Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Kajian Literatur: Tinjauan Remdesivir sebagai Pilihan Terapi pada COVID–19 Wien Maryati Awdisma; Ulfa Syafli Nosa; Didik Hasmono; Nurmainah Nurmainah
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.11650

Abstract

Infeksi virus corona baru, pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2019, dengan jumlah kasus terkonfirmasi lebih dari 33 juta kasus dan lebih dari 900.000 kematian dilaporkan. Terdefinisi sebagai pandemi, dan belum ada “obat khusus” yang dianggap dapat mengatasinya. Salah satu pendekatan terapeutik yang sedang dievaluasi dalam berbagai uji klinis adalah saat ini adalah remdesivir,telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM sebagai obat Emergency Use Authorization (EUA) sebagai opsi  penggunaan darurat Tujuan penulisan ini untuk memberikan gambaran tentang penemuan remdesivir, mekanisme aksi, dan penelitian terkini yang mengeksplorasi efektivitas klinisnya. Metode penelitian dilakukan dengan pencarian sumber data PubMed, Google Scholar, Science Direct dan Cochrane hingga November 2020 dengan kata kombinasi kata kunci Convalescent Plasma”; “SARS-CoV-2”, Virus Corona dan dibatasi pada jurnal berbahasa Inggris. yang mengulas penemuan remdesivir, mekanisme kerja, farmakokinetik, farmakodinamik, dan efikasi uji klinis remdesivir dalam pengobatan pasien COVID-19. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa remdesivir memiliki efek klinis yang baik setelah 10 hari pengobatan pada pasien COVID-19.Kata Kunci: COVID-19, EUA, Remdesivir, SARS-CoV-2 The new coronavirus infection identified at the end of December 2019 and is receiving a lot of attention around the world. Globally, the number of confirmed cases has increased to more than 33 million cases and more than 900,000 deaths have been reported. This condition is defined as a pandemic situation, and so far no "special drug" is believed to be able to overcome it. One therapeutic approach currently being evaluated in various clinical studies is remdesivir. This drug is approved by the Food and Drug Administration (BPOM) as Emergency Medicine (EUA). This emergency option for remdesivir is considered a promising option for treating patients with COVID19. The purpose of this paper is to provide an overview of recent studies investigating the discovery of remdesivir, its mechanism of action, and its clinical efficacy. The survey method was conducted by searching the data sources of PubMed, Google Scholar, Science Direct, and Cochrane until November 2020. Researchers limit literary studies to English journals. The results of 1000 articles searched that met the selection criteria were 10 articles examining the results of remdesivir, its mechanism of action, pharmacokinetics, pharmacodynamics, and the efficacy of clinical remdesivir in the treatment of patients with COVID 19. The conclusion of this study is that remdesivir has a good clinical effect 10 days after treatment of patients with COVID19.
Analisis Pengaruh Penggunaan Depot Medroxyprogesterone Acetate Terhadap Kenaikan Berat Badan Akseptor di Puskesmas Perumnas II Pontianak Nurmainah Nurmainah; Sri Wahdaningsih; Syaazaratul Qamelia Innas
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8400

Abstract

Kontrasepsi suntik merupakan salah satu kontrasepsi hormonal yang masih menjadi pilihan akseptor dalam mengatur kehamilan. Namun demikian, penggunaan kontrasepsi suntik Depot Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) diketahui dapat meningkatkan berat badan selama pemakaian enam (6) bulan atau lebih. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan DMPA terhadap kenaikan berat badan akseptor. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional) yang bersifat analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor baru suntik DMPA di Puskesmas Perumnas II Pontianak pada bulan Januari 2018 hingga Maret 2019. Variabel dari penelitian ialah usia, pekerjaan, paritas, dan kenaikan berat badan. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis paired t-test. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah purposive sampling. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 81 akseptor. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar akseptor berusia 20-35 tahun (71,6%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (97,5%), mempunyai 2 anak atau lebih (77,8%), dan memiliki kenaikan berat badan 0-2 kg (44,4%). Berdasarkan hasil analisis paired t-test bahwa penggunaan suntik KB 3 bulan (DMPA) memiliki pengaruh terhadap kenaikan berat badan akseptor dengan nilai p=0,001. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh penggunaan DMPA terhadap kenaikan berat badan akseptor. Injectable contraception is a hormonal contraceptive used by acceptors in regulating pregnancy. However, the use of Depot Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) is known to increase body weight after six months of use or more.. The purpose of this study was to analysis the effect of using DMPA on weight gain. This study was an observational study with cross sectional analytic study design. The population in this study were all new acceptors who used DMPA at the Perumnas II Pontianak Public Health Care in January 2018 to March 2019. Variables from the study were age, occupation, parity, and weight gain. Analysis was performed using paired t-test analysis. The sampling technique used was purposive sampling, where the number samples that met the inclusion and exclusion criteria were 81 acceptors. The results showed that most of the acceptors were aged 20-35 years (71,6%), work as housewives (97,5%), had 2 or more children (77,8%), and gained weight 0-2  kg (44,4%). Based on the results of paired t-test analysis, the use of DMPA has an effect on the acceptor’s weight gain with a value of p = 0.001. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of DMPA on acceptor weight gain.Keywords: Acceptors, DMPA, weigt gain 
Analisis Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Hormonal dengan Obesitas dan Hiperkolesterolemia di Puskesmas Pal III Pontianak Annisa Mutia Yusran; Nurmainah Nurmainah; Mohamad Andrie
Jurnal Pharmascience Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i1.11697

