x 10-4 S/cm. Katoda baterai litium sulfur telah berhasil dibuat dari komposit KBEGN/S dengan ketebalan 200 mm dan kandungan sulfur sebesar 4,93 mg/cm2. Hasil pengukuran charge-discharge baterai diperoleh kapasitas pengosongan awal sebesar 584 mAh/g. Nilai kapasitas pengosongan awal yang diperoleh lebih besar dari baterai dengan karbon berpori tanpa doping N sebesar 312 mAh/g untuk kandungan sulfur 3,57 mg/cm2.
Comparing the Effect of Using DC Fans and Heatsinks As Cooling Systems on Photovoltaic Efficiency Hakim, Muhammad Fuad Abdul; Putra, Mohammad Alexin; Nurhilal, Otong
TURBO [Tulisan Riset Berbasis Online] Vol 12, No 2 (2023): TURBO: Jurnal Program Studi Teknik Mesin
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/trb.v12i2.2947

Abstract

One of the utilizations of solar energy is to be converted into electricity using photovoltaics (PV). The most important performance parameter of PV is efficiency. The efficiency will decrease as the PV temperature increases. Therefore, a cooling system is needed to increase PV efficiency. The objective of the research is to determine and compare the effect of DC fan and heatsink as a cooling system on PV efficiency. Four PV units with a capacity of 30 WP are used. The experiment is conducted as follows, the first PV is equipped with DC fan cooling, the second PV with heatsink cooling, the third PV with a combination of DC fan and heatsink cooling, and the fourth PV is without cooling as a reference. The result shows, that the combination of DC fan and heatsink cooling system provides the highest efficiency improvement, namely 32.08%, followed by DC fan cooling, namely 16.04%. As for heatsink cooling, there is no improvement in efficiency. The combination of DC fan and heatsink cooling system can dissipate heat from the PV more effectively than DC fan cooling system, so the PV temperature is lower and produces higher output power and efficiency. The heatsink cooling system is not effective in dissipating heat because of limited natural airflow due to the low PV stand which is only 30 cm from the ground.
OPTIMASI KONDISI NILAI KALOR ARANG DENGAN PROSES CO-TOREFAKSI BIOMASSA DAN PLASTIK MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM) Sihombing, Bintang Angelica Natalya; Wahyu Kristian Sugandi; S. Rosalinda; Otong Nurhilal
Prosiding Sains dan Teknologi Vol. 3 No. 1 (2024): Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SAINTEK) ke 3 - Januari 2024
Publisher : DPPM Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas merupakan ruang publik yang akan menghasilkan sampah organik maupun anorganik setiap harinya. Keberadaan sampah dapat diurai dengan proses konversi termokimia dua bahan atau co-torefaksi menjadi bahan bakar alternatif seperti briket. Plastik yang bersifat hidrofobik dengan nilai kalor tinggi diketahui dapat menjadi penyumbang hidrogren sehingga dapat memperbaiki nilai kalor pada biomassa. Jenis bahan, suhu dan waktu tinggal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi proses co-torefaksi. Menggunakan Response Surface Methodology (RSM) tipe CCD dengan batas minimum suhu yaitu 250°C dan batas maksimum suhu yaitu 400°C serta batas minimum waktu tinggal yaitu 30 menit dan batas maksimum waktu tinggal yaitu 120 menit. Diketahui suhu 343°C dengan waktu tinggal 102 menit menghasilkan nilai kalor optimal sebesar 6551 kal/g dengan kadar air sebesar 0.96%, kadar abu sebesar 18.65%, kadar zat terbang 49.90% dan kadar karbon terikat sebesar 31.45%.
KONVERSI ENERGI BRIKET SAMPAH DAUN DAN RANTING POHON MENUJU ECO-CAMPUS Nurhilal, Otong; Sugandi, Wahyu Kristian
Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jme.v14i2.60653