Abstract

Pengaturan kehamilan dapat dilakukan dengan menggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi hormonal seperti pil dan suntik memiliki efek samping peningkatan berat badan dan kadar kolesterol. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara obesitas dan hiperkolesterolemia dengan penggunaan kontrasepsi hormonal pada akseptor di Puskesmas Pal III Pontianak. Metode yang digunakan merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional) yang bersifat analitik. Teknik pengambilan sampel ialah  purposive sampling dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 akseptor. Metode pengumpulan data menggunakan rekam medis akseptor pengguna kontrasepsi hormonal periode Januari-Juni 2020. Pengukuran kadar kolesterol pada akseptor dilakukan dengan menggunakan alat Easy Touch® GCU dengan pengambilan sampel sebanyak satu kali. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis chi-square. Hasil analisis jenis kontrasepsi hormonal menunjukkan bahwa persentase akseptor pengguna kontrasepsi hormonal yang mengalami obesitas untuk pil KB sebanyak 17,5%, dan suntik sebanyak 32,5%. Persentase akseptor pengguna kontrasepsi hormonal yang mengalami hiperkolesterolemia untuk pil KB sebanyak 20%, dan suntik sebanyak 27,5%. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas (p value = 0,058) dan hiperkolesterolemia (p value = 0,342) dengan penggunaan kontrasepsi hormonal. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tidak ada hubungan antara jenis kontrasepsi hormonal dengan risiko obesitas dan hiperkolesterolemia. Kata Kunci: Kontrasepsi Hormonal, Risiko Obesitas, Risiko Hiperkolesterolemia  Pregnancy control can be done using contraception. Hormonal contraceptives such as pills and injections have side effects of increasing weight and cholesterol levels. The purpose of this study was to analyze the relationship between obesity and hypercholesterolemia with the use of hormonal contraceptives in acceptors at the Pal III Public Health Center Pontianak. The method used was an observational study with an analytic cross-sectional design. The sampling technique was purposive sampling with the number of samples that met the inclusion criteria as many as 40 acceptors. The data collection method used medical records of acceptors of hormonal contraceptive users for the period January-June 2020. Measurement of cholesterol levels in acceptors was carried out using the Easy Touch® GCU device by taking samples once. The analysis was carried out using chi-square analysis. The results of the analysis of types of hormonal contraception showed that the percentage of hormonal contraceptive users who were obese was 17.5% for family planning pills, and 32.5% for injections. There was no significant relationship between the use of hormonal contraception at Pal III Public Health Center Pontianak with the risk of obesity (p-value = 0.058) and hypercholesterolemia (p-value = 0.342). This study concludes that there is no relationship between the type of hormonal contraception with the risk of obesity and hypercholesterolemia.
Analisis Biaya Medis Langsung Pasien Hepatitis B Kronik Rawat Jalan di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Mariani, Luluk; Nurmainah, Nurmainah; Rizkifani, Shoma
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i1.16054

Abstract

Hepatitis B kronik yang tidak diterapi dengan tepat dapat berkembang menjadi komplikasi. Pengobatan hepatitis B kronik diketahui menghabiskan biaya yang tinggi sehingga diperlukan analisis biaya untuk mengevaluasi dan menggambarkan biaya pengobatan. Penelitian ini bertujuan menghitung biaya medis langsung berdasarkan perbedaan tanpa komplikasi dan komplikasi serta menggambarkan komponen yang menjadi faktor besarnya biaya medis langsung pasien hepatitis B kronik rawat jalan di poli Penyakit Dalam UPTD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak. Metode penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang yang bersifat deksriptif, pengumpulan data secara retrospektif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Analisis biaya ditinjau dari perspektif pelayanan kesehatan. Sampel penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 16 pasien, terdiri dari 8 pasien tanpa komplikasi dan 8 pasien dengan komplikasi. Data dikumpulkan melalui lembar pengumpul data yang berasal dari rekam medis dan klaim kuitasi pembayaran. Hasil penelitian ini pasien yang mengalami hepatitis B kronik cenderung terjadi pada rentang usia 40-49 tahun (25%) dan 50-59 tahun (31,25%) dan lebih banyak terjadi pada laki-laki (75%) dibandingkan perempuan (25%). Komplikasi akibat hepatitis B kronik, yaitu sirosis hati (31,25%) dan hepatoma (18,75%). Biaya untuk satu kali kunjungan pengobatan hepatitis B kronik sebesar Rp.341.248,38 untuk pasien tanpa komplikasi dan Rp.449.108,55 untuk pasien dengan komplikasi. Komponen biaya terbesar adalah biaya obat dengan persentase 72,27% pada pasien tanpa komplikasi dan 53,63% untuk pasien dengan komplikasi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa komponen biaya pasien hepatitis B kronik dengan komplikasi menghabiskan biaya paling banyak dibandingkan dengan hepatitis B kronik tanpa komplikasi. Kata Kunci: Biaya Pengobatan, Pontianak, Infeksi, Virus, KomplikasiChronic hepatitis B that is not treated properly can develop into complications. Chronic hepatitis B treatment is known to cost a lot, so a cost analysis is needed to evaluate and describe the cost of treatment. This study aims to calculate direct medical costs based on the difference between uncomplicated and complicated and to describe the components that factor in the direct medical costs of chronic hepatitis B outpatients at the Internal Medicine polyclinic of the UPTD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Pontianak City. This research method used a descriptive cross-sectional design, collecting data retrospectively using purposive sampling technique. Cost analysis is reviewed from the healthcare perspective. The research sample that met the inclusion and exclusion criteria was 16 patients, consisting of 8 patients without complications and 8 patients with complications. Data is collected through data collection sheets originating from medical records and payment receipt claims. The results of this study showed that patients with chronic hepatitis B tended to occur in the age range of 40-49 years (25%) and 50-59 years (31.25%) and were more common in males (75%) than females (25%). Complications due to chronic hepatitis B, namely liver cirrhosis (31.25%) and hepatoma (18.75%). The cost for one visit for chronic hepatitis B treatment is IDR 341,248.38 for patients without complications and IDR 449,108.55 for patients with complications. The biggest cost component is drug costs with a percentage of 72.27% for patients without complications and 53.63% for patients with complications. The conclusion of the study shows that the cost component of chronic hepatitis B patients with complications costs the most compared to chronic hepatitis B without complications.
Kajian Literatur: Terapi Cairan Pada Sepsis Purwanto, Diyna Rusayliya; Suharjono, Suharjono; Nurmainah, Nurmainah
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.20168

Abstract

Sepsis merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan perlu penanganan tepat waktu untuk mengurangi angka kematian. Terapi cairan merupakan salah satu landasan manajemen sepsis. Terapi cairan atau resusitasi bertujuan untuk memperbaiki kekurangan volume darah untuk memastikan curah jantung dan perfusi darah organ normal serta untuk melindungi fungsi organ. Namun, panduan terapi cairan yang benar dan optimal pada pasien dengan sepsis masih menjadi masalah yang sulit karena tanda-tanda klinis dari respon cairan yang sulit, terutama pada pasien anak. Tinjauan naratif ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pemilihan jenis terapi cairan pada pasien sepsis. Jenis terapi cairan yang sering digunakan pada pasien sepsis adalah kristaloid dan koloid. Balanced kristaloid direkomendasikan sebagai cairan resusitasi lini pertama pada pasien dengan sepsis karena murah, tersedia secara luas, dan menyebabkan lebih sedikit efek samping serius. Namun, pertimbangan dalam memilih jenis terapi cairan pada sepsis lebih disarankan agar dilakukan pendekatan secara individu, menyesuaikan dengan kondisi klinis pasien sepsis.
Kajian Literatur : Tinjauan Terapi Kardioprotektan untuk Penanganan Kardiotoksisitas Kemoterapi Antrasiklin Sari, Cinantya Meyta; Suprapti, Budi; Nurmainah, Nurmainah
Jurnal Pharmascience Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.19910

Abstract

Saat ini telah banyak diteliti mengenai beberapa agen farmakologi untuk terapi penanganan kardiotoksisitas antrasiklin. Namun, dibutuhkan kajian lebih lanjut terhadap strategi terapi kardiotoksisitas antrasiklin tersebut dari segi kefarmasian untuk memperkaya referensi sebagai dasar praktek klinis untuk tatalaksana kardiotoksisitas, terutama di negara berkembang. Kajian literatur ini bertujuan mengkaji lebih mendalam terkait kardioprotektan dari aspek mekanisme kerja, karakteristik farmakokinetik, serta dari evidence based medicine yang ada. Kajian literatur secara komprehensif dilakukan berdasarkan penelusuran jurnal ilmiah melalui penelusuran elektronik dengan kata kunci kombinasi “cardioprotective”, “anthracycline”, dan “cardiotoxicity”. Dari seluruh artikel yang diperoleh, didapatkan 39 artikel yang dapat dikaji lebih lanjut, yakni artikel mengenai kardiotoksisitas antrasiklin, serta penelitian dan bukti ilmiah mengenai agen-agen farmakologi yang diteliti bersifat kardioprotektif. Kesimpulan dari tinjauan ini adalah beberapa agen farmakologis telah menunjukkan luaran yang baik pada beberapa parameter kardiotoksisitas, namun penelitian tingkat lanjut dengan skala lebih besar dan waktu  follow up yang lebih lama masih diperlukan terutama dengan sampel domestik agar dapat diperoleh konklusi yang dapat diaplikasikan secara klinis pada masyarakat Indonesia.