Abstract

Eco-campus (green campus) adalah program untuk menciptakan kondisi kampus yang ramah lingkungan melalui penghijauan di berbagai sudut kampus. Salah satu aktivitas program kampus hijau adalah memperbanyak penanaman pepohonan sehingga menciptakan kondisi yang sejuk, oksigen bersih yang melimpah dan keindahan. Namun, keberadaan pohon-pohon yang banyak akan menghasilkan sampah daun-daun dan ranting-ranting pohon yang sudah kering. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah mengelola sampah tersebut dengan mengolah sampah organik menjadi produk baru yang berguna seperti eko-briket/biobriket. Tujuan dari penelitian ini adalah konversi limbah organik menjadi energi alternatif berupa briket. Proses utama pada pembuatan briket adalah torefaksi, kompresi briket dan pengujian proksimat serta laju pembakaran. Torefaksi dilakukan pada variasi suhu 200oC, 300oC, and 400oC selama 30, 60, 90, 120 menit. Briket dibuat dengan menggunakan variasi ukuran partikel 20 mesh, 40 mesh, 60 mesh dan variasi tekanan . Hasil pengujian proksimat arang menunjukkan kadar abu, kadar air, zat volatil dan karbon terikat SNI 01-6235-2000. Hasil pengujian nilai kalor tertinggi sebesar 5650 kal/g pada suhu 400oC dengan waktu 90 menit. Hasil pengujian laju pembakaran briket diperoleh dengan ukuran partikel arang  60 mesh dengan tekanan   menghasilkan briket dengan kerapatan tertinggi yaitu 0,88 ,  laju pembakaran  sebesar 0,71 g/menit dan waktu pembakaran selama  88,07 menit.
Effect of Thermoelectrics as a Cooling System on Photovoltaic Efficiency and Economic Analysis Abdul Hakim, Muhammad Fuad; Nurhilal, Otong
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jiif.v9i1.60647

Abstract

Photovoltaics (PV) are one way to utilize sunlight as a renewable energy source. However, currently commercially available PV is only capable of converting around 15% of sunlight into electrical energy, while the rest is converted into heat which can increase the temperature of the PV itself. On the other hand, increasing PV temperature results in a decrease in the output power produced and ultimately reduces efficiency. Therefore, efforts are needed to reduce the PV temperature in order to increase efficiency, namely by adding a cooling system to the PV. One PV cooling system that tends to be new is the thermoelectric cooler (TEC). However, the use of TEC will increase the cost of TEC components and electrical power. This research aims to determine the effect of using TEC as a cooling system on PV efficiency and its economic analysis. Two PV units are used, with a TEC cooling system and without a cooling system which is used as a reference. Experiments were carried out outdoors in direct sunlight. The results showed that the use of TEC as a cooling system was able to increase PV efficiency by 6.45%. Meanwhile, from an economic analysis using levelized cost of energy (LCOE), it was found that, although it can increase PV efficiency, the use of TEC as a cooling system has an LCOE of Rp. 15,871/kWh, meaning that using TEC is more expensive than LCOE without a cooling system, namely only Rp. 5,350/kWh.
Synthesis of Paraffin-Based Phase Change Material (PCM) Composites with Expanded Graphite as a Cooling System for Solar Panels Azka, Muhamad Fauzan; Hidayat, Sahrul; Gultom, Noto Susanto; Setianto, Setianto; Nurhilal, Otong
JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jiif.v10i1.68644

Abstract

The increase in the surface temperature of solar panels can reduce their efficiency. This issue can be mitigated through the implementation of cooling systems. One of the currently developed cooling methods involves the use of phase change materials (PCMs). Paraffin is the most commonly used PCM for solar panel cooling systems due to its melting point, which falls within the operating temperature range of solar panels. However, paraffin has a drawback in the form of low thermal conductivity. To overcome this limitation, paraffin is often composited with materials possessing high thermal conductivity, such as graphite. Graphite can also be expanded to alter its mechanical and thermal properties. The expansion of graphite using a solution of H₂SO₄ and K₂S₂O₈ can increase its surface area to 15.669 m²/g and 201.945 m²/g for 5% and 10% solid–liquid variation ratios, respectively. The addition of expanded graphite (EG) can also enhance the thermal conductivity of the PCM to 0.31 W/mK, 0.37 W/mK, and 0.44 W/mK with 5 wt%, 10 wt%, and 15 wt% EG additions, respectively. The paraffin-based PCM cooling system can reduce the average surface temperature by 15.36% and increase the overall efficiency by 0.3%. A PCM cooling system composed of paraffin and expanded graphite (95%/5%) can lower the average surface temperature by 20.32% and increase total efficiency by 0.4%. The PCM system with a 90%/10% paraffin-EG composition can reduce the surface temperature by 32.44% and enhance total efficiency by 1.2%. Meanwhile, the 85%/15% paraffin-EG cooling system achieves a temperature reduction of 32.52% and a total efficiency improvement of 1.27% compared to the system without cooling